Sikap as-Salaf ash-Shalih Terhadap Penentang dalil Shohih

Abu Ashim Muhtar Arifin

Setiap kali Allah Ta’ala memerintah­kan sesuatu kepada hamba-­hamba-Nya, baik berupa aqidah yang harus diyakini atau amalan yang harus dilakukan, atau melarang suatu larangan, maka ada saja yang mengingkari, mendustakan dan tidak mau menaati-Nya.

Penyelisihan terhadap Syariat secara umum tidak lepas dari dua perkara :

pertama, dengan ghuluw, yaitu berlebih-lebihan sehingga keluar dari batas yang telah ditetapkan.

Kedua, dengan tafrith, yaitu menyepelekan, tidak memper­cayai dan meremehkannya.

Sebagian salaf mengatakan :

Tidaklah Allah Ta’ala memerintah­kan suatu hal melainkan setan memiliki dua bisikan : kepada sikap tafrith (menyepelekan) dan taqshir (tidak memenuhinya), atau kepada sikap melampaui batas dan ghuluw (berlebih-lebihan). Ia tidak peduli dari cara yang mana ia dapat berhasil. [1]

Mengagungkan Nash Syar’i.

Salah satu di antara konsekuensi sikap mengagungkan Allah Ta’ala adalah mengagungkan hukum­-hukum dan wahyu-Nya serta menjaga batasan-batasan-Nya, baik itu wahyu yang diturunkan dengan lafal-Nya yaitu al-Qur’an maupun wahyu yang berasal dari-Nya akan tetapi dengan lafal Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam yaitu hadits-hadits beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Segala sesuatu yang diperin­tah atau dilarang, ditunjukkan atau diberitakan oleh Allah Ta’ala dan Rasul-Nya, maka yang harus dilakukan oleh setiap muslim adalah tashdiq (membenarkan), taslim (menerima) dan ta’zhim (mengagungkannya).

Mengagungkan Nash Syar’i berarti mengagungkan Allah Ta’ala.

Di antara bentuk meng­agungkan Allah Ta’ala adalah dengan cara mengagungkan nash-nash syar’i yang turun dari-Nya.

Allah Ta’ala berfirman: Demikianlah (perintah Allah), dan barangsiapa mengagungkan apa-apa yang terhormat di sisi Allah maka itu adalah lebih baik baginya di sisi Rabb­nya. (QS. al-Hajj : 30)

Firman-Nya: Demikianlah (perintah Allah), dan barangsiapa mengagungkan syi’ ar-­syi’ar Allah, maka sesungguhnya itu timbul dari ketakwaan hati. (QS. al­Hajj : 32).

Ibnul Qayyim rahimahullah berkata : “Martabat pertama dari sekian martabat dalam mengagungkan al-Hag       adalah mengagungkan perintah dan larangan-Nya. Sebab seorang mukmin mengenal Rabb­-nya melalui risalah-Nya yang telah disampaikan oleh Rasul-­Nya       kepada segenap manusia.

Kandungan risalah tersebut adalah inqiyad (tunduk) kepada perintah dan larangan-Nya. Hal itu hanyalah dengan meng­agungkan perintah Allah Ta’ala dan mengikutinya, mengagungkan larangan-Nya dan menjauhinya.

Jadi, pengagungan seorang mukmin terhadap perintah dan larangan Allah menunjukkan pengagungan kepada Pemilik perintah dan larangan tersebut. Diukur dari pengagungan inilah seseorang dapat menjadi abrar (orang-orang yang baik) dan disaksikan keimanan, kebenaran, kelurusan aqidahnya, dan ia lepas dari nifaq yang besar”. [2]

Perintah-perintah Allah Ta’ala berada dalam al-Qur’an. Selain itu juga berupa wahyu yang diturunkan kepada utusan-Nya yang bukan termasuk al-Qur’an, yaitu hadits Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam.Tanpa keduanya seseorang tidak dapat mengetahui perintah-perintah Allah Ta’ala dan Rasul-Nya. Bukan diketahui dengan mimpi, eksperimen atau perkiraan. Dan bukan pula dengan ukuran mayoritas manusia, akan tetapi dengan al-Qur’an dan hadits yang shahih.

Dengan demikian, seseorang muslim dituntut untuk meng­agungkan nash-nash yang berupa ayat-ayat Allah dan hadits-hadits Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam. [3]

Mengagungkan semua Nash Syar’i sama dengan masuk Islam secara kaffah.

Salah satu perintah Allah kepada hamba-hamba-Nya adalah agar mereka masuk Islam secara kaffah, meyakini semua apa yang diturunkan oleh Allah melalui Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Allah Ta’ala berfirman: Hai orang-orang yang beriman, masuklah kamu ke dalam Islam keseluruhan. (QS. al-Baqarah: 208).

Allah Ta’ala juga telah memerintah­kan kaum muslimin agar mengatakan :

Kami beriman kepada ayat-ayat mutasyaabihaat, semua itu dari sisi Rabb kami. (QS. Ali Imran: 7)

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah menjelaskan : “Sudah sepantasnya setiap muslim mengagungkan perka­taan Allah Ta’ala dan rasul-Nya. Semua yang dikatakan oleh Allah Ta’ala dan rasul-Nya wajib diimani. Kita tidak boleh mengimani sebagian isi kitab dan mengingkari sebagian yang lain”. [4]

Imam al-Auza’i rahimahullah pernah bertanya kepada az-Zuhri rahimahullah: Wahai Abu Bakar, hadits Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam: “Bukanlah termasuk golongan kami orang yang menampar pipi”, dan hadits “Bukanlah termasuk golongan kami orang yang tidak menghormati orang yang lebih besar di antara kami”, alangkah miripnya hadits ini, apa maknanya?”.

Imam az-Zuhri rahimaullah menunduk sesaat, lalu mengangkat kepala­nya dan berkata :

Ilmu itu dari Allah ‘Azza wa jalla, kewajiban rasul adalah menyam­paikan, dan kewajiban kita adalah menerimanya. [5]

Sikap Ulama terhadap Penentang Nash Tentang Terlihatnya Allah Ta’ala di hari Kiamat.

Para ulama telah banyak mengungkapkan celaan dan cacian terhadap siapa saja yang mengingkari bahwa Allah Ta’ala akan dapat dilihat pada hari kiamat. Berikut ini di antara sikap para ulama terhadap pengingkar aqidah yang telah tetap dalam kitab dan sunnah ini.

1. Menghukumi bahwa keimananannya telah rusak.

Mengingkari perkara yang telah tsabit dalam kitab dan sunnah serta ijma’ merupakan tanda kerusakan iman, termasuk di dalamnya adalah mengingkari bahwa Allah Ta’ala akan terlihat pada hari kiamat. Hal itu telah dinyatakan oleh Ibnul Qayyim rahimahullah dalam Nuniyyah-nya:

Mereka akan melihat Allah Yang Maha Suci dari atas mereka

Dengan penglihatan mata sebagai­mana terlihatnya bulan dan matahari

Hal ini telah mencapai derqjat mutawatir dari Rasulullah

Tidaklah orang yang mengingkarinya kecuali yang telah rusak imannya.[6]

2. Mengeluarkan pengingkar dari majlis.

Yahya bin al-Mughirah rahimahullah mengatakan : “Kami pernah berada di sisi jarir bin Abdul Hamid, lalu ia menyebutkan sebuah hadits Ibnu Sabith :

Bagi orang-orang yang berbuat baik, ada pahala yang terbaik dan tambahannya. (QS. Yunus: 26)

Beliau berkata : “Tambahannya” yaitu melihat wajah Allah. Kemudian datang seorang lelaki yang mengingkarinya. Lalu beliau mengangkat suaranya dan mengeluarkan orang itu dari majlis.[7]

3. Menetapkan bahwa pengingkar akidah ini telah berlepas diri dari Allah dan Rasul-Nya.

Setelah Yazid bin Harun selesai menyampaikan hadits Ismail dari Qais dari Jarir dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam Sesungguhnya kalian akan melihat Rabb kalian ‘Azza wa jalla sebagai­mana kalian melihat bulan.

Yazid bin Harun berkata: Barangsiapa yang mendusta­kan hadits ini maka dia telah berlepas diri dari Allah ‘Azza wa jalla dan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi was allam.[8]

4. Kafirnya orang yang meng­ingkari terlihatnya Allah Ta’ala pada hari kiamat.

Muhammad bin Mush’ab al-­Abid berkata: Barangsiapa yang menyangka bahwa engkau tidak berbicara dan tidak terlihat, maka dia kafir kepada Wajah-Mu, dia tidak mengenal-Mu. Aku bersaksi bahwa Engkau berada di atas ‘Arsy, di atas tujuh langit, tidak seperti apa yang dikatakan oleh musuh-musuh-Mu para kaum Zindiq. [9]

5. Menjadi cerminan terhadap pengingkarannya terhadap masalah-masalah keimanan yang lain.

Apabila seseorang telah mengingkari dan mendustakan perkara yang telah jelas landasannya dalam al-Kitab, as-­Sunnah dan ijma’ -seperti masalah terlihatnya Allah Ta’ala pada hari kiamat-, maka hal tersebut akan berdampak kepada pengingkaran terhadap masalah-masalah Syariat yang lain.

Imam al-Ajurri rahimahullah, juga mengatakan : Barangsiapa yang mendusta­kan semua apa yang telah kami sebutkan dan menyangka bahwa Allah ‘Azza wa jalla tidak terlihat pada hari kiamat, maka sungguh ia telah kafir. Barangsiapa yang kafir terhadap masalah ini, maka ia mengingkari perkara-perkara yang banyak yang wajib diimaninya. [10]

6. Menghukumi pengingkar tersebut sebagai seorang pengikut paham jahmiyyah.

Sufyan bin Uyainah rahimahullah mengatakan: Barangsiapa yang tidak mengatakan bahwa “al-Qur’an adalah kalamullah” dan “Allah Ta’ala dapat dilihat di surga”, maka ia adalah seorang  jahmi (pengikut Jahm bin Sufwan, pen). [11]

Dari Ahmad bin Abi Syuraih rahimahullah, ia berkata: Aku telah mendengar Waki’ rahimahullah berkata dan beliau menyampaikan hadits tentang ru’ yah (melihat Allah Ta’ala) dan sebagainya. Beliau rahimahullah berkata : Barangsiapa yang kalian lihat mengingkari sebagian dari hadits-­hadits ini, maka anggaplah ia termasuk ke dalam golongan Jahmiyyah.[12]

7. Mendoakankejelekan.

Sebagian salaf mendoakan kejelekan bagi orang yang mengingkari masalah terlihatnya Allah pada hari kiamat. Di antaranya adalah al-Auza’i rahimahullah. Beliau rahimahullah mengatakan : Sesungguhnya aku benar­-benar mengharapkan agar Allah Ta’ala menghalangi Jahm dan orang-­orang yang mengikutinya dari mendapatkan seutama-utama balasan yang telah dijanjikan oleh Allah Ta’ala kepada wali-wali-Nya ketika berfirman: “Wajah-wajah pada hari itu berseri-seri, kepada Rabb-nya mereka melihat”. Lalu Jahm dan para sahabatnya mengingkari balasan yang paling yang utama yang telah dijanjikan (oleh Allah ‘Azza wa jalla) kepada wali-wali-Nya.[13]

Ibnul Qayyim rahimahullah juga mengatakan : “Barangsiapa yang mendustakan masalah ini, maka ia tidak termasuk ke dalam golongan orang-orang yang akan melihatnya, dan ia akan termasuk menjadi orang-orang yang terhalang dari melihat Allah Ta’ala pada hari kiamat”.[14]

8. Pengingkarnya terlaknat

Dari Fadhl bin Ziyad rahimahullah, ia berkata : Aku pernah mendengar Abu Abdullah Ahmad bin Hambal rahimahullah dan telah sampai kepada beliau dari seorang lelaki bahwa ia berkata sesungguhnya Allah Ta’ala tidak terlihat di akhirat. Lalu beliau marah dengan kemarahan yang dahsyat, lalu berkata :

Barangsiapa yang mengatakan bahwa Allah ‘Azza wa jalla tidak dapat terlihat di akhirat, maka sungguh ia telah kafir, ia layak mendapat laknat dan murka Allah, siapapun orangnya. Bukannya Allah Ta’ala telah berfirman: “Wajah-wajah pada hari itu berseri-seri, kepada Rabb-nya mereka melihat.” Dan berfirman, “Sekali-kali tidak, sesungguhnya mereka (orang-orang kafir) pada hari itu benar-benar tertutup dari Rabb mereka”. Ini adalah dalil yang menunjukkan bahwa kaum mukminin dapat melihat Allah”. [15]

Penutup

Inilah sebagian di antara sikap para ulama salaf terhadap orang yang menentang aqidah yang lurus yang telah ditetapkan oleh Allah Ta’ala dan Rasul-Nya yang berupa terlihatnya Allah pada hari kiamat oleh kaum muslimin.

Semoga Allah ‘Azza wa jalla memberi petunjuk orang-orang yang menolaknya sehingga dapat menerima ajaran Islam yang lurus ini.

Sumber: Majalah Adz-Dzakhiirah. Volume: 8 Edisi 62. 1431.H-2010.M

Artikel:

Catatan Kaki: ibnuabbaskendari.wordpress.com


[1] Ighatsah Lahafan, Ibnul Qayyim, jilid 1, hlm. 116, tahqiq Muhammad al-Fiqi

[2] al-Wabil ash-Shayyib, hlm. 15-16, cet. Al-­Majma’, tahqiq Abdurrahman bin Hasan

[3] Ma’alim fi Thariq al-­Ishlah, hlm. 163-164, Dr. as-­Sadhan, Ilm at-Tauhid ‘ inda Ahli as­Sunnah, hlm. 254, Dr. Muhammad Yusri

[4] al-Iman, hlm. 33, takhrij Syaikh al-Albani rahimahullah

[5] as-Sunnah, karya al-Khallal, 3/579,no.1001

[6] an-Nuniyyah, hlm. 239-242, Idarah Tarjuman as-Sunnah, Lahore, Pakistan, 1397/1977, dalam Syarahnya 11/567-580, Maktab Islami, 1406/1986, Beirut, Ahmad bin Ibrahim bin Isa

[7] Syarh Ushul I’tiqad Ahlussunnah, no. 880, jilid 111, hlm. 505

[8] as-Sunnah, Abdullah bin Ahmad, jilid 1, h1m. 232 dan pentahqiqnya mengata­kan Isnadnya shahih

[9] Kitab ash-Shifaat, ad-­Daruquthni, no. 64, hlm. 42-43, tahqiq dan ta’ liq Abdullah al-­Gunaiman, Maktabah Dar Madinah, cet. 1, 1402 H

[10] at-Tashdiq, hlm. 110

[11] Syarah Ushul I’tiqad Ahlissunnah wal Jama’ah, no 876, jilid III, hlm. 504

[12] Kitab ash-Shifat, ad-­Daruquthni, hlm. 41, no. 60

[13] Syarah Ushul I’tiqad Ahlussunah,no. 874, jilid III, hlm. 503

[14] Hadi al-Arwah, hlm. 337-338

[15] at-Tashdiq, hlm. 46, no. 7, lihat pula hlm. 116, no. 64, dan Masail Imam Ahmad, karya Abu Dawud as-Sijistani, hlm. 263, cet. Darul Ma’rifah, Bairut, cet. 1, 1353

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: