Melacak Status Hukum Kopi Luwak

Ustadz Abu Ubaidah Yusuf bin Mukhtar as-Sidawi

 

Beberapa waktu yang lalu, media massa ramai membicarakan hukum “kopi luwak”, apakah halal ataukah haram. Pasalnya, kopi antik asal Indonesia yang terkenal sangat ma­hal tersebut*) ternyata dalam proses pembuatannya menggunakan bantuan luwak (sejenis musanglParadoxurus hermaphrodites). Di antara proses produksinya ; sekumpulan luwak dipersilakan makan buah kopi matang lalu kopi yang keluar bersama kotoran luwak tersebut dibersihkan dan diproses hingga menjadi bubuk kopi siap saji.

Nah, apakah karena prosesnya yang seperti itu menjadikan kopi jenis ini najis dan haram?!! MUI telah mempelajari dan menyelidiki masalah ini lalu menyimpulkannya ha­lal.**) Hanya, masih ada sebagian orang mempertanyakan tentang kebenaran fatwa MUI tersebut. Oleh karena itu, kami memandang perlu untuk menulis pembahasan ini sebagai keterangan bagi kaum muslimin semuanya. Semoga bermanfaat. Baca pos ini lebih lanjut

Nasehat Ulama: Di Balik Musibah Gempa Bumi

Segala puji bagi Allah, shalawat dan salam kepada Rasulullah, keluarga, para sahabat dan orang-orang yang mengikuti petunjuk beliau. Amma ba’du:

[Gempa Bumi, Di Antara Tanda Kekuasaan Allah][1]

Sesungguhnya Allah Maha Bijaksana dan Maha Mengetahui terhadap semua yang dilaksanakan dan ditetapkan. Sebagaimana juga Allah Maha Bijaksana dan Maha Mengetahui terhadap semua syari’at dan semua yang diperintahkan. Allah menciptakan berbagai tanda-tanda kekuasaan-Nya sesuai yang Dia kehendaki. Dia pun menetapkannya untuk menakut-nakuti hamba-Nya. Dengan tanda-tanda tersebut, Allah mengingatkan kewajiban hamba-hamba-Nya, yang menjadi hak Allah ‘azza wa Jalla. Hal ini untuk mengingatkan para hamba dari perbuatan syirik dan melanggar perintah serta melakukan yang dilarang. Baca pos ini lebih lanjut

Jagalah Pendengaranmu

Ustadz Abu Humaid

Dari Nafi maula Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhu “Bahwasana Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhu pernah mendengar suara seruling seorang pengembala . Maka beliau (Ibnu Umar) meletakkan kedua jarinya di telinganya lalu mencari jalan lain. Ibnu Umar berkata : “Wahai Nafi! Apakah kamu mendengar suara ini ? maka aku menjawab : ‘Ya’ dan beliau selalu mengatakan demikian, sampai aku mengatakan : ‘Saya tidak mendengar lagi!’ Lalu Ibnu Umar kembali ke jalan yang semula. Kemudian berkatalah Ibnu Umar : ‘Saya pernah melihat Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam mendengar seruling seorang penggembala lalu beliau melakukan seperti ini.’”[1] Baca pos ini lebih lanjut

%d blogger menyukai ini: