Menyambut Ramadhan Dengan Saling Memaafkan

Ustadz Abu Ubaidah Yusuf as-Sidawi

Pertanyaan:

Assalamu’alaykum. Sudah menjadi tradisi di Indonesia, sebelum masuk bulan Romadhon banyak masyarakat yang bermaaf-maafan dengan dilandasi suatu riwayat yang dianggap hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bahwa pernah suatu ketika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam naik mimbar seraya mengucapkan “Amin” tiga kali. Setelah selesai khutbah para sahabat menanyakan tentang apa yang beliau aminkan tiga kali itu. Lantas Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, “Telah datang kepadaku Jibril seraya berdoa, ‘Ya Allah ‘Azza wa Jalla jangan Engkau terima puasa orang yang tidak minta maaf kepada kedua orang tuanya, Ya Allah ‘Azza wa Jalla, jangan Engkau terima puasa seorang istri yang tidak minta maaf kepada suaminya begitu juga sebaliknya, dan ya Allah ‘Azza wa Jalla janganlah Engkau terima puasa orang yang tidak minta maaf kepada saudaranya sesama muslim yang dia kenal.’” Maka do’a Jibril itulah yang diaminkan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Apakah benar riwayat seperti itu adalah hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam? Apakah haditsnya shohih? (Abu Hasan Indra-Sumbar) Baca pos ini lebih lanjut

Kemungkaran di Kuburan

Ustadz Ahmad Jamil bin Alim

Tidak diragukan lagi bahwa bid’ah, kemungkaran dan kesyirikan yang dilakukan oleh kaum muslimin di kuburan para wali semakin menjadi-jadi, padahal Rosululloh Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah memperingatkan umatnya dari bahaya mengagungkan kuburan orang-orang yang sholih, bahkan Alloh melaknat orang-orang yang menjadikan kuburan pada nabi dan para wali sebagai masjid. Namun ketika ilmu agama dilupakan, para da’i mengajak manusia menuju kebinasaan, aktif menyampaikan kebatilan, di sisi lain sedikitnya da’i penegak kebenaran, maka janganlah kita heran jika sesuatu yang dikhawatirkan oleh Rosululloh Shallallahu ‘alaihi wa sallam menjadi kenyataan di depan mata kita secara terang-terangan. Maka sebagai upaya ikut serta menyuarakan kebenaran dalam masalah ini, saya menulis ”Kemungkaran di kuburan” disertai dalil dan perkataan para ulama dan juga bantahan atas syubhat bolehnya sholat di masjid yang ada di kuburan berdalih dengan keberadaan kuburan Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam yang ada di dalam Masjid Nabawi, mudah-mudahan tulisan ini bermanfaat bagi kita semua. Amin. Baca pos ini lebih lanjut

Terbelakang Dengan Tumbal & Sesaji

Ustadz Ahmas Faiz Asifuddin

Mengajak orang berpikir maju temyata sulit. Sampai sekarang, di zaman super dan di era informasi super modern canggih, orang masih sulit meninggalkan kepercayaan tahayul. Masih banyak yang keberatan meninggalkan sesajian dan persembahan kepada jin atau yang dipercaya sebagai penguasa tempat tertentu. ­Dan itu bukan hanya dilakukan orang-orang kampung dari desa-desa tertinggal, tetapi juga dilakukan orang-orang yang berpendidikan tinggi

Ketika ada kasus berat yang sulit di atasi, mereka tidak mengembalikannya kepada Allah Ta’ala Pencipta segala kejadian, tetapi justru kepada apa yang diyakini sebagai kekuatan-kekuatan ghaib selain Allah Ta’ala. Padahal hampir semua lembaga pendidikan, mulai dari TK sampai perguruan tinggi, selalu menanamkan cara berpikir logis. Bahkan terkadang berlebihan hingga mengabaikan kepercayaan terhadap keberadaan berkah dan rahmat Allah yang oleh sebagian kaum pengagum logika, dianggap tidak logis. Ironisnya, mereka justru terjebak pada kepercayaan kepada hal-hal yang irasional dan jauh dari logis, misalnya tahayul, mistik serta hal-hal yang bertentangan dengan kemajuan. Orang-orang ‘pintar’ selalu ramai kebanjiran nasabah. Bahkan tempat-tempat sepi, kuburan-kuburan dan benda­-benda mati yang dikeramatkanpun tidak pernah sepi dari orang-orang yang ngalap berkah. Jangan ditanya lagi tentang tumbal dan sesaji, selalu saja orang takut kualat untuk tidak memenuhinya. Baca pos ini lebih lanjut

Tumbal Dan Sesajen, Tradisi Syirik Warisan Jahiliyah

Ustadz Abdullah Taslim. MA

Ritual mempersembahkan tumbal atau sesajen kepada makhuk halus/jin yang dianggap sebagai penunggu atau penguasa tempat keramat tertentu adalah kebiasaan syirik (menyekutukan Allah Ta’ala dengan makhluk) yang sudah berlangsung turun-temurun di masyarakat kita. Mereka meyakini makhluk halus tersebut punya kemampuan untuk memberikan kebaikan atau menimpakan malapetaka kepada siapa saja, sehingga dengan mempersembahkan tumbal atau sesajen tersebut mereka berharap dapat meredam kemarahan makhluk halus itu dan agar segala permohonan mereka dipenuhinya.

Kebiasan ini sudah ada sejak jaman Jahiliyah sebelum Allah Ta’ala mengutus Rasul-Nya Shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk menegakkan tauhid (peribadatan/penghambaan diri kepada Allah Ta’ala semata) dan memerangi syirik dalam segala bentuknya. Baca pos ini lebih lanjut

‘Mudik Lebaran’ dan Tradisi Yang Keliru

Ustadz Abu Ahmad Zaenal Abidin bin Syamsuddin. Lc

Wahai, manusia. Hiasilah hubungan dengan kerabatmu untuk mencari ridha Allâh Ta’ala. Dengan bersilaturahmi, keberkahan umur dan rizki akan di raih dan derajat mulia akan tercapai di sisi Allâh Ta’ala. Ketahuilah, silaturahmi dengan sanak kerabat dan famili merupakan salah satu bentuk ibadah kepada Allâh Ta’ala.

Dari Anas bin Malik radhiyallâhu’anhu, bahwa Rasûlullâh Shallallâhu ‘Alaihi Wasallam bersabda:
Barangsiapa yang ingin diluaskan rizkinya dan ditambah umurnya, maka hendaklah melakukan silaturrahmi. [1] Baca pos ini lebih lanjut

%d blogger menyukai ini: