Pandangan Syariah Dalam Pengelolaan Sampah

Ustadz Muhammad Wasitho. Lc

Islam merupakan agama yang bersifat komprehensif dan universal. Komprehensif berarti syariat islam merangkum seluruh aspek kehidupan baik ritual (ibadah) maupun sosial (muamalah), dan universalyang bermakna dapat diterapkan pada setiap waktu dan tempat sampai terjadinya hari kiamat.

Di antara bukti bahwa ajaran islam itu komprehensif (sempurna) adalah sebagaimana di tunjukkan oleh hadits berikut ini:

1.       Dari shabat Abu Dzarr radhiyallahu ‘anhu, ia berkata, “Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah pergi meninggalkan kami (wafat), dan tidaklah seekor burung yang terbang membalik-balikkan kedua sayapnya di udara melainkan beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah menerangkan ilmunya kepada kami. Berkata Abu Dzarr radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah bersabda, Tidaklah tertinggal sesuatupun yang mendekatkan ke Surga dan menjauhkan dari Neraka melainkan telah dijelaskan semuanya kepada kalian”[1]

2.       Dari Salmanradhiyallahu ‘anhu, beliau berkata, “Orang-orang musrik telah bertanya kepada kami, ‘Sesungguhnya Nabi kalian sudah mengajarkan kalian segala sesuatu sampai (diajarkan pula adab) buang air besar!’ Maka, Salman radhiyallahu ‘anhu menjawab ‘Ya!”[2]

PANDANGAN ISLAM DALAM PENGELOLAAN SAMPAH

Termasuk bukti kesempurnaan ajaran islam, islam mempunyai pandangan sendiri dalam upaya penanggulangan sampah

Kalau ada yang bertanya, apakah dalil dari al-Qur’an dan Hadits yang memerintahkan umat islam untuk mengelola sampah?, maka kita memang tidak menemukan ada ayat atau hadits yang secara jelas dan gamblang memerintahkan hal tersebut. Akan tetapi kalau kita berkaca dari beragam ayat dan riwayat, termasuk hadits yang akan kami sebutkan berikut ini, sesungguhnya islam mengajarkan pemeluknya agar mengelola sampah karena mayoritas sampah bisa dikelola

Dalam sebuah hadits shahih yang diriwayatkan dari Jabir bin Abdillah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Jika makanan salah satu kalian jatuh maka hendaklah diambil dan disingkirkan kotoran yang melekat padanya, kemudian hendaknya di makan dan jangan di biarkan untuk setan” Dalam riwayat yang lain di nyatakan, “Sesungguhnya setan bersama kalian dalam segala keadaan, sampai-sampai setan bersama kalian pada saat makan. Oleh karena itu jika makanan kalian jatuh ke lantai maka kotorannya hendaklah di bersihkan kemudian di makan dan jangan di biarkan untuk setan. Jika sudah selesai makan maka hendaknya jari-jemari di jilati karena tidak di ketahui di bagian manakah makanan tersebut terdapat berkah” [3]

Hadits Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam diatas menunjukkan kepada kita betapa ajaran islam begitu sempurna, dan Syamil (mencakup segala aspek kehidupan). Islam tidak hanya berbicara tentang ketuhanan (akidah/rububiyah dan uluhiyyah), ekonomi, politik, militer (jihad), ibadah mahdhah (ritual), muamalah (sosial), tetapi pada perkara yang kelihatannya cukup sepele dan sederhanapun tidak pernah luput dari perhatian Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, sang pengemban risalah islam

Ketika menjelsakan hadits tersebut di atas, Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin rahimahullah mengatakan, “Jika ada makanan yang jatuh maka jangan dibiarkan akan tetapi diambil. Jika pada makanan tersebut ada kotoran, maka hendaknya dibersihkan dan kotorannya tidak perlu dimakan karena kita tidaklah dipaksa untuk memakan sesuatu yang tidak kita sukai. Oleh karena itu, kotoran yang melekat pada makanan tersebut kita bersihkan, baik kotorannya berupa serpihan kayu, debu atau semacamnya. Setelah kotoran tersebut dibersihkan, hendaklah kita makan, karena Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Dan janganlah makanan tersebut dibiarkan untuk setan” karena setan selalu bersama manusia. Jika ada orang hendak makan maka setan menyertainya, jika ada orang hendak minum maka setan juga menyertainya bahkan jika ada orang yang hendak menyetubuhi istrinya maka setan pun datang dan menyertainya. Jadi setan itu menyertai orang-orang yang lalai dari Allah Ta’ala

Namun jika kita mengucapkan Bismillah sebelum makan maka bacaan tersebut menghalangi setan untuk bisa turut makan. Setan sama sekali tidak mampu makan bersama kita jika kita sudah menyebut nama Allah Ta’ala sebelum makan, akan tetapi jika kita tidak mengucapkan Bismillah maka setan makan bersama kita. Bila kita sudah mengucapkan Bismillah sebelum makan, maka setan masih menunggu-nunggu adanya makanan yang jatuh ke lantai. Jika makanan yang jatuh tersebut  kita ambil maka makanan tersebut menjadi hak kita, namun jika kita biarkan maka setanlah yang memakannya. Jadi setan tidak menyertai kita ketika kita makan maka dia menyertai kita dalam makanan yang jatuh dilantai. Oleh karena itu hendaknya kita persempit ruang gerak setan berkenaan dengan makanan yang jatuh. Oleh karena itu, jika ada suapan nasi, kurma atau semacamnya yang jatuh ke lantai maka hendaknya kita ambil. Jika pada makanan yang jatuh tersebut terdapat kotoran berupa debu atau yang lainnya, maka kotoran tersebut hendaknya kita singgkirkan dan makanan tersebut kita makan dan tidak kita biarkan untuk setan” [4]

Hadits perintah menjilati jari setelah makan serta memungut nasi yang jatuh lalu dicuci memang kelihatannya sangat sederhana, bahkan oleh sebagian orang mungkin menganggap hadits ini hadits ‘yang menjijikkan’, tetapi ketika meneliti dan memahami hadits tersebut dengan lebih seksama, ternyata terdapat pelajaran luar biasa bagi ummat manusia di zaman modern ini

Sebiji nasi yang jatuh, ketika tidak diambil lagi, akan menjadi jatah makana bagi setan dan secara otomatis statusnya berubah menjadi sampah yang tidak berguna. Demikian pula jari yang masih belepotan dengan bekas makanan cokelat atau sambal balado, ketika tidak dijilati dan langsung dibasuh dengan air kebokan (air cuci tangan. red), tentu akan lebih mencemari air, dibanding dengan jari yang dijilat terlebih dahulu

Memang masalah memungut nasi masalah sederhana, tetapi ketika kita tinjau dari kondisi masyarakat yang ada di zaman Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, ini menunjukkan sebuah langka yang sangat maju dalam hal pengelolaan sampah, Cuma bedanya, di zaman Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam permasalahannya masih sangat sederhana. Makanan yang jatuh (kurma, nasi dll) yang seharusnya menjadi sampah, oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dikelola kembali dengan cara dicuci, agar kemudian kembali bermanfaat dan tidak terbuang sia-sia menjadi sampah. Ataupun tangan yang belepotan dengan bekas makanan ketika dicuci dengan air tentu akan mencemari air, tetapi upaya meminimalisir pencemaran air ditunjukkan dan diajarkan oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bagi masyarakat modern, walaupun dengan cara yang sederhana, yang sesuai dengan kondisi yang ada di zaman itu

ISLAM MELARANG PERBUATAN TABDZIR

Islam adalah agama yang sngat keras melarang perbuatan tabdzir. Tabdzir adalah menghambur-hamburkan harta atau menyia-nyiakan sesuatu yang bisa dimanfaatkan, dan ini dibenci oleh Allah Ta’ala, sampai-sampai orang yang melakukan perbuatan tabdzir disebut sebagai saudaranya setan, Allah Ta’ala berfirman:

“Janganlah kalian berbuat tabdzir, karena orang-orang yang mubadzir adalah saudaranya setan, dan setan itu sangat ingkar kepada Tuhannya” (QS. Al-Isra’: 27-28)

Ketika mayoritas sampah bisa kita kelola menjadi sesuatu yang produktif dan memberikan kemaslahatan bagi mahluk Allah Ta’ala, maka orang yang tidak terlibat dengan pengelolaan sampah dengan baik –atas dasar kesanggupannya- menurut terminologi tabdzir tadi dia akan jatuh dalam perilaku saudaranya setan’

Islam juga mengajarkan kepada kita untuk bahu membahu dalam aktifitas kebajikan, Allah Ta’ala berfirman:

“Dan tolong menolonglah kalian dalam kebaikan dan ketakwaan, dan janganlah kalian bertolong menolong dalam perbuatan dosa dan permusuhan…” (QS. Al-Maidah 5:2)

Karena pengelolaan sampah memberikan maslahat besar bagi kita sendiri, anak cucu kita dan alam sekitar kita, tentu ini menjadi aktifitas yang bernilai ibadah disisi Allah Ta’ala, dan karenanya kita diperintahkan Allah Ta’ala untuk ikut andil dalam segala aktifitas yang memberikan kemaslahatan, termasuk pengelolaan sampah

Semoga kepedulian ummat Islam dalam pengelolaan sampah akan memberikan solusi bagi semuanya, untuk hidup lebih sehat dan bernilai di sisi Allah Ta’ala, Amiin

Sumber : Majalah PENGUSAHA MUSLIM edisi 7 volume 1|15 juli 2010

Artikel: www.ibnuabbaskendari.wordpress.com


[1] HR. Ahmad IV/126-127, Abu Dawud no. 4607, at-Tirmidzi no. 2676, dari sahabat al-Irbadh bin Sariah radhiyallahu ‘anhu. Dishahihkan oleh Syaikh al-Albani rahimahullah dalam Irwa-ul Ghaliil, no. 2455

[2] HR. Muslim no. 267 (57), Abu Dawud no. 7, at-Tirmidzi no. 16, dan Ibnu Majah no. 316. Dari Salman al-Farisi radhiyallahu ‘anhu

[3] HR. Muslim no. 2033 dan Ahmad no. 14218

[4] Syarh Riyadhus Shalihin, Juz VII hal. 245-246

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: