Rambu-Rambu Pasang Iklan

Ustadz Abu Ubaidah Yusuf bin Mukhtar as-Sidawi

Dalam dunia pemasaran, di antara kunci keberhasilan sebuah usaha adalah harga (price), iklan (promotion), tempat (place), produk (product). Menyadari hal ini maka para pelaku bisnis sangat bersemangat mengoptimalkan keempat faktor, hingga jangan heran jika sekarang ini iklan membanjiri media, baik koran, majalah, televisi, radio, dan internet. Semua itu karena memang iklan memiliki kekuatan yang luar biasa untuk menggait hati manusia dan membius otak manusia.

Anda bisa bayangkan, bagaimana peran iklan rokok yang begitu memukau dan menutupi akal manusia padahal pada bungkus rokok telah tertulis pesan yang sangat jelas “Rokok dapat menyebabkan kanker, serangan jantung, impotensi dan gangguan kehamilan dan janin”. Aneh, bukan?!

Di samping itu, banyak iklan dan sponsor yang tidak mengindahkan rambu-rambu syari’at demi meraup keuntungan dan melariskan dagangan serta menjatuhkan saingan. Karena itu, sebagai seorang muslim hendaknya kita mengetahui rambu-rambu syari’at dalam periklanan agar bisnis yang kita jalankan menuai barokah di sisi Allah. Amin.

 

DEFINISI IKLAN

Iklan secara bahasa artinya menampakkan sesuatu. Adapun yang dimaksud di sini adalah memperkenalkan produk dan pelayanan tertentu, menyiarkan dan mensponsorkannya kepada  khalayak melalui perantara tertentu dengan pembayaran tertentu.

 

MACAM-MACAM PUJIAN DALAM IKLAN

Iklan untuk melariskan sebuah barang dan dagangan biasanya dengan cara menampakkan keistimewaan dan memberikan pujian-pujian yang itu tidak luput dari dua keadaan[1] :

  1. A.       Pujian yang besar

Apabila pujian tersebut sesuai degan fakta yang ada maka hukumnya adalah boleh, lebih-lebih apabila iklan tersebut memuat informasi yang tidak banyak diketahui oleh pembeli. Dalil tentang bolehnya hal ini adalah sebagai berikut :

  1. Hukum asal dalam masalah mu’amalat adalah halal dn boleh sampai ada dalil yang melarang, sedangkan tidak ada dalil dari al-Qur’an, sunnah, ijma’, qiyas yang melarang periklanan.
  2. Segala sesuatu yang dibutuhkan oleh manusia dan membawa kemaslahatan bagi mereka, maka syari’at tidak mungkin mengharamkannya, karena hal itu akan menimbulkan kesulitan bagi manusia.[2]
  3. Iklan sama persis dengan makelar yang menunjukkan dan mengumumkan di pasar akan tempat barang dan penjualnya, sedangkan para ulama membolehkan pekerjaan tersebut, tak satu pun di antara mereka yang mengingkarinya, maka hal itu menunjukkan boleh.[3]
  4. Pada iklan terdapat pujian terhadap barang, sedangkan syari’at membolehkan bagi seseorang untuk memuji dirinya bila memang membawa kepada kemaslahatan[4] seperti ucapan Nabi Yusuf ‘alaihis salam : Berkata Yusuf, “Jadikanlah aku bendaharawan negara (Mesir); sesungguhnya aku adalah orang yang pandai menjaga, lagi berpengetahuan.” (QS. Yusuf [12] : 55).

 

Kalau memuji diri sendiri saja boleh kalau ada maslahatnya, apalagi memuji barang yang tidak ada larangannya sama sekali, tentu lebih boleh hukumnya.

 

  1. B.       Pujian yang Tidak Benar

Hal itu bisa dengan dua cara : (1) Berdusta kepada manusia dengan mengabarkan tentang produk dan pelayanan yang tidak sesuai dengan kenyataan yang ada . (2) Menipu manusia dengan bersilat lidah sehingga menyembunyikan kecatatan barang dan sejenisnya.

Dua hal ini (berdusta dan menipu) jelas telah diharamkan dalam syari’at Islam dengan tegas berdasarkan al-Qur’an, hadits dan ijma ulama

 

Dalil al-Qur’an

Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu saling memakan harta sesamamu dengan jalan yang batil, kecuali dengan jalan perniagaan yang berlaku dengan suka sama-suka di antara kamu. Dan janganlah kamu membunuh dirimu; sesungguhnya Allah adalah Maha Penyayang kepadamu. (QS. an-Nisa [4] :29)

Dalam ayat ini Allah mengharamkan kepada kita dari makan harta dengan cara yang batil. Dan mengecualikan perniagaan yang didasari atas keridhaan, sedangkan orang yang membeli barang palsu maka-tidak diragunkan lagi-dia tidak akan ridha. Maka jual beli yang ada penipuannya berarti termasuk makan harta dengan cara yang batil.[5]

 

Dalil hadits

Banyak sekali hadits Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam yang melarang hal ini, di antara sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada penjual makanan yang menampakkan barang yang bagus dan menyembunyikan barang yang jelek : Kenapa kamu tidak letakkan barang yang jelek itu di bagian atas saja agar diketahui oleh pembeli. Barang siapa menipu maka bukanlah dari golonganku.” (HR. Muslim : 102)

 

Dalam hadits ini Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam menyebut penjual yang menampakkan barang yang bagus dan menyembunyikan barang yang jelek dengan penipuan. Itu berarti menunjukkan haramnya penjual menampakkan apa yang tidak ada pada barang, baik dengan ucapan atau perbuatan, karena semua itu termasuk bentuk penipuan.[6]

 

Dalil ijma’

Banyak ulama yang menukil ijma tentang haramnya melakukan penipuan dalam transaksi jual beli, di antaranya al-Maziri dalam al-Mu’lim bi Fawaid Muslim 2/248, al-Aini dalam Umdatul Qari 11/273, asy-Syaukani dalam Nailul Authar 6/304, dll.

 

RAMBU-RAMBU SYARI’AT DALAM IKLAN

Iklan dan sponsor adalah termasuk masalah mu’amalat kontemporer yang tidak keluar dari rambu-rambu syari’at Islam. Hanya, kiranya perlu disampaikan di sini beberapa aturan secara khusus tentang periklanan untuk menjaga tujuan-tujuan syari’at dan adab-adab Islam, di antaranya[7] :

  1. Hendaknya penjual meluruskan niatnya ketika pasang iklan, yaitu untuk memperkenalkan kepada manusia akan keistimewaan barang produknya sehingga mereka mengetahui hal yang sebelumnya tidak mereka ketahui.
  2. Hendaknya penjual bersikap jujur dengan mengabarkan tentang barang dan pelayanannya sesuai dengan kenyataan sehingga tidak membuat konsumen merasa kecewa atau tertipu setelah membelinya. Ingatlah bahwa kejujuran adalah fondasi utama dalam mu’amalat dan kunci utama untuk meraih keberkahan dalam perniagaan. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda : Penjual dan pembeli itu memiliki hak khiyar (melanjutkan transaksi atau menggagalkan) selama belum berpisah. Apabila keduanya jujur dan saling terus terang maka jual belinyad akan diberkahi, namun jika keduanya menyembunyikan dan berdusta maka akan dicabut keberkahan jual belinya.” (HR. Bukhari : 2079 dan Muslim : 1532).
  3. Tidak melakukan penipuan dalam iklannya dengan menampakkan keindahan barang tetapi menyembunyikan kecacatannya atau memuji padahal tidak sesuai dengan kenyataan yang ada. Semua ini hukumnya haram sebagaimana penjelasan sebelumnya.
  4. Tidak boleh merendahkan dan mencela barang milik saudara lainnya karena itu memudaratkan dan menjatuhkan mereka. Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda : Tidak sempurna iman salah seorang di antara kalian sehingga dia mencintai saudaranya apa yang dia cintai untuk dirinya.” (HR. Bukhari : 13 dan Muslim : 45).

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda : Tidak boleh membahayakan diri sendiri dan orang lain.”

  1. Hendaknya tidak melakukan pemborosan dalam iklan karena pemborosan terlarang dalam agama. Allah berfirman : Dan Dialah yang menjadikan kebun-kebun yang berjunjung dan yang tidak berjunjung, pohon kurma, tanam-tanaman yang bermacam-macam buahnya, zaitun dan delima yang serupa (bentuk dan warnanya) dan tidak sama (rasanya). Makanlah dari buahnya (yang bermacam-macam itu) bila dia berbuah, dan tunaikanlah haknya di hari memetik hasilnya ( dengan disedekahkan kepada fakir miskin); dan janganlah kamu berlebih-lebihan. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang yang berlebih-lebihan. (QS. al-An’am [6] : 141).
  2. Hendaknya menghindari hal-hal yang menodai kehormatan syari’at yang mulia baik dengan mensponsorkan barang terlarang-seperti rokok-atau menggunakan cara-cara haram dalam iklan-seperti nyanyian, wanita model, dan sebagainya.

 

DAFTAR REFERENSI

  1. Al-Hawafiz at-Tijariyyah at Taswiqiyyah wa Ah-kamuha fil Fiqhi Islami, Khalid bin Abdillah al-Mushlih, Dar Ibnul Jauzi, cet. Ke-2, 1426 H.
  2. Al-I’lan al-Masyru’ wal Mamnu’ fil Fiqhi Islami, Musa’id bin Qasim al-Falih, Darul Ashimah, cet. Pertama, 1415 H.
  3. Dan lain-lain.

 

Sumber: Majalah Al-Furqon edisi: 2 no 177 thn. ke- II Syawal 1432H [Sept-Okt 2011M]

Artikel: www.IbnuAbbasKendari.wordpress.com


[1]   Dinukil dari al-Hawafiz at-Tijariyyah at-Taswiqiyyah hlm. 192-196 oleh Syaikhuna Khalid bin Abdillah al-Mushlih.

[2]   Lihat al-‘Uqud hlm. 227 oleh Ibnu Taimiyyah

[3]   Lihat al-Asybah wan Nazhair Ibnu Nujaim hlm. 270, al-Fatawa al-Bazariyyah 15/51, al-Fawakih ad-Dawani 2/161

[4]   Lihat Ahkamul Qur’an 3/1092 oleh Ibnul Arabi dan al-Jami’ li Ahkamil Qur’an 9/215-217 oleh al-Qurthubi

[5]   Lihat Badai ash-Shanai 5/274, al-Muqaddimat al-Mumahhidat 2/99, Bidayatul Mujtahid 2/173

[6]   Majmu Fatawa 4/537, Maalimul Qurbah fi Ahkamil Hisbah hlm. 72

[7]   Lihat al-Hawafiz at-Tijaariyyah at-Taswiqiyyah hlm. 197-199 oleh Syaikhuna Khalid al-Mushlih dan al-I’lan al-Masyru wal Mamnu fil Fiqhi Islami hlm. 96-98 karya Musa’id bin Qasim al-Falih

Iklan

One Response to Rambu-Rambu Pasang Iklan

  1. Dari dulu saya ingin sekali membuat web iklan gratis namun saya ragu dengan iklan yang dipasang nantinya. Meskipun saya bukanlah seorang yang taat namun hal yang ada dalam postingan ini membuat saya bingun dan akhirnya tidak jadi membuat web iklan gratis.

    Semoga ada pintu rezeki lain yang terbuka menggantikannya. Amien

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: