Penghormatan Islam Terhadap HAM

Ustadz Abu Bakr

 Di tengah era globalisasi dan informasi yang berkembang pesat di depan mata, pola pikir manusia banyak dipengaruhi orientasi materi semata. Hal itu kemudian melahirkan sikap apatis terhadap agama, bahkan dianggap tidak sesuai lagi dengan perkembangan masa. Kemudian muncullah apa yang digembar-gemborkan dengan pemenuhan Hak Asasi Manusia (HAM) sebagai wujud ”ketidakpuasan dengan syari’at agama”

Bagaimana tidak, karena sebenarnya ia adalah wujud ‘pemberontakan’ terhadap Robb yang mahakuasa, padahal Dia lebih tahu maslahat hamba-Nya karena Dia yang menciptakan mereka semua. Padahal, kalau ditilik dengan seksama, Islam sangat memuliakan harkat dan martabat manusia di atas semua makhluk di atas bumi ini. Di antara hal yang membuktikannya ialah :

a.      Islam menjaga kehormatan manusia, darah, harta dan jiwanya.

Di dalam Islam dilarang untuk menumpahkan darah sesama, menyiksanya baik ketika hidup maupun setelah meninggal dunia, sebagaimana firman Alloh Ta’ala :

Oleh karena itu, Kami tetapkan (suatu hukum) bagi Bani Isroil, bahwa : Barangsiapa yang membunuh seorang manusia, bukan karena orang itu (membunuh) orang lain, atau bukan karena membuat kerusakan di muka bumi, maka seakan-akan dia telah membunuh manusia seluruhnya. Dan barangsiapa yang memelihara kehidupan seorang manusia, maka seolah-olah dia telah memelihara kehidupan manusia semuanya. (QS. Al-Ma’idah [5] : 32).

 

Di antara bentuk penjagaan terhadap hak-hak manusia, Islam melarang untuk berperang dengan tujuan mencari rampasan perang atau karena membela kesukuan atau kebangsaan semata. Islam menyuruh berperang hanya karena satu alasan saja, yaitu membela kebenaran dan sangat menginginkan agar seluruh manusia di bumi ini selamat dunia dan akhirat, setelah datang petunjuk yang terang benderang dari Alloh, Dzat yang menciptakan manusia semuanya. Jika pun terpaksa harus terjadi perang, sebelumnya harus memberikan peringatan terhadap musuh dan setelah berusaha untuk diajak mengikuti kebenaran.

Islam bukanlah agama yang rakus kekuasaan. Islam tidak juga mengajarkan umatnya menjadi sok jagoan. Islam melarang dari membunuh wanita dan anak-anak, orang tua sekalipun dalam peperangan. Demikian pula dilarang untuk membunuh orang yang tidak ikut terlibat dalam peperangan, orang yang sudah menyerah. Tidak hanya itu, Islam pun melarang untuk merusak tanaman, mata air dan sumber penghidupan orang banyak.

Oleh karena itu, diberlakukannya hukum qishosh di dalam Islam tidak lain agar tidak ada yang berbuat sewenang-wenang terhadap orang lain.

b.      Persamaan derajat antara sesama manusia

Manusia berasal dari satu jiwa yang sama, karena itulah tidak ada perbedaan di antara mereka. Islam tidak mengenal sistem kasta dalam masyarakat. Bahkan lebih dari itu, Islam melarang berbangga-bangga dengan nenek moyang dan status sosial. Dasar kesetaraan tersebut tertuang dalam hadist Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam :

”Wahai manusia, sesungguhnya Robb kalian satu, bapak kalian satu. Ketahuilah bahwa tidak ada keutamaan Arab terhadap yang bukan Arab, tidak pula bukan Arab dengan Arab, tidak kulit merah dengan kulit hitam, dan tidak ada keutamaan kulit hitam atas merah, melainkan dengan ketakwaan.” (HR. Al-Baihaqi 2/88/1, Abu Nu’aim dalam al-Hilyah 3/100, dan dishohihkan oleh Syaikh al-Albani rahimahullah dalam ash-Shohihah no. 2700).

 

Demikian pula laki-laki dan perempuan memiliki hak yang sama dalam masalah peribadahan. Meskipun pada kondisi tertentu perempuan dibolehkan untuk melakukan pekerjaan yang memang sesuai dengan kemampuan mereka secara fitrah, Islam sangat melarang untuk mengeksploitasi wanita dan lebih ”memanjakan” mereka untuk menjadi ratu sekaligus pengasuh di dalam rumahnya. Karena generasi  yang baik akan tumbuh dari curahan kasih sayang seorang ibu, bukan dari asuhan pembantu. Kita tidak bisa menutup mata bahwa kerusakan moral di tengah masyarakat terjadi karena berbondong-bondongnya wanita mencampakkan kehormatannya sebagai seorang permaisuri di rumahnya dan lebih memilih ratu jalanan yang menebar fitnah dan keanggunan.

Selain itu, di dalam negeri Islam harta benda orang kafir yang dijamin oleh pemerintah, dan yang ada perjanjian dengan negeri muslim dilarang untuk diambil tanpa keridhoan yang punya. Bahkan mereka bisa hidup tenang, tenteram dan merasakan berkah dari negeri kaum muslimin. Tidak itu saja, lansia yang kafir pun diberikan harta dari baitul mal jika mereka tidak bisa mencari nafkah sendiri.

c.       Islam menganjurkan untuk saling membantu di dalam masyarakat

Dalam masyarakat Islam diterapkan sistem takaful ijtima’i, yaitu yang mampu mempunyai kewajiban membantu yang lemah dalam ekonominya sehingga hak untuk hidup dan maju tetap dijunjung. Dasar sistem ini diambil dari sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam :

”Barangsiapa yang memiliki kelebihan kendaraan, maka hendaknya ia bermurah hati kepada yang tidak mempunyai kendaraan. Dan barangsiapa yang membawa kelebihan bekal, maka hendaknya ia memberikan orang yang tidak memiliki bekal”. (HR. Muslim 1728).

 

Di antara bentuk takaful ijtima’i ialah diwajibkannya mengeluarkan zakat, baik zakat fithri maupun zakat mal.

Tidak hanya dalam masalah materi, Islam juga menganjurkan persamaan hak dalam masalah kebaikan. Oleh karena itu, Islam melarang seseorang menyembunyikan ilmu yang bermanfaat untuk orang banyak. Islam juga melarang seseorang bakhil memberikan nasihat dan pengajaran.

d.      Islam pun menjamin kemerdekaan manusia

Tidak ada kemerdekaan di dalam Islam kecuali kemerdekaan dari menyembah selain Alloh, kemerdekaan dari penjara hawa nafsu yang keduanya adalah faktor terbesar kehancuran manusia. Bukanlah kebebasan melakukan sesuatu yang diharamkan atau menerjang norma-norma sosial, termasuk suatu kemerdekaan dalam pandangan Islam, karena kebebasan seperti itu justru akan membawa petaka bagi pelakunya.

Selain itu Islam pun menganjurkan untuk menghapus perbudakan di dunia ini

Maka tidak ada kebaikan kecuali kebaikan Islam, dan tidak ada kejelekan kecuali sudah di peringatkan oleh Islam.

 

Walhamdulillah.

Sumber: disalin ulang dari Majalah Al-Mawaddah Vol. 41 Rajab 1432H/Juni-Juli 2011M

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: