Arafah Melahirkan Orang-Orang Yang Terbebas Dari Neraka

Ustadz Anas Burhanuddin, MA

KEUTAMAAN HARI ARAFAH

Hari Arafah yang jatuh pada tanggal 9 Dzulhijjah setiap tahun merupakan salah satu hari yang paling utama sepanjang tahun. Bahkan dalam madzhab Syafi’i disebutkan bahwa jika ada orang yang mengatakan, ‘Isteri saya jatuh talak pada hari paling utama’, maka talak tersebut jatuh pada hari Arafah.[1] Keistimewaan hari ini berdasarkan pada dalil umum dan khusus.

Dalil umum yaitu hadits Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhum bahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda : Tidak ada hari-hari di mana amal saleh di dalamnya lebih dicintai Allah Ta’ala daripada hari-hari yang sepuluh ini”. Para Sahabat bertanya, “Tidak juga jihad di jalan Allah ? Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, “Tidak juga jihad di jalan Allah, kecuali orang yang keluar mempertaruhkan jiwa dan hartanya, lalu tidak kembali dengan sesuatupun.” (HR. al-Bukhari no. 969 dan at-Tirmidzi no. 757, dan lafazh ini adalah lafazh riwayat at-Tirmidzi).

Maksudnya adalah sepuluh hari pertama bulan Dzulhijjah yang merupakan rangkaian hari paling utama sepanjang tahun. Hadits ini menunjukkan disyariatkannya memperbanyak amal saleh di sepuluh hari pertama bulan Dzulhijjah, dan hari Arafah termasuk di dalamnya. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah mengatakan, “Siang hari pada sepuluh hari pertama bulan Dzulhijjah lebih utama daripada malam sepuluh terakhir bulan Ramadhan, dari malam sepuluh hari terakhir Ramadhan lebih utama daripada malam sepuluh hari pertama Dzulhijjah.”[2]

Adapun dalil khusus yang menunjukkan keistimewaan hari Arafah di antaranya adalah sebagai berikut :

1.      Di hari ini Allah Ta’ala paling banyak membebaskan manusia dari neraka. Ibunda kaum Mukminin, Aisyah radhiyallahu ‘anha meriwayatkan bahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda : Tidak ada hari di mana Allah Ta’ala membebaskan hamba dari neraka lebih banyak daripada hari Arafah, dan sungguh Dia mendekat lalu membanggakan mereka di depan para malaikat dan berkata : Apa yang mereka inginkan?” (HR. Muslim no. 1348).

Maksudnya, tidak ada yang mendorong mereka untuk meninggalkan negeri, keluarga dan kenikmatan mereka (untuk menunaikan ibadah haji-red) kecuali ketaatan kepada Allah Ta’ala dan pencarian ridhaNya.[3]

2.      Doa di hari Arafah adalah doa terbaik. Abdullah bin Amru radhiyallahu ‘anhu meriwayatkan dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, sabda beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam : Sebaik-baik doa adalah doa hari Arafah, dan sebaik-baik ucapan yang aku dan para nabi sebelumku ucapkan adalah La ilaha illallah wahdahu la syarikalah, lahul mulku walahul hamdu wahuwa ‘ala kulli syaiin qadir.” (HR. at-Tirmidzi no. 3585, dihukumi shahih oleh al-Albani rahimahullah).

3.      Wukuf di Arafah merupakan rukun haji yang paling pokok. Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam ditanya oleh sekelompok orang dari Nejeb tentang haji, maka beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab : Haji itu adalah Arafah. (HR. at-Tirmidzi no. 889), an-Nisa’i  no. 3016 dan Ibnu Majah no. 3015, dihukumi shahih oleh al-Albani rahimahullah).

Maksud hadits ini adalah bahwa wukuf di Arafah merupakan tiang haji dan rukunnya yang terpenting. Barang siapa meninggalkannya, maka hajinya batal, dan barangsiapa melakukannya, maka telah aman hajinya.[4]

4.      Puasa di hari Arafah memiliki keutamaan yang besar. Puasa sehari ini menghapuskan dosa dua tahun, sebagaimana dijelaskan dalam hadits Abu Qatadah radhiyallahu ‘anhu bahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda : Puasa hari Arafah aku harapkan dari Allah bisa menghapuskan dosa setahun sebelumnya dan setahun setelahnya. (HR. Muslim no. 1162).

Demikianlah, dalil-dalil ini cukup untuk menunjukkan keistimewaan hari Arafah. Tidak hanya untuk para jamaah haji yang di hari itu memiliki agenda wukuf di Arafah. Kaum Muslimin yang lain juga memiliki kesempatan yang sama untuk mendulang pahala dan ampunan dari Sang Maha Pengampun. Semoga Allah Ta’ala memberikan karunia-Nya kepada kita.

IBADAH YANG DISYARIATKAN UNTUK JAMAAH HAJI SELAMA DI ARAFAH

Setiap tahun ada orang-orang yang terpilih untuk menunaikan ibadah haji. Di zaman sekarang, jutaan umat Islam berkumpul di Padang Arafah tiap tahunnya. Sebuah kenikmatan yang sungguh agung. Sebagai wujud syukur kepada Allah al-Mannan, sudah sepantasnya para jamaah haji mengisi hari mulia ini dengan sebaik mungkin sesuai dengan tuntunan Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam. berikut ini adalah penjelasan tentang amalan hari Arafah beserta dalilnya.

1.      Setelah menjalankan sunnah bermalam di Mina pada hari tarwiyah (tanggal 8 Dzulhijjah) dan melakukan shalat lima waktu di sana, para jamaah haji disunnatkan untuk menuju Arafah begitu matahari terbit pada tanggal 9 Dzulhijjah. Hal ini berdasarkan penjelasan Jabir bin Abdillah radhiyallahu ‘anhum : Maka pada hari tarwiyah mereka berangkat menuju Mina bertalbiyah haji, dan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam menaiki kendaraan lalu shalat di sana Zhuhur, Ashar, Maghrib, Isya dan Shubuh, kemudian menunggu sebentar sampai matahari terbit. (HR. Muslim no. 1218).

2.      Saat menuju Arafah disunnatkan memperbanyak talbiyah dan takbir. Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhum meriwayatkan : Kami berangkat di waktu pagi bersama Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dari Mina ke Arafah, di antara kami ada yang bertalbiyah dan ada yang bertakbir. (HR. Muslim no. 1284).

3.      Setibanya di Arafah, para jamaah haji bisa langsung menempati tempat mereka. Harus dipastikan bahwa tempat yang akan dipakai wukuf merupakan bagian dari Arafah, karena jika wukuf di luar Arafah, wukud kita tidak sah. Sementara wukuf adalah rukun haji dan tidak bisa digantikan dengan dam atau sejenisnya. Jubair bin Muth’im  radhiyallahu ‘anhu meriwayatkan dari Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam sabda beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam : Seluruh Arafah adalah tempat wukuf, dan jauhilah tengah lembah ‘Uranah (HR. Ahmad no. 16.797, dihukumi shahih oleh al-Albani dan Syuaib al-Arnauth rahimahumullah).

‘Uranah adalah sebuah lembah (wadi) yang terletak di dekat Masjid Namirah dari arah Makkah dan tempat itu bukan bagian dari Arafah.[5]

Hadits ini menunjukkan bahwa jamaah haji harus memastikan bahwa tempat wukuf mereka termasuk wilayah Arafah. Saat ini, batas Arafah ditandai dengan papan-papan besar dan tinggi yang bisa dilihat dari jauh.

4.      Waktu wukuf dimulai saat tiba waktu Zhuhur dan selesai dengan terbitnya fajar tanggal 10 Dzulhijjah. Jadi, orang yang tidak dimudahkan untuk wukuf di siang hari, masih bisa melakukannya di malam hari, dan wukufnya sah.[6]

Bagi jamaah haji yang terpaksa harus masuk Arafah sejak tanggal 8 Dzulhijjah, seperti sebagian besar jamaah haji Indonesia, mereka bisa langsung bersiap wukuf sebelum waktu Zhuhur di tenda masing-masing.

5.      Begitu waktu Zhuhur tiba, disunnatkan untuk melakukan shalat Zhuhur dan Ashar dengan cara jama’ dan qashar, masing-masing dua rakaat di awal waktu shalat Zhuhur, dengan satu adzan dan dua iqamah sebagaimana disebutkan dalam hadits Jabir radhiyallahu ‘anhu berikut : Kemudian (Bilal) mengumandangkan adzan lalu iqamah, maka (Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam) shalat Zhuhur. Kemudian (Bilal) mengumandangkan iqamah, maka Rasulullah shalat Ashar dan tidak melakukan shalat apapun di antara keduanya. (HR. Muslim no. 1284).

Hikmahnya adalah agar setelah itu kita bisa memiliki waktu yang luas untuk berdoa dan berdzikir, karena saat itu adalah waktu terbaik untuk berdoa.[7]

6.      Sebelum shalat Zhuhur, disunnatkan bagi imam untuk menyampaikan khutbah tentang agama secara umum dan penjelasan tentang amalan-amalan haji yang masih tersisa, sebagaimana dicontohkan Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam hadits Jabir radhiyallahu ‘anhu ini : Sehingga saat matahari tergelincir, Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan agar unta al-Qashawa disiapkan, maka ia pun dipasangi pelana, lalu beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam mendatangi tengah lembah (Wadi ‘Uranah) dan berkhutbah. (HR. Muslim no. 1284).

7.      Saat di Arafah, sebaiknya para jamaah haji tidak berpuasa, sebagaimana dicontohkan Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam hadits Ummul Fadhl radhiyallahu ‘anha berikut : Dari Ummul Fadhl binti al-Harits radhiyallahu ‘anha bahwa orang-orang berselisih di dekatnya tentang puasa Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Sebagian mereka berkata bahwa beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam puasa, dan sebagian lagi mengatakan tidak. Maka Ummul Fadhl radhiyallahu ‘anha mengirimkan secangkir susu saat beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam di atas unta, dan beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam meminumnya. (HR. al-Bukhari no. 1887 dan Muslim no. 1123).

Tidak berpuasa selama di Arafah akan lebih mendukung ibadah dan amalan selama di asama

Wukuf di Arafah merupakan pertemuan akbar umat Islam dalam ibadah mereka. Hal ini mengingatkan kita akan hari dikumpulkannya seluruh makhluk lintas zaman dan generasi di Padang Mahsyar. Mengingat hal ini, hendaknya setiap Muslim menyiapkan dirinya untuk menyambut kedatangan hari itu dengan amal shaleh.[8]

8.      Hendaknya para jamaah haji memanfaatkan waktu sangat berharga di Arafah ini, yang hanya beberapa jam dengan banyak bertalbiyah, berdzikir dan sungguh-sungguh berdoa untuk kebaikan dunia dan akhirat.

Seperti telah dijelaskan dalam pembahasan keutamaan hari Arafah, doa pada hari ini adalah sebaik-baik doa, dan sebaik-baik doa yang dipanjatkan hari itu adalah : Tiada ilah yang diibadahi dengan haq kecuali Allah, hanya Dia, tiada sekutu bagi-Nya, hanya milik-Nya kekuasaan dan pujian, dan Dia Maha Berkuasa atas segala sesuatu.

 

Karena ini adalah doa terbaik, jamaah haji harus menghafalnya, lalu sebanyak dan sekhusyu’ mungkin mengucapkannya selama wukuf.

Teladani kesungguhan Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam berdoa sebagaimana digambarkan Usamah bin Zaid radhiyallahu ‘anhum ketika beliau berkata : Aku dibonceng Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam di Arafah, maka beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam mengangkat kedua tangan beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk berdoa. Unta beliau miring, dan jatuhlah tali kekangnya, lalu beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam mengambil tali kekang itu dengan salah satu tangan beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam, sementara tangan yang satu lagi tetap tengadah berdoa. (HR. an-Nasa’i no. 3011, dihukumi shahih oleh al-Albani rahimahullah).

Hadits di atas menunjukkan bahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam berdoa sendiri dan tidak mengumpulkan para sahabat untuk berdoa bersama, maka petunjuk beliaulah yang paling pantas diikuti.[9]

Tidak ada doa khusus untuk hari Arafah dan jamaah haji bisa berdoa apa saja untuk kebaikan akhirat dan dunia. Tapi hendaknya mengutamakan doa-doa dari al-Quran dan sunnah yang shahih, karena doa-doa seperti ini merupakan jawami’ul kalim (kalimat yang pendek lafazh tapi luas makna) dan dijamin selamat dari kesalahan.[10]

Saran saya, susunlah proposal doa Anda dari jauh hari! Kumpulkanlah doa-doa terbaik untuk dipanjatkan di waktu yang sangat berharga ini, agar Anda bisa mengoptimalkan kesempatan yang belum tentu terulang dan tidak kekurangan bekal doa di sana. Jangan lupakan orang tua, keluarga, keturunan dan orang-orang yang saudara cintai dalam doa terbaik ini.

Jangan sia-siakan satu menitpun dari waktu yang singkat ini untuk hal-hal yang kurang berguna! Jika lelah atau bosan, saudara bisa selingi dengan dzikir dan baca al-Qur’an, atau istirahat sejenak agar bisa segar lagi.

9.      Hendaknya para jamaah haji tidak keluar dari Arafah kecuali setelah terbenam matahari, seperti petunjuk hadits Jabir tentang sifat wukuf Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam : Beliau masih terus wukuf sampai matahari tenggelam, warna kuning sedikit pergi dan bola matahari tidak kelihatan lagi. (HR. Muslim no. 1284).

10.  Setelah matahari benar-benar terbenam, jamaah haji boleh meninggalkan Arafah untuk bermalam di Muzdalifah dan menyelesaikan amalan-amalan haji selanjutnya.

Demikianlah rangkaian amalan yang disyariatkan untuk dilakukan oleh jamaah haji selama di Arafah. Jika kita melakukannya dengan ikhlas dan mengikuti petunjuk Nabi kita Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam disini dan dirangkaikan amalan haji yang lain, insya Allah kita akan meraih haji yang mabrur, dosa-dosa kita diampuni dan doa-doa kita dikabulkan. Kita akan menjadi orang yang mendapatkan barakah hari Arafah dengan terbebaskan dari api neraka.

KESALAHAN-KESALAHAN JAMAAH HAJI SELAMA DI ARAFAH

Meski memiliki keistimewaan yang sangat besar, masih banyak umat Islam yang tidak menghargai keistimewaan ini. Sungguh ironis, masih banyak jamaah haji yang jatuh dalam kesalahan-kesalahan fatal saat beribadah di Arafah. Kesalahan-kesalahan ini disebabkan kekurangan ilmu, kurang motivasi dalam beramal atau sikap tidak peduli. Para jamaah haji perlu mengetahui kesalahan-kesalahan ini agar bisa menghindarinya dan bersyukur atas nikmat ilmu dan cinta sunnah yang Allah Ta’ala anugerahkan.

Diantara kesalahan-kesalahan yang sering terjadi selama wukuf di Arafah adalah sebagai berikut :

1.      Wukuf di luar wilayah Arafah. Saat melakukan patroli, para dai dari Kementerian Agama Arab Saudi masih banyak menemukan jamaah haji yang melakukan wukuf di luar Arafah. Padahal kesalahan ini jika tidak diluruskan mengakibatkan haji kita tidak sah.[11]

2.      Keluar dari Arafah sebelum matahari terbenam. Wukuf adalah rukun haji, sedangkan melakukan wukuf hingga matahari terbenam adalah salah satu kewajiban haji. Jika jamaah haji sudah keluar dari Arafah sebelum matahari terbenam dan tidak kembali lagi, maka ia telah meninggalkan salah satu kewajiban haji dan harus membayar dam dengan menyembelih seekor kambing.[12]

3.      Menyibukkan diri dengan naik Jabal Rahmat, berjalan-jalan, atau menuliskan prasasti di sana. Nabi kita Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam sendiri tidak mendaki gunung ini saat wukuf. Jadi barang siapa mendaki gunung dan menyakininya sebagai ibadah, maka itu adalah bid’ah. Jika menaikinya sebagai refreshing, maka hukumnya boleh, tetapi ada hal lain yang lebih baik dilakukan di kesempatan yang belum tentu terulang ini.[13] Imamul Haramain al-Juwaini mengatakan, “Tidak ada nilai ibadah dalam menaiki gunung ini, meski orang-orang biasa melakukannya.”[14]

4.      Menghadap ke Jabal Rahmat saat dzikir dan doa dan membelakangi kiblat. Yang sesuai dengan sunnah adalah menghadap ke kiblat saat berdoa, sebagaimana dijelaskan dalam hadits Jabir radhiyallahu ‘anhu : Kemudian Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam berangkat hingga tib di tempat wukuf, maka beliau jadikan perut unta beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam al-Qashwa di bebatuan (di belakang Jabal Rahmah), menjadikan rombongan pejalan kaki di depan beliau dan menghadap kiblat. (HR. Muslim no. 1284).

Saat wukuf, Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam menghadap Jabal Rahmah, tetapi pada saat yang sama beliau juga menghadap kiblat. Beliau menjadikan Jabal Rahmah dan Ka’bah di arah depan beliau. Jika keduanya tidak bisa digabungkan, maka yang diutamakan adalah menghadap kiblat, bukan gunung.

5.      Tidak mengoptimalkan dzikir dn doa, tapi malah banyak ngobrol dan bercanda. Hal ini sangat disayangkan, mengingat keistimewaan hari Arafah dan singkatnya waktu wukuf. Saat anda menempati tempat wukuf anda, ingatlah bahwa ada jutaan umat Islam yang menginginkan tempat itu, namun mereka tidak bisa mendapatkannya karena tidak memiliki biaya, tidak memiliki kondisi fisik yang memungkinkan, atau sebab lain. Dan Andalah yang dipilih Allah Ta’ala, maka jangan sia-siakan kesempatan emas ini dengan obrolan dan canda tawa!

6.      Menyibukkan diri dengan berfoto ria selama di Arafah. Terlepas dari perselisihan para Ulama dalam masalah hukum foto makhluk bernyawa, foto-foto ini bisa menjadi pintu masuk setan untuk menjerumuskan Anda ke dalam kubangan riya’ (beramal agar dilihat dan dipuji orang lain) yang membuat ibadah haji Anda sia-sia. Sebisa mungkin tutuplah ibadah mulia ini dari pandangan manusia, sehingga hanya Allah Ta’ala yang tahu, karena hanya dari-Nyalah kita mengharap pahala.

7.      Merokok. Kebiasaan buruk ini sayang sekali masih kadang dilakukan jamaah haji saat menjalankan rukun terpenting ibadah haji.

8.      menghibur diri atau mencari kekhusyu’an dengan alunan musik

9.      Bersolek. Agama kita melarang wanita bersolek saat keluar rumah. Larangan ini menjadi lebih tegas jika dilakukan saat menjalankan ibadah haji dan berada di tanah suci. Demikian pula dengan dua kesalahan yang sebelumnya. Jika kita melakukannya, masihkan kita berharap haji mabrur, sedangkan syaratnya adalah meninggalkan kefasikan dan maksiat selamat menjalankan ibadah ini ?

Itulah beberapa contoh kesalahan yang sering terjadi selama di Arafah. Masih banyak lagi kesalahan-yang lain yang harus dihindari jamaah haji, namun apa yang disebutkan diatas cukup sebagai isyarat kepada kesalahan-kesalahan yang lain. Akhirnya kita berdoa, semoga Allah Ta’ala menunjukkan kebenaran sebagai kebenaran dan kita bisa mengikutinya. Dan semoga Allah Ta’ala menunjukkan kesalahan sebagai kesalahan dan kita bisa meninggalkannya. Sungguh Dialah Yang Maha Mendengar. Dialah harapan kita, dan cukuplah Dia bagi kita. Wallahu A’lam

REFERENSI :

1.      Asy-Syarul Mumti, Muhammad bin Shalih al-Utsaimin Dar Ibnil Jauzi.

2.      Al-Mughni, Ibnu Qudamah, Dar ‘Alamil Kutub.

3.      Tabshirun Nasik bi Ahkamil Manasik, Syaikh Abdul Muhsin al-‘Abbad.

4.      Syarh Shahih, an-Nawawi, Darul Khair.

5.      Nihayatul Mathlab fi Dirayatil Madzhab, Imamul haramain al-Juwaini, Darul Minhaj

Sumber: Majalah As-Sunnah edisi: 06/thn XV/Dzulqadah 1432H/Oktober 2011M

Artikel: www.IbnuAbbasKendari.wordpress.com


[1]   Lihat : Syarah Shahih Muslim karya an-Nawawi 3/477

[2]   Al-Fatawa al-Kubra 2/477

[3]   Lihat al-Mufhim (Syarh Shahih Muslim), 5/178

[4]   Lihat al-Fathur Rabbani karya as-Sa’ati 2/23, Tuhfatul Ahwadzi 3/540)

[5]   Lihat : Nihayatul Mathlab 4/310

[6]   Lihat : Nihayatul Mathlab 4/311

[7]   Lihat : Nihayatul Mathlab 3/313

[8]   Lihat : Tabshirun Nasik, hlm. 121

[9]   Lihat : Asy-Syarhul Mumti’ 7/296

[10]  Tabshirun Nasik, hlm. 123

[11]  Lihat : Nihayatul Mathlab 4/310

[12]  Lihat : Nihayatul Mathlab 4/311

[13]  Lihat : asy-Syarhul Mumti’ 7/294

[14]  Nihayatul Mathlab 4/311

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: