Mut’ah Zina Berkedok Nikah

Ahmad Sabiq bin Abdul Lathif Abu Yusuf

Mungkin anda pernah mendengar ada seorang muslimah yang memakai pakaian syar’i bahkan bercadar mengidap penyakin kelamin semacam spilis atau lainnya. Itu bukan sesuatu yang mustahil terjadi, saya tidak mengatakannya karena mereka terjerumus dalam lembah hitam pelacuran –karena hal itu sangat jauh untuk dilakukan oleh mereka meskipun tidak mustahil-akan tetapi disebabkan praktek nikah mut’ah atau kawin kontrak ala Syi’ah, yang mana nikah model ini membuat seorang wanita boleh berganti-ganti pasangan dalam nikah mut’ahnya. (Lihat Mengapa kita menolak Syiah, kumpulan makalah seminar nasional sehari tentang syi’ah oleh LPPI Jakarta hal 244).

Mencermati fenomena yang sebenarnya sudah lama terjadi ini terutama di dunia kampus yang sudah kerasukan virus pemikiran syi’ah, maka saya mohon pertolongan Allah Ta’ala untuk menulis sedikit nasehat kepada kita semua. Semoga Allah Ta’ala menunjukkan kita ke jalan yang lurus.

PENGERTIAN MUT’AH

Mut’ah berasal dari kata tamattu’ yang berarti bersenang-senang atau menikmati. (Lihat Mu’jamul wasith 2/852). Adapun secara istilah mut’ah berarti seorang laki-laki menikahi seorang wanita dengan memberikan sejumlah harta tertentu dalam waktu tertentu, pernikahan ini akan berakhir sesuai dengan batas waktu yang telah ditentukan tanpa talak serta tanpa kewajiban memberi nafkah maupun tempat tinggal dan tanpa adanya saling mewarisi antara keduanya jika salah satu dari keduanya meninggal sebelum berakhirnya masa nikah mut’ah itu. (Lihat Fathul Bari 9/167, Syarah Shahih Muslim 3/554, Jami’ Ahkamin Nisa’ 3/169).

HUKUM NIKAH MUT’AH

Telah datang dalil yang amat sangat jelas lebih jelas dari matahari di siang bolong tentang haramnya nikah mut’ah, diantaranya :

1.      Hadits Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu

Dari Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu berkata : ”Sesungguhnya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang nikah mut’ah dan memakan daging himar jinak pada waktu perang khaibar”. (HR. Bukhari 5115, Muslim 1407).

2.      Hadits Sabrah bin Ma’bad Al-Juhani radhiyallahu ‘anhu

Dari Sabrah bin Ma’bad Al-Juhani radhiyallahu ‘anhu berkata : ”Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan kami untuk nikah mut’ah apda tahun fathu Makah saat kami masuk Makah kemudian beliau melarang kami sebelum kami keluar dari Makah”.

Dan dalam riwayat lain : Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda : ”Wahai sekalian manusia, sesungguhnya saya dahulu telah mengizinkan kalian mut’ah dengan wanita. Sekarang Allah telah mengharamkannya sampai hari kiamat, maka barang siapa yang memiliki istri dari mut’ah maka hendaklah diceraikan”. (HR. Muslim 1406, Ahmad 3/404), Thobroni dalam Al-Kabir 6536, Baihaqi 7/202, Darimi 2/140).

3.      Hadits Salamah bin Akwa’ radhiyallahu ‘anhu

Dari Salamah bin Akwa’ radhiyallahu ‘anhu berkata : ”Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam memberikan keringanan untuk mut’ah selama tiga hari pada perang authos kemudian beliau melarangnya”. (HR. Muslim 1023).

FATWA ULAMA’ TENTANG NIKAH MUT’AH

Ulama madzhab Hanafi

1.      Berkata Imam Al-Sarakhsi rahimahullah : ”Nikah mut’ah ini batil menurut madzhab kami”. (Al-Mabsuth 5/152).

2.      Berkata Imam Al-Kasani rahimahullah : ”Tidak boleh nikah yang bersifat sementara yaitu nikah mut’ah”. (Bada’i Al-Shana’i 2/272).

3.      Berkata Imam Abu Ja’far Ath-Thohawi rahimahullah : ”Sesungguhnya semua hadits yang membolehkan nikah mut’ah telah dimansukh (dihapus)”. (Syarah Ma’ani Atsar 3/26).

Beliau rahimahullah juga berkata selanjutnya (3/27) : ”Lihatlah Umar radhiyallahu ‘anhu, beliau melarang nikah mut’ah dihadapan semua sahabat tanpa ada yang mengingkari, ini adalah dalil bahwasanya mereka mengikuti larangan Umar radhiyallahu ‘anhu, dan kesepakatan mereka untuk melarang hal tersebut adalah hujjah atas dihapusnya kebolehan mut’ah.

Ulama mahzhab Maliki

4.      Berkata Imam Malik bin Anas rahimahullah : ”Apabila seorang lelaki menikahi wanita dengan dibatasi waktu maka nikahnya bathil”. (Al-Mudawwanah Al-Kubra 2/130).

5.      Berkata Imam Ibnu Rusyd rahimahullah : ”Hadits-hadits yang mengharamkan nikah mut’ah mencapai peringkat mutawatir”. (Bidayatul Mujtahid 4/325).

6.      Berkata Imam Ibnu Abdil Bar rahimahullah : ”Adapun semua sahabat, tabiin dan orang-orang yang setelah mereka mengharamkan nikah mut’ah, diantara mereka adalah Malik dari Madinah, Abu Hanifah dan Abu Tsaur dari Kufah, Al-Auza’i dari Syam, Laits bin Sa’ad dari Mesir serta seluruh ulama hadits”. (At-Tamhid 10/121).

Ulama mahzhab Syafi’i

7.      Berkata Imam Asy-Syafi’i rahimahullah : ”Nikah mut’ah yang dilarang itu adalah semua nikah yang dibatasi dengan waktu baik pendek maupun panjang”. (Al-Umm 5/85).

8.      Berkata Imam An-Nawawi rahimahullah : ”Nikah mut’ah tidak diperbolehkan, karena pernikahan itu pada dasarnya suatu akad yang bersifat muthlaq, maka tidak sah apabila dibatasi dengan waktu”. (Al-Majmu’ 17/356).

9.      Berkata Imam Al-Khothobi rahimahullah : ”Keharaman nikah mut’ah semacam kesepakatan antara kaum muslimin, memang nikah ini dihalalkan di awal masa Islam akan tetapi diharamkan pada saat haji wada’, dan demikian itu terjadi di akhir-akhir masa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Dan sekarang tidak ada perbedaan antara para ulama mengenai keharaman masalah ini kecuali sedikit dari kalangan orang-orang syi’ah Rofidloh”. (Lihat Ma’alimus Sunan 2/558).

Ulama mahzhab Hanbali

10.  Imam Ibnu Qudamah rahimahullah berkata : ”Nikah mut’ah ini batil sebagaimana ditegaskan oleh Imam Ahmad rahimahullah, beliau berkata : ”Nikah mut’ah haram”. (Al-Mughni 6/644).

11.  Bahkan sebagian ulama menukil ijma’ tentang keharaman nikah mut’ah seperti Imam Al-Baghowi rahimahullah sebagaimana dinukil Syaikh Shiddiq Hasan Khon rahimahullah (Roudloh Nadiyah 2/165 Ma’at Ta’liqot), Imam Al-Qurthubi rahimahullah, Ibnul Arabi rahimahullah (Jami’ Ahkamil Qur’an 5/86-87), Imam Ibnu Rusyd rahimahullah dalm Bidayatul Mujtahid 2/48 dan Sayyid Sabiq rahimahullah dalam Fiqhus Sunnah 2/130).

12.  Majlis Ulama Indonesia pusat telah menfatwakan akan keharaman nikah mut’ah pada SK fatwa Nomor : Kep-B-679/MUI/XI/1997. (Lihat Mengapa kita menolak syi’ah, kumpulan makalah seminar nasional tentang syi’ah oleh LPPI Jakarta hal 185).

MUT’AH DALAM UU PERKAWINAN INDONESIA

Kalau ditinjau dari undang-undang perkawinan di Indonesia (UU No. 1 tahun 1974 tentang perkawinan, UU No. 7 tahun 1989 tentang peradilan agama dan kompilasi hukum Islam di Indonesia yang merupakan instruksi presiden No. 1 tahun 1991) jelas dan tegas bahwa nikah mut’ah sangat melanggar dan berlawanan dengan hukum negara. Sebagai contoh dari pelanggaran tersebut adalah :

1.      Bab I pasal 1 UU No. 1 tahun 1974 : “Perkawinan ialah ikatan lahir batin antara seorang pria dengan wanita sebagai suami isteri dengan tujuan membentuk keluarga yang bahagia dan kekal”.

Dalam nikah mut’ah tidak ada tujuan rumah tangga yang kekal karena apabila selesai masanya akan terjadi perpisahan antara kedua secara langsung.

2.      Bab VI pasal 34 UU No. 1 tahun 1974 : ”Suami wajib melindungi istrinya dan memberikan segala sesuatu keperluan hidup berumah tangga sesuai dengan kemampuannya”.

Dalam nikah mut’ah tidak ada kewajiban memberi nafkah atas suami kepada istri.

3.      Bab VIII pasal 38 UU No. 1 tahun 1974 : “Perkawinan dapat putus karena : a. Kematian, b. Perceraian, c. Atas keputusan pengadilan”.

Dalam nikah mut’ah nikah dapat putus dengan selesainya waktu tanpa adanya perceraian. (Lihat hukum perkawinan di Indonesia oleh HA Wasit MA cet. Bulan bintang).

KAPAN NIKAH MUT’AH DIHARAMKAN ?

Pada awal Islam nikah mut’ah memang dihalalkan, sebagaimana yang tercantum dalam banyak hadits diantaranya :

1.      Hadits Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu

Dari Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu berkata : ”Kami berperang bersama Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam sedangkan kami tidak membawa serta istri-istri kami, maka kami berkata : ”Bolehkah kami berkebiri : Namun Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam melarangnya tapi kemudian beliau memberikan kami keringanan untuk menikahi wanita dengan mahar pakaian sampai batas waktu tertentu”. (HR. Bukhari 5075, Muslim 1404).

2.      Hadits Jabir dan Salamah radhiyallahu ‘anhu

Dari Jabir bin Abdillah radhiyallahu ‘anhu dan Salamah bin Akwa’ radhiyallahu ‘anhu berkata : ”Pernah kami dalam sebuah peperangan, lalu datang kepada kami Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam”, dan berkata : ”Telah diizinkan bagi kalian untuk menikah mut’ah, maka sekarang mut’ahlah”. (HR. Bukhari 5117).

Namun hukum ini telah dimansukh (dihapus) dengan larangan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk menikah mut’ah sebagaimana beberapa hadits diatas. Akan tetapi para ulama berselisih pendapat kapan diharamkannya nikah mut’ah tersebut dengan perselisihan yang tajam, namun yang rojih – Wallahu a’lam – bahwa nikah mut’ah diharamkan pada saat fathu makkah tahun 8 hijriyah. Ini adalah tahqiq Imam Ibnul Qoyyim rahimahullah dalam Zadul Ma’ad 3/495, Al-Hafidl Ibnu Hajar rahimahullah dalam Fathul Bari 9/170, Syaikh Al-Albani rahimahullah dalam Irwaul Gholil 6/314. (Lihat tambahan penjelasan masalah ini pada Jami’ Ahkamin Nisa’ Syaikh Al-Adawi rahimahullah 3/169-189).

NIKAH MUT’AH YANG DIHALALKAN DIAWAL MASA ISLAM

Nikah mut’ah yang dihalalkan di awal era Islam bukan mut’ah ala syi’ah yang sudah banyak meracuni kaum muslimin, karena mut’ah yang pernah dihalalkan namun kemudian diharamkan itu harus memenuhi kriteria berikut :

1.      Tidak sedang berada di tempat tinggalnya, namun sedang melakukan safar maupun pada saat jihad yang mana dia tidak bisa membawa istrinya. Jadi dihalalkannya nikah mut’ah diawal Islam adalah saat terpaksa bukan dalam keadaan lapang. Hal ini ditunjukan oleh hadits Ibnu Mas’ud radhiyallahum ‘anhu, Jabir bin Abdillah radhiyallahu ‘anhu dan Salamah bin Akwa’ radhiyallahu ‘anhu diatas. Dan ini diperkuat oleh Riwayat Imam Bukhari 5116 dari Abi Jamroh berkata : ”Saya mendengar Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhum ditanya tentang mut’ah lalu beliau membolehkannya, maka ada bekas budak beliau yang berkata : ”Itu hanya dalam keadaan terpaksa dan saat wanita sangat sedikit”. Maka Ibnu Abbas menjawab : ”Benar”.

Berkata Al-Qodli Iyadl rahimahullah : ”Semua hadits diatas tidak ada yang menunjukkan bahwa mut’ah dilakukan saat berada ditempat tinggalnya, namun dilakukan saat dalam perjalanan perang atau saat terpaksa dan tidak adanya istri yang bersamanya”. (Syarah Shahih Muslim 9/1179).

2.      Harus memenuhi syarat akad nikah yang sah, yaitu izin wali wanita, adanya dua orang saksi dan adanya mahar serta apabila telah selesai masa mut’ah si wanita wajib melakukan iddah sehingga jelas apakah dia hamil ataukah tidak ? Karena kalau hamil maka anak itu dinasabkan kepada bapaknya. (Lihat Al-Mufashol Fi Ahkamil Mar’ah oleh Syaikh Abdul Karim Zaidan rahimahullah 6/174).

Berkata Imam Ibnu Arhiyah rahimahullah : ”Nikah mut’ah yang pernah dibolehkan adalah apabila seorang laki-laki menikahi wanita dengan dua orang saksi dan izin wali sampai batas waktu tertentu, hanya saja tanpa hak saling mewarisi antara keduanya namun tetap harus dengan mahar atas kesepakatan keduanya, dan apabila telah selesai masanya maka dia tidak lagi mempunyai hak atas istrinya dan harus istibra rahimnya (Mengosongkan rahim dari janin dan itu bisa diketahui dengan datangnya haidl atau melahirkan) karena si anak yang terlahir akan dinasabkan kepada ayah, tapi apabila tidak hamil maka dia boleh menikah dengan lainnya”. Imam Al-Qurthubi rahimahullah berkata apabila nikah mut’ah tanpa saksi dan wali : ”Hal itu adalah perzinaan, sama sekali tidak dibolehkan dalam Islam”. (Lihat Tafsir Qurthubi 5/132).

Hal ini sangat jauh berbeda dengan praktek mut’ah yang dilakukan sebagian orang sekarang ini karena memang mereka mengadopsi dari mut’ah syiah yang mana tidak disyaratkan adanya wali dan saksi. (Lihat Al-Mufashol 6/175-177 dan kitab mereka An-Nihayah oleh Ath-Thusi hal 489).

Berkata Syaikh Abdul Karim Zaidan rahimahullah : “Setelah memaparkan model nikah mut’ah syi’ah ja’fariyah maka sangat jelas dari kitab-kitab monumental mereka maka sangat jelas dan gamblang akan kebathilan nikah ini dan itu bukan mut’ah yang pernah dihalalkan di awal masa Islam”. (Al-Mufashol 6/177).

SYUBHAT DAN JAWABANNYA

Orang-orang yang berusaha untuk meracuni ummat Islam dengan mut’ah, mereka membawa beberapa syubhat untuk menjadi tameng dalam mempertahankan tindakan keji mereka, tetapi tameng itu terlalu rapuh. Seandainya bukan karena ini sudah mengotori fikiran sebagian kaum muda ummat Islam maka kita tidak usah bersusah payah untuk membantahnya. Syubhat tersebut adalah :

1.      Firman Allah Ta’ala

Mereka menafsirkannya dengan : “Maka apabila kalian menikahi mut’ah diantara mereka (para wanita) maka berikanlah mahar mereka”. (QS. An-Nisa : 24).

Juga karena Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam jelas pernah membolehkan nikah mut’ah, padahal beliau tidak mungkin berbicara dengan dasar hawa nafsu tapi dengan wahyu, dan oleh karena ayat ini adalah satu-satunya ayat yang berhubungan dengan mut’ah maka hal ini menunjukkan akan halalnya mut’ah. (Lihat Al-Mut’ah fil Islam oleh Husain Al-Amili hal 9).

Jawab :

Memang sebagian ulama menafsirkan “istamta’tum” dengan nikah mut’ah, akan tetapi tafsir yang benar dari ayat ini adalah apabila kalian telah menikahi wanita lalu kalian berjima’ dengan mereka maka berikanlah maharnya sebagian sebuah kewajiban atas kalian.

Berkata Imam Ath-Thobari setelah memaparkan dua tafsir ayat tersebut : “Tafsir yang paling benar dari ayat tersebut adalah kalau kalian menikahi wanita lalu kalian berjima’ dengan mereka maka berikanlah maharnya, karena telah datang dalil dari Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam akan haramnya nikah mut’ah”. (Lihat Tafsir Ath-Thobari 8/175).

Berkata Imam Al-Qurthubi : “ Tidak boleh ayat ini digunakan untuk menghalalkan nikah mut’ah karena Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah mengharamkannya.” (Tafsir Al-Qurthubi 5/132).

Dan kalau toh kita terima bahwa ma’na dari ayat tersebut adalah nikah mut’ah maka hal itu berlaku di awal Islam sebelum diharamkan. (Lihat Al-Qurthubi 5/133, Ibnu Katsir 1/474, Al-Mufashol Fi Ahkamil Mar’ah 6/166 dan Roudloh Nadiyah 2/165).

2.      Hadits Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhum, Jabir bin Abdillah radhiyallahu ‘anhum dan Salamah bin Akwa’ radhiyallahu ‘anhu diatas menunjukkan bahwa nikah mut’ah halal.

Jawab :

Semua hadits yang menunjukkan halalnya mut’ah telah dimansukh. (Lihat Ar-Roudloh An-Nadiyah oleh Syaikh Shidiq Hasan Khon rahimahullah 2/165). Hal ini sangat jelas sekali dengan sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam : “Wahai sekalian manusia, sesungguhnya saya dahulu telah mengizinkan kalian mut’ah dengan wanita. Sekarang Allah telah mengharamkannya sampai hari kiamat.”

Berkata Imam Bukhari rahimahullah (5117) setelah meriwayatkan hadits Jabir dan Salamah radhiyallahu ‘anhum : “Ali telah menjelaskan dari Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bahwa hadits tersebut dimansukh:.

3.      Sebagian para sahabat masih melakukan mut’ah sepeninggal Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam sampai Umar melarangnya, sebagaimana disebutkan dalam banyak riwayat, diantaranya :

Dari Jabir bin Abdullah radhiyallahu ‘anhum berkata : “Dahulu kita nikah mut’ah dengan mahar segenggam kurma atau tepung pada masa Rasulullah SAW juga Abu Bakar sampai Umar melarangnya”. (HR. Muslim 1023).

Jawab :

Riwayat Jabir ini menunjukkan bahwa beliau belum mengetahui terhapusnya kebolehan mut’ah. Berkata Imam Nawawi rahimahullah : “Riwayat ini menunjukkan bahwa orang yang masih melakukan mut’ah  pada masa Abu Bakar dan Umar belum mengetahui terhapusnya hukum tersebut”. (Syarah Shahih Muslim 3/555, lihat pula Fathul B ari, Zadul ma’ad 3/462, Jami’ Ahkamin Nisa’ 3/191)

4.      Telah terjadi ijma’ bahwa nikah mut’ah dihalalkan di awal Islam, sedang apa yang telah terjadi ijma’ tidak mungkin dihapus dengan ijma’ baru.

Jawab :

Berkata Syaikh Abdul Karim Zaidan : “Yang menghalalkan mut’ah di awal Islam adalah sunnah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan kemudian diharamkan juga dengan sunnah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, jadi tidak ada hubungannya antara ijma’ dengan penghalalan di awal Islam dan pengharamannya kemudian”. (Al-Mufashol 6/169).

5.      Ali bin Abi Taholib radhiyallahu ‘anhu berkata : “Seandainya Umar bin Khothob radhiyallahu ‘anhu tidak mendahuluiku, pasti akan aku perintahkan untuk mut’ah dan tidak akan ada yang berzina kecuali orang yang celaka”. (HR. Abdur Rozzaq 14029).

Jawab :

Riwayat dari Ali ini lemah dari sisi sanad maupun matan, adapun sanad karena Ibnu Juraij dengan Ali ada rowi yang mubham (tidak disebut namanya). Adapun dari sisi matan karena riwayat ini bertentangan dengan riwayat dari Ali sendiri dalam Shahih Bukhari dan Muslim bahwa nikah mut’ah telah diharamkan. Kemudian ucapan Ali tersebut sangat tidak masuk akal karena bagaimana mungkin beliau mendiamkan Umar bin khothob mengharamkan sesuatu yang halal? Demi Allah ini adalah pelecehan terhadap kehormatan Ali bin Abi Thalib. Selanjutnya anggaplah Ali takut kepada Umar sehingga tidak berani menegurnya dalam pengharaman mut’ah, lalu apa yang menghalangi beliau untuk mengumumkan kembali kehalalan mut’ah pada saat beliau memegang tampuk kekholifahan? Jawablah wahai orang-orang yang berakal?!!. (Lihat Ensiklopedi Sunnah Syi’h oleh DR. Ahmad Ali As-Salus 2/433).

6.      Abdullah bin Abbas radhiyallahu ‘anhu membolehkan nikah mut’ah secara muthlak, sebagaimana riwayat Abdur Rozzaq dalam Mushonnaf 14022 dengan sanad Shahih.

Jawab :

a.       Ini adalah pendapat Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhum secara pribadi dan insya Allah beliau mendapatkan satu pahala dengan ijtihadnya akan tetapi beliau salah dalam masalah ini karena telah datang dalil yang amat sangat jelas tentang keharaman mut’ah dan kewajiban kita adalah taat kepada Allah dan Rasul-Nya.

“Wahai orang-orang yang beriman taatlah kalian kepada Allah dan taatlah kalian kepada Rasul Nya serta ulil amri diantara kalian, kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al-Qur’an) dan Rasul (As-Sunnah)”. (QS. An-Nisa : 59).

b.      Tidak ada seorangpun yang ma’shum sebagaimana ucapan Imam Malik rahimahullah : ”Semua orang bisa menolak dan ditolak pendapatnya kecuali Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam”. (Lihat masalah agung ini pada muqoddimah shifat sholat nabi oleh Imam Al-Albani rahimahullah dan Rof’ul Malam oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah).

Telah shahih bahwasanya Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhum meralat fatwanya dan melarang mut’ah sebagaimana dijelaskan secara bagus oleh Imam Syaukani dalam Nailul Authar 6/169-170.

7.      Berkata salah seorang tokoh syi’ah kontemporer : “Tidak semua orang mampu untuk menikah untuk selamanya terutama pada pemuda karena berbagai sebab, padahal mereka sedang mengalami masa puber dalam hal seksualnya, maka dengan banyaknya godaan pada saat ini sangat mungkin menjerumuskan mereka dalam perbuatan zina, oleh karena itu mut’ah adalah solusi agar terhindar dari perbuatan keji tersebut. (Lihat Al-Mut’ah fil Islam oleh Husain Yusuf Al-Amili hal. 12-14).

Jawab :

Ucapan ini salah dari pangkal sampai ujungnya, cukup bagi saya untuk mengatakan tiga hal :

Pertama : Bahwa mut’ah telah jelas keharamannya, dan sesuatu yang haram tidak pernah dijadikan oleh Allah sebagai obat dan solusi.

Kedua : ucapan ini Cuma melihat solusi dari sisi laki-laki yang sedang menggejolak nafsunya tanpa sedikitpun memalingkan pandangan kepada keadaan wanita yang dijadikan sebagai tempat pelampiasan syahwat, lalu apa bedanya antara ini dengan pelacuran komersial?

Ketiga : Islam telah memberikan solusi tanpa efek samping pada siapapun yaitu dengan pernikahan yang bersifat abadi kalu belum mampu maka dengan puasa yang bisa menahan nafsunya, sebagaimana sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam :

“Wahai para pemuda, barang siapa yang mampu menikah maka hendaklah dia menikah, karena itu lebih bisa menundukan pandangan dan menjaga kemaluan, dan barang siapa yang tidak mampu maka hendaklah dia berpuasa karena itu bisa menjadi tameng baginya”. (HR. Bukhari 5066, Muslim 1400)

Wallahu a’lam

Sumber: Majalah Al-Furqon Edisi 4 thn: III

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: