Puasa Arofah Ikut Siapa?

Ustadz Muhammad Abduh Tuasikal

Permasalahan ini sering muncul dari berbagai pihak ketika menghadapi hari Arofah. Ketika para jama’ah haji sudah wukuf tanggal 9 Dzulhijah di Saudi Arabia, padahal di Indonesia masih tanggal 8 Dzulhijah, mana yang harus diikuti dalam puasa Arofah? Apakah ikut waktu jama’ah haji wukuf atau ikut penanggalan Hijriyah di negeri ini sehingga puasa Arofah tidak bertepatan dengan wukuf di Arofah?

Syaikh Muhammad bin Sholih ‘Utsaimin pernah diajukan pertanyaan: Baca pos ini lebih lanjut

Info Tabligh Akbar: “Meniti Ilmu dan Amal Diatas Pemahaman Ahlus Sunnah Wal Jama’ah” Ust. Abdullah Taslim, MA.

Baca pos ini lebih lanjut

Download Audio: “Kewajiban Mentaati Rasulullah dan Meninggalkan Segala Ucapan yang Menyelisihinya” Ust. Abdurrahman Hadi

Alhamdulillah, berikut ini rekaman kajian tentang “Kewajiban Mentaati Rasulullah dan Meninggalkan Segala Ucapan yang Menyelisihinya“, tema ini merupakan bab pembahasan dari kitab “Ad-Durus al-Yaumiyyah minas Sunani wal Ahkamisy Syar’iyyah“, yang disampaikan oleh Ustadz Abdurrahman Hadi, Lc. (hafidzohullohu Ta’ala).

Kajian ini disiarkan di Radio Suara Al-Iman Surabaya, radio siaran dakwah islam Ahlus Sunnah wal Jamaah.

Semoga bermanfaat, silahkan download pada link berikut: Baca pos ini lebih lanjut

Download Audio: “Keutamaan 10 Hari Pertama Bulan Dzulhijjah” Ust. Mubarak Bamualim

Alhamdulillah, berikut ini rekaman kajian tentang Keutamaan 10 Hari Pertama Bulan Dzulhijjah, oleh Al Ustadz Mubarak Bamuallim. Lc (Dosen STAI Ali bin Abi Thalib Surabaya) yang diadakan di Radio Suara Al-Iman Surabaya tanggal 27 Oktober 2011, pada pukul 19.40 WIB

Semoga bermanfaat, silahkan download pada link berikut: Baca pos ini lebih lanjut

Larangan Mencukur Rambut dan Memotong Kuku Bagi Shohibul Qurban

Al Lajnah Ad Da-imah (Komisi Fatwa di Saudi Arabia) pernah ditanya, “Katanya ada hadits yang menjelaskan bahwa siapa yang ingin berqurban atau keluarga yang diniatkan pahala untuk berqurban, maka ia tidak boleh mencukur bulu, rambut kepala dan juga memotong kuku sampai ia berqurban. Apakah larangan ini umum untuk seluruh anggota keluarga (yang diniatkan dalam pahala qurban), baik dewasa atau anak-anak? Ataukah larangan ini berlaku untuk yang sudah dewasa saja, tidak termasuk anak-anak?” Baca pos ini lebih lanjut

Info Kajian: “TEGAR DI ATAS MANHAJ AHLUSSUNNAH” Madiun, Ahad 30 Oktober 2011 (Ust. Mubarok Baamualim, Lc)

Meraih Takwa Melalui Ibadah Qurban

Ustadz Muhammad Abduh Tuasikal

Segala puji bagi Allah, Rabb semesta alam. Shalawat dan salam kepada Nabi kita Muhammad, keluarga, para sahabat dan orang-orang yang meniti jalan mereka hingga akhir zaman.

Sebuah ayat yang menjadi pertanda disyari’atkannya ibadah qurban adalah firman Allah Ta’ala,

فَصَلِّ لِرَبِّكَ وَانْحَرْ

“Dirikanlah shalat dan berqurbanlah (an nahr).” (Qs. Al Kautsar: 2). Di antara tafsiran ayat ini adalah “berqurbanlah pada hari raya Idul Adha (yaumun nahr)”. Tafsiran ini diriwayatkan dari ‘Ali bin Abi Tholhah dari Ibnu ‘Abbas, juga menjadi pendapat ‘Atho’, Mujahid dan jumhur (mayoritas) ulama.[1] Baca pos ini lebih lanjut

Info Kajian Umum: “Meraih Surga Tertinggi dengan Tauhid Yang Sempurna” (Yogyakarta, 29-30 Oktober 2011)

Hadirilah Kajian Umum bersama Ustadz Abu Qotadah. Baca pos ini lebih lanjut

Hadits-hadits Palsu Tentang Keutamaan Menziarahi Kuburan Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam

Ustadz Abdullah Taslim. MA 

     عن عبد الله بن عمر، عن النبي قال: ((مَنْ حَجَّ فَزَارَ قَبْرِي بَعْدَ وَفَاتِي كَانَ كَمَنْ زَارَنِي فِي حَيَاتِي))

     Dari ‘Abdullah bin ‘Umar radhiyallahu ‘anhu, dari Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam beliau bersabda: “Barangsiapa yang berhaji lalu menziarahi kuburanku setelah aku wafat maka dia seperti orang yang mengunjungiku sewaktu aku masih hidup”.

Hadits ini dikeluarkan oleh imam ath-Thabarani[1], Ibnu ‘Adi[2], ad-Daraquthni[3], al-Baihaqi[4] dan al-Fakihani[5] dengan sanad mereka dari Hafsh bin Sulaiman Ibnu Abi Dawud, dari al-Laits bin Abi sulaim, dari Mujahid, dari ‘Abdullah bin ‘Umar radhiyallahu ‘anhu, dari Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Baca pos ini lebih lanjut

Download Audio: “Membedah Akar Terorisme” Ust Abdullah Zaen. MA

Alhamdulillah, berikut ini rekaman kajian tentang Membedah Akar Terorisme, oleh Ustadz Abu Abdurrahman Abdullah Zaen. MA (pengasuh website: www.tunasilmu.com dan dosen Sekolah Tinggi Dirasat Islamiyyah “Imam Syafi’i” Jember) yang diadakan pada hari ahad tanggal 23 oktober 2011 di Ma’had Imam Syafi’i (MAIS) Cilacap.

Semoga bermanfaat, silahkan download pada link berikut: Baca pos ini lebih lanjut

Cara Mudah Memahami Asma’ was Sifat

Abu Hudzaifah Al Atsary

Pembahasan tentang asma’ was sifat memang menimbulkan polemik sejak dahulu. Polemik ini muncul akibat kekeliruan  sebagian pihak dalam memahaminya. Ada golongan yang menolak asma’ was sifat sebagai bagian dari tauhid, dan mengatakan bahwa pembagian tauhid menjadi 3 (rububiyyah, uluhiyyah, dan asma’ was sifat) adalah bid’ah-nya orang-orang ‘wahhabi’… Mereka mengatakan bahwa pembagian tersebut tidak ada dalilnya sama sekali.

Kepada mereka kita pantas bertanya: Dalil apakah yang kalian maksudkan? Kalau dalil berupa ayat atau hadits atau ijma’ yang bunyinya: “Tauhid terbagi menjadi tiga: uluhiyyah, rububiyyah dan asma’ was sifat”, ya MEMANG TIDAK ADA… sebagaimana tidak adanya dalil (ayat, hadits, atau ijma’) yang mengatakan bahwa Syarat sahnya shalat ada enam umpamanya, yaitu: Islam, mumayyiz, thaharah, masuk waktu, niat, dan menghadap kiblat… atau syarat wajib zakat ada dua, yaitu nisab dan haul… atau syarat haji ada sekian, dst… demikian pula rukun-rukunnya, wajib-wajibnya, dan sunnah-sunnahnya yang banyak kita jumpai dalam kitab-kitab fikih… Akan tetapi anehnya mereka yg menolak pembagian tauhid menjadi tiga tidak pernah menolak hal-hal yg tersebut di atas… padahal semuanya sama-sama tidak punya dalil yg bunyinya: “Syarat sahnya shalat terbagi menjadi bla-bla-bla…” dst. ANEH… padahal mereka semestinya konsekuen dong… kalau pembagian tauhid menjadi tiga mereka tolak krn dianggap tidak ada dalilnya, maka pembagian yg berkenaan dgn syarat ibadah, atau rukun2nya juga harus mereka tolak. Baca pos ini lebih lanjut

Haji, Antara Tauhid Dan Pembinaan Pribadi Muslim

Ustadz Kholid Syamhudi, Lc

Alangkah besarnya kebutuhan manusia kepada pembinaan dan pembersihan jiwanya, apalagi ketika dosa bertumpuk-tumpuk dihatinya akibat kemaksiatan dan tingkah polahnya. Alangkah besarnya kebutuhan manusia kepada pembersihan jiwa, ketika akal dan suluk(perilaku)-nya telah dikotori penyimpangan dari jalan Allah.

Ketika itulah terasa betapa besar kebutuhan manusia kepada obat yang dapat menyembuhkan hati dan akalnya. Memang membersihkan jiwa merupakan satu kebutuhan mendesak dan penting yang harus dicari dan dijalankan seorang manusia. Baca pos ini lebih lanjut

Hikmah Ibadah Haji

Syaikh Abdul Aziz bin Abdullah Baz

Diantara Asmaul Husna yang dimiliki Allah Subhanahu wa Ta’ala adalah Al-Hakim yang bermakna : “Yang menetapkan Hukum, atau Yang mempunyai sifat Hikmah, di mana Allah tidak berkata dan bertindak dengan sia-sia. Oleh karena itulah semua syari’at Allah Subhanahu wa Ta’ala mempunyai kebaikan yang besar dan manfaat yang banyak bagi hamba-Nya di dunia seperti kebagusan hati, ketenangan jiwa dan kebaikan keadaan. Juga akibat yang baik dan kemenangan yang besar di kampung kenikmatan (akhirat) dengan melihat wajah-Nya dan mendapatkan ridha-Nya.

Demikian pula haji, sebuah ibadah tahunan yang besar yang Allah syari’atkan bagi para hamba-Nya, mempunyai berbagai manfaat yang besar dan tujuan yang besar pula, yang membawa kebaikan di dunia dan akhirat. Dan diantara hikmah ibadah haji ini adalah. Baca pos ini lebih lanjut

Download Audio: Kunci Keberhasilan Berdakwah, Bekal Bagi Calon Da’i

Rekaman tausiah Ustadz Dr. Muhammad Arifin Badri, MA. berjudul “Kunci Keberhasilan Berdakwah, Bekal Bagi Calon Da’i”, sebuah bekal bagi mereka para da’i yang akan terjun ke masyarakat.

Semoga bermanfaat bagi para penuntut ilmu yang ingin menjadi Da’i, silahkan download pada link berikut: Baca pos ini lebih lanjut

Download Ebook: Panduan Kurban Praktis

Panduan Kurban

Penulis: Ammi Nur Baits

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

فَصَلِّ لِرَبِّكَ وَانْحَرْ

“Maka shalatlah untuk Rabbmu dan sembelihlah hewan.” (QS. Al Kautsar : 2)

Syekh Abdullah Alu Bassaam mengatakan, “Sebagian ulama ahli tafsir mengatakan, ‘Yang dimaksud dengan menyembelih hewan adalah menyembelih hewan kurban setelah shalat Idul adha.’” Pendapat ini dinukil dari Qatadah, Atha’ dan Ikrimah (Taisirul ‘Allaam, 534, Taudhihul Ahkaam IV:450, dan Shahih Fiqih Sunnah II:366). Baca pos ini lebih lanjut

%d blogger menyukai ini: