Bahagia Dengan Anak Yatim

Ustadz Aunur Rofiq bin Ghufron[1]

Sesungguhnya orang-orang yang memakan harta anak yatim secara zholim, sebenarnya mereka itu menelan api sepenuh perutnya dan mereka akan masuk ke dalam api yang menyala-nyala (neraka) (QS. An-Nisa’ [4] : 10)

Memang cukup melelahkan menyantuni anak yatim. Akan tetapi, dengan mengetahui keutamaannya yang sangat banyak, amalan yang berat akan terasa ringan. Sebaliknya, tahukah kita hukuman orangyang menelantarkan anak yatim, atau bahkan menzholimi hartanya ?

Kajian kita kali ini sangat penting bagi setiap muslim terutama bagi lembaga yang mengkhususkan diri menyatuni anak yatim.

MAKNA AYAT SECARA UMUM

Al-Allamah asy-Syaikh Abdurrohman bin Nashir as-Sa’di rahimahullah berkata dalam tafsirnya, “Ketika Allah Ta’ala memerintah hamba-Nya agar bertaqwa kepada-Nya di ayat sebelumnya, maka dalam ayat ini Allah Ta’ala memberi peringatan tentang memakan harta anak yatim dengan cara tidak benar dan mengancam orang yang melakukannya dengan siksa yang sangat pedih. Adapun, pengasuh yang fakir boleh makan hartanya dengan cara yang wajar, diizinkan mencampur hartanya dengan harta anak yatim bila ada keuntungan buat mereka. Barang siapa yang memakannya secara zholim, maka balasannya ‘mereka itu menelan api sepenuh perutnya’ maksudnya yang mereka makan adalah api dan merekalah yang memasukkan ke dalam perutnya. ‘Dan mereka akan masuk ke dalam api yang menyala-nyala (neraka)’ yaitu api yang membakar serta menyala-nyala. Maka memakan harta anak yatim termasuk dosa besar dan sangat hina dirinya serta menjadi sebab dia masuk neraka.”[2]

DEFINISI ANAK YATIM

“Anak yati” bukanlah anak yang ditinggal mati oleh ibunya atau ditinggal pergi oleh orang tua sehingga terlantar hidupnya – sebagaimana yang dipahami masyarakat umum.

Ibnu Manzhur rahimahullah berkata, “Yatim adalah anak yang ditinggal mati oleh ayahnya sebelum dia baliqh.”[3]

Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda : “Tidaklah dinamakan yatim setelah dia baligh,’”[4]

Anak yang belum baliqh, bila yang meninggal dunia ayahnya disebut yatim, bila yang meninggal dunia ayah dan ibunya disebut lathim, dan bila yang meninggal dunia ibunya disebut ‘ujm.[5] Definisi ini perlu kita pahami agar kita tidak salah di dalam mengemban amanat dan mencari sumbangan untuk anak yatim.

KEUTAMAAN MEMELIHARA DAN MENYANTUNI ANAK YATIM

Setiap perintah Allah Ta’ala bila diamalkan dengan peuh keikhlasan dan sesuai dengan sunnah Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam pasti ada keutamaannya. Orang yang menyantuni dan memelihara anak yatim karena ingin melaksanakan perintah Allah akan meraih keuntungan yang banyak, diantaranya :

1. Menjadi teman Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam di surga

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda : “Aku dan orang yag mengasuh/menyantuni anak yatim di surga seperti ini.” Lalu beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam menunjuk jari telunjuk dan jari tengah dan merapatkan keduanya. [6]

Iman Ibnu Bathol rahimahullah berkata, “Orang yang mendengar hadist ini hendaknya melaksanakannya, agar ia bisa menjadi teman Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam di surga.”[7]

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda : “Barang siapa mengajak anak yatim kaum muslimin untuk makan dan minum sampai kenyang dijamin masuk surga.”[8]

Hadist yang menjelaskan keutamaan mengkafil (mengasuh) anak yatim dia akan masuk surga bukan hanya pengasuh yang berada di rumahnya, tetapi termasuk pula lembaga yang mengurusi kebutuhan mereka.[9]

2. Menumbuhkan sikap lemah lembut

Perhatikan hadist berikut : Seorang laki-laki datang kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam mengeluhkan hatinya yang membatu. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bertanya, “Apakah kamu suka hatimu menjadi lembut dan terpenuhi keperluanmu ? Belas kasihanilah anak yatim, usaplah kepalanya, dan berikanlah makan dari masakanmu, niscaya hatimu menjadi lembut dan terpenuhi hajatmu.”[10]

3.      Menjauhkan diri dari sifat kikir

Yang menafkahkan hartanya (di jalan Allah) untuk memberikannya. (QS. Al-Lail [92] : 18)

4. Menjadi pengikut setia Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda : “Tidak termasuk golongan kami orang yang tidak menyayangi anak kecil dan tidak menghormati orang tua.”[11]

5. Bertambah rezekinya

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda : “Tidaklah kamu ditolong dan diberi rezeki, kecuali karena kamu menolong orang-orang yang lemah.” [12]

BAGAIMANA MENDIDIK DAN MENYANTUNINYA

Anak kecil biasanya banyak tingkah. Mereka perlu mendapatkan pendidikan dan pengarahan agar selamat lahir dan bathinnya. Begitu pula anak yatim, sangat butuh pemeliharaan karena dia kehilangan kekasih yang senantiasa mengurusi dana memenuhi kebutuhannya. Karena itu, wajar jika dia banyak tingkah dan berbuat salah. Lalu bagaimana mendidik mereka ?

1. Pendidik hendaknya ikhlas karena mencari ridho Allah Ta’ala

Semua amal ibadah, jika dasarnya ikhlas karena Allah maka akan dimudahkan urusannya (baca Surat ath-Tholaq [65] : 2-3).

2. Bersabar ketika menghadapi tingkah lakunya yang kurang berkenan di hati

Tidaklah amal yang disertai kesabaran melainkan Allah Ta’ala akan menolongnya (baca Surat al-Anfal [8] : 46).

3. Menganggap sebagai anaknya sendiri

Setiap orang tentu mencintai anaknya sendiri. Jika mendidik anak sendiri dapat pahala maka mendidik anak yatim dijamin masuk surga ? Dari Anas radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda : “Tidaklah sempurna iman seseorang sehingga mencintai saudaranya seperti mencintai dirinya sendiri.” [13]

Asma’ bin Ubaid berkata kepada al-Imam Ibnu Sirin, “Saya punya anak yatim.” Lalu beliau (Ibnu Sirin) berkata, “Perlakukan dia seperti kamu mendidik anakmu, dan pukul dia seperti kamu memukul anakmu.”[14]

4. Merasa diawasi Alloh Ta’ala

Aisyah radhiyallahu ‘anha istri Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata, “Sesungguhnya terasa berat bagiku jika harta anak yatim itu di sisiku lalu aku mencampurnya dengan hartaku.”[15]

5. Sopan dan lembut ketika menghadapi tingkah lakunya yang salah

Aisyah radhiyallahu ‘anha berkata, “Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ‘Wahai Aisyah, sesungguhnya Allah itu Maha Lembut, menyukai kelembutan. Allah akan memberikan kepada orang yang bersikap lembut sesuatu yang tidak diberikan kepada orang yang bersikap keras dan kepada yang lainnya.”[16]

Dari Abu Hurairah  radhiyallahu ‘anhu Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda : “Sebaik-baik wanita Arab suku Quraisy adalah yang paling sayang kepada anak yatim yang masih kecil dan yang paling perhatian kepada urusan dan keadaan suami.”[17]

6. Senyum dan menyayanginya serta tidak mengganggu fisik dan kehormatannya

Firman Allah Ta’ala :

Sebab itu, terhadap anak yatim janganlah kamu berlaku sewenang-wenang. (QS. Adh-Dhuha [93] : 9)

Abu Hayyan rahimahullah berkata, “Maksud ayat ini, jangan kamu hina dia dan jangan kamu bermuka masam di hadapannya.”

Al-Alusi rahimahullah berkata, “Jangan kamu mendorong dia dengan keras dan membentaknya dengan kata-kata yang keji.”[18]

7. Mendidiknya sampai baligh dan siap menikah

Dalilnya, silakan baca Surat an-Nisa’ [4] : 6.

Imam Ibnu Hajar rahimahullah berkata, “Hendaknya tidak cukup mendidik dana menafkahi, tetapi mencerdaskan akalnya agar mampu memahami agama Islam yang benar, mendidik dia agar bisa hidup mandiri untuk hari depannya. Hendaknya dibimbing dan diajari agar dia memiliki akhlak yang baik.”[19]

8. Mendidik agar menjadi ahli ibadah

Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu berkata, “Saya bersama anak yatim shalat di belakang Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, sedangkan ibuku shalat dibelakang.”[20]

Ulama besar Arab Saudi berfatwa, “Wajib mendidik anak yatim dengan cara yang baik dan berlaku baik kepadanya. Tidak boleh mengganggunya. Jika dia punya harta maka hendaknya dijaga dan dikembangkan untuk masa depannya.”[21]

9. Jangan mengurusi hartanya bila khawatir tidak amanat

Dari Abu Dzar  radhiyallahu ‘anhu berkata, “Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata kepadaku : “Wahai Abu Dzar! Aku melihat dirimu itu lemah, sedangkan aku mencintaimu seperti aku mencintai diriku, jangan kamu menghukumi dua orang yang berselisih, dan jangan kamu mengurusi harta anak yatim. [22]

BAHAYA MENELANTARKAN DAN MENZHOLIMI ANAK YATIM

Menelantarkan anak yatim termasuk dosa besar, demikian juga mengambil hartanya tanpa alasan yang benar. Mengurusi anak yatim adalah bagian dari din (agama). Hukumnya wajib kifaya. Jika waliyul amri (pemerintah) tidak mengurus dan tidak ada seorang pun yang mengurus dia maka kaum muslimin semuanya berdosa. Di antara bahaya bagi orang yang menelantarkannya :

1.      Dianggap tidak beriman kepada hari pembalasan

Tahukah kamu (orang) yang mendustakan agama ? Itulah orang yang menghardik anak yatim. (QS. Al-Ma’un[107] : 1-2)

Berkata al-Alusi rahimahullah “Makna ayat ini, jangan kamu dorong dia dengan keras dan membentaknya dengan kata-kata yang keji.”[23]

Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhu berkata, “Jangan kamu halangi haknya, dan jangan kamu menganiaya dia.”[24]

2.      Boleh jadi dihukum dengan dikurangi rezekinya

Adapun bila Allah mengujinya lalu membatasi rezekinya maka dia berkata, “Robbku menghinakanku.”Sekali-kali tidak (demikian), sebenarnya kamu tidak memuliakan anak yatim.(QS. Al-Fajr [89] : 16-17)

Imam al-Qurthubi rahimahullah berkata, “Allah Ta’ala memberi tahu perbuatan mereka yang keji, mereka enggan memberi harta warisan untuk anak yatim, bahkan makan hartanya dengan berlebih-lebihan.”[25]

3. Jatuh ke dalam perbuatan dosa besar

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :  “Jauhilah oleh kalian tujuh dosa besar yang membinasakan.” Para sahabat bertanya, “Wahai Rasulullah, apakah ke tujuh dosa besar itu ?” Beliau menjawab, “Syirik kepada Allah, sihir, membunuh jiwa yang diharamkan Allah kecuali dengan alasan yang dibenarkan, memakan riba, memakan harta anak yatim, melarikan diri pada saat terjadi peperangan, dan menuduh berzina wanita-wanita mukminah yang tidak bersuami dan menjaga diri.”[26]

4. Makan harta anak yatim dengan cara yang haram diancam masuk neraka

Hendaknya kita berhati-hati makan harta anak yatim yang tidak diizinkan menurut syar’I (baca ayat diatas, Surat an-Nisa’ [4] : 10).

Syaikh Abdurrohman as-Sa’di rahimahullah berkata, “Orang yang makan harta anak yatim tanpa alasan yang benar akan menyala api di perutnya. Ini menunjukkan besarnya ancaman dari Allah dan menunjukkan amat keji makan harta anak yatim, karena diancam dengan api neraka.”[27]

Ibnu Taimiyyah rahimahullah berkata, “Tatkala Allah Ta’ala melarang kita mendekati harta anak yatim, yang demikian itu menunjukkan larangan keras mengambil hartanya. Sungguh larangan dari mendekati maksiat lebih mendalam hukumnya dari pada larangan bermaksiat itu sendiri.”[28]

MEMBELANJAKAN HARTA ANAK YATIM ?

Pengasuh boleh membelanjakan harta anak yatim untuk kepentingan mereka dengan cara yang wajar, tidak boros dan tidak pula pelit, karena harta mereka untuk kepentingan mereka. Adapun selain untuk kebutuhan dibolehkan apabila diizinkan oleh syar’i misalnya :

1. Pengurus anak yatim boleh makan hartanya secara wajar

Dr. Kholid bin Ali al-Musyaiqih berkata, “Ayat ini menunjukkan haram memakan harta anak yatim bila tujuannya menzholimi. Jika tidak menzholiminya maka boleh, seperti mengambil sedikit dari keuntungan ketika mengembangkan harta anak mereka, karena pengelola berhak mendapatkan upah.”[29]

Ulama besar Arab Saudi berfatwa : Boleh makan harta anak yatim sekadarnya dan jika sangat membutuhkan.[30]

Akan tetapi jika pengasuh mampu, lebih utama bila makan dari hartanya sendiri walaupun makan bersama mereka.

Barang siapa (di antara pemelihara itu) mampu, maka hendaknya ia menahan diri (dari memakan harta anak yatim itu) dan barang siapa miskin, maka bolehlah ia makan harga itu menurut yang patut. (QS. An-Nisa’[4]:6)

Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhu berkata, “orang yang mengurus anak yatim boleh memakan hartanya bila untuk kebutuhan makan, baju sekadar menutup auratnya, minum susu sisanya, dan naik kendaraannya. Jika dia mampu mengganti maka hendaknya menggantinya, jika tidak mampu maka sebagai ganti upah mengasuhnya.”[31]

Ada seorang sahabat datang kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam lalu berkata, “Saya ini yang fakir tidak punya apa-apa, sedangkan saya memelihara anak yatim,” Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda : “Makanlah dari harta anak yatim dengan tidak berlebih-lebihan, tidak tergesa-gesa membelanjakannya, dan tidak mengambil untuk ditimbun.”[32]

2. Harta anak yatim dikeluarkan zakatnya

Imam Syafi’I berpendapatm anak yatim hendaknya diambil pula zakatnya seperti halnya orang yang sudah baligh karena keumuman Surat at-Taubah (9) : 103. Allah Ta’ala tidak mengkhususkan harta tertentu.[33]

Qosim berkata, “Kami anak yatim diasuh oleh Aisyah radhiyalllahu ‘anhu istri Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Aisyah radhiyallahu ‘anhu mengeluarkan zakat harta kami.”[34]

Para ulama besar Arab Saudi berfatwa, “Hendaknya dikeluarkan zakatnya bila hartanya sudah sampai nishob dan telah berlalu satu tahun.”[35]

Dalilnya ialah Surat al-Baqarah (2) : 220

3. Dikembangkan hartanya

Ulama besar Arab Saudi berfatwa, Boleh menyerahkan hartanya kepada pedagang untuk bagi hasil, asalkan pedagang itu dikenal ahli usaha dan jujur serta pemegang amanat.”[36]

Dalilnya ialah Surat al-Baqarah (2) : 220

BILAKAH HARAM MEMBELANJAKAN HARTA ANAK YATIM ?

Berkata para ulama besar Arab Saudi, “Lembaga atau orang yang diamani harta anak yatim tidak boleh mengelola hartanya kecuali bila menguntungkan anak yatim.”[37]

Allah Ta’ala berfirman :

Dan janganlah kamu dekati harta anak yatim, kecuali dengan cara yang lebih bermanfaat, hingga sampai ia dewasa (QS. al-An’am : 152)

Pengasuh tidak punya hak penuh untuk membelanjakan harta anak yatim kecuali diizinkan oleh syar’i. Ada beberapa hal yang harus diketahui dan dihindari oleh pengasuh, misalnya :

1. Harta anak yatim tidak boleh dihadiahkan

Dr. Kholid bin Ali al-Musyaiqih berkata, “Ulama sepakat bahwa harta anak yatim tidak boleh dihadiahkan atau disumbangkan dengan Cuma-Cuma, diwakafkan.”[38]

Ulama besar Arab Saudi berfatwa, “Wali tidak boleh menyedekahkan harta anak yatim.”[39]

Firman Allah Ta’ala :

Dan ujilah anak yatim itu sampai mereka cukup umur untuk kawin. Kemudian jika menurut pendapatmu mereka telah cerdas (pandai memelihara harta), maka serahkanlah kepada mereka harta-hartanya. (QS. an-Nisa’ [4] : 6)

2. Mengambilnya untuk kepentingan pribadi

Ulama besar Arab Saudi berfatwa, “Tidak boleh menggunakan harta anak yatim untuk kepentingan pribadi pengasuh atau walinya.”[40]

Firman Allah Ta’ala :

Dan berikanlah kepada anak-anak yatim (yang sudah baligh) harta mereka, jangan kamu menukar yang baik dengan yang buruk. (QS. an-Nisa’ [4] : 2)

3. Harta anak yatim untuk membeli binatang korban

Ulama berbeda pendapat, ada yang tidak membolehkan jika korban diambil dari harta anak yatim dan ini adalah pendapatnya Iman Sayfii dan riwayat Iman Ahmad, karena mereka punya dasar dan kaidah ; tidak boleh membelajakan harta anak yatim kecuali bila ada keuntungannya. Pendapat yang kedua ; bolelh, jika walinya yang membelinya, ini adalah pendapatnya ulama Hanafiyah, Malikiyah dan Hanabilah[41]

Adapun dalilnya surat an-Nisa’ : 2 Wallahu a’lam

4. Harta anak yatim tidak boleh dihutangkan

Imam Ahmad rahimahullah berkata : harta anak yatim tidak boleh dihutang oleh orang yang mau menanggung dan yang menyantuninya, tetapi boleh dipinjamkan untuk kepentingan anak yatim yang lain yang sangat membutuhkan seperti yang pernah perbuat oleh Umar radhiyallahu ‘anhu [42]. Kaidah ini insya Allah berdalil dengan surat an-Nisa’ ayat 6 dan 10

KAPAN ANAK YATIM BERHAK MENERIMA HARTANYA ?

Ulama besar Arab Saudi berfatwa, “pengasuh hendaknya menyerahkan hartanya bila sudah baligh dengan syarat jika mereka sudah mengerti menggunakan hartanya dan hendaknya dipersaksikan penyerahannya.” [43]

Dalilnya, Allah berfirman :

Dan ujilah anak yatim itu sampai mereka cukup umur untuk kawin. Kemudian jika menurut pendapatmu mereka telah cerdas (pandai memelihara harta), maka serahkanlah kepada mereka harta-hartanya. (QS. an-Nisa’[4]:6)

Imam Syaukani rahimahullah berkata, “Apakah anak yatim itu sudah baligh dan sehat akalnya, pandai membelanjakan hartanya dan wajar menurut umumnya orang yang berakal sehat, bukan seperti orang yang bodoh yang menghamburkan harta, maka yatim berhak menerima hartanya.”[44]

Akhirnya semoga Allah Ta’ala melindungi kita semua dari kemarahannya dan memberi petunjuk kepada kita semua menuju keridhoan-Nya.

Disalin dari Majalah ALFURQON no. 109 edisi: 06 thn ke 10 Muharram 1431.H/Desember 2010.H

Artikel: www.ibnuabbaskendari.wordpress.com


[1] Bersama Rifaqun Ashfiya’ bin Aunur Rofiq dan Shofwu Mi’wanil Muttaqin bin Aunur Rofiq

[2] Taisir al-karim ar-Rohman fi Tafsir Kalam al-Mannan (1/345)

[3] Lisanul Arob (9/441)

[4] Lihat Shohih Abu Dawud. karya: Syaikh Al-Albani rahimahullah (2/555)

[5] Kasyful Qona’ ‘An Matnil Iqna (15/230)

[6] HR. Bukhari (6005, 5659, 4998, Bab Li’am

[7] Syarh Ibnu Bathol (17/260)

[8] HR. Abu Ya’la (926), ath-Thobroni (16023), Berkata al-Albani rahimahullah“Shohih li goirihi.” (Lihat Shohi Taghib wat Tarhib (2/341/2543))

[9] Talkhish Fatawa lajnah Da’imah (1/24 – 27)

[10] Hasan li ghoirihi. Diriwayatkan ath-Thobroni (lihat shohih Targhib wa Tarhib (2544))

[11] HR. Tirmidzi (1919), dishohihkan oleh al-Albani rahimahullah dalam shohih wa Dho’if Sunan Tirmidzi

[12] HR. Bukhari (10/364)

[13] HR. Bukhari (1/29

[14] Al-Adabul Mufrod Bi Ahkami al-Bani (1/62)

[15] Mushonnaf Ibnu Abi Syaibahi (5/162)

[16] Shohih Muslim (no. 4697)

[17] Ibid. (no. 4589)

[18] Tafsir al-Alusi (QS. Al-Ma’un : 12)

[19] Tuhfatul Yatim wal Laqith kar. Mahmud bin Ahmad Abu Muslim (1/36)

[20] Shohih Ibnu Khuzaimah (3/19)

[21] Talkhish Fatawa Lajnah Da’imah (1/24-27)

[22] HR. Muslim (6/7)

[23] Lihat footnote no. 18

[24] Tafsir al-Qurthubi (20/211)

[25] Ibid. (20/52)

[26] HR. Bukhari (5/393)

[27] Tafsir al-Karim ar-Rohman Fi Tafsir Kalam al-Mannan (1/165)

[28] Iqomatul Dalil ‘Ala Ibtholi at-Tahlil (5/69)

[29] Al-Ifadah min Malil Yatim (1/8)

[30] Talkhish Fatawa Lajnah Da’imah (1/24-27)

[31] Sunan al-Baihaqi (2/158)

[32] Shohih Sunan Nasa’i. karya Syaikh al-Albani rahimahullah (6/256)

[33] Al-Umm (5312)

[34] Mushonnaf Ibnu Abi Syibah (no. 21375) dengan sanad yang shohih

[35] Talkhish Fatawa Lajnah Da’imah (1/24-27)

[36] Ibid

[37] Ibid

[38] Al-ifadah Fi Malil Yatim (1/21)

[39] Talkhish Fatawa Lajnah Da’imah (1/24-27)

[40] Ibid

[41] Al-ifadah min Amwalil Yatim (1/21)

[42] Al-mughni Fi Fiwhil Imam Ahmad bin hanbal asy-syaibani (4/319), Talkhish Fatawa Lajnah Da’imah (1/24-27)

[43] Talkhish Fatawa Lajnah Da’imah (1/24-27)

[44] Tafsir fathul Qodir (2/498)

12 Responses to Bahagia Dengan Anak Yatim

  1. Ping-balik: Bahagia Dengan Anak Yatim « http://tablighfanatik.wordpress.com/

  2. Ping-balik: Bagaimana Seharusnya Mengelola Harta Anak Yatim « Madrasah Ibnu Abbas As-Salafy Kendari

  3. caramembuka says:

    membuka tabir ilmu dengan blog ini

  4. Ping-balik: Memahami Pengelolaan Harta Anak Yatim | Catatan Abu Iram

  5. Ping-balik: Hinanya Hati Yang Keras | Madrasah Ibnu Abbas As-Salafy Kendari

  6. Ping-balik: Bahagia Dengan Anak Yatim (1/7) - alfajricahayaumat

  7. Ping-balik: Keutamaan Memelihara dan Menyantuni Anak Yatim (2/7) - alfajricahayaumat

  8. Ping-balik: Mendidik dan Menyantuni Anak Yatim (3/7) - alfajricahayaumat

  9. Ping-balik: Bahaya Menelantarkan dan Menzholimi Anak Yatim (4/7) - alfajricahayaumat

  10. Ping-balik: Membelanjakan Harta Anak Yatim (5/7) - alfajricahayaumat

  11. Ping-balik: Bilakah Haram Membelanjakan Harta Anak Yatim (6/7) - alfajricahayaumat

  12. Ping-balik: Kapan Anak Yatim Berhak Menerima Hartanya? (7/7) - alfajricahayaumat

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: