Shalat Sunnat Dua Rakaat Sesudah Shalat ‘Ashar

Ustadz Abu Ihsan al-Atsari

MUKADDIMAH

Berkenaan dengan permasalahan shalat sunnat dua rakaat sesudah shalat Ashar yang banyak dipertanyakan oleh para pembaca dari makalah yang telah kami tulis sebelumnya pada Majalah As-Sunnah edisi 11/Thn.XIV/Rabiul Tsani 1432 H/Maret 2011 dengan judul “Menjadi Hamba Allah 24 Jam” maka berikut ini kami menyantumkan sekilas pembahasan masalah tersebut. Pertanyaan-pertanyaan ini muncul karena apa yang tercantum dalam naskah kami tersebut berbeda dengan maklumat yang sudah lama beredar atau mungkin sudah mendarah daging. Ma’lumat yang menyatakan bahwa tidak ada shalat sunat setelah shalat ‘Ashar. Kesimpulan ini berdasarkan beberapa riwayat atau hadits shahih yang zhahirnya berisi larangan mengerjakan shalat sunnat sesudah shalat ‘Ashar. Diantaranya hadits marfu’ : Tidak ada shalat (sunat) sesudah shalat ‘Ashar hingga matahari terbenam [1]

 

Dan beberapa hadits lain yang semakna. Kesimpulan terlarangnya shalat sunat setelah shalat ‘Ashar. Juga berdasarkan riwayat yang menjelaskan bahwa Umar radhiyallahu ‘anhu melarang shalat sunat dua rakaat setelah ‘Ashar, bahkan tidak cukup hanya melarang, bahkan beliau  memukuli orang yang melakukannya.

SHALAT SUNNAT DUA RAKA’AT SETELAH SHALAT ‘ASHAR

Hadits pertama yang zhahirnya berisi larangan dari shalat sunat setelah ‘Ashar itu tidak diragukan lagi keshahihannya. Namun larangan dalam hadist tersebut masih bersifat mutlak (umum). Keumuman makna suatu hadist masih mungkin ditakhshihsh (dibatasi maknanya) oleh hadits atau dalil yang lain, termasuk keumuman makna yang terkandung dalam hadist diatas. Keumuman makna tersebut telah dibatasi dan dikhususkan oleh hadits yang mengisyaratkan bahwa larangan itu berlaku apabila matahari sudah menguning. Artinya, bila matahari masih putih atau belum menguning, maka shalat sunat sesudah ‘Ashar masih boleh dilakukan.

Syaikh al-Albani rahimahullah mengatakan, “Hadits (larangan) ini (berlaku) khusus apabila matahari sudah menguning. Adapun bila matahari masih putih dan terang, maka shalat pada saat itu tidak termasuk yang dilarang. Berdasarkan hadits ‘Ali radhiyallahu ‘anhu  secara marfu’ dengan lafazh :

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang shalat sesudah Ashar kecuali matahari ketika masih tinggi.

Hadits ini diriwayatkan oleh Abu Dawud[2] an-Nasa’i[3] dan Ahmad[4] dari ‘Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu secara marfu’

Hadits ini dishahihkan oleh Ibnu Hazm[5] dan Ibnu Hajar al-Asqalani[6].”[7]

al-Baihaqi rahimahullah mempertentangkan kedua hadits tersebut, yakni hadits-hadits yang melarang shalat sesudah shalat ‘Ashar dan hadits ‘Ali radhiyallahu ‘anhu diatas. Beliau memandang hadits yang melarang lebih kuat daripada hadits yang membolehkan (hadits Ali).

Syaikh al-Albani rahimahullah mengomentari pendapat ini dengan mengatakan, “Sebenarnya, kedua hadits tersebut shahih, walaupun hadits yang diriwayatkan oleh banyak perawi lebih kuat, akan tetapi bukan jalan (metode) ahli ilmu, menolak hadits yang kuat karena secara zhahir bertentangan dengan hadits yang lebih kuat, apalagi keduanya masih memungkinkan untuk dipadukan atau dikompromikan. Demikian juga dalam masalah ini. Karena hadits tersebut (hadits yang membolehkan) mengkhususkan hadits-hadits (larangan) yang telah diisyaratkan oleh al-Baihaqi. Seperti sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, (yang artinya), “Tidak ada shalat sesudah ‘Ashar hingga matahari terbenam.” Mutttafaqun ‘alaihi.

Hadits ini mutlak, dibatasi maknanya oleh hadits ‘Ali radhiyallahu ‘anhu diatas. Inilah yang diisyaratkan oleh Ibnu Hazm rahimahullah dalam perkataannya, “Ini adalah tambahan (riwayat) dari seorang perawi tsiqah yang tidak boleh ditinggalkan.”

Kemudian al-Baihaqi rahimahullah juga mengatakan, “Ada riwayat dari ‘Ali radhiyallahu ‘anhu yang menyelisihi riwayat (tentang keberadaan shalat sunat setelah Ashar-red) ini dan ada pula riwayat dari beliau yang sejalan dengannya.”

Al-Baihaqi dan adh-Dhiya rahimakumullah dalam kitab al-Mukhtarah (I/185) membawakan riwayat dari jalur Sufyan, ia berkata, “Abu Ishaq telah menyampaikan kepadaku dari ‘Ashim bin Dhamrah dari ‘Ali  radhiyallahu ‘anhu, beliau mengatakan :

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa mengerjakan shalat dua rakaat setiap kali selesai shalat fardhu, kecuali  shalat Subuh dan shalat ‘Ashar.”[8]

(riwayat ini bertentangan dengan keberadaan shalat sunat setelah ‘Ashar-red).

Mengenai hal ini, Syaikh al-Albani rahimahullah berkomentar, “Hadits ini tidak bertentangan dengan hadits pertama secara mutlak. Karena hadits ini hanya menerangkan bahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak mengerjakan shalat dua rakaat sesudah shalat ‘Ashar. Sementara hadits yang pertama tidak menetapkannya secara mutlak (dalam semua waktu-red), hingga bisa dipertentangkan dengannya. Minimal hadits (pertama) ini menjelaskan bolehnya shalat sesudah ‘Ashar sampai matahari belum menguning. Dan tidak mesti semua perkara yang dibolehkan oleh Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam berdasarkan dalil syar’i, beliau lakukan.”[9]

SHALAT ITU ADALAH SHALAT BA’DIYAH ZHUHUR

Yang menolak keberadaan shalat sunat dua rakaat setelah Ashar juga mengakui keshahihan riwayat yang menyatakan bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah melakukan shalat sunat stelah ‘Ashar. Namun mereka mengatakan bahwa itu adalah shalat sunat rawatib setelah Zhuhur. Pada suatu waktu dan karena suatu hal, beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak bisa mengerjakannya pada waktunya, oleh karena itu beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam melakukannya setelah shalat ‘Ashar. Dan setelah itu beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam  rutin melakukannya.

Mengenai hal ini, Syaikh al-Albani rahimahullah mengatakan, “Memang ada riwayat shahih dari Ummu Salamah dan ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha (yang menerangkan-red) bahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam mengerjakan shalat sunnah dua rakaat ba’diyah (setelah) Zhuhur sesudah shalat ‘Ashar. ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha mengatakan, “Sesungguhnya Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam merutinkannya sesudah itu.” (Zhahirnya, riwayat-red) ini bertentangan dengan hadits ‘Ali radhiyallahu ‘anhu yang kedua diatas.”

Syaikh al-Albani rahimahullah melanjutkan “Mengkompromikan kedua hadits diatas mudah sekali. (Yaitu) setiap perawi meriwayatkan ilmu yang diketahui. Dan orang yang mengetahui merupakan hujjah bagi orang tidak mengetahui. Nampaknya, setelah beberapa lama, akhirnya ‘Ali radhiyallahu ‘anhu mengetahui dari beberapa Sahabat apa yang telah beliau nafikan pada hadits ini[10]. Dan dalam sebuah riwayat yang shahih darinya bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam mengerjakan shalat sesudah ‘Ashar. Dan riwayat itulah yang disebutkan dalam lanjutan perkataan al-Baihaqi, “Adapun riwayat ‘Ali yang sejalan dengan hadits ‘Ali (diatas) adalah hadits yang disampaikan kepada kami…” Lalu beliau menyebutkan dari jalur Syu’ban dari Abu Ishaq dari ‘Ashim bin Dhamrah, ia berkata, “Kami pernah bersama ‘Ali dalam sebuah safar. Ia mengimani kami shalat ‘Ashar dua rakaat. Sesudah itu ia masuk ke dalam rumahnya, sementara aku melihat ia mengerjakan shalat dua rakaat.

Dalam riwayat ini disebutkan bahwa ‘Ali mengamalkan kandungan haditsnya yang pertama, yaitu bolehnya shalat sesudah ‘Ashar.

Ibnu Hazm rahimahullah telah meriwayatkan (IV/3) dari Bilal radhiyallahu ‘anhu, muadzin Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam ia berkata, “Tidak dilarang mengerjakan shalat kecuali ketika matahari sedang terbenam.”

al-Albani rahimahullah berkata, “Sanadnya shahih, dan ini merupakan bukti yang kuat bai hadits ‘Ali radhiyallahu ‘anhu. Tentang dua rakaat sesudah ‘Ashar, Ibnu Hazm rahimahullah menukil pendapat yang membolehkannya dari sejumlah Sahabat, bagi yang ingin mengetahuinya silahkan melihat kibat beliau (yakni al-Muhalla).

Kesimpulan yang ditunjukkan oleh hadits ini yaitu pendapat yang menyatakan bolehnya mengerjakan shalat sunnat sesudah shalat ‘Ashar sebelum matahari menguning adalah pendapat yang patut dipegang dalam masalah yang masih diperselisihkan ini. Pendapat inilah yang dipilih oleh Ibnu Hazm rahimahullah, yang mengikuti pendapat Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhum, sebagaimana dsebutkan al-hafizh al-‘Iraqi rahimahullah dan lainnya. Maka janganlah engkau terpedaya dengan jumlah yang banyak apabila ternyata menyelisihi sunnah.”

Syaikh al-Albani rahimahullah melanjutkan penjelasannya, “Kemudian saya menemukan jalur lain dari hadits ini yaitu dari jalur ‘Ali dengan lafazh,

Janganlah kalian shalat sesudah ‘Ashar, kecuali bila kalian mengerjakannya sementara matahari masih tinggi.

 

Hadits ini semakin menguatkan hadits ‘Ali radhiyallahu ‘anhu sebelumnya. Apabila riwayat ini berasal dari jalur ‘Ashim yang juga meriwayatkan dari ‘Ali bahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak mengerjakan shalat sesudah ‘Ashar.”[11]

Kemudian ada hadits marfu’ lain dari Anas bin Maliki radhiyallahu ‘anhu yang mendukung hadits tersebut. Lafazh hadits marfu’ itu adalah :

Janganlah kalian shalat ketika matahari sedang terbit dan ketika sedang terbenam, karena ia terbit dan terbenam diatas tanduk setan. Dan shalatlah di selain waktu itu sesuka kalian.”

Setelah menjelaskan keshahihan hadits ini, Syaikh al-Albani rahimahullah mengatakan, “Kedua hadits ini (hadits ‘Ali radhiyallahu ‘anhu sebelumnya dan hadits Anas ini) merupakan dalil bahwa pendapat yang masyhur dalam kitab-kitab fiqih berupa larangan shalat sesudah ‘Ashar secara mutlak, walaupun matahari masih putih cahayanya dan masih tinggi, adalah pendapat yang bertentangan dengan kedua hadits yang sudah jelas diatas. Hujjah mereka dalam hal ini hanyalah hadits-hadits yang ma’ruf tentang larangan shalat sesudah ‘Ashar secara mutlak. Sementara kedua hadits diatas mengkhususkan hadits-hadits larangan tersebut, mohon dimaklumi.”[12]

Hadits lain dalam masalah ini adalah hadits riwayat Muhammad bin al-Muntatsir yang menerangkan bahwa ia mengerjakan  shalat dua rakaat sesudah ‘Ashar, lalu ada yang bertanya kepadanya tentang hal itu, ia menjawab, “Seandainya alasanku mengerjakannya hanyalah karena aku melihat Masruq[13] telah mengerjakannya niscaya sudah bisa dipercaya, akan tetapi aku (juga) bertanya kepada ‘Aisyah, lalu ia menjawab,

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak pernah meninggalkan dua rakaat sebelum fajar dan dua rakaat sesudah ‘Ashar.

Hadits ini dishahihkan oleh Syaikh al-Albani rahimahullah dalam Silsilatul Ahadits as-Shahihah, VI/1010 (no. 2920).

Beliau rahimahullah juga menyantumkan hadits lain dengan lafazh, “Tidak lewat satu haripun melainkan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam mengerjakan dua rakaat sesudah ‘Ashar.”[14]

Dalam lafazh lain disebutkan, “Dua rakaat yang tidak pernah ditinggalkan oleh Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam baik sembunyi-sembunyi maupun terang-terangan, dua rakaat sebelum shalat Shubuh dan dua rakaat sesudah shalat ‘Ashar.”

Kemudian Syaikh al-Albani rahimahullah menjelaskan, “Ibnu Abi Syaibah telah meriwayatkan dari sejumlah Ulama salaf bahwa mereka mengerjakan dua rakaat sesudah ‘Ashar ini, diantara Abu Burdah bin Abu Musa, Abu ats-Tsa’syaa’, Amru bin Maimun, al-Aswad bin Yazid dan Abu Wail. Ibnu Abi Syaibah telah meriwayatkannya dengan sanad yang shahih dari mereka. Diantaranya juga adalah Muhammad bin al-Muntatsir dan Masruq seperti yang telah disebutkan diatas.”[15]

UMAR RADHIYALLAHU “ANHU MEMUKULI ORANG YANG SHALAT SETELAH SHALAT ASHAR

Diantara yang menjadi argumen orang yang menolak dan melarang shalat sunat setelah shalat ‘Ashar adalah pemukulan yang dilakukan oleh Umar bin kahththab radhiyallahu ‘anhu terhadap orang yang melakukannya.

Syaikh al-Albani  rahimahullah menjelaskan masalah ini, “Hukuman Umar radhiyallahu ‘anhu terhadap orang yang mengerjakannya itu dianggap sebagai salah satu ijtihad Umar yang dibangun diatas dasar kaidah sadduz dzara’i (menutup celah yang berpotensi menjerumuskan pelakunya kepada yang terlarang). Sebagaimana diisyarakatkan dalam dua riwayat yang disebutkan oleh al-hafizh Ibnu Hajar rahimahullah dalam Fathul Bari (II/65).

Riwayat pertama terdapat dalam kitab Mushannaf ‘Abdurrazzaq (II/431-432), Musnad Ahmad (IV/155), ath-Thabrani (V/260), dan dihasankan oleh al-haitsami (II/223).

Riwayat kedua, yang diriwayatkan oleh Ahmad (IV/102), ath-Thabrani dalam al-Mu’jamul Kabir (II/58-59) dan al-Ausath (8848).

Dan aku telah menemukan riwayat yang ketiga yang memperkuat dua riwayat sebelumnya. Yaitu dari riwayat Israil dari al-Miqdam bin Syuraih dari ayahnya, ia berkata, “Aku bertanya kepada ‘Aisyah tentang shalat Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, bagaimana beliau mengerjakannya?’ lalu ‘Aisyah menjawab, “Beliau mengerjakan shalat Zhuhur lalu mengerjakan shalat dua rakaat sesudahnya, kemudian mengerjakan shalat ‘Ashar dan mengerjakan dua rakaat sesudahnya.” Maka aku bertanya, “Bukankah dahulu Umar memukuli orang yang mengerjakan dua rakaat sesudah ‘Ashar dan melarangnya?” Maka ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha menimpali, “Umar radhiyallahu ‘anhu pernah mengerjakannya, dan ia tahu bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam mengerjakannya. Akan tetapi kaummu ini adalah orang-orang yang semangat beragama namun bodoh. Mereka mengerjakan shalat Zhuhur, kemudian (terus-red) mengerjakan shalat antara Zhuhur dan ‘Ashar. Lalu mereka mengerjakan shalat ‘Ashar kemudian mereka (terus-red) mengerjakan shalat antara ‘Ashar dan Maghrib. Karena itulah Umar radhiyallahu ‘anhu memukul mereka. Dan apa yang beliau lakukan itu benar.”

Hadits ini diriwayatkan oleh Abul Abbas as-Saraj dalam Musnadnya (I/132). Dan sanadnya shahih.”

Syaikh al-Albani rahimahullah melanjutkan, “Ini merupakan bukti kuat bagi dua atsar yang diisyaratkan sebelumnya. Dan merupakan nash yang sangat jelas bahwa larangan Umar radhiyallahu ‘anhu terhadap dua rakaat ini bukan karena shalat itu tidak disyariatkan sebagaimana perkiraan banyak orang. Akan tetapi karena beliau khawatir mereka akan ‘keterusan’ mengerjakan shalat sesudah dua rakaat ini, atau menundanya sampai masuk waktu yang dimakruhkan, yaitu ketika matahari telah menguning. Dan itulah waktu terlarang untuk melaksanakan shalat (sunat) setelah ‘Ashar yang dimaksudkan dalam banyak hadits shahih, sebagaimana telah dijelaskan di bawah penjelasan dua hadits yang terdahulu (yakni hadits ‘Ali radhiyallahu ‘anhu dan hadits Anas radhiyallahu ‘anhu ).

Dari uraian diatas dapat disimpulkan bahwa dua rakaat sesudah shalat ‘Ashar merupakan sunnah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam apabila dikerjakan sesudah shalat ‘Ashar sebelum matahari menguning. Dan hukuman yang dijatuhkan oleh Umar atas pelakunya merupakan hasil ijtihad beliau dan disetujui oleh sebagian Sahabat, namun tidak disetujui oleh Sahabat yang lain. Diantaranya adalah Ummul Mukminin. Masing-masing dari kedua belah pihak ada yang menyetujuinya. Maka wajib merujuk kepada sunnah, yang shahih dari riwayat Ummul Mukminin, tanpa ada dalil yang menyelisihnya, kecuali hadits umum yang telah dikhususkan dengan hadits ‘Ali dan Anas yang telah diisyaratkan nomornya tadi. Dan kelihatannya ini juga merupakan madzhab Ibnu Umar. Imam al-Bukhari rahimahullah meriwayatkan (no. 589) dari Ibnu Umar, beliau berkata :

Aku mengerjakan shalat seperti aku lihat Sahabat-Sahabatku mengerjakannya. Aku tidak melarang seorangpun mengerjakan shalat pada malam atau siang hari selama ia mau, hanya saja janganlah ia menyengaja shalat ketika matahari terbit dan matahari terbenam.

Ini juga merupakan pendapat Abu Ayyub al-Anshari. Abdurrazaq telah meriwayatkan darinya (II/433) dengan sanad yang shahih dari Ibnu Thawus dari ayahnya, bahwa Abu Ayyub al-Anshari mengerjakan shalat dua rakaat sesudah shalat ‘Ashar sebelum masa kekhalifahan Umar. Ketika Umar menjabat khalifah Abu Ayyub tidak lagi mengerjakannya. Ketika Umar radhiyallahu ‘anhu telah wafat, Abu Ayyub kembali mengerjakannya. Ada yang bertanya kepadanya, “Mengapa begitu?” Beliau menjawab, “Sesungguhnya Umar menghukum orang-orang yang mengerjakannya.” Ibnu Thawus berkata, “Ayahku tidak pernah meninggalkan dua rakaat sesudah shalat ‘Ashar itu.”

Syaikh al-Albani rahimahullah melanjutkan, “Disini perlu kami ingatkan Ahlus Sunnah yang bersemangat untuk menghidupkan sunnah dan mematikan bid’ah agar mengerjakan dua rakaat ini sesudah shalat ‘Ashar pada waktu yang telah disyariatkan. Berdasarkan sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam :

Barangsiapa mencontohkan sunnah yang baik dalam Islam …[16]

Dalam riwayat yang lain pula masih dari ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha disebutkan bahwa ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha ditanya tentang shalat yang dikerjakan oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, maka ia menjawab,

Beliau mengerjakan shalat Zhuhur lalu mengerjakan shalat dua rakaat sesudahnya. Kemudian beliau mengerjakan shalat ‘Ashar kemudian mengerjakan shalat dua rakaat sesudahnya.”

 

Hadits ini juga dishahihkan oleh al-Albani rahimahullah dalam Silsilatul Ahadits as-Shahihah, VII/1426, no. 3488.

Syaikh al-Albani rahimahullah berkata, “Dalam riwayat lain yang dikeluarkan oleh Ahmad[17] diriwayatkan dari al-Miqdam, ia berkata, “Aku bertanya kepada ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha tentang shalat sesudah ‘Ashar?’ ia menjawab, “Kerjakanlah, sesungguhnya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang kaummu dari penduduk Yaman mengerjakan shalat apabila matahari sedang terbit.”

Syaikh al-Albani rahimahullah mengatakan, “Pada perkataan ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha yang mauquf ini terdapat beberapa faidah yang tidak disebutkan oleh al-hafizh Ibnu Hajar dalam Fathul Bari, yaitu, Umar tidak melarang dua rakaat sesudah shalat ‘Ashar karena mengingkari persyariatannya. Namun beliau melarangnya semata-mata untuk menutup celah kepada sesuatu yang dilarang, yaitu beliau  khawatir mereka akan mengerjakannya pada waktu yang diharamkan shalat, yaitu ketika matahari akan terbenam. Ada beberapa bukti yang menguatkannya dari riwayat Tamim ad-Dari dan Zaid bin Khalid al-Juhani. Al-Hafizh Ibnu Hajar tidak mengomentari sanad kedua riwayat ini dalam Fathul Bari (II/65). Sedangkan sanad riwayat Zaid dihasankan oleh al-Haitsami.

Hadits Tamim diriwayatkan oleh Hisyam bin ‘Urwah dari ayahnya, ia berkata, “Umar         keluar menemui manusia dan memukul mereka karena mengerjakan dua rakaat sesudah shalat ‘Ashar. Hingga beliau bertemu dengan Tamim ad-Dari. Tamim berkata, “Aku tidak akan meninggalkan dua rakaat ini. Sungguh aku telah mengerjakannya bersama orang yang lebih baik darimu! Yakni Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam”

Maka Umar berkata, “Sungguh, seandainya semua orang seperti dirimu niscaya aku tidak ambil peduli.”

Diriwayatkan oleh Ahmad (IV/101) dengan sanad yang perawinya tsiqah, perawi al-Bukhari dan Muslim, akan tetapi al-Haitsami berkata (II/222), ‘Urwah belum mendengar dari Umar  radhiyallahu ‘anhu.”

Akan tetapi Abdullah bin Shalih telah meriwayatkannya, ia berkata, al-Laits telah menceritakan kepadaku dari Abul Aswad dari ‘Urwah bin az-Zubeir, ia berkata, “Tamim ad-Dari telah mengabarkan kepadaku bahwa dia mengerjakan dua rakaat tersebut setelah Umar           melarang shalat sesudah ‘Ashar. Lalu Umar mendatanginya dan hendak memukulnya dengan cambuk. Akan tetapi Tamim berisyarat kepadanya agar duduk, karena saat itu ia sedang shalat. Maka Umar duduk hingga Tamim selesai shalat. Tamim berkata kepada Umar, “Mengapa engkau hendak memukulku?” Umar radhiyallahu ‘anhu menjawab, “Karena engkau mengerjakan dua rakaat yang telah aku larang ini.”

Lalu Tamim mengatakan seperti yang telah disebutkan diatas tadi, kemudian ditambahkan, “Umar radhiyallahu ‘anhu berkata, “Sesungguhnya sasaranku bukanlah kalian wahai kaum! Akan tetapi aku khawatir akan datang sesudah kalian satu kaum yang mengerjakan shalat sesudah ‘Ashar sampai waktu Maghrib. Hingga mereka melewati atau memasuki waktu yang terlarang bagi mereka untuk mengerjakan shalat, sebagaimana mereka mengerjakannya antara shalat Zhuhur dan shalat ‘Ashar. Kemudian mereka beralasan, Kami telah melihat si Fulan dan si Fulan mengerjakan shalat sesudah shalat ‘Ashar.”

Diriwayatkan oleh ath-Thabrani dalam al-Mu’jamul Kabir (II/48/1281) dan dalam al-Ausath (VIII/296/8684).[18]

Kemudian Syaikh al-Albani rahimahullah mengatakan, “Adapun hadits Zaid bin Khalid al-Juhani, diriwayatkan oleh Abu Sa’ad al-A’ma dari seorang lelaki yang bernama as-Saib Maula al-Farisiyyin dari Zaid, bahwa Umar bin al-Khaththab -saat itu beliau menjadi khalifah- melihatnya mengerjakan dua rakaat sesudah ‘Ashar. Maka Umar mendekatinya dan memukulnya dengan cambuk, sementara Zaid terus melanjutkan shalatnya. Selesai shalat, Zaid berkata, “Pukullah wahai Amirul Mukminin! Demi Allah aku tidak akan meninggalkannya selama-lamanya karena aku telah melihat Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam mengerjaknnya.”

Umar duduk di dekatnya lalu berkata, “Hai Zaid, kalaulah bukan karena aku khawatir orng-orang akan menjadikannya jalan untuk mengerjakan shalat sampai malam hari niscaya aku tidak akan memukul karenanya.”

Diriwayatkan oleh ‘Abdurrazzaq dalam al-Mushannaf (II/431-432) –redaksi di atas adalah riwayatnya- hadits ini diriwayatkan juga dari jalurnya dandari jalur lainnya oleh Ahmad (IV/115), ath-Thabraani dalam al-Mu’jamul Kabir (V/260/5166 dan 5167), setelah menisbatkannya kepada Ahmad dan ath-Thabrani, al-haitsami, berkata, “Sanadnya hasan.” Al-Albani berkata, “Abu Sa’ad al-A’ma tidak ada yang menyebutkan tsiqah kecuali Ibnu Hibban, oleh karena itu al-Hafizh Ibnu Hajar rahimahullah mengatakan dalam kitab at-Taqrib, “Majhul!” Barangkali yang dimaksud oleh al-Haitsami adalah hasan lighairihi dilihat dari riwayat terdahulu, wallahu a’lam.

Syaikh al-Albani juga menyebutkan riwayat ‘Aisyah yang lain tanpa menyebutkan persetujuan ‘Aisyah terhadap apa yang dilakukan oleh Umar. Diriwayatkan oleh al-Mughiirah dari Ibrahim dari al-Aswad dari ‘Aisyah bahwa ia berkata, “Apakah engkau memukul orang karena mengerjakan dua rakaat tersebut? Sungguh Rasulullah tidak menemuiku melainkan beliau mengerjakan dua rakaat tersebut.”

Lalu Syaikhnmenyebutkan riwayat Jarir dari al-Mughirah tanpa menyebutkan perihal pemukulan yang dilakukan oleh Umar radhiyallahu ‘anhu. Setelah itu, Syaikh al-Albani rahimahullah menyimpulkan, “Inilah riwayat yang shahih dari ‘Aisyah (yaitu riwayat – red) tanpa ada penyebutan perihal pemukulan yang dilakukan oleh Umar  radhiyallahu ‘anhu.”[19]

Ada pula riwayat lain yang menguatkan pendapat ini. Diriwayatkan dari Abdullah bin Rabbah dari seorang lelaki dari kalangan sahabat Nabi bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam mengerjakan shalat ‘Ashar, seusai shalat bangkitlah seorang lelaki untuk mengerjakan shalat. Umar melihat hal itu. Ia berkata kepada lelaki itu, “Duduklah, sesungguhnya Ahli Kitab itu binasa karena tidak ada pemisah di antara shalat-shalat yang mereka lakukan.” Maka Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata,

Benar apa yang dikatakan oleh Ibnul Khahthab.[20]

 

Syaikh al-Albani rahimahullah menjelaskan salah satu faidah dari hadits ini, “Dalam hadits ini terdapat faidah penting lainnya, yaitu bolehnya mengerjakan shalat sunnat sesudah ‘Ashar. Sebab kaulah tidak dibolehkan tentu Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah mengingkari perbuatan lelaki itu sebagaimana yang tanpak nyata. Dan ini selaras dengan hadits yang shahih dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bahwa beliau mengerjakan shalat dua rakaat sesudah ‘Ashar. Dan ini juga menunjukkan bahwa hal itu bukanlah khushushiyyah (kekhususan) bagi Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam saja. Adapun sabda beliau “Tidak ada shalat sesudah ‘Ashar hingga matahari terbenam.” Dibawakan kepada kondisi apabila matahari sudah menguning, berdasarkan hadits-hadits shahih yang membatasi maknanya.”

Kesimpulannya, dibolehkan mengerjakan shalat sunnat dua rakaat sesudah ‘Ashar selama matahari masih tinggi dan cahayanya masih putih belum menguning, berdasarkan beberapa hadits yang menyatakan hal tersebut. Adapun hadits-hadits yang melarang mengerjakan shalat sesudah ‘Ashar sampai matahari terbenam dibatasi maknya dan dikhususkan kandungannya kepada kondisi apabila matahari sudah menguning.

Wallahu a’lam bis shawaab. []

Sumber: Majalah As Sunnah edisi: 02 thn. XV Rajab 1432H/Juni 2012M

Artikel: www.ibnuabbaskendari.wordpress.com


[1]   Muttafaqun ‘alaihi dari hadits Abu Sa’id al-Khudri

[2]   Sunan Abu Dawud (I/200)

[3]   Sunan an-Nasa’i (I/97)

[4]   Musnad Ahmad (I/129)

[5]   al-Muhalla (II/271)

[6]   Fathul Bari (II/50)

[7]   Irwa’ul Ghalil (II/237)

[8]   Silsilatul Ahaditsis Shahihah, 1/387, no. 200

[9]   Silsilatul Ahaditsis Shahihah, 1/389, no. 200

[10]  Hadits yang dimaksud adalah hadits yang artinya, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa mengerjakan shalat dua rakaat setiap kali selesai shalat fardhu, kecu’Ali shalat Subuh dan shalat ‘Ashar.”

[11]  Silsilatul Ahaditsis Shahihah, 1/390, no. 200

[12]  Silsilatul Ahaditsis Shahihah, 1/625, no. 314

[13]  Masruq bub ak-Adja’, seorang Imam besar termasuk pembesar Tabi’in

[14]  Silsilatul Ahadits as-Shahihah, VI/1011 (no. 2920)

[15]  Silsilatul Ahadits as-Shahihah, VI/1012 (no. 2920)

[16]  Silsilatul Ahadits as-Shahihah, VI/1012-1014 (no. 2920)

[17]  al-Musnad VI/145

[18]  Silsilatul Ahadits as-Shahihah, VII/1426-1428, no. 3488

[19]  Silsilatul Ahadits as-Shahihah, VII/1428-1430, no. 3488

[20]  HR. Ahmad (V/368) dan dishahihkan oleh al-Albani dalam Silsilatul Ahaditsis Shahihah, no. 2549

3 Responses to Shalat Sunnat Dua Rakaat Sesudah Shalat ‘Ashar

  1. KEUTAMAAN SHALAT SUNNAH EMPAT RAKAAT SEBELUM ASHAR
    – – –
    Mufti Kerajaan Saudi Arabiyah Bagian Selatan, Asy-Syaikh Al-Muhaddits Ahmad bin Yahya An-Najmi hafizhahullahu Ta’ala berkata
    dengan sanad yang bersambung
    sampai kepada Imam Asy-Syaukani
    dalam Nailul Authar, beliau berkata;
    » » »
    Dari Ibnu Umar radhiyallahu
    ‘anhuma, bahwa Nabi shallallahu
    ‘alaihi wasallam bersabda :
    “Allah merahmati orang yang shalat empat rakaat sebelum Ashar”.
    (HR. Ahmad, Abu Daud dan At-Tirmidzi).
    Asy-Syaukani berkata : “Hadits ini
    dihasankan oleh At-Tirmidzi dan
    dishahihkan oleh Ibnu Hibban dan
    Ibnu Khuzaimah. Dan di dalam
    sanadnya terdapat Muhammad bin
    Mihran, dia diperbincangkan. Akan
    tetapi dia telah ditsiqahkan oleh Ibnu
    Hibban dan Ibnu Adi”. Selesai.
    Saya (Yahya An-Najmi) berkata : Pentsiqahan Ibnu Hibban secara tersendiri tidak bisa menjadi sandaran, sebagaimana ketetapan ahlul hadits. Akan tetapi dengan dukungan pentsiqahan Ibnu Adi, hadits ini menguat, sebab Ibnu Hibban memiliki sikap tasahul, oleh karena itu bisa dikatakan hadits ini termasuk hadits hasan.
    Asy-Syaukani berkata : “Dalam hal ini
    terdapat hadits dari Ali radhiyallahu
    ‘anhu riwayat Ahlus-Sunan (Abu
    Daud, At-Tirmidzi, An-Nasa-I, dan
    Ibnu Majah) dengan lafazh :
    Artinya : Adalah Nabi shallallahu
    ‘alaihi wasallam shalat empat rakaat
    sebelum Ashar dengan memisahkan
    diantaranya dengan salam (yaitu dua
    rakaat lalu salam, kemudian dua rakat
    lalu salam).
    At-Tirmidzi, An-Nasa-I dan Ibnu Majah
    menambahkan :
    Artinya : Atas para malaikat yang
    didekatkan dan orang-orang yang
    mengikuti mereka dari kaum mukminin dan mislimin.
    Dan Asy-Syaukani menyebutkan
    riwayat lain yang semakna dengan
    hadits ini, yaitu dari Ali pada riwayat
    Ath-Thabarani di dalam Al-Ausath,
    dan dari Abdullah bin Amr bin Al-Ash
    pada riwayat Ath-Thabarani di dalam
    Al-Kabir dan Al-Ausath secara marfu’
    dengan lafazh :
    Artinya : “Barangsiapa shalat empat
    rakaat sebelum Ashar, tidak akan
    disentuh oleh neraka”.
    Dan dari Abu Hurairah pada riwayat
    Abu Nu’aim, dia berkata : Rasulullah
    shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda :
    Artinya : “Barangsiapa shalat empat
    rakaat sebelum Ashar, Allah
    mengampuninya”.
    Hadits ini dari riwayat Al-Hasan dari
    Abu Hurairah dan dia (Al-Hasan) tidak
    mendengar darinya.
    Dan dari Ummu Habibah riwayat Abu
    Ya’la dengan lafazh : Rasulullah
    shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda :
    Artinya : “Barangsiapa menjaga shalat
    empat rakaat sebelum Ashar, Allah
    bangunkan untuknya rumah di surga”.
    Dan di dalam sanadnya terdapat
    Muhammad bin Said Al Muadzdzin. Al-Iraqi berkata : “Saya tidak tahu siapa
    dia”.
    Dan dari Ummu Salamah pada
    riwayat Ath-Thabarani di dalam Al-Kabir dari Nabi shallallahu ‘alaihi
    wasallam, beliau bersabda :
    Artinya : “Barangsiapa shalat empat
    rakaat sebelum Ashar, Allah haramkan
    badannya dari neraka”.
    Asy-Syaukani berkata : “Hadits-hadits
    tersebut menunjukkan mustahabnya
    shalat empat rakaat sebelum Ashar,
    doa rahmat dari Nabi shallallahu
    ‘alaihi wasallam bagi yang
    mengerjakannya dan pengharaman
    badannya dari neraka bagi yang
    berlomba-lomba mengerjakannya”.
    Saya (An-Najmi) berkata : Sesungguhnya secara keseluruhan hadits-hadits ini menunjukkan kandungannya yang shahih. Maka seyogyanya seorang muslim memanfaatkan berbagai kesempatan yang terdapat keutamaan padanya dan tidak menyia-nyiakannya. Hukum shalat empat rakaat sebelum Ashar ini adalah mustahab dan derajat tekanannya di bawah sunnah-sunnah rawatib.
    Wabillahit-taufiq. Selesai.
    Penulis:
    Abu Abdillah Muhammad Yahya
    19 Syawal 1428 H/30 Oktober 2007 M
    Nijamiyah-Shamithah-Jazan-KSA

  2. Ping-balik: Shalat Sunnat Dua Rakaat Sesudah Shalat ‘Ashar (Bagian 1) | moslemkalijati

  3. HM Rasyidi. AR mengatakan:

    Mau tanya nih, ttg sholat tahajud, kapan baca doanya. Apakah setiap habis salam berdoa dulu baru melanjutkan sholat

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: