Bolehkah Orang Yang Sedang Junub Atau Haidh Berdiam Di Masjid ?

Bolehkah Orang Yang Sedang Junub Atau Haidh Berdiam Di MasjidUstadz Abdullah bin Taslim MA

Masalah ini diperselisihkan oleh para ulama Ahlus sunnah sejak dulu sampai sekarang, karena perbedaan pendapat mereka dalam menilai dan memahami dalil-dalil dalam masalah ini.
Tentu saja, sebagai seorang muslim, kita wajib mengembalikan semua perselisihan dalam urusan agama kita kepada petunjuk Allah Ta’ala dan Rasul-Nya Shallalahu ‘alaihi wa Sallam. Allah Ta’ala berfirman:
{فَإِنْ تَنَازَعْتُمْ فِي شَيْءٍ فَرُدُّوهُ إِلَى اللَّهِ وَالرَّسُولِ إِنْ كُنْتُمْ تُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الآخِرِ ذَلِكَ خَيْرٌ وَأَحْسَنُ تَأْوِيلا}

“Kemudian jika kamu berselisih pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah kepada Allah (al-Quran) dan Rasul (sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu adalah lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya” (QS an-Nisaa’: 59).
Dan juga tentu saja, kita kembali kepada petunjuk Allah Ta’ala dan Rasul-Nya Shallallahu ‘alaihi wa Sallam tetap dengan bimbingan para ulama Ahlus sunnah wal jama’ah, karena mereka merupakan perantara untuk memahami hukum Allah Ta’ala dan Rasul-Nya.

Maka kita mengambil dan mengikuti ucapan mereka yang sesuai dan didukung dengan dalil dari al-Qur’an dan sunnah Rasulullah Shallalahu ‘alaihi wa Sallam. Adapun yang tidak sesuai dengan dalil, maka kita tinggalkan dan luruskan dengan cara yang baik, juga dengan bimbingan para ulama yang lain.

Semoga Allah Ta’ala merahmati Imam Malik bin Anas yang berkata: “Tidak ada seorangpun sepeninggal Nabi Muhammad Shallalahu ‘alaihi wa Sallam kecuali bisa diambil ucapannya (jika sesuai dengan dalil) dan bisa ditinggalkan (jika tidak sesuai dengan dalil), kecuali Nabi Muhammad Shallalahu ‘alaihi wa Sallam (yang diambil semua ucapannya)” (Dinukil dan dibenarkan penisbatannya kepada Imam Malik oleh Imam Ibnu ‘Abdil Hadi dan Syaikh al-Albani. Lihat: “Shifatu shalaatin Nabiy Shallallahu ‘alaihi wa Sallam” hlmn. 49)

Juga Imam asy-Syafi’i rahimahullah yang berkata: “Telah bersepakat semua kaum muslimin bahwa barangsiapa yang telah jelas baginya satu sunnah (petunjuk) dari Rasulullah Shallalahu ‘alaihi wa Sallam maka tidak halal baginya untuk meninggalkannya karena (mengikuti) ucapan orang lain (siapapun dia)” (Dinukil oleh Imam Ibnul Qayyim dalam “I’laamul muwaqqi’iin” 2/282 dan “Madaarijus saalikiin” 2/335).

Maka landasan inilah yang seharusnya kita jadikan pijakan dalam membahas masalah ini maupun masalah-masalah agama lainnya.

Perbedaan pendapat para ulama Ahlus Sunnah dalam masalah ini
Dalam masalah boleh atau tidaknya orang yang sedang junub atau haidh berdiam/menetap di masjid, ada perbedaan pendapat di kalangan para ulama Ahlus Sunnah.
A. Mayoritas ulama berpendapat bahwa ini tidak diperbolehkan, kecuali kalau hanya sekedar lewat di masjid, maka ini diperbolehkan, adapun berdiam/menetap di masjid maka tidak diperbolehkan. (Lihat kitab “Taudhiihul ahkaam min buluugil maraam” 1/403)
B. Para ulama yang lain membolehkannya dengan syarat menjaga agar najis tidak sampai jatuh dan mengotori masjid. Di antara mereka adalah Imam Ahmad bin Hambal dan al-Muzani, sebagimana penjelasan Imam al-Bagawi dalam kitab “Syarhus Sunnah” (2/46) (Dinukil oleh Syaikh al-Albani dalam kitab “Tamaamul minnah” hlmn 119). Pendapat inilah yang dikuatkan oleh Imam Ibnu Hazm rahimahullah, Ibnul Mundzir rahimahullah dan Syaikh al-Albani rahimahullah.
C. Ada pendapat lain yang dinisbatkan kepada Imam Ahmad bin Hambal dan Ishaq bin Rahuyah, yaitu bolehnya orang yang sedang junub berdiam di masjid setelah dia berwudhu seperti wudhu untuk shalat. (Lihat kitab “’Aunul Ma’buud” 1/269 dan “ats-Tsamrul mustathaab” hlmn 11).

Dalil-dalil yang mereka kemukakan
A. Adapun dalil-dalil yang dikemukan oleh para ulama yang tidak membolehkan orang yang sedang junub atau haidh berdiam/menetap di masjid adalah sebagai berikut:
1- Firman Allah Ta’ala:
{يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لا تَقْرَبُوا الصَّلاةَ وَأَنْتُمْ سُكَارَى حَتَّى تَعْلَمُوا مَا تَقُولُونَ وَلا جُنُبًا إِلا عَابِرِي سَبِيلٍ حَتَّى تَغْتَسِلُوا. وَإِنْ كُنْتُمْ مَرْضَى أَوْ عَلَى سَفَرٍ أَوْ جَاءَ أَحَدٌ مِنْكُمْ مِنَ الْغَائِطِ أَوْ لامَسْتُمُ النِّسَاءَ فَلَمْ تَجِدُوا مَاءً فَتَيَمَّمُوا صَعِيدًا طَيِّبًا فَامْسَحُوا بِوُجُوهِكُمْ وَأَيْدِيكُمْ. إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَفُوًّا غَفُورًا}
“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu salat, sedang kamu dalam keadaan mabuk, sehingga kamu mengerti apa yang kamu ucapkan, dan (jangan pula hampiri masjid) sedang kamu dalam keadaan junub, terkecuali sekedar lewat saja, sampai kamu mandi. Dan jika kamu sakit atau sedang dalam perjalanan atau kembali dari tempat buang air atau kamu telah menyentuh (mengumpuli) perempuan (istrimu), kemudian kamu tidak mendapat air, maka bertayamumlah kamu dengan tanah yang baik (suci); sapulah mukamu dan tanganmu. Sesungguhnya Allah Maha Pema’af lagi Maha Pengampun” (QS an-Nisaa’: 43).

Imam Ibnu Katsir rahimahullah menukil ucapan Shahabat ‘Abdullah bin ‘Abbas radhiyallahu ‘anhum tentang makna ayat di atas: “…(jangan pula hampiri masjid) sedang kamu dalam keadaan junub, terkecuali sekedar lewat saja…”, beliau berkata: “Janganlah kamu masuk ke dalam masjid dalam keadaan kamu sedang junub, kecuali hanya (sekedar) lewat (melintas) dan tidak duduk (menetap)” (Kitab “Tafsir Ibni Katsir” 1/665).

Kemudian Imam Ibnu Katsir berkata: “Mayoritas dari para Imam (ulama) Ahlus Sunnah berargumentasi dengan ayat ini bahwa orang yang sedang junub diharamkan untuk berdiam/menetap di masjid, dan dibolehkan baginya untuk (sekedar) lewat (saja). Demikian pula (hukumnya) untuk orang yang sedang haidh dan nifas seperti itu” (Kitab “Tafsir Ibni Katsir” 1/665).

2- Atsar dari Yazid bin Abi Habib tentang sebab turunnya ayat di atas, bahwa beberapa Shahabat Anshar pintu-pintu rumah mereka (bersambung dengan) masjid. Ketika mereka sedang junub dan kehabisan air (untuk mandi janabah), mereka ingin mengambil air tapi tidak ada tempat lewat kecuali di masjid, maka Allah Ta’ala menurunkan firman-Nya: “…dan (jangan pula hampiri masjid) sedang kamu dalam keadaan junub, terkecuali sekedar lewat saja…” (QS an-Nisaa’: 43) (Dikeluarkan oleh Imam Ibnu Jarir ath-Thabari dalam tafsir beliau 4/97)

3- Hadits riwayat ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha bahwa Rasulullah Shallalahu ‘alaihi wa Sallam bersabda: “Sesungguhnya aku tidak menghalalkan masjid bagi perempuan yang sedang haidh dan orang yang sedang junub” (HR Abu Dawud no. 232, Ishaq bin Rahuyah dalam “al-Musnad” no. 1783, Ibnu Khuzaimah 2/284 dan al-Baihaqi 2/442)

4- Hadits riwayat Ummu Salamah radhiyallahu ‘anha bahwa Rasulullah Shallalahu ‘alaihi wa Sallam bersabda: “Sesungguhnya masjid tidak halal bagi orang yang sedang junub dan perempuan yang sedang haidh” (HR Ibnu Majah no. 645)

5- Hadits riwayat ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha bahwa Rasulullah Shallalahu ‘alaihi wa Sallam bersabda kepadanya: “Berikanlah kepadaku al-khumrah (semacam sajadah kecil untuk alas sujud)!”. Maka aku berkata: Sesungguhnya aku sedang haidh. Lalu Rasulullah Shallalahu ‘alaihi wa Sallam bersabda: “Sesungguhnya haidhmu bukanlah ada di tanganmu”. (HSR Muslim no. 298)
Hadits ini menunjukkan bolehnya orang yang haidh, termasuk orang yang junub, untuk melewati masjid tapi tidak menetap di dalamnya. (Lihat kitab “’Aunul Ma’buud” 1/269).

6- Hadits riwayat Ummu ‘Athiyyah radhiyallahu ‘anha bahwa Rasulullah Shallalahu ‘alaihi wa Sallam memerintahkan para wanita untuk keluar ketika hari raya ‘Idul fithr dan ‘Idul adhha, dan beliau Shallalahu ‘alaihi wa Sallam bersabda: “wanita-wanita yang sedang haidh hendaknya menjauhi mushalla (tempat shalat)”. (HSR al-Bukhari 1/123 dan Muslim no. 890).
Hadits ini menunjukkan tidak bolehnya seorang wanita yang sedang haidh untuk berada/berdiam di mushalla (tempat shalat) ‘Idul fithr dan ‘Idul adhha, maka tentu saja hukumnya sama dengan masjid yang merupakan tempat shalat. (Lihat kitab “Syarhu shahiihi Muslim” 6/179)

7- Hadits riwayat ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha bahwa dia dalam keadaan haidh menyisir rambut Rasulullah Shallalahu ‘alaihi wa Sallam yang berada di dalam masjid dari rumahnya yang berdampingan dengan masjid”. (HSR al-Bukhari 1/114).

B. Sedangkan para ulama yang membolehkannya berargumentasi dengan dalil-dalil sebagai berikut:
1- al-Bara-atul ashliyah (hukum asalnya tidak ada larangan dalam masalah ini), karena pada asalnya setiap muslim diperbolehkan untuk masuk dan shalat di mana saja, selama tidak ada larangan dalam syariat. Rasulullah Shallalahu ‘alaihi wa Sallam bersabda: “Dijadikan bagiku (permukaan) bumi sebagai tempat shalat dan suci, maka siapapun dari umatku yang menjumpai waktu shalat hendaknya dia melaksanakan shalat tersebut (di manapun dia berada)”. (HSR al-Bukhari 1/176 dan Muslim no. 1764)

2- Hadits-hadits shahih yang menjelaskan bahwa Nabi Shallalahu ‘alaihi wa Sallam membiarkan beberapa orang kafir/musyrik masuk ke masjid bahkan di antara mereka ada yang ditawan dengan diikat di tiang masjid (Misalnya dalam HSR al-Bukhari 1/123 dan Muslim no. 890), padahal tentu saja orang-orang musyrik tidak suci dan najis, sebagaimana firman Allah Ta’ala:
{يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِنَّمَا الْمُشْرِكُونَ نَجَسٌ فَلا يَقْرَبُوا الْمَسْجِدَ الْحَرَامَ بَعْدَ عَامِهِمْ هَذَا}
“Hai orang-orang yang beriman, sesungguhnya orang-orang yang musyrik itu najis, maka janganlah mereka mendekati Masjidil Haram sesudah tahun ini” (QS at-Taubah: 28).

Maka kalau orang musyrik yang najis saja diperbolehkan masuk masjid, tentu seorang muslim lebih pantas lagi, karena dia tidak najis dalam semua keadaan, sebagaimana sabda Rasulullah Shallalahu ‘alaihi wa Sallam: “Sesungguhnya orang mukmin tidak najis”. (HSR al-Bukhari 1/109. Lihat kitab “Tafsir al-Qurthubi” 5/192 dan “Shahih fiqhis sunnah” 1/185-186).

3- Hadits riwayat ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha tentang seorang budak perempuan milik sebuah qabilah ‘Arab, lalu mereka memerdekakannya, kemudian dia datang menemui Rasulullah Shallalahu ‘alaihi wa Sallam dan masuk Islam… ‘Aisyah berkata: Dia memiliki sebuah kemah atau rumah kecil (untuk tempat tinggal) di dalam masjid. (HSR al-Bukhari 1/168)

Perempuan bekas budak ini tinggal di masjid dengan izin Rasulullah Shallalahu ‘alaihi wa Sallam dan tentu saja dia akan mengalami haidh pada waktunya, tapi bersamaan dengan itu Rasulullah Shallalahu ‘alaihi wa Sallam tidak melarangnya tinggal di masjid dan tidak memerintahkannya untuk keluar dari masjid ketika sedang haidh. (Lihat kitab “Shahih fiqhis sunnah” 1/186).

4- Hadits riwayat Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu tentang seorang perempuan berkulit hitam yang selalu menyapu/membersihkan masjid, lalu dia meninggal dunia dan Rasulullah Shallalahu ‘alaihi wa Sallam menanyakannya. (HSR al-Bukhari 1/176 dan Muslim no. 956)

Perempuan ini tentu membersihkan masjid setiap hari, termasuk ketika dia sedang haidh, akan tetapi Rasulullah Shallalahu ‘alaihi wa Sallam tidak melarangnya dan tidak memerintahkannya untuk keluar dari masjid ketika sedang haidh. (Lihat kitab “Shahih fiqhis sunnah” 1/186).

5- Hadits riwayat Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu tentang beberapa orang Shahabat Shallalahu ‘alaihi wa Sallam yang dikenal sebagai ‘Ahlush shaffah’, mereka tinggal dan tidur di dalam masjid atas izin Rasulullah Shallalahu ‘alaihi wa Sallam (HSR al-Bukhari 5/2370). Tentu saja mereka mengalami junub karena mimpi atau yang lainnya, tapi Rasulullah Shallalahu ‘alaihi wa Sallam tidak melarang mereka dan tidak memerintahkan mereka untuk keluar dari masjid ketika sedang junub. (Lihat kitab “Shahih fiqhis sunnah” 1/186) .

6- Hadits riwayat ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha bahwa ketika dia mendapat haidh sewaktu sedang haji bersama Rasulullah Shallalahu ‘alaihi wa Sallam, maka beliau Shallalahu ‘alaihi wa Sallam bersabda kepaadanya: “Lakukanlah apa yang dilakukan oleh orang yang berhaji, kecuali thawaf di ka’bah jangan kamu lakukan sampai kamu suci (dan mandi besar)” (HSR al-Bukhari 1/117 dan Muslim no. 1211)

Dalam hadits ini Rasulullah Shallalahu ‘alaihi wa Sallam hanya melarangnya melakukan thawaf ketika sedang haidh dan membolehkan yang selainnya, termasuk menetap di dalam masjid. (Lihat kitab “Shahih fiqhis sunnah” 1/187)

7- Atsar riwayat Nafi’ bahwa ‘Abdullah bin ‘Umar radhiyallahu ‘anhum selalu tidur di masjid Nabi Shallalahu ‘alaihi wa Sallam ketika dia masih muda dan bujang belum berkeluarga” (HSR al-Bukhari 1/169).

C. Adapun pendapat ketiga yang dinisbatkan kepada Imam Ahmad bin Hambal dan Ishaq bin Rahuyah, berargumentasi dengan perbuatan para Shahabat yang diriwayatkan dalam sebuah atsar yang shahih.

Imam Ibnu Katsir rahimahullah berkata: “Imam Ahmad rahimahullah berpendapat bahwa orang yang sedang junub jika dia berwudhu maka boleh dia menetap di masji, karena atsar yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad dan Sa’id bin Manshur dalam “as-Sunan” dengan sanad yang shahih, bahwa para Shahabat dulu melakukan hal itu. Imam Sa’id bin Manshur meriwayatkan dengan sanadnya dari ‘Atha’ bin Yasar dia berkata: “Aku melihat beberapa orang Shahabat Rasulullah Shallalahu ‘alaihi wa Sallam duduk di masjid dalam keadaan mereka sedang junub, jika mereka telah berwudhu seperti wudhu ketika shalat”. Sanad hadits ini (shahih) sesuai dengan syarat Imam Muslim, wallahu a’lam” (Kitab “Tafsir Ibni Katsir” 1/665)

Pendapat yang lebih kuat dan alasannya
Pendapat yang rajih (lebih kuat) adalah pendapat kedua yang membolehkan orang yang sedang junub atau haidh untuk masuk masjid dan menetap di dalamnya dengan syarat menjaga agar najis tidak sampai jatuh dan mengotori masjid. Pendapat ini lebih kuat karena dalil-dalil yang mereka jadikan sebagai argumentasi adalah dalil-dalil yang shahih dan jelas maknanya menunjukkan kebolehan hal ini.
Sedangkan pendapat pertama yang melarang orang yang sedang junub atau haidh untuk masuk masjid, ini adalah pendapat yang lemah, karena dalil-dalil yang mereka jadikan sebagai argumentasi adalah dalil-dalil yang lemah dan tertolak, sedangkan dalil mereka yang shahih tidak jelas menunjukkan makna larangan ini, sebagaimana yang akan kami jelaskan, insyaAllah.
Adapun jawaban dan sanggahan rinci terhadap dalil-dalil pendapat pertama yang melarang hal ini adalah sebagai berikut:
1- Firman Allah Ta’ala dalam QS an-Nisaa’: 43, penafsiran dari Ibnu ‘Abbas radhiyallahu’anhum yang dinukil oleh Imam Ibnu Katsir di atas sanadnya lemah sehingga tidak boleh dinisbatkan kepada Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhum.

Atsar ini dikeluarkan oleh Imam Ibnu Jarir (4/97) dan al-Baihaqi (2/443) dengan sanad mereka berdua dari Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhum. Dalam sanadnya ada rawi yang bernama Abu Ja’far ar-Razi, Imam Ahmad rahimahullah berkata tentangnya: “Dia tidak kuat dalam (meriwayatkan) hadits”. Imam Yahya bin Ma’in berkata: “haditsnya ditulis, tapi dia selalu keliru (dalam meriwayatkan hadits)”. Imam Abu Zur’ah ar-Razi berkata: “Dia syaikh yang banyak keliru” (Semua dinukil oleh Imam Ibnu Hajar dalam kitab “Tahdziibut tahdziib” 12/59).

Ada riwayat lain dari Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhum yang semakna dengan atsar di atas, akan tetapi sanadnya sangat lemah. Dikeluarkan oleh Imam Ibnu Jarir (4/97), dalam sanadnya ada rawi yang bernama Nahsyal bin Sa’id al-Wardani, dia ditinggalkan (riwayatnya karena kelemahannya yang fatal), bahkan Imam Ishaq bin Rahuyah mendustakannya. (Sebagaimana ucapan Imam Ibnu Hajar dalam “Taqriibut tahdziib” hlmn 566)

Demikian pula penafsiran dari Shahabat lain, ‘Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu yang semakna dengan penafsiran di atas, sanadnya lemah. Dikeluarkan oleh Imam Ibnu Jarir (4/97) dan al-Baihaqi (2/443) dengan sanad yang terputus antara ‘Abu ‘Ubaidah bin Abdullah bin Mas’ud dan bapaknya, karena dia tidak pernah mendengar riwayat dari bapaknya, yaitu Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu. (Sebagaimana ucapan Imam Ibnu Hajar dalam “Taqriibut tahdziib” (hlmn 656

Juga penafsiran dari Shahabat Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu yang semakna dengan penafsiran di atas, sanadnya lemah. Dikeluarkan oleh Imam al-Baihaqi (2/443), dalam sanadnya ada dua rawi yang lemah, yaitu salm bin Qais al-‘Alawi dan al-Hasan bin Abi Ja’far al-Jufri. (Keduanya dinyatakan lemah oleh Imam Ibnu Hajar dalam “Taqriibut tahdziib” hlmn 246 dan 159)

Seperti itu juga penafsiran dari Shahabat Jabir bin ‘Abdillah radhiyallahu ‘anhu yang semakna dengan penafsiran di atas, sanadnya lemah. Dikeluarkan oleh Imam ad-Darimi dalam kitab “as-Sunan” (1/281) dan Imam al-Baihaqi (2/443). Sanad riwayat ini ada kelemahan padanya, karena ada rawi yang bernama Ibnu Abi Laila, dia buruk hafalannya dan ada tadlis (penyamaran riwayat) dari Abu az-Zubair al-Makki. (Lihat keterangan Syaikh al-lbani dalam kitab “ats-Tsamrul mustathaab fi fiqhis sunnati wal kitaab” hlmn 754)

Bahkan ada penafsiran lain dari Ibnu ‘Abbas dengan sanad yang shahih dan berbeda dengan penafsiran di atas. Dikeluarkan oleh Imam Ibnu Jarir (4/97) dengan sanad yang shahih. Demikian pula penafsiran dari Shahabat lain, ‘Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu yang semakna, juga dikeluarkan oleh Imam Ibnu Jarir (4/97) dengan sanad yang shahih.

Kedua Shahabat ini menyebutkan bahwa makna ’Aabiru sabiil dalam ayat tersebut bukanlah “orang yang lewat di masjid/melintasi masjid”, tapi maknanya adalah “musafir/orang yang sedang melakukan perjalanan”.

Maka makna ayat di atas dengan penafsiran ini adalah: “… Janganlah kamu mendekati (melaksanakan) shalat sedang kamu dalam keadaan junub, kecuali jika kamu sedang melakukan perjalanan (musafir) dan tidak ada air untuk berwudhu, maka bertayammumlah lalu laksanakanlah shalat”. (Lihat ucapan Shahabat ‘Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu yang dinukil oleh Imam Ibnu Jarir ath-Thabari rahimahullah dalam tafsir beliau 4/97).

Penafsiran ini dinukil oleh Imam Ibnu Jarir ath-Thabari rahimahullah dengan sanad-sanad beliau dari ‘Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu, Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhu, Mujahid bin Jabr al-Makki, Sa’id bin Jubair dan lain-lain. (Dikeluarkan oleh Imam Ibnu Jarir ath-Thabari dalam tafsir beliau 4/97).

Penafsiran inilah yang dipilih dan dikuatkan oleh Imam Ahmad bin Hambal rahimahullah, Imam al-Bagawi rahimahullah berkata: “Imam Ahmad rahimahullah dan al-Muzani rahimahullah membolehkan orang yang sedang junub untuk berdiam di masjid. Imam Ahmad rahimahullah melemahkan hadits (yang melarang hal ini) karena rawinya (yang bernama) Aflat tidak dikenal, dan beliau mentakwilkan/menafsirkn ayat (di atas) bahwa (makna) ’Aabirii sabiil mereka adalah orang-orang yang sedang safar (melakukan perjalanan) ketika sedang junub, maka mereka (boleh) bertayammum (ketika tidak mendapatkan air untuk berwudhu) dan melaksanakan shalat. Penafsiran ini diriwayatkan dari Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhum” (Dinukil dari kitab “Syarhus sunnah” 2/46 oleh syaikh al-Albani dalam kitab “Tamaamul minnah” hlmn. 119)

2- Atsar dari Yazid bin Abi Habib tentang sebab turunnya ayat di atas adalah riwayat yang lemah karena sanadnya terputus. Yazid bin Abi Habib al-Mishri meskipun dia terpercaya, tapi dia selalu meriwayatkan secara mursal (tidak bersambung di akhir sanad). (Lihat keterangan Imam Ibnu Hajar dalam kitab “Taqriibut tahdziib” hlmn. 600)

Syaikh al-Albani rahimahullah berkata: “Riwayat ini berpenyakit (lemah) karena mursal (tidak bersambung di akhir sanad), maka keadaannya tidaklah menyenangkan”. (Kitab “Tamaamul minnah” hlmn 119)

3- dan 4- Hadits riwayat ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha dan Ummu Salamah radhiyallahu ‘anha tentang tidak halalnya masjid bagi orang yang sedang junub dan haidh.

Kedua hadits ini adalah argumentasi terkuat yang dijadikan sandaran pendapat ini, tapi hadits ini kenyataannya adalah satu hadits dengan sanad yang bertemu pada seorang rawi, sehingga merupakan kesalahan besar jika dianggap sebagai dua hadits yang berbeda. (Lihat kitab “Tamaamul minnah” hlmn 118).

Kedua riwayat hadits ini bertemu pada rawi yang bernama Jasrah bintu Dajjajah, karena buruknya hafalannya sehingga dia guncang dalam meriwayatkan hadits ini, kadang dia meriwayatkan dari ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha dan kadang dari Ummu Salamah radhiyallahu ‘anha.

Maka hadits ini derajatnya sangat lemah karena dua sebab kelemahan:

– al-Idhthirab (rawi yang guncang/tidak tetap) dalam meriwayatkannya, karena ini menunjukkan ketidaktelitian dan kelemahan hafalan rawi ini
– rawi ini yang bernama Jasrah bintu Dajjajah tidak dikuatkan oleh seorangpun yang bisa dijadikan sebagai sandaran, bahkan Imam al-Bukhari rahimahullah melemahkan riwayatnya dan berkata: “Dia punya beberapa (riwayat) yang aneh (lemah)”. (Kitab “at-Taariikh al-Kabiir” 2/67)

Oleh karena itu, sejumlah ulama Ahli hadits menegaskan kelemahan hadits ini, seperti Imam Ahmad rahimahullah, al-Baihaqi rahimahullah, al-Khaththabi rahimahullah, ‘Abdul Haq al-Isbili rahimahullah, Ibnu Hazm rahimahullah dan Syaikh al-Albani rahimahullah. (Lihat kitab “Tamaamul minnah” hlmn 118-119).

Imam al-Khaththabi rahimahullah berkata: “Mereka (para ulama Ahli hadits) melemahkan hadits ini” (Dinukil oleh Imam Ibnu Hajar dalam “Tahdziibut tahdziib” 1/320)

Kemudian ada dua riwayat lain yang semakna dengan hadits ini, akan tetapi riwayat yang pertama sangat lemah karena ada rawi yang matruk (ditinggalkan riwayatnya karena kelemahannya yang fatal) dan riwayat yang kedua palsu karena ada rawi yang kadzdzab (selalu berdusta). Maka kedua riwayat ini sama sekali tidak bisa mendukung dan menguatkan hadits di atas.

5-, 6- dan 7- Ketiga hadits ini adalah hadits yang shahih, akan tetapi tidak bisa dijadikan sebagai sandaran untuk mendukung pendapat ini, karena maknanya mengandung banyak kemungkinan, sehingga tidak bisa dijadikan sebagai argumentasi yang jelas dan tegas. (Lihat kitab “Shahih fiqhis sunnah” 1/185-187)

Imam an-Nawawi rahimahullah menyebutkan makna hadits riwayat ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha dalam poin ke-5: “Sesungguhnya najis yang harus dihindarkan dari masjid, yaitu darah haidh, tidak ada di tanganmu”. (Kitab “Syarhu shahih Muslim” 3/208-209)

Ini menunjukkan bahwa jika seorang perempuan yang sedang haidh bisa menjaga najis tersebut supaya tidak jatuh dan mengotori masjid, maka dia boleh duduk dan berdiam di masjid.
Adapun hadits dalam poin ke-6 maka ada kemungkinan lain dari maknanya, yaitu: “wanita-wanita yang sedang haidh hendaknya menjauhi shalat ‘id karena memang wanita yang sedang haidh tidak boleh melaksanakan shalat. Bahkan makna inilah yang ditegaskan dalam lafzh yang terdapat dalam “Shahih Muslim” (no. 890): “…Adapun wanita-wanita yang sedang haidh maka mereka menjauhi (tidak melaksanakan) shalat, tapi mereka ikut menyaksikan kebaikan (pada hari raya) dan do’a kaum muslimin”.

Sedangkan hadits dalam poin ke-8 tentang ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha yang menyisir rambut Rasulullah Shallalahu ‘alaihi wa Sallam yang berada di dalam masjid dari rumahnya, maka ada kemungkinan Rasulullah Shallalahu ‘alaihi wa Sallam melarang ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha masuk ke masjid bukan karena haidh, tapi karena banyak laki-laki atau alasan lainnya. (Lihat kitab “Shahih fiqhis sunnah” 1/185).

Kesimpulan akhir
Tidak ada satupun dalil shahih dan tegas, dari al-Qur’an maupun hadits Rasulullah Shallalahu ‘alaihi wa Sallam, yang melarang orang yang sedang junub atau haidh untuk masuk dan berdiam di masjid, maka hakum asalnya hal ini diperbolehkan bagi setiap orang yang beriman, laki-laki maupun perempuan (Lihat kitab “Tamaamul minnah” hlmn 119), sebagaimana dalam dalil-dalil pendapat yang membolehkan hal ini yang telah kami sebutkan sebelumnya.

Apalagi sabda Rasulullah Shallalahu ‘alaihi wa Sallam yang mengaskan hal ini: “Sesungguhnya orang mukmin tidak najis”. (HSR al-Bukhari 1/109).

Maka Pendapat yang rajih (lebih kuat) adalah bolehnya orang yang sedang junub atau haidh untuk masuk masjid dan menetap di dalamnya, dengan syarat dia wajib menjaga agar najis tidak sampai jatuh dan mengotori masjid.

Pendapat inilah yang dikuatkan oleh Imam Ahmad bin Hambal rahimahullah dan al-Muzani rahimahullah, murid utama Imam asy-Syafi’i rahimahullah, sebagaimana yang telah kami nukilkan sebelumnya. Juga dikuatkan oleh Imam Ibnu Hazm rahimahullah (Kitab “al-Muhalla bil aatsaar” 2/186), Ibnul Mundzir rahimahullah dan Syaikh al-Albani rahimahullah.

Imam al-Qurthubi rahimahullah berkata: “Sekelompok dari para ulama membolehkan orang yang junub untuk masuk (dan menetap) di masjid. Sebagian dari mereka berargumentasi dengan sabda Rasulullah Shallalahu ‘alaihi wa Sallam: “Sesungguhnya orang mukmin tidak najis” (HSR al-Bukhari 1/109). Imam Ibnul Mundzir berkata: Pendapat inilah yang kami ucapkan (kuatkan)”. (Kitab “Tafsir al-Qurthubi” 5/192).

Adapun pendapat yang ketiga yaitu bolehnya orang yang sedang junub berdiam di masjid setelah dia berwudhu seperti wudhu untuk shalat, maka dalil yang mereka kemukakan adalah hadits yang shahih, akan tetapi berwudhu di sini adalah lebih utama dan bukanlah wajib.

Syaikh al-Albani rahimahullah berkata: “Bisa jadi berwudhu (bagi orang yang junub atau haidh sebelum masuk masjid) dianjurkan (lebih utama), karena ini merupakan perbuatan para Shahabat Shallalahu ‘alaihi wa Sallam, wallahu a’lam. (Kitab “ats-Tsamrul mustathaab fi fiqhis sunnati wal kitaab” hlmn 754)

وصلى الله وسلم وبارك على نبينا محمد وآله وصحبه أجمعين، وآخر دعوانا أن الحمد لله رب العالمين

Kota Kendari, 13 Sya’ban 1436 H
Abdullah bin Taslim al-Buthoni

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: