Awas Jangan Dijual

Ustadz Dr. Muhammad Arifin Badri, MA

PENDAHULUAN

Segala puji bagi Alloh Ta’ala atas segala nikmat-Nya yang tiada henti dan terhitung. Sholawat dan salam semoga senantiasa dilimpahkan kepada Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam, keluarga, dan sahabatnya.

Islam senantiasa menghargai hak kepemilikan umat manusia, terlebih harta umatnya. Sebagai konsekuensinya, Islam membuka peluang selebar-lebarnya bagi Anda untuk mendapatkan imbalan yang setimpal atas setiap harta kekayaan Anda, sebagaimana Islam juga melindungi harta kekayaan Anda, sehingga tidak ada yang dibenarkan untuk menggunakannya apabila memilikinya kecuali bila atas kerelaan Anda.

“Tidaklah halal harta seorang muslim kecuali dengan dasar kerelaan jiwa darinya.”[1]

Namun, tahukah Anda bahwa tidak semua harta atau benda yang Anda miliki dapat Anda perjualbelikan? Karenanya, saya mengajak saudara untuk mengenali harta benda yang bagaimanakah yang tidak halal untuk Anda perjualbelikan?

ARTI PENJUALAN DAN PEMBELIAN

Saudaraku! Coba Anda ingat kembali ketika Anda hendak menjual atau membeli suatu barang, apa persepsi Anda tentang barang yang hendak Anda jual dan Anda beli? Anda pasti merasa bahwa barang tersebut adalah barang yang bernilai dan berharga, sehingga layak dijual atau dibeli. Bahkan mungkin Anda percaya bahwa barang tersebut bernilai tinggi, dan tentunya berguna bagi Anda. Bukankah demikian ?

Sekali lagi, Anda coba mengingat, pernahkah Anda membeli suatu barang, namun Anda kecewa karena ternyata kegunaan barang itu tidak seperti yang Anda harapkan? Anda pun menyesal karena telah memberi penghargaan yang berlebihan kepada barang yang Anda beli.

Dengan demikian, ketika Anda membeli atau menjual, sejatinya Anda sedang mengekspresikan penilaian Anda pada suatu barang. Dan sudah barang tentu, Anda tidak sembarangan dalam memberikan penilaian. Terlebih lagi Anda adalah seorang muslim yang patuh beragama. Anda pasti mengetahui bahwa di dunia ini ada beberapa barang yang tidak layak untuk dihargai. Ada kalanya karena barang tersebut mengancam keselamatan Anda di dunia, dan ada pula karena barang itu dapat menghalangi Anda dari pintu surga.

BARANG-BARANG HARAM UNTUK DIPERJUALBELIKAN

Setelah menyadari bahwa ada barang-barang yang tidak layak mendapat penilaian, mungkin Anda merasa penasaran, kira-kira apa sajakah barang yang haram untuk Anda jual atau beli? Untuk menjawab rasa penasaran Anda, saya mengajak Anda untuk mengenali barang-barang haram tersebut :

1.      Barang yang haram dikonsumsi

Setiap barang haram untuk dikonsumsi, bukan karena barang tersebut dapat mengancam nyawa Anda, maka haram pun memperjualbelikannya.

“Sesungguhnya Alloh Ta’ala bila telah mengharamkan sesuatu, pasti Dia mengharamkan pula hasil penjualannya.”[2]

Berikut beberapa barang yang haram untuk Anda konsumsi, sehingga haram untuk Anda perjualbelikan :

  1. a.      Khamar dan yang serupa

“Abdurrohman bin Wa’lah bertanya kepada Sahabat Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhum tentang jus anggur (yang telah memabukkan), maka sahabat Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhum menjawab, “Sesungguhnya ada seorang lelaki menghadiahkan sebejana khamar kepada Rosululloh Shallallahu ‘alaihi wa sallam, maka beliau bersabda, ‘Apakah engkau mengetahui bahwa Alloh telah mengharamkannya?’ Lelaki itu menjawab, ‘Tidak.’ Lalu lelaki itu berbisik-bisik dengan lelaki lain, sehingga Rsoululloh Shallallahu ‘alaihi wa sallam bertanya, ‘Apa yang engkau bisikan kepadanya?’ Lelaki itu menjawab, ‘Saya menyarankannya agar menjual khamar itu.’ Mengetahui saran sahabatnya ini, Rosululloh Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ‘Sesungguhnya Dzat Yang telah mengharamkan untuk meminumnya-yaitu khamar-telah mengharamkan pula penjualannya.’”[3]

 

Mungkin Anda berkata, “Tidakkah tersisa kondisi khusus, sehingga halal memperjualbelikan khamar?” Untuk menjawab pertanyaan Anda, saya mengajak Anda untuk merenungkan kisah berikut :

Sahabat Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu mengisahkan bahwa Abu Tholhah radhiyallahu ‘anhu bertanya kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam perihal anak-anak yatim yang mendapatkan warisan berupa khamar. Rosululloh Shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, “Tumpukanlah.” Kembali Abu Tholhah radhiyallahu ‘anhu bertanya, “Tidakkah lebih baik bila aku olah agar menjadi cuka?” Beliau menjawab, “Tidak.”[4]

Bila demikian sikap Rosululloh Shallallahu ‘alaihi wa sallam terhadap khamar milik anak-anak yatim, masih adakah celah bagi Anda untuk dapat mengolah dan memperjualbelikan khamar ?

Di samping itu, perlu Anda ketahui bahwa khamar dalam syari’at Islam adalah segala hal yang memabukkan baik berupa minuman atau makanan. Rosululloh Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

“Setiap yang memabukkan adalah khamar, dan setiap yang memabukkan adalah haram.”[5]

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah berkata, “Demikian kemampuannya untuk menyimpulkan ucapan, Rosululloh Shallallahu ‘alaihi wa sallam menyamaratakan setiap yang merusak akan dan memabukkan. Beliau tidak membedakan antara satu jenis dari jenis lainnya, dan tidak pula antara yang di makan atau di minum. Ditambah lagi khamar dapat dijadikan bahan untuk memoles, dan ganja dapat dicairkan lalu diminum. Dengan demikian, sebagaimana ganja juga bisa dimakan dan diminum. Dan semuanya itu hukumnya adalah haram.” (as-Siyasah asy-Syar’iyyah :89).

b.      Bangkai, darah, babi, dan hewan haram lainnya

Di antara barang haram yang tentunya haram pula diperjualbelikan ialah apa yang disebutkan pada ayat berikut :

Katakanlah, “Aku tidak mendapatkan pada wahyu yang telah diturunkan kepadaku ada suatu hal yang diharamkan untuk dimakan selain bangkai, atau darah yang mengalir, atau daging babi karena sesungguhnya itu adalah najis atau kefasikan (hewan) yang disembelih untuk selain Alloh.” (QS. Al-An’am [6] : 145).

Di antara barang yang haram dikonsumsi, sehingga haram pula diperjualbelikan ialah binatang buas yang bertaring kuat dan burung yang menyerang mangsanya dengan kukunya yang tajam.

Diriwayatkan dari Abu Tsa’labah al-Khusyani bahwa Rosululloh Shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang kita memakan setiap binatang buas yang bertaring kuat.[6]

Hadits ini dengan jelas mengharamkan binatang buas yang bertaring untuk dikonsumsi. Dan Sahabat Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhu menambahkan burung berkuku tajam sebagai hewan yang terlarang untuk dikonsumsi, sebagaimana diriwayatkan oleh Imam Muslim.

Di antara hewan yang haram untuk dikonsumsi ialah anjing dan kucing. Sehingga tidak heran bila ulama mengharamkan penjualan keduanya, walaupun untuk tujuan yang dibenarkan, semisal untuk berburu atau lainnya. Sahabat Abu Mas’ud Uqbah bin Amr                menuturkan bahwa :

“Rosululloh Shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang hasil penjualan anjing, penghasilan (mahar) pelacur dan upah perdukunan.”[7]

Pada suatu hari Abu Zubair bertanya kepada Sahabat Jabir bin Abdillah radhiyallahu ‘anhu tentang hasil penjualan anjing dan kucing, maka beliau menjawab :

“Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam mencela hasil penjualan keduanya.”[8]

Di antara hewan yang haram diperjualbelikan karena dagingnya haram dikonsumsi ialah : tikus, ular, burung gagak, dan kalajengking :

“Lima binatang yang pembunuhnya tidak berdosa, yaitu : burung gagak, elang, tikus, kalajengking, dan anjing gila.”[9]

Al-Iraqi rahimahullah menyatakan, “Setiap binatang yang diperintahkan agar dibunuh adalah haram hukumnya. Yang demikian itu karena perintah membunuhnya berarti penegasan bahwa binatang itu tidak dihargai dan sekaligus sebagai larangan untuk memeliharanya. Andai binatang itu halal dimakan, niscaya boleh untuk dipelihara dan dibudidayakan dan selanjutnya di makan.” (Thorhut Tatsrib : 8/126).

Di antara binatang yang tidak layak diperjualbelikan ialah cecak dan tokek. Hal ini berdasarkan hadits berikut :

Diriwayatkan dari sahabat Sa’ad bin Abi Waqqosh radhiyallahu ‘anhu bahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan agar kita membunuh cecak, dan beliau menyebutkan sebagai fuwaisiq (binatang jahat).[10]

 

Dan bahkan Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah menjanjikan pahala yang besar bagi Anda bila berhasil membunuh cecak :

“Barang siapa membunuh cecak dengan sekali pukul maka ia mendapatkan pahala seratus kebaikan, dan bila ia membunuhnya pada pukulan kedua maka ia mendapatkan pahala kurang dari itu, dan bila pada pukulan ketiga maka ia mendapatkan pahala kurang dari itu.”[11]

Ibnu Hazm al-Andalusi rahimahullah menyatakan, “Cecak adalah salah satu binatang yang paling menjijikan.” (al-Muhalla : 7/405)

Lebih tegas lagi, Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam menjelaskan alasan mengapa beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan kita untuk membunuh cecak :

“Dahulu cecak itu meniup-niup (api agar semakin berkobar membakar, Pen.) Nabi Ibrahim ‘alaihis salam.”[12]

Ulama telah menjelaskan bahwa alasan sebagian hwan dijuluki sebagaian binatang fasiq atau fuwaisiq adalah dikarenakan binatang-binatang  tersebut menyelisihi keumuman binatang melata lainnya, dalam hal kehalalan atau larangan untuk membunuhnya. (Nailul Author : 5/80).

Oleh karena itu, mereka menegaskan bahwa setiap binatang yang dijuluki sebagai binatang fasiq atau fawasiq atau fuqaisiq, halal dibunuh dan haram dikonsumsi. Dan bila haram dikonsumsi, maka haram pula diperjualbelikan.

Dan perlu diketahui bahwa ulama telah menegaskan bahwa tokek termasuk golongan cecak, dengan demikian hukumnya pun sama. Asy-Syaukani rahimahullah menyatakan, “Cecak itu termasuk binatang melata yang mengganggu manusia, dan tokek adalah salah satu darinya yang berbadan lebih besar.” (Nailul Author : 8/200). Ketentuan ini juga berlaku pada setiap barang lain yang haram dikonsumsi.

 2.      Barang-barang yang kegunaannya haram

Sebagaimana telah diutarakan di atas, bahwa penjualan dan pembelian adalah salah satu cara untuk menghargai barang. Dengan demikian, Anda pasti tidak rela untuk memberi nilai kepada barang yang kegunaannya haram secara syari’at. Di antara barang yang tidak layak mendapatkan penilaian, karena alasan ini ialah patung dan gambar bernyawa. Rosululloh Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

“Sesungguhnya Alloh Ta’ala dan Rosul-Nya, telah mengharamkan jual beli khamar, bangkai, babi, dan berhala (patung).”[13]

Pada suatu hari Aisyah radhiyallahu ‘anha membuat bantal yang padanya terdapat lukisan makhluk bernyawa. Ketika Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam pulang ke rumah, beliau berhenti dan berdiri terperangah menyaksikan bantal buatan istri tercintanya. Spontan Aisyah radhiyallahu ‘anha bertanya, “Apa yang telah terjadi, wahai Rosululloh?” Beliau menjawab, “Ada apa dengan bantal ini?” “Aisyah radhiyallahu ‘anha menjawab, “Aku membuatnya untukmu sebagai alas ketika engkau berbaring.” Mendengar jawaban istri tercintanya ini, beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

“Tidaklah engkau tahu bahwa para malaikat enggan untuk masuk ke rumah yang padanya terdapat gambar. Dan pelukis gambar kelak pada hari kiamat akan disiksa. Dikatakan kepadanya, ‘Hidupkanlah gambar hasil karyamu.’”[14]

Dengan demikian, membuat lukisan makhluk bernyawa dan tentu memperjualbelikannya adalah haram hukumnya.

Ketentuan ini berlaku pada benda-benda yang kegunaannya haram, semisal alat-alat musik dan benda-benda lainnya yang kegunaannya diharamkan. Bahkan hanya memperjualbelikannya, menyewakannya juga diharamkan oleh ulama.

Taqiyyuddin al-Hishni rahimahullah berkata, “menyewakan alat-alat hiburan, semisal genderang, seruling, rebab, dan lainnya adalah haram. Dan haram pula atas Anda untuk memberikan uang sewa atau menerimanya atas benda-benda tersebut. Yang demikian itu dikarenakan memungut uang sewa dari barang semacam ini termasuk memakan harta orang lain dengan cara-cara yang tidak benar.” (Kifayatul Akhyar. 295)

3.      Barang yang dapat meresahkan masyarakat

Alloh Ta’ala telah menggariskan bahwa manusia adalah makhluk sosial, saling membutuhkan dan saling melengkapi. Karenanya kemaslahatan hidup mereka hanya dapat terpenuhi dengan baik bila mereka menjalankan asas : “bahu-membahu dalam kebaikan dan tidak bahu-membahu dalam kejelekan”.

Dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran. (QS. Al-Ma’idah [5] : 2)

Dengan menjalankan asas ini, Anda menjadi anggota masyarakat yang berguna baik bagi agama maupun umat. Pada waktu yang sama, Anda menjadi benteng pelindung dari segala kejelekan. Oleh karena itu, ulama ahli fiqih menggariskan kaidah :

Menutup segala pintu menuju kepada hal-hal yang diharamkan.

Ketetapan ini berlaku karena kejelekan tidak hanya menimpa pelakunya saja, namun juga akan menimpa seluruh anggota masyarakat.

Zainab bintu Jahsy radhiyallahu ‘anha menuturkan, “Aku pernah bertanya kepada Rosululloh Shallallahu ‘alaihi wa sallam, ‘Wahai Rosululloh, apakah kita akan dibinasakan walaupun di tengah-tengah kami ada orang-orang sholih?” Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, “Ya, bila keburukan telah merajalela.”[15]

Berangkat dari asas ini ulama fiqh mengharamkan menjual barang yang hendak digunakan untuk bermaksiat kepada Alloh Ta’ala. Demikian pula halnya dengan benda yang dapat meresahkan kehidupan umat muslim dalam bermasyarakat dan beragama.

Imam asy-Syafi’I rahimahullah berkata, “Dan aku membenci penjualan buah anggur kepada orang yang akan menjadikannya sebagai khamar. Demikian juga halnya menjual pedang kepada orang yang menjadikannya sebagai alat maksiat kepada Alloh.”

Imam al-Mawardi rahimahullah menjelaskan alasan fatwa Imam Syafi’I ini dengan berkata, “Penjualan ini merupakan dukungan kepada pelaku maksiat.” (al-Hawi al-Kabir : 5/270).

Pada kesempatan lain, al-Mawardi rahimahullah juga berkata, “Haram menjual senjata kepada orang kafir harbi (yang memerangi negeri Islam). Karena dengan menjual senjata kepada mereka, berarti Anda telah memperkuat mereka dalam memerangi agama Alloh. Dan bila ada yang tetap menjual senjata kepada mereka, maka penjualan tersebut tidak sepantasnya dibiarkan berlangsung.” (al-Hawi al-Kabir : 5/270).

Keterangan senada juga diutarakan oleh Ibnu Qudamah al-Hambali rahimahullah “Demikianlah hukumnya pada penjualan barang yang hendak digunakan untuk perbuatan haram. Semisal menjual senjata kepada musuh, perampok, atau ketika terjadi perang saudara. Sama pula menjual budak wanita untuk dijadikan penyanyi, atau menyewakannya untuk tujuan tersebut. Atau menyewakan rumah untuk dijadikan tempat penjualan khamar, atau dijadikan gereja, atau kelenteng, atau tujuan lain yang serupa. Ini semua adalah haram hukumnya, dan akad penjualannya batal berdasarkan dalil-dalil yang telah dikemukakan di atas.” (al-Mughni : 6/319).

PENUTUP

Harta benda adalah nikmat yang wajib disyukuri, karena dengan harta benda, hidup Anda menjadi lancar. Terlebih-lebih bila Anda belanjakan harta kekayaan Anda pada jalan-jalan yang diridhoi Alloh Ta’ala. Dengan demikian, semakin sempurnalah kebahagiaan Anda, baik didunia maupun kelak di akhirat.

“Sebaik-baik harta yang halal/baik adalah harta yang dimiliki oleh orang sholih[16]

Semoga artikel sederhana ini dapat membantu Anda dalam membelanjakan harta Anda.

Wallohu A’lam bish showab.

Sumber: Majalah AL FURQON edisi: 10 no. 113 thn: 10 Jumadil Ula 1432H/April 2011M

Artikel: www.ibnuabbaskendari.wordpress.com

Catatn Kaki:


[1]   Riwayat Ahmad : 5/72, dishohihkan oleh al-Hafizh.

[2]   Riwayat Imam Ahmad : 1/293. Hadits ini dinyatakan shohih oleh Ibnul Qoyyim rahimahullah dalam kitabnya, Zadul Ma’ad : 5/746.

[3]   Riwayat Muslim hadits No. 4128.

[4]   Riwayat Ahmad : 3/119 dan Abu Dawud hadits no. 3677.

[5]   Riwayat Muslim hadits no. 2003.

[6]   Riwayat Bukhori hadits no. 5210 dan Muslim hadits no. 5097.

[7]   Riwayat Bukhori hadits no. 2122 dan Muslim hadits no. 4092.

[8]   Riwayat Muslim hadits no. 4098.

[9]   Riwayat Bukhori hadits no. 1732 dan Muslim hadits no. 2924.

[10]  Riwayat Muslim hadits no. 5981.

[11]  Riwayat Muslim hadits no. 5984.

[12]  Riwayat Bukhori hadits no. 3180.

[13]  (Riwayat Bukhori hadits no. 2122 dan Muslim hadits no. 4132).

[14]  Riwayat Muslim hadits no. 2107.

[15]  Riwayat Bukhori hadits no. 3168 dan Muslim hadits no. 7416.

[16]  Riwayat al-Bukhori dalam kitab Adab Mufrod hadits no. 299.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: