AKAR TERORISME (Kilas Balik Pencetus Ideologi Takfir)

IMG_0310Abdurrahman Thoyyib Lc

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullahu mengatakan: “Kelompok Khawarij adalah orang pertama yang mengkafirkan kaum muslimin dan mengatakan kafir bagi setiap pelaku dosa. Mereka mengkafirkan orang yang menyelisihi bid’ah mereka serta menghalalkan darah serta hartanya” (Majmu fatawa 7/279).

Syaikh Shalih bin Fauzan bin Abdillah Al-Fauzan hafidzahullahu berkata: “Yang pertama kali jatuh dalam jurang pengkafiran umat Islam adalah Khawarij. Dan benih Khawarij ini muncul pertama kali pada zaman Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Datang seseorang (Dzul Khuwaisirah) kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam disaat beliau sedang membagikan harta rampasan perang setelah datang dari Hunain. Orang itu berkata: “Wahai Muhammad, berbuat adillah karena engkau tidak berbuat adil” maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Celaka engkau, siapa yang akan adil jika aku tidak adil?” kemudian beliau bersabda: “Akan keluar dari tulang rusuk orang ini sekelompok orang yang kalian akan meremehkan shalat kalian jika kalian bandingkan dengan shalat mereka. Dan kalian juga akan meremehkan puasa kalian jika kalian bandingkan dengan puasa mereka. Mereka keluar dari Islam sebagaimana keluarnya anak panah dari sasarannya” (HR. Bukhari)

Dan Khawarij inilah yang ikut andil dalam pengepungan rumah Utsman radhiyallahu ‘anhu hingga beliau terbunuh dan mereka jugalah yang membunuh Ali Bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu. Pembunuhan terhadap Amirul Mukminin Ali Bin Abi Thalib yang dilakukan oleh Abdurrahman bin Muljam ini mereka yakini sebagai bentuk pendekatan diri kepada Allah, karena mereka menganggap telah bisa membunuh orang kafir. Imran bin Hiththan Al-Khariji mengatakan:

يا ضربة من تقي ما أراد بها إلا ليبلغ من ذي العرش رضوانا
إني لأذكره حينا فأحسبه أوفى البرية عند الله ميزانا

Wahai sabetan (pedang) dari seorang yang bertakwa. Dia tidak menginginkan dengan (pembunuhan) itu
Melainkan untuk mencapai keridhaan dari (Allah) yang memiliki Arsy
Aku selalu mengingatnya dan aku menganggapnya
Sebagai orang yang paling berat timbangan (kebaikannya) disisi Allah

Subhanallahu, membunuh sahabat yang termasuk salah satu khulafa’ rasyidin yang kita diperintahkan untuk mengikuti sunnahnya dan beliau adalah salah seorang yang diberi kabar gembira dengan surga dianggap sebagai amal ibadah yang mulia. Maha benar Allah yang telah berfirman:

قُلْ هَلْ نُنَبِّئُكُمْ بِالْأَخْسَرِينَ أَعْمَالًا(103)الَّذِينَ ضَلَّ سَعْيُهُمْ فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَهُمْ يَحْسَبُونَ أَنَّهُمْ يُحْسِنُونَ صُنْعًا

Katakanlah: “Apakah akan Kami beritahukan kepadamu tentang orang-orang yang paling merugi perbuatannya?” Yaitu orang-orang yang telah sia-sia perbuatannya dalam kehidupan dunia ini, sedangkan mereka menyangka bahwa mereka berbuat sebaik-baiknya.” (QS. Al-Kahfi : 103-104)

Kalau ada yang memuji pembunuh Ali radhiyallahu ‘anhu maka pembunuh Utsman juga ada yang memujinya. Siapa dia? Dialah Sayyid Quthub. Dia mengatakan: “Dan yang terakhir, muncul pemberontakan terhadap Utsman. Tercampur didalamnya kebenaran dan kebatilan, kebaikan dan kejahatan. Akan tetapi bagi yang melihat setiap perkara dengan kaca mata Islam serta merasakannya dengan semangat keIslaman maka dia akan menyatakan bahwa pemberontakan tersebut secara umum merupakan kebangkitan Islam.” (Al-‘Adaalah Al-Ijtima’iyah hal.160)

Diantara sebab mengapa Khawarij mengkafirkan Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu adalah anggapan mereka bahwa Ali radhiyallahu ‘anhu tidak berhukum dengan hukum Allah. Mereka dan anak cucunya selalu mengkafirkan para penguasa kaum muslimin dengan ayat:
إِنِ الْحُكْمُ إِلَّا لِلَّهِ
“Tidak ada hukum selain hukum Allah” (QS. Yusuf :40)
dan firman-Nya:

وَمَنْ لَمْ يَحْكُمْ بِمَا أَنْزَلَ اللَّهُ فَأُولَئِكَ هُمُ الْكَافِرُونَ

“Barangsiapa yang tidak berhukum dengan hukum Allah maka mereka itu kafir” (QS. Al-Maidah : 44).

Imam Al-hafidz Abu Bakr Muhammad bin Al-Husain Al-Ajurri rahimahullahu berkata dalam kitabnya “Asy-syari’ah” (360): “Diantara syubhat khawarij adalah (berpegangnya mereka dengan-pent) firman Allah ta’ala: “Barang siapa yang tidak berhukum dengan apa-apa yang diturunkan Allah maka mereka itu adalah orang-orang kafir”. Mereka membacanya bersama firman Allah: ‘Namun orang-orang kafir itu mempersekutukan (sesuatu) dengan Tuhan mereka” (Surat Al-an’am : 1). Apabila mereka melihat seorang hakim yang tidak berhukum dengan kebenaran maka mereka berkata: Orang ini telah kafir dan barangsiapa yang kafir maka dia telah mempersekutukan Tuhannya. Maka mereka para pemimpin-pemimpin itu adalah orang-orang musyrik” (Asy-syariah (1/342).).

Al-Imam Al-Qadhi Abu Ya’la berkata dalam masalah iman: Khawarij berhujjah dengan firman Allah ta’ala: “Dan barang siapa yang tidak berhukum dengan hukum Allah maka mereka itu adalah orang-orang kafir”. Dzahirnya dalil mereka ini mengharusskan pengkafiran para pemimpin-pemimpin yang dzalim dan ini adalah perkataan khawarij, padahal yang dimaksudkan dengan ayat ini adalah orang-orang yahudi. (Masaailil iman (340-341))

Abu Hayyan berkata dalam tafsirnya: Khawarij berdalil dengan ayat ini untuk menyatakan bahwa orang yang berbuat maksiat kepada Allah itu kafir, mereka mengatakan: Ayat ini adalah nash pada setiap orang yang tidak berhukum dengan hukum Allah bahwa dia itu kafir. (Al-bahrul muhith (3/493))

Abu Abdillah Al-Qurthubi menukil perkataan dari Al-Qusyairi: Madzhabnya khawarij adalah barangsiapa yang mengambil uang suap dan berhukum dengan selain hukum Allah maka dia kafir.(Al-bahrul muhith (3/493).)

Padahal Abdullah bin Abbas radhiyallahu ‘anhuma mengatakan tentang tafsir ayat tersebut dengan ucapan beliau: “Maksudnya kekafiran yang tidak mengeluarkan dari Islam” (Lihat Al-Qoulul ma’mun fii takhriiji maa waroda ‘an Ibni ‘Abbas fii tafsiir : [وَمَنْ لَمْ يَحْكُمْ بِمَا أَنْزَلَ اللَّهُ فَأُولَئِكَ هُمُ الْكَافِرُونَ] oleh Syaikh Ali bin Hasan –hafizhahullahu- hal. 21).

Oleh karenanya para ulama memperinci dalam masalah ini, mereka mengatakan:

1. Ibnu Abil ‘Izzi rahimahullahu berkata: “Disini wajib untuk kita berpikir secara jernih bahwa berhukum dengan selain yang diturunkan Allah kadang-kadang bisa menjadi kufur yang mengeluarkan dari Islam dan kadang-kadang bisa menjadi maksiat besar atau kecil atau bisa jadi kufur majazi atau kufur kecil. Yang demikian itu sesuai dengan keadaan hakim:

– Bila dia meyakini bahwa berhukum dengan selain yang diturunkan Allah itu tidak wajib dan bahwa dia diberi kebebasan (untuk berhukum dengannya atau tidak –pent) atau dia menghina hukum Allah bersamaan dengan keyakinannya bahwa itu adalah hukum Allah maka ini adalah kufur besar.
– Bila dia meyakini wajibnya berhukum dengan yang diturunkan Allah tapi dia berpaling darinya, bersamaan dengan pengakuannya bahwa dia berhak untuk mendapat sanksi, orang ini telah berbuat maksiat dan ini dinamakan dengan kufur majazi atau kufur kecil “. (Syarhu Al-aqidah Ath-Thahawiyah (323-324).)

2. Ibnul Jauzi rahimahullahu berkata: Kesimpulannya: bahwa barangsiapa yang tidak berhukum dengan yang diturunkan Allah dalam keadaan mengingkari akan kewajiban (berhukum) dengannya padahal dia mengetahui bahwa Allah-lah yang menurunkannya, seperti yang dilakukan orang-orang Yahudi, maka orang ini kafir. Dan barangsiapa yang tidak berhukum dengan yang diturunkan Allah karena hawa nafsu tanpa adanya pengingkaran maka dia dzalim dan fasik, dan telah diriwayatkan oleh Ali bin Abi Thalhah dari Ibnu Abbas bahwa dia berkata: “Barangsiapa yang mengingkari apa-apa yang diturunkan Allah maka dia kafir, dan barangsiapa yang masih mengikrarkannya tapi tidak berhukum dengannya maka dia itu dzalim dan fasik”. ( Zaadul masiir (2/366).)

3. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullahu berkata: Tidak diragukan lagi bahwa barangsiapa yang tidak meyakini wajibnya berhukum dengan hukum Allah yang diturunkan kepada Rasul-Nya maka dia kafir. Dan barangsiapa yang menghalalkan untuk menghukumi diantara manusia dengan apa-apa yang dilihantya adil tanpa mengikuti hukum Allah maka dia kafir. Karena tidak ada suatu umat melainkan menginginkan hukum yang adil, yang kadang kala keadilan pada agamanya itu merupakan apa-apa yang dibuat pembesar-pembesar mereka. Bahkan kebanyakan dari yang menisbatkan dirinya kepada Islam berhukum dengan adat istiadat yang tidak pernah diajarkan Allah subhanahu wa ta’ala, seperti adatnya orang Badui dan perintah para pembesar. Mereka menganggap inilah yang sepatutnya untuk dijalankan bukan Al-Qur’an dan As-Sunnah, dan ini adalah kekufuran, karena kebanyakan manusia yang masuk Islam akan tetapi mereka tidak berhukum kecuali dengan adat istiadat yang berlaku, jika mereka sudah mengetahui bahwa tidak boleh berhukum kecuali dengan hukum Allah tapi tidak menjalankannya bahkan menghalalkan untuk berhukum dengan selainnya maka dia telah kafir kecuali kalau dia itu jahil. (Minhajus sunnah An-nabawiyah (5/130).)

4. Al-Hafidz Ibnu Katsir rahimahullahu berkata: “Barang siapa yang tidak berhukum dengan apa-apa yang diturunkan Allah maka mereka itu adalah orang-orang kafir”, karena mereka mengingkari hukum Allah dengan sengaja dan menentang. Allah juga berfirman disini: (maka mereka itu adalah orang-orang yang dzalim) karena mereka tidak berbuat adil terhadap orang yang didzalimi dari orang yang dzalim pada perkara yang Allah perintahkan mereka untuk berbuat adil diantara semuanya, tapi mereka menyelisihi dan berbuat dzalim serta melampaui batas. ( Tafsir Qur’anul Adzim (2/61).)

Semoga Allah menyelamatkan kita semua dari fitnah takfir dan pemikiran teroris anak cucu Khawarij. Dan semoga Allah memberikan kita taufik untuk berpegang teguh dengan ajaran salafush shaleh hingga akhir hayat kita nanti. Aamin

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: