Peristiwa Tentara Gajah

Kisah ini sangat populer. Bangsa Arab mengabadikannya sebagai petunjuk penanggalan (‘amul fil atau tahun gajah, Red). Peristiwa ini menjadi salah satu bukti perhatian Allah kepada rumahNya, yaitu Ka’bah di Mekkah.

Awal cerita. Abrahah adalah pemimpin negeri Yaman. Dia penganut Nashrani yang taat. Menjadi wakil An Najasyi di negeri Yaman. Dia menyaksikan begitu banyak orang berduyun-duyun menuju Ka’bah, Baitul Haram.

Dia bertanya,”Kemana mereka pergi?”
Dijawab: “Mereka menuju Ka’bah di Mekkah untuk menunaikan ibadah haji”.
Dia bertanya,”Ka’bah itu apa?”
Mereka menjawab,”Rumah yang terbuat dari bebatuan.”
Dia bertanya kembali,”Apa kain penutupnya?”
Mereka menjawab,”Kain yang didatangkan dari sini.”
Mendengar penjelasan seperti ini, maka ia bertekad dengan menegaskan: “Aku akan mendirikan bangunan yang lebih baik darinya”.

Dia pun segera menitahkan pembangunan kanisah (gereja) besar di Shan’a. Segala nilai seni dan beragam keindahan menghiasinya. Tempat ibadah ini dikenal dengan nama Qullais. Sebuah gereja yang pada zaman itu, kemegahannya tidak ada tandingan di muka bumi. Kemudian ia menulis kepada Raja An Najasyi dengan berkata:

“Wahai, Baginda Raja. Aku telah membangun sebuah gereja yang belum pernah dibangun gereja sebesar itu sebelum engkau. Aku belum puas sehingga mampu memalingkan pelaksanaan haji bangsa Arab kepadanya”.

Niat busuknya itu sampai ke telinga seseorang dari Bani Kinanah. Maka orang dari Bani Kinanah ini mencoba masuk ke dalamnya saat malam tiba. Dia lumuri arah kiblatnya dengan bekas kotorannya. Tatkala Abrahah mengetahui kejadian itu, emosinya langsung menyala. Dia bersumpah akan mendatangi dan menghancurkan Ka’bah. Abrahah segera menyiapakan pasukan dengan berkekuatan beberapa gajah.

Mendengar berita tersebut, orang-orang Arab kebingungan. Mereka mengetahui, kekuatan pasukan Abrahah sama sekali tidak sebanding dengan kekuatan yang mereka miliki. Tetapi bagaimanapun juga, bagi bangsa Arab, melawan pasukan Gajah menjadi kewajiban, karena Abrahah bermaksud menghancurkan Ka’bah Baitullah Al Haram.

Beberapa kabilah yang dilewati perjalanan pasukan bergajah itu, berusaha menghambat langkah tentara Abrahah. Namun usaha mereka tidak mendapatkan hasil. Pasukan Abrahah dengan gajahnya terlalu kuat untuk dikalahkan oleh bangsa Arab.

Saat Abrahah dan prajuritnya sudah mendekati Mekkah, mereka menjumpai onta-onta milik Abdul Muththalib dan kemudian menangkapinya. Maka sang pemilik, Abdul Muththalib mendatangi Abrahah untuk meminta kembali harta miliknya, yaitu onta-onta yang telah diambil.

Abdul Muththalib adalah sosok yang rupawan. Wajahnya memancarkan kewibawaan dan ketenangan. Oleh karena itu, Abrahah menghormati dan memuliakannya. Kemudian Abdul Muththalib menyampaikan maksud kedatangannya, yaitu untuk meminta kembali onta-ontanya.

Mendengar permintaan ini, Abrahah kaget, seraya berkata kepada Abdul Muththalib:

“Engkau kemari untuk membicarakan onta-onta, tidak ingin membicarakan tentang rumah yang merupakan pusat keagungan, kemuliaanmu dan nenek moyangmu?”

Mendengar pernyataan Abrahah seperti itu, maka Abdul Muthtalib menjawab dengan ungkapan bak kata mutiara :

“Aku adalah pemilik onta-onta itu. Adapun rumah itu (Ka’bah) mempunyai pemilik yang akan memeliharanya”.

Kemudian Abdul Muththalib pulang untuk membuka pintu Ka’bah. Bersama beberapa orang Quraisy, ia memanjatkan do’a kepada Allah supaya menurunkan keselamatan dan kebebasan dari pasukan Abrahah. Setelah itu, mereka bergegas menuju gunung-gunung di sekitar Ka’bah untuk melihat apa yang akan dilakukan Abrahah dan pasukannya terhadap Ka’bah.

Gajah besar yang berada dalam pasukan Abrahah, selalu menolak untuk berjalan tatkala diarahkan menuju Mekkah, tetap duduk di tempatnya. Namun, apabila diarahkan ke tempat lain, ia berjalan dan berlari. Meski demikian, Abrahah dan bala tentaranya bersikeras tetap menuju Ka’bah untuk menghancurkannya.

Tidak berapa lama kemudian, Allah mengutus burung-burung yang berbondong-bondong. Di patuk dan kedua kaki burung-buru itu terdapat batu-batu kecil. Makhluk-makhluk tersebut melempari pasukan Abrahah dengan kerikil-kerikil yang dibawanya. Orang yang terkena lemparan batu tersebut, tubuhnya langsung terkoyak dan mati.

Melihat keadaan ini, pasukan yang selamat mencoba melarikan diri, tetapi mereka berjatuhan di jalanan dan di setiap tempat. Siksa yang menyakitkan telah didatangkan Allah menimpa pada Abrahah dan pasukannya. Allah mengabadikannya dalam surat Al Fil. Allah berfirman, yang artinya:

“Dan Dia mengirimkan kepada mereka burung yang berbondong-bondong. Yang melempari mereka dengan batu (berasal) dari tanah yang terbakar. Lalu Dia menjadikan mereka seperti daun-daun yang dimakan (ulat). “[Al Fil : 3-5].

Rasulullah juga bersabda.

إِنَّ اللَّهَ حَبَسَ عَنْ مَكَّةَ الْفِيلَ وَسَلَّطَ عَلَيْهَا رَسُولَهُ وَالْمُؤْمِنِينَ

“Sesungguhnya Allah menahan tentara gajah dari Mekkah, dan menjadikan Rasul dan kaum Mukminin menguasainya”. [HR Syaikhani: Bukhari, no. 109; Muslim, no. 2414].

Menurut riwayat Ath Thabari yang sanadnya hasan, dari Qatadah. Dia menafsirkan ayat pertama surat Al Fil dengan mengatakan: “Abrahah Al Asyram datang dari Habasyah. Dia didukung pasukan dari Yaman menuju Baitullah untuk menghancurkannya, lantaran rumah ibadah mereka yang di Yaman dinodai bangsa Arab. Mereka menyerang dengan pasukan gajah. Ketika sampai di daerah Shifah [1], gajah tersebut duduk. Gajah ini, bila dihadapkan ke arah Baitullah, maka akan tetap berhenti. Tapi bila mereka mengarahkannya menuju negeri asal mereka, dengan sigap berdiri dan berlari-lari kecil. Tatkala, mereka berada di Nakhlah Yamaniah, Allah mengirimkan burung putih yang sangat banyak. Setiap satu ekor burung membawa tiga batu, dua di kakinya dan satu di paruhnya. Burung-burung ini melempari mereka dengan batu-batu itu, sampai Allah menjadikan mereka bak dedaunan yang dimakan ulat. Abrahah selamat dari kematian di tempat peristiwa itu. Namun tidaklah ia melewati satu daerah, kecuali sebagian daging dari tubuhnya berjatuhan, sampai akhirnya ia dapat menemui kaumnya dan memberi informasi kepada mereka, dan akhirnya mati” [2].

Dari musibah yang ditimpakan kepada Abrahah dan pasukannya, kita dapat memetik pelajaran berharga. Tatkala Abrahah dan kaumnya ingin berbuat buruk kepada Ka’bah, maka Allah menghabisi mereka. Namun ketika Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para sahabat akan menaklukkan kota Mekkah untuk membersihkannya dari praktek paganisme, mereka ditolong dan diberi kemudahan oleh Allah Azza wa Jalla.

Berkaitan dengan siksa yang didatangkan Allah dalam peristiwa penyerangan Ka’bah oleh Abrahah, sebagian orientalis dan orang-orang yang sehaluan dengan mereka dari kalangan intelektual muslim, sengaja menciptakan keraguan seputar keabsahan cerita yang menimpa tentara Abrahah ini [3]. Padahal keabsahannya sudah ditetapkan dengan berita yang kuat, yang memberi keyakinan dan penegasan peristiwa itu.

Menurut mereka, kehancuran tentara Abrahah, disebaban karena mewabahnya penyakit cacar di tengah pasukan bergajah tersebut. Alasan mereka, berita yang disampaikan Ibnu Ishaq sanadnya lemah.

Namun sudah tentu, hal itu tidak menunjukkan bahwa kebinasaan yang menimpa mereka terjadi karena itu. Kalau tidak demikian, mestinya Ibnu Ishaq tidak akan memaparkan kisah yang sangat akurat tersebut dalam beberapa halaman. Sementara kisah yang lemah itu diungkapkan dengan singkat.

Yang menjadi pertanyaan, mengapa cacar tidak mereka katakan sebagai dampak dari luka-luka, nanah, siksa akibat dari siksa Allah tersebut? Bukankah fakta seringkali menunjukkan, timbulnya wabah penyakit biasanya berjangkit pasca perang dan paceklik? Kalau seandainya itu merupakan wacana murni dari pencetusnya, kenapa ia memegangi berita yang sandarannya lemah, dan mempertentangkannya dengan teks-teks Al Qur`an? Wallahu a’lam.

Maraji`:
1. As Sirah An Nabawiyyah Fi Dhaui Al Qur`an Wa As Sunnah, Dr. Muhammad bin Muhammad Abu Syahbah. Darul Qalam, Damaskus, Cet. VI, Th. 1423H-2002M.
2. Ar Rahiqul Makhtum, Shafiyyur Rahman Al Mubarakfuri, Jami’ah Salafiyyah, India, Cet. VI, Th. 1428H-1997M.

[Disalin dari majalah As-Sunnah Edisi 06//Tahun IX/1426H/2005M. Penerbit Yayasan Lajnah Istiqomah Surakarta, Jl. Solo-Purwodadi Km.8 Selokaton Gondangrejo Solo 57183 Telp. 0271-761016]
Sumber: almanhaj.or.id

_______
Footnote
[1]. Daerah antara Hunain dan jalan-jalan yang menghubungkan kota suci Mekkah, dari arah Yaman.
[2]. Riwayat ini mempunyai syahid, yang disebutkan Al Hafizh Ibnu Hajar dari Ibnu Murdawaih dengan sanad hasan, dari Ikrimah dari Ibnu ‘Abbas dengan redaksi yang mirip secara ringkas. Lihat Fathul Bari (12/207).
[3]. Muhammad ‘Ali dalam buku Hayatu Muhammad Wa Risalatuhu, dan Dairatu Ma’arirfi Al Qarnil ‘Isyrin, Farid Wajdi.

6 Responses to Peristiwa Tentara Gajah

  1. sian susanto mengatakan:

    pak ieu urang ripki

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: