Profesi Pengacara Dalam Tinjauan

Abu Ubaidah Yusuf bin Mukhtar as-Sidawi

MUQODDIMAH

Sesungguhnya syariat Islam adalah syari’at yang sempurna dan paripurna yang memba­has segala hal yang dibutuhkan para hamba. Di antara sekian bukti akan hal itu adalah kon­sep Islam yang sangat jelas tentang pengadilan. Dan di antara sekian bahasan dalam pengadilan adalah “pengacara”. Nah, apakah masalah pe­ngacara dibahas dalam Islam? Adakah penjelas­annya dalam kitab-kitab para ulama?! Bagaima­na kriteria pengacara dalam Islam?! lnilah yang akan menjadi topik bahasan kita kali ini. Semo­ga Allah Ta’ala memberikan pemahaman kepada kita semua.[1]

DEFINISI PENGACARA

Pengacara (advokat) adalah seseorang yang melakukan atau memberikan nasihat dan pem­belaan “mewakili” bagi orang lain yang ber­hubungan (klien) dengan penyelesaian suatu kasus hukum.

Istilah pengacara berkonotasi jasa profesi hu­kum yang berperan dalam suatu sengketa yang dapat diselesaikan di luar atau di dalam sidang pengadilan.[2]

DALIL DISYARI’ATKANNYA PENGACARA

Adanya pengacara dalam persidangan adalah perkara yang dibolehkan, berdasarkan dalil-dalil yang banyak dari al-Qur’an, hadits, ijma’, dan akal.

1. Dalil Al-Qur’an

Sesungguhnya Kami telah menurunkan kitab kepada­mu dengan membawa kebenaran, supaya kamu mengadili antara manusia dengan apa yang telah Allah wahyukan kepadamu, dan jangantah kamu men­jadi penantang (orang yang tidak bersalah), karena (membela) orang-orang yang khianat. (QS. an-Nisa’ 41:105)

Dalam ayat ini terdapat larangan menjadi pe­ngacara secara batil, berarti kalau dalam kebena­ran maka dibolehkan.

Syaikh as-Sadi rahimahullah (1376H) berkata, “Pemahaman ayat ini menunjukkan bolehnya sebagai penga­cara bagi seorang yang tidak dikenal dengan kezaliman.”[3]

2. Dalil Hadist

Dari Fathimah binti Qois radhiyallahu ‘anha, bahwasanya Abu ‘Amr menceraikannya tiga cerai dari kejauhan dirinya, dia mengutus wakilnya untuk mem­bawakan gandum kepada Fathimah, tetapi Fathimah malah marah kepadanya. Lalu wakil tersebut mengatakan, “Demi Allah, kamu itu tidak memiliki hak lagi.” Setelah itu Fathimah melapor kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam lalu bersabda, “Tidak ada kewajiban baginya untuk menafkahi­mu lagi.” (HR. Muslim: 1480)

Hadits ini menunjukkan bolehnya perwakilan dalam persengketaan (pengacara), karena Fathimah melaporkan perkara wakil suaminya tersebut kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam namun Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak mengingkarinya, berarti beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam menyetujui ada­nya wakil dalam persengketaan.[4]

3. Dalil Ijma’

Secara global, tidak ada perselisihan di kalangan ulama tentang bolehnya mewakilkan dalam persengketaan baik dalam harta, pernikahan, dan sejenisnya.[5] Bahkan, secara khusus seba­gian ulama telah menukil adanya ijma’ dalam masalah ini. As-Sarokhsi (490H) berkata, “Per­wakilan dalam pengadilan sudah ada semen­jak masa Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam hingga hari ini tanpa adanya pengingkaran dari siapa pun.”[6] As-Sumnani (499 H) menjelaskan tentang pengacara, “Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam juga pernah mewakilkan, demikian juga para imam yang adil dari kalangan sahabat dan tabi’in. Hal ini juga diamalkan oleh manusia di semua negara.”[7]

4. Dalil Akal

Seorang kadang-kadang membutuhkan wakil dalam persidangan, entah karena dia tidak suka perdebatan atau tidak memiliki keahlian dalam berdebat—baik membela atau membantah—maka sangat sesuai jika syari’at membolehkannya.[8]

BOLEHKAH BERPROFESI SEBAGAI PENGACARA ?

Berprofesi sebagai pengacara hukumnya bo­leh apabila untuk membela kebenaran dan me­nolong orang yang terzalimi, baik dengan me­ngambil gaji atau tidak.

Dalilnya adalah firman Allah Ta’ala :

Sesungguhnya zakat-zakat itu, hanyalah untuk orang-orang fakir, orang-orang miskin, pengurus- pengurus zakat, para muallaf yang dibujuk hatinya, untuk (memerdekakan) budak, orang-orang yang berutang, untuk jalan Allah dan unluk mereka yang sedang dalam perjalanan, sebagai suatu ketetapan yang diwajibkan Allah, dan Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana. (QS. at-Taubah [19]: 6o)

Dalam ayat ini terdapat dalil bolehnya pemerintah mewakilkan seorang untuk mengambil zakat dan membagikannya kepada yang berhak dengan adanya imbalan bagi amil zakat tersebut.[9] Kalau amil zakat berhak mendapatkan imbalan atas pekerjaannya, maka demikian juga pengacara berhak mendapatkan imbalan atas pekerjaannya.

Lajnah Da’imah (komite fatwa) Arab Saudi pernah ditanya tentang hukum profesi sebagai pengacara, maka mereka menjawab, “Apabila dia berprofesi sebagai pengacara bertujuan untuk membela kebenaran, menumpas kebatilan dalam pandangan syari’at, mengembalikan hak kepada pemiliknya, dan menolong orang yang terzalimi, maka hal itu disyari’atkan, karena termasuk tolong-menolong dalam kebaikan. Adapun apabila tujuannya bukan demikian maka tidak boleh karena termasuk tolong-menolong dalam dosa. Allah Ta’ala berfirman :

Dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan taqwa, dan jangan tolong menolonglah dalam perbuatan dosa dan pelanggaran.(QS. al-Ma’idah [5] : 2)[10]

Bahkan, sebenamya kalau kita membuka sejarah Islam, profesi pengacara sudah ada sejak dahulu sekalipun tidak mesti dalam setiap persidangan. Bukti akan hal itu banyak sekali, diantaranya apa yang dikatakan oleh as-Sumnani rahimahullah (499 H), “Bab tentang pengacara dan kewajiban mereka.”[11] Bab ini menunjukkan bahwa profesi pengacara sudah ada sejak dahulu. Bahkan, dalam kitab biografi, ada sebagian orang yang dikenal sebagai pengacara, seperti Abu Marwa Utsman bin Ali bin lbrohim rahimahullah (346H), beliau dikenal sebagai pengacara yang profesional.[12]

SYARAT-SYARAT BERPROFESI SEBAGAI PENGACARA

Pada zaman sekarang, banyak keluhan ten­tang adanya para pengacara yang tidak memenuhi standar agama dan tidak memiliki krite­ria yang diharapkan. Karena itu, penting sekali kita mengetahui syarat-syarat sebagai pengacara dalam Islam dan kewajiban mereka :

1. Mengetahui hukum-hukum syar’i

Seorang pengacara sejati harus memiliki ilmu tentang hukum-hukum syar’i seputar mu’amalah baik yang berkaitan tentang pernikahan, krimi­nal, pengadilan, dan sebagainya. Sebab, bila tidak demikian maka dia akan lebih banyak merusak daripada memperbaiki.

Ibnu Abdi Dam rahimahullah (642H) menjelaskan faktor tentang tujuan dia menulis kitab tentang adab­-adab seorang hakim, tujuan inti dari memapar­kan masalah ini agar mudah diketahui oleh para pengacara yang merupakan wakil dari hakim dalam menyelesaikan persengketaan hukum.[13]

2. Adil dan terpercaya

seorang pengacara harus memiliki sifat amanat, menjaga rahasia, dan adil, karena dia mengemban kepentingan kaum muslimin yang telah memberi­kan kepercayaan mereka kepada para pengacara.[14]

3. Pria

Seorang pengacara harus pria sebab dia akan sering berurusan dengan banyak lelaki baik hakim, saksi, terdakwa, dan sebagainya, dan sering tinggal di kantor pengacara dan kantor persidangan, padahal semua itu bertentangan dengan tugas seorang wanita yang sejatinya tetap tinggal di rumah, menunaikan tugas rumah, merawat anak-anak, dan tugas-tugas mulia lainnya. Cukuplah profesi ini ditangani oleh kaum pria saja[15]. Sebab itu, dalam undang-undang sebagian negara kafir pun ada larangan pengacara dari kaum wanita.[16]

PENGACARA YANG TIDAK LULUS SENSOR

Ada beberapa hal yang dapat menghalangi seorang pengacara untuk lulus menjadi pengacara ideal, diantaranya :

1. Bertujuan untuk menyakiti musuh

Hal itu dilarang karena tidak boleh bagi kita untuk menyakiti sesama muslim. Allah Ta’ala berfirman :

Dan orang-orang yang menyakiti orang-orang yang mukmin dan mukminat tanpa kesalahan yang mereka perbuat, maka sesungguhnya mereka telah memikul kebohongan dan dosa yang nyata. (QS. al-Ahzab [33]: 58)

Oleh karena itu, apabila pengacara memiliki per­musuhan pribadi dengan lawannya maka tidak boleh ia menjadi pengacara (pada kasus tersebut) karena dia akan berusaha untuk menyakitinya dan meluapkan dendamnya kepada orang tersebut kecuali bila dia (musuhnya) ridho.[17]

2. Suka Berbelit-belit

Apabila ada seorang pengacara yang dikenal berbelit-belit sehingga mengutarakan hal-hal yang tidak ada kenyataannya dengan tujuan untuk memperpanjang masalah dan menyakiti lawan, maka dia tidak boleh diangkat sebagai pengacara.[18]

3. Bila Hakim Pilih Kasih Kepadanya

Apabila ada indikasi kuat bahwa hakim akan pil­ih kasih kepadanya baik karena hubungan kerabat atau hubungan kawan dekat dan sebagainya maka tidak boleh sebagai pengacara dalam kasus tersebut. Oleh karenanya, Syaikh Muhammad bin lbrohim alu Syaikh berpendapat bahwa hen­daknya hakim tidak menjadi hakim dalam kasus yang pengacaranya adalah anaknya sendiri.[19]

4. Sebagai Penggugat dan Pembela dalam Satu Kasus

Masalah ini diperselisihkan oleh ulama, namun pendapat terkuat adalah tidak boleh karena hal itu kontra, bagaimana dia menjadi penggugat dan dalam waktu yang sama dia menjadi pem­bela?! Ini adalah madzhab Hanafiyyah dan pen­dapat yang kuat dalam madzhab Syafi’iyyah.[20]

KEWAJIBAN PENGACARA

Ada beberapa kewajiban yang harus diperhati­kan oleh para pengacara :

1. melaksanakan Tugas

Kewajiban pengacara adalah melaksanakan tugas yang dibebankan kepadanya dan tidak melampuinya, karena dia adalah wakil dari seorang yang telah mewakilkannya.[21]

2. Menghormati Majlis Pengadilan

Pengacara harus beradab dan menghormati si­dang pengadilan baik kepada hakim, terdakwa, dan saksi. Dia berkata sopan kepada mereka dan tidak mengeluarkan kata-kata yang kotor[22]. Dan tidak mengapa untuk menyebutkan tuduhan-­tuduhan yang dialamatkan kepadanya sekali­pun dengan menyifati penuduh dengan keza­liman karena hal itu bukanlah termasuk ghibah yang terlarang.[23]

3. Memenuhi Panggilan Mahkamah Pengadilan

Pengacara harus segera untuk memenuhi panggilan mahkamah pengadilan ketika diminta datang dalam waktu yang ditentukan seraya menghad­irkan data-data dan dokumen yang diperlukan. Semua itu dengan keterangan yang jelas dan data yang komplet. Janganlah dia berbelit-belit dan mempersulit jalannya sidang karena hal itu hanya akan memperuncing masalah.[24]

4. Menjunjung Tinggi Kejururan

Pengacara harus menjunjung tinggi kejujuran. Tugasnya adalah membela kebenaran dan tidak boleh baginya untuk membela kebatilan dan kesalahan. Seandainya seseorang memberikan keterangan-keterangan yang bohong maka tidak boleh sang pengacara menyembunyikannya, tetapi harus menjelaskan fakta sesungguhnya dengan jujur dan adil.[25]

5. Mencurahkan Tenaganya

Pengacara harus berusaha semaksimal mungkin untuk melaksanakan tugasnya baik membantah tuduhan, menyampaikan bukti, atau membela hak. Tidak boleh dia menipu atau memberikan keterangan sebelum waktunya yang sesuai atau mengakhirkannya dari waktu yang sesuai.[26]

6. Menjaga Rahasia

Apabila ada hal-hal yang seharusnya dirahasiakan maka tidak boleh pengacara membongkarnya, apabila hal-hal yang berkaitan dengan  pribadi rumah tangga atau menyebabkan kerusakan di masyarakat.[27]

7. Memiliki kantor atau rumah yang mudah diketahui

Tujuannya, jika sewaktu-waktu dibutuhkan oleh hakim atau terdakwa maka dengan mudah dapat dihubungi[28]. dan hal itu pada zaman sekarang sangat mudah dengan adanya alat telekomunikasi yang modern.

PENUTUP

Demikianlah penjelasan secara singkat tentang pengacara dalam Islam. Semoga bermanfaat bagi kita semua, khususnya bagi para pengacara dan calon pengacara yang ingin sukses dunia dan akhirat []

Sumber: Majalah AL FURQON edisi 07 th. Ke 10 Shofar 1432H/Januari 2011M

Artikel: www.ibnuabbaskendari.wordpress.com


[1] Penulis banyak mengambil faedah untuk pembahasan ini dari tulisan Syaikh Abdulloh bin Muhammad alu Khunain berjudul “al-Wakalah ‘ala Khushumah wa Ahakmuha al-Mihaniyyah fil Fiqih Islami wa Nizhomil Muhamat Su’uti”, dimuat dalam Majalah al-‘Adl edisi 15, Rojab 1423 H.

[3] Taisar Karimir Rohman : 2/351

[4] Syarh Adab al-Qodhi : 3/402

[5] Al-Mughni karya Ibnu Qudamah rahimahullah : 5/204, Durorul Hukkam karya Ali Haidar : 3/368

[6] Al-Mabsuth : 19/4

[7] Roudhoh al-Qudhot karya as-Sumnani : 1/181

[8] Akhkamul Qur’an karya Ibnul ‘Arobi : 3/220, al-kafi karya Ibnu Qudamah rahimahullah : 2/239

[9] Adhwa’ul Bayan karya asy-Syinqithi rahimahullah : 4/49

[10] Fatawa Lajnah Da’imah :1/792. Ketua : Syaikh Abdul Aziz bin Baz, anggota : Abdurrozzaq ‘Afifi, Abdulloh al-Ghudayyan, dan Abdulloh bin Qu’ud –semoga Allah Ta’ala merahmati mereka semua-. Lihat pula fatwa-fatwa ulama lainnya tentang hukum profesi pengacara dalam kitab al-Muhamah Tarikhuha fi Nudhum wa Mauqif Syari’ah Minha karya Syaikh Masyhur Hasan Salman hafidhahullah hlm. 139-148.

[11] Roudhoh al-Qudhot : 1/122

[12] Tarikh Baghdad : 11/303-304

[13] Adabul Qodho’ hlm. 692

[14] Roudhoh al-Qudhot : 1/122, Tanbihul Hukkam ‘Ala Ma’akhidzil Ahkam karya Ibnul Munashif  raahimahullah hlm. 141, Tabshiroh al-Hukkam Fi Ushul Aqdhiyah wa Manahij ihkam karya Ibnu Farhun rahimahullah : 1/282.

[15] Al-Muhamah Fi Dhou’i Syari’ah Islamiyyah wal Quwanin al-Arobiyyah karya Muslim Muhammad Jaudat rahimahullah hlm. 130

[16] Al-Muhamah Fi Nidhom Qodho’i karya Muhammad Ibrahim Zaid rahimahullah hlm. 44

[17] Mawahibul jalil karya al-Kaththob rahimahullah : 5/200

[18] Adab al-Qodhi karya al-Khosho rahimahullah: 2/78

[19] Fatawa wa Rosa’il : 8/43

[20] Al-Mabsuth : 19/15, Adab al-Qodhi karya Ibnul Qosh :1/217, Hilyah Ulama karya asy-Syasyi rahimahullah 5/129

[21] Mu’inul Hukkam ‘Ala al-Qodhoya wal Ahkam karya Abu Ishaq Ibrohim bin Hasan rahimahullah: 2/684

[22] Mu’inul Hukkam Fima Yataroddadu Bainal Khoshmaini min al-Ahkam karya ‘Ala’uddin ath-Thorobilsi rahimahullah : hlm. 21

[23] Majmu’ Fatawa : 28/219

[24] Tabshiroh Hukkam karya Ibnul Farhun : 1/180, Adab al-Qodhi karya al-Mawardi rahimahullah 1/251

[25] Roudhoh al-Qudhot 1/124

[26] Al-Muhamah Risalah wa Amanah karya Ahmad Hasan Karzun rahimahullah hlm. 61, 82

[27] Ibid, hlm. 62

[28] Qurrotu ‘Ulyunil Akhbar karya Ibnu Abidin rahimahullah 1/322

2 Responses to Profesi Pengacara Dalam Tinjauan

  1. ZAHARUL mengatakan:

    UST..SAYA MAU TANYA..BAGAIMANA SEORANG PENGACARA TERSEBUT TIDAK MEMAKAI HUKUM ALLAH?

  2. Ping-balik: Profesi Pengacara Dalam Tinjauan | Jasa Pengacara Jakarta

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: