Hadits Lemah Tentang Larangan Tidur Setelah Shalat Ashar

tidur-siangUstadz Abdullah Taslim MA

رُوِيَ عَنْ عَائِشَةَ رضي الله عنه أَنّ النَّبِيَّ ﷺ قَالَ: « مَنْ نَامَ بَعْدَ الْعَصْرِ، فَاخْتُلِسَ عَقْلُهُ ، فَلا يَلُومَنَّ إِلا نَفْسَهُ »

Diriwayatkan dari ‘Aisyah رضي الله عنه bahwa Rasulullah ﷺ bersabda: “Barangsiapa yang tidur setelah shalat Ashar lalu akalnya hilang, maka janganlah dia mencela (menyalahkan) kecuali dirinya sendiri”.

Hadits ini dikeluarkan oleh Imam Ibnu Hibban dalam kitab “al-Majruuhiin” (1/283) dan Ibnul Jauzi dalam kitab “al-Maudhuu’aat” (3/68-69), dari jalur Khalid bin al-Qasim, dari al-Laits bin Sa’ad, dari ‘Uqail bin Khalid, dari az-Zuhri, dari ‘Urwah bin az-Zubair, dari ‘Aisyah رضي الله عنه, dari Rasulullah ﷺ.

Dalam sanad hadits ini ada rawi yang bernama Khalid bin al-Qasim, Imam Ishaq bin Rahuyah berkata tentangnya: “Khalid bin al-Qasim adalah pendusta”. Imam Ibnu Hibban berkata: “Tidak halal menulis hadits (yang diriwayatkan)nya”[1].

Akan tetapi hadits ini dihukumi sebagai hadits lemah dan bukan hadits palsu, karena sumbernya dari ‘Abdullah bin Lahi’ah, rawi yang lemah karena buruk dan tercampurnya hafalannya[2].

Imam Ibnul Jauzi berkata: “Hadits ini (sebenarnya) berasal dari hadist (riwayat) Ibnu Lahi’ah, lalu Khalid bin al-Qasim mengambilnya (mencurinya) dan menisbatkannya kepada al-Laits bin Sa’ad”[3].

Kemudian Imam Ibnul Jauzi menukil pernyataan Imam al-Laits bin Sa’ad sendiri yang menunjukkan bahwa beliau tidak pernah meriwayatkan hadits ini dari Ibnu Lahi’ah.

Ibnu Lahi’ah sendiri sangat guncang (tidak tetap) dalam meriwayatkan hadits ini, terkadang dia meriwayatkannya dari jalur ‘Amr bin Syu’aib, dari bapaknya, dari kakeknya, dari Rasulullah ﷺ. Terkadang dari ‘Uqail bin Khalid, dari Ibnu Syhab az-Zuhri, dari Anas bin Malik, dari Rasulullah ﷺ. Dan terkadang dari jalur ‘Uqail, dari Makhul, dari Rasulullah ﷺ secara mursal[4].

Maka hadits ini adalah hadits yang lemah, karena semua jalurnya bertemu pada ‘Abdullah bin Lahi’ah, rawi yang buruk dan tercampur hafalannya.

Hadits ini dinyatakan sebagai hadits yang tidak shahih oleh Imam Ibnul Jauzi, bahkan beliau mencantumkannya dalam kitab yang memuat hadits-hadits yang beliau anggap palsu[5]. Demikian pula Imam asy-Syaukani dalam kitab beliau “al-Fawaa-idul majmuu’ah” (hlmn 216).

Hadits ini juga dinyatakan sebagai hadits lemah oleh Syaikh Muhammad Nashiruddin al-Albani[6].

Hadits ini juga diriwayatkan dari jalur lain, dari ‘Aisyah رضي الله عنه, dari Rasulullah ﷺ. dikeluarkan oleh Imam Abu Ya’la dalam kitab “al-Musnad” (8/316). Akan tetapi hadits ini sangat lemah, dalam sanadnya ada rawi yang bernama ‘Amr bin al-Hushain, Imam Ibnu Hajar berkata: “Dia ditinggalkan (riwayat haditsnya karena kelemahannya yang fatal)”[7].

Imam al-Haitsami mengisyaratkan kelemahan hadits ini yang parah karena rawi tersebut[8].

Hadits yang sama juga diriwayatkan dari ‘Abdullah bin ‘Abbas رضي الله عنه, dari Rasulullah ﷺ. Akan tetapi hadits ini juga sangat lemah bahkan palsu, karena dalam sanadnya ada rawi yang bernama ‘Umar bin Subh, dia adalah seorang pendusta[9].

Kelemahan hadits ini tentu saja membuatnya sama sekali tidak bisa dijadikan sebagai sandaran untuk melarang orang yang tidur setelah shalat Ashar, karena hukum asalnya dalam hal ini adalah mubah (boleh) dan tidak ada hadits shahih yang melarangnya. Terlebih lagi jika hal tersebut dilakukan karena adanya kebutuhan, seperti sakit yang membutuhkan istirahat, keletihan disebabkan banyaknya kegiatan sampai sore, dan alasan-alasan lainnya[10].

وصلى الله وسلم وبارك على نبينا محمد وآله وصحبه أجمعين، وآخر دعوانا أن الحمد لله رب العالمين

Kota Kendari, 12 Dzulqa’dah 1437 H

Abdullah bin Taslim al-Buthoni

[1] Semua dinukil oleh Imam Ibnul Jauzi dalam kitab “al-Maudhuu’aat” (3/69).

[2] Lihat kitab “Taqriibut tahdziib” (hlmn 319) dan “Silsilatul ahaadiitsidh dha’iifah wal maudhuu’ah” (1/112).

[3] Kitab “al-Maudhuu’aat” (3/69).

[4] Dikeluarkan oleh Imam Ibnu ‘Adi (4/145 dan 4/146) dan as-Sahmi dalam “Tarikh Jurjan” (hlmn 93).

[5] Kitab “al-Maudhuu’aat” (3/69).

[6] Dalam kitab “Silsilatul aha-diitsidh dha’iifati wal maudhuu’ah” (1/112, no. 39).

[7] Kitab “Taqriibut tahdziib” (hlmn 420).

[8] Dalam kitab “Majma’uz zawaa-id” (5/199).

[9] Lihat penjelasan Imam Ibnu Hajar tentang hadits ini dalam “Talkhiishul habiir” (1/21).

[10] Lihat kitab “Silsilatul ahaadiitsidh dha’iifah wal maudhuu’ah” (1/113).

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: