Jagalah Pendengaranmu

Ustadz Abu Humaid

Dari Nafi maula Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhu “Bahwasana Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhu pernah mendengar suara seruling seorang pengembala . Maka beliau (Ibnu Umar) meletakkan kedua jarinya di telinganya lalu mencari jalan lain. Ibnu Umar berkata : “Wahai Nafi! Apakah kamu mendengar suara ini ? maka aku menjawab : ‘Ya’ dan beliau selalu mengatakan demikian, sampai aku mengatakan : ‘Saya tidak mendengar lagi!’ Lalu Ibnu Umar kembali ke jalan yang semula. Kemudian berkatalah Ibnu Umar : ‘Saya pernah melihat Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam mendengar seruling seorang penggembala lalu beliau melakukan seperti ini.’”[1]

FIQH ATSAR

Atsar ini menunjukkan betapa besarnya semangat para sahabat radhiyallahu ‘anhuma dalam menjaga pendengaran, diantaranya tidak mendengarkan alunan musik, serta selalu beruswah kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Anehnya atsar ini kadang malah dijadikan dalil tentang bolehnya mendengarkan nyanyian. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah berkata[2]: Hadist tersebut – jika memang shohih – maka tidak bisa dijadikan dalil dibolehkannya mendengarkan nyanyian dan musik, bahkan larangan tersebut lebih utama dikarenakan beberapa segi :

1.      Yang diharamkan adalah “mendengarkan” bukan hanya “sekedar mendengar”. Seseorang jika mendengar kekufuran, ucapan dusta, ghibah (gunjingan), celaan, serta musik dan nyanyian tanpa adanya niat/maksud untuk mendengarkan-seperti seseorang yang hanya sekedar lewat jalan tersebut lalu mendengar suara nyanyian-maka orang tersebut tidaklah mendapatkan dosa dengan kesepakatan kaum muslimin. Dan kalau seandainya ada seseorang yang berjalan lalu mendengar bacaan al-Qur’an tanpa mendengarkannya terhadap bacaan tersebut maka dia tidak mendapatkan pahala. Dan dia kan mendapatkan pahala jika dia mendengarkan dan memperhatikan bacaan tersebut yang ia maksudkan. Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhu itu keduanya hanya sekedar melewati jalan tersebut tanpa ada niatan mendengarkan nyanyian, begitu juga apa yang dilakukan oleh Ibnu Umar dan Nafi’.

2.      Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam menyumbat kedua telinganya karena beliau sangat menjaga pendengarannya supaya tidak mendengar suara nyanyian sama sekali. Kalau seandainya suara tersebut bolah didengarkan maka Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak menyumbat telinganya. Hal ini menunjukkan bahwa mendengarkan serta menikmatinya itu lebih terlarang.

Wallahu A’lam.

Sumber: Majalah AL FURQON no. 107, edisi 04, thn ke-10, 1431.H /2010.M
Catatan Kaki:

[1] ATSAR SHOHIH. Dikeluarkan oleh Imam Ahmad 4535-4965, Abu Dawud : 4924, al-Baihaqi dalam as-Sunan al-Kubro 1/222, dan Ibnu Hibban dalam Shohih-nya 2/468/693, al-Ajurri dalam Tahrimun Nardi wa Syatronji no. 64. dan atsar ini dishohihkan Syaikh Ahmad Syakir dan Syaikh al-Albani rahimahumullahu dalam Tahrimu Alatu Thorbi hlm. 116.

[2] Lihat dalam Majmu’ Fatawa 30/212

2 Responses to Jagalah Pendengaranmu

  1. adi mengatakan:

    BAGAIMANA KALAU NYANYIAN ISLAM

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: