Sesajen

Dahulu Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika diutus, masyarakat dan manusia saat itu memiliki budaya dan adat kebiasaan yang sangat kental. Hanya saja segala budaya dan adat kebiasaan yang bertentangan dengan agama Allah dilarang lalu dikikis habis, seperti budaya syirik, diantaranya menjadikan makhluk-makhluk yang sholeh sebagai perantara dalam beribadah, memberi kurban atau sesajian untuk para roh yang ditakuti dan diagungkan, bersumpah dengan selain nama Allah dan seterusnya. Demikian pula budaya dan adat yang non syrik diantaranya adalah membunuh anak-anak wanita karena malu, peperangan atas dasar fanatik kesukuan, menikahi istri ayah dan lainnya juga turut dilarang dan diberantas. Namun ada juga budaya atau adat kebiasaan yang direstui dan disetujui oleh Allah dan rasul-Nya, seperti menjamu dan memuliakan tamu, tebusan 100 ekor unta atas penghilangan nyawa, dan sebagainya.
Dari keterangan ini dapat diketahui bahwa standard baik dan buruknya setiap budaya dan adat kebiasaan manusia adalah penilaian Allah dan rasul-Nya yang tercantum dalam AlQuran dan hadits-hadits beliau yang shahih.

Budaya sesajen menurut penilaian Allah dan rasul-Nya.
Sebagai pelengkap bagi penjelasan diatas, kita tegaskan bahwa budaya sajenan merupakan budaya dan ritual orang-orang musyrik zaman dulu dan zaman sekarang. Allah Ta’ala berfirman tentang kebiasaan orang-orang musyrik zaman dahulu yang artinya: ”Dan mereka menjadikan dari sebagian hasil tanaman dan hewan sebagai bagian untuk Allah, lalu mereka berkata berdasarkan persangkaan mereka,”Ini untuk Allah dan ini untuk sesembahan kami”. Bagian yang diperuntukan bagi sesembahan mereka tidak akan sampai kepada Allah, dan bagian yang diperuntukan bagi Allah akan sampai kepada sesembahan mereka. Sangat buruklah ketetapan mereka”.(QS. Al-An’am:136).
Adapun orang-orang musyrik sekarang ini mereka sangat kental dan tidak terlepas dari ritual budaya ini. Baginda Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam secara tersirat melarang umatnya meniru dan mengikuti adat kebiasaan serta budaya orang-orang kafir dalam sabda beliau yang artinya:
“Barangsiapa yang menyerupai (meniru) suatu kaum,maka dia termasuk golongan mereka.” (HR. Abu Dawud).
Cukuplah sabda baginda Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam ini menjadi satu diantara sekian alasan kita untuk meninggalkan segala bentuk budaya yang bertentangan dengan agama kita.

Makna Istilah Ini
Kata Sesajian/Sesajen atau yang biasa disingkat dengan ’sajen’ ini adalah istilah atau ungkapan untuk segala sesuatu yang disajikan dan dipersembahkan untuk sesuatu yang tidak tampak namun ditakuti atau diagungkan, seperti roh-roh halus, para penunggu atau penguasa tempat yang dianggap keramat atau angker, atau para roh orang yang sudah mati. Sesajian ini bisa berupa makanan, minuman, bunga, atau benda-benda lainnya. Bahkan termasuk diantaranya adalah sesuatu yang bernyawa.

Hukum Sesajen
Budaya dan ritual sajen ini tidak terlepas dari nuansa dan muatan kesyirikan. Kesyirikan ini sangat terkait dengan tujuan, maksud atau motifasi dilakukannya ritual sajenan tersebut.
Rinciannya adalah sebagai berikut:
1. Jika melakukan ritual sajenan ini -dengan menyajikan dan mempersembahkan sesajian apapun bentuk bendanya kepada selain Allah Ta’ala, baik benda mati atau pun makhluk hidup – dengan tujuan untuk penghormatan dan pengagungan, maka persembahan ini termasuk bentuk Taqorrub (ibadah) dan taqorrub ini tidak boleh ditujukan kepada selain Allah Ta’ala. Maka apabila ditujukan untuk selain Allah seperti untuk roh-roh para orang sholeh yang telah wafat, makhluk halus/ penguasa atau penunggu tempat-tempat tertentu yang dianggap keramat atau angker, maka perbuatan ini merupakan kesyirikan dengan derajat syirik akbar yang pelakunya wajib bertaubat dan meninggalkannya karena ia terancam kafir atau murtad. Allah Ta’ala berfirman yang artinya:”Katakanlan,”Sesungguhnya sholatku, ibadahku, hidupku dan matiku hanyalah untuk Allah Tuhan seluruh alam(162). Tidak ada sekutu bagi-Nya, dan demikianlah aku diperintah dan aku orang yang pertama-tama berserah diri (muslim)(163). (QS. Al-An’am: 162-163)
2. Bila ritual ini dilakukan atas dasar rasa takut kepada roh-roh atau makhluk-makhluk tersebut terhadap gangguan atau kemarahannya, atau takut bahaya yang akan menimpa karena kuwalat disebabkan menyepelekannya, atau dengan maksud agar bencana yang sedang terjadi segera berhenti atau malapetaka yang dikhawatirkan tidak akan terjadi, atau untuk tujuan agar keberuntungan dan keberhasilan serta kemakmuran segera datang menghampiri, maka dalam hal ini ada dua hal yang perlu dikritisi:
– Rasa takut adalah ibadah hati. Setiap ibadah tidak boleh ditujukan kepada selain Allah Ta’ala, karena ibadah adalah hak mutlak Allah Ta’ala semata. Barangsiapa yang memalingkannya kepada selain-Nya, maka dia telah berbuat syirik kepada-Nya. Allah Ta’ala berfirman yang artinya: ”Sesungguhnya mereka itu hanyalah syaithon yang menakut-nakuti teman- teman setianya.Maka janganlah kamu takut kepada mereka, tetapi takutlah kepada-Ku jika kalian benar- benar orang yang beriman”.(QS. Ali Imran:175)
– Keyakinan bahwa ada makhluk yang mampu memunculkan marabencana, bahaya atau malapetaka serta bisa mendatangkan keberuntungan, kemakmuran dan kesejahteraan maka keyakinan seperti ini merupakan keyakinan syirik, karena meyakini adanya tandingan bagi Allah Ta’ala dalam hak rububiyah-Nya berupa hak mutlak Allah dalam memberi dan menahan suatu manfaat (kebaikan/keberuntungan) maupun mudhorot (celaka/bencana). Allah Jalla wa ‘Ala berfirman yang artinya:”Dan janganlah engkau menyembah sesuatu yang tidak memberi manfaat dan tidak (pula) memberi bencana kepadamu selain Allah. Sebab jika engkau lakukan (yang demikian), maka sesungguhnya engkau termasuk orang-orang yang zalim(106). Dan jika Allah menimpakan suatu bencana kepadamu, maka tidak ada yang dapat menghilangkannya kecuali Dia (Allah). Dan jika Dia menghendaki kebaikan bagimu,maka tidak ada yang mampu menolak karunia-Nya. Dia memberi kebaikan kepada siapa saja yang Dia kehendaki diantara hamba-hamba-Nya. Dia Maha Pengampun lagi Maha Penyayang (107).” (QS. Yunus:106-107)
3. Namun apabila melakukan ritual sajenan ini hanya bertujuan sekedar untuk menghidangkan santapan bagi para roh tersebut dengan anggapan bahwa para roh tersebut akan datang kemudian menyantapnya, maka ini merupakan anggapan yang keliru dari beberapa sisi:
Pertama: Jika meyakini yang datang dan menyantapnya adalah roh-roh orang yang telah mati (seperti roh para leluhur), maka ini bertentangan dengan dalil-dalil hadits yang menjelaskan tentang alam barzakh (kubur) bahwa keadaan para hamba yang telah dicabut nyawanya ada dua bentuk. Jika ia termasuk hamba yang baik dan beruntung, maka ia mendapat nikmat kubur yang cukup dari Tuhannya sehingga tidak perlu keluar dari kubur untuk mencari nikmat tambahan. Namun bila ia termasuk hamba yang celaka lagi berdosa, maka siksa kubur yang akan ia dapatkan dari Allah sehingga tidak mungkin baginya untuk bisa lari dari siksa-Nya, -Wal ‘iyaadzu billah (kita berlindung kepada Allah dari azab kubur).
Kedua: Apabila meyakini bahwa yang datang dan menyantap sajian tersebut adalah para roh dari kalangan makhluk halus(jin syaithon), maka perbuatan tersebut merupakan hal yang sia-sia dan mubazir, karena Allah dan rosul-Nya tidak pernah memerintahkan demikian dan juga karena perbedaan jenis makanan manusia dan jin. Allah Ta’ala berfirman yang artinya:
”Dan janganlah engkau berbuat mubazir (26). Sesungguhnya orang yang berbuat mubazir adalah saudara-saudara syaithon.(27)” (QS.Al-Isro:26-27).
Perbuatan ini juga mengandung pemuliaan dan pengagungan para jin syaithon yang mengandung kesyirikan, padahal Allah Ta’ala menyatakan syaithon sebagai musuh yang nyata bagi manusia dan syaithon pun menyatakan permusuhannya terhadap manusia dengan tipudaya dan godaannya agar manusia menjadi teman sependeritaannya dalam neraka. Lalu bagaimana bisa dibenarkan tindakan memuliakan musuh besar ini secara syar’i dan akal sehat??! Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman yang artinya:
”Dan janganlah kamu mengikuti langkah-langkah syaithon. Sesungguhnya dia adalah musuh yang nyata bagimu.” (QS. Al-Baqoroh:168)

Jika ada diantara kita mengatakan bahwa sajian dan santapan yang dihidangkan untuk para roh orang yang telah mati benar-benar berkurang atau bahkan habis, maka ini tidak lepas dari dua kemungkinan:
– Bisa jadi diambil atau dimakan makhluk yang kasat mata dari kalangan manusia atau hewan.
– Bisa jadi pula diambil dan dicuri oleh makhluk yang tidak kasat mata dari kalangan jin. Berkaitan dengan pencurian yang dilakukan jin ini terdapat hadits yang menjelaskan tentang hal ini: yaitu hadits Abu Huroiroh radhiyallahu ‘anhu dimana ia pernah ditunjuk oleh Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam sebagai petugas yang menjaga harta zakat Ramadhan, lalu selama tiga malam berturut-turut datang syaithon -yang menjelma sebagai manusia- mencuri harta zakat tersebut dan selalu tertangkap namun dibebaskan olehnya karena alasan tanggungan keluarga dan kebutuhan yang terdesak. Pada malam ketiga, pencuri itupun ditangkap lagi dan akan diserahkan kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, tapi akhirnya pun dilepaskan karena memberitahukan kepadanya sebuah keutamaan ayat kursi ketika dibaca sebelum tidur, yaitu orang yang membacanya senantiasa dalam penjagaan Allah dan jauh dari gangguan syaithon. Namun demikian, Abu Hurairah tidak lantas percaya dengan ucapannya. Lalu di pagi hari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda kepadanya -yang singkatnya-:”Adapun dia, sesungguhnya dia jujur kepadamu (dalam hal ini saja) padahal dia adalah pendusta (yang paling ulung dalam berdusta). Tahukah engkau siapa yang engkau ajak bicara semenjak tiga malam yang lalu Wahai Abu Hurairoh?” Aku jawab,”Tidak”. Beliau bersabda,”Itu adalah syaithon”. (HR.Bukhori dalam tafsir dari ayat kursi)

Akhirnya setelah kita mengetahui hukum sajenan ini menurut syariat agama, maka hendaknya kita sebagai seorang muslim yang beriman dan cinta kepada Allah dan rasul-Nya meninggalkan budaya ini dan setiap budaya yang tidak disukai oleh Allah dan rasul-Nya serta juga mengajak keluarga dan kaum muslimin lainnya untuk turut juga meninggalkannya.
Semoga Allah Ta’ala membimbing dan menunjuki kita agar senantiasa ta’at kepada-Nya dan kepada rasul-Nya. Wallohu a’lamu bish-showab.

Sumber: Buletin Dakwah An-Nashihah

Artikel: ibnuabbaskendari.wordpress.com

Iklan

One Response to Sesajen

  1. Ping-balik: Pergi Ke Orang Pintar Bukan Sebuah Solusi « Madrasah Ibnu Abbas As-Salafy Kendari

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: