Menjadi Hamba Allah 24 Jam

Ustadz Abu Ihsan al-Atsari

Sungguh Allah Ta’ala menciptakan manusia untuk suatu tujuan yang mulia, yaitu untuk beribadah kepada Allah semata tanpa menyekutukan-Nya dengan sesuatu yang lain.

Allah Ta’ala berfirman :

Dan aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka beribadah kepada-Ku. (QS. Adz-Dzariyat / 51:56).

Dalam ayat ini, Allah Ta’ala menuntut dua perkara dari kita. Pertama, beribadah kepada Allah Ta’ala dengan cara yang sesuai syariat-Nya. Kedua, tidak menyerahkan ibadah itu kepada selain-Nya.

Artinya, seorang Mukmin harus menjadi hamba Allah Ta’ala selama hayatnya. Statusnya sebagai hamba Allah Ta’ala ini tidak boleh lepas darinya walaupun sesaat. Itulah tujuan kita diciptakan. Itulah status dan gelar tertinggi yang diraih seorang insan, yaitu menjadi hamba Allah Ta’ala yang sejati. Allah Ta’ala telah menyematkan gelar ini kepada hamba-Nya yang paling mulia, yaitu Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam, Allah Ta’ala berfirman :

Maha suci Allah, yang telah memperjalankan hamba­-Nya pada suatu malam dari al-Masjidil Haram ke al Masjidil Aqsha yang telah Kami berkahi sekelilingnya agar Kami perlihatkan kepadanya sebagion dari tanda­tanda (kebesaran) kami. Sesungguhnya Dia adalah Maha mendengar lagi Maha mengetahui. (QS al-Isra /17: 1).

Umur yang Allah Ta’ala berikan kepada kita ini adalah sebuah karunia dan anugerah yang tiada ternilai. Satu hari Allah Ta’ala memberi kita 24 jam. Itulah waktu yang harus kita pergunakan sebaik­-baiknya agar menjadi hamba Allah Ta’ala yang sejati.

Oleh karena itu Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam menyampaikan sebuah wasiat yang sangat agung bagi kita, beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

Pergunakanlah yang lima sebelum datang yang lima (yaitu) masa mudamu sebelum datang masa tua; masa sehatmu sebelum datang masa sakit; masa kayamu sebelum datang masa miskin; masa luangmu sebelum datang masa sibuk; masa hidupmu sebelum datang kematian.[1]

Sesungguhnya hidup adalah kumpulan hari-hari. Alangkah ruginya kita, bila terus dibuai angan-angan sehingga lupa memperbaiki diri. Mestinya, kita berpindah dari satu bentuk ibadah kepada bentuk ibadah lainnya.

Allah Ta’ala berfirman :

Maka apabila kamu telah selesai (dari sesuatu urusan), kerjakanlah dengan sungguh-sungguh (urusan) yang lain, dan hanya kepada Rabbmulah hendaknya kamu berharap (QS. al-Insyirah/94:7-8).

Ketika menjelaskan ayat ini, Syaik Ibnu Utsaimin rahimahullah mengatakan, “Apabila engkau telah selesai mengerjakan suatu tugas maka bersiap-siaplah mengerjakan tugas yang lainnya, janganlah menyia-­nyiakan kesempatan. Oleh karena itu, kehidupan orang yang berakal adalah kehidupan yang penuh semangat. Setiap kali selesai mengerjakan satu tugas, ia bersiap mengerjakan tugas yang lain. Karena waktu akan terus berlalu, baik kita dalam keadaan terjaga maupun tidur, sibuk maupun lowong. Waktu terus berjalan, tidak ada seorangpun yang mampu menahannya. Sekiranya semua manusia bersatu padu untuk menahan matahari supaya waktu siang bertambah panjang niscaya mereka tidak akan bisa melakukannya. Tidak ada seorangpun yang dapat menahan waktu. Karena itu, jadikanlah hidupmu hidup yang penuh semangat. Jika engkau selesai mengerjakan sebuah pekerjaan, lanjutkanlah dengan pekerjaan yang lainnya. Jika engkau selesai mengerjakan urusan dunia, hendaklah engkau melanjutkannya dengan mengerjakan urusan akhirat. Sebaliknya, jika engkau selesai mengerjakan urusan akhirat lanjutkanlah dengan urusan dunia. Apabila engkau telah selesai mengerjakan shalat Jum’at, bertebarlah di muka bumi dan carilah karunia Allah Ta’ala. Shalat Jum’at diapit oleh dua urusan dunia.

Allah Ta’ala berfirman :

Hai orang-orang beriman, apabila kalian diserut untuk menunaikan shalat Jum’at, maka bersegeralah kamu kepada mengingat Allah dan tinggalkanlah jual beli. Yang demikian itu lebih baik bagimu jika kamu mengetahui. Apabila shalat telah ditunaikan, maka bertebaranlah kamu di muka bumi; dan carilah karunia Allah dan ingatlah kepada Allah sebanyak-banyaknya supaya kamu beruntung. (QS. Al-Jumu’ah/62:9-10).

Jika ada yang mengatakan, “Jika aku terus­-menerus scrius dan sungguh-sungguh setiap waktu, aku pasti letih dan bosan.” Jawabannya adalah istirahatmu untuk menyegarkan dirimu dan mengembalikan gairah kerja termasuk pekerjaan dan amalan. Maksudnya pekerjaan dan amalan itu tidak harus bergerak. Waktu istirahatmu untuk mengembalikan gairah kerja termasuk pekerjaan dan amalan. Yang paling penting adalah jadikanlah seluruh hidupmu dalam kesungguh-sungguhan dan amal.

Firman Allah Ta’ala :

Dan hanya kepada rabbmulah hendaknya kamu berharap (QS. al-Insyirah / 94:8).

Maksudnya, apabila engkau selesai mengerjakan tugas-tugas lalu diikuti dengan pekerjaan yang lainnya maka berharaplah kepada Allah Ta’ala agar engkau mendapatkan pahala. Tetaplah memohon pertolongan kepada Allah, sebelum dan sesudah beramal. Sebelum beramal mintalah pertolongan kepada Allah Ta’ala. Dan setelah beramal, berharaplah pahala dari Allah.[2]

Tabib penyakit hati, Ibnul Qayyim rahimahullah, mengatakan, “Memanfaatkan waktu lebih berat daripada memperbaiki masa lalu dan masa depan. Memanfaatkan waktu berarti melakukan amal-amal paling utama, paling berguna bagi diri dan paling banyak membawa kebahagiaan. Dalam hal ini manusia terbagi menjadi beberapa tingkatan. Demi Allah, itulah kesempatanmu mengumpulkan bekal untuk menyongsong akhirat, ke surga ataukah ke neraka.”[3]

Waktu terus berjalan, usia kita tentu bertambah. Pertanyaannya adalah, sudahkah kita mengisi waktu itu sebaik-baiknya. Hari demi hari yang berlalu dan yang akan kita jalani ini, apakah sudah kita manfaatkan sebaik-baiknya seperti yang diwasiatkan oleh Nabi kita Shallallahu ‘alaihi wa sallam?

Sungguh merugi, orang yang tidak mengisi harinya untuk menjadi hamba Allah yang sejati. Manusia seperti ini laksana mayat hidup yang berjalan, mati sebelum waktunya. Hidupnya tidak bermakna sama sekali !

Ibnul Qayyim rahimahullah mengatakan, “Merupakan hak Allah Ta’ala atas hamba-Nya di setiap waktu yang berlalu dalam hidupnya untuk menunaikan kewajiban ubudiyah yang ia persembahkan kepada Allah Ta’ala dan untuk mendekatkan dirinya kepada-Nya. Jika seorang hamba mengisi waktunya dengan ibadah yang wajib ia lakukan, maka ia akan maju menuju Allah Ta’ala Sebaliknya, jika ia isi dengan mengikuti hawa nafsu, bersantai ria atau menganggur, ia akan mundur. Seorang hamba kalau tidak melangkah maju, ia pasti bergerak mundur. Tidak ada yang berhenti di tengah jalan.

Allah Ta’ala berfirman :

(Yaitu) bagi siapa diantaramu yang berkehendak akan maju atau mundur (QS. al-Mudattsir/74:37)[4]

Beliau rahimahullah melanjutkan, “Jika tidak maju, ia pasti mundur. Seorang hamba senantiasa berjalan, tidak berhenti. Kalau tidak ke atas, pasti ke bawah; Kalau tidak maju, pasti mundur. Itulah detik-detik kehidupan yang berlalu dengan cepat menuju surga atau neraka! Ada yang melaju cepat dan ada pula yang bergerak lamban. Ada yang terus maju dan ada pula yang mundur. Tidak ada seorangpun yang berhenti di tengah jalan! Hanya saja dalam perjalanan ini ada yang berbeda arah tujuan dan ada pula yang berbeda akselerasi kecepatannya!”[5]

Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

Setiap hari semua orang melanjutkan perjalanan hidupnya, keluar mempertaruhkan dirinya! Ada yang membebaskan dirinya dan ada pula yang mencelakakannya! [6]

Dalam hadits lain disebutkan :

Wahai Ka’ab bin ’Ujrah, semua orang tengah melanjutkan perjalanan hidupnya …”[7]

Setiap insan melanjutkan perjalanannya, ada yang menjual dirinya kepada Allah Ta’ala :

Sesungguhnya Allah telah membeli dari orang-orang mu’min, diri dan harta mereka dengan memberikan jannah untuk mereka (QS. at-Taubah / 9:111).

Dan ada pula yang menjualnya kepada setan yang senantiasa mengintai.[8]

Ibnul Qayyim rahimahullah melanjutkan, ”Barangsiapa tidak mengisi waktunya untuk Allah Ta’ala dan dengan petunjuk Allah Ta’ala maka baginya mati lebih baik daripada hidup! Apabila seorang hamba sedang mengerjakan shalat, maka ia hanya memperoleh bagian shalat yang ia lakukan dengan khusyuk. Ia tidak memperoleh bagian apapun dari hidupnya kecuali yang dijalaninya dengan petunjuk Allah Ta’ala dan ditujukannya semata-mata untuk Allah Ta’ala.”[9]

Lalu, mampukah kita mengisi 24 jam yang Allah berikan ini untuk beribadah kepada Allah Ta’ala? jawabnya, kita mampu mengisinya dengan ibadah. Hal itu bila kita memaknai ibadah dengan maknanya yang luas. Yaitu segala sesuatu yang dicintai dan diridhai oleh Allah Ta’ala berupa ucapan maupun perbuatan, lahir maupun batin.

Sesunggulinva Allah Ta’ala telah membuka pintu-­pintu kebaikan. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah menjelaskan kepada kita amal-amal kebaikan yang bisa mendekatkan diri kita kepada-Nya. Bukankah Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

Tidak satupun amal yang bisa mendekatkan kalian ke surga melainkan telah aku memerintahkannya kepada kalian. Dan tidak satupun amal yang bisa mendekatkan kalian ke neraka melainkan aku telah melarang kalian darinya.”[10]

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah menjelaskan Sunnah-Sunnah yang dapat dikerjakan oleh seorang Muslim sehari semalam. Simaklah penuturan Imam adz-Dzahabi                rahimahullah berikut ini : “Seandainya seseorang menamatkan al-Qur’an dengan tartil dalam waktu satu pekan, dan ia secara rutin mengamalkannya tentu akan menjadi amalan yang utama. Sesungguhnya agama ini mudah. Demi Allah Ta’ala, membaca sepertujuh al-Qur’an dengan bacaan yang tartil dalam shalat tahajjud disertai dengan menjaga shalat-shalat nawafil lainnya, seperti shalat Dhuha dan Tahiyyatul masjid, disertai dengan dzikir-dzikir yang ma’tsur dan shahih, doa sebelum tidur dan ketika bangun darinya, doa dan dzikir sesudah shalat-shalat fardhu, pada waktu sahur, disertai dengan menuntut ilmu yang bermanfaat dan menyibukkan diri dengannya secara ikhlas, disertai pula dengan amar ma’ruf nahi mungkar, memberikan bimbingan kepada orang jahil, memberi teguran kepada orang fasik dan semacamnya. Disertai. pula dengan melaksanakan shalat-shalat fardhu berjama’ah dengan khusyu’ dan thuma’ninah, dengan ketundukan dan keimanan, serta melaksanakan kewajiban-kewajiban, meninggalkan, dosa-dosa besar, memperbanyak doa dan istighfar, memperbanyak sedekah, menyambung tali silaturrahim, bersikap tawadhu’ dan ikhlas dalam melaksanakan itu semua, sungguh merupakan suatu kesibukan yang sangat agung, dan merupakan maqam (kedudukan) golongan kanan dan wali-wali Allah serta orang-orang yang bertakwa. Sungguh, semua itu adalah perkara yang dituntut.”[11]

Seandainya kita menerapkan Sunnah-Sunnah Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam seperti disebutkan oleh imam adz-Dzahabi rahimahullah diatas niscaya separuh hari kita terpakai untuk mengamalkannya, seperti kata beliau, itu merupakan sebuah kesibukan yang agung yang menghabiskan sebagian besar waktu kita. Dan hanya tersisa sedikit kesempatan saja untuk menganggur tanpa amal kebaikan.

Hanya saja, manusia sering ditimpa dua penyakit yang menghalanginya dari semua itu. Yaitu penyakit malas dan taswif (menunda-nunda amal). Oleh karena itulah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam senantiasa berlindung dari sifat malas ini. Salah satu doa beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam : Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari kemalasan dan kepikunan. Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari siksa neraka dan siksa kubur.[12]

AMALAN SEHARI SEMALAM

Beberapa bentuk amal yang dapat kita lakukan sehari semalam diantaranya :

1.      Shalat fardhu lima kali sehari semalam. Ini merupakan rukun Islam yang kedua dan wajib dilakukan oleh setiap muslim yang baligh dan berakal. Kewajiban ini tidak gugur bagaimanapun keadaannya, kecuali wanita yang sedang haidh dan nifas.

Shalat wajib dikerjakan dengan berdiri, jika tidak bisa dengan berdiri, maka dilakukan sambil duduk, kalau tidak bisa duduk dikerjakan sambil berbaring, kalau tidak bisa juga maka dengan isyarat.

2.      Shalat-shalat sunnat rawatib yang mengiringi shalat fardhu.

Abdullah bin Syaqiq radhiyallahu ‘anhu bercerita, ”Aku bertanya kepada ’Aisyah          radhiyallahu ‘anha tentang shalat sunnat yang dikerjakan oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Aisyah radhiyallahu ‘anha menjawab, ”Beliau shalat empat rakaat di rumahnya sebelum Zhuhur, kemudian beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam keluar mengerjakan shalat berjamaah, kemudian beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam pulang ke rumah dan shalat empat rakaat. Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam shalat Maghrib berjamaah kemudian beliau pulang dan shalat dua rakaat. Kemudian beliau shalat Isya berjamaah lalu pulang ke rumahku dan shalat dua rakaat. Beliau mengerjakan shalat malam sembilan rakaat termasuk shalat witir. Beliau mengerjakan shalat malam panjang sekali dengn berdiri dan kadang-kadang beliau kerjakan sambil duduk. Apabila beliau membaca surat dengan berdiri maka beliau ruku’ dan sujud juga berdiri. Namun bila beliau membaca surat sambil duduk maka beliau rukuk dan sujud juga sambil duduk. Apabila fajar sudah menyingsing maka beliau shalat dua rakaat (shalat sunnat fajar).”[13]

3.      Shalat Duha, termasuk didalamnya shalat Awwabiin yaitu shalat yang dilakukan di akhir waktu dhuha dan shalat Isyraq yang dilakukan di awal waktu dhuha, yakni begitu matahari muncul.

Abu Dzar al-Ghifari radhiyallahu ‘anhu meriwayatkan dari Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda :

Pada setiap pagi, setiap sendi tubuh Bani Adam harus bersedekah. Setiap tasbih bisa menjadi sedekah. Setiap tahmid bisa menjadi sedekah. Setiap tahlil bisa menjadi sedekah. Setiap takbir bisa menjadi sedekah. Setiap amar ma’ruf nahi munkar juga bisa menjadi sedekah. Semua itu dapat digantikan dengan dua rakaat yang dilakukan pada waktu Dhuha.[14]

4.      Shalat malam. Banyak sekali hadits-hadits yang menjelaskan tentang keutamaan shalat malam, seperti hadits Abu Malik al-Asy’ari radhiyallahu ‘anhu berkata, ”Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

Sesungguhnya di dalam surga tersedia kamar-kamar yang bagian dalamnya terlihat dari luar dan bagian luarnya terlihat dari dalam. Kamar-kamar itu Allah sediakan untuk orang-orang yang suka memberi makan, melembutkan tutur bicara, memperbanyak puasa, menebarkan salam dan mengerjakan shalat malam di kala manusia tertidur pulas.[15]

Shalat malam ini dikerjakan dua rakaat-dua rakaat, hingga terbit fajar.

5.      Shalat sunnat sesudah bersuci.

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

Barangsiapa berwudhu’ seperti wudhu’ku ini, kemudian shalat dua raka’at dan tidak berkata-kata dalam hati (yakni dikerjakan dengan khusyu’) selama mengerjakannya niscaya Allah akan mengampuni dosanya.[16]

Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu meriwayatkan bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata kepada Bilal radhiyallahu ‘anhu setelah shalat fajar, ”Wahai Bilal, ceritakanlah kepadaku amalanmu dalam Islam yang paling engkau harapkan. Karena sesungguhnya aku mendengar suara terompahmu di hadapanku dalam surga.” Bilal              berkata, ”Tidaklah aku mengamalkan suatu amalan yang lebih aku harapkan melainkan setiap kali aku bersuci pada malam atau siang hari aku selalu mengerjakan shalat yang bisa aku lakukan.”[17]

6.      Shalat sunnat dua rakaat sesudah Ashar selama cahaya matahari belum menguning.

’Aisyah  radhiyallahu ‘anha berkata, ”Dua rakaat yang tidak pernah ditinggalkan oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam baik sembunyi-sembunyi maupun terang-terangan : Dua rakaat sebelum shalat Subuh dan dua rakaat sesudah shalat Ashar.”[18]

7.      Shalat taubah.

Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu berkata, ”Aku mendengar Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

Tidaklah seorang hamba melakukan perbuatan dosa kemudian dia berdiri, lalu berwudhu, dan mengerjakan shalat, kemudian memohon ampun kepada Allah kecuali Allah akan mengampuninya.”[19]

8.      Shalat witir sebelum pergi tidur.

Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu berkata, ”Kekasihku telah mewasiatkan kepadaku tiga perkara, aku tidak akan meninggalkannya sampai mati : puasa tiga hari setiap bulan, shalat Dhuha dan mengerjakan shalat Witir sebelum pergi tidur.”[20]

9.      Menjaga wudhu’

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

Tidak ada orang yang menjaga wudhu’ kecuali dia orang Mukmin.[21]

10.  Dzikir-dzikir sesudah shalat fardhu.

11.  Dzikir-dzikir mutlak

Maksudnya adalah dzikir-dzikir yang boleh dibaca tanpa terikat tempat maupun waktu tertentu. Misalnya yang disebutkan dalam hadits Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam :

Perbanyaklah membaca syahadat LAILAHA ILLALLAH sebelum kalian terhalang darinya.[22]

 

Dan hadits :

Aku mengucapkan SUBHANALLAH WALHAMDULILLAHI WA LA ILAHA ILLALLAH WALLAHU AKBAR, lebih aku sukai daripada terbitnya matahari.[23]

Dan masih banyak lagi amal-amal lain yang dapat kita kerjakan sehari semalam.

Merutinkan amalan-amalan ini pasti akan mendatangkan keutamaan. Diantaranya, apabila kita jatuh sakit atau terhalang dari perbuatan tersebut karena bersafar misalnya, maka akan tetap ditulis pahala amal yang rutin kita kerjakan itu. Seperti yang disebutkan dalam sebuah hadits.

Apabila seorang hamba jatuh sakit atau tengah bersafar, niscaya Allah Ta’ala tetap menuliskan pahala baginya sebagaimana yang biasa dilakukannya pada waktu sehat dan mukim (tidak bersafar)[24]

Atau seseorang terbiasa shalat malam, kemudian suatu kali terkalahkan oleh tidurnya, sehingga dia tidak melaksanakan shalat malam, maka dia tetap mendapatkan pahalanya. ’Aisyah radhiyallahu ‘anha meriwayatkan bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

Tidaklah seseorang yang memiliki kebiasaan shalat malam lalu terkalahkan oleh tidurnya (tertidur) melainkan Allah akan menuliskan baginya pahala shalat malam dan tidurnya itu menjadi sedekah atasnya.[25]

 

Disamping itu, apabila kita berniat sungguh-sungguh untuk mengamalkannya akan tetapi terhalang dengan sesuatu yang tidak bisa kita hindari, maka niat ini akan tetap menghasilkan pahala. Misalnya, seseorang yang berniat sungguh-sungguh akan bangun malam untuk mengerjakan shalat tahajjud, lalau ia terkalahkan oleh tidurnya, maka ia tetap terhitung pahala baginya. Abu Darda’ radhiyallahu ‘anhu mengatakan, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

Barangsiapa mendatangi pembaringannya dengan meniatkan bangun malam untuk mengerjakan shalat malam akan tetapi ia dikalahkan oleh kedua matanya (tertidur) hingga shubuh maka dituliskan baginya apa yang telah ia niatkan dan tidurnya menjadi sedekah baginya dari Rabbnya.[26]

 

Oleh karena itu, tidur dan istirahat seorang Mukmin juga bisa bernilai ibadah dan berpahala, apabila beristirahat dengan niat agar lebih bergairah dalam ibadah.

Mu’adz bin Jabal radhiyallahu ‘anhu dan Abu Musa al-Asy-ari radhiyallahu ‘anhu bermudzakarah tentang amal-amal shalih. Mu’adz radhiyallahu ‘anhu berkata, “Hai Abdullah, bagaimanakah cara engkau membaca al-Qur’an ?” Abu Musa radhiyallahu ‘anhu menjawab, “Aku secara rutin membacanya setiap waktu.”[27]

Abu Musa radhiyallahu ‘anhu bertanya, “Lalu bagaimana cara engkau membacanya hai Mu’adz ?”

Mu’adz radhiyallahu ‘anhu menjawab, “Aku tidur diawal malam lalu aku bangun sesudah aku menuntaskan bagian waktuku untuk tidur. Aku membaca apa yang Allah mudahkan bagiku. Aku mengharap pahala dari tidurku sebagaimana aku mengharap pahala dari saat aku terjaga.”

Dalam riwayat lain disebutkan bahwa Mu’adz  radhiyallahu ‘anhu bertanya kepada Abu Musa radhiyallahu ‘anhu, “Bagaimana cara engkau membaca al-Qur’an ?”

Abu Musa radhiyallahu ‘anhu menjawab : “Aku membacanya di kala berdiri dan duduk, dan diatas kendaraanku, aku rutin membacanya setiap waktu.”

Mu’adz menimpali : “Adapun aku, aku bangun dan aku juga tidur. Aku mengharap pahala dari tidurku sebagaimana aku mengharap pahala dari saat aku shalat malam.”[28]

Al-Hafizh Ibnu Hajar rahimahullah mengatakan, ”Maknanya, ia memohon pahala pada saat-saat istirahat seperti ia memohon pahala pada saat-saat beramal. Karena waktu istirahat apabila digunakan untuk membantu meningkatkan gairah beribadah juga akan menghasilkan pahala.”[29]

Demikian pula amal-amal duniawi lainnya seperti makan dan minum, bisa bernilai ibadah dan pahala apabila diniatkan untuk membantu meningkatkan gairah beribadah.

Intinya, kesempatan untuk menjadi hamba Allah 24 jam sebenarnya terbuka lebar bagi setiap Mukmin yang dapat memanfaatkan waktu dengan sebaik-baiknya, wallahu a’lam bish shawab.

REFERENSI :

1.      Panduan Amal Sehari Semalam

2.      Meraih Kebahagiaan Tanpa Batas

3.      Tafsir Juz ‘Amma, Syaikh Ibnu Utsaimin rahimahullah

4.      Tafsir al-Qur’anil Azhim, Ibnu Katsir rahimahullah

5.      Fathul Bari, Syarhu Shahihil Bukhari, Ibnu Hajar al-Asqalani rahimahullah

Sumber: Majalah As Sunnah edisi 11/thn. XIV/Rabiul Tsani 1431H/Februari 2011M

Artikel: www.ibnuabbaskendari.wordpress.com


[1] Hadits shahih, diriwayatkan oleh al-Hakim dalam Mustadraknya, IV/306; Abu Nu’aim, IV/148; al-Baghawi rahimahullah dalam SyarhusSunnah,V/182; Ibnul Mubarak dalam kitab az:-Zuhd, no.2; al-‘Ajaluni dalam KasyfulKhafa, 1/167; Ibnu Abi Syaibah, XII/223 dan dicantumkan dalam Shahihul Jami’, no. 1077

[2] Tafsir Jus ‘Amma, surat al-Insyirah oleh Ibnu Utsaimin rahimahullah

[3] al-Fawa’id, hlm. 115

[4] al-Fawa’id, hlm. 187-188

[5] Madarijus Salikin, I/267

[6] HR. Muslim no. 223

[7] Hadist riwayat Abdurrazzaq, no. 20719; Abd. Bin Humeid, no. 1138; Ahmad, III/321; Ibnu Hibban, no. 7497, dan telah dinyatakan shahih oleh Ibnu Hajar rahimahullah dalam al-Amali, hlm. 214.

[8] Ibnu Taimiyah rahimahullah mengisyaratkan penjelasan ini dalam Majmu’ Fatawa, VII/51; Demikian pula Ibnul Qayyim rahimahullah dalam ad-Dawa’us Syafi, hlm. 123.

[9] ad-Da’u wad Dawa, hlm. 186.

[10] HR. al-Hakim, dan dishahihkan oleh al-Albani rahimahullah dalam Silsilah ash-Shahihah, no. 2866.

[11] Siyar A’lamin Nubala’ V/80.

[12] HR. Muslim

[13] HR. Muslim dalam Kitab Shalatul Musafirin, no. 137

[14] HR. Muslim dalam Kitab Shalatul Musafirin, no. 127

[15] HR. Ahmad V/343 ; Ibnu Hibban, no. 641 ; at-Tirmidzi, no. 2527; dan dihasankan oleh al-Albani rahimahullah dalam Shahih Sunan at-Trimidzi, II/311, Shahihul Jami’, II/220, no. 2119.

[16] HR. Bukhari dan Muslim

[17] HR. al-Bukhari, no. 1149 dan Muslim, no. 2458

[18] HR. al-Bukhari, no. 295dan Muslim, no. 538

[19] HR. Tirmidzi dan Abu Dawud. Dan dihasankan oleh al-Albani rahimahullah dalam Shahih Sunan Tirmidzi, no. 406

[20] HR. al-Bukhari dalam Kitab al-Jum’ah, no. 8711 dan Muslim dalam Kitab Shalatul Musafirin, no. 127

[21] HR. Ibnu Majah, no. 279 dari Abu Umamah dan riwayat ath-Thabrani dalam Majmu al-Kabir, II/144 dan VII/6270 dari Ubadah bin Shamit  radhiyallahu ‘anhu. Lihat Shahihul Jami, no. 953.

[22] HR. Abu Ya’la, no. 6145 ; Ibnu ‘Adi, IV/77 dari Ibnu ‘Amr rahimahullah Shahihul Jami, no. 1212 dan Silsilatul Ahaditsis Shahihah, no. 467

[23] HR. Muslim, no. 2695 dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu

[24] HR. al-Bukhari, no. 2996

[25] HR. an-Nasa’i, no. 1784; Abu Dawud, no. 1314; Malik dalam Muwaththa’, I/117; dan dishahihkan al-Albani rahimahullah dalam Shahih Sunan an-Nasa’i , I/386 dan Irwa’ul Ghalil, II/205

[26] HR. an-Nasa’i no. 687 dan dishahihkan dalam Irwa’ul Ghalil, no. 454 dan Shahihun Nasa’i, I/386

[27] Atafawwaquhu artinya aku rutin membacanya siang dan malam sedikit demi sedikit, waktu demi waktu. Diambil dari kata Fawaqun Naqah yaitu memerah susu unta kemudian meninggalkannya sesaat hingga penuh kembali kemudian diperah kembali, demikian seterusnya. Lihat Fathul Bari, VIII/62

[28] Muttafaqun ‘alaihi. al-Bukhari, no. 4341, 4342, 4344, 4345 dan Muslim, no. 1733

[29] Fathul Bari, VIII/62

7 Responses to Menjadi Hamba Allah 24 Jam

  1. Ping-balik: Menjadi Hamba Allah 24 Jam | Mυtiαrα Sυηηαh

  2. saudaramufillah mengatakan:

    Assalamu ‘alaikum. Akh, tanya untuk poin ke 6, “Shalat sunnat dua rakaat sesudah Ashar selama cahaya matahari belum menguning.” Bukankah tidak ada shalat ba’diyah Ashar? Bagaimana kaifiyatnya?

  3. mei mengatakan:

    Afwan, ijin copy..

  4. Ping-balik: Shalat Sunnat Dua Rakaat Sesudah Shalat ‘Ashar (Bagian 1) | moslemkalijati

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: