Perhatian Kaum Salaf Terhadap Bahasa Arab

Bahasa Arab adalah bahasa yang sangat penting untuk diperhatikan dan dipelajari oleh seorang muslim, terutama para pengajar dan dai’i. Hal itu karena adanya hubungan yang erat antara bahasa ini dengan syariat Islam.

Dalam lembaran riwayat-riwayat kaum salafush shalih terdapat banyak sekali ungkapan dan keadaan yang menunjukkan perhatian mereka terhadap bahasa Arab. Berikut ini adalah sebagian di antara bentuknya.[1]1.      Perintah untuk mempelajarinya.

Dalam atsar dari ‘Umar bin Khoththob radhiyallahu ‘anhu disebutkan bahwa beliau pernah menulis surat kepada Abu Musa al-Asy’ari yang isinya :

“Amma ba’du, pelajarilah as-Sunnah dan pelajarilah bahasa Arab, dan i’rob-lah al-Qur’an, karena sesungguhnya al-Qur’an itu dengan bahasa Arab.” (Iqtidho’ush Shirootil Mustaqiim, karya Ibnu Taimiyyah rahimahullah, I/470)

Dalam riwayat lain, beliau radhiyallahu ‘anhu berkata :

“Pelajarilah as-Sunnah, faroidh (hukum waris), dan bahasa Arab sebagaimana kalian mempelajari al-Qur’an.” (Kitab al-Madkhol ilas Sunanil Kubro, al-Baihaqi, no. 376, hal. 266-267 dan kitab Miftaahul Jannah, as-Suyuti, no. 213, hal. 105).

Ketika menjelaskan ungkapan tersebut, Imam Ibnul Atsir rahimahullah mengatakan, “Maksudnya yaitu “ Belajarlah kalian bahasa Arab dengan I’rob-nya.” (An-Nihaayah fii Ghoriibil Ahaadiits, IV/241)

Sedangkan al-Azhari menjelaskan bahwa makna atsar tersebut adalah : Belajarlah bahasa Arab dalam al-Qur’an dan ketahuilah makna-maknanya. (An-Nihaayah fii Ghoriibil Ahaadiits, IV/241)

Dalam atsar tersebut terdapat ungkapan yang menunjukkan perintah secara jelas untuk mempelajari bahasa Arab.

2.      Menjelaskan bahwa bahasa Arab adalah bagian dari agama

‘Umar bin Khoththob radhiyallahu ‘anhu telah menjelaskan bahwa bahasa Arab adalah termasuk bagian dari agama Islam ini. Oleh karena itu beliau menganjurkan agar mempelajarinya. Beliau berkata :

”Belajarlah kalian bahasa Arab, karena ia adalah termasuk bagian dari agama kalian, dan pelajarilah faroidh (hukum waris), karena ia adalah termasuk bagian dari agama kalian.” (Iqtidho ‘ush Shirootil Mustaqiim, karya Ibnu Taimiyyah rahimahullah, I/470)

Setelah membawakan atsar ini, Syaikhul Islam rahimahullah mengatakan, “Masalah yang diperintahkan oleh ‘Umar   radhiyallahu ‘anhu Yaitu perintah agar mempelajari bahasa Arab dan mempelajari syariat- telah mencakup perkara yang dibutuhkan, karena agama itu terdiri dari ucapan-ucapan dan perbuatan-perbuatan. Memahami bahasa Arab adalah jalan untuk memahami amalan-amalan beliau.” (Iqtidho’ush Shirootil Mustaqiim, karya Ibnu Taimiyyah rahimahullah, I/470).

Dengan demikian, maka bahasa Arab adalah sebuah bahasa yang tidak dapat terlepas dari agama ini.

3.      Menghukum anak yang lahn.

Di antara perhatian kaum salaf terhadap bahasa ini adalah bahwa sebagian sahabat memberi peringatan kepada anak-anak yang lahn (kesalahan dalam berbahasa Arab) agar meninggalkan lahn-nya dalam berbahasa Arab.

Di antara riwayat tersebut adalah dari ‘Ali bin Abi Tholib radhiyallahu ‘anhu bahwa beliau pernah memukul Hasan dan Husain karena lahn. (Al-Jaami’ li Akhlaaqir Rowi wa Adaabis Saami’, karya al-Khothib al-Baghdadi rahimahullah, no. 1088, II/17).

Diriwayatkan pula dari Ibnu ‘Umar dan Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma bahwa mereka pernah memukul anak-anak mereka karena lahn. (Al-Jaami’ li Akhlaaqir Rowi wa Adaabis Saami’, karya al-Khothib al-Baghdadi rahimahullah, no. 1089, II/17). Atsar tentang memukulnya Ibnu ‘Umar kepada anaknya karena lahn terdapat juga dalam Ghoriibul Hadits, karya Imam al-Khoththobi, I/61; Akhbaarun Nahwiyyin, karya Abdul Wahid bin ‘Umar al-Muqri’, no. 12, hal. 25-26; dan Mu’jamul Udaba’, I/67.

Yang dimaksud lahn adalah kekeliruan dalam bahasa Arab, dahulu awal hijrah para sahabat, banyak di antara anak-anak mereka yang mengalami kekeliruan dalam berbahasa Arab dikarenakan asimilasi dengan bahasa setempat (bahasa asli selain Arab, sebelum datangnya Islam).

4.      Membiasakan berbahasa Arab meskipun berada di tempat yang penduduknya tidak berbahasa Arab.

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah berkata, “Adapun membiasakan berbicara dengan selain bahasa Arab yang merupakan syiar Islam dan bahasa al-Qur’an sehingga menjadi kebiasaan bagi sebuah daerah dan penduduknya, atau dipakai oleh seseorang yang berada di rumah bersama temannya, atau para pekerja di pasar, para penguasa, para pegawai di diwan, atau ahli fiqih, maka tidak diragukan lagi bahwa hal itu (hukumnya) makruh (dibenci), karena termasuk bertasyabbuh dengan orang-orang ajam dan hukumnya adalah makruh sebagaimana telah (dijelaskan) di muka.”

Oleh karena itu, maka dahulu kaum muslimin yang telah lalu ketika mereka tinggal di Syam dan Mesir sedangkan bahasa yang dipakai oleh penduduknya adalah bahasa Romawi, di Irak dan Khurosan sedangkan bahasa yang digunakan oleh penduduknya adalah bahasa Persia, dan penduduk Maghrib (Maroko) sedangkan bahasa yang dipakai oleh penduduknya adalah bahasa Barbar, mereka- yaitu kaum muslimin yang terdahulu- membiasakan penduduk negeri-negeri ini dengan bahasa Arab, sehingga bahasa ini menguasai semua penduduk negeri tersebut, baik kepada sesama kaum muslimin di antara mereka maupun kepada orang kafirnya.” (Iqtidho’ush Shirootil Mustaqiim, Ibnu Taimiyyah rahimahullah, I/468)

5.      Memperhatikan penyusunan kaidah-kaidah bahasa.

Abul Aswad ad-Du-ali mengatakan, “Aku pernah masuk menemui ‘Ali bin Abi Tholib radhiyallahu ‘anhu, sedangkan beliau aku lihat dalam keadaan menundukkan kepadanya.

Aku berkata, ”Dalam masalah apakah engkau berpikir wahai Amirul Mukminin ?”

Beliau menjawab, ”Sesungguhnya aku mendengar adanya lahn di negerimu ini, maka aku ingin menyusun sebuah kitab yang menjelaskan tentang dasar-dasar bahasa Arab.”

Aku berkata, ”Apabila engkau lakukan hal itu, maka engkau telah menghidupkan kami dan menjadikan bahasa ini tetap ada di antara kita.” Kemudian aku mendatanginya setelah berlalu tiga hari. Lalu beliau memberikan kepadaku sebuah lembaran yang berisi :

”Dengan nama Alloh yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Perkataan itu semuanya adalah nama, pekerjaan, dan huruf. Nama (ismu) adalah sesuatu yang memberitakan tentang apa yang diberi nama. Pekerjaan (fi’lu) adalah sesuatu yang memberitakan tentang gerakan apa yang diberi nama. Huruf (harfu) adalah sesuatu yang memberitakan tentang suatu makna yang bukan nama dan bukan pula pekerjaan.”

Beliau berkata, ”Carilah dan tambahilah sesuai apa yang engkau dapatkan. Ketahuilah wahai Abul Aswad, sesungguhnya segala sesuatu itu ada tiga, dhohir (tampak), mudhmar (tidak tampak), dan sesuatu yang tidak dhohir dan tidak mudhmar.”

Abul Aswad berkata, ”Lalu aku mengumpulkan beberapa permasalahan, dan aku memperhatikannya kepada beliau. Di antaranya adalah huruf-huruf nashb, lalu aku menyebutkan di antaranya :                                dan aku tidak memasukkan            .

Beliau berkata : ”Mengapa engkau meninggalkannya ?”

Aku berkata, ”Aku mengira bahwa ia bukan termasuk ke dalamnya.”

Beliau berkata, ”Ia adalah termasuk di dalamnya (huruf nashb), maka masukkanlah ia ke dalamnya.” (Al-Akhbaarul Marwiyyah, karya as-Suyuti, hal. 113, dalam Rosaa-il fil Fiqhi wal Lughoh). Lihat juga al-Fihrisat, hal. 45)

6.      Mencela lahn.

Imam asy-Sya’bi rahimahullah mengatakan : “Lahn yang terdapat dalam lisan orang yang mulia dan terhormat itu laksana penyakit cacar yang ada pada wajah.” (Tanbiih Ulil Albab, ha. 121)

Ungkapan ini sesuai dengan untaian bait berikut ini :

Cacat yang ada pada orang yang jahil yang tidak dikenali itu tidak dikenal

Sedangkan aib yang ada pada orang yang mulia dan terkenal itu terkenal juga.

Bekas potongan kuku itu tersembunyi karena kecilnya, akan tetapi apabila ada benda lain yang sama kecilnya tetapi ada di pelupuk mata maka akan terlihat

(Adz-Dzakhirah, karya al-Qorofi, I/50).

Syu’bah juga berkata : ”Barangsiapa yang belajar hadits, akan tetapi dia tidak mengerti bahasa Arab, maka perumpamaan orang itu adalah ibarat orang yang memakai burnus (sejenis mantel yang bertudung kepala) akan tetapi dia tidak memiliki kepala.” (Al-Jaami’ li Akhlaaqir Rowi, no. 1080, II/13)

Ini adalah merupakan anjuran bagi para penuntut ilmu syar’i agar bersungguh-sungguh dalam belajar bahasa Arab.

7.      Menjelaskan bahwa ilmu tentang tata bahasa Arab (nahwu) selalu dibutuhkan.

Di antara cabang ilmu bahasa Arab adalah tentang tata bahasa (nahwu). Imam asy-Sya’bi telah mengungkapkan tentang pentingnya ilmu alat ini dengan berkata :

”Ilmu nahwu dalam setiap ilmu itu ibarat garam dalam setiap makanan, tidak ada sesuatu yang tidak membutuhkannya.” (Al-Jaami’ li Akhlaaqir Rowi wa Adaabis Saami’, karya al-Khothib al-Baghdadi, no. 1087, II/16).

8.      Mendahulukan belajar nahwu dari pada hadits.

Waki’ berkata : aku pernah mendatangi al-A’masy untuk mendengarkan dari beliau, lalu aku kadang-kadang lahn, lalu beliau berkata kepadaku, ”Wahai Abu Sufyan, engkau telah meninggalkan perkara yang lebih utama bagimu daripada hadits.”

Aku berkata, ”Wahai Abu Muhammad, apakah yang lebih utama bagiku dari hadits?”

Beliau menjawab, ”Belajar nahwu”, lalu al-A’masy mendiktekan kepadaku nahwu, kemudian mendiktekan hadits kepadku. (Al-Jaami’ li Akhlaaqir Rowi wa Adaabis Saami’, no. 1078, II/12)

9.      Memperingatkan bahwa orang yang berilmu lebih butuh kepada nahwu.

Pada suatu hari Abu ‘Amr mendengar Abu Hanifah menjelaskan tentang masalah fiqih, lalu beliau lahn, maka perkataan beliau membuat Abu ’Amr takjub tetapi Abu ’Amr menganggap jelek lahn-nya. Kemudian ia dibantu dengan kebenaran.” Selanjutnya berkata kepada Abu Hanifah, ”Sesungguhnya engkau lebih membutuhkan untuk memperbaiki lisanmu daripada orang lain.” (Al-Jaami’ li Akhlaaqir Rowi wa Adaabis Saami’, no. 1079, II/12)

10.  Ber-istighfar ketika lahn

Di antara perhatian mereka terhadap bahasa Arab adalah bahwa mereka mengucapkan istighfar tatkala terjatuh ke dalam lahn.

Al-Hasan bin Abil Hasan pernah terpeleset lisannya dengan terjatuh ke dalam lahn, lalu ia mengatakan, ”Astaghfirulloh.” Kemudian ada orang yang berkata kepadanya tentang hal itu, lalu beliau berkata, ”Barangsiapa yang salah dalam bahasa Arab, maka ia telah berdusta atas nama orang Arab. Barangsiapa yang berdusta maka ia telah melakukan perbuatan yang jelek, sedangkan Alloh Ta’ala telah berfirman :

”Dan barangsiapa yang mengerjakan kejahatan dan menganiaya dirinya, kemudian ia mohon ampun kepada Alloh, niscaya ia mendapati Alloh Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (QS. An-Nisa’ : 110) (Mu’jamul Udaba’, I/68)

Ayyub as-Sikhtiyani juga pernah lahn dalam suatu huruf, lalu beliau berkata, ”Astaghfirulloh.” (Ghoriibul Hadits, karya al-Khoththobi, I/61 ; Mu’jamul Udaba’, I/79; Tanbiih Ulil Albaab, hal. 86)

11.  Menganggap lahn sebagai perusak hadits.

Abu Mus-hir berkata, “Aku pernah bertanya kepada Sa’id bin Abdul ‘Aziz at-Tanukhi tentang suatu hadits apabila aku dengar dalam keadaan malhuun (pengucapan yang keliru dalam bahasa Arab), lalu ia berkata, ”Lahn itu dapat merusak hadits. Hal itu karena ia mengubah maknanya. Tidaklah seorang ulama ditemui melainkan dalam lisannya lurus (tidak ada lahn). ’Umar bin Abdul ’Aziz adalah salah seorang yang sangat keras dalam menyikapi lahn yang ada pada manusia, baik itu anaknya, teman dekatnya, rakyatnya, dan kadang-kadang men­ta’dib (memberikan sangsi dengan tujuan memberi pelajaran) mereka disebabkan hal itu.” (Mu’jamul Udaba’, Yaqut al-Hamawi, I/88-89).

12.  Mengakhirkan imam yang banyak lahnnya.

Ada orang yang berkata kepada Hasan al-Bashri, “Sesungguhnya kami memiliki seorang imam yang lahn,” lalu beliau menjawab, ”Akhirkanlah dia” (jangan jadikan sebagai imam). (Ghoriibul Hadits, karya al-Khoththobi, I/61).

Ini menunjukkan bahwa dalam memilih seorang imam, hendaknya diperhatikan – diantaranya- yaitu tentang kefasihannya dalam membaca ayat-ayat al-Qur’an.

 13.  Bersenandung dengan syair tatkala ditanya tentang kosakata al-Qur’an.

Dari ‘Ubaidulloh bin ‘Abdulloh, ia berkata, “Aku pernah melihat Ibnu ‘Abbas ditanya tentang kosakata bahasa Arab yang ada dalam al-Qur’an, lalu beliau bersenandung dengan syair. (Ghoriibul Hadits, karya al-Khoththobi, I/61).

Hal itu karena dalam syair-syair kaum Arab yang terdahulu terdapat syawahid (penguat) yang memperkuat makna suatu kata secara benar.

 14.  Menyesal karena tidak mendalami bahasa Arab.

Atho’ berkata : “Aku senang sekiranya aku mendalami bahasa Arab.” Sedangkan usia beliau saat itu adalah sembilan puluh tahun. (Ghoriibul Hadits, karya al-Khothtobi, I/61).

Inilah sekelumit di antara perhatian kaum salaf terhadap bahasa al-Qur’an ini. Semoga Alloh memberi kita taufiq untuk selalu mempelajari bahasa yang mulia ini dan memudahkan dalam memahami Kitabulloh dan Sunnah Rosululloh Shallallahu ‘alahi wa sallam.

Sumber: Majalah Adz-Dzakhiirah vol. 9 no. 2 edisi: 68. 1432/2011

Artikel: www.ibnuabbaskendari.wordpress.com


[1]   Lihat pembahasan ini dalam I’tidho’ ush Shirootil Mustaqiim, karya Ibnu Taimiyyah rahimahullah I/470; Tanbiihul Albaab bi Fadho-il al-I’rab, karya Abu Bakar asy-Syintirini, hal. 76; al-Jaami’ li Akhlaaqir Rowi wa Adaabis Saami’, karya al-Khothib al-Baghdadi, II/17; Ghoriibul Hadits, karya Imam al-Khoththobi, I/61; Mu’jamul Udaba’, I/67, karya Yaqut al-Hamawi; al-Akhbaarul Marwiyyah fii Sababi Wadh’ al-‘Arobiyyah, karya Suyuti, hal. 161-162, dalam cetakan yang ditahqiq (dikoreksi) dan dimuat dalam Rosaa-il fil Fiqhi wal Lughoh.

Baca juga artikel ini:

Kitab Mukhtashor Ilmis Shorfi wan Nahwi

Urgensi Bahasa Arab Dalam Memahami Syariat

Kamus Al Mufid 1.0

Kamus Arab Indonesia Al-Munawwir



Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: