Misteri Syekh Siti Jenar

Misteri Syekh Siti JenarUstadz Zaenal Abidin Lc Asal Muasal Syekh Siti Jenar sebenarya tidak jelas, apakah berasal dari Persia atau asli Jawa.[1] Namun, ajarannya cukup memberi pengaruh besar kepada masyarakat Indonesia hingga sekarang, terutama di jawa. Syekh Siti Jenar termasuk anggota Walisongo yang hadir pada pertemuan pertama yang diselenggarakan oleh Sunan Giri, ketua Walisongo yang baru sebagai pengganti Sunan Ampel. Di dalam pertemuan itu, dibicarakan tentang pemikiran Syekh Siti Jenar yang berkaitan dengan ma’rifat. Ternyata diketahui bahwa Siti Jenar punya pandangan menyimpang di dalam beragama. Akibatnya, tokoh ini dikeluarkan dari keanggotaan Walisongo, bahkan akhirnya dijatuhi hukuman mati. Hukuman ditetapkan setelah Sultan Demak dan Walisongo memberi peringatan berkali-kali tentang ajarannya yang merusak aqidah umat Islam, yang baru saja dengan susah payah ditegakkan Maulana Malik Ibrahim di Jawa pada 1404 M. Namun, alasan ini belum dianggap kuat, maka hukuman mati Siti Jenar baru diambil setelah Adipati Pengging, Ki Ageng Kebo Kenongo dihukum mati karena memberontak kepada kekuasaan Demak Bintoro, ditambah murid-murid Syekh Siti Jenar yang berbuat onar karena putus asa dengan kegagalan Adipati Penggig tersebut. Kebo Kenongo adalah harapan terakhir bagi pengikut Hindu-Budha-Animisme untuk mempertahankan ideologi mereka menghadapi pengaruh dakwah Islam.[2] SITI JENAR KIBLAT KAUM ZINDIQ INDONESIA Sikap frustasi para murid Syekh Siti Jenar dimanifestasikan ke dalam bentuk ajaran Syekh Siti Jenar yang aneh. Mereka berkeyakinan bahwa manusia hidup di dunia ini sebenarnya dalam keadaan mati. Maka manusia yang lalu lalang di muka bumi merupakan mayat-mayat yang gentayangan. Sosok Siti Jenar telah menjadi komoditas kaum zindiq Indonesia untuk mengekspresikan kesesatan mereka, maka warna ajaran Siti Jenar sangat tergantung pada pemikiran masing-masing orang yang menulis tentang Siti Jenar. Ambil contoh, Achmad Xhodjim dalam bukunya Syekh Siti Jenar, menggambarkan Syekh Siti Jenar sebagai sosok liberal yang tidak percaya terhadap agama dan kitab suci. Pada halaman 34, penulis berkata, “Syekh Siti Jenar bukanlah seorang teolog. Dia seorang praktisi! Agama baginya bukan teori yang dihafal. Agama adalah sebuah jalan yang harus dilalui. Dia tidak ambil pusing dengan nama agama. Walaupun agama yang sedang disandangnya Islam. Tetapi, kenyataan hidup, keberadaan diri dan jiwa, itulah yang menjadi bagian kesadaran Siti Jenar dalam hidupnya di dunia ini. Siti Jenar menyadari sepenuhnya, bahwa hidup di dunia ini ada dialam kematian. Karena kita sebagai bangkai kita tidak mampu berkomunikasi dengan Tuhan.” [3] Ajaran Syekh Siti Jenar memang sangat kental dengan nuansa tasawuf wihdatul wujud [4], wihdatul adyan (penyatuan agama-agama) dan kebatinan kejawean serta sangat kental dengan ajaran zindiq. Demikian itu tampak di dalam beberapa ungkapan yang diturunkan Achmad Chodjim dalam bukunya, Syeikh Siti Jenar,[5] yang antara lain: “Manusia yang hakiki adalah wujud hak, kemandirian dan kodrat. Berdiri dengan sendirinya. Sukma menjelma sebagai hamba. Hamba menjelma pada sukma. Napas Sirna menuju ketiadaan. Badan kembali sebagai tanah.” (Pupuh II:2) “Adanya Allah karena zikir. Zikir membuat lenyap Dzat, Sifat, Asma dan Aaf’al yang Mahatahu. Digulung menjadi ‘Antaya’ dan rasa dalam diri. Dan itu saya! Timbil pikiran menjadi dzat yang mulia.” (Pupuh II : 4) “Dalam jagad besar dan kecil, di mana pun sama saja. Hanya manusia yang ada. Ki Penging berani melahirkan tekad bahwa Allah yang dirasakan dalam zikir itu semu, keberadaan palsu. Keberadaan semacam ini karena nama.” (Pupuh II:4)             “Manusia sejati itu, mempunyai sifat dua puluh. Dalam hal ini agama Budha dan Islam sucah campur. Satu wujud dua nama. Kesukaran tiada lagi. Kki Pengging sudah memahami (ajaran Siti Jenar).” (Pupuh II:5) SITI JENAR ANTI AGAMA Ajaran Siti Jenar menolak semua ajaran agama yang berbau Arab. Ajaran tersebut tidak menganggap kitab suci sebagai sumber ilmu agama, dan menghina segala bentuk ibadah praktis. Seperti yang ditegaskan Munir Mulkhan dalam bukunya, Ajaran dan Jalan Kematian Syekh Siti Jenar, “Syekh Siti Jenar berpendapat bahwa ketika syahadat, shalat dan puasa itu tidak diinginkan, maka hal itu bukanlah sesuatu yang perlu dilakukan. Demikian pula halnya dengan zakat dan haji, semuanya dipandang sebagai omong kosong, sebagai kedurjanaan budi dan penipuan terhadap sesama manusia.”[6] Siti Jenar juga membuat alasan yang sangat aneh, bahwa menurut pandangan Jawa, pelaksanaan shalat lima waktu itu bukan shalat yang sebenarnya. Dan kalau toh tetap disebut shalat maka pelaksanaan shalat yang tampak lahiri ini hanyalah hiasan dari shalat yang Daim. Dalam pemahaman Jawa, shalat Daim adalah shalat yang ditegakkan secara terus-menerus tidak pernah putus. Baik ketika berjaga maupun ketika tidur.[7] Menurut Syekh Siti Jenar, hanya orang-orang yang dungu dan tidak tahu saja yang menuruti aulia atau wali, hanya karena mereka diberi harapan surga kelak di kemudian hari. Siti Jenar justru tak pernah menuruti perintah budi, bersujud-sujud di masjid mengenakan jubah dengan harapan memperoleh sejumlah pahala yang akan diterima nanti. Ketaatan seseorang juga bukan karena dahi dan kapalan tangannya sudah menjadi tebal.[8] Bahkan ajaran Syekh Siti Jenar menolak mentah-mentah kitab suci sebagai sumber ilmu, seperti kepercayaan yang menyebar di kalangan sufi ekstrem. Sebab, menurut Siti Jenar, ilmu tidak dapat dicapai hanya dengan membaca buku-buku, membaca kitab suci, mendengarkan petuah kyai atau wali. Orang yang berilmu berarti mampu mengetahui kahanan, kenyataan, yang bebas dari pancaindera, mampu melihat tanpa mata, mendengar tanpa yelinga, membau tanpa hidung, merasa tanpa meraba, dan menikmati tanpa mengecap.”[9] Walaupun latar belakang kehidupan Syekh Siti Jenar tidak jelas, beberapa dokumen yang menjelaskan ajaran Syekh Siti Jenar sangat banyak menunjukkan sikap zindiq-nya. Di samping dengan Dzikir Ojrat Ripangi dan mantra-mantra Lebe Lonthang yang menimbulkan kesesatan, dia pernah menyuruh membakar masjid dan mengingkari syari’at Islam. Syekh Siti Jenar mengatakan bahwa al-Qur’an merupakan pegangan hidupnya, tetapi secara kontras dia mengingkari hukumnya dan menganalisa kandungannya menurut pemahaman wihdatul wujud dan hawa nafsu zindiqnya. AJARAN SITI JENAR DIDOMINASI KAUM ABANGAN Warna Islam pedalaman yang sinkretis hasil rekayasa Sunan Kalijogo, yang berbeda dengan warna islam di daerah pesisir yang murni, dimanfaatkan kaum zindiq untuk merusak islam. Mereka berpura-pura masuk Islam, namun banyak ajaran agama yang diselewengkan. Dan mereka terpecah menjadi tiga kelompok: Pertama: Kelompok yang tidak menerima Islam secara kaffah (menyeluruh) karena menurut mereka agama lama juga tidak kalah baiknya. Bahkan sebagian mereka membesar-besarkan peranan Sunan Kalijogo sebagai juru dakwah paling bijak karena tidak menentang adat istiadat dan kebudayaan jawa. Sunan Kalijogo adalah guru mistik terbesar yang pernah ada di jawa dan sebgai tokoh dalam perkembangan Islam di indonesia, khususnya jawa. Kelompok ini tidak ragu menggunakan do’a berbahasa jawa seperti yang dicontohkan Sunan Kalijogo dengan Mantra Betuah dan kidung Rumekso Ingweya yang sangat memikat hati. Dari sinilah tumbuh aliran kebatinan atau kejawen yang kemudian menjamur sejak akhir abad ke-19. Kedua: Kelompok yang tidak mau menerima Islam tetapi tidak berani menentang secara terang-terangan, lalu bersikap zindiq. Kelompok kedua ini masih melanjutkan upaya seperti yang dilakukan Syekh Siti Jenar pada masa hidupnya. Namun, sepanjang abad ke-17, mereka belum berani berbuat seperti gurunya karena khawatir akan mengalami nasib yang sama, karena pemerintah Islam Mataram masih sangat kuat. Ketiga: Kelompok yang tetap tidak mau menerima Islam dan tetap bertahan dengan agama apa saja selain Islam.[10] Demikianlah gambaran sekilas tentang pemikiran Syekh Siti Jenar yang membawa paham berbahaya Wihdatul Wujud. Maka sungguh mengherankan jika pada zaman sekarang pemikiran berbahaya tersebut dibela dan dibenarkan. Semoga Allah Ta’ala menampakkan al-Haq kepada kita dan menegarkan kita di atasnya.[] Artikel Madrasah Ibnu Abbas Kendari, yang disalin ulang dari Majalah AL FURQON edisi 157 tahun ke: 14 Catatan kaki: [1] Ajaran dan Jalan Kematian Syekh Siti Jenar, Dr. Munir Mulkhan, hal. 61 [2] Misteri Syekh Siti Jenar. Prof. Dr. Hasanu Simon. hal. 427 [3] Lihat Buku Syekh Siti Jenar karya Achmad Chodjim. hal. 34 [4] Dalam bahasa jawa dikenal dengan keyakinan “Manunggaling Kawulo dengan Gusti” yang berarti dzat Allah menyatu dengan hamba-Nya, seperti keyakinan yang dikembangkan al-Hallaj dan Ibnu Arabi yang akhirnya dihukum pancung berdasarkan fatwa para ulama [5] Lihat Buku Syekh Siti Jenar karya Achmad Chodjim. hal. 34 [6] Ajaran dan Jalan Kematian Syekh Siti Jenar, Dr. Munir Mulkhan, hal. 66 [7] Lihat Buku Syekh Siti Jenar karya Achmad Chodjim. hal. 203 [8] Ajaran dan Jalan Kematian Syekh Siti Jenar, Dr. Munir Mulkhan, hal. 66 [9] Ibid, hal. 119 [10] Misteri Syekh Siti Jenar. Prof. Dr. Hasanu Simon. hal. 428

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: