Menurut Sufi Sebagian Orang Tidak Perlu Beribadah Lagi (?!)

Ustadz Abu Minhal

 

Ketika seseorang (atau suatu golongan) tidak berpijak pada nash syar’i dengan pemahaman yang lurus, tidak mengherankan bila kemudian akan muncul pemahaman, keyakinan, perilaku, bentuk ibadah yang tidak sesuai dengan syariat, bahkan juga benar-benar bertentangan dengan syariat. Naudzubillah minal khudzlan.

Sebut saja golongan Sufi yang cukup mendominasi di tengah masyarakat. Golongan satu ini sebenarnya sarat dengan -kalau boleh dikatakan- keanehan-keanehan yang jelas bertabrakan dengan syariat yang dibawa Rasulullah Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Salah satu pandangan (keyakinan) mereka, ada sebagian orang yang tidak perlu lagi menjalankan syariat Allah Ta’ala. atas dirinya di kehidupan dunia ini. kedekatan kepada Allah lah yang membuat hukum taklif gugur dari pundak mereka. Kewajiban shalat lima waktu, zakat dan kewajiban-kewajiban lain yang terkandung dalam seluruh perintah Allah Ta’ala gugur atasnya demi kedudukannya yang tinggi di sisi Allah Ta’ala. Bahkan tidak ini saja, mereka juga memandang sosok-sosok ‘istimewa’ ini boleh melakukan tindakan haram, seperti zina, minum khamer dan perbuatan lain yang secara dzat memang haram dalam syariat Islam.

Ibnu Hazm rahimahullah menerangkan tentang keanehan keyakinan Sufi tersebut. Beliau           mengatakan, ‘Satus sekte Sufi mengklaim bahwa wali-wali Allah Ta’ala itu lebih utama ketimbang seluruh nabi dan rasul(?!). Mereka mengatakan, “Siapa saja telah mencapai derajat tertinggi dalam kewalian, niscaya seluruh (tanggungan) syariat gugur pada dirinya seperti shalat (lima waktu), puasa (Ramadhan), (membayar) zakat dan lainnya. Perkara-perkara haram semisal zina, minum khamer dan lainnya menjadi halal bagi dirinya. Akibatnya, mereka ini pun menghalalkan menggauli istri-istri orang.”[1]

Inilah akidah yang sering kali dipakai oleh sebagian masyarakat untuk membela sosok yang mereka tokohkan bila melakukan hal-hal yang tampak jelas melanggar syariat. Mereka mengatakan, “Dia khan wali Allah, sudah mencapai ma’rifat”. Atau mengelu­-elukan seseorang dengan satu alasan, lantaran telah mencapai derajat ma’rifah meski secara lahiriah tidak tampak dirinya berkomitmen dengan petunjuk Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam.

HUKUM KEYAKINAN INI

Sungguh aneh, seseorang bisa bebas dari tanggungan ibadah dan bebas melanggar syariat ilahi dengan dalih telah mencapai derajat tinggi di sisi Rabbnya. Berdasarkan logika sehat saja, pandangan di atas sudah dapat disimpulkan hukumnya dalam Islam. Keyakinan di atas secara tidak langsung mendustakan realita yang menyebutkan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para Sahabat, insan-insan yang jelas jauh lebih baik dari mereka, tetap beribadah kepada Allah Ta’ala sampai akhir hayat. Bagaimana mungkin seorang hamba Allah Ta’ala di dunia ini akan mencapai sebuah fase dimana ia bebas lepas dari aturan syariat?! Karenanya, tidak heran bila keyakinan ini di vonis kufur, dhalal (sesat) dan jahl (kebodohan nyata).[2]

Imam lbnul Qayyim rahimahullah menilainya dengan vonis kufur dan ilhad (menyimpang) dari agama Islam. Setelah menukil perkataan salah seorang dari mereka yang mengatakan, “Kedekatan haqiqi memindahkan seorang hamba dari kondisi zhahir kepada alam batin serta mengistirahatkan tubuh dan anggota badan dari kelelahan akibat beramal (ibadah),” selanjutnya Imam Ibnul Qayyim rahimahullah mengatakan, “Kekufuran dan penyimpangan mereka ini sangat besar. Sebab, telah menyingkirkan ‘ubudiyah (dari manusia) dan berkeyakinan bahwa mereka itu tidak perlu lagi melakukan ibadah karena merasa telah puas dengan khayalan-khayalan batil yang berasal dari angan-angan hawa nafsu dan tipu daya setan.”[3]

IBADAH KEPADA ALLAH  SWT KEWAJIBAN SAMPAI AJAL TIBA

Manusia sebagai hamba Allah Ta’ala berkewajiban mengabdikan diri kepada al-Khaliq dengan berbagai macam cara yang sudah ditentukan oleh-Nya. Dunia sebagai ladang akhirat juga menguatkan akan hal ini, bahwa penghambaan manusia kepada Allah Ta’ala Rabbul Alamin tidak boleh berhenti kecuali ketika nafasnya telah dihentikan. Tentang kewajiban beribadah selama hayat masih di kandung badan, Allah Ta’ala, berfirman :

Dan beribadah kepada rabbmu sampai datang kepadamu yang diyakini (ajal) (QS. Al-Hijr / 15:99)

Inilah ayat yang disalah pahami oleh mereka. Mereka mengartikan al-yaqin dengan ma’rifah. Ini jelas tidak bersandar pada apapun yang dibenarkan dalam menafsirkan ayat. Berdasarkan ayat ini, menjalankan ibadah seperti shalat dan lainnya tetap wajib hukumnya atas setiap insan selama akal sehat (tetap ada). Khusus tentang kewajiban melaksanakan shalat, maka shalat itu dilaksanakan sesuai dengan kondisi yang disanggupi. Sebagaimana disebutkan dalam hadits ‘Imran bin Hushain radhiyallahu ‘anmhu Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda : Kerjakanlah shalat dengan berdiri, bila tidak mampu, (kerjakan) dengan duduk. Bila tidak mampu (kerjakan) dengan berbaring [4]

Imam Ibnu Katsir rahimahullah mengatakan, “Ayat ini menjadi dalil kesalahan kaum mulhid (pelaku kekufuran) yang berpendapat bahwa pengertian al-yaqin (dalam QS. 15/99) adalah ma’rifah. (sehingga menurut versi mereka) siapa saja yang telah mencapai derajat ma’rifah, maka tanggungan (taklif) nya gugur. Ini adalah bentuk kekufuran, kesesatan dan kebodohan. Para nabi ‘alaihimus salam dan para sahabat mereka merupakan orang-orang yang paling mengenal Allah Ta’ala, paling tahu hak-hak dan sifat-sifat-Nya dan segala bentuk pengagungan yang menjadi hak Allah Ta’ala, meski demikian mereka adalah insan-insan yang paling tinggi penghambaan dirinya kepada Allah Ta’ala dan paling banyak beribadah dan berbuat kebaikan sampai ajal datang. Yang dimaksud dengan al-yaqin di sini adalah kematian, seperti yang telah kami kemukakan sebelumnya”.[5]

Imam Ibnul Qayyim rahimahullah mengatakan, “Sesungguhnya, semakin dekat seorang hamba kepada Allah Ta’ala, maka jihadnya (kesungguhannya dalam beribadah) akan lebih besar.” Allah Ta’ala berfirman :

Dan berjihadlah kamu pada jalan Allah dengan jihad yang sebenar-benarnya. (QS. al-Hajj / 22:78)

Kemudian beliau rahimahullah menjadikan potret kehidupan Rasululllah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para sahabat sebagai bukti nyata. Beliau rahimahullah berkata, “Cermatilah kondisi Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para sahabat. Ketika mereka kian menapaki derajat kedekatan kepada Allah Ta’ala (yang tinggi), maka kesungguhan mereka dalam beribadah semakin tinggi”.[6]

PENUTUP

Menafsirkan ayat bukanlah pekerjaan yang mudah, membutuhkan perangkat banyak yang harus dikuasai seseorang untuk dapat menafsirkan ayat-ayat Allah Ta’ala, termasuk di dalamnya mengenal hadits-hadits Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam yang sebenarnya telah memberitahukan bahwa al-yaqin bermakna kematian, bukan ma’rifah.

Wallahu a’lam.

DAFTAR PUSTAKA

–          Bayani Mauqifil Ibnil Qayyim min Ba’zhil Firaq, DR. ‘Awwad bin ‘Abdullah al-Mu’tiq hlm. 141-143

–          Tafsirul Qur’anil ‘Azhim, Imam Ibnu Katsir, Dar Thaiba 4/553-554

Sumber: Majalah As-Sunnah edisi 09/thn.XIV/Shafar 1432H/Januari 2011M

Artikel: www.ibnuabbaskendari.wordpress.com


[1] Al-Fashl 4/226

[2] Lihat Tafsirul Qur’anil ‘Azhim 4/554

[3] Madarijus Salikin 3/118

[4] HR. al-Bukhari no. 1117. Lihat Tafsirul Qur’anil ‘Azhim 4/554

[5] Tafsirul Qur’anil ‘Azhim 4/553

[6] Madarijus Salikin 3/118

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: