Terbelakang Dengan Tumbal & Sesaji

Ustadz Ahmas Faiz Asifuddin

Mengajak orang berpikir maju temyata sulit. Sampai sekarang, di zaman super dan di era informasi super modern canggih, orang masih sulit meninggalkan kepercayaan tahayul. Masih banyak yang keberatan meninggalkan sesajian dan persembahan kepada jin atau yang dipercaya sebagai penguasa tempat tertentu. ­Dan itu bukan hanya dilakukan orang-orang kampung dari desa-desa tertinggal, tetapi juga dilakukan orang-orang yang berpendidikan tinggi

Ketika ada kasus berat yang sulit di atasi, mereka tidak mengembalikannya kepada Allah Ta’ala Pencipta segala kejadian, tetapi justru kepada apa yang diyakini sebagai kekuatan-kekuatan ghaib selain Allah Ta’ala. Padahal hampir semua lembaga pendidikan, mulai dari TK sampai perguruan tinggi, selalu menanamkan cara berpikir logis. Bahkan terkadang berlebihan hingga mengabaikan kepercayaan terhadap keberadaan berkah dan rahmat Allah yang oleh sebagian kaum pengagum logika, dianggap tidak logis. Ironisnya, mereka justru terjebak pada kepercayaan kepada hal-hal yang irasional dan jauh dari logis, misalnya tahayul, mistik serta hal-hal yang bertentangan dengan kemajuan. Orang-orang ‘pintar’ selalu ramai kebanjiran nasabah. Bahkan tempat-tempat sepi, kuburan-kuburan dan benda­-benda mati yang dikeramatkanpun tidak pernah sepi dari orang-orang yang ngalap berkah. Jangan ditanya lagi tentang tumbal dan sesaji, selalu saja orang takut kualat untuk tidak memenuhinya.

Sebenarnya tradisi sesaji, tumbal dan persembahan kepada berhala, roh halus atau yang diyakini sebagai penguasa tempat tertentu, sudah ada semenjak zaman dahulu kala, ketika secara teknologi orang masih terbelakang, dipelopori oleh orang-orang musyrik para penyembah berhala.

Telah dipahami bahwa orang pertama yang merubah agama Nabiyyullah Ibrahim ‘alaihis salam dan Nabiyyullah Ismail ‘alaihis salam dari agama tauhid menjadi agama watsaniyah (paganisme) yang syirik adalah ‘Amr bin Luhay al-Khuza’i, pembesar dan cikal bakal suku Khuza’ah di sekitar Baitullah, Mekah dan sekitarnya.[1]

Imam Ibnu Jarir ath-Thabari rahimahullah dalam tafsirnya membawakan riwayat dengan sanadnya, dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, beliau berkata, “Saya mendengar Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda kepada Aktsam bin al-Jaun radhiyallahu ‘anhu : Wahai Aktsam, aku melihat ‘Amr bin Luhay bin Qama’ah bin Khindaf menarik-narik isi perutnya di dalam neraka. Aku belum pernah melihat ada seseorang yang mirip dengan orang lain dibanding engkau dengan dia dan dia dengan engkau”. Aktsam berkata, “Ya Rasulullah, aku khawatir jika kesurupan itu akan membahayakanku.’ Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Tidak, sesungguhnya engkau orang Mu’min,sedangkan dia orang kafir. Sesungguhnya dia adalah orang pertama yang merubah agama Nabi Isma’il orang pertama yang mengadakan persembahan kepada berhala berupa bahirah, saibah dan hami”[2]

Hadits ini dibahas di dalam Silsilah Ahadits  Shahihah karya Syaikha al-Albani rahimahullah [3] Beliau menjelaskan bahwa hadits itu juga diriwayatkan oleh Ibnu AbiAshim, dan isnad-nya Hasan.

Imam al-Bukhari rahimahullah juga meriwayatkan dari az-Zuhri, dari Urwah, sesungguhnya Aisyah

berkata bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda : Aku melihat neraka jahannam sebagiannya saling membakar sebagian yang lain (apinya berkobar-kobar), dan aku melihat ‘Amr (bin Luhay al-Khuza’i) menarik-narik isi perutnya di dalam neraka. Dan dia adalah orang pertama yang memberikan persembahan berupa sa’ibah kepada berhala. (HR. al-Bukhari.[4])

Dari sekelumit kisah di atas, dapat diketahui bahwa persembahan sesajian berupa hewan-hewan tertentu kepada berhala-berhala, sudah dikenal semenjak dahulu, zaman yang terkenal dengan sebutan zaman jahiliyah (zaman kebodohan). Pada waktu itu, beberapa bentuk persembahan berupa hewan hidup dikenal dengan sebutan Bahirah, Sa’ibah, Washilah dan Ham.

Tentang Bahirah, Sa’ibah, Washilah dan Ham ini, terdapat sedikit perbedaan penafsiran di antara para Ulama, tetapi pada intinya berujung pada titik yang hampir sama. Yaitu persembahan berupa hewan hidup kepada berhala dan thaghut. Di antaranya adalah penafsiran Sa’id bin al-Musayyib rahimahullah seperti yang dibawakan oleh Imam Ibnu Katsir  rahimahullah dalam tafsirnya[5]) : Bahwa Imam al-Bukhari rahimahullah meriwayatkan dari Ibnu Syihab, dari Sa’id bin al-Musayyib, ia mengatakan, “Bahirah ialah hewan (onta) yang tidak boleh diperah air susunya, sebagai persembahan kepada thaghut-thaghut (setan/berhala yang disembah selain Allah). Maka tidak boleh seorangpun memerah air susunya.

Sedangkan sa’ibah ialah hewan (ada yang mengartikan onta dan ada yang mengartikan kambing[6]) yang dilepaskan oleh orang-orang jahiliyah Arab sebagai persembahan bagi berhala-berhala mereka. Maka tidak boleh ada seorangpun yang memberi beban apapun pada hewan ini.

Kemudian Sa’id bin al-Musayyib  mengatakan bahwa Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu berkata, “Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda : Aku melihat ‘Amr bin ‘Amin al-Khuza’i [7] menarik-narik isi perutnya di dalam neraka. Dia adalah orang pertama yang mengadakan persembahan kepada berhala dengan sa’ibah.[8])

Selanjutnya Sa’id bin al-Musayyib menerangkan lagi, “Washilah ialah anak onta berjenis kelamin betina yang dilahirkan pertama, lalu disusul oleh anak keduanya yang juga betina tanpa diselingi anak onta yang jantan. Onta ini dilepaskan untuk persembahan bagi thaghut-thaghut mereka. Sedangkan ham adalah onta jantan yang berkali-kali membuntingi onta betina, jika sudah tuntas, maka mereka lepaskan onta jantan ini sebagai persembahan bagi thaghut-thaghut dan tidak boleh dibebani apapun. Mereka namakan ini sebagai hami.[9])

Pada keterangan lain, dari Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhu bahwa bahirah adalah onta yang sudah melahirkan sebanyak lima kali. Orang-orang musyrik Arab zaman dahulu akan melihat, jika anak kelima ini adalah jantan, maka mereka menyembelihnya dan dimakan oleh kaum laki-laki saja, tidak oleh perempuan. Jika anak kelima adalah betina, maka mereka menyobek telinganya. Inilah yang disebut bahirah (lalu dilepas sebagai persembahan kepada berhala-pent).[10] Bahiirah ini haram ditunggangi menurut mereka, dan dihormati.[11]

Sementara sa’ibah ada yang menafsirkan dengan onta yang sudah beranak sepuluh ekor semuanya betina, lalu induknya dilepas, tidak boleh dijadikan tunggangan, dan tidak boleh diperah air susunya kecuali untuk tamu.[12] Itu semua untuk maksud persembahan kepada berhala.

Begitu juga washilah, ada penafsiran lain tentangnya, tetapi intinya sama yaitu hewan hidup yang dihormati sebagai persembahan bagi berhala.

Persembahan kepada berhala, jin dan makhluk yang diyakini sebagai penguasa tempat tertentu pada zaman jahiliyyah, tidak saja berupa hewan-hewan hidup yang kemudian dianggap suci, tetapi juga daging-daging dari hewan sembelihan atau darahnya.

Berhala lata, ‘uzza dan manat adalah di antara berhala-berhala yang selalu menerima sesajian berupa darah, daging atau lainnya. Karena, itu ada sebagian Ulama yang mengatakan bahwa berhala manat disebut manat disebabkan banyaknya darah hewan qurban yang dialirkan sebagai persembahan kepadanya untuk maksud ngalap berkah[13]

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda : Allah melaknat orang yang menyembelih hewan untuk maksud selain Allah. (HR. Muslim).[14]

Sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam ini menunjukkan adanya penyembelihan hewan untuk persembahan atau atas nama selain Allah. Wallahu A’lam.

Demikianlah antara lain sejarah tentang sesajian yang di persembahkan kepada berhala atau kepada sesembahan selain Allah Ta’ala. Itulah kebiasaan orang musyrik di zaman jahiliyah dahulu. Dan ternyata sekarang tradisi itu banyak bermunculan kembali, setelah pada zaman Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para Sahabat radhiyallahu ‘anhuma ,sempat terhenti. Bahkan kini dilakukan oleh banyak kaum Muslimin yang tidak sedikit memiliki latar belakang pendidikan tinggi dan hidup di zaman super canggih. Dan itu tentu merupakan cermin komunitas masyarakat terbelakang meskipun membawa seabreg gelar pendidikan.

Bahirah, sd’ibah, washilah dan ham memang tidak ada lagi, tetapi muncul dengan nama, dan istilah baru, misalnya larung, ingkung, penanaman kepala kerbau dan bentuk-bentuk sesajian lain yang dipersembahkan kepada setan-setan demi keselamatan serta kesuksesan.

Jika ini tetap dipelihara, maka keterbelakangan akan selalu melanda umat. Dan bangsa ini akan sulit menapaki kemajuan.

Karena itu Islam datang untuk membebaskan manusia dari belenggu kebodohan ini, membebaskan manusia dari keterbelakangan dan membangun peradaban yang maju. Maka Islam sangat menentang tradisi dan kegiatan semacam di atas.

Allah Ta’ala berfirman :

Allah tidak pernah mensyariatkan adanya bahirah, sa’ibah, washilah dan ham.  Akan tetapi orang-orang kafir membuat-buat dusta atas nama Allah dan kebanyakan mereka tidak berakal. (QS. al-Ma’idah / 5:103)

Ayat ini merupakan celaan kepada kaum Musyrikin karena mereka membuat syariat sendiri dalam urusan agama, yang tidak ada petunjuknya dari Allah Ta’ala dan mereka mengharamkan apa yang dihalalkan oleh Allah. Maka berdasarkan gagasan rusaknya, mereka mengharamkan sesuatu yang halal dari hewan-hewan ternak mereka sesuai dengan istilah-istilah yang mereka buat sendiri.[15]

Dengan demikian jelas bahwa Allah Ta’ala tidak pernah mensyariatkan semua perkara itu (bahirah, sa’ibah, washilah dan ham). Allah juga tidak mengakui bahwa itu semua merupakan pendekatan diri kepada-Nya. Akan tetapi orang-orang kafirlah yang membuat-buat dusta atas nama Allah. Mereka membuat syariat sendiri untuk diri mereka dan menjadikan hal itu sebagai kegiatan pendekatan diri.

Islam juga menentang sesajian, larung sesaji dan persembahan apa saja untuk selain Allah Ta’ala.

Dalam hadits riwayat Imam Muslim yang sudah diketengahkan di muka, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, secara tegas memberitakan bahwa Allah mela’nat orang yang menyembelih hewan semblihan untuk maksud selain Allah.

Pengertian “Allah melaknat” ialah, Allah menjauhkan rahmat serta kasih sayang-Nya dari pelaku penyembelihan hewan yang dipersembahkan untuk selain-Nya. Maka orang yang dijauhkan dari rahmat Allah, pasti tidak akan mendapatkan kebahagiaan dan keselamatan.

Untuk itu, tidak semestinya orang yang mengaku sebagai hamba Allah dan pengikut Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam yang amat dicintai masih tetap bertahan melakukan tradisi-tradisi syirik dan terbelakang semacam itu.

Nas’alullaha at-Taufiq.

Maraji’

1.      Tafsir Ibnu Katsir

2.      Tafsir ath-Thabari

3.      Taisir al-Karim ar-Rahmdn Fi Tafsir Kalamil Mannan, Syaikh Abdur Rahman bin Nashir as-Sadi rahimahullah.

4.      Fathul Bari, Syarh Shahihil Bukhari, Imam Ibnu Hajar al-Asqalani rahimahullah

5.      Shahih Muslim, Syarhun Nawawi, Tahqiq: Khalil Ma’mun Syiha

6.      Silsilatul Ahaditsish Shahihah, Syaikh Muhammab Nashiruddin al-Albani rahimahullah

7.      Al-Bidayatu wan Nihayah, Imam Ibnu Katsir rahimahullah

8.      Fathul Majid, Syarh Kitabut Tauhid, Syaikh Abdur­rahman bin Hasan Aalusy Syaikh

9.      Taisirul Aziz al-Hamid fi Syarhi Kitabit Tauhid, Syaikh Sulaiman bin Abdillah Aalusy Syaikh.

Sumber: Majalah As-Sunnah edisi 07/thn. XIV/Dzulhijjah 1431 H/November 2010 M

Artikel: www.ibnuabbaskendari.wordpress.com


[1] Lihat al-Hafizh Ibnu Katsir al-Bidayah wan nihayah Maktabah al-Ma’arif, Beirut, tanpa tahun II/187 – 188 dan 189, Qisshatu   Khuza’ah wa ‘Amr bin Luhay wa ‘ibadatul ‘Arab lil Asham.

[2] Lihat Tafsir ath-Thabari, karya Imam Abu Ja’far Muhammad bin jarir ath-Thabari, Dhabth wa Ta Wq: Mahmud Syakir, Dar Ihya’it Turats al-Arabi, Beirut, Libanon, cet. I, 1421 H/2001 M, 7/103 tentang QS. al-Ma’idah/5:103

[3] Lihat Silsilah al-Ahadits ash-Shahihah, Maktabah al-Ma’arif Iin Nasyr, 1415 H/1995 M. IV/242-244, no. 1678

[4] Lihat Shahih al-Bukhari/Fathul Bari VIII/283, no. 4624.

[5] Lihat Tafsir Ibnu Katsir, QS. Al-Ma’idah : 103, Taqdim :Abdul Qadir al-Arna’uth, Dar al-Faiha’, Dimasyq & as-Salam Riyadh, Cet. I, 1414 H/1994 M, II/147.

[6] Lihat Tafsir Ibnu Katsir II/148

[7] Yang dimaksud adalah ‘Amr bin Luhay al-Khuza’I. Lihat Shahih Muslim Syarh an-Nawawi, Tahqiq : Khalil Ma’mun Syiha, Dar al-Ma’rifah, Beirut, cet. III, 1417 H/1996 M, XVII/187, ketika Imam Nawawi                  mensyarah hadist no. 7122.

[8] Lihat pula Shahih Muslim Syarh an-Nawawi, Ibid, no. 7122.

[9] Lihat Shahih Bukhari/Fathu al-Bari, VIII/283, no. 4623, dengan terjemahan bebas.

[10] Lihat Tafsir Ibnu Katsir, op. cit. II/148

[11] Lihat Tafsir al-Karimir Rahman, Syaikh Abdur-Rahman bin Nashir as-Sa’di rahimahullah, Masyru’ Maktabah Thalib al-Ilmi, Jum’iyyah Ihya’ at-Turats al-Islami, cet. I, 1418 H/1997 M, I/302, QS. Al-Ma’idah/5:103.

[12] Tafsir Ibnu katsir, op. cit.

[13] Lihat Fathu al-Majid Syarh Kitabi at-Tauhid, karya Syaikh Abdur-Rahman bin Hasan Aalu asy-Syaikh, 1/256. Tahqiq : Dr. Al-Walid bin Abdur Rahman bin Muhammad Aalu Fariyyan, Dar’Alam al-Fawa’id, Mekah, cet. VI, 1420 H.

[14] Lihat Shahih Muslim Syarh an-Nawawi, no. 5096, 5097 & 5098. Tahqiq: Khalil Ma’mun Syiha, op.cit. XIII/141-142.

[15] Lihat Tafsir al-Karim ar-Rahman, Syaikh as-Sa’di rahimahullah,1/302 op. cit

Artikel Terkait:

Tumbal Dan Sesajen, Tradisi Syirik Warisan Jahiliyah

2 Responses to Terbelakang Dengan Tumbal & Sesaji

  1. DEE mengatakan:

    Salam Tuan, Terima kasih atas penerang kepada ayat Al-Maeda 5:103

  2. Joko Kola mengatakan:

    sesaji itu dimaksudkan untuk bersukur kepada tuhan YME, apabila anda tidak tahu apa apa tentang orang orang yang anda bilang terbelakang, anda harus banyak banyak membaca yah,

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: