Jangan Merasa Paling Benar !!

IMG_8355Ustadz Abu Yahya Badrusalam Lc

Banyak orang ketika anda tegur kesalahan yang ia lakukan berkilah dengan mengatakan :
“Sudahlah, jangan merasa benar sendiri!”

Sehingga menjadi pertanyaan pada benak kita; apakah perkataan tersebut berasal dari wahyu ataukah hanya sebatas kilah yang tak beralasan pada dalil yang menunjukkan kepada kebingungan? Tentunya hal itu harus kita cermati secara seksama dengan hati yang dingin apakah ada ayat (al-Qur-an) atau hadits Nabi ﷺ atau pendapat para ‘ulamaa yang mengatakan dengan perkataan tersebut.

Lihat dan renungkan QS. An-Nisaa [4] : 59.

Allah سبحانه و تعالىٰ berfirman :

فإن تنازعتم في شيء فردوه إلى الله والرسول إن كنتم تؤمنون بالله واليوم الآخر

“Maka jika kamu berbeda pendapat tentang suatu perkara, maka kembalikanlah kepada Allah dan Rasul (Muhammad), jika kamu beriman kepada Allah dan hari kemudian (Kiamat).”
(QS. An-Nisaa [4] : 59)

Ayat ini dengan tegas mengatakan bahwa setiap perselisihan (perbedaan) wajib dikembalikan kepada Allah dan Rasul-Nya, Allah سبحانه و تعالىٰ tidak mengatakan; jika kamu berselisih janganlah kamu merasa benar sendiri, atau kembalikan pada pendapat masing-masing. Akan tetapi Allah سبحانه و تعالىٰ menyuruh (memerintahkan) kita untuk mengembalikannya kepada al-Qur-an dan As-Sunnah, ini menunjukkan bahwa yang benar hanyalah yang berdasarkan al-Qur-an dan As-Sunnah.

Para Shahabat Nabi ﷺ senantiasa menyalahkan orang-orang yang mereka pandang salah dan tidak pernah di antara mereka yang mengatakan :

“Jangan merasa benar sendiri!”

Seperti dalam suatu kisah yang diriwayatkan oleh Imam ad-Darimi رحمه الله تعالىٰ dalam Sunan-nya bahwa ‘Abdullah bin Mas’ud رضي الله تعالىٰ عنه mendatangi suatu kaum yang berdzikir berjama’ah dengan memakai kerikil dan berkata,
“Celaka kamu hai umat Muhammad betapa cepatnya kebinasaan kalian… apakah kamu merasa di atas millah (agama) yang lebih baik dari millah Muhammad ataukah kamu hendak membuka pintu kesesatan?!”

Kemudian mereka berkata, “Sesungguhnya kami menginginkan kebaikan.”

Beliau رضي الله تعالىٰ عنه berkata,
“Berapa banyak orang yang menginginkan kebaikan tapi ia tidak mendapatkannya (karena caranya salah).”
(Diriwayatkan oleh ad-Darimi, no. 204, Silsilah al-Ahaadiits ash-Shahiihah, no. 2005)

Dalam kisah tersebut tidak dikatakan: jangan kamu merasa benar sendiri.

Demikian pula para Tabi’in, disebutkan dalam kisah yang diriwayatkan oleh al-Baihaqi dalam Sunan-nya, ‘Abdurrazzaq dalam al-Mushanaf, ad-Darimi dan Ibnu Nashr bahwa Sa’id bin Musayyib رحمه الله تعالىٰ melihat seorang laki-laki shalat setelah terbit fajar lebih dari dua raka’at, lalu Sa’id bin Musayyib رحمه الله تعالىٰ melarangnya, kemudian orang itu berkata,
“Wahai Abu Muhammad (kunyah Sa’id bin Musayyib), apakah Allah akan mengadzab saya gara-gara shalat?”
Beliau رحمه الله تعالىٰ menjawab,
“Tidak, tapi Allah عز وجل akan mengadzabmu karena kamu menyalahi Sunnah.”
(Diriwayatkan oleh al-Baihaqi dalam Sunan-nya, II/466, ‘Abdurrazzaq dalam al-Mushannaf, III/52)

Tidak pula dikatakan padanya :
“Jangan merasa benar sendiri.”
Demikian pula Tabi’ut Tabi’in dan para ‘ulamaa setelahnya. Senantiasa mereka membantah pendapat yang mereka pandang lemah atau salah tapi tidak ada satupun dari mereka yang mengatakan: jangan merasa benar sendiri.

Disebutkan dalam kisah bahwa Imam Asy-Syafi’iy mendebat Imam Ahmad bin Hanbal رحمهما الله تعالىٰ dalam masalah hukum orang meninggalkan shalat, dimana Imam Ahmad رحمه الله تعالىٰ berpendapat bahwa orang yang meninggalkan shalat kafir murtad dari agama Islam, sedangkan Imam Asy-Syafi’iy رحمه الله تعالىٰ tidak mengkafirkannya, tapi Imam Asy-Syafi’iy atau Imam Ahmad رحمهما الله تعالىٰ tidak pernah mengatakan :

“Jangan merasa benar sendiri!”

Tapi yang dikatakan Imam Asy-Syafi’iy رحمه الله تعالىٰ adalah :
“Tidaklah aku berdialog dengan seorang pun kecuali aku berkata : ‘Ya Allah, alirkanlah kebenaran pada lisan dan hatinya, jika kebenaran itu bersamaku, ia mau mengikutiku dan kebenaran itu ada padanya, aku akan mengikutinya.'”
(Lihat Ilmu Ushul Bidaa’, hal. 179)

Mereka juga menulis kitab-kitab bantahan terhadap bid’ah dan kesesatan, Imam Ahmad رحمه الله تعالىٰ menulis kitab Ar-Radd ‘alal Jahmiyyah (bantahan terhadap Jahmiyyah), Abu Dawud رحمه الله تعالىٰ punya kitab Ar-Radd ‘alal Qodariyyah (bantahan terhadap Qodariyyah), Ad-Darimi رحمه الله تعالىٰ menulis kitab ar-Raddu ‘Utsman ad-Darimi ‘ala Bisyir Al-Marisi adl Dlaall (bantahan ‘Utsman ad-Darimi terhadap Bisyir Al-Marisi yang sesat), dan banyak lagi kitab-kitab bantahan lainnya. Tidak ada satupun di antara mereka yang berkata: jangan merasa benar sendiri. Cobalah anda renungkan perkataan Syaikhul Islam Abu Ismail ‘Abdullah bin Muhammad Al-Harawi رحمه الله تعالىٰ :
“Pedang dihadapkan kepadaku sebanyak lima kali bukan untuk menyuruhku agar keluar dari keyakinanku, akan tetapi dikatakan kepadaku : ‘Diamlah dari orang yang menyelisihimu!! Aku tetap menjawab: aku tidak akan pernah diam….'”
(Siyar A’lam an-Nubalaa, XVIII/509)

Merasa benar adalah fitrah manusia, buktinya jika engkau bertanya kepada orang yang mengatakan “jangan merasa benar sendiri” apakah anda merasa benar dengan perkataan tersebut?

Tentu ia berkata,
“Ya.”

Dia sendiri merasa benar sendiri dengan pendapat tersebut lalu ia melarang orang lain merasa benar sendiri, jelas ini kontradiktif yang fatal.

Di dunia ini, tidak ada orang yang merasa paling sesat. Fir’aun saja berasa dirinya benar.

Baca dan renungkan surat Ghafir [40] ayat 29.

Allah سبحانه و تعالىٰ berfirman :
“Fir’aun berkata : ‘Aku tidak mengemukakan kepadamu, melainkan apa yang aku pandang baik; dan aku tiada menunjukkan kepadamu selain jalan yang benar.”
(QS. Ghafir [40] : 29)

Jadi merasa benar dengan pendapat yang jelas dalilnya lebih-lebih bila didukung oleh ijma’ ‘ulamaa adalah sebuah keharusan sedangkan merasa benar dengan kesesatan adalah kesalahan. Adapun dalam perkara ijtihadi yang tidak ada dalilnya yang gamblang maka kita ikuti yang paling kuat dalilnya tanpa menyesatkan yang lainnya.

Wallahu A’lam.

Oleh al-Fadhil al-Ustadz Abu Yahya Badrusalam, Lc حفظه الله تعالىٰ
___

Iklan

One Response to Jangan Merasa Paling Benar !!

  1. Sutejo Angtum says:

    Syukron pencerahanya ya akhi barakallahufiik

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: