Pendapat Imam Dan Khatib Masjid Nabawi Dan Juga Hakim Mahkamah Tinggi Syari’at Di Madinah

Oleh
Syaikh Hussain bin Abdul-Aziiz Aalu asy-Syaikh

Pertanyaan.
Syaikh Hussain bin Abdul-Aziiz Aalu asy-Syaikh (Imaam dan Khathib Masjid Nabawi, Madinah, dan juga Hakim Mahkamah Tinggi Syari’ah di Madinah) ditanya pada tanggal 5 Rabi’ul-Awwal 1422 H, selama konferensi QSS (Quran Sunnah Society) yang diadakan di Chicago, Illinois, dengan pertanyaan berikut: “Fadhilatusy-Syaikh – semoga Allaah memberikan balasan kepada Anda –apa pandangan Anda mengenai fatwa yang dikeluarkan oleh Al-Lajnah Ad-Daaimah berkenaan dengan dua kitab yang ditulis oleh Syaikh Ali [Hasan al-Halabi], “at-Tahdziir” dan “Shaihatu Nadziir”, di mana keduanya menyerukan kepada madzhab Al-Irja’ yang mana perbuatan itu bukanlah termasuk kesempurnaan iman, sementara mengingat kembali bahwa kitab ini bahkan tidak memuat pembahasan mengenai persoalan akan syarat sahnya atau syarat sempurnanya iman? Juga sudahkah Al-Lajnah membaca kitab-kitab Syaikh Ali tersebut atau cukupkah dengan pandangan atau penyelidikan orang lain? Jazaakumullahu khairan.

Jawaban
Pertama-tama, wahai saudaraku! Syaikh Ali dan Syaikh-syaikh yang lain (dari Al-Lajnah) adalah dalam kesatuan dan kesesuaian. Dan Syaikh Ali adalah ikhwah senior dan dituakan, dari kebanyakan Masyaayikh, yang telah mengeluarkan putusan tersebut. Dan beliau mengenal mereka dan mereka pun mengenal beliau, dan mereka saling mencintai. Dan Syaikh Ali sungguh telah diberikan – Alhamdulillah – ilmu dan bashiirah yang memungkinkan beliau benar-benar menghadapi masalah yang terjadi antara beliau dengan Masyayaikh ini dengan berlandaskan ilmu, dan kebenaran akan hal ini sedang dijernihkan.

Mengenai Syaikh Ali dan guru beliau, Syaikh al-Albaani – semoga Allah memberikah rahmat kepadanya dengan rahmat yang luas, maka mereka adalah orang-orang yang berada di atas manhaj As-Sunnah dan tidak ada keraguan mengenai mereka, bahwa mereka berada di atas manhaj yang sesuai dan menyenangkan, Alhamdulillah.

Dan Syaikh Ali merupakan di antara orang-orang yang membela manhaj Ahlus-Sunnah wal-Jamaaah – Alhamdulillah. Fatwa tersebut (dari Lajnah Daaimah)tidaklah menyatakan bahwa Syaikh (Ali) adalah seorang Murji (penganut faham Murjiah) – Allaah melarang untuk menyatakan seperti itu. Lebih dari itu, fatwa tersebut membantah Syaikh Ali berkenaan denganapa yang ada di dalam kitab(Syaikh Ali), dan juga menggugatnya berkaitan dengan hal ini.

Dan banyak orang yang berharap akan memperoleh hasil dari gugatan fatwa ini yakni vonis/keputusan atas Syaikh Ali bahwa beliau adalah seorang Murji. Selama ini saya belum memahami akan hal ini dan saya juga berfikir bahwa saudara-saudara saya (para Masyayaikh) tidak memahami hal ini (harapan orang akan putusan tersebut). Dan ini (yakni fatwa ini) tidak merubah apa yang ada di antara Syaikh Ali dan para Masyayaikh tersebut (yakni saling mencintai dan menghormati). Karena mereka (para Masyaayaikh Al-Lajnah Ad-Daaimah) menghormati dan memuliakan beliau (Syaikh Ali).

Dan Syaikh Ali telah menulis jawaban ilmiah terhadap mereka “al- Ajwibat al-Mutalaaimah `alaa Fatwaa al-Lajnah ad-Daaimah”, yang sesuai dengan apa yang Salaf Hadzihil Ummah (Pendahulu Umat Ini) berada di atasnya, yang mana tidak ada seorangpun di antara kita kecuali bahwa ia seorang yang mengambil atau memberikan (ucapan) dan setiap orang dapat diambil atau ditinggalkan ucapannya, kecuali penghuni kubur ini, yakni Rasulullah (Shallallaahu alaihi wa sallam) – sebagaimana telah dikatakan oleh Asy-Syafi’i atau Imaam Maalik:

“Segala perkataan dapat diambil dan dapat ditolak, kecuali apa yang datang dari Rasulullah”

Dan saya menganggap bahwa Syaikh Ali akan setuju denganku bahwa Lajnah (Daimah) tidak mengatakan – sebagaimana yang sering dinyatakan mengenainya (yakni Syaikh Ali) bahwa Syaikh Ali adalah seorang Murji’ (penganut faham Murjiah)! Tidak sama sekali. Mereka (Lajnah Daimah) tidaklah mengatakan hal ini. Mereka hanya menggugat apa yang ada di dalam buku tersebut! Dan untuk apakah jenis penggugatan di antara para Salaf ini, tidak lain untuk kecintaan akan ilmu As-Sunnah dan untuk menjaganya. Lebih lagi, perselisihan ini hanya mengenai sebagian kecil dari buku tersebut.

Samahatusy-Syaikh Abdul-Aziiz Aalu asy-Syaikh adalah di antara orang- rang yang mencintai Syaikh Ali – dan saya mengetahuinya – dan beliau menghormatinya dan juga berdo’a baginya, dan bahkan setelah Syaikh Ali bertemu dengan Samahatusy-Syaikh.

Apabila orang menerima fatwa ini dan kemudian bergembira dengannya –karena sesuai dengan mereka – dan mereka tidak menerima apa yang idak bersesuaian dengan mereka, maka ini adalah cara Ahlul-Bid’ah.

(Disalin dari tanya jawab dalam konferensi QSS (Quran Sunnah Society) pada tanggal 5 Rabi’ul-Awwal 1422 H, yang diadakan di Chicago, Illinois, diterjemahkan dari bahasa inggris ke bahasa Indonesia oleh her_tris@yahoo.com) Almanhaj

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: