Jalan Untuk Meraih Kecintaan Kepada Allah Ta’ala

Syaikh Prof. Dr. ‘Abdur Razzaq bin ‘Abdul Muhsin al-‘Abbad al-Badr

     Segala puji Rabb semesta alam, Yang Maha Menciptakan semua makhluk-Nya lagi Maha Menegakkan langit dan bumi.

Aku memuji Allah atas (semua limpahan) nikmat dan karunia-Nya yang tidak terhingga.

Aku Memuji Allah atas semua nikmat yang dianugerahkan-Nya kepada kita semua, yang lalu maupun sekarang, lahir maupun batin, serta yang khusus maupun umum.

Aku memuji-Nya atas nikmat Islam, Iman dan al-Qur’an, serta nikmat keluarga dan kesehatan.

Aku memuji-Nya dengan pujian yang banyak, baik dan penuh berkah, sebagaimana yang dicintai dan diridhai-Nya.

Aku memuji-Nya dengan segala pujian dan sanjungan yang pantas bagi (kemahasempurnaan)-Nya, dan aku menyanjung-Nya dengan segala kebaikan.

Aku tidak mampu menghitung/membatasi pujian/sanjungan terhadap-Nya, Dia adalah sebagaimana (pujian dan sanjungan) yang Dia peruntukkan bagi diri-Nya sendiri[1].

Aku bersaksi bahwa tidak ada sembahan yang benar kecuali Allah, sebagai persaksian (yang mengandung) penetapan/pengakuan, keimanan dan tauhid (keesaan Allah).

Dan aku bersaksi bahwa Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah hamba Allah dan utusan-Nya, kekasih terdekat dan orang pilihan-Nya, orang yang dipercaya (membawa) wahyu-Nya serta sebaik-baik hamba-Nya.

Semoga shalawat dan kesejahteraan senantiasa tercurahkan kepada beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam, seluruh keluarga dan para sahabat beliau radhiyallahu ‘anhum ajmain.

Amma ba’du,

Kaum muslimin yang dimuliakan Allah, wahai saudara-saudara dan saudari-saudariku yang mulia, wahai orang-orang yang berkumpul di rumah Allah (mesjid) yang diberkahi ini karena mengharapkan sebaik-baik balasan pahala dan anugerah yang besar (dari Allah Ta’ala). Sungguh Allah Yang Maha Pemurah tidak akan mengecewakan (harapan) kalian, (karena) Dia Shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah Maha Pemberi kebaikan dan Maha Dermawan.

Dalam sebuah hadits shahih yang diriwayatkan oleh imam Muslim[2], dari sahabat Mu’awiyah radhiyallahu ‘anhu, beliau berkata: (Suatu hari) Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam keluar (dari rumah beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam) untuk menemui kami (para sahabat), pada waktu kami sedang duduk dan berkumpul di mesjid (Nabawi) untuk mengingat dan menyebut (nikmat Allah Ta’ala), lalu beliau bertanya (kepada kami): “Apakah yang membuat kalian duduk (dan berkumpul di sini)?”. Kami berkata: Kami duduk (dan berkumpul di sini) untuk mengingat Allah serta memuji-Nya atas petunjuk Islam dan semua anugerah yang dilimpahkan-Nya kepada kami. Maka Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bertanya (lagi): “Apakah kalian mau bersumpah dengan nama Allah (bahwa) tujuan kalian duduk (dan berkumpul di sini) hanya untuk itu?”. Maka kami katakan: “Demi Allah, tidak ada tujuan kami duduk (dan berkumpul di sini) selain untuk itu. Maka Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Ketahuilah, sesungguhnya aku tidak meminta kalian bersumpah kerena meragukan (kejujuran) kalian, akan tetapi baru saja malaikat Jibril ‘alaihis salam datang kepadaku dan menyampaikan bahwa sungguh Allah membanggakan (memuji) kalian di hadapan para Malaikat”.

Maka renungkanlah keutamaan dan kebaikan yang besar ini bagi orang yang duduk di majelis/perkumpulan seperti ini, Allah akan menyebut (membanggakan)nya di (hadapan) para Malaikat yang mulia. Ini adalah kemuliaan dan keutamaan yang agung.

Kita memohon kepada Allah agar Dia memberkahi kita semua dalam pertemuan (pengajian) kita ini, menjadikannya ikhlas semata-mata mengharapkan wajah-Nya, dan menjadikannya sebagai sebab kebaikan dan kemuliaan bagi kita semua untuk (selalu) menghadapkan diri (kepada-Nya) dan memberikan perhatian untuk (mengamalkan) ketataan dan perbuatan yang mendekatkan diri kita kepada-Nya.

Kaum muslimin yang dimuliakan Allah,

Pertemuan (pengajian) kita ini adalah pertemuan kedua. Pada waktu pertemuan kita yang pertama, sekitar dua tahun yang lalu, di tempat ini aku telah sampaikan bahwa aku mencintai kalian semua (karena Allah). Dan termasuk sunnah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, jika seorang muslim mencintai saudaranya (karena Allah) maka hendaknya dia menyampaikan hal itu kepada saudaranya tersebut[3]. Maka saat ini aku sampaikan sekali lagi bahwa aku mencintai kalian semua (karena Allah).

Bagaimana mungkin aku tidak mencintai kalian semua (karena Allah), wahai saudara-saudaraku yang mulia, padahal yang mengumpulkan kalian di tempat ini adalah rasa cinta kepada Allah dan mengharapkan ridha-Nya, meskipun aku tidak menganggap suci seorang di hadapan-Nya.

Pertemuan seperti ini dihadiri oleh orang-orang yang ingin meraih kecintaan kepada Allah dan mengharapkan keridhaan-Nya.

Maka aku memohon kepada Allah agar Dia tidak meluputkan (kebaikan dalam) pertemuan kita ini. Ya Allah, kami semua memohon kepada-Mu agar Engkau menganugerahkan kepada kami kecintaan kepada-Mu, kepada orang-orang yang mencintai-Mu dan kecintaan kepada (semua) amal perbuatan yang mendekatkan diri kami kepada kecintaan kepada-Mu”[4].

Ya Allah, jadikanlah kecintaan kami kepada-Mu lebih kami utamakan dari pada (kecintan kami) terhadap diri kami sendiri, keluarga kami dan harta kami, bahkan lebih dari (kecintan kami) kepada air dingin (yang sejuk) ketika sangat kehausan.

Kaum mukminin,

Sesungguhnya cinta kepada Allah adalah tingkatan hamba-hamba Allah yang paling agung dan kedudukan yang paling tinggi bagi orang-orang yang menempuh jalan Allah.

Maka amal shaleh yang paling mulia dan sifat yang paling utama (dalam Islam) adalah mencintai Allah Yang Maha Agung lagi Maha Memiliki kemuliaan dan kesempurnaan. Mencintai Allah Yang tidak ada sembahan yang benar kecuali Dia, Yang Maha Mengetahui perkara yang gaib maupun yang tampak, Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Mencintai Allah Yang tidak ada sembahan yang benar kecuali Dia, Maha Memiliki (alam semesta beserta isinya), Maha Suci, Maha Sejahtera, Maha Mengaruniakan keamanan, Maha Memelihara dan Mengawasi, Maha Perkasa, Maha Kuasa, lagi Maha Memiliki segala keagungan. Mencintai Allah Yang Maha Menciptakan, Maha Mengadakan, Maha Membentuk rupa, Maha Perkara, lagi Maha Memiliki hukum dan hikmah. Mencintai Allah Yang menciptakan kita semua dari ketiadaan, kemudian Dia menganugerahkan kepada kita (berbagai macam) nikmat yang agung dan karunia yang besar, yang tidak terbatas dan tidak terhitung (jumlahnya).

Kaum mukminin,

Sesungguhnya cinta kepada Allah adalah ruh (inti) agama Islam, makanan (pokok bagi) hati, obat (penyembuh bagi) jiwa, landasan (utama) kebahagiaan hidup dan penopang keimanan (bagi seorang hamba).

Inilah kehidupan yang sebenarnya, barangsiapa yang tidak memilikinya maka dia termasuk orang-orang yang mati (di hadapan Allah), meskipun dia mampu berjalan dan beraktifitas dengan anggota badannya di muka bumi ini. Barangsiapa yang kehilangan ini maka dia termasuk orang-orang yang rugi.

Maka inilah keberuntungan yang hakiki dan sangat merugi orang-orang yang tidak memilikinya.

Inilah obat penyembuh (penyakit hati) yang sebenarnya, barangsiapa yang tidak memilikinya maka hatinya akan ditimpa berbagai macam penyakit dan keburukan.

Inilah kenikmatan (hidup) yang sesungguhnya, barangsiapa yang tidak memilikinya maka dia akan diliputi berbagai macam kegalauan, kegundahan dan hal-hal yang menyusahkan (pikirannya).

Saudara-saudaraku kaum muslimin,

Cinta kepada Allah adalah pendorong (bagi manusia) untuk melakukan amal-amal shaleh, penolong (bagi mereka) untuk meraih (kedudukan-kedudukan) yang sempurna (dalam Islam), yang akan membawa mereka untuk meraih kedudukan yang tinggi dan sifat-sifat yang mulia.

Maka alangkah agung kedudukannya, alangkah besar manfaat dan faidahnya, alangkah banyak kebaikan dan keberkahannya, serta alangkah tingginya kenikamtan dan kemuliaan yang diraih oleh orang-orang yang sungguh-sungguh mencintai Allah, berupa berbagai macam keutamaan dan keberkahan yang agung dalam kehidupan dunia, dan ketika hari perjumpaan dengan Allah Yang Maha Menguasai (alam semesta beserta isinya) lagi Maha Mengetahui.

Dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh imam at-Tirmidzi, Rasulullah Shallalahu ‘alaihi wa sallam memohon dalam doa beliau Shallalahu ‘alaihi wa sallam:

“(Ya Allah) aku memohon kepada-Mu kecintaan kepada-Mu, kecintaan kepada orang-orang yang mencintai-Mu dan kecintaan kepada amal perbuatan yang mendekatkan diriku kepada kecintaan kepada-Mu”[5].

Doa ini sepantasnya untuk kita hafalkan dan selalu kita ucapkan (dalam permohonan-permohonan kita kepada Allah).

Barangsiapa yang mencintai Allah maka Allahpun mencintainya, dan jika Allah telah mencintai seorang hamba maka Dia kan menjaganya, menolongnya, melimpahkan taufik kepadanya, meluruskannya, mengabulkan doanya, melindunginya, serta memudahkannya dicintai dan diterima (oleh semua makhluk yang ada) di langit dan di bumi.

Imam al-Bukhari meriwayatkan dalam kitab “Shahih al-Bukhari”[6] dari sahabat Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, bahwa Rasulullah Shallalahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Sesungguhnya Allah berfirman: “Barangsiapa yang memusuhi kekasih-Ku maka sungguh Aku telah mengumumkan peperangan (kebinasaan) baginya, dan tidaklah seorang hamba mendekatkan diri (beribadah) kepada-Ku dengan suatu (amal) yang lebih Aku cintai dari pada (amal) yang Aku wajibkan baginya. Kemudian senantiasa hamba-Ku itu mendekatkan diri kepada-Ku dengan an-nawaafil (amal-amal yang bersifat anjuran dan sunnah), sehingga Akupun mencintainya. Maka jika Aku mencintainya, Akulah yang membimbing/meluruskan pendengarannya ketika dia mendengar, penglihatannya ketika dia melihat, tangannya ketika dia berbuat dan kakinya ketika dia melangkah. Jika dia memohon kepada-Ku maka sungguh Aku akan mengabulkan (permohonannya) dan jika dia meminta perlindungan kepada-Ku maka sungguh Aku akan melindunginya”.

Artinya: Allah akan selalu membimbing dan meluruskanya dalam semua ucapan dan perbuatannya, menjaganya dalam semua anggota tubuh dan panca inderanya, mengabulkan doanya, melindunginya serta menjaganya dari tipudaya dan kejahatan makhluk-makhluk yang jahat.

Imam al-Bukhari juga meriwayatkan dalam kitab “Shahih al-Bukhari”[7] dari sahabat Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, bahwa Rasulullah Shallalahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Sesungguhnya Allah jika Dia mencintai seorang hamba maka Dia akan memanggil malaikat Jibril ‘alaihis salam, lalu Dia berfirman (kepada Jibril ‘alaihis salam): “Sesungguhnya Aku mencintai (hamba-Ku) si Fulan, maka cintailah dia!”. Maka Jibril ‘alaihis salam pun mencintainya, kemudian dia menyeru kepada (semua malaikat) penghuni langit: “Sesungguhnya Allah mencintai (hamba-Nya) si Fulan, maka cintailah dia!”. Maka (semua malaikat) penghuni langit pun mencintainya, kemudian Allah menjadikannya diterima (dicintai oleh orang-orang yang beriman) di muka bumi”.

Inilah makna firman Allah Ta’ala:

{إِنَّ الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ سَيَجْعَلُ لَهُمُ الرَّحْمَنُ وُدًّا}

“Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan beramal shaleh, kelak Allah Yang Maha Pengasih akan menganugerahkan bagi mereka kecintaan (di hati orang-orang yang beriman kepada mereka)”  (QS Maryam: 96).

Yang dimaksud dengan cinta kepada Allah yang demikian agung dan tinggi keutamaannya adalah cinta kepada Allah yang mengandung konsekwensi penghambaan diri, ketundukan dan ketaatan (kepada-Nya), dengan menjalankan segala perintah-Nya (dan menjauhi larangan-Nya). Bukanlah yang dimaksud (di sini) hanya sekedar pengakuan cinta (tanpa bukti). Karena kalau hanya sekedar pengakuan cinta maka itu mudah dan ringan diucapkan oleh setiap orang. Sampai-sampai orang-orang Yahudi yang mereka adalah saudara para monyet dan babi, mereka (mengaku-aku dengan) mengatakan: “Kami adalah anak-anak Allah dan kekasih-kekasih-Nya”[8].

Maka masing-masing orang bisa dengan mudah mengaku cinta kepada Allah, tapi bukanlah yang menjadi ukuran (kebenaran) dengan sekedar pengakuan, karena pengakuan yang tidak disertai bukti nyata adalah sekedar pengakuan (yang tidak bisa diterima).

Oleh karena itu, yang dimaksud dengan cinta kepada Allah yang demikian agung faidah dan pengaruh positifnya adalah cinta kepada Allah yang mengandung konsekwensi penghambaan diri, ketundukan, ketaatan kepada Allah, mengikhlaskan agama bagi-Nya dan tidak menyamakan Allah dengan selain-Nya dalam kecintaan (seorang hamba).

Allah Ta’ala berifrman (tentang keadaan) orang-orang yang berbuat syirik (menyekutukan Allah):

{وَمِنَ النَّاسِ مَنْ يَتَّخِذُ مِنْ دُونِ اللَّهِ أَنْدَادًا يُحِبُّونَهُمْ كَحُبِّ اللَّهِ وَالَّذِينَ آمَنُوا أَشَدُّ حُبًّا لِلَّه}

“Dan di antara manusia ada orang-orang yang menyembah tandingan-tandingan selain Allah, mereka mencintai tandingan-tandingan tersebut seperti mencintai Allah. Dan orang-orang yang beriman lebih kuat kecintaan mereka kepada Allah” (QS al-Baqarah: 165).

Hal ini dikarenakan orang-orang yang beriman mencintai Allah dengan kecintaan yang murni, sedangkan orang-orang yang berbuat syirik, (kalau benar) mereka mencintai Allah, akan tetapi mereka tidak memurnikan kecintaan mereka kepada Allah (semata-mata), bahkan mereka menyekutukan Allah dalam kecintaan tersebut. Oleh karena itulah mereka berdoa (memohon), meminta pertolongan, menyembelih (kurban) dan bersandar/berlindung kepada selain Allah. Adapun orang-orang yang mencintai Allah dengan kecintaan yang murni dan mengandung konsekwensi penghambaan diri, maka sungguh dia tidak akan menyerahkan satu bentuk ibadahpun kecuali hanya kepada Allah. Sebagaimana firman Allah:

{قُلْ إِنَّ صَلاتِي وَنُسُكِي وَمَحْيَايَ وَمَمَاتِي لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ. لا شَرِيكَ لَهُ وَبِذَلِكَ أُمِرْتُ وَأَنَا أَوَّلُ الْمُسْلِمِينَ}

“Katakanlah: “Sesungguhnya shalatku, sembelihanku, serta hidup dan matiku hanya (semata-mata) untuk Allah Rabb semesta alam. Tiada sekutu bagi-Nya, demikianlah yang diperintahkan kepadaku dan aku adalah orang yang pertama-tama menyerahkan diri (kepada Allah)” (QS al-An’aam: 162-163).

Saudara-saudaraku kaum mukminin,

Oleh karena itu, dalam al-Qur’an Allah menuntut orang yang mengaku mencintai-Nya untuk menunjukkan bukti atas pengakuannya itu. Imam ahli tafsir yang ternama, Ibnu Katsir menyebutkan dalam kitab tafsir beliau, dari imam al-Hasan al-Bashri – semoga Allah merahmati beliau – bahwa beliau berkata: “Adasekelompok orang yang mengaku-aku dengan mengatakan: Sesungguhnya kami mencintai Allah dengan kecintaan yang kuat. Maka Allah menurunkan firman-Nya:

{قُلْ إِنْ كُنْتُمْ تُحِبُّونَ اللَّهَ فَاتَّبِعُونِي يُحْبِبْكُمُ اللَّهُ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَاللَّهُ غَفُورٌ رَحِيمٌ}

“Katakanlah: Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, maka ikutilah (sunnah/petunjuk)ku, niscaya Allah mencintaimu dan mengampuni dosa-dosamu, Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang” (QS Ali ‘Imran:31)”[9].

Oleh karena itu, para ulama menamakan ayat yang mulia ini sebagai ayatul mihnah (ayat untuk menguji benar atau tidaknya pengakuan kecintaan kepada Allah). Ini berarti bahwa setiap orang yang mengaku mencintai Allah maka harus dilihat amal perbuatannya; apakah dia mengikuti (petunjuk dan sunnah) Rasulullah Shallalahu ‘alaihi wa sallam (atau tidak). Kalau dia (benar-benar) mengikuti (petunjuk dan sunnah) Rasulullah Shallalahu ‘alaihi wa sallam dan berjalan di atas jalan beliau Shallalahu ‘alaihi wa sallam yang lurus, maka ini merupakan bukti nyata dan pertanda jelas yang menunjukkan benarnya pengakuan cinta (kepada Allah). Oleh karena itu, (sehubungan dengan hal ini) ada ungkapan yang berbunyi:

“Bukanlah yang menjadi perhatian penting bagaimana kamu mencintai, tapi yang menjadi perhatian penting (adalah) bagaimana kamu dicintai (oleh Allah)”.

Allah tidak akan mencintai seorang hamba hanya dengan pengakuan semata (tanpa bukti), akan tetapi seorang hamba hanya akan meraih kecintaan Allah dengan (melaksanakan) ketaatan (kepada-Nya), mengikuti dan meneladani petunjuk Rasul-Nya yang mulia Shallalahu ‘alaihi wa sallam, juga dengan mengikhlaskan agama bagi Allah semata-mata dan melakukan amal-amal shaleh (yang bersumber) dari (petunjuk) Rasulullah Shallalahu ‘alaihi wa sallam.

Oleh karena itu, kita dapati dalam (ayat-ayat) al-Qur’an dan hadits-hadits Rasulullah Shallalahu ‘alaihi wa sallam penyebutan banyak amal-amal shaleh yang redaksinya menjelaskan kecintaan Allah  bagi orang-orang yang melakukan amal-amal tersebut. Misalnya firman Allah:

{إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ التَّوَّابِينَ وَيُحِبُّ الْمُتَطَهِّرِينَ}

“Sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang selalu bertaubat dan orang-orang yang selalu mensucikan diri mereka” (QS al-Baqarah: 222).

Dan ayat-ayat lain yang semakna dengan ayat di atas banyak (terdapat) di dalam al-Qur’an.

Saudara-saudaraku yang mulia,

Perbedaan antara kecintaan (kepada Allah) yang benar dan kecintaan (kepada Allah) yang hanya pengakuan (tanpa bukti) adalah bahwa kecintaan yang benar akan membuahkan amal shaleh, ketaatan dan ketundukan kepada syariat Allah dalam kehidupan di dunia. Adapun di akhirat kelak, maka buah dan balasannya sangat agung, yaitu dengan mereka (orang-orang yang mencintai Allah dengan benar) meraih surga-Nya, diselamatkan dari (siksa) neraka, serta mendapatkan kenikmatan melihat Allah dan memandang wajah-Nya yang maha mulia, tanpa ada bahaya yang mencelakakan dan fitnah yang menyesatkan[10].

Adapun kecintaan (kepada Allah) yang hanya (berupa) pengakuan (tanpa bukti), maka ini tidaklah membuahkan amal shaleh dan ketaatan (kepada Allah). Bahkan orang-orang yang mengaku memilikinya (sering) melalaikan kewajiban-kewajiban (dalam agama Islam), malas beribadah serta suka melakukan perbuatan maksiat dan dosa.

Sebelumnya telah kami sampaikan sebuah hadits qudsi, bahwa Allah berfirman: “Tidaklah seorang hamba mendekatkan diri (beribadah) kepada-Ku dengan suatu (amal) yang lebih Aku cintai dari pada (amal) yang Aku wajibkan baginya. Kemudian senantiasa hamba-Ku itu mendekatkan diri kepada-Ku dengan an-nawaafil (amal-amal yang bersifat anjuran dan sunnah), sehingga Akupun mencintainya”.

Maka yang menjadi penilaian di sini bukanlah sekedar pengakuan, akan tetapi kesungguhan dalam beramal shaleh, mengamalkan kewajiban-kewajiban dalam Islam, serta menjauhkan diri dari perbuatan dosa dan maksiat, kemudian berlomba-lomba dalam melakukan amal-amal yang bersifat anjuran (sunnah), untuk meraih kesempurnaan dan kedudukan yang tinggi (di sisi Allah).

Kecintaan yang benar (kepada Allah) memiliki rasa manis dan lezat yang tidak mungkin dirasakan oleh orang-orang yang mengaku mencintai-Nya (tanpa bukti).

Dalam hadits shahih riwayat imam al-Bukhari dan Muslim, Rasulullah Shallalahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Ada tiga sifat, barangsiapa yang memilikinya maka dia akan merasakan manisnya iman (kesempurnaan iman); menjadikan Allah dan rasul-Nya lebih dicintai daripada (siapapun) selain keduanya, mencintai orang lain semata-mata karena Allah, dan merasa benci (enggan) untuk kembali kepada kekafiran setelah diselamatkan oleh Allah sebagaimana enggan untuk dilemparkan ke dalam api”[11].

(Dalam hadits lain), Rasulullah Shallalahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Akan merasakan kelezatan/kemanisan iman, orang yang ridha kepada Allah sebagai Rabbnya dan Islam sebagai agamanya serta (nabi) Muhammad Shallalahu ‘alaihi wa sallam sebagai rasulnya”[12].

Saudara-saudaraku yang mulia,

Di saat tersebar luasnya berbagai macam fitnah (kerusakan), banyaknya hal-hal yang melalaikan (manusia dari mengingat Allah), terbuka lebarnya pintu-pintu syahwat, dan timbulnya berbagai bentuk kerancuan (dalam memahami Islam), maka kecintaan kepada Allah (pada saai seperti ini) akan melemah bahkan bisa jadi memudar.

Terlebih lagi karena manusia mempunyai musuh yang bisa melihat mereka, tapi mereka tidak bisa melihatnya, yaitu Setan (Iblis), semoga Allah melindungi kita semua darinya. Setan yang terkutuk ini tidak menginginkan seorang hamba bisa mencintai Allah atau meraih kecintaan dari-Nya. Oleh sebab itu, Setan dan bala tentaranya, baik dari kalangan jin maupun manusia, selalu berusaha dan berupaya terus-menerus untuk memalingkan manusia dari kedudukan dan anugerah yang mulia ini. Maka Setan selalu berupaya dengan sungguh-sungguh untuk memalingkan dan menyesatkan manusia (dari jalan Allah). Allah berfirman:

{وَإِذْ قُلْنَا لِلْمَلَائِكَةِ اسْجُدُوا لِآَدَمَ فَسَجَدُوا إِلَّا إِبْلِيسَ قَالَ أَأَسْجُدُ لِمَنْ خَلَقْتَ طِينًا. قَالَ أَرَأَيْتَكَ هَذَا الَّذِي كَرَّمْتَ عَلَيَّ لَئِنْ أَخَّرْتَنِ إِلَى يَوْمِ الْقِيَامَةِ لَأَحْتَنِكَنَّ ذُرِّيَّتَهُ إِلاَّ قَلِيلاً. قَالَ اذْهَبْ فَمَنْ تَبِعَكَ مِنْهُمْ فَإِنَّ جَهَنَّمَ جَزَاؤُكُمْ جَزَاءً مَوْفُورًا. وَاسْتَفْزِزْ مَنِ اسْتَطَعْتَ مِنْهُمْ بِصَوْتِكَ وَأَجْلِبْ عَلَيْهِمْ بِخَيْلِكَ وَرَجِلِكَ وَشَارِكْهُمْ فِي الْأَمْوَالِ وَالْأَوْلَادِ وَعِدْهُمْ وَمَا يَعِدُهُمُ الشَّيْطَانُ إِلَّا غُرُورًا. إِنَّ عِبَادِي لَيْسَ لَكَ عَلَيْهِمْ سُلْطَانٌ وَكَفَى بِرَبِّكَ وَكِيلاً}

“Dan (ingatlah), tatkala Kami berfirman kepada malaikat: “Sujudlah kamu semua kepada Adam”, lalu mereka sujud kecuali iblis, dia berkata:”Apakah aku akan sujud kepada orang yang Engkau ciptakan dari tanah?”. Dia (iblis) berkata: “Terangkanlah kepadaku inikah (makhluk) yang Engkau muliakan atas diriku? Sungguh jika Engkau memberi tangguh kepadaku sampai hari kiamat, niscaya benar-benar akan aku sesatkan keturunannya, kecuali sebahagian kecil (dari mereka)”. Allah berfirman: “Pergilah kamu, maka barangsiapa di antara mereka yang mengikutimu, maka sungguh neraka Jahannam adalah balasan bagi kalian semua, sebagai suatu pembalasan yang cukup. Dan hasunglah siapa yang kamu sanggupi di antara mereka dengan ajakanmu, dan kerahkanlah terhadap mereka pasukan berkuda dan pasukanmu yang berjalan kaki dan berserikatlah dengan mereka pada harta dan anak-anak, serta berilah janji mereka. Dan tidak ada yang dijanjikan oleh syaitan kepada mereka melainkan tipuan belaka. Sesungguhnya hamba-hambaku, kamu tidak dapat berkuasa atas mereka. Dan cukuplah Rabbmu sebagai Penolong” (QS al-Israa’: 61-65).

Di saat tersebar luasnya berbagai macam fitnah (kerusakan), termasuk sarana-sarana modern (yang merusak) di jaman ini, berupa (terbukanya) banyak pintu kerusakan dan keburukan yang tidak didapati di jaman yang lalu. Yaitu (dengan keberadaan) saluran-saluran televisi (yang merusak) dan situs-situs internet (yang buruk), bahkan (ada) yang sampai langsung kepada kita melalui alat elektronik yang bisa dibawa kemana-mana dan diletakkan di dalam saku (seperti handphone dan lain-lain).

Acara-acara dan situs-situs buruk tersebut (yang menyebarluaskan) penyakit buruk yang menular, kerusakan, fitnah, syahwat, kerancuan pemahaman, menyiarkan kerusakan akhlak dan moral, semua ini tentu saja kemunculannya dipelopori dan didukung oleh Setan (Iblis). Bahkan Iblis tidak pernah berhenti sejenakpun untuk (menyebarkan) tipu daya, kerusakan, perangkap dan godaannya (melalui media-media tersebut), karena jangkauan penyebarannya sangat luas dan pengaruh buruknya (terhadap manusia) sangat besar.

Oleh karena itu, di saat tersebar luasnya berbagai macam kerusakan ini, seorang mukmin yang benar (dalam mencintai Allah) butuh (wajib) untuk sungguh-sungguh menjaga kecintaannya kepada Allah, yang ini merupakan miliknya yang paling mahal dan berharga, agar tidak hilang darinya (karena terjerumus) di tempat-tempat keburukan dan kerusakan tersebut. Hal ini dikarenakan tempat-tempat tersebut jika seseorang membiarkan dirinya mengikuti dan mendengarkan apa yang ditampilkannya, maka hatinya akan rusak, kecintaannya kepada Allah akan melemah, dan mengobarkan dalam dirinya kecintaan kepada nafsu syahwat dan kehinaan.

Sehingga yang tadinya hatinya dipenuhi dengan kecintaan dan pengagungan terhadap Allah, berganti menjadi hati yang dipenuhi dengan kerusakan dan kecintaan kepada nafsu syahwat, maka diapun selalu mengikuti (keinginan) nafsu syahwat dan mendatangi tempat-tempatnya. Yang tadinya hatinya mencintai rumah-rumah Allah dan ketaatan kepada-Nya, berganti menjadi pecinta kerendahan, keburukan dan kerusakan.

Maka semua ini menuntut seorang mukmin yang benar (dalam mencintai Allah) untuk (sunguh-sungguh) berusaha menjaga dan membentengi kecintaannya kepada Allah agar tidak hilang (dari hatinya), dengan memohon pertolongan kepada Rabb-nya (Allah) dan bersungguh-sungguh melawan hawa nafsunya. Allah berfirman:

{وَالَّذِينَ جَاهَدُوا فِينَا لَنَهْدِيَنَّهُمْ سُبُلَنَا وَإِنَّ اللَّهَ لَمَعَ الْمُحْسِنِينَ}

“Dan orang-orang yang berjuang dengan sungguh-sungguh (dalam menundukkan hawa nafsu) untuk (mencari keridhaan) Kami, benar-benar akan Kami berikan hidayah kepada mereka (dalam menempuh) jalan-jalan Kami. Dan sesungguhnya Allah benar-benar beserta orang-orang yang berbuat baik” (QS al-‘Ankabuut: 69).

Saudara-saudaraku yang mulia,

Jika seorang manusia mau mengikuti (keburukan-keburukan) yang memalingkan dan menyibukkannya (dari kebaikan), lalu melakukan hal-hal buruk dan rusak yang diserukan oleh media-media tersebut, maka tentu ini akan merusak kecintaannya kepada Allah, bahkan bisa hilang dari hatinya. Karena kecintaan yang benar membuahkan ketaatan kepada Allah. Adapun jika seorang manusia selalu melakukan hal-hal yang buruk dan hina, serta jauh dari ketaatan kepada Allah, kemudian dia menipu dirinya sendiri dengan mengaku bahwa dia mencintai Allah, maka ini adalah pengakuan yang palsu, sebagaimana ungkapan seoang penyair:

Kamu berbuat maksiat terhadap Allah, sedangkan kamu mengaku mencintai-Nya

     Maka sungguh ini sangat buruk dalam penilaian

Seandainya kecintaanmu benar maka niscaya kamu akan mentaati-Nya

     Karena sungguh orang yang mencintai akan mentaati kekasihnya

Kemudian jika sarana-sarana (buruk tersebut) telah menyibukkan dan memalingkan manusia (dari kebaikan), maka tentu mereka sangat butuh untuk kembali dengan sebenarnya kepada Allah dan bersungguh-sungguh melakukan (sebab-sebab) untuk meraih keridhaan-Nya, serta menjauhkan diri mereka dari sebab-sebab yang mendatangkan kemurkaan-Nya kepada mereka.

Maka manusia butuh untuk mengingat dan merenungkan kembali sebab-sebab yang melahirkan dan menumbuhkan kecintaan kepada Allah dalam hati mereka. Agar kebenaran tetap ada dan kebatilan/keburukan tersingkir (dari diri manusia). Allah berfirman:

{وَقُلْ جَاءَ الْحَقُّ وَزَهَقَ الْبَاطِلُ، إِنَّ الْبَاطِلَ كَانَ زَهُوقًا}

“Dan katakanlah:”Yang benar telah datang dan yang batil telah lenyap”. Sesungguhnya yang batil itu adalah sesuatu yang pasti lenyap” (QS al-Israa’: 81).

Saudara-saudaraku yang mulia,

Majelis pengajian kita ini adalah mejelis untuk saling mengingatkan, tolong menolong (dalam kebaikan), dan menjelaskan beberapa perkara agung yang merupakan sebab tumbuhnya kecintaan kepada Allah dalam hati kita.

Oleh karena itu, aku mengajak kepada diriku sendiri dan saudara-saudaraku (sekalian) untuk menyimak dan memperhatikan baik-baik (penjelasan yang akan kami sampaikan nanti, insya Allah). Allah berfirman:

{إِنَّ فِي ذَلِكَ لَذِكْرَى لِمَنْ كَانَ لَهُ قَلْبٌ أَوْ أَلْقَى السَّمْعَ وَهُوَ شَهِيدٌ}

“Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat peringatan (pelajaran) bagi orang-orang yang mempunyai hati atau yang mengkonsentrasikan pendengarannya, sedang dia menghadirkan (hati)nya” (QS Qaaf: 37).

Sebab-sebab yang menumbuhkan kecintaan kepada Allah

1- Memberikan perhatian yang benar kepada al-Qur’an al-karim, wahyu Allah yang diturunkan-Nya (kepada umat manusia) dan (disifati-Nya dalam firman-Nya):

{لا يَأْتِيهِ الْبَاطِلُ مِنْ بَيْنِ يَدَيْهِ وَلا مِنْ خَلْفِهِ تَنزيلٌ مِنْ حَكِيمٍ حَمِيدٍ}

“Yang tidak ada padanya (al-Qur’an) kebatilan baik dari depan maupun dari belakangnya, yang diturunkan dari (Allah) Yang Maha Bijaksana lagi Maha Terpuji” (QS Fushshilat: 42).

Memberikan perhatian yang benar kepada al-Qur’an dengan (selalu) membacanya, memahami (kandungan)nya dan mengamalkan (isi)nya. Allah berfirman:

{كِتَابٌ أَنزلْنَاهُ إِلَيْكَ مُبَارَكٌ لِيَدَّبَّرُوا آيَاتِهِ وَلِيَتَذَكَّرَ أُولُو الألْبَابِ}

“(al-Qur’an adalah) kitab yang kami turunkan kepadamu, penuh dengan berkah, supaya manusia merenungkan (kandungan) ayat-ayatnya dan supaya mendapat pelajaran orang-orang yang mempunyai pikiran” (QS Shaad: 29).

Allah juga berfirman:

{أَفَلا يَتَدَبَّرُونَ الْقُرْآنَ وَلَوْ كَانَ مِنْ عِنْدِ غَيْرِ اللَّهِ لَوَجَدُوا فِيهِ اخْتِلافًا كَثِيرًا}

“Apakah mereka tidak merenungkan (kandungan) al-Qur’an? Kalau sekiranya al-Qur’an itu bukan dari sisi Allah, tentulah mereka mendapat pertentangan yang banyak di dalamnya. (QS an-Nisaa’: 82).

(Dalam ayat lain) Allah berfirman:

{أَفَلا يَتَدَبَّرُونَ الْقُرْآنَ أَمْ عَلَى قُلُوبٍ أَقْفَالُهَا}

“Apakah mereka tidak merenungkan (kandungan) al-Qur’an ataukah hati mereka telah terkunci?” (QS Muhammad: 24).

Dan Allah berfirman:

{وَإِذَا مَا أُنزلَتْ سُورَةٌ فَمِنْهُمْ مَنْ يَقُولُ أَيُّكُمْ زَادَتْهُ هَذِهِ إِيمَانًا فَأَمَّا الَّذِينَ آمَنُوا فَزَادَتْهُمْ إِيمَانًا وَهُمْ يَسْتَبْشِرُونَ}

“Dan apabila diturunkan suatusurat, maka di antara mereka (orang-orang munafik) ada yang berkata: “Siapa di antara kamu yang bertambah imannya dengan (turunnya)suratini?”. Adapun orang yang beriman, makasuratini menambah imannya, sedang mereka merasa gembira” (QS at-Taubah: 124).

Ketika anda membaca al-Qur’an, satu ayat, satu surat, atau satu juz, maka janganlah yang menjadi perhatianmu (sekedar) menyelesaikannya dengan cepat, akan tetapi (jadikanlah) perhatianmu untuk memahami makna dan kandungannya, serta mengamalkan perintah Allah di dalamnya. Karena sungguh al-Qur’an diturunkan untuk diamalkan (hukum-hukumnya).

Oleh karena itu, jika anda membaca suatu ayat (dalam al-Qur’an) yang di dalamnya terdapat perintah Allah, larangan-Nya atau berita dari-Nya, maka tetapkanlah (dalam) dirimu untuk mengamalkan semua perintah-Nya, menjauhi semua larangan-Nya dan membenarkan semua berita dari-Nya, supaya anda termasuk (ke dalam golongan) ahli al-Qur’an, yang mereka itu adalah orang-orang yang dicintai dan diistimewakan oleh Allah[13].

2- Memberikan perhatian untuk memahami nama-nama Allah yang maha indah (al-Asma-ul husna) dan sifat-sifat-Nya yang maha tinggi/sempurna.

Allah berfirman:

{وَلِلَّهِ الأسْمَاءُ الْحُسْنَى فَادْعُوهُ بِهَا وَذَرُوا الَّذِينَ يُلْحِدُونَ فِي أَسْمَائِهِ سَيُجْزَوْنَ مَا كَانُوا يَعْمَلُونَ}

“Hanya milik Allah-lah al-Asma-ul husna (nama-nama yang maha indah), maka berdoalah kepada-Nya dengan nama-nama itu, dan tinggalkanlah orang-orang yang menyimpang (dari kebenaran) dalam (menyebut dan memahami) nama-nama-Nya. Nanti mereka akan mendapat balasan terhadap apa yang telah mereka lakukan” (QS al-A’raaf:180).

Allah juga berfirman:

{قُلْ ادْعُوا اللَّهَ أَوِ ادْعُوا الرَّحْمَنَ أَيًّا مَا تَدْعُوا فَلَهُ الأسْمَاءُ الْحُسْنَى}

“Katakanlah: “Serulah Allah atau serulah ar-Rahman”, dengan nama yang mana saja kamu seru, maka Dia mempunyai al-Asma-ul husna (nama-nama yang maha indah)” (QS al-Israa’: 110).

Dalam sebuah hadits yang shahih, Rasulullah Shallalahu ‘alaihi wa sallam memberi kabar gembira kepada seorang shahabat radhiyallahu ‘anhum ajmain yang selalu membaca surat al-Ikhlas (yang mengandung penjelasan nama-nama dan sifat-sifat Allah), dan shahabat tersebut berkata: Aku mencintai surat ini karena surat ini (menjelaskan tentang) sifat ar-Rahman (Allah). Maka Rasulullah Shallalahu ‘alaihi wa sallamv bersabda: “Sampaikan kepadanya bahwa sungguh Allah mencintainya”[14].

Semakin bertambah perhatian seorang hamba untuk memahami kandungan nama-nama Allah yang maha indah dan sifat-sifat-Nya yang maha tinggi/sempurna, dengan pemahaman yang benar dan sesuai dengan metode (pemahaman) Ahlus sunnah wal jama’ah, yaitu para shahabat Rasulullah r dan orang-orang yang mengikuti jalan mereka dengan baik, maka dengan itu akan bertambah pengetahuannya tentang Allah. Barangsiapa yang paling mengetahui/ mengenal Allah maka dialah yang paling takut kepada-Nya, paling senang beribadah kepada-Nya dan paling jauh dari berbuat maksiat kepada-Nya. Allah berfirman:

{إِنَّمَا يَخْشَى اللَّهَ مِنْ عِبَادِهِ الْعُلَمَاءُ}

“Sesungguhnya yang takut kepada Allah diantara hamba-hamba-Nya, hanyalah orang-orang yang berilmu (mengenal Allah)” (QS Faathir:28).

3- Memohon pertolongan kepada Allah, banyak berdoa dan bersungguh-sungguh memohon kepada-Nya.

Allah berfirman:

{وَإِذَا سَأَلَكَ عِبَادِي عَنِّي فَإِنِّي قَرِيبٌ، أُجِيبُ دَعْوَةَ الدَّاعِ إِذَا دَعَانِ، فَلْيَسْتَجِيبُوا لِي وَلْيُؤْمِنُوا بِي لَعَلَّهُمْ يَرْشُدُونَ}

“Dan jika hamba-hamba-Ku, maka (jawablah) bahwa sesungguhnya Aku Maha Dekat, Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila ia memohon kepada-Ku. Maka hendaklah mereka memenuhi (segala perintah)-Ku dan beriman kepada-Ku, agar mereka selalu berada dalam petunjuk” (al-Baqarah: 186).

Allah juga berfirman:

{وَقَالَ رَبُّكُمُ ادْعُونِي أَسْتَجِبْ لَكُمْ إِنَّ الَّذِينَ يَسْتَكْبِرُونَ عَنْ عِبَادَتِي سَيَدْخُلُونَ جَهَنَّمَ دَاخِرِينَ}

“Dan Rabbmu berfirman: “Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Ku-kabulkan bagimu (permohonanmu). Sesungguhnya orang-orang yang menyombongkan diri dari menyembah-Ku akan masuk neraka Jahannam dalam keadaan hina dina” (QS al-Mu’min: 60).

Dan Allah berfirman:

{إِنَّ رَبِّي لَسَمِيعُ الدُّعَاءِ}

“Sesungguhnya Rabbku, benar-benar Maha Mendengar (memperkenankan) doa” (QS Ibrahim: 39).

Doa-doa yang bersumber dari (hadits-hadits Rasulullah Shallalahu ‘alaihi wa sallam) dalam pembahasan ini banyak sekali, di antaranya:

– Doa yang telah kami sebutkan sebelum ini:

“(Ya Allah) aku memohon kepada-Mu kecintaan kepada-Mu, kecintaan kepada orang-orang yang mencintai-Mu dan kecintaan kepada amal perbuatan yang mendekatkan diriku kepada kecintaan kepada-Mu”[15].

– Doa yang diajarkan oleh Nabi Shallalahu ‘alaihi wa sallam kepada Mu’adz bin Jabal radhiyallahu ‘anhu, Nabi Shallalahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Wahai Mu’adz, sesungguhnya aku mencintaimu (karena Allah), janganlah kamu tinggalkan di akhir setiap shalat untuk kamu ucapkan doa: “Ya Allah, tolonglah aku untuk (selalu) berzikir, bersyukur dan beribadah dengan sebenarnya kepada-Mu”[16].

– Doa yang diajarkan oleh Nabi Shallalahu ‘alaihi wa sallam kepada ‘Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu: “Ya Allah, berikanlah petunjuk bagiku dan luruskanlah diriku”[17].

– Doa yang diajarkan oleh Nabi Shallalahu ‘alaihi wa sallam kepada Abu Bakr radhiyallayu ‘anhu: “Ya Allah, sesungguhnya aku telah banyak menganiaya diriku sendiri (dengan berbuat dosa) dan tidak ada yang dapat mengampuni dosa selain Engkau, maka ampunilah aku dengan pengampunan dari sisi-Mu dan rahmatilah aku, sesungguhnya Engkau Maha Pengampun lagi Maha Penyayang”[18].

– Doa yang diajarkan oleh Nabi Shallalahu ‘alaihi wa sallam kepada Syaddad bin Aus radhiyallahu ‘anhu, Nabi Shallalahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Wahai Syaddad bin Aus, jika manusia menyimpan harta uang emas dan perak, maka simpanlah engkau doa ini: “Ya Allah, sesungguhnya aku memohon kepada-Mu keteguhan dalam urusan ini (agama Islam) dan tekad yang kuat untuk melaksanakan petunjuk-Mu, aku memohon kepada-Mu sebab-sebab yang menjadikan turunya rahmat-Mu dan kunci-kunci pengampunan-Mu, aku memohon kepada-Mu rasa syukur atas (limpahan) nikmat-Mu dan beribadah dengan sebenarnya kepada-Mu, aku memohon kepada-Mu hati yang bersih dan lidah yang (selalu) jujur, aku memohon kepada-Mu (semua) kebaikan yang Engkau ketahui, aku berlindung kepada-Mu dari (semua) keburukan yang Engkau ketahui, dan aku memohon ampun kepada-Mu dari (semua dosa-dosaku) yang Engkau ketahui”[19].

– Doa yang diajarkan oleh Nabi Shallalahu ‘alaihi wa sallam kepada paman beliau, al-‘Abbas radhiyallahu ‘anhum, Nabi Shallalahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Mohonlah kepada Allah keselamatan di dunia dan akhirat”[20].

– Doa yang sering diucapkan oleh Nabi Shallalahu ‘alaihi wa sallam, bahkan termasuk doa yang paling sering beliau ucapkan: “Ya Allah ya Rabb kami, berikanlah kepada kami kebaikan di dunia in, kebaikan di akhirat nanti, dan lindungilah kami dari siksa Neraka”[21].

– Demikian pula (doa beliau Shallalahu ‘alaihi wa sallam): “Wahai (Allah) Yang Membolak-balikkan hati (manusia), teguhkanlah hatiku di atas agama-Mu”[22].

Dan (masih banyak) doa-doa lain yang penuh berkah dan bersumber dari (hadits-hadits) Rasulullah Shallalahu ‘alaihi wa sallam.

Barangsiapa yang dibukakan baginya pintu doa maka Allah akan melimpahkan pengabulan (doa) baginya, sebagaimana ucapan ‘Umar bin Khattab radhiyallahu ‘anhu: “Sesungguhnya aku tidak membawa keinginan (untuk) dikabulkan, tapi yang aku bawa (adalah) keinginan (untuk terus) berdoa”[23].

‘Umar bin Khattab radhiyallahu ‘anhu mengucapkan ini, karena Allah berfirman:

{وَإِذَا سَأَلَكَ عِبَادِي عَنِّي فَإِنِّي قَرِيبٌ، أُجِيبُ دَعْوَةَ الدَّاعِ إِذَا دَعَانِ، فَلْيَسْتَجِيبُوا لِي وَلْيُؤْمِنُوا بِي لَعَلَّهُمْ يَرْشُدُونَ}

“Dan jika hamba-hamba-Ku, maka (jawablah) bahwa sesungguhnya Aku Maha Dekat, Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila ia memohon kepada-Ku. Maka hendaklah mereka memenuhi (segala perintah)-Ku dan beriman kepada-Ku, agar mereka selalu berada dalam petunjuk” (al-Baqarah: 186).

Dan aku tidak menyia-nyiakan kesempatan dan pertemuan yang penuh berkah ini untuk berdoa dan memohon kepada Allah dengan nama-nama-Nya yang maha indah dan sifat-sifat-Nya yang maha tinggi/sempurna agar Dia menganugerahkan kepada kita semua kecintaan kepada-Nya, kecintaan kepada orang-orang yang mencintai-Nya dan kecintaan kepada amal perbuatan yang mendekatkan diri kita kepada kecintaan kepada-Nya. Aku memohon kepada-Nya agar Dia mencintai, meridhai dan mengampuni dosa-dosa kita semua, serta agar Dia menjadikan perpisahan kita setelah pertemuan ini sebagai perpisahan yang (disertai dengan) pengampunan dan rahmat-Nya, serta keberuntungan (dengan meraih) keridhaan-Nya. Rasulullah Shallalahu ‘alaihi wa sallam telah bersabda (tentang orang-orang yang mengahadiri majelis pengajian): “Mereka adalah orang-orang yang tidak akan rugi teman duduk mereka”[24].

Aku memohon kepada Allah agar Dia tidak menjadikan salah seorangpun di antara kita yang merugi dan terhalang (dari limpahan rahmat-Nya).

4- Memberikan perhatian kepada kewajiban-kewajiban dalam agama Islam (dengan mengamalkannya sebaik-baiknya), berjuang menundukkan hawa nafsu untuk mengerjakan amal-amal shaleh yang bersifat anjuran dan sunnah. Dalam sabda Rasulullah Shallalahu ‘alaihi wa sallam yang lalu, bahwa Allah berfirman: “Tidaklah seorang hamba mendekatkan diri (beribadah) kepada-Ku dengan suatu (amal) yang lebih Aku cintai dari pada (amal) yang Aku wajibkan baginya. Kemudian senantiasa hamba-Ku itu mendekatkan diri kepada-Ku dengan an-nawaafil (amal-amal yang bersifat anjuran dan sunnah), sehingga Akupun mencintainya”[25].

5- Berusaha sungguh menundukkan hawa nafsu untuk menjauhi (hal-hal) yang diharamkan (Allah) dan perbuatan-perbuatan dosa, karena perbuatan-perbuatan maksiat tersebut akan merusak hati dan melemahkan kecintaan (kepada Allah), serta menjerumuskan manusia ke dalam jurang kebinasaan.

Oleh karena itu, dalam hal ini, seorang hamba butuh untuk (selalu) berjuang menundukkan hawa nafsunya, supaya dia (benar-benar) terhindar dari sebab-sebab yang (mendatangkan) kemurkaan Allah (terhadapnya).

6- Mengutamakan hal-hal yang dicintai Allah daripada hal-hal yang dicintai diri sendiri dan mendahulukan keridhaan-Nya di atas keinginan hawa nafsu.

Ini membutuhkan perjuangan menundukkan hawa nafsu yang sungguh-sungguh untuk meraih kedudukan (yang tingi) dan tujuan (yang mulia) ini.

Dalam hadits yang telah lalu, Rasulullah Shallalahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “…Menjadikan Allah dan rasul-Nya lebih dicintai daripada (segala sesuatu) selain keduanya…”[26].

7- Mengingat-ingat dan merenungkan limpahan nikmat, karunia dan pemberian Allah kepada kita. Allah berfirman:

{وَإِنْ تَعُدُّوا نِعْمَةَ اللَّهِ لا تُحْصُوهَا}

“Dan jika kamu menghitung nikmat Allah (kepadamu) maka niscaya kamu tidak akan mampu menghitungnya” (QS Ibrahim: 34).

{وَآتَاكُمْ مِنْ كُلِّ مَا سَأَلْتُمُوهُ}

“Dan dia memberikan segala sesuatu yang kamu minta kepada-Nya”

{وَمَا بِكُمْ مِنْ نِعْمَةٍ فَمِنَ اللَّهِ}

“Dan nikmat apa saja yang ada padamu, maka (semua itu) dari Allah” (QS an-Nahl: 53).

Mengingat-ingat (semua) nikmat (yang) Allah (anugerahkan) kepadamu akan menambah kecintaan kepada-Nya dalam hatimu. Coba renungkan (nikmat Allah) menciptakanmu, menjadikanmu dalam sebaik-baik rupa, membukakan penglihatan dan pendengaran bagimu, menganugerahkan dua tangan dan kaki untukmu, memuliakanmu dengan pakaian dan tempat tinggal, dan melimpahkan kepadamu berbagai macam nikmat dan pemberian.

Maka senantiasalah kamu mengingat (limpahan) nikmat, karunia dan kebaikan-Nya, maka ini akan menambah kecintaanmu kepada-Nya.

Dalam hadits yang shahih, Rasulullah Shallalahu ‘alaihi wa sallam jika telah berada di atas kasur sebelum tidur, beliau membaca doa: “Segala puji bagi Allah yang telah memberi makan, minum, kecukupan dan tempat tinggal bagiku, berapa banyak orang yang tidak memiliki kecukupan dan tempat tinggal”[27].

8- Berteman dengan orang-orang baik dan bersahabat dengan orang-orang shaleh yang selalu beribadah dan taat kepada Allah, serta mengambil faidah dari nasehat-nasehat baik, tingkah laku terpuji dan akhlak mulia mereka.

Teman bergaul pasti akan memberikan pengaruh kepada orang yang selalu bersamanya. Dalam hadits yang shahih, Rasulullah Shallalahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Seseorang itu akan mengikuti agama teman dekatnya, maka hendaknya masing-masing dari kalian melihat siapa yang dijadikannya (sebagai) teman dekat”[28].

9- Berusaha sungguh-sungguh untuk melakukan ibadah (shalat malam) pada waktu sepertiga malam yang terakhir, meskipun hanya sebentar. Karena ini memiliki pengaruh/keutamaan yang sangat besar dalam hal ini.

Rasulullah Shallalahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Rabb kita (Allah Ta’ala) turun ke langit dunia detiap malam, ketika tersisa sepertiga malam yang terakhir, lalu Dia berfirman: “Siapa yang berdoa kepada-Ku maka Aku akan mengabulkannya, siapa yang memohon kepada-Ku maka Aku akan penuhi permohonannya, dan siapa yang meminta ampun kepada-Ku maka Aku akan mengampuninya”[29].

10- Terus menerus dan memperbanyak zikir (menyebut dan mengingat) Allah Ta’ala.

Allah berfirman:

{الَّذِينَ آمَنُوا وَتَطْمَئِنُّ قُلُوبُهُمْ بِذِكْرِ اللَّهِ أَلا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ}

“Orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan berzikir (mengingat) Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram” (QS ar-Ra’du:28).

Barangsiapa yang sungguh-sungguh dalam mencintai Allah, maka dia akan selalu ber zikir (menyebut dan mengingat)-Nya, karena siapa saja yang mencintai sesuatu maka dia akan sering menyebut/mengingatnya.

Saudara-saudaraku seiman yang mulia,

Inilah (penjelasan tentang) sepuluh sebab penting untuk menumbuhkan kecintaan kepada Allah dalam hati kita, tapi bukan berarti hanya terbatas pada sepuluh sebab ini. Karena penjelasan di sini tujuannya hanya untuk mengingatkan sebab-sebab penting dalam pembahasan yang agung ini. Dan ini merupakan pelajaran bagi kita semua,

{فَإِنَّ الذِّكْرَى تَنْفَعُ الْمُؤْمِنِينَ}

“Sesungguhnya pelajaran/nasehat itu bermanfaat bagi orang-orang yang beriman” (QS adz-Dzaariyaat: 55).

Aku memohon kepada Allah Yang Maha Agung, Pemilik ‘Arsy yang mulia, dengan nama-nama-Nya yang maha indah dan sifat-sifat-Nya yang maha tinggi/sempurna agar Dia menerima (amal kebaikan) kita dalam majelis pengajian ini, mengampuni dosa-dosa kita seluruhnya, yang kecil maupun yang besar, yang pertama maupun yang terakhir, serta yang tampak maupun yang tersembunyi.

Aku memohon kepada Allah supaya Dia memperbaiki agama kita yang merupakan penentu (kebaikan) semua urusan kita, memperbaiki (urusan) dunia kita yang merupakan tempat hidup kita, menjadikan (masa) hidup kita sebagai penambah kebaikan bagi kita dan menjadikan kematian sebagai penghalang bagi kita dari semua keburukan.

Semoga Allah mengampuni (dosa-dosa) kita, kedua orang tua kita, kaum muslimin laki-laki maupun perempuan, yang masih hidup maupun yang telah wafat.

Ya Allah, hiasilah diri kami dengan hiasan keimanan, dan jadikanlah kami sebagai orang-orang yang selalu memberi dan mendapat petunjuk (dari-Mu), tidak tersesat dan menyesatkan (orang lain).

Ya Allah, aku memohon kepada-Mu kecintaan kepada-Mu, kecintaan kepada orang-orang yang mencintai-Mu dan kecintaan kepada amal perbuatan yang mendekatkan diriku kepada kecintaan kepada-Mu.

Ya Allah, jadikanlah kami termasuk hamba-hamba-Mu yang bertakwa, yang selalu mendengarkan ucapan dan mengikuti yang terbaik dari ucapan tersebut.

{الَّذِينَ يَسْتَمِعُونَ الْقَوْلَ فَيَتَّبِعُونَ أَحْسَنَهُ أُولَئِكَ الَّذِينَ هَدَاهُمُ اللَّهُ وَأُولَئِكَ هُمْ أُولُواْ الألْبَابِ}

“Mereka adalah orang-orang yang mendengarkan perkataan lalu mengikuti yang terbaik di antaranya, mereka itulah orang-orang yang telah diberi Allah petunjuk dan merekalah orang-orang yang berakal” (QS a-Zumar: 18).

Dan akhir seruan kami adalah Alhamdulillahi Rabbil ‘alamin (segala puji bagi Allah Rabb semesta alam).

وصلى الله وسلم وبارك و أنعم على عبده ورسوله نبينا محمد وآله وصحبه أجمعين

Kota Kendari, 3 Rabi’ul akhir 1433 H      

Penerjemah ceramah:  Abdullah bin Taslim al-Buthoni


[1] Sebagaimana doa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam HSR Muslim (no. 486).

[2] HSR Muslim (no. 2701).

[3] Sebagaimana dalam HR Abu Dawud (no. 5124) dan at-Tirmidzi (no. 2392), dinyatakan shahih oleh syaikh al-Albani rahimahullah.

[4] Doa Rasulullah Shallalahu ‘alaihi wa sallam, sebagaimana dalam HR at-Tirmidzi (no. 3235), dinyatakan shahih oleh imam al-Bukhari, at-Tirmidzi dan syaikh al-Albani rahimahullah

[5] HR at-Tirmidzi (no. 3235), dinyatakan shahih oleh imam al-Bukhari, at-Tirmidzi dan syaikh al-Albani rahimahullah

[6] No. 6137.

[7] HSR al-Bukhari (no. 3037) dan Muslim (no. 2637).

[8] Sebagaimana dalam QS al-Maaidah: 18.

[9] Tafsir Ibnu Katsir (1/477).

[10] Sebagaimana dalam doa Rasulullah Shallalahu ‘alaihi wa sallam, HR An Nasa-i dalam “As Sunan” (3/54 dan 3/55), Imam Ahmad dalam “Al Musnad” (4/264), Ibnu Hibban dalam “Shahihnya” (no. 1971) dan Al Hakim dalam “Al Mustadrak” (no. 1900), dishahihkan oleh Ibnu Hibban, Al Hakim, disepakati oleh Adz Dzahabi dan Syaikh Al Albani dalam “Zhilaalul jannah fii takhriijis sunnah” (no. 424).

[11] HSR al-Bukhari (no. 16 dan 21) dan Muslim (no. 43).

[12] HSR Muslim (no. 34).

[13] Sebagaimana dalam HR Ibnu Majah (no. 215) dan Ahmad (3/127), dinyatakan shahih oleh syaikh al-Albani rahimahullah

[14] HSR al-Bukhari (no. 7375) dan Muslim (no. 813).

[15] HR at-Tirmidzi (no. 3235), dinyatakan shahih oleh imam al-Bukhari, at-Tirmidzi dan syaikh al-Albani rahimahullah.

[16] HR Abu dawud (no. 1522) dan an-Nasa-i (no. 1303), dinyatakan shahih syaikh al-Albani rahimahullah

[17] HSR Muslim (no. 2725).

[18] HSR al-Bukhari (no. 7375) dan Muslim (no. 813).

[19] HR at-Tirmidzi (no. 3514) dan Ahmad (1/209), dinyatakan shahih oleh at-Tirmidzi dan syaikh al-Albani rahimahullah

[20] HR at-Tirmidzi (no. 3407), an-Nasa-i  (no. 1304) dan Ahmad (4/123),

[21] HSR al-Bukhari (no. 6026) dan Muslim (no. 2690).

[22] HR at-Tirmidzi (no. 2140), Ibnu Majah  (no. 3834) dan Ahmad (3/112), dinyatakan shahih oleh syaikh al-Albani rahimahullah

[23] Dinukil oleh imam Ibnul Qayyim dalam kitab beliau “al-Fawaa-id” (hal. 97).

[24] HSR al-Bukhari (no. 6045) dan Muslim (no. 2689).

[25] HSR al-Bukhari (no. 6137).

[26] HSR al-Bukhari (no. 16 dan 21) dan Muslim (no. 43).

[27] HSR Muslim (no. 2715).

[28] HR Abu Dawud (no. 4833) dan at-Tirmidzi (no. 2378), dinyatakan hasan oleh imam at-Tirmidzi dan syaikh al-Albani rahimahullah

[29] HSR al-Bukhari (no. 1094) dan Muslim (no. 758).

2 Responses to Jalan Untuk Meraih Kecintaan Kepada Allah Ta’ala

  1. ibnuthamrin mengatakan:

    السَّــلاَمُ عَلَــيْكُمْ
    Akhi, عَفْوًا..mungkin ada kesalahan ketik di bagian paragraf pertama setelah amma ba’du (lafadz shalawat tetapi utk اللّه سبحانه وتعالى ..
    جَـزَاكَ اللَّـهُ خَيْــرًا atas kesediaan antum menulis transkrip

  2. Ping-balik: Hatiorganik | by Dedi Sukandar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: