Prinsip-Prinsip Dasar Perniagaan Dalam Syariat

Prinsip-Prinsip Dasar Perniagaan Dalam SyariatUstadz Dr. Muhammad Arifin bin Baderi MA

PENDAHULUAN

Segala puji milik Allah Ta’ala, yang telah melimpahkan berbagai kenikmatan kepada kita semua. Sholawat dan salam semoga senantiasa dilimpahkan kepada Nabi Muhammad, keluarga, dan sahabatnya. Aamiin.

Saudaraku! Bisa jadi Anda bermadzhab dengan madzhab Imam asy-Syafi’i, sudahkah Anda mengamalkan petuah imam Anda?

من أراد الدنيا فعليه بالعلم ومن أراد الأخرة فعليه بالعلم

Barangsiapa yang menginginkan keuntungan di dunia, maka hendaknya ia berilmu dan barangsiapa yang menginginkan keuntungan akhirat, hendaknya ia juga berilmu.”

Petuah di atas begitu indah dan layak ditulis dengan tinta emas. Bisa Anda bayangkan, betapa susahnya hidup Anda bila harus menjalani hidup ini tanpa bekal ilmu. Bila Anda beramal dalam urusan dunia tanpa ilmu, niscaya Anda banyak berbuat kesalahan. Dan bila beramal dalam urusan agama tanpa dasar ilmu, tak ayal lagi Anda terjerumus ke dalam kesesatan.

Tidak heran bila, jauh-jauh hari Kholifah Umar bin Khoththob radhiyallahu ‘anhu telah berpesan:

لا يتجر في سوقنا إلا من فقه و إلا أكل الربا

Janganlah ada yang berani berdagang di pasar kita selain orang yang telah berilmu. Bila tidak, niscaya ia akan memakan riba.” Ucapan beliau dengan teks demikian ini, dinukilkan oleh Ibnu Abdil Barr al-Maliki dalam at-Tamhid 2/247. Ucapan ini diriwayatkan oleh Imam Malik dan Imam at-Tirmidzi dengan teks yang sedikit berbeda:

لا يبع في سوقنا إلا من قد تفقه في الدين

Hendaknya tidaklah berdagang di pasar kita selain orang yang telah memiliki bekal ilmu agama.”[1]

Imam al-Qurthubi al-Maliki rahimahullah menjelaskan: “Orang yang tidak berilmu  tentang hukum perniagaan –walaupun tidak dilarang- tidak layak diberi kepercayaan untuk mengelola harta bendanya. Yang demikian ini dikarenakan ia tidak dapat membedakan (memilah) perniagaan terlarang dari yang dibenarkan, transaksi halal dari yang haram. Sebagaimana dikhawatirkan ia –tanpa disadari- melakukan praktik riba dan transaksi haram lainnya. Hal ini juga berlaku pada orang kafir yang tinggal di negeri Islam.”[2]

Coba Anda bayangkan, andai Anda hidup di zaman Kholifah Umar bin al-Khoththob radhiyallahu ‘anhu mungkinkah beliau memperkenankan Anda berniaga di pasar?

Melalui artikel singkat ini, saya mengajak Anda untuk mengenal beberapa prinsip-prinsip dasar perniagaan dalam Islam. Dengan harapan Anda dapat menjalankan perniagaan Anda dengan benar.

PRINSIP PERTAMA: REZEKI ADALAH KARUNIA ALLAH

Pernahkah Anda mencermati berbagai makhluk hidup yang ada di sekitar Anda? Adakah makhluk hidup yang tidak mendapatkan jatah rezekinya? Tidakkah fakta ini menjadikan Anda berpikir positif dan berbesar harapan? Ada kalimat pengandaian; andai saja rezeki diperoleh hanya dengan kekuatan, niscaya hanya gajah dan singa yang dapat bertahan hidup di dunia. Andai keberhasilan dan rezeki didapat hanya karena kepandaian, niscaya keledai (simbol binatang bodoh) tidak dapat bertahan hidup.

وَڪَأَيِّن مِّن دَآبَّةٍ۬ لَّا تَحۡمِلُ رِزۡقَهَا ٱللَّهُ يَرۡزُقُهَا وَإِيَّاكُمۡ‌ۚ وَهُوَ ٱلسَّمِيعُ ٱلۡعَلِيمُ

Dan berapa banyak binatang yang tidak [dapat] membawa [mengurus] rezkinya sendiri. Allah-lah yang memberi rezki kepadanya dan kepadamu dan Dia Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui. (QS. al-Ankabut [29]: 60)

Ibnu Jarir ath-Thobari rahimahullah berkata: “Allah Ta’ala berfirman kepada para sahabat yang mereka adalah orang-orang yang beriman kepada-Nya dan kepada Rosul-Nya: ‘Hendaknya kalian berhijrah dan memerangi musuh-musuh Allah. Jangan sekali-kali engkau khawatir akan dirimpa kekurangan atau kemiskinan. Ingatlah bahwa Allah senantiasa memberi rezeki; makanan dan minuman kepada banyak binatang melata nan lemah tak berdaya, padahal binatang itu tidak kuasa menyimpan makanannya guna persediaan hari esok. Sedangkan Allah itu Maha Mendengar keluhanmu; “Bila kami meninggalkan negeri kami, maka kami akan ditimpa kemiskinan”. Dan Dia Maha Mengetahui segala isi batinmu, masa depanmu, dan juga masa depan musuhmu. Allah pasti menghinakan musuhmu dan menurunkan pertolongan-Nya kepadamu.’.”[3]

Pada ayat lain, Allah Ta’ala berfirman:

وَمَا بِكُم مِّن نِّعۡمَةٍ۬ فَمِنَ ٱللَّهِ‌ۖ

Dan apa saja ni’mat yang ada pada kamu, maka dari Allah-lah [datangnya] . (QS. an-Nahl [16]: 53)

Dan pada hadits qudsi, Allah Ta’ala berfirman:

يا عبادي كلكم جائع إلا من اطعمته ، فاستطعموني أطعمكم ، يا عبادي كلكم عار إلا من كسوته فاستكسوني أكسكم

Wahai hamba-hambaKu; kalian semua dalam kelaparan, kecuali orang yang telah Kuberi makan, maka mohonlah makanan kepada-Ku, niscaya Aku akan memberimu makan. Wahai hamba-hambaKu; kalian semua dalam keadaan telanjang (tidak berpakaian), kecuali orang yang telah Aku karuniai pakaian, maka mohonlah pakaian kepada-Ku, niscaya Aku akan memberimu pakaian.”[4]

Keimanan ini sudah sepantasnya senantiasa menyertai setiap derap langkah Anda. Hanya dengan cara inilah Anda dapat mensyukuri keberhasilan dan memuji Allah atas segala kenikmatan. Dan hanya dengan keimanan inilah jiwa Anda tegar bak gunung yang menjulang tinggi ke langit tatkala menghadapi tantangan.

مَآ أَصَابَ مِن مُّصِيبَةٍ۬ فِى ٱلۡأَرۡضِ وَلَا فِىٓ أَنفُسِكُمۡ إِلَّا فِى ڪِتَـٰبٍ۬ مِّن قَبۡلِ أَن نَّبۡرَأَهَآ‌ۚ إِنَّ ذَٲلِكَ عَلَى ٱللَّهِ يَسِيرٌ۬ (٢٢) لِّكَيۡلَا تَأۡسَوۡاْ عَلَىٰ مَا فَاتَكُمۡ وَلَا تَفۡرَحُواْ بِمَآ ءَاتَٮٰڪُمۡ‌ۗ وَٱللَّهُ لَا يُحِبُّ كُلَّ مُخۡتَالٍ۬ فَخُورٍ

Tiada suatu bencanapun yang menimpa di bumi dan [tidak pula] pada dirimu sendiri melainkan telah tertulis dalam kitab [Lauh Mahfuzh] sebelum Kami menciptakannya. Sesungguhnya yang demikian itu adalah mudah bagi Allah. [Kami jelaskan yang demikian itu] supaya kamu jangan berduka cita terhadap apa yang luput dari kamu, dan supaya kamu jangan terlalu gembira [2] terhadap apa yang diberikan-Nya kepadamu. Dan Allah tidak menyukai setiap orang yang sombong lagi membanggakan diri. (QS. al-Hadid [57]: 22-23)

لا تستبطئوا الرزق فانه لم يكن عبد يموت حتي يبلغه أخر رزق هو له ، فاتقوا الله وأجملوا في الطلب من الحلال وترك الحرام

Jangan pernah engkau merasa rezekimu telat datang, karena sesungguhnya tiada seorang pun hamba yang mati, sesungguhnya tiada seorang pun hamba yang mati, hingga telah datang kepadanya rezeki terakhir yang telah ditentukan untuknya. Karenanya, bertaqwalah engkau kepada Allah dantempuhlah jalan yang baik dalam mencari rezeki, yaitu dengan mengambil yang halal dan meninggalkan yang haram.”[5]

Saudaraku, tidakkah Anda dapat mengambil pelajaran dari kisah saudagar kaya raya yang namanya terabadikan sepanjang masa, yaitu Qorun.

إِنَّ قَـٰرُونَ ڪَانَ مِن قَوۡمِ مُوسَىٰ فَبَغَىٰ عَلَيۡهِمۡ‌ۖ وَءَاتَيۡنَـٰهُ مِنَ ٱلۡكُنُوزِ مَآ إِنَّ مَفَاتِحَهُ ۥ لَتَنُوٓأُ بِٱلۡعُصۡبَةِ أُوْلِى ٱلۡقُوَّةِ

Sesungguhnya Karun adalah termasuk kaum Musa , maka ia berlaku aniaya terhadap mereka, dan Kami telah menganugerahkan kepadanya perbendaharaan harta yang kunci-kuncinya sungguh berat dipikul oleh sejumlah orang yang gagah perkasa.(QS. al-Qoshosh [28]: 76)

Qorun adalah ikon pengusaha sukses, cerdas, dan kaya raya. Qorun begitu sukses dan kaya, sampai-sampai kebanyakan orang mengimpi-impikan untuk mengikuti jejaknya, menjadi kaya raya. Betapa tidak, kekayaannya begitu melimpah ruah, sampai sejumlah orang yang gagah perkasapun tak kuasa untuk memikul kunci-kunci gudangnya. Kunci-kunci gudang Qorun hanya bisa dibawa –minimal- oleh enam puluh keledai.[6]

Qorun merasa bahwa perniagaannya sukses karena kehebatan dan kecerdasannya. Simaklah, betapa angkuhnya Qorun ketika ia berkata:

قَالَ إِنَّمَآ أُوتِيتُهُ ۥ عَلَىٰ عِلۡمٍ عِندِىٓ‌ۚ أَوَلَمۡ يَعۡلَمۡ أَنَّ ٱللَّهَ قَدۡ أَهۡلَكَ مِن قَبۡلِهِۦ مِنَ ٱلۡقُرُونِ مَنۡ هُوَ أَشَدُّ مِنۡهُ قُوَّةً۬ وَأَڪۡثَرُ جَمۡعً۬ا‌ۚ

Qarun berkata: “Sesungguhnya aku hanya diberi harta itu, karena ilmu yang ada padaku”. Dan apakah ia tidak mengetahui, bahwasanya Allah sungguh telah membinasakan umat-umat sebelumnya yang lebih kuat daripadanya, dan lebih banyak harta kumpulannya. (QS. al-Qoshosh [28]: 78)

Saudaraku! Bangkitkan semangatmu dan kobarkan imanmu. Yakinlah, bahwa dengan beriman dan beramal shalih rezeki  Anda akan semakin lancar dan masa depanmu ‘kan semakin cerah.

PRINSIP KEDUA: HUKUM ASAL SETIAP TRANSAKSI ADALAH HALAL

Sarana dan metode pertikaran kepentingan antara sesama manusia, tidak terbatas jumlahnya. Setiap masa dan daerah memiliki berbagai bentuk dan model pertukaran yang berbeda dengan bentuk model yang ada pada masa dan daerah lainnya. Oleh karena itu, bukan sikap yang bijak bila model pertukaran kepentingan antara mereka dikekang dan dibatasi dalam bentuk tertentu. Syari’at Islam tidak pernah membatasi metode pertukaran kepentingan sesama mereka.

الأصل في الأشياء الأباحة، حتي يدل الدليل علي التحريم

Hukum asal segala hal adalah boleh, hingga ada dalil yang mengharamkannya.”

Kaedah ini didukung oleh banyak dalil dalam al-Qur’an dan as-Sunnah, di antaranya:

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

أنتم أعلم بامر دنياكم

Kalian lebih mengetahui tentang urusan dunia kalian.” (HR. Muslim Kitab al-Fadho’il Bab Wujub Imtitsal Ma Qolahu Syar’an no. 2363)

Dan berkaitan dengan perniagaan, Allah Ta’ala berfirman:

وَأَحَلَّ ٱللَّهُ ٱلۡبَيۡعَ وَحَرَّمَ ٱلرِّبَوٰاْ‌ۚ

Dan Allah telah menghalalkan jual-beli dan mengharamkan riba. (QS. al-Baqarah [2]: 275)

Bahkan tatkala Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam ditanya tentang mata pencaharian yang paling baik, beliau menjawab:

عمل الرجل بيده وكل بيع مبرور

“Hasil pekerjaan seseorang dengan tangannya sendiri, dan setiap perniagaan yang baik.” (HR. Ahmad 4/141, dinyatakan oleh al-Albani sebagai hadits shahih dalam Shahih at-Targhib no. 1691)

Oleh sebab itu, setiap ulama yang menulis kitab fiqih, atau hadits; senantiasa mengkhususkan satu bab untuk pembahasan tentang perniagaan.

PRINSIP KETIGA: JENIS-JENIS AKAD DAN BERBAGAI KONSEKUENSI HUKUMNYA

Sebagai seorang penguasaha, Anda pasti mengetahui bahwa berbagai akad dan konsekuensi hukumnya bermacam-macam. Tentu hal ini penting untuk diketahui. Dengan mengenali perbedaan konsekuensi tiap-tiap akad, maka berbagai hukum syari’at yang terkait dengannya pun lebih mudah Anda kuasai dan pahami.[7]

Berikut (ini, -ed) beberapa sudut pandang pembagian akad, yang menurut hemat saya mendesak untuk Anda kenali.

 1.       Pembagian akad ditinjau dari tujuannya

Ketika Anda mengadakan suatu perniagaan, cobalah renungkan kembali tujuan Anda. Banyak bukan, tujuan akad yang selama ini pernah terbetik dalam hati Anda? Akan tetapi, secara global, tujuan-tujuan itu dapat diklasifikasikan ke dalam tiga kelompok:

Tujuan komersial: Tujuan ini biasanya muncul ketika Anda menjalankan akad yang dapat mendatangkan keuntungan yang bernilai materi. Kala itu, Anda pasti menyadari bahwa partner niaga Anda sedang berusaha mendapatkan keuntungan, demikian pula halnya dengan diri Anda. Inilah yang mendasari adanya suatu proses tawar-menawar atau negosiasi. Contoh nyata dari akad yang memiliki tujuan semacam ini ialah akad jual beli, sewa-menyewa, syarikat dagang, dan lain-lain.

secara prinsip, syari’at Islam merestui umatnya untuk mencari keuntungan melalui akad jenis ini.

Tujuan sosial: Biasanya tujuan ini muncul ketika Anda merasa iba kepada orang lain. Dengan kata lain, Anda tidak memiliki pamrih ketika menjalankan akad-akad jenis ini. Anda benar-benar ingin mengulurkan tangan kepada suadara Anda guna meringankan deritanya, atau menghargai jasa baiknya. Sudah barang tentu, tidak etis bila ternyata Anda menggunakan kondisi ini untuk mengeruk keuntungan dari ulur tangan Anda.

Ini tidak berarti hanya orang yang sedang terhimpit oleh kebutuhan saja yang mnjalankan transaksi jenis ini, karena betapa banyak orang yang memiliki harta melimpah ruah menjalankan sebagian dari transaksi jenis ini. Contoh nyata dari akad macam ini ialah: akad hutang-piutang, penitipan[8], peminjaman barang (‘ariyah), shodaqoh, wakaf, dan lain-lain.

Tujuan memberi rasa aman: Tujuan ini biasanya terjadi pada saat Anda menggunakan hak saudara Anda. Anda bermaksud menumbuhkan kepercayaan padanya bahwa hartanya yang Anda gunakan/hutang dapat Anda kembalikan dengan utuh. Sebagai konsekuensinya, tidak dibenarkan baginya untuk mengambil keuntungan dari barang yang Anda jaminkan kepadanya. Yang demikian itu, dikarenakan harta beserta seluruh kegunaannya adalah milik Anda, sehingga ia tidak berhak menggunakannya tanpa izin Anda.

لا يحل مال أمرٍئ مسلم ألا بطيب نفس منه

Tidaklah halal harta seorang muslim kecuali atas kerelaan darinya.” (HR. Ahmad 5/113)

Di antara akad yang tergolong ke dalam kelompok ini adalah akad pegadaian (rohnu), jaminan (hamalah), transfer piutang (hawalah), dan lain-lain.

Manfaat mengetahui pembagian akad ditinjau dari tujuannya.

Dengan memahami pembagian akad ditinjau dari tujuannya, Anda dapat memahami alasan dan hikmah diharmkannya riba, sebagaimana Anda dapat memahami perbedaan riba dari perniagaan:

ٱلَّذِينَ يَأۡڪُلُونَ ٱلرِّبَوٰاْ لَا يَقُومُونَ إِلَّا كَمَا يَقُومُ ٱلَّذِى يَتَخَبَّطُهُ ٱلشَّيۡطَـٰنُ مِنَ ٱلۡمَسِّ‌ۚ ذَٲلِكَ بِأَنَّهُمۡ قَالُوٓاْ إِنَّمَا ٱلۡبَيۡعُ مِثۡلُ ٱلرِّبَوٰاْ‌ۗ وَأَحَلَّ ٱللَّهُ ٱلۡبَيۡعَ وَحَرَّمَ ٱلرِّبَوٰاْ‌ۚ فَمَن جَآءَهُ ۥ مَوۡعِظَةٌ۬ مِّن رَّبِّهِۦ فَٱنتَهَىٰ فَلَهُ ۥ مَا سَلَفَ وَأَمۡرُهُ ۥۤ إِلَى ٱللَّهِ‌ۖ وَمَنۡ عَادَ فَأُوْلَـٰٓٮِٕكَ أَصۡحَـٰبُ ٱلنَّارِ‌ۖ هُمۡ فِيہَا خَـٰلِدُونَ

Orang-orang yang makan [mengambil] riba tidak dapat berdiri melainkan seperti berdirinya orang yang kemasukan syaitan lantaran [tekanan] penyakit gila . Keadaan mereka yang demikian itu, adalah disebabkan mereka berkata [berpendapat], sesungguhnya jual-beli itu sama dengan riba, padahal Allah telah menghalalkan jual-beli dan mengharamkan riba…..[dst،-ed] (QS. al-Baqarah [2]: 275)

2.       Pembagian akad ditinjau dari karakternya

Akad perniagaan bila ditinjau dari sifat dasarnya, maka dapa dikelompokkan ke dalam tiga kelompok besar:

Pertama: Akad yang mengikat kedua belah pihak. Maksud kata “mengikat” ialah Anda tidak dibenarkan untuk membatalkan akad yang telah usai Anda jalin tanpa kerelaan dari pihak kedua. Di antara contoh akad jenis ini ialah akad jual-beli, sewa-menyewa, dan lain-lain.

Kedua: Akad yang mengikat salah satu pihak, sedang pihak kedua bebas membatalkan akad walau tanpa kerelaan pihak kedua.

Di antara contoh akad jenis ini ialah: akad pergadaian (agunan). Pada akad ini,seorang kreditor (pemberi hutang) berhak mengembalikan agunan yang ia terima kapan pun ia suka. Sedangkan debitor (penghutang) sekaligus pemilik barang agunan tidak berhak untuk menarik kembali agunannya tanpa seizin debitor.

Ketiga: Akad yang tidak mengikat kedua belah pihak. Kedua pihak terkait berhak untuk membatalkan akad yang mereka jalin kapan pun ia suka walau tanpa seizin pihak kedua. Di antara contoh akad jenis ini ialah: syari’at dagang, mudhorobah (bagi hasil), penitipan, peminjaman, wasiat, dan lain-lain.

Manfaat mengetahui pembagian akad ditinjau dari karakternya.

Dengan mengetahui pembagian akad ditinjau dari sisi ini, Anda dapat mengetahui hukum memutuskan akad yang telah Anda jalin.

Dengan demikian Anda mengetahui hukum dari pernyataan sebagian pedagang berikut ini: “Barang yang telah dibeli tidak dapat dikembalikan.”

3.       Pembagian akad ditinjau dari konsekuensi hukumnya

Bila akad perniagaan ditinjau dari konsekuensi hukumnya, maka secara global Anda dapat membaginya ke dalam dua kelompok besar:

Pertama: Akad yang memindahkan kepemilikan barang. Berbagai akad yang dibenarkan dalam syari’at Islam memiliki konsekuensi memindahkan kepemilikan barang. Sekadar Anda menjalin akad jenis ini, maka barang yang menjadi objek  akad secara otomatis berpindah kepemilikan kepada ‘lawan’ akad Anda. Di antara contoh akad kelompok ini ialah: akad jual beli, hutang-piutang, barter, hibah, hadiah, dan lainnya.

 Kedua: Akad yang tidak memindahkan kepemilikan barang. Di antara contoh akad jenis ini ialah akad serikat dagang, mudhorobah, sewa-menyewa, ‘ariyah (peminjaman barang), dan lainnya.

Manfaat mengetahui pembagian akad ditinjau dari konsekuensi hukumnya

Banyak manfaat yang dapat Anda petik dari mengetahui pembagian akad ditinjau dari konsekuensi hukumnya semacam ini. Dengannya Anda mengetahui siapa yang berhak memiliki barang yang diperniagakan beserta keuntungannya; sebagaimana dengannya Anda dapat mengetahui hak dan kewajiban Anda dan partner niaga Anda.

Misal: Akad mudhorobah adalah salah satu contoh akad yang tidak memindahkan kepemilikan barang. Sebagai konsekuensi dari ketentuan ini, pihak yang berhak memiliki unit usaha ialah pemodal dan bukan pelaku usaha. Karena itu, tidak mengherankan bila ulama menegaskan bahwa pada akad mudhorobah status dan wewenang pelaku usaha hanya terbatas sebagai perwakilan dari pemodal sehingga mereka menegaskan bahwa pelaku usaha tidak dibenarkan untuk menghibahkan sebagian harta mudhorobah, atau menjualnya dengan harga lebih murah, atau membeli dengan harga lebih mahal dari harga pasar. Bila pelaku usaha melanggar kewenangannya, semisal menghibahkan sebagian harta mudhorobah tanpa izin, atau membeli barang dengan harga yang lebih mahal dari harga pasar, maka ia wajib menggantinya. (Lihat al-Wasith oleh al-Ghozali 4/116, al-Mughni oleh Ibnu Qudamah 7/140, dan I’anatuth Thalibin 3/101)

PRINSIP KEEMPAT: MENGENAL SEBAB-SEBAB DIHARAMKANNYA SUATU PERNIAGAAN

Anda telah mamahami bahwa hukum asal setiap perniagaan adalah halal. Sekarang, saatnya Anda mengenali hal-hal yang menyebabkan perniagaan diharamkan dalam Islam. Dengan demikian, Anda dengan mudah mengenali perniagaan yang halal dari yang haram.

Imam Ibnu Rusyd al-Maliki rahimahullah berkata: “Bila engkau meneliti berbagai sebab yang karenanya suatu perniagaan dilarang dalam syari’at, dan sebab-sebab itu berlaku umum pada segala jenis perniagaan, niscaya engkau dapatkan sebab-sebab itu terangkum dalam empat hal:

  1. Barang yang menjadi objek perniagaan adalah barang yang diharamkan.
  2. Adanya unsur riba.
  3. Adanya ketidakjelasan status (ghoror).
  4. Adanya persyaratan yang memancing timbulnya dua hal di atas (riba dan ghoror).

Inilah hal-hal paling utama yang menjadikan suatu perniagaan terlarang.” (Bidayatul Mujtahid 2/102)

Inilah empat faktor utama penyebab dilarangnya suatu akad niaga. Dan selain keempat faktor utama ini, ada beberapa faktor sekunder, di antaranya:

1.       Waktu

Sepanjang tahun, hanya ada satu waktu yang padanya Anda dilarang untuk mengadakan perniagaan. Waktu itu ialah sejak muadzin mengumandangkan adzan kedua pada hari Jum’at hingga Anda selesai dari mendirikan shalat Jum’at. Ketentuan ini berdasarkan firman Allah Ta’ala:

يَـٰٓأَيُّہَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوٓاْ إِذَا نُودِىَ لِلصَّلَوٰةِ مِن يَوۡمِ ٱلۡجُمُعَةِ فَٱسۡعَوۡاْ إِلَىٰ ذِكۡرِ ٱللَّهِ وَذَرُواْ ٱلۡبَيۡعَ‌ۚ ذَٲلِكُمۡ خَيۡرٌ۬ لَّكُمۡ إِن كُنتُمۡ تَعۡلَمُونَ

Hai orang-orang yang beriman, apabila diseru untuk menunaikan ssalat pada hari Jum’at, maka bersegeralah kamu kepada mengingat Allah dan tinggalkanlah jual-beli [1]. Yang demikian itu lebih baik bagimu jika kamu mengetahui.(QS. Al-Jumu’ah [62]: 9)

2.       Tempat

Di bumi yang luas ini, hanya ada satu tempat yang terlarang untuk dijadikan sebagai tempat perniagaan. Larangan itu mencakup segala kegiatan yang bersifat komersial, baik dalam bentuk penawaran, negosiasi, pengenalan produk, dan yang serupa. Tempat tersebut adalah masjid.

إذا رايتم من يبيع أو يبتاع في المسجد فقولوا: لا اربح الله تجارتك واذا رايتم من ينشد فيه ضالة فقولوا : لا رد الله عليك

Bila engkau mendapati orang berjual beli di dalam masjid, katakanlah: ‘Semoga Allah tidak memberikan keuntungan pada perniagaanmu.’ Dan bila engkau menyaksikan orang mengumumkan barang hilang di dalam masjid, katakanlah: ‘Semoga Allah tidak mengembalikan barangmu yang hilang.” (HR. At-Tirmidzi: 1321, dinyatakan oleh al-Albani sebagai hadits shahih dalam Irwa’ul Ghalil 5/134 No. 1295)

Dahulu Atha’ bin Yasar rahimahullah menghardik orang yang ia jumpai berjualan di masjid dengan berkata: “Hendaknya engkau pergi ke pasar dunia, sedangkan ini adalah pasar akhirat.” (Riwayat Imam Malik dalam al-Muwaththo’ 2/244, No. 601)

Berdasarkan ini semua, banyak ulama yang mengharamkan jual beli di dalam masjid (Lihat Ensiklopedi Fatwa al-Lajnah ad-Da’imah yang diketuai oleh Syaikh Abdul Aziz bin Baz rahimahullah, Fatwa No. 11967).

3.       Penipuan

Terwujudnya tatanan masyarakat yang harmonis, saling mencintai adalah cita-cita setiap muslim. Karenanya, Islam mengharamkan setiap tindakan dan sikap yang dapat menghambat terwujudnya cita-cita luhur ini. Dan di antara tindakan yang nyata-nyata menghambat cita-cita luhur ini ialah tindakan tipu muslihat.

البيعان بالخيار مالم يتفرقا ، فان صدقا وبينا بورك لهما في بيعهما، وان كتما وكذبا محقت بركة بيعهما

Kedua orang yang saling berniaga memiliki hak pilih (khiyar) selama keduanya belum berpisah, dan bila keduanya berlaku jujur dan menjelaskan maka akan diberkahi untuk mereka penjualannya, dan bila mereka berlaku dusta dan saling menutup-nutupi, maka niscaya akan dihapuskan keberkahan penjualannya.” (HR. Bukhari: 1973 dan Muslim: 1531)

Pada hadits lain, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menegaskan:

من غشنا فليس منا

Barangsiapa menipu kami, maka ia tidak termasuk golongan kami.” (HR. Muslim: 101)

4. Merugikan orang lain

Dalam upaya meraih keuntungan, hendaknya Anda tidak melalaikan bahwa di dunia ini Anda tidak hidup seorang diri. Karenanya, tidak layak bila Anda berlaku egois dengan mementingkan keuntungan sendiri, apalagi sampai mengorbankan saudara Anda. Bisa Anda bayangkan, betapa pilu perasaan Anda bila menyadari bahwa selama ini  Anda telah menjadi tumbal orang lain guna meraup keuntungan pribadinya. Demikian pulalah yang akan dirasakan oleh saudara Anda bila ia menyadari bahwa Anda mengeruk keuntungan dengan mengorbankan kepentingannya.

لا تحاسدوا ولا تناجشوا ولا  تباغضوا ولا  تدابروا ولا يبع بعضكم
على بيع بعض وكونوا عباد الله إخوانا، المسلم أخو المسلم لا يظلمه ولا يخذله ول يحقره

“Janganlah engkau saling hasad, menaikkan penawaran barang (padahal tidak ingin membelinya), membenci, merencanakan kejelekan, dan jangan pula sebagian dari kalian melangkahi pembelian sebagian lainnya. Jadilah hamba-hamba Allah yang saling bersaudara. Seorang muslim adalah saudara muslim lainnya. Tidak layak baginya untuk menzhalimi saudaranya, membiarkannya dianiaya orang lain, dan menghinanya.” (HR. Bukhari: 5717 dan Muslim: 2564)

Berikut ini beberapa sikap pengusaha yang berhati hina sehingga mengorbankan kepentingan saudaranya, demi meuwajudkan impiannya mendapat keuntungan segunung:

a.       Menimbun barang dagangan

Saya yakin Anda sependapat bahwa menimbun barang kebutuhan masyarakat banyak nyata-nyata meresahkan dan merugikan orang banyak. Pantas, bila Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menyebutnya sebagai perbuatan dosa:

من احتكر فهو خاطئ

Barangsiapa yang menimbun maka iatelah berbuat dosa.” (HR. Muslim: 1605)

b.      Melangkahi penawaran atau penjualan sesama muslim

Bayangkan: Anda sedang menawar atau menjual suatu barang, tiba-tiba ada orang lain yang lancang dan menawar barang yang sedang Anda tawar atau mengajukan penawaran barang kepada calon pelanggan Anda. Kira-kira, bagaimana perasaan dan sikap Anda? Tersinggung, sakit hati, marah, dan mungkin juga segera mengambil tindakan dengan memukul atau menghardiknya.

Tidak mengherankan bila Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

لا تلقوا الركبان، ولا يبع بعضكم على بيع بعض ولا تناجشوا ولا يبع حاضر لباد

“Janganlah kamu menghadang orang-orang kampung yang membawa barang dagangannya (ke pasar). Janganlah sebagian dari kamu melangkahi penjualan sebagian yang lain. Jangan pula kamu saling menaikkan tawaran suatu barang (tanpa niat untuk membelinya). Dan jangan pula orang kota menjualkan barang dagangan milik orang kampung.” (HR. Bukhari: 243)

c.    Percaloan

Di antara hal yang dapat merugikan orang lain, sehingga harga barang kebutuhan masyarakat menjadi mahal, ialah praktik percaloan –yang kadang kala- berlapis-lapis. Akibatnya, Anda sebagai konsumen terbebani oleh keuntungan sepihak yang dipungut oleh para calo. Terlebih-lebih bila praktik percaloan ini menyebabkan harga barang membumbung tinggi jauh dari kewajaran.

لا يبع حاضر لباد دعوا الناس يرزق الله بعضهم من بعض

“Janganlah orang kota menjualkan barang-barang milik orang kampung; biarkanlah masyarakat, sebagian diberi rizki oleh Allah dari sebagian lainnya.” (HR. Muslim: 1522)

PRINSIP KELIMA: MENGENAL ARTI KEUNTUNGAN MENURUT SYARI’AT ISLAM

Saat ini, sudut pandang kebanyakan umat Islam tentang keuntungan; sempit, dan hanya dalam bentuk keuntungan materi. Disadari atau tidak, ini akibat langsung dari pengaruh paham sekuler yang hanya mengakui keuntungan materi. Tidak heran bila banyak dari kita yang terjerumus ke dalam perbuatan mengejar keuntungan dengan menghalalkan segala macama cara.

يا معشر التجار! فاستجابوا لرسول الله ورفعوا أعناقهم وأبصارهم إليه، فقال: إن التجار يبعثون يوم القيامة فجارا، إلا من اتقى الله وبر وصدق

“Wahai para pedagang!” Maka mereka memperhatikan seruan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan mereka menengadahkan leher dan pandangan mereka kepada beliau. Lalu beliau bersabda: “Sesungguhnya para pedagang akan dibangkitkan kelak pada hari kiamat sebagai orang-orang fajir (jahat) kecuali pedagang yang bertaqwa kepada Allah, berbuat baik, dan berlaku jujur.” (HR. At-Tirmidzi: 1210, dinyatakan oleh al-Albani sebagai hadits hasan dalam Silsilah Ahadits ash-Shahihah: 994)

Islam mengajarkan kepada umatnya agar memiliki sudut pandang yang luas tentang arti keuntungan usaha. Islam menganalkan kepada umatnya bahwa keuntungan usaha tidaklah hanya sebatas keuntungan materi. Keuntungan yang seyogyanya diupayakan oleh setiap umat Islam mencakup nonmateri, yaitu berupa keberkahan, pahala, dan keridhoan Allah. Berdasarkan ini, syari’at Islam membagi transaksi ditinjau dari tujuannya menjadi tiga bagian besar, sebagimana telah dijelaskan sebelumnya. Dan ketahuilah bahwa syari’at tidak membatasi jumlah keuntungan yang boleh Anda pungut. Dengan demikian, berapa pun keuntungan yang Anda peroleh maka itu sah-sah saja, asalkan semuanya Anda dapatkan dengan cara-cara yang benar.

عن عروة البارقي أن رسول الله بعث معه بدينارا يشتري له أضحية  فاشتري إثنتين فباع واحدة بدينار وأتاه بالاخري. فدعا له بالبركة في بيعه، فكان لو اشترى التراب لربح فيه

Sahabat Urwah al-Bariqi radhiyallahu ‘anhu mengisahkan, pada suatu hari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memberinya uang satu dinar untuk dibelikan seekor kambing kurban untuk beliau. Tanpa menunda-nunda, Sahabat Urwah (dengan uang satu dinar tersebut) segera membeli dua ekor kambing. Selanjutnya ia menjual kembali seekor kambing seharga satu dinar. Sehingga ketika ia datang menemui Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, ia membawa seekor kambing dan uang satu dinar. Menyikapi perbuatan sahabatnya ini, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mendo’akan keberkahan pada perniagaannya, sehingga andai ia membeli debu, niscaya ia akan mendapatkan laba darinya. (HR. Abu Dawud: 3386, dinyatakan oleh al-Albani sebagai hadits shahih dalam Irwa’ul Ghalil: 1287)

Walau demikian, bukan berarti Anda dibenarkan hanyut dalam keserakahan dunia. Karenanya, Anda dianjurkan untuk memudahkan dan meringankan saudara Anda, termasuk dalam hal perniagaan. Coba Anda renungkan kembali ksah di atas.

أتى الله بعبد من عباده آتاه الله مالا، فقال له: ماذا عملت في الدنيا؟ قال ولا يكتمون الله حديثا  قال: يا رب آتيتن مالك، فكنت أبايع الناس، وكان من خلقي الجواز، فكنت أتيسر على الموسر وأنظر المعسر، فقال الله: أنا أحق بذا منك، تجاوزوا عن عبدي :

Allah mendatangkan salah seorang hamba-Nya yang pernah Dia beri harta kekayaan, kemudian Allah berfirman kepadanya: ‘Apa yang engkau lakukan semasa hidup di dunia?’ (Dan mereka tidak dapat menyembunyikana suatu kejadian pun dari Allah.)[9] Dia pun menjawab: ‘Wahai Tuhanku, Engkau telah memberiku harta kekayaan. Dahulu aku berjual beli dengan orang lain. Dan kala itu, kebiasaanku adalah  senantiasa memudahkan. Aku meringankan (tagihan) orang yang mampu dan menunda (tagihan dari) orang yang tidak mampu.’ Allah pun berfirman: ‘Aku lebih layak untuk melakukan hal itu daripada engkau. Mudahkanlah hamba-Ku ini.’” (HR. Bukhari: 1971 dan Muslim: 1560)

Tidakkah Anda merasa terpanggil untuk mendapatkan keuntungan besar ini? Perniagaan Anda mendatangkan keuntungan di dunia, dan kelak di hari kiamat mengantarkan Anda ke surga.

BENARKAH ANDA BERHAK MENDAPATKAN KEUNTUNGAN?

Saya kira Anda menjadi berbinar-binar bila diajak bicara tentang keuntungan, terlebih-lebih keuntungan yang segunung banyaknya. Akan tetapi, pernahkah Anda berpikir: benarkah saya berhak memungut keuntungan dari perniagaan yang saya jalankan?

Ketahuilah saudara, dalam syari’at Islam, Anda hanya berhak mendapat keuntungan bila Anda siap menanggung kerugian usaha. Hanya pengusaha demikian inilah yang berhak mendapatkan keuntungan.

عَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا أَنَّ رَجُلًا ابْتَاعَ غُلَامًا، فَأَقَامَ عِنْدَهُ مَا شَاءَ اللَّهُ أَنْ يُقِيمَ، ثُمَّ وَجَدَ بِهِ عَيْبًا، فَخَاصَمَهُ إِلَى النَّبِيِّ صلّى الله عليه وسلّم، فَرَدَّهُ عَلَيْهِ، فَقَالَ الرَّجُلُ: يَا رَسُولَ اللَّهِ قَدْ اسْتَغَلَّ غُلَامِي؟ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صلّى الله عليه وسلّم: الْخَرَاجُ بِالضَّمَانِ

Aisyah radhiyallahu ‘anha mengisahkan: “Ada seorang lelaki membeli seorang budak laki-laki. Setelah budak tersebut tinggal bersamanya selama beberapa waktu, pembeli mendapatkan cacat pada budak tersebut. Tak ayal lagi, pembeli mengadukan penjual budak kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Dan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pun memutuskan agar budak tersebut dikembalikan. Namun, penjual berkata: ‘Ya Rasulullah! Sungguh ia telah mempekerjakan budakku?’ Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: ‘Keuntungan adalah imbalan atas kesiapan menanggung  kerugian.’” (HR. Abu Dawud: 3512, dinyatakan hasan oleh al-Albani dalam Irwa’ul Ghalil: 1315)

Abu Ubaid rahimahullah menjelaskan maksud hadits ini, beliau berkata: “Yang dimaksud dengan keuntungan pada hadits ini adalah hasil pekerjaan budak yang telah dibeli dan dipekerjakan tersebut. Setelah pembeli mempekerjakannya, ia menemukan cacat yang sengaja ditutup-tutupi oleh penjual, sehingga ia pun mengembalikan budak tersebut dan mengambil uang pembayarannya dengan utuh. Dengan demikian, ia telah mendapat keuntungan berupa seluruh hasil pekerjaan budak tersebut (selama berada di tangannya). Yang demikian itu dikarenakan budak tersebut –sebelum dikembalikan- merupakan tanggung jawab pembeli. Seandainya budak tersebut mati, maka budak itu dihitung dari hartanya (ia yang menanggung kerugiannya).”

Seusai menyebutkan ucapan Abu Ubaid di atas,as-Suyuthi rahimahullah berkata: “Para ahli fiqih juga menyatakan demikian. Makna hadits tersebut ialah segala yang dihasilkan oleh suatu hal, baik berupa penghasilan, manfaat, atau suatu benda, maka itu adalah milik pembeli sebagai imbalan atas tanggung jawabnya sebagai pemilik. Alasannya, andai barang yang telah ia beli tersebut mengalami kerusakan, maka kerusakan itu tanggung jawabnya. Oleh karenanya, hasilnya pun menjadi miliknya, agar benar-benar keuntungan menjadi imbalan atas kerugian.” (al-Asybah wa an-Nazho’ir oleh as-Suyuthi hlm. 136. Baca juga al-Mantsur fi al-Qowa’idh oleh az-Zarkasyi 1/328)

Demikianlah semestinya perniagaan dijalankan, yaitu setiap orang yang berniaga mencari keuntungan, maka dia harus siap menanggung kerugian yang mungkin terjadi. Bila seorang pedagang berupaya untuk melepaskan diri dari tanggung jawab atas kerugian yang mungkin terjadi, maka upaya tersebut sudah dapat dipastikan terlarang, karena itu adalah kebiasaan para pemakan riba. Seorang rentenir hanya ingin menumpuk keuntungan sebanyak-banyaknya, sedangkan ia tidak sedikit pun sudi menanggung kerugian. Bahkan, ia ingin tetap mendapatkan keuntungan (bunga) dari kerugian saudaranya.

PRINSIP KEENAM: ASAS SUKA SAMA SUKA

Islam adalah syari’at yang menghormati hak kepemilikan umatnya. Islam tidak membenarkan siapa pun memakan atau menggunakan harta orang lain kecuali atas kerelaannya, baik melalui perniagaan atau lainnya. Allah Ta’ala berfirman:

يَـٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ لَا تَأۡڪُلُوٓاْ أَمۡوَٲلَكُم بَيۡنَڪُم بِٱلۡبَـٰطِلِ إِلَّآ أَن تَكُونَ تِجَـٰرَةً عَن تَرَاضٍ۬ مِّنكُمۡ‌ۚ

Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu saling memakan harta sesamamu dengan jalan yang bathil, kecuali dengan jalan perniagaan yang berlaku dengan suka sama-suka di antara kamu. (QS. an-Nisa’ [4]: 29)

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

لاَ يَأْخُذَنَّ أَحَدُكُمْ مَتَاعَ أَخِيهِ لاَعِبًا وَلاَ جَادًّا، وَمَنْ أَخَذَ عَصَا أَخِيهِ فَلْيَرُدَّهَا

Janganlah sekali-kali engkau mengambil harta saudaranya, tidak dengan pura-pura dan tidak pula sungguh-sungguh. Barangsiapa yang terlanjur mengambil –sebagai contoh- tongkat saudaranya, hendaknya ia segera mengembalikannya.” (HR. Abu Dawud: 5005)

Dan secara khusus tentang perniagaan, beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

إنما البيع عن تراض

“Sesungguhnya yang disebut perniagaan itu hanyalah perniagaan yang didasari oleh asas suka sama suka.” (HR. Ibnu Majah: 2185, dinyatakan oleh al-Albani sebagai hadits shahih dalam Irwa’ul Ghalil: 1283)

Wajar bila kedua belah pihak yang menjalankan suatu transaksi untuk tidak berpisah kecuali bila telah tercapai kata sepakat antara mereka. Bila kata sepakat tidak dapat tercapai, maka tidak ada transaksi antara mereka.

لا يفترقن اثنان إلا عن تراض

Janganlah sekali-kali kedua orang berjual beli saling berpisah kecuali atas dasar suka sama suka.” (HR. Abu Dawud: 3460, dinyatakan oleh al-Albani sebagai hadits shahih dalam Irwa’ul Ghalil: 1283)

Berdasarkan persyaratan ini, para ulama menegaskan bahwa tidak sah akad penjualan yang dilakukan oleh orang yang terpaksa.

Orang yang dipaksa adalah orang yang dikondisikan sedemikian rupa sehingga tidak dapat menolak penjualan tersebut, dan akhirnya ia pun dengan terpaksa menjual atau membeli.

Syaikh Ibnu Utsaimin rahimahullah mencontohkan: “Bila Anda mengetahui bahwa seorang penjual menjual barangnya kepada Anda karena semata-mata rasa malu dan segan, maka Anda tidak boleh untuk membeli darinya. Selama Anda tahu bahwa andai bukan karena rasa malu dan segan, niscaya ia tidak akan menjual barang itu kepada Anda. Oleh karena itu, para ulama rahimahumullah berkata: ‘Haram hukumnya menerima hadiah dari orang yang memberikan hadiah itu kepada Anda hanya karena rasa malu dan segan.’ Alasannya, walaupun ia tidak berterus terang bahwa ia tidak ridho (rela), tetapi gelagatnya menunjukkan dengan jelas bahwa ia tidak rela.” (asy-Syarhul Mumthi’ 8/121-122)

Perlu dicatat, bahwa maksud paksaan di sini ialah paksaan yang dilakukan tanpa alasan yang dibenarkan. Adapun bila ada alasan yang dibenarkan secara syari’at, maka penjualannya itu sah. Sebagai konsekuensinya, Anda pun dibenarkan untuk membeli darinya. Yang demikian itu, karena akad ini bertujuan menegakkan kebenaran, dan tidak bermaksud menimpakan kezhaliman atau merampas harta orang lain. Contohnya, orang yang telah menggadaikan rumahnya kepada orang lain sebagai jaminan atas piutangnya. Ketika jatuh tempo pembayaran, ia tidak mampu membayar hutangnya. Pada keadaan semacam ini, rumah yang telah ia gadaikan boleh dijual guna melunasi piutangnya, walaupun pemilik rumah tidak rela.

PENUTUP

Demikian sekelumit prinsip dasar perniagaan yang dibenarkan dalam Islam. Harapan saya, kita semua dapat menerapkan prinsip-prinsip mulia di atas dalam setiap perniagaan kita. Dengan demikian, setiap perniagaan yang kita jalankan dapat mendatangkan keuntungan di dunia dan kelak –di hari kiamat- dapat mengantarkan kita ke pintu surga. Wallahu A’lam bish showab. []

Sumber:

Diketik ulang dari dua edisi oleh Maktabah Abi Yahya:
Majalah AL FURQON No. 108, Rubrik: Ekonomi Islam, hal. 44-48
Majalah AL FURQON No. 109, Rubrik: Ekonomi Islam,  hal. 43-47

Aerikel terkait: Mengenal Perniagaan Haram


[1] Al-Muwaththo’ riwayat Muhammad bin al-Hasan no. 802 dan Sunan at-Tirmidzi riwayat no. 487, oleh al-Albani, riwayat ini dinyatakan hasan.

[2] Ahkamul Qur’an oleh Imam al-Qurthubi al-Maliki 5/29.

[3] Tafsir ath-Thobari 20/58 dan Tafsir Ibnu Katsir 6/292

[4] HR. Muslim Kitab al-Birr was Silah bab Tahrimu azh-Zhulmi hadits no. 2577

[5] HR. Ibnu Majah Kitab at-Tijarot Bab al-Iqtishod fi Tholabil Ma’isyah hadits no. 2144, dan al-Baihaqi Kitab al-Buyu’ Bab al-Ijmal fi Tholabi ad-Dunya wa Tarki Tholabiha Bima La Yahillu hadits no. 10707. Oleh al-Albani, hadits ini dinyatakan shahih, Silsilah Ahadits Shahihah 6/209 no. 2607

[6] Tafsir ath-Thobari 20/106-107

[7] Pembagian macam-macam akad ini saya sarikan dari beberapa referensi berikut: Qowa’id Ibnu Rajab al-Hanbali 1/375 kaidah ke-52, 2/418 kaidah ke-105, al-Muwafaqot oleh asy-Syathibi 3/199, asy-Syarhul Mumthi’ oleh Syaikh Ibnu Utsaimin 8/278, 9/120, 127-129, ad-Dirasat asy-Syar’iyah li  Ahammil Uqud al-Maliyyah al-Mustahdatsah oleh Dr. Muhammad Musthofa asy-Syinqithi 1/73-89.

[8] Yang dimaksud dengan penitipan di sini ialah penitipan yang tanpa dipungut upah. Adapun penitipan yang sering terjadi di masyarakat, misalnya penitipan sepeda motor, mobil, dll. yang dipungut biaya penitipan, akad ini sebenarnya bukan akad penitipan, melainkan akad jual beli jasa, yang diistilahkan dalam ilmu fiqih dengan akad ijaroh (jual jasa).

[9] QS. an-Nisa [4]: 42

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: