Memilih Tempat Tinggal Ideal

Al Ustadz Abdullah bin Taslim. MA

Rumah sebagai tempat berlindung bagi manusia adalah nikmat besar dari Allah yang seharusnya direnungkan dan disyukuri keberadaanya.

Betapa tidak? Allah menjadikan fungsi rumah demikian besar dan banyak, sehingga nikmat yang agung ini sangat berperan, dengan izin Allah, dalam menciptakan ketenangan dan kebahagiaan hidup bagi manusia di dunia ini.

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Di antara (bentuk) kebahagiaan (bagi) seorang muslim di dunia adalah (jika dia memiliki): tetangga yang shaleh, tempat tinggal yang lapang dan kendaraan yang nyaman”[1].

Fungsi dan manfaat rumah bukan hanya sebagai tempat berlindung dari panas, dingin atau cuaca buruk lainnya, tapi lebih dari itu, rumah berfungsi untuk menjaga kebaikan agama seorang hamba dan keluarganya, dengan izin Allah.

Dalam sebuah hadits yang shahih, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam menjelaskan fungsi rumah sebagai tempat untuk menjaga diri dan keluarga dari berbagai macam keburukan, bahkan sebagai tempat berlindung dari fitnah yang menyesatkan. Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Beruntunglah seorang yang mampu menjaga lisannya, merasa lapang (dengan berada) di rumahnya dan (selalu) menangis atas perbuatan dosanya”[2].

Dalam hadits lain, beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Selamatnya seseorang ketika terjadi fitnah adalah dengan menetapi rumahnya”[3].

Oleh karena itu, nikmat yang agung ini wajib untuk disyukuri dan dimanfaatkan dengan sebaik-baiknya untuk mendekatkan diri kepada Allah.

Inilah yang diisyaratkan oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam doa yang beliau ucapkan jika hendak tidur: “Segala puji bagi Allah yang telah memberi makan, minum, kecukupan dan tempat tinggal bagiku, berapa banyak orang yang tidak memiliki kecukupan dan tempat tinggal”[4].

 

Pentingnya memilih tempat tinggal dan lingkungan yang baik

    Memilih tempat tinggal yang baik bukan hanya bertujuan untuk kenyamanan diri dan anggota keluarga semata, tapi lebih dari itu, untuk mengusahakan lingkungan pergaulan yang baik bagi anggota kelurga, terutama anak-anak yang sangat mudah terpengaruh dan mengikuti apapun yang biasa mereka saksikan di lingkungan tempat tinggal mereka.

Maka untuk tujuan ini, wajib bagi setiap kapala rumah tangga untuk berhati-hati dalam memilih tempat tinggal yang ideal bagi diri dan keluarganya, karena ini termasuk bagian dari tanggung jawabnya untuk menjaga diri dan keluarganya dari segala bentuk keburukan. Allah Ta’ala berfirman:

{يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا قُوا أَنْفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ نَاراً وَقُودُهَا النَّاسُ وَالْحِجَارَةُ}

“Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu” (QS at-Tahriim:6).

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Ketahuilah, kalian semua adalah pemimpin dan kalian semua akan dimintai pertanggungjawaban tentang orang-orang yang kalian pimpin…Seorang suami adalah pemimpin (keluarganya) dan dia akan dimintai pertanggungjawaban tentang (perbuatan) mereka, seorang wanita (istri) adalah pemimpin di rumah suaminya bagi anak-anaknya, dan dia akan dimintai pertanggungjawaban tentang (perbuatan) mereka”[5].

Agama Islam sangat menekankan pentingnya memilih tempat tinggal di lingkungan yang baik, karena lingkungan yang baik adalah tempat bermukimnya orang-orang yang shaleh, dan tentu saja dengan tinggal berdekatan dengan mereka akan memudahkan diri dan anggota keluarga kita selalu bergaul dengan mereka dan meneladani sifat-sifat baik mereka.

Allah Ta’ala berfirman:

{يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَكُونُوا مَعَ الصَّادِقِينَ}

“Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah, dan hendaklah kamu bersama orang-orang yang benar(jujur)” (Q.S. At Taubah:119).

Makna ayat ini: Bergaullah dengan orang-orang yang benar(jujur), agar kamu menjadi seperti mereka (dalam sifat-sifat baik), karena seseorang itu akan selalu meneladani teman pergaulannya[6].

Dalam hadits shahih yang populer tentang kisah seorang lelaki dari kalangan Bani Israil, yang telah membunuh seratus jiwa manusia, kemudian dia mendatangi seorang yang berilmu (ulama), lalu dia bertanya: Apakah masih ada taubat baginya? Maka ulama itu menjawab: “Ya (masih ada kesempatan taubat bagimu), siapa yang akan menghalangimu dari bertaubat (kepada Allah)? Pergilah kamu ke negeri anu, karena di sana (tempat tinggal) orang-orang (shaleh) yang selalu beribadah kepada Allah, maka beribadahlah kamu kepada Allah bersama mereka, dan jangan kamu kembali ke negeri (tempat tinggal)mu karena negerimu itu adalah tempat yang buruk (banyak dihuni orang-orang yang suka berbuat maksiat)…”[7].

Hadits ini menunjukkan wajibnya mencari lingkungan baik yang dihuni oleh orang-orang shaleh sebagai tempat tinggal, untuk tujuan memperbaiki diri dan mengambil teladan baik dengan selalu bergaul dengan mereka. Sebagaimana hadits ini menunjukkan keharusan berhijrah (berpindah) dari tempat yang banyak perbuatan maksiat padanya, ke tempat yang tidak terdapat maksiat padanya, atau minimal perbuatan maksiatnya lebih sedikit[8].

Dan khusus tentang pengaruh besar yang ditimbulkan dari pergaulan dengan orang-orang yang baik atau buruk, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Perumpamaan teman duduk (bergaul) yang baik dan teman duduk (bergaul) yang buruk (adalah) seperti pembawa (penjual) minyak wangi dan peniup al-kiir (tempat menempa besi), maka penjual minyak wangi bisa jadi dia memberimu minyak wangi, atau kamu membeli (minyak wangi) darinya, atau (minimal) kamu akan mencium aroma yang harum darinya. Sedangkan peniup al-kiir (tempat menempa besi) bisa jadi (apinya) akan membakar pakaianmu atau (minimal) kamu akan mencium aroma yang tidak sedap darinya”[9].

Hadits yang mulia ini menunjukkan keutamaan duduk dan bergaul dengan orang-orang yang baik akhlak dan tingkah lakunya, karena pengaruh baik yang ditimbulkan dengan selalu menyertai mereka, sekaligus menunjukkan larangan bergaul dengan orang-orang yang buruk akhlaknya dan pelaku maksiat karena pengaruh buruk yang ditimbulkan dengan selalu menyertai mereka[10].

 

Bergaul dengan orang-orang awam untuk menyeru mereka ke jalan Allah

Di sisi lain, agama Islam sangat menganjurkan dan menekankan keutamaan bergaul dan membaur dengan orang-orang awam (umum), serta bersabar menghadapi sikap-sikap buruk mereka, dengan tujuan untuk mendekati dan menjinakkan hati mereka, agar nantinya mereka mudah menerima kebenaran yang kita serukan.

Bukankah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam berhasil mengajak manusia ke jalan Allah Ta’ala, dengan izin-Nya, disebabkan pergaulan baik, akhlak terpuji dan kesabaran yang beliau tunjukkan di hadapan mereka? Allah Ta’ala berfirman:

{فَبِمَا رَحْمَةٍ مِنَ اللَّهِ لِنْتَ لَهُمْ وَلَوْ كُنْتَ فَظًّا غَلِيظَ الْقَلْبِ لانْفَضُّوا مِنْ حَوْلِكَ}

“Maka disebabkan rahmat dari Allah-lah kamu berlaku lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar maka tentulah mereka akan menjauhkan diri dari sekelilingmu” (QS Ali-‘Imraan: 159).

Ketika menafsirkan ayat ini, Syaikh ‘Abdur Rahman as-Sa’di rahimahullah berkata: “Tingkah laku yang baik termasuk perkara yang penting dalam agama, untuk memudahkan manusia tertarik (mengikuti) dan mencintai agama Islam, di samping itu, orang yang memilikinya dipuji (oleh Allah) dan mendapatkan pahala yang istimewa (dari-Nya)”[11].

Oleh karena itu, Allah memuji tingginya budi pekerti Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika bergaul dengan manusia, dalam firman-Nya:

{وَإِنَّكَ لَعَلى خُلُقٍ عَظِيمٍ}

“Dan sesungguhnya kamu benar-benar memiliki budi pekerti yang agung” (QS al-Qalam: 4).

Untuk tujuan inilah, seorang hamba yang beriman hendaknya berusaha untuk bergaul dengan masyarakat umum di sekitarnya dan bersikap sabar serta berlapang dada dalam menghadapi kesalahan-kesalahan mereka.

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam secara khusus memuji sikap ini dalam sabda beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam:

« الْمُؤْمِنُ الَّذِى يُخَالِطُ النَّاسَ وَيَصْبِرُ عَلَى أَذَاهُمْ أَعْظَمُ أَجْرًا – وفي رواية: خَيْرٌ – مِنَ الْمُؤْمِنِ الَّذِى لاَ يُخَالِطُ النَّاسَ وَلاَ يَصْبِرُ عَلَى أَذَاهُمْ  »

“Seorang mukmin yang bergaul dengan manusia dan bersabar atas gangguan (perlakuan buruk) mereka lebih baik (lebih besar pahalanya) dari pada seorang mukmin yang tidak bergaul dengan manusia dan tidak bersabar atas gangguan (perlakuan buruk) mereka”[12].

Hadits yang agung ini merupakan argumentasi bagi mayoritas ulama yang berpendapat bahwa bergaul dengan manusia untuk menyeru mereka ke jalan Allah Ta’ala lebih utama dari pada menjauhkan diri dari mereka, sebagaimana petunjuk para Nabi’alaihis salam, para shahabat radhiyallahu ‘anhum ajmain dan orang-orang shaleh sebelum kita, mereka tidak menutup diri dari pergaulan dengan manusia secara umum, sehingga dengan ini mereka mudah mengajak manusia ke jalan Allah [13].

Tinggal di lingkungan orang-orang yang sudah paham agama atau membaur dengan orang awam dengan resiko harus bersabar atas sikap buruk mereka?

Berdasarkan keterangan di atas, seorang muslim yang menghendaki kebaikan bagi diri dan keluarganya, benar-benar harus berhati-hati dalam menentukan pilihan lingkungan sebagai tempat tinggal yang ideal bagi keluarganya. Sebab di satu sisi, dia harus mempertimbangkan lingkungan pergaulan yang baik bagi diri dan anggota keluarganya, di sisi lain, dia juga tidak ingin ketinggalan dalam usaha menyeru/mengajak masyarakat umum ke jalan Allah, yang ini merupakan tugas mulia yang diemban oleh para Nabi dan Rasul ‘alaihis salam, serta orang-orang yang selalu mengikuti petunjuk mereka.

Allah Ta’ala berfirman:

{قُلْ هَذِهِ سَبِيلِي أَدْعُو إِلَى اللَّهِ عَلَى بَصِيرَةٍ أَنَا وَمَنِ اتَّبَعَنِي وَسُبْحَانَ اللَّهِ وَمَا أَنَا مِنَ الْمُشْرِكِينَ}

“Katakanlah: “Inilah jalan (sunnah)ku, aku dan orang-orang yang mengikuti (petunjuk)ku menyeru (manusia) ke (jalan) Allah dengan ilmu/argumentasi yang nyata. Maha suci Allah, dan aku tidak termasuk orang-orang yang menyekutukan-Nya” (QS Yuusuf: 108).

Dalam ayat lain, Allah Ta’ala berfirman tentang keutamaan besar bagi mereka yang selalu mengajak manusia ke jalan-Nya:

{وَمَنْ أَحْسَنُ قَوْلا مِمَّنْ دَعَا إِلَى اللَّهِ وَعَمِلَ صَالِحًا وَقَالَ إِنَّنِي مِنَ الْمُسْلِمِينَ}

“Dan siapakah yang lebih baik ucapannya daripada seorang yang mengajak (manusia) ke (jalan) Allah, dan dia mengerjakan amal shaleh serta berkata: Sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang berserah diri (kepada Allah) ” (QS Fushshilat: 33).

Di samping itu, yang perlu menjadi pertimbangan besar di sini, bahwa meninggalkan tugas dakwah yang mulia ini berarti membiarkan para pelaku maksiat dalam kemaksiatan mereka dan tidak berusaha untuk mengingkari kemungkaran yang mereka lakukan di tengah masyarakat umum, hal ini merupakan sebab besar turunnya azab/bencana dari Allah Ta’ala yang tidak hanya menimpa para pelaku maksiat tersebut, tapi juga orang-orang shaleh yang tidak berusaha menasehati mereka.

Allah Ta’ala berfirman:

{وَاتَّقُوا فِتْنَةً لا تُصِيبَنَّ الَّذِينَ ظَلَمُوا مِنْكُمْ خَاصَّةً وَاعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ شَدِيدُ الْعِقَابِ}

“Dan peliharalah dirimu dari siksaan yang tidak khusus menimpa orang-orang yang berbuat zalim saja di antara kamu. Dan ketahuilah bahwa Allah amat keras siksaan-Nya” (QS al-Anfaal: 25).

Dalam sebuah hadits yang shahih, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Sesungguhnya manusia jika mereka melihat kemungkaran lalu meraka tidak (berusaha) merubahnya (mencegahnya) maka sebentar lagi Allah akan menimpakan siksaan yang merata bagi mereka semua”[14].

Di sinilah, terlihat jelas peran pengetahuan agama yang dimiliki seorang muslim, setelah taufik dari Allah, dalam menentukan sikap yang terbaik dan sesuai dengan keridhaan-Nya terhadap dua perkara yang sepintas terlihat saling kontradiksi ini. Dia harus mempertimbangkan mana yang terbaik dan melihat mana yang resiko keburukannya lebih kecil, untuk kemudian dia memilih hal yang terbaik dan bermanfaat bagi diri dan keluarganya.

Dalam hal ini, salah seorang ulama salaf berkata: “Bukanlah orang yang berakal (berilmu) adalah orang yang (hanya) mengetahui kebaikan dari keburukan, tapi orang yang berakal adalah orang yang mengetahui (mana) yang terbaik (resiko keburukannya paling kecil) dari dua perkara yang buruk”.

Untuk memudahkan kita menentukan sikap yang benar, dengan izin Allah, maka terlebih dahulu kita harus melihat sisi-sisi maslahat (positif) dan mudharat (negatif) dari kedua hal tersebut di atas.

Tinggal di lingkungan orang-orang yang sudah paham agama tentu memiliki banyak maslahat, antara lain:

–          Menciptakan lingkungan pergaulan yang baik bagi diri dan keluarga, utamanya anak-anak

–          Selalu dekat dengan orang-orang shaleh yang bisa dijadikan sebagai figur dan panutan dalam kebaikan

–          Memudahkan untuk saling menasaheti dan tolong-menolong dalam kebaikan dan ketakwaan

–          Mudah untuk mendapat teguran dan nasehat ketika sedang lalai atau tatkala iman sedang turun.

Adapun sisi negatifnya, antara lain:

–          Jauh dari orang-orang awam sehingga sulit untuk mendakwahi mereka

–          Cenderung kaku dan kurang berpengalaman ketika suatu saat berhadapan dan bermuamalah dengan mereka

–          Menimbulkan kesan buruk bagi mereka bahwa kita menjauhi mereka karena merasa diri kita suci dan mereka buruk.

 

Di lain sisi, tinggal dan berbaur dengan orang-orang juga memiliki beberapa sisi positif, di antaranya:

–          Mudah menasehati dan mengajak mereka ke jalan Allah yang lurus

–          Mudah melakukan pendekatan dalam usaha menarik hati mereka

–          Lebih terbiasa dan bersabar dalam menghadapi perlakuan buruk mereka

–          Menghilangkan keburukan dan maksiat dari diri mereka atau minimal menguranginya.

Adapun sisi negatifnya, antara lain:

–          Pengaruh buruk bergaul dengan mereka bagi diri dan keluarga

–          Menjadikan diri dan keluarga terbiasa menyaksikan perbuatan buruk sehingga sedikit banyak akan mengurangi kebencian terhadap perbuatan maksiat

–          Anak-anak yang mudah terpengaruh dan meniru perbuatan-perbutan buruk yang dilakukan oleh teman-teman bergaul mereka

–          Kehadiran kita di lingkungan mereka bisa disalahartikan dan dianggap merekomendasikan perbuatan-perbuatan buruk yang mereka lakukan.

 

Nasehat dan Saran

Dengan mempertimbangkan hal-hal tertsebut di atas, maka insya Allah pilihan terbaik yang mengandung maslahat yang lebih besar dan keburukan yang lebih kecil adalah sebagai berikut:

–          Bagi seorang muslim yang mengetahui bahwa diri dan keluarganya mampu insya Allah untuk tetap tegar dan sabar hidup di tengah-tengah masyarakat awam, apalagi jika keberadaannya di tengah-tengah mereka jelas membawa kebaikan karena seruan dakwahnya mudah diterima, maka lebih baik baginya untuk tetap tinggal di lingkungan mereka, tentu dengan catatan dia harus ekstra ketat mengawasi pergaulan anggota keluarganya dan selalu membentengi mereka supaya tidak mudah terpengaruh dengan keburukan di lingkungan mereka. Juga tidak lupa dia harus sering membawa anggota keluarganya ke komunitas orang-orang yang baik untuk mengimbangi pergaulan mereka dengan orang-orang awam di sekitar mereka, baik dengan mengunjungi orang-orang yang shaleh, menghadiri majelis-majelis pengajian, dan lain-lain.

–          Adapun bagi orang yang merasa dirinya lemah, atau anggota keluarganya termasuk orang-orang yang mudah terpengaruh dengan kondisi lingkungan, maka sebaiknya dia memilih tempat tinggal di lingkungan orang-orang yang sudah paham agama, dengan tetap dia meluangkan waktu yang cukup untuk berkunjung ke lingkungan masyarakat umum, dalam rangka medekati dan mengajak mereka ke jalan Allah yang lurus. Dengan ini dia bisa menghimpun dua kebaikan sekaligus; menciptakan lingkungan pergaulan yang baik untuk diri dan keluarganya, dan ikut serta dalam kebaikan mengajak manusia ke jalan Allah.

Kemudian, untuk mengetahui apakah kita termasuk orang kuat atau lemah dalam hal ini, maka setelah taufik dari Allah, insya Allah ini bisa diusahakan dengan berkonsultasi dengan orang yang berilmu atau ustadz yang kita kenal, atau dengan menilai diri sendiri dengan jujur berdasarkan pengalaman-pengalaman yang dulu pernah dialami. Salah seorang ulama salaf berkata: “Semoga Allah merahmati seorang hamba yang mengetahui nilai (keadaan) dirinya”[15].

Demikianlah, semoga tulisan ini bermanfaat untuk membimbing kita dalam kebaikan bagi diri dan anggota keluarga kita.

وصلى الله وسلم وبارك على نبينا محمد وآله وصحبه أجمعين، وآخر دعوانا أن الحمد لله رب العالمين

Kota  Kendari, 2 Jumadal Akhir 1433 H

Abdullah bin Taslim al-Buthoni

Artikel: www.ibnuabbaskendari.wordpress.com


[1] HR Ahmad (3/407), al-Hakim (4/184) dan al-Bukhari dalam “al-Adabul mufrad” (no. 116 dan 457), dinyatakan shahih oleh al-Hakim, adz-Dzahabi dan al-Albani.

[2] HR ath-Thabarani dalam “al-Mu’jamul ausath” (no. 2340) dan “ash-shagiir” (no. 212), dinyatakan hasan oleh Syaikh al-Albani rahimahullah dalam “Shahiihul jaami’ish shagiir” (no. 3929).

[3] HR ad-Dailami dalam “Musnadul firdaus” (2/334), dinyatakan hasan oleh Syaikh al-Albani rahimahullah dalam “Shahiihul jaami’ish shagiir” (no. 3649).

[4] HSR Muslim (no. 2715).

[5] HSR al-Bukhari (no. 2278) dan Muslim (no. 1829).

[6] Lihat kitab “Ruuhul ma’aani” (11/56).

[7] HSR al-Bukhari (no. 3283) dan Muslim (no. 2766).

[8] Lihat kitab “Bahjatun naazhiriin” (1/62).

[9] HSR al-Bukhari (no. 5214) dan Muslim (no. 2628).

[10] Lihat kitab “Syarhu shahiihi Muslim” (16/178) dan “Faidhul Qadiir” (3/4).

[11] Kitab “Taisiirul Kariimir Rahmaan” (hal. 154).

[12] HR Ahmad (2/43), at-Timidzi (no. 2507) dan Ibnu Majah (no. 4032), dinyatakan hasan oleh imam Ibnu Hajar al-‘Asqalani dalam “Fathul Baari” (10/512) dan dinyatakan shahih oleh Syaikh al-Albani rahimahullah.

[13] Lihat kitab “Tuhfatul ahwadzi” (5/239-240).

[14] HR Ahmad (1/5), Ibnu Majah (no. 4005) dan Ibnu Hibban (no. 305), dinyatakan shahih oleh imam Ibnu Hibban rahimahullah dan Syaikh al-Albani rahimahullah

[15] Dinukil oleh imam al-Qurthubi dalam tafsir beliau rahimahullah (10/79) dan imam Ibnul Qayyim rahimahullah dalam “Madaarijus saalikiin” (2/332).

4 Responses to Memilih Tempat Tinggal Ideal

  1. Ping-balik: Memilih Tempat Tinggal Ideal | ihdinash shirathal mustaqim...

  2. eef mengatakan:

    barakallahu fik

  3. Raja Aidil Angkat mengatakan:

    Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Di antara (bentuk) kebahagiaan (bagi) seorang muslim di dunia adalah (jika dia memiliki): tetangga yang shaleh, tempat tinggal yang lapang dan kendaraan yang nyaman”

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: