Fatwa-Fatwa Seputar Rumah

Oleh : Ust. Mukhlis Abu Dzar

HUKUM MAINAN BERPOSTUR MANUSIA ATAU HEWAN

Soal :

Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin rahimahullah ditanya, “Sebagaimana telah maklum bahwa kita tidak boleh menggambar manusia atau hewan, lalu apakah boleh bagi anak-anak bermain dengan permainan yang berbentuk manusia atau hewan?”

 

Jawab :

Adapun mainan yang tidak dijumpai bentuk manusia yang sempurna, dan hanya terdapat bagian dari anggota badan dan kepalanya, tapi tidak tampak bentuk yang sempurna, maka tidak diragukan lagi kebolehannya, dan hal itu termasuk jenis boneka yang digunakan Aisyah             bermain.

Adapun mainan yang memiliki bentuk yang sempurna, seakan-akan engkau melihat manusia, terlebih lagi apabila bisa bergerak dan memiliki suara, maka menurut pandangan saya tentang dibolehkannya hal tersebut perlu ditinjau kembali, karena yang demikian itu menyamai ciptaan Allah Ta’ala. Yang jelas bahwa mainan yang digunakan Aisyah radhiyallahu ‘anha bermain bukan seperti itu, maka menghindarinya lebih utama. Akan tetapi bukan berarti saya mengharamkan secara mutlak, mengingat anak kecil mendapat keringanan, tidak sebagaimana orang dewasa dalam masalah ini. Juga anak kecil memiliki tabiat bermain dan senang hiburan, dan tidak terbebani dengan sesuatu apapun dari ibadah, sampai-sampai dapat kita katakan waktunya dihabiskan buat hal-hal yang tidak bermanfaat. Namun, apabila seseorang ingin ihtiyath (berhati-hati) dalam masalah ini maka hendaklah ia menghilangkan kepalanya atau dipanaskan dengan api sampai lunak kemudian ditekan-tekan hingga hilang bentuk kepalanya.”

(Majmu Fatawa wa Rasa’il Ibnu Utsaimin : 2/217 Lihat Mausu’ah Ahkam Manzil : 15)

 

 

HIASAN RUMAH DARI HEWAN YANG DIAWETKAN

Soal :

Syaikh Abdul Aziz bin Baz ditanya tentang hukum memanfaatkan hewan atau burung yang sudah diawetkan dan hukum jual beli hewan tersebut, dan apakah ada perbedaan antara mumi hewan yang haram dipelihara ketika masih hidup dengan yang boleh dipelihara ketika masih bernyawa?

 

Jawab :

Syaikh menjawab, “Memanfaatkan burung-burung dan hewan yang sudah diawetkan, baik dari hewan yang haram dipelihara ketika masih hidup atau dari hewan yang boleh dimanfaatkan ketika masih bernyawa, maka ini merupakan tindakan penyia-nyiakan harta dan termasuk berlebih-lebihan, juga termasuk perbuatan mubazir, padahal Rasulullah telah melarang dari menyia-nyiakan harta. Lagi pula hal tersebut sebagai wasilah untuk menggambarkan burung-burung dan selainnya dari makhluk-makhluk yang bernyawa. Maka memajang dan meletakkannya di dalam rumah dan kantor atau selainnya adalah haram. Dan tidak boleh menjual dan memanfaatkannya.” (Majmu Fatawa wa Maqalat Mutanawwiah : 5/377).

Di fatwa lain Syaikh rahimahullah menjelaskan, “Tidak boleh memajang gambar (makhluk bernyawa) dan mumi hewan di dalam rumah, kantor dan tempat-tempat pertemuan berdasarkan keumuman hadits-hadits dari Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam yang menunjukkan akan haramnya memasang gambar makhluk bernyawa dan memajang patung-patung di dalam rumah. Sebab, semua itu adalah sebagai wasilah syirik kepada Allah Ta’ala, menyamai ciptaan Allah Ta’ala, dan menyerupai musuh-musuh-Nya. Lagi, memajang mumi-mumi hewan tersebut termasuk menyia-nyiakan harta dan menyerupai musuh Allah. Sebagaimana telah shahih dari Rasulullah bahwa ia mengatakan kepada Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu:

 

“Janganlah kamu biarkan gambar melainkan harus kamu hapus (lenyapkan), dan tidak ada satu kuburan pun yang menggunung melainkan harus kamu ratakan.” (HR. Muslimin). (Al-Fatawa : 1/19).

 

 

MEMELIHARA BURUNG DI DALAM RUMAH

Soal :

Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin rahimahullah ditanya, ”Sebagian orang membeli burung dan hewan dengan harga yang tinggi, hingga harga hewan dan burung tersebut mencapai 60.000 real atau paling sedikit 5.000 sampai 10.000 real. Bagaimana pendapat Anda dalam masalah ini?”

 

Jawab :

Syaikh menjawab, ”Diceritakan kepada saya bahwa di sana ada jenis burung yang harganya sangat tinggi, apabila seseorang menyukainya maka tidak mengapa, dan membelinya karena ada tujuan yang shahih. Adapun burung merpati maka saya khawatir hal tersebut termasuk menyia-nyiakan harta. Padahal Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang menyia-nyiakan akan harta. Begitu juga bermain-main dengan burung merpati adalah terlarang, ada pun hal tersebut termasuk menyia-nyiakan harta bagaimana mungkin uang 5.000 real hanya untuk membeli burung merpati, karena mungkin kucing akan memakannya atau mati karena kehausan dan lain sebagainya. Dan adapun bermain burung merpati termasuk perbuatan sia-sia karena orang yang disibukkan dengannya lupa dari maslahat dunia dan agamanya. (Liqa Bab Maftuh : 2/484)

Syaikh Ibnu Baz rahimahullah menandaskan, ”Hal tersebut tidak berdosa, jika engkau tidak berbuat zalim, dan hendaklah Anda memperlakukannya dengan baik dalam hal memberi makan dan minumnya. Baik binatang peliharaan tersebut berupa burung kakaktua, burung merpati, ayam atau binatang piaraan lainnya, dengan syarat harus diperlakukan dengan baik dan tidak menzaliminya. Baik binatang peliharaan itu dipelihara di dalam kolam, sangkar atau aquarium seperti ikan. Sesungguhnya Allah Maha Pelindung lagi Maha Penolong.” (Fatawa Islamiyyah, 4/448-449).

 

 

MEMBUNUH SERANGGA DENGAN ALAT SEPERTI RAKET LISTRIK

Soal :

Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin rahimahullah pernah ditanya tentang hukum menggunakan alat listrik yang diletakkan di wadah makanan untuk membunuh lalat, nyamuk dan serangga lainnya.

 

Jawab :

Syaikh rahimahullah mengatakan, ”Tidak mengapa menggunakannya, dan ini bukan termasuk menyiksa dengan api, karena berdasarkan yang saya ketahui bahwa serangga-serangga tersebut mati dengan aliran listrik, buktinya jika engkau letakkan kertas di atas alat ini, kertas itu tidak terbakar. Begitu pula apabila seseorang menyentuh aliran listrik, ia akan mati tanpa terbakar.” (Liqa Bab Maftuh : 3/289).

Beliau juga mengatakan pada tempat lain, ”Bahwa orang yang meletakkan alat ini tidak bermaksud untuk menyiksa lalat dan serangga dengan api, akan tetapi tujuannya adalah untuk menolak gangguannya. Memang ada hadits yang melarang menyiksa dengan api, sedangkan ini tidaklah untuk menyiksa akan tetapi untuk menolak gangguan. Kemudian, sangat sulit untuk membasmi serangga kecuali dengan menggunakan alat ini atau dengan alat yang menyemprotkan bau tidak enak yang terkadang bisa memudaratkan badan. Dan Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah membakar pohon kurma Bani Nadhir, sedangkan di pohon kurma biasanya terdapat burung, serangga dan yang semisalnya.” (Fatawa Nur ala ad-Darb).

 

 

MEMBANGUN KAMAR DI ATAS MASJID UNTUK DISEWAKAN

Soal :

Lajnah Da’imah pernah ditanya, ”Apakah boleh membangun kamar khusus untuk disewakan di atas mesjid, dikarenakan di masjid tersebut banyak mushaf, kitab-kitab fikih dan hadits?”

 

Jawab :

Lajnah menjawab, ”Apabila tanah tersebut bukan wakaf untuk masjid, akan tetapi miliki Anda pribadi maka tidak mengapa membangun ruangan dua tingkat atau lebih dan mengkhususkan lantai dasar sebagai mesjid untuk orang-orang yang tinggal di bangunan itu, dan menjadikan lantai kedua sebagai tempat tinggal Anda atau untuk disewakan. Karena maksud pembangunan tersebut adalah membangun masjid dan kamar di atas tanah miliknya, semuanya kembali kepada maslahat masjid pemilik bangunan itu.” (Fatawa Lajnah Da’imah : 31/221)

 

 

MENGAKHIRKAN SHUBUH KARENA NONTON BOLA DI RUMAH

Soal :

Ada pertanyaan yang masuk ke Lajnah Da’imah, ”Ada seseorang mengerjakan shalat Shubuh setelah matahari terbit, dan ini sudah menjadi kebiasaannya setiap pagi. Kebiasaan itu sudah berlangsung selama dua tahun. Dia beralasan bahwa tidur telah mengalahkannya karena dia sering begadang. Dia mengisi waktu malamnya dengan menikmati hiburan-hiburan. Apakah sah shalat yang dilakukan oleh orang semacam ini?”

 

Jawab :

Lajnah menjawab, ”Diharamkan bagi seseorang mengakhirkan shalat sampai keluar waktunya. Wajib bagi setiap muslim yang mukallaf (yang terkenai kewajiban) untuk menjaga shalat di waktunya, termasuk shalat Shubuh dan shalat yang lainnya. Dia bisa memasang alat-alat pengingat (seperti alarm) untuk membangunkannya ketika waktu Shubuh telah masuk.

Kita diharamkan lembur di malam hari untuk menikmati hiburan dan semacam itu. Allah Ta’ala telah melarang begadang di malam hari jika hal ini melalaikan dari mengerjakan shalat Shubuh di waktunya atau melalaikan dari shalat Shubuh secara jamaah. Hal ini terlarang karena Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah melarang begadang setelah waktu Isya jika tidak ada manfaat syar’i sama sekali.

Perlu diketahui pula bahwa setiap amalan yang dapat menyebabkan kita mengakhirkan shalat dari waktunya, maka amalan tersebut haram untuk dilakukan kecuali jika amalan itu dikecualikan oleh syariat yang mulia ini.

Jika memang keadaan orang yang Anda sebutkan tadi adalah seperti itu, maka nasihatilah dia. Jika dia tidak menghiraukan, tinggalkan dan jauhilah.” (Fataw Lajnah Da’imah lil Buhuts al-Ilmiyyah wal Ifta, no. 8371, 69/90).

 

Sumber: Majalah Al Mawaddah vol. 45 Dzulhijjah 1432H / Okt-Nov 2011M

Artikel: https://ibnuabbaskendari.wordpress.com

One Response to Fatwa-Fatwa Seputar Rumah

  1. mifta NR mengatakan:

    masya Allah, sangat bermanfaa

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: