Hindari Perayaan Idul Fithri Dari Kemasiatan!

Ustadz Abu Ihsan al Atsari al Maidani

إِنَِّ الْحَمدُ لله نَسْتَعِينُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَعُوذُ بِهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا. مَنْ يَهْدِ الله فَلاَ مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلهَ إِلاَّ الله، وَأَشْهَدُ أَنُ مُحمَّداً عَبْدُ هُ وَرَسُولُهُ
يَاأَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا الله حَقَّ تُقاتِهِ وَلاَ تَمُوتُنَّ إِلاَّ وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ.
يَاأَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمُ خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَ خَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَ بَثَّ مِنْهُمَا رِجَالاً كَثِيْرًا وَ نِسَاءً وَاتَّقُوا الله الَّذِي تَسَاءَلُونَ بِهِ وَالأرْحَامَ إِنَّ الله كَانَ عَلَيْكُم رَقِيباً
يَاأَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا الله وَقُولُوا قَوْلاً سَدِيداً، يُصْلِحْ لَكُم أعْمَالَكُم وَيَغْفِرْ لَكم ذُنُوبَكُم وَمَنْ يُطِعِ الله وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزاً عَظِيماً
أَمَّا بَعْدُ
فَإِنَّ أَفْضَلَ الحَدِيْثِ كِتَابُ اللهِ وَ أَحْسَنَ الهَدْيِ هَدْيُ مُحَمَّدٍ وَ شَرَّ الأُمُوْرِ مُحْدَثَاتُهَا وَ كُلَّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ وَ كُلُّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ وَ كُلُّ ضَلاَلَةٍ فِي النَّارِ

Sesungguhnya segala puji hanya bagi Allah semata, kami memujiNya, memohon pertolongan serta meminta ampunan kepadaNya. Kami berlindung kepada Allah dari kejelekan diri kami, dan dari keburukan amal kami. Barangsiapa diberi hidayah oleh Allah, niscaya tiada seorangpun yang dapat menyesatkannya. Dan barangsiapa yang disesatkan oleh Allah, niscaya tiada seorangpun yang dapat memberinya petunjuk. Saya bersaksi, bahwa tiada ilah yang berhak diibadahi dengan benar kecuali Allah semata, tiada sekutu bagiNya. Dan saya bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba dan utusanNya.
Hai orang-orang yang beriman, bertaqwalah kepada Allah dengan sebenar-benar taqwa kepadaNya, dan janganlah sekali-kali kamu mati melainkan dalam keadaan beragama Islam.

Hai sekalian manusia, bertaqwalah kepada Rabb-mu yang telah menciptakan kamu dari yang satu, dan daripadanya Allah menciptakan isterinya; dan daripada keduanya Allah memperkembangbiakkan laki-laki dan perempuan yang banyak. Dan bertaqwalah kepada Allah yang dengan (mempergunakan) namaNya, kamu saling meminta satu sama lain, dan (peliharalah) hubungan silaturrahim. Sesungguhnya Allah selalu menjaga dan mengawasi kamu.
Hai orang-orang yang beriman, bertaqwalah kamu kepada Allah dan katakanlah perkataan yang benar, niscaya Allah memperbaiki bagimu amalan-amalanmu dan mengampuni bagimu dosa-dosamu. Dan barangsiapa menta’ati Allah dan RasulNya, maka sesungguhnya ia telah mendapat kemenangan yang besar.

Amma ba’du,
Sesungguhnya seutama-utama perkataan adalah Kitabullah, sebaik-baik petunjuk adalah petunjuk Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam, setiap perkara yang diada-adakan adalah bid’ah, setiap bid’ah adalah kesesatan, dan setiap kesesatan dalam neraka.

Ma’asyiral muslimin, semoga Allah memuliakan kita semua,
Pada pagi yang berbahagia ini, segenap kaum Muslimin di seluruh penjuru dunia merayakan hari besar mereka. Hari Raya ‘Idul Fithri. Hari besar yang telah Allah tetapkan untuk kaum Muslimin, sebagai ganti dari perayaan-perayaan jahiliyah yang dahulu mereka rayakan. Setelah menjalani ibadah puasa sebulan penuh dengan menahan diri dari makan, minum dan syahwat pada siang hari selama bulan Ramadhan, serta menunaikan shalat tarawih berjama’ah pada malam-malamnya. Maka tibalah hari yang dinanti, Hari Raya ‘Idul Fithri.

Kaum Muslimin menyambut hari ini dengan suka cita. Setelah sebulan penuh, jiwa dan fisik mereka dilatih melalui ibadah puasa, maka sekarang tibalah masa pembuktian. Apakah ibadah puasa selama sebulan penuh itu berbuah seperti yang diharapkan, ataukah tidak? Latihan jiwa yang ditempuh dalam bulan suci ini diharapkan membekas pada diri kita, sehingga selepas dari bulan Ramadhan ini, kita berhak mendapat gelar muttaqin seperti yang diharapkan. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman :

“Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu bershiyam sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertaqwa” [al Baqarah/2:183].

Ma’asyiral muslimin yang berbahagia, semoga Allah merahmati kita semua.
Pada hari yang berbahagia ini, tidaklah pantas bilamana kita gunakan sebagai ajang balas dendam untuk melampiaskan nafsu syahwat yang terkekang selama bulan Ramadhan. Sebab, berakhirnya bulan Ramadhan, bukan berarti berakhir pula masa mengekang hawa nafsu. Dan hari ‘Id ini bukanlah momentum pelampiasannya. Justru sebaliknya, hari ‘Id merupakan hari pembuktian ibadah puasa yang telah kita lakukan.

Pada hari ‘Id, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang kaum Muslimin berpuasa. Karena hari ini adalah hari makan dan minum. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan kaum wanita, walaupun sedang haidh -bahkan anak gadis dalam pingitan- untuk menyaksikan dakwah kaum Muslimin. Dan membolehkan gadis-gadis kecil untuk menabuh duff.

Setiap umat memiliki hari besar, dan hari ini adalah hari besar kaum Muslimin. Akan tetapi, semua itu tetap harus memperhatikan batas-batas syari’at. Jangan berlebih-lebihan. Karena Allah Subhanahu wa Ta’ala tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas.

Seperti yang kita saksikan, banyak dari kalangan kaum Muslimin berlebihan dalam menghidangkan berbagai jenis makanan. Memang, silakan membuat lebih dari satu jenis makanan, hanya saja yang terbaik tidak berlebihan dalam menyajikan berbagai jenis hidangan. Bahkan terkadang ada yang menyajikan lebih dari sepuluh jenis hidangan. Ini yang disebut israf (berlebih-lebihan). Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

“Makan dan minumlah, dan janganlah berlebih-lebihan. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berlebih-lebihan.” [al A’raf/7: 31]

Ma’asyiral muslimin, semoga Allah mencurahkan anugerah dan karuniaNya bagi kita semua.
Apalagi melihat kondisi kaum Muslimin di sekitar kita saat ini, banyak dari mereka yang hidup dalam kemiskinan dan kefakiran. Sudahkah kita menyerahkan zakat fithri kepada mereka? Bisakah kita membuat mereka turut bergembira pada hari besar ini? Lalu pantaskah kita bermegah-megahan dan pamer kemewahan, sementara sebagian dari saudara kita hidup di bawah garis kemiskinan? Masih banyak saudara-saudara kita yang hidup di bawah tenda-tenda darurat! Kekurangan makanan dan minuman, membutuhkan uluran tangan kita semua. Karena bencana alam yang menimpa mereka atau peperangan yang melanda negeri mereka!

Wahai saudaraku, bergembira bukan berarti bermegah-megahan dan berlebih-lebihan dalam melampiaskan kesenangan. Apalagi Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah melarang bermegah-megahan.

Ma’asyiral muslimin yang berbahagia, semoga Allah mengampuni kita semua.
Masih banyak di antara kaum Muslimin yang melakukan kemaksiatan pada hari besar ini, dengan alasan untuk menenangkan jiwa dan untuk bersenang-senang. Kita saksikan sejumlah wanita muslimah bersolek dan memakai parfum ke luar rumah. Berpakaian dengan busana yang menampakkan aurat mereka. Kita saksikan pula sebagian pemuda berdandan ala wanita. Sebagian kaum Muslimin membuang waktu dengan menonton di bioskop, menonton film dan mendengarkan musik, atau duduk-duduk di pinggir jalan, serta melakukan perbuatan maksiat lainnya yang membuat Allah Subhanahu wa Ta’ala murka. Fenomena ini, sungguh sangat memprihatinkan kita semua.

Media elektronik menyajikan acara-acara hiburan yang penuh dengan kemaksiatan. Bahkan banyak media massa di berbagai negeri Islam telah menjadikan hari ‘Id sebagai hari kejahatan dan penuh dosa. Diputarlah film-film yang merendahkan akhlak, sinetron-sinetron cabul, lagu-lagu yang membangkitkan birahi, dan gambar-gambar wanita yang memamerkan aurat, iklan-iklan yang diisi dengan gambar-gambar wanita-wanita murahan, promosi-promosi film, serta semua hal yang berhubungan dengannya. Belum lagi percambur-bauran lelaki dan perempuan pada hari ini. Bersalam-salaman antara pria dengan wanita yang bukan mahramnya, alasannya, untuk saling memaafkan atau untuk silaturahmi. Berkhalwat antara pemuda dan pemudi pada hari raya, atau berpergian berdua dengan izin orang tua mereka, dengan alasan merayakan hari raya.

Yang lebih parah dari itu semua, yaitu adanya perbuatan syirik dan bid’ah yang juga dilakukan oleh kaum Muslimin pada hari yang agung ini. Sebagian kaum Muslimin yang jahil mendatangi makam-makam wali dan tempat-tempat keramat untuk mencari berkah. Sebahagian lagi, lelaki maupun perempuan, berbondong-bondong pergi berziarah kubur sesudah mengerjakan shalat ‘Id. Inna lillaahi wa inna ilaihi raji’uun.

Sangat disayangkan, kerusakan-kerusakan seperti ini terus berlangsung selama hari raya.

Ma’asyiral muslimin, semoga Allah memaafkan kesalahan-kesalahan kita.
Berapa banyak perkara haram yang dilanggar, berapa banyak maksiat yang dikerjakan, berapa banyak kejahatan yang disebarkan; semua itu dilakukan dengan alasan hari ini adalah hari ‘Id. Semua itu dilakukan pada hari kebaikan dan kemuliaan, hari silaturrahim, hari membagi kebahagiaan kepada kaum fakir dan orang yang membutuhkan, hari untuk menunjukkan sejauh mana ketaatan seorang muslim terhadap agamanya.

Semua itu merupakan perbuatan yang mencegah manusia dari jalan Allah, dan termasuk kejahatan terhadap agama yang hanif ini. Menjerumuskan manusia kepada perkara yang merusak, dan membahayakan mereka. Maka seorang muslim yang berakal, seharusnya menjauhi perkara-perkara tersebut, dan menjauhi perbuatan maksiat terhadap Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Hendaklah seorang muslim tidak mengungkapkan kegembiraan dengan perbuatan maksiat kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Silakan ia mengadakan permainan yang dibolehkan, selama masih dalam batas-batas syari’at. Seperti yang diriwayatkan dari ‘Aisyah Radhiyallahu ‘anha, ia berkata: “Datang beberapa orang-orang Habasyi, mereka bermain-main di dalam masjid pada hari ‘Id. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam memanggilku, dan aku meletakkan kepalaku di atas pundak beliau. Kemudian aku menonton permainan mereka, hingga aku sendiri yang berkeinginan untuk pergi. [Muttafaqun ‘alaihi].

Seperti halnya menabuh duff yang diadakan di rumah untuk wanita saja, tanpa dihadiri laki-laki yang bukan mahram, serta tidak diiringi dengan musik, maupun kata-kata cabul dan kotor.

Diriwayatkan, pada masa Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, ada dua gadis kecil yang bernyanyi di rumah ‘Aisyah Radhiyallahu ‘anha pada hari ‘Id, lalu hal itu diingkari oleh Abu Bakar Radhiyallahu ‘anhu, ia berkata: “Pantaskah nyanyian setan berada di dalam rumah Rasulullah?”

Rasul Shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab,”Biarkanlah mereka, wahai Abu Bakar, sebab masing-masing umat ada hari besarnya, dan sekarang adalah hari besar kita.” [Muttafaqun ‘alaihi].

Demikian juga mengunjungi sanak saudara dan kerabat, memakai baju yang baru dan bermain dengan anak-anak dan semisalnya.

Apabila seorang muslim memperhatikan peraturan Allah pada hari yang berbahagia ini dan tetap taat kepada Allah pada saat-saat gembira. Mengetahui hak dan kewajibannya pada saat senang, sebagaimana ia mengetahui hak dan kewajibannya pada saat sempit, niscaya ia akan menjadi hamba Allah yang sejati, yang tetap taat kepadaNya dalam setiap waktu dan kondisi.

Ma’asyiral muslimin, semoga Allah menjauhkan kita semua dari keburukan.
Marilah kita renungi kembali makna hari ‘Id yang penuh berkah ini. Janganlah kita jadikan sebagai ajang pelampiasan syahwat, yang justru mengundang kemurkaan Allah Subhanahu wa Ta’ala. Apalagi Allah Subhanahu wa Ta’ala telah menurunkan berbagai cobaan dan musibah kepada kita semua, sebagai peringatan agar kita kembali ke jalanNya, mentauhidkanNya dan tidak berbuat syirik. MenyembahNya dengan tuntunan syari’atNya, bukan dengan cara-cara bid’ah.

Sungguh, betapa kita berharap Allah menurunkan keberkahan kepada kita, sebagai buah dari ketaatan kita yang murni kepada Allah semata, yang telah kita tunjukkan selama bulan Ramadhan. Akan tetapi, bagaimana keberkahan itu turun, sementara kita menyudahinya dengan perbuatan yang membuat Allah Subhanahu wa Ta’ala murka? Malah sebaliknya, azab dan siksaNya yang akan menimpa kita!

Ma’asyiral muslimin, semoga Allah melindungi kita semua.
Pada kesempatan yang berbahagia ini, tidak lupa Khatib mengingatkan secara khusus kepada kaum wanita yang hadir menyaksikan khutbah ini, agar bertakwa kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Rasulullah telah berpesan kepada kaum wanita pada kesempatan yang mulia ini, dan memerintahkan mereka untuk bersedekah.

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam keluar untuk mengerjakan shalat ‘Idul Fithri ke tempat shalat. Lalu beliau menghampiri kaum wanita dan berkata :

يَا مَعْشَرَ النِّسَاءِ تَصَدَّقْنَ فَإِنِّي أُرِيتُكُنَّ أَكْثَرَ أَهْلِ النَّارِ فَقُلْنَ وَبِمَ يَا رَسُولَ اللَّهِ قَالَ تُكْثِرْنَ اللَّعْنَ وَتَكْفُرْنَ الْعَشِيرَ مَا رَأَيْتُ مِنْ نَاقِصَاتِ عَقْلٍ وَدِينٍ أَذْهَبَ لِلُبِّ الرَّجُلِ الْحَازِمِ مِنْ إِحْدَاكُنَّ قُلْنَ وَمَا نُقْصَانُ دِينِنَا وَعَقْلِنَا يَا رَسُولَ اللَّهِ قَالَ أَلَيْسَ شَهَادَةُ الْمَرْأَةِ مِثْلَ نِصْفِ شَهَادَةِ الرَّجُلِ قُلْنَ بَلَى قَالَ فَذَلِكِ مِنْ نُقْصَانِ عَقْلِهَا أَلَيْسَ إِذَا حَاضَتْ لَمْ تُصَلِّ وَلَمْ تَصُمْ قُلْنَ بَلَى قَالَ فَذَلِكِ مِنْ نُقْصَانِ دِينِهَا

“Wahai sekalian kaum wanita, bersedekahlah, karena Allah telah memperlihatkan kepadaku bahwa kalianlah penghuni neraka yang paling banyak”.
Mereka bertanya,”Mengapa, wahai Rasulullah?”
Rasulullah menjawab,”Mereka suka mengumpat dan suka mendurhakai suami. Belum pernah kulihat seorangpun yang lemah akal dan agamanya dapat mempecundangi akal lelaki yang kuat, selain kalian.”
“Apa buktinya agama dan akal kami lemah, wahai Rasulullah?” tanya mereka.
Rasul menjawab,”Bukankah persaksian wanita setengah persaksian laki-laki?”
“Benar!” jawab mereka.
Rasul berkata,”Itulah kelemahan akalnya. Dan bukankah apabila wanita sedang haidh tidak boleh shalat dan berpuasa?”
“Benar!” jawab mereka.
Rasul berkata,”Itulah kekurangan agamanya.” [Diriwayatkan oleh al Bukhari].

Ma’asyiral muslimat, semoga Allah merahmati Anda sekalian.
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah memperingatkan, kalianlah penghuni neraka yang paling banyak. Dalam hadits lain Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam mengingatkan: Hadits di atas mendukung hadits berikut ini:

أَقَلُّ سَاكِنِي الجَنَّةِ مِنَ النِّسَاءِ

“Minoritas penghuni surga adalah kaum wanita!”. [Diriwayatkan oleh Muslim].

Kedua hadits di atas merupakan peringatan terhadap kaum wanita secara khusus, supaya mereka lebih taat kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dan menjauhi perkara-perkara yang dilarang olehNya.

Semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala menjadikan kita semua, sebagai orang-orang yang meraih kemenangan yang hakiki di hari yang agung ini.

اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيمَ إِنَّكَ حَمِيدٌ مَجِيدٌ اللَّهُمَّ بَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيمَ إِنَّكَ حَمِيدٌ مَجِيدٌ
رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا ذُنُوبَنَا وَإِسْرَافَنَا فِي أَمْرِنَا وَثَبِّتْ أَقْدَامَنَا وَانصُرْنَا عَلَى الْقَوْمِ الْكَافِرِينَ
رَبَّنَا لاَتُزِغْ قُلُوبَنَا بَعْدَ إِذْ هَدَيْتَنَا وَهَبْ لَنَا مِن لَّدُنكَ رَحْمَةً إِنَّكَ أَنتَ الْوَهَّابُ
رَبَّنَا لاَ تُؤَاخِذْنَآإِن نَّسِينَآ أَوْ أَخْطَأْنَا رَبَّنَا وَلاَ تَحْمِلْ عَلَيْنَآإِصْرًا كَمَا حَمَلْتَهُ عَلَى الَّذِينَ مِن قَبْلِنَا رَبَّنَا وَلاَ تُحَمِّلْنَا مَالاَطَاقَةَ لَنَا بِهِ وَاعْفُ عَنَّا وَاغْفِرْ لَنَا وَارْحَمْنَآ أَنتَ مَوْلاَنَا فَانصُرْنَا عَلَى الْقَوْمِ الْكَافِرِينَ
رَبَّنَا ظَلَمْنَا أَنفُسَنَا وَإِن لَّمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُونَنَّ مِنَ الْخَاسِرِينَ
رَبَّنَآ ءَاتِنَا مِن لَّدُنكَ رَحْمَةً وَهَيِّئْ لَنَا مِنْ أَمْرِنَا رُشْدًا
رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا وَلإِخْوَانِنَا الَّذِينَ سَبَقُونَا بِاْلإِيمَانِ وَلاَتَجْعَلْ فِي قُلُوبِنَا غِلاًّ لِّلَّذِينَ ءَامَنُوا رَبَّنَآ إِنَّكَ رَءُوفٌ رَّحِيمٌ
اللَّهُمَّ إِنَّا نََسْأََلُكَ الهُدَى وَالتُّقَى وَالعَفَافَ وَالغِنَى
اللَّهُمَّ اقْسِمْ لَنَا مِنْ خَشْيَتِكَ مَا تَحُوْلُ بِهِ بَيْنَنَا وَ بَيْنَ مَعَاصِيْكَ وَمِنْ طَاعَتِكَ مَا تُبَلَّغُنَا بِهِ جَنَّتَكَ وَمِنْ اليَقِيْنِ مَا تُهَوِّنُ بِهِ عَلَيْنَا مَصَائِبَ الدُّنْيَا وَمتِّعْنَا بِأَسْمَاعِنَا وَأَبْصَارِنَا وَقُوَّاتِنَا مَا أَحْيَيْتَنَا وَاجْعَلْهُ الوَارِثَ مِنَّا وَاجْعَلْ ثَأْرَنَا عَلَي مَنْ ظَلَمَنَا وَانْصُرْنَا عَلَي مَنْ عَادَانَا وَلَا تَجْعَلْ مُصِيْبَتَنَا فِي دِيْنِنَا وَلَا تَجْعَلِ الدُّنْيَا أَكْبَرَ هَمِّنَا وَلَا مَبْلَغَ عِلْمِنَا وَلَا تُسَلِّطْ عَلَيْنَا مَنْ لَا يَرْحَمْنَا
اللَّهُمَّ أَصْلِحْ وُلاَةَ أُمُوْرِنَا وَ أَصْلِحْ ذَاتَ بَيْنِنَا وَأَلِّفْ بَيْنَ قُلُوْبِنَا وَاهْدِنَا سُبُلَ السَّلَامِ وَنَجِّنَا مِنَ الظُّلُمَاتِ إِلَى النُّوْرِ وَجَنِبْنَا الفَوَاحِشَ مَا ظَهَرَ وَمَا بَطَنَ اللَّهُمَّ بَارِكْ لَنَا فِي أَسْمَاعِنَا وَأَبْصَارِنَا وَ قُلُوْبِنَا وَأَزْوَاجِنَا وَذُرِّيَاتِنَاوَتُبْ عَلَيْنَا إِنَّكَ أَنْتَ التَّوَّابُ الرّحَيِمُ وَاجْعَلْنَا شَاكِرِيْنَ لِنِعْمَتِكَ مُثْنِيْنَ بِهَا عَلَيْكَ قَابِلِيْنَ لهاوَأَتِمْهَا عَلَيْنَا
اللَّهُمَّ اجْعَلْنَا هَادِيْنَ مُهْتَدِيْنَ غَيْرَ ضَالِّيْنَ وَلَا مُضِلِّيْنَ سِلْمًا لِأَوْلِيَائِكَ وَحَرْبًا لِأَعْدَائِكَ نُحِبُّ بِحُبِّكَ مَنْ أَحَبَّكَ وَنُعَادِي بِعَدَاوَتِكَ مَنْ خَالَفَكَ. اللَّهُمَّ هَذَا الدُّعَاءِ وَعَلَيْكَ الإِجَابَةُ وَهَذَا الجُهْدِ وَعَلَيْكَ التُكْلَانُ
رَبَّنَا هَبْ لَنَا مِنْ أَزْوَاجِنَا وَذُرِّيَّاتِنَا قُرَّةَ أَعْيُنٍ وَاجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِينَ إِمَامًا
رَبَّنَآ ءَاتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي اْلأَخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ
وَ آخِرُ دَعْوَانَا عَنِ الحَمْدُ للهِ رَبِّ العَالَمِيْن

Sumber: Almanhaj

[Disalin dari majalah As-Sunnah Edisi 07-08/Tahun IX/1426/2005M. Penerbit Yayasan Lajnah Istiqomah Surakarta, Jl. Solo-Purwodadi Km.8 Selokaton Gondangrejo Solo 57183 Telp. 0271-7574821]

One Response to Hindari Perayaan Idul Fithri Dari Kemasiatan!

  1. link mengatakan:

    ok how is this supposedto mean?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: