Hadits Palsu Huru Hara Akhir Zaman Di Hari Jum’at Pertengahan Ramadhan

atsar-tabarruk-810x500Bismillah. Segala puji bagi Allah, Rabb semesta alam. Shalawat dan salam semoga senantiasa tercurahkan kepada Nabi kita, Muhammad bin Abdullah shallallahu alaihi wasallam, keluarganya, para sahabatnya, dan orang-orang yang senantiasa berpegang teguh dengan ajarannya hingga hari kiamat.

Akhir-akhir ini banyak sekali pertanyaan dari beberapa orang seputar derajat hadits huru-hara akhir zaman yang terjadi pada pertengahan bulan Ramadhan yang bertepatan dengan hari Jumat. Baca pos ini lebih lanjut

Iklan

Hadits Ahad Adalah Hujjah Dalam Fikih Maupun Akidah

IMG_6225Hadits ahad adalah hadits yang tidak mencapai level mutawatir. Walau demikian, hadits ahad jika shahih ia merupakan hujjah (dalil) baik dalam bab fikih maupun dalam bab akidah. Karena:

A. Wajib beramal dengan hadits ahad adalah ijma para ulama
Imam Asy Syafi’i rahimahullah berkata: “Aku tidak mengetahui adanya fuqaha kaum muslimin yang berselisih pendapat dalam menetapkan khabar ahad, sebagaimana yang baru saja saya jelaskan bahwa hadits-hadits ahad ada pada mereka semua” (Ar Risalah, 457-458). Al Khatib Al Baghdadi berkata: “Beramal dengan hadits Ahad adalah pendapat semua ulama tabi’in dan setelah mereka, yaitu para ulama-ulama di semua zaman sampai zaman kita ini (zamannya Al Khatib, -pent). Dan saya tidak mengetahui adanya seorang di antara mereka yang mengingkarinya atau menolaknya” (Al Kifayah, 48). Baca pos ini lebih lanjut

Manhaf Salaf Dalam Aqidah

Oleh Syaikh ‘Abdussalam bin Salim As Suhaimi

Manhaj generasi Salafus Shalih dalam masalah aqidah secara ringkas adalah sebagai berikut:

Membatasi sumber rujukan dalam masalah aqidah hanya pada Al Qur’an dan Sunnah Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam serta memahaminya dengan pemahaman Salafus Shalih
Berhujjah dengan hadits-hadits shahih dalam masalah aqidah, baik hadits-hadits tersebut mutawatir maupun ahad.
Tunduk kepada wahyu serta tidak mempertentangkannya dengan akal. Juga tidak panjang lebar dalam membahas perkara gaib yang tidak dapat dijangkau oleh akal.
Tidak menceburkan diri dalam ilmu kalam dan filsafat
Menolak ta’wil yang batil
Menggabungkan seluruh nash yang ada dalam membahas suatu permasalahan [1] Baca pos ini lebih lanjut

Hukum Memakai Obat Penumbuh Jenggot

Suatu hal yang tergolong fitrah manusia merupakan suatu hal yang baik dan bagus. Wajah laki-laki dengan jenggot adalah fitrah laki-laki sebagaimana dalam hadits.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

عَشْرٌ مِنْ الْفِطْرَةِ قَصُّ الشَّارِبِ وَإِعْفَاءُ اللِّحْيَةِ وَالسِّوَاكُ وَاسْتِنْشَاقُ الْمَاءِ وَقَصُّ الْأَظْفَارِ

“Sepuluh perkara yang termasuk fithrah: Memotong kumis,memelihara jenggot, bersiwak, memasukkan air ke dalam hidung, memotong kuku.”[1] Baca pos ini lebih lanjut

Hukum Salam-Salaman Setelah Shalat

Sebagian kaum Muslimin setelah selesai shalat melakukan ritual salam-salaman antara sesama jama’ah shalat. Bahkan dengan tata cara khusus yang berbeda-beda di masing-masing daerah. Bagaimana hukum melakukan perbuatan ini?

Perkara Ibadah Butuh Dalil

Sebelum membahas lebih lanjut, perlu dipahami bahwa dalam menetapkan suatu ibadah atau suatu tata cara dalam beribadah, butuh landasan hukum yang valid berupa dalil yang shahih. Baik ibadah yang berupa perkataan maupun perbuatan, harus dilandasi oleh nash dari Allah ataupun dari Rasulullah yang termaktub dalam Al Qur’an dan As Sunnah. Adapun sekedar perkataan seseorang “ini adalah ibadah” atau “ini baik dan bagus” ini bukan landasan.  Baca pos ini lebih lanjut

Adzan Shubuh

Anas Burhanuddin MA

Pertanyaan.

Redaktur majalah As-sunnah, kami mohon keterangan tentang adzân Shubuh, apakah ada adzan awal (pertama) dan apakah ada kalimat asshalâtu khairum minan naumJazâkallâh khairan

Jawaban.

Pada dasarnya, setiap waktu shalat memiliki satu adzân. Namun khusus waktu shalat Shubuh, Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam mencontohkan dikumandangkannya dua adzan. Dasarnya adalah hadit berikut ini : Baca pos ini lebih lanjut

Kisah Mereka Yang Tidak Dilalaikan Dengan Urusan Dunia

Abdullah bin Taslim

Muhammad bin Sirin rahimahullah [1] adalah imam Ahlus sunnah yang sangat terkenal dalam berpegang teguh dengan sunnah Rasulullah shallallahu ‘alahi wa sallam dan sangat terpercaya dalam meriwayatkannya. Akan tetapi tahukah Anda bahwa beliau juga disifati oleh para ulama di jamannya sebagai orang yang sangat wara’ (hati-hati dalam masalah halal dan haram) dan tekun dalam beribadah.

Imam adz-Dzahabi rahimahullah menukil dari Abu ‘Awanah Al-Yasykuri, beliau berkata, “Aku melihat Muhammad bin sirin di pasar, tidaklah seorangpun melihat beliau kecuali orang itu akan mengingat Allah[2].” Baca pos ini lebih lanjut

%d blogger menyukai ini: