Hadits Lemah Tentang Pensyaratan Jumlah Jama’ah Shalat Jum’at 40 Orang

58823793-bda5-4660-9181-4f3066afc458-1271-00000155a048702a_tmpUstadz Abdullah Taslim MA

عَنْ جَابِرٍ بْنِ عَبْدِ اللهِ قَالَ: « مَضَتِ السُّنَّةُ أَنَّ فِى كُلِّ ثَلاَثَةٍ إِمَامًا، وَفِي كُلِّ أَرْبَعِينَ فَمَا فَوْقَ ذَلِكَ جُمُعَةٌ وَفِطْرٌ وَأَضْحًى، وَذَلِكَ أَنَّهُمْ جَمَاعَةٌ »

Dari Jabir bin ‘Abdillah radhiyallahu ‘anhu beliau berkata: “Sunnah (amal yang sesuai dengan petunjuk Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam) yang telah dilakukan (sejak dulu) bahwa pada setiap tiga orang maka ada (seorang) yang dijadikan sebagai imam dan pada setiap empat puluh orang atau lebih dari itu maka (boleh mendirikan) shalat Jum’at, Idul fithri dan Idul adha, karena mereka adalah jama’ah”.

Hadits ini dikeluarkan oleh Imam ad-Daraquthni rahimahullah dalam “as-Sunan” (2/3) dan al-Baihaqi dalam “as-Sunan al-kubra” (3/177) dari jalur ‘Abdul ‘Aziz bin ‘Abdir Rahman al-Qurasyi, dari Khushaif, dari ‘Atha’ bin Abi Rabah, dari Jabir bin ‘Abdillah radhiyallahu ‘anhu.

Hadits ini adalah hadits yang lemah atau bahkan sangat lemah, karena dalam sanadnya ada rawi yang bernama ‘Abdul ‘Aziz bin ‘Abdir Rahman al-Qurasyi, dia dinyatakan sebagai rawi yang lemah riwayatnya oleh Imam al-Baihaqi dalam kitab beliau yang tersebut di atas. Bahkan Imam Ahmad berkata tentrang rawi ini: “Hapuslah hadits (yang diriwayatkan)nya karena itu dusta atau palsu”. Imam ad-Daraquthni berkata: “Hadits (yang diriwayatkan)nya mungkar (diingkari karena sangat lemah)”[1].

Imam al-Baihaqi rahimahullah sendiri melemahkan hadits ini setelah membawakannya. Hadist ini juga diisyaratkan kelemahannya oleh Imam Ibnul Jauzi, az-Zaila’i dan al-Hafizh Ibnu Hajar al-‘Asqalani[2].

Hadist ini dihukumi sebagai hadits yang sangat lemah oleh Syaikh al-Albani rahimahullah [3].

Syaikh Muhammad bin Shalih al-‘Utsaimin rahimahullah berkata: “Hadits ini adalah hadits yang lemah dan tidak boleh dijadikan sebagai dalil (argumentasi)”[4].

Ada beberapa riwayat lain yang semakna dengan riwayat di atas, dari Abu ad-Darda’ dan Abu Umamah radhiyallahu ‘anhu, akan tetapi semua itu tidak ada asal-usulnya, sebagaimana yang dijelaskan oleh Imam Ibnu Hajar rahimahullah [5].

Imam ‘Abdul Haq rahimahullah berkata: “Tidak ada satu haditspun yang shahih tentang jumlah (orang dalam shalat Jum’at)”. Syaikh ‘Abdullah al-Bassam berkata: “Dalam pembahasan ini ada beberapa hadits yang tidak ada asal-usulnya”[6].

Ada riwayat lain yang menyebutkan jumlah lima puluh orang, dari Abu Umamah radhiyallahu ‘anhu, akan tetapi riwayat ini juga sangat lemah, karena dalam sanadnya ada rawi yang ditinggalkan riwayatnya (karena kelemahannya yang fatal) dan rawi yang lemah[7].

Demikian pula beberapa riwayat lain yang dijadikan dalil untuk menetapkan jumlah empat puluh orang sebagai syarat kebolehan mendirikan shalat Juma’at, akan tetapi semua riwayat itu tidak menunjukkan makna tersebut. Misalnya riwayat Ibnu Mas’ud yangdikeluarkan oleh Imam al-Baihaqi (3/180). Imam Ibnu Hajar berkata: “Riwayat ini tidak berkaitan dengan shalat Jum’at”[8].

Juga riwayat Ka’ab bin Malik radhiyallahu ‘anhu yang dinyatakan hasan derajatnya oleh Imam Ibnu Hajar dan Syaikh al-Albani, akan tetapi riwayat ini tidaklah menunjukkan pensyaratan jumlah tersebut dan hanya kebetulan jumlah tersebut yang ada pada waktu itu, sebagaimana yang dijelaskan oleh Imam asy-Syaukani dan Syaikh al-Albani[9].

Kesimpulannya, tidak ada satupun hadits shahih yang menyebutkan jumlah empat puluh orang sebagai syarat untuk mendirikan shalat Jum’at, demikian juga jumlah yang lebih atau kurang dari itu[10].

Cukuplah hadits shahih berikut yang sebagai bantahan terhadap pendapat yang bersandar kepada hadits lemah di atas. Dari Jabir bin ‘Abdillah radhiyallahu ‘anhu bahwa suatu ketika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sedang berdiri menyampaikan khutbah di hari Jum’at, lalu datanglah kafilah dagang (yang membawa makanan) dari Syam, maka orang-orang (yang berada di Masjid) segera keluar menuju ke kafilah dagang tersebut, sehingga tidak tersisa (jama’ah yang shalat di Masjid) kecuali dua belas orang[11].

Hadits ini menunjukkan bahwa jumlah yang kurang dari empat puluh orang tetaplah boleh mendirikan shalat Jum’at.

Sebagimana hadits ini juga tidak bisa dijadikan sebagai argumentasi untuk menetapkan jumlah minimal pelaksanaan shalat Jum’at adalah dua belas orang, sebagimana pendapat dari sebagian para ulama, karena kejadian yang disebutkan dalam hadits tersebut hanya kejadian tertentu dan jumlah dus belas orang tersebut hanyalah bersifat kebetulan, sehingga tidak bisa dijadikan sebagai dalil untuk menetapkan jumlah tersebut[12].

Pendapat yang benar dan kuat dalam masalah ini adalah bahwa shalat Jum’at bisa didirikan dengan tiga orang muslim yang muqim (tidak sedang safar), seorang yang menjadi khatib (penyampai khutbah) dan dua orang yang mendengarkan. Pendapat ini yang dinyatakan oleh Imam Ahmad dan Abu Yususf, serta inilah yang dipilih oleh para ulama ahli tahqiq (yang terkenal dengan ketelitian dalam berpendapat), seperti Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah dan Imam Ibnul Qayyim. Ini juga yang dikuatkan oleh Syaikh Muhammad bin Shaleh al-‘Utsaimin dan Syaikh ‘Abdullah al-Bassam[13].

Dalil-dalil yang dijadikan sandaran pendapat ini di antaranya adalah:

– Dari Abu Sa’id al-Khudri radhiyallahu ‘anhu bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Kalau mereka berjumlah tiga orang maka salah seorang dari mereka menjadi imam (dalam shalat) bagi mereka dan yang paling berhak menjadi imam di antara mereka adalah yang paling baik dalam membaca (al-Qur’an)”[14].

– Dari Abu ad-Darda’ radhiyallahu ‘anhu bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Tidaklah tiga orang (muslim yang menetap) di suatu desa atau perkampungan lalu mereka tidak mendirikan shalat (berjama’ah/ Jum’at) kecuali Syaithan akan menguasai mereka”[15].

وصلى الله وسلم وبارك على نبينا محمد وآله وصحبه أجمعين، وآخر دعوانا أن الحمد لله رب العالمين

Kota Kendari, 7 Shafar 1438 H

Abdullah bin Taslim al-Buthoni

[1] Semua dinukil oleh Imam Ibnu Hajar dalam “Talkhiishul habiir” (2/55).

[2] Lihat kitab “at-Tahqiiq fi ahaa-diitsil khilaaf” (1/500), “Nashbur raayah” (2/136) dan “Talkhiishul habiir” (2/55).

[3] Dalam kitab “Irwa-ul galiil” (3/69).

[4] Kitab “Fathu Dzil jalaali wal ikraam bi syarhi buluugil maraam” (2/364).

[5] Lihat kitab “Taudhiihul ahkaam” (2/611).

[6] Dalam kitab “Talkhiishul habiir” (2/56).

[7] Lihat kitab “Talkhiishul habiir” (2/56).

[8] Kitab “Talkhiishul habiir” (2/56).

[9] Lihat kitab “Irwaa-ul galiil” (3/70).

[10] Lihat kitab “Irwa-ul galiil” (3/69).

[11] HSR Muslim (no. 863).

[12] Lihat kitab “Taudhiihul ahkaam” (2/612).

[13] Lihat kitab “Taudhiihul ahkaam” (2/612-613) dan Fathu Dzil jalaali wal ikraam bi syarhi buluugil maraam” (2/364).

[14] HSR Muslim (no. 672).

[15] HR Abu Dawud (no. 547), an-Nasa-i (2/106) dan Ahmad (5/196), dinyatakan hasan oleh Syaikh al-Albani.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: