Koreksi Ritual Di Bulan Rojab

Koreksi Ritual Di Bulan RojabHirjan Abu Ubadah

Ketahuilah wahai saudaraku ! Sekarang ini kita berada di bulan yang mulia.

Alloh telah mengharamkan kedzoliman pada empat bulan yang harom, bulan-bulan yang mulia. Perhatikanlah firman-Nya berikut ini:

Sesungguhnya bilangan bulan pada sisi Allah adalah dua belas bulan, dalam ketetapan Allah di waktu Dia menciptakan langit dan bumi, di antaranya empat bulan haram. Itulah (ketetapan) agama yang lurus, Maka janganlah kamu Menganiaya diri kamu dalam bulan yang empat itu, dan perangilah kaum musyrikin itu semuanya sebagaimana merekapun memerangi kamu semuanya, dan ketahuilah bahwasanya Allah beserta orang-orang yang bertakwa. (QS. At Taubah ayat 36)

Yang dimaksud dengan empat bulan harom adalah Dzul Qo’dah, Dzul Hijjah, Muharrom dan Rojab. Rosululloh shallallahu ‘alaihi was sallam menjelaskan tafsir tentang mulianya empat bulan ini ketika haji wada, beliau shallallahu ‘alaihi was sallam bersabda : “Sesungguhnya waktu itu berputar seperti bentuknya pada hari diciptakan langit dan bumi. Satu tahun itu ada dua belas bulan, di dalamnya ada empat bulan harom, tiga bulan berturut-turut yaitu : Dzul Qo’dah, Dzul Hijjah, Muharrom dan Rojab yang diagungkan yang berada di antara Jumada Tsani dan Syaban”.[1]

Sekarang telah jelas bagi kita kemuliaan bulan Rojab, dan tiga bulan yang lain. Alloh Subhanahu wa Ta’ala melarang kita berbuat keharaman di bulan harom ini, namun ada hal yang sangat kita sayangkan, sebagian besar kaum muslimin yang ingin mengisi bulan harom ini dengan ibadah dan ketaatan tapi karena tidak tahu dan faktor lainnya akhirnya mereka mengisi bulan harom ini dengan berbagai kebid’ahan. Seharusnya dalam bulan harom ini kita dibencinya berbuat kedholiman tapi kenyataannya bulan harom telah dicoreng dengan kebid’ahan-kebid’ahan yang marak di lakukan oleh sebagian kaum muslimin sendiri.[2]  Marilah kita meningkatkan rasa takut kita kepada Adzab-adzab Alloh. Semoga Alloh Subhanahu wa Ta’ala memaafkan kesalahan-kesalahan kita, dan semoga Alloh menambah ilmu dan pemahaman Islam yang benar kepada kita.

Di antara kebid’ahan-kebid’ahan yang dilakukan pada bulan Rojab adalah :

Pertama, mengadakan peringatan Isro’ Miroj.

Peringatan Isro Mi’roj merupakan perayaan tahunan yang selalu diramaikan oleh sebagian besar kaum muslimin. Mereka menetapkan bahwa malam tanggal dua puluh tujuh Rojab adalah Malam Isro Mi’roj.

Kalau kita tilik sejarah kehidupan kekasih kita, Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi was sallam akan kita temukan berbagai pendapat di kalangan para ulama, tidak ada kepastian kapan terjadinya malam yang sangat mulia itu, ada yang mengatakan terjadi pada tanggal 22 Jumadil Ula, ada yang mengatakan terjadi satu atau dua tahun sebelum hijrah dan ada pula yang mengatakan terjadi enam belas bulan sebelum hijrah. Jika demikian adanya lalu manakah yang mereka jadikan patokan dalam merayakan malam Isro Miroj mereka ?

Ini adalah bukti nyata akan salahnya acara peringatan tahunan ini.

Anggaplah memang malam Isro’ Mi’roj itu terjadi pada tanggal dua puluh tujuh Rojab, tetapi apakah Rosululloh shallallahu ‘alaihi was sallam mengajarkan dan memerintahkan kita merayakan malam tersebut ? Tidak ada dalil shohih menunjukkan bahwa Rosululloh mensyari’atkan peringatan Isro’ Mi’raj.

Kalau Rosululloh shallallahu ‘alaihi was sallam dan para sahabatnya tidak pernah merayakan malam tersebut ! lalu ajaran siapakah yang kita amalkan ? Jika kita tetap mengadakan perayaan setelah kita tahu bathilnya ibadah ini, maka secara tidak langsung kita telah mengaku diri kita lebih tahu syari’at Islam dari para Rosululloh shallallahu ‘alaihi was sallam

Mengapa kita tidak mencukupkan  diri dengan syariat yang telah jelas kebenarannya, bersungguh-sungguh dan ikhlas. Mengamalkan Sunnah-sunnah kekasih kita, Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi was sallam. Kita bertanya diri kita masing-masing, apa yang menjadikan kita tidak puas dengan syari’at Nabi kita sehingga perlu ibadah-ibadah tambahan yang pada hakikatnya adalah boomerang yang menghantam kita di akhirat kelak, Naudzu billahi mindzalik.

Amalan bid’ah yang kedua adalah puasa di awal Bulan Rojab

Ketahuilah wahai saudaraku ! Puasa adalah salah satu bentuk ibadah, dan setiap ibadah harus memiliki landasan syar’i  jika tidak memiliki dalil maka dia adalah bid’ah (perkara baru yang diada-adakan dalam agama. red) yang bisa merusak agama dan pelakunya.

Al-Hafidz Ibnu Hajar Al-Asqolani rahimahullah berkata “Tidak ada dalil yang shohih yang bisa dijadikan hujjah atas keutamaan puasa di awal bulan Rojab, dan mengkhususkan ibadah sholat malam pada bulan tersebut”.

Namun hal ini tidaklah berarti tidak ada sama sekali puasa pada bulan ini, syariat puasa Senin – Kamis dan puasa Daud atau puasa bidh (puasa tiga hari setiap bulan, tanggal 13, 14 dan 15) tetap berlaku berdasarkan keumuman hadits (yang shohih dari) Nabi shallallahu ‘alaihi was sallam.

Amalan bid’ah yang ketiga adalah Sholat Rogho’ib yaitu sholat pada malam Jum’at yang pertama di bulan Rojab.

Iman Suyuthi rahimahullah menegaskan kebid’ahan sholat Rogho’ib. Beliau mengatakan : “Ketahuilah, semoga Alloh merohmatimu, sesungguhnya mengagungkan hari ini dan malamnya, adalah hal yang diada-adakan dalam syariat Islam setelah tahun yang ke empat ratusan. Hadits-hadits yang diriwayatkan didalamnya adalah hadits-hadits maudhu’ (palsu) menurut kesepakatan para ulama”.[3] Demikian pula yang ditegaskan oleh al-Hafidz Ibnu Hajar, Imam ad-Dzahabi, Ibnu Qoyyim al-Jauzi, Ibnu Taimiyah dan ulama yang lainnya. Semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala merahmati mereka semua

Marilah kita mengingat kembali bahwa semua ibadah tidak akan diterima oleh Alloh Subhanahu wa Ta’ala kecuali jika ibadah tersebut ikhlas dan mutaba’ah (mencontoh) Rosululloh shallallahu ‘alaihi was sallam, sebagaimana yang ditegaskan dalam sabdanya :

Barang siapa yang mengerjakan suatu amalan yang bukan dari urusan kami maka amalan tersebut akan tertolak”.[4]

Oleh karena itu kembali kami ingatkan akan kesempurnaan Islam yang di bawa oleh Rosululloh sehingga tidak membutuhkan penambahan dan pengurangan. Alloh Subhanahu wa Ta’ala telah menegaskan kesempurnaan Islam ini dalam firman-Nya.

Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah kucukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Kuridhoi Islam itu jadi agama bagimu”. (QS. Al-Maidah 5 : 3).

Ibnu Katsir rahimahullah berkata : “Ini merupakan nikmat Alloh yang terbesar bagi umat ini, dimana Alloh menyempurnakan agama mereka, maka mereka dia tidak butuh kepada agama selainnya, dan tidak butuh pula kepada Nabi selain Nabi Muhammad, oleh karena itu Alloh menjadikannya sebagai penutup para nabi dan diutus-Nya kepada manusia dan jin. Tidak ada kehalalan  kecuali apa yang dihalalkan, tidak ada keharaman melainkan apa yang diharamkannya dan tidak ada agama kecuali apa yang disyariatkannya.[5]

Perlu pula dipahami bahwa tidak ada suatu amalan pun yang bisa mendekatkan seseorang ke surga melainkan Rosululloh shallallahu ‘alaihi was sallam telah menjelaskannya dan tidak ada suatu amalan yang bisa menjauhkan seseorang dari neraka melainkan Rosululloh telah menjelaskannya, sebagaimana Rosululloh shallallahu ‘alaihi was sallam nyatakan dalam sabdanya :

Tidak ada sesuatu pun yang bisa mendekatkan seseorang ke surga dan menjauhkannya dari neraka melainkan telah dijelaskan kepada kalian [6]

Janganlah berlebih-lebihan dalam agama karena ghuluw (berlebih-lebihan) merupakan salah satu penyebab hancurnya agama. Alloh dan Rosul-Nya memperingatkan agar tidak ghuluw dalam agama, perhatikanlah firman Alloh

Wahai ahli kitab, janganlah kamu melampaui batas dalam agamamu, dan janganlah kamu mengatakan terhadap Alloh kecuali yang benar” (QS. An-Nisa’ 4 : 171).

Demikian juga Rosululloh shallallahu ‘alaihi was sallam sangat wanti-wanti melarang ghuluw dalam agama sebagaimana sabdanya :

Jauhkanlah oleh kalian ghuluw (berlebih-lebihan) dalam agama, sesungguhnya sebab binasa kaum sebelum kalian ialah ghuluw dalam agama. [7]

Jangan pula kita menganggap amalan para sahabat itu kurang sehingga perlu ditambah dengan amalan-amalan bid’ah. Ketahuilah wahai saudaraku, bahwa sederhana tetapi di atas sunah lebih baik dari pada bersungguh-sungguh dalam kebid’ahan. Alangkah bagusnya apa yang disampaikan sahabat yang mulia Abu Darda’ dan Abdulloh Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhum: Sederhana dalam Sunnah lebih baik daripada sungguh-sungguh di atas kebid’ahan.

Demikianlah yang bisa kami sampaikan pada kali ini, mudah-mudahan apa yang kami sampaikan ini bermanfaat bagi kita semuanya. Akhirnya kepada Alloh-lah kita memohon agar diberikan kemantapan dalam beramal sholih dan kepada-Nya kita minta agar dijauhkan dari segala macam kebid’ahan sehingga apa yang kita lakukan benar-benar menjadi bekal kita dalam memasuki kehidupan akhirat. Alhamdulillahilladzi bi ni’matihi tatimmush shalihaat

Sumber: Majalah AL FURQON no. 82 edisi: 12 thn. 7 1429H / 2008M

Artikel: www.ibnuabbaskendari.wordpress.com


[1] HR. Bukhori 5550 Muslim 1679

[2] Bahkan hal ini banyak di dakwakan oleh para tokoh Agama yang kenyataannya mereka jauh dari ilmu yang syar’i. red

[3] Lihat kitab al-Amru bil wannahyu anil ibtida’ hlm. 167. Iman Suyuthi rahimahullah

[4] HR. Bukhori 2697. Muslim 1618

[5] Tafsir Ibnu Katsir 2/15

[6] HR. Ahmad 5/153 dishohihkan Syaikh   al-Albani rahimahullah dalam Shohihah 4/416

[7] HR. Ibnu Majah 3029, dishohihkan Syaikh al-Albani rahimahullah dalam as-Shohihah 3/279

Artikel Terkait:

Amalan di Bulan Rajab

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: