Meraih Pahala Melimpah Dengan Berta’ziyah

Abu Ashim Muhtar Arifin Marzuqi, Lc.

Musibah adalah suatu perkara yang tidak asing lagi bagi kita. Bahkan Allah Ta’ala telah memberitakan bahwa Dia akan memberi musibah kepada hamba-hamba-Nya sebagai bentuk ujian, sebagaimana firman Allah Ta’ala dalam surat al Baqarah ayat 155.

Selain itu, musibah adalah salah satu tanda apabila seseorang dikehendaki oleh Allah Ta’ala untuk memperoleh kebaikan, sebagaimana sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam: “Barangsiapa yang dikehendaki kebaikan oleh Allah, maka Dia akan menimpakan musibah kepadanya.”[1]

Imam al Baghawi rahimahullah menjelaskan: “Maksudnya yaitu Allah Ta’ala akan mengujinya dengan musibah-musibah.”[2]

Salah satu sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam yang telah diajarkan kepada para sahabat ketika ada yang sedang tertimpa musibah adalah berta’ziyah. Bagaimana tuntunan syari’at dalam berta’ziyah ini?

Berikut ini sedikit uraian tentang masalah tersebut.

MAKNA TA’ZIYAH

Secara bahasa,, at ta’ziyah dari kata ‘azza – yu’azza. Apabila dikatakan ‘azzaahu ta’ziyah artinya adalah memerintahkan agar ber’aza’, yaitu bersabar atas musibah yang menimpa.[3] Adapun secara istilah artinya adalah memerintahkan agar bersabar dan bertahan dengan perkara yang menimpanya, dengan yakin akan janji pahala dan berhati-hati dari dosa, mendoakan jenazah dengan ampunan dan mendoakan orang yang tertimpa musibah dengan memperbaiki musibah tersebut. [4]

Imam al Munbiji al Hambali rahimahullah menjelaskan bahwa maksud ta’ziyah adalah menghibur orang yang sedang tertimpa musibah, menunaikan hak-hak mereka, mendekati mereka agar dapat menunaikannya, sebelum dimakamkan atau setelahnya karena mereka telah sibuk dengan musibah yang menimpanya.”[5]

KEUTAMAAN BERTA’ZIYAH

Berta’ziyah kepada saudara yang sedang tertimpa musibah dapat mendatangkan keutamaan yang sangat banyak, antara lain dijelaskan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dalam hadits berikut ini:

1. Diberi pakaian kehormatan pada hari kiamat

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Tidaklah ada seorang mukmin yang berta’ziyah kepada saudaranya tatkala tertimpa suatu musibah, melainkan Allah Ta’ala akan memberinya pakaian dari pakaian kemulian pada hari kiamat.”[6]

2. Termasuk amalan yang utama

Ta’ziyah merupakan amalan yang utama. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam telah menjelaskannya dalam sabda beliau shallallahu ‘alaihi wasallam: “Amalan yang paling utama adalah menyenangkan orang mukmin, memberi pakaian dia untuk menutup auratnya, mengenyangkan kelaparannya atau memenuhi kebutuhannya.”[7]

3. Mengikuti sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam

Hal itu karena Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam telah banyak melakukan ta’ziyah kepada orang yang sedang tertimpa musibah. Inilah di antara keutamaan melakukan ta’ziyah kepada saudara yang sedang tertimpa musibah.

TA’ZIYAH-TA’ZIYAH RASULULLAH

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam telah mencontohkan ta’ziyah kepada keluarga yang sedang ditimpa musibah, anatara lain sebagai berikut:

Pertama: Ta’ziyah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam kepada anak perempuannya. Beliau shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Sesungguhnya kepunyaan Allah-lah apa yang Dia ambil dan kepunyaan Allah pula apa yang Dia berikan, dan segala sesuatu yang ada di sisi-Nya pasti akan sampai pada waktu yang telah ditentukan. Hendaklah engkau bersabdar dan mengharapkan (pahala dari Allah).”[8]

Syaikh al Utsaimin rahimahullah mengatakan bahwa ini adalah ungkapan yang paling baik untuk diucapkan ketika berta’ziyah.[9]

Kedua: Ta’ziyah  beliau shallallahu ‘alaihi wasallam ketika mendapatkan seorang sahabat kehilangan anaknya.

Qurrah bin Iyas berkata: Bahwasanya ada seorang lelaki yang datang kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam sedangkan ia bersama seorang anak. Beliau shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Apakah engkau mencintainya?”, orang itu menjawab,”Semoga Allah mencintaimu sebagaimana aku mencintainya.”

Dan ternyata anak itu meninggal dunia, sehingga beliau merasa kehilangannya. Lalu beliau bertanya tentangnya dan berkata kepada orang itu, “Tidakkah membuatmu senang bahwa engkau tidak mendatangi salah satu di antara pintu-pintu surga melainkan engkau mendapati anak itu di sisinya bergegas untuk membukakan pintu untukmu?”[10]

Ketiga: Ketika ada seseorang yang kehilangan anaknya.

Dari Buraidah bin al Hashib dia menjelaskan, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam pernah bersabda kepada seorang wanita yang ditinggal mati oleh anaknya yang satu-satunya: “Tidaklah seorang lelaki atau wanita muslimah ditinggal mati oleh tiga anaknya sedangkan dia mengharapkan pahala dari Allah, melainkan Allah akan memasukkannya ke dalam surga disebabkan oleh anak-anak tersebut.”

Kemudian Umar radhiyallahu ‘anhu berkata – yang pada waktu itu ia berada di sisi kanan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam – : “Demikian pula (bila ia ditinggal mati) oleh dua anaknya?

Beliau shallallahu ‘alaihi wasallam menjawab: “(Ya), demikian pula (bila ia ditinggal mati) dua anaknya.”[11]

Keempat: Ketika berta’ziyah kepada Abdullah bin Ja’far radhiyallahu ‘anhu atas kematian bapaknya. Beliau shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

“Ya Allah, gantikanlah Ja’far dalam keluarganya, dan berkahilah Abdullah dalam jual-belinya.”

Beliau shallallahu ‘alaihi wasallam mengulanginya sebanyak tiga kali.[12]

Itulah di antara ta’ziyah yang telah dilakukan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam kepada para sahabatnya yang tertimpa musibah.[13]

HUKUM BERTA’ZIYAH

Kebanyakan ulama menjelaskan bahwa hukumnya adalah sunnah. Sedangkan sebagian salaf yang mengatakan bahwa ta’ziyah tidak boleh dilakukan setelah jenazah dimakamkan adalah bukan pendapat yang kuat, bila ditinjau dari hadits-hadits yang ada[14]

.

CARA BERTA’ZIYAH

Adapun cara berta’ziyah adalah dengan cara menghibur orang yang sedang tertimpa dengan sesuatu yang dapat menyenangkannya, menjadikannya tegar dan bertahan untuk dapat ridha dan sabar serta mengharapkan pahala dari Allah dengan musibah yang menimpakannya, tsiqah (yakin) kepada Allah bahwasanya Dia tidak mengingkari janji-Nya. Hal itu dapat disampaikan dengan mengabarkan pahala dan ganjaran yang telah dijelaskan dalam al Qur’an dan as Sunnah yang shahih atau dengan perkataan yang mudah dan dapat meringankan musibah yang menimpanya. Selain dapat dilakukan secara langsung, ta’ziyah ini juga dapat dilakukan dengan surat. [15]

HUKUM BERTA’ZIYAH KEPADA ORANG KAFIR

Berkaitan dengan masalah ini, Imam Ahmad rahimahullah mengatakan: Aku tidak tahu.[16] Sedangkan Ibnu Qudamah rahimahullah dan al Munbiji rahimahullah menjelaskan bahwa ada dua riwayat yang bertentangan dari beliau.[17] Oleh karena itu, akan dinukilkan disini dua fatwa yang berkaitan dengan masalah ini.

1. Penjelasan Syaikh al Utsaimin

Syaikh al Utsaimin rahimahullah berkata, “Berta’ziyah kepada orang kafir, apabila dia mati padahal dia memiliki kerabat atau teman yang dapat khilaf antara para ulama: Di antara ulama ada yang mengatakan: Ta’ziyah kepadanya (orang kafir) hukumnya adalah haram. Sebagian yang lain mengatakan: Hal itu boleh. Sebagian lagi ada yang merinci masalah ini dengan mengatakan: Apabila ada mashlahatnya – seperti diharapkan akan masuk Islam dan menahan kejahatannya yang tidak mungkin kecuali dengan berta’ziyah kepadanya, maka hal itu dibolehkan. Apabila tidak demikian, maka hukumnya haram.

Pendapat yang rojih (kuat) adalah apabila dipahami dengan taziyahnya itu bahwa ia (orang muslim itu) memuliakan orang kafir tersebut, maka haram. Dan apabila tidak demikian, maka dilihat mashlahatnya.”[18]

2. Penjelasan Lajnah Da’imah

Ada orang yang bertanya dengan pertanyaan sebagai berikut: “Apakah dibolehkan bagi seorang muslim untuk berta’ziyah kepada orang kafir apabila dia adalah bapaknya atau ibunya atau diantara kerabatnya, yang mana dia khawatir apabila mati dan dia tidak mendatangi mereka, maka mereka akan mengganggunya atau menyebabkan jauhnya dari Islam?”

Lajnah menjawab, “Apabila tujuan dari berta’ziyah itu adalah agar membuat mereka senang dengan Islam, maka hal itu dibolehkan, ini adalah diantara tujuan syariat ini. Demikian pula (dibolehkan berta’ziyah) apabila dengan ta’ziyah tersebut akan menolak gangguan mereka kepadanya atau dari kaum muslimin. Hal itu karena mudharat-mudharat yang juziyyah yang terdapat dalam mashalah-mashlahat islamiyyah yang umum dapat dimaafkan.”[19]

Adapun ucapan yang ditujukan kepada orang kafir yang dita’ziyahi, sedangkan yang meninggal adalah muslim, maka contohnya adalah seperti mengatakan: “Tidaklah ada yang menimpamu melainkan kebaikan”.[20]

Demikianlah uraian singkat tentang ta’ziyah ini. Semoga dapat bermanfaat Allahu A’lam.

Diketik ulang dari Majalah adz Dzakhiirah Vol.8 No.1, Edisi 55, Th.1430/2009, hal.46-51

Sumber: Alqiyamah.wordpress.com Dipublikasikan kembali oleh : ibnuabbaskendari.wordpress.com


[1] HR.al Bukhari, no.5645

[2] Syarh as Sunnah, Jilid 5, hal.232

[3] Taj al ‘Arus, Jilid 39, Hal.39, al Mu’jam al Wasith, Jilid 1, Hal.629

[4] al Mausu’ah al Fiqhiyyah, Jilid 12, Hal.287

[5] Tasliyah ahli al Masha’ib, hal.155

[6] HR.Ibnu Majah, no.1601 dan dihasankan oleh Syaikh al Albani rahimahullah dalam Shahih Ibn Majah, no.1311, Irwa’ al Ghalil, no.764, ash Shahihah, no.195. Al-I’lam bi Akhiri Ahkam al-Albani al-Imam, hal.154 no.209

[7] Shahih Targhib wa Tarhib, no.2090, hadits hasan

[8] HR.al Bukhari, no.1284 dan Muslim, no.923

[9] asy Syarah al Mumti’ jilid 5 hal.487

[10] HR.Nasa’i no.1869 dan dishahihkan oleh al Albani rahimahullah dalam Shahih an Nasa-i

[11] HR.Hakim dan dishahihkan al-Hakim dan disetujui oleh adz Dzahabi dan al Albani dalam Ahkam al Jana’iz, hal.208

[12] HR.Ahmad dan Hakim dan dishahihkan oleh al Albani rahimahullah dalam Ahkam al Jana’iz, hal.209

[13] Lihat Ahkam al Jana’iz hal.209 dan Shalah al Mukmin Jilid 3, hal.1353-1355

[14] Lihat penjelasan Imam an Nawawi dalam al Majmu’ Syarah al Muhadzdzab, jilid 5 hal.260, al Mughni jilid 4 hal.485, asy-Syarh al Mumti’ jilid 5 hal.487, al Mausu’ah al Fiqhiyyah jilid 12 hal.487

[15] Ahkam al Jana’iz hal.208, Fatawa Lajnah Da’imah, Jilid 9 hal.131, Shalah al Mu’min jilid 3 hal.1353, al Fatawa asy Syar’iyyah hal.776-777, Fatwa Syaikh Fauzan

[16] Lihat Ahkam Ahli Dzimmah, jilid 1 hal.438-439

[17] al Mughni, jilid III hl.486, Tasliyah ahli al Masha-ib, karya al Munbiji hal.158

[18] Majmu’ Fatawa wa Rasa-il Syaikh al Utsaimin, jilid 2 hal.304, dikumpulkan oleh Fahd bin Nashir as Sulaiman

[19] Fatwa Lajnah Da’imah, jilid 9, hal.132

[20] Ahkam ahli Dzimmah, jilid I hal.439 dari perkataan al Hasan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: