Hukum Merayakan Malam ISRA’ MI’RAJ

Syaikh Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz

Alhamdulillah, segala puji bagi Allah Ta’ala. Shalawat dan salam semoga dilimpahkan kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, keluarga dan para sahabatnya. Amma ba’du,

Tidak diragukan lagi bahwa isra’ mi’raj termasuk tanda-tanda kebesaran Allah Ta’ala yang menunjukkan kebenaran Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan keagungan kedudukan beliau di sisiNya, juga menujukkan kekuasaan Allah Ta’ala yang Maha agung dan ketinggianNya di atas semua makhlukNya. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman.

“Artinya : Maha Suci Allah, yang telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam dari Al-Masjidil Haram ke Al-Masjidil Aqsha yang telah Kami berkahi sekelilingnya agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian tanda-tanda kebesaran Kami. Sesungguhnya Dia adalah Maha Mendengar lagi Maha Melihat. ” [Al-Isra’: 1]

Telah diriwayatkan dari Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam secara mutawatir, bahwa beliau naik ke langit, lalu dibukakan baginya pintu-pintu langit sehingga mencapai langit yang ketujuh, kemudian Allah Subhanahu wa Ta’ala berbicara kepadanya dan mewajibkan shalat yang lima waktu kepadanya. Pertama-tama Allah Subhanahu wa Ta’ala mewajibkannya lima puluh kali shalat, namun Nabi kita tidak langsung turun ke bumi, tapi beliau kembali kepadaNya dan minta diringankan, sampai akhirnya hanya lima kali saja tapi pahalanya sama dengan lima puluh kali, karena suatu kebaikan dibalas dengan sepuluh kali lipat. Puji dan syukur bagi Allah Ta’ala atas semua nik’matNya.

Tentang kepastian terjadinya malam isra mi’raj ini tidak disebutkan dalam hadits-hadits shahih, tidak ada yang menyebutkan bahwa itu pada bulan Rajab dan tidak pula pada bulan lainnya. Semua yang memastikannya tidak benar berasal dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Demikian menurut para ahli ilmu. Allah Ta’ala mempunyai hikmah tertentu dengan menjadikan manusia lupa akan kepastian tanggal kejadiannya. Kendatipun kepastiannya diketahui, kaum muslimin tidak boleh mengkhususkannya dengan suatu ibadah dan tidak boleh merayakannya, karena Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para sahabatnya tidak pernah merayakannya dan tidak pernah mengkhususkannya. Jika perayaannya disyari’atkan, tentu Rasulullah telah menerangkannya kepada umat ini, baik dengan perkataan maupun dengan perbuatan. Dan jika itu syari’atkan, tenu sudah diketahui dan dikenal serta dinukilkan dari para sahabat beliau kepada kita, karena mereka senantiasa menyampaikan segala sesuatu dari Nabi mereka yang dibutuhkan umat ini, bahkan merekalah orang-orang yang lebih dulu melaksanakan setiap kebaikan jika perayaan malam tersebut disyari’atkan, tentulah merekalah manusia pertama yang melakukannya.

Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah manusia yang paling loyal terhadap sesama manusia, beliau telah menyampaikan risalah dengan sangat jelas dan telah menunaikan anamat dengan sempurna. Seandainya memuliakan malam tersebut dan merayakannya termasuk agama Allah Ta’ala, tentulah nabi tidak melengahkanya tidak menyembunyikan. Namun karena kenyataannya tidak demikian, maka diketahui bahwa merayakannya dan memuliakannya sama sekali bukan termasuk ajaran Islam, dan tanpa itu Allah Ta’ala telah menyatakan bahwa dia telah menyempurnakan untuk umat ini agamanya dan telah menyempurnakan nimatnya serta mengingkari orang yang mensyariatkan sesuatu dalam agama ini yang tidak diizinkannya.

Allah Subhanahu wa Ta’ala telah berfirman.

“Artinya : Pada Hari ini telah kusempurnakan untuk kamu agamamu dan telah kucukupkan kepadamu nikmat Ku” [Al-Maidah :3 ].

Kemudian dalam ayat lain disebutkan.

“Artinya : Apakah mereka mempunyai sembahan-sembahan selain Allah yang mensyari’atkan untuk mereka agama yang tidak diizinkan Allah sekiranya ada ketetapan yang menentukan (dariAllah) tentulah mereka telah binasa. Dan sesungguhnya orang-orang yang zhalim itu akan memperoleh adzab yang amat pedih .[Asy-Syura : 21]

Telah diriwayatkan pula dari Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam hadits-hadits shahih peringatan terhadap bid’ah dan menjelaskan bahwa bid’ah-bid’ah itu sesat. Hal ini sebagai peringatan bagi umatnya tentang bahayanya yang besar dan agar mereka menjahukan diri dari melakukannya, diantaranya adalah yang disebutkan dalam Ash-Shahihain dari Aisyah Radhiyallahu ‘anha, dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bahwa beliau bersabda.

“Artinya : Barangsiapa yang membuat sesuatu yang baru dalam urusan kami (dalam Islam) yang tidak terdapat (tuntunan) padanya, maka ia tertolak.”.

Dalam riwayat Musliim disebutkan.

“Artinya : Barangsiapa yang melakukan suatu amal yang tidak kami perintahkan maka ia tertolak.” [1]

Dalam kitab Shahih Muslim disebutkan, dari Jabir, ia mengatakan, bahwa dalam salah satu khutbah Jum’at Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam mengatakan.

“Artinya : Amma ba’du. Sesungguhnya sebaik-baik perkataan adalah Kitabullah, sebaik-baik tuntunan adalah tuntunan Muhammad, seburuk-buruk perkara adalah hal-hal baru yang diada-adakan dan setiap hal baru adalah sesat.” [2]

An-Nasa’i menambahkan pada riwayat ini dengan ungkapan.

“Artinya : Dan setiap yang sesat itu (tempatnya) di neraka.” [3]

Dalam As-Sunan disebutkan, dari Irbadh bin Sariyah Radhiyallahu ‘anhu, ia berkata, “Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam mengimami kami shalat Shubuh, kemudian beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam berbalik menghadap kami, lalu beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam menasehati kami dengan nasehat yang sangat mendalam sehingga membuat air mata menetes dan hati bergetar. Kami mengatakan, ‘Wahai Rasulullah, tampaknya ini seperti nasehat perpisahan, maka berwasiatlah kepada kami. Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam pun bersabda.

“Artinya : Aku berwasiat kepada kalian untuk bertakwa kepada Allah, ta’at dan patuh, walaupun yang memimpin adalah seorang budak hitam. Sesungguhnya siapa di antara kalian yang masih hidup setelah aku tiada, akan melihat banyak perselisihan, maka hendaklah kalian memegang teguh sunnahku dan sunnah Khulafa’ur Rasyidin yang mendapat petunjuk. Gigitlah itu dengan geraham, dan hendaklah kalian menjauhi perkara-perakara yang baru, karena setiap perkara baru itu adalah bid ‘ah dan setiap bid’ah itu sesat’.”[4]

Dan masih banyak lagi hadits-hadits lainnya yang semakna dengan ini.

Telah disebutkan pula riwayat dari para sahabat beliau dan para salaf shalih setelah mereka, tentang peringatan terhadap bid’ah. Semua ini karena bid’ah itu merupakan penambahan dalam agama dan syari’at yang tidak diizinkan Allah serta merupakan tasyabbuh dengan musuh-musuh Allah dari kalangan Yahudi dan Nashrani dalam penambahan ritual mereka dan bid’ah mereka yang tidak diizinkan Allah, dan karena melaksanakannya merupakan pengurangan terhadap agama Islam serta tuduhan akan ketidaksempurnaannya. Tentunya dalam hal ini terkandung kerusakan yang besar, kemungkaran yang keji dan bantahan terhadap firman Allah Subhanahu wa Ta’ala.

“Artinya : Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu.” [Al-Ma’idah: 3]

Serta penentangan yang nyata terhadap hadits-hadits Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam yang memperingatkan perbuatan bid’ah dan peringatan untuk menjauhinya.

Mudah-mudahan dalil-dalil yang kami kemukakan tadi sudah cukup dan memuaskan bagi setiap pencari kebenaran untuk mengingkari bid’ah ini, yakni bid’ah perayaan malam isra’ mi’raj, dan mewaspadainya, bahwa perayaan ini sama sekali tidak termasuk ajaran agama Islam. Kemudian dari itu, karena Allah telah mewajibkan untuk loyal terhadap kaum muslimin, menerangkan apa-apa yang disyari’atkan Allah kepada mereka dalam agama ini serta larangan menyembunyikan ilmu, maka saya merasa perlu untuk memperingatkan saudara-saudara saya kaum muslimin terhadap bid’ah ini yang sudah menyebar ke berbagai pelosok, sampai-sampai dikira oleh sebagian orang bahwa perayaan ini termasuk agama. Hanya Allah-lah tempat meminta, semoga Allah memperbaiki kondisi semua kaum muslimin dan menganugerahi mereka pemahaman dalam masalah agama. Dan semoga Allah menunjuki kita dan mereka semua untuk senantiasa berpegang teguh dengan kebenaran dan konsisten padanya serta meninggalkan segala sesuatu yang menyelisihinya. Sesungguhnya Dia Mahakuasa atas itu. Shalawat, salam dan berkah semoga dilimpahkan kepada hamba dan utusanNya, Nabi kita, Muhammad, keluarga dan para sahabatnya.

[At-Tahdzir minal Bida’, hal.16-20, Syaikh Ibnu Baz rahimahullah]

[Disalin dari buku Al-Fatawa Asy-Syar’iyyah Fi Al-Masa’il Al-Ashriyyah Min Fatawa Ulama Al-Balad Al-Haram, edisi Indonesia Fatwa-Fatwa Terkini, Darul Haq]

Sumber: Almanhaj.or.id
_________
Foote Note
[1]. HR. Muslim dalam Al-Aqdhiyah (18-1718).
[2]. HR. Muslim dalam Al-Jumu’ah (867).
[3]. HR. An-Nasa’i dalam Al-Idain (1578).
[4]. HR. Abu Dawud dalam As-Sunnah (4607). Ibnu Majjah rahimahullah dalam Al-Muqaddimah (42)

Iklan

15 Responses to Hukum Merayakan Malam ISRA’ MI’RAJ

  1. yudhie says:

    Bukankah syaikh ini jg yg menghalalkan darah muslim palestine hanya karena mereka gk mau keluar dari Israel??
    hehehee…..hati2 memilih imam…
    trims…

    • ibnuabbaskendari says:

      Semoga Allah memberikan hidayah kpd antum ketahuilah bahwa Daging para ulama itu beracun sebagaimana yg dikatakan oleh seorng imam Ahlus sunnah Imam Ahmad bin Hanbal rahimahullah: “Daging para ulama itu beracun. Siapa yang menciumnya maka ia akan sakit. Siapa yang memakannya maka ia akan mati.”

      Keluar dari Israel…?
      Siapa yg senang tinggal di negaranya orang YAHUDI…!!!?

      istighfarlah wa hai saudara, minta ampunlah kpd Allah dari tuduhan dusta kpd ulama sebab orang yang menghina ulama sama artinya dia mengumumkan perang kepada Allah ‘Azza wa jalla. Hal ini sebagaimana disebutkan dalam hadits tentang wali Allah yang diriwayatkan Al-Imam Al-Bukhari rahimahullah :
      عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ : قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صلى الله عليه وسلم : إِنَّ اللهَ تَعَالَى قَالَ : مَنْ عَادَى لِي وَلِيًّا فَقَدْ آذَنْتُهُ بِالْحَرْبِ – …رواه البخاري
      Dari Abu Hurairah radhiyallohu ‘anhu ”Sesungguhnya Allah ta’ala telah berfirman : ‘Barang siapa memusuhi wali-Ku, maka sesungguhnya Aku menyatakan perang terhadapnya… [HR. Al Bukhari]
      Dan para ulama, mereka adalah termasuk wali-wali Allah.

      adapun tuduhan saudara ini perlu pembuktian dari kitab mana beliau berpendapat demikian atau jangan2 ini adalah tuduhan orang2 yg memusuhi da’wahnya para ulama ahlus sunnah, maka hal ini adlh perkara yg lazim terjadi bahwa ahli bid’ah sangat membenci da’wah tauhid dan orang2 yg mengembannya, ketahuilah wahai saudaraku bahwa yg paling takut kpd Allah Ta’ala adlh para ulama sebgmn yg terdapat dalam firman-Nya.
      “Sesungguhnya yang takut kepada Allah di antara hamba-hamba- Nya, hanyalah ulama.” (QS. Fatir: 28)

      WAllahu a’lam

      • sinchan says:

        Israel itu bukan tanahnya Yahudi, tetapi tanahnya orang Palestina. kenapa Syeikh buta itu berfatwa mengeluarkan Muslim dari Israel dan bukan mengusir dan membubarkan negara Israel di Palestina

  2. yudhie says:

    Penyelewengan Albani

    Berikut diantara penyimpangan-penyimpangan Albani yang dicatat para ulama’

    1) Menyerupakan Allah dengan makhluk-Nya sebagaimana dia sebutkan dalam kitabnya berjudul Almukhtasar al Uluww hal. 7, 156, 285.

    2) Mengkafirkan orang-orang yang bertawassul dan beristighatsah dengan para nabi dan orang-orang soleh seperti dalam kitabnya “at-Tawassul” .

    3) Menyerukan untuk menghancurkan Kubah hijau di atas makam Nabi SAW (Qubbah al Khadlra’) dan menyuruh memindahkan makam Nabi SAW ke luar masjid sebagaimana ditulis dalam kitabnya “Tahdzir as-Sajid” hal. 68-69,

    4) Mengharamkan penggunaan tasbih dalam berdzikir sebagaimana dia tulis dalam kitabnya “Salsalatul Ahadits Al-Dlo’ifah” hadits no: 83.

    5) Mengharamkan ucapan salam kepada Rasulullah ketika shalat dg kalimat “Melarang Assalamu ‘alayka ayyuhan-Nabiyy”. Dia berkata: Katakan “Assalamu alan Nabiyy” alasannya karena Nabi telah meninggal, sebagaimana ia sebutkan dalam kitabnya yang berjudul “Sifat shalat an-Nabi”.

    6) Memaksa umat Islam di Palestina untuk menyerahkan Palestina kepada orang Yahudi sebagaimana dalam kitabnya “Fatawa al Albani”.

    7) Dalam kitab yang sama dia juga mengharamkan Umat Islam mengunjungi sesamanya dan berziarah kepada orang yang telah meninggal di makamnya.

    8 ) Mengharamkan bagi seorang perempuan untuk memakai kalung emas sebagaimana dia tulis dalam kitabnya “Adaab az-Zafaaf “,

    9) Mengharamkan umat Islam melaksanakan solat tarawih dua puluh raka’at di bulan Ramadan sebagaimana ia katakan dalam kitabnya “Qiyam Ramadhan” hal.22.

    10) Mengharamkan umat Islam melakukan shalat sunnah qabliyah jum’at sebagaimana disebutkan dalam kitabnya yang berjudul “al Ajwibah an-Nafiah”.

    Ini adalah sebagian kecil dari sekian banyak kesesatannya, dan Alhamdulillah para Ulama dan para ahli hadits tidak tinggal diam. Mereka telah menjelaskan dan menjawab tuntas penyimpangan-penyimpangan Albani. Diantara mereka adalah:

    1.Muhaddits besar India, Habibur Rahman al-’Adhzmi yang menulis “Albani Syudzudzuhu wa Akhtha-uhu” (Albani, penyimpangan dan kesalahannya) dalam 4 jilid;

    2.Dahhan Abu Salman yang menulis “al-Wahmu wath-Thakhlith ‘indal-Albani fil Bai’ bit Taqshit” (Keraguan dan kekeliruan Albani dalam jual beli secara angsuran);

    3.Muhaddits besar Maghribi, Syaikh Abdullah bin Muhammad bin as-Siddiq al-Ghumari yang menulis “Irgham al-Mubtadi` ‘al ghabi bi jawazit tawassul bin Nabi fil radd ‘ala al-Albani al-Wabi”; “al-Qawl al-Muqni` fil radd ‘ala al-Albani al-Mubtadi`”; “Itqaan as-Sun`a fi Tahqiq ma’na al-bid`a”;

    4.Muhaddits Maghribi, Syaikh ‘Abdul ‘Aziz bin Muhammad bin as-Siddiq al-Ghumari yang menulis “Bayan Nakth an-Nakith al-Mu’tadi”;

    5.Ulama Yaman, ‘Ali bin Muhammad bin Yahya al-’Alawi yang menulis “Hidayatul-Mutakhabbitin Naqd Muhammad Nasir al-Din”;

    6.Muhaddits besar Syria, Syaikh ‘Abdul Fattah Abu Ghuddah yang menulis “Radd ‘ala Abatil wal iftira’at Nasir al-Albani wa shahibihi sabiqan Zuhayr al-Syawish wa mu’azirihima” (Penolakan terhadap kebatilan dan pemalsuan Nasir al-Albani dan sahabatnya Zuhayr al-Syawish serta pendukung keduanya);

    7.Muhaddits Syria, Syaikh Muhammad ‘Awwama yang menulis “Adab al-Ikhtilaf” dan “Atsar al-hadits asy-syarif fi ikhtilaf al-a-immat al-fuqaha”;

    8.Muhaddits Mesir, Syaikh Mahmud Sa`id Mamduh yang menulis “Tanbih al-Muslim ila Ta`addi al-Albani ‘ala Shahih Muslim” (Peringatan kepada Muslimin terkait serangan al-Albani ke atas Shahih Muslim) dan “at-Ta’rif bil awham man farraqa as-Sunan ila shohih wad-dho`if” (Penjelasan terhadap kekeliruan orang yang memisahkan kitab-kitab sunan kepada shohih dan dho`if);

    9.Muhaddits Arab Saudi, Syaikh Ismail bin Muhammad al-Ansari yang menulis “Ta`aqqubaat ‘ala silsilat al-ahadits adh-dha`ifa wal maudhu`a lil-Albani” (Kritikan atas buku al-Albani “Silsilat al-ahadits adh-dha`ifa wal maudhu`a”); “Tashih Sholat at-Tarawih ‘Isyriina rak`ataan war radd ‘ala al-Albani fi tadh`ifih” (Kesahihan tarawih 20 rakaat dan penolakan terhadap al-Albani yang mendhaifkannya); “Naqd ta’liqat al-Albani ‘ala Syarh at-Tahawi” (Sanggahan terhadap al-Albani atas ta’liqatnya pada Syarah at-Tahawi”;

    10.Ulama Syria, Syaikh Badruddin Hasan Diaab yang menulis “Anwar al-Masabih ‘ala dhzulumatil Albani fi shalatit Tarawih”.

    Hati2 memilih imam yaaa…. :p

    • Dawud says:

      Blog salafy tobat adalah salah satu blog yang MENYIMPANG dan merupakan penentang Sunnah. Bisa mudah ditemui di beberapa tulisan dalam blog itu hadits-hadits yang lemah atau bahkan palsu (maudlu’), serta penentangan terhadap hadits yang shohih dengan alasan bahwa itu adalah hadits ahad.
      Silahkan saudara lihat bantahan ilmiyahnya disini: http://uswah.net/bantahan-situsblog-salafytobat.html
      Semoga Allah ‘Azza wa jalla menjadikan kita senantiasa mudah utk menerima kebenaran

  3. Dawud says:

    @ Yudhie: Semoga Allah memberikan hidayah kpdmu, cukuplah bg kami Firman Allah Ta’ala: “Sesungguhnya yang takut kepada Allah di antara hamba-hamba- Nya, hanyalah ulama.” (QS. Fatir: 28) dlm rangka membela kehormatan para ulama ahlus sunnah yg telah antum tuduh dgn tuduhan dusta dan kami tidak membela Syaikh bin Baz atau yg lainnya yg tidak luput dari tuduhan2 dusta, tetapi kami membela ulama krn mereka adalah pewaris para nabi

    kami juga beranggapan baik kpd antum dgn menganggap antum belum atau tidak mengenal mereka para ulama ahlus sunnah yg telah menghabiskan sebagian umur mereka dgn ilmu, dan semua yg antum nukilkan diatas itu adlh sekedar copas dan tdk melakukan penelitian utk berhati-hati dari mencela ulama, Alhamdulillah betapa banyak jama’ah haji dari pelosok dunia yg telah mengambil ilmu dr beliau baik ketika beliau masih hidup atau setelah beliau rahimahullah wafat melalui kajian atau fatwa2nya, buletin, buku yg dibagikan secara gratis oleh pemerintah Arab Saudi. berikut ini sedikit tentang profil beliau agar kita semakin mengenal siapa ulama yg mereka telah banyak melakukan utk agama islam dibandingkan kita apa yg telah kita lakukan terhdp agama kita: http://id.wikipedia.org/wiki/Abdul_Aziz_bin_Abdullah_bin_Baz
    Barakallahu fiik

    • yudhie says:

      Kalian bisa buktikan ato tidak yg saya copas diatas???
      bener ato tidak yg ada dlm kitab albani spt itu??
      jgn lngsung lempar sana lempar sini..hehhehee
      trims….

      • ibnuabbaskendari says:

        Sebagian (tidak semua benar tuduhan tsbt) yg saudaraku -yg semoga Allah merahmati kita- copas diatas memang benar akan tetapi apakah bisa dibuktikan bahwa itu adalah kesalahan dalam syariat islam…? diantara yg kami pahamai saat ini adalah menganggap Syaikh telah mengHARAMkan sesuatu padahal (jika kita paham bahasa arab) sebagaimana dlm kitab beliau itu adlh ijtihadnya yg mana sdh ada ulama terdahulu yg berpendapat demikian, sebagai contoh: Mengharamkan penggunaan tasbih dalam berdzikir. maka pertanyaannya adlh adakah sunnah Nabi ttg amalan ini..? adakah terdpat dalam hadits atau kitab Bukhori Muslim dan yg lainnya yg dishohihkan oleh Ahli Hadits dan yg telah disepakati oleh para pakar hadits…?

        wahai saudaraku yg dirahmati Allah, Kami nasehatkan pd diri kami pribadi dan antum karena Agama itu adalah nasehat sbgmn dlm hadits yg shohih, bahwa sebaiknya antum memperhatikan atau tdk meninggalkan Adab sebagai seorg Muslim karena seorg Muslim yg Baik itu tercermin pd Adab mereka, adalh agar tdk meMAKSAkan untuk memberikan komentar baik pd tempat yg lain ataupun disini utamanya yg terkesan menghalalkan segala cara, perlu antum ketahui bahwa kami bisa saja tidak menampilkan atau mendelete koment yg tdk mengarah kpd kebaikan dan takwa.. wallahu a’lam

  4. yudhie says:

    Kenapa Albani tidak mengharamkan dakwah lewat radio??
    Kenapa albani tidak mengharamkan ulama2 bayaran yg selalu diundang utk kajian2 kalian??yg pake embel2 LC itu?
    Kenapa kalian sibuk membid’ahkan muslim lain sementara imam kalian juga terkenal dg kontroversi-nya?
    Kenapa kalian sibuk meneliti kitab2 imam laen sementara kitab2 imam kalian jg penuh kontroversi-nya?
    Silakan saja didelete… : )
    toh semua orang jg udah tau..apa itu paham wahabi/salafi..
    Bandingkan dg 4 mazhab yg lebih besar n terpercaya diseluruh dunia.
    Para imamnya tidak pernah saling mem-bid’ahkan walaupun banyak terdapat perbedaan itjihad disana…
    Trims……

    • tommi says:

      Apa sih memangnya paham wahabi/salafi itu mas???

      Toh bila memang kau begitu bencinya pd negeri Saudi/wahabi/salafi, ya sudah kau tidakusahlah pergi haji kesana. Repot2 amat pake komen disini, hehehe…

      Semoga Allah Ta’ala melembutkan hatimu wahai saudaraku yg terkena virus taqlid buta.

  5. santri ndeso says:

    cukup bagi kita bersabar terhadap kejahilan dan kedengkian orang-orang bodoh,
    apa yang mereka lontarkan di komentar mereka cukup memberitahu orang-orang yang lurus dan mengerti ilmu akan siapa mereka…
    sungguh… ilmu dan sunnah sudah mulai tersebar di bumi pertiwi ini…
    dan sebaliknya… para pengekor hawa nafsu mulai kelabakan…
    semoga Alloh Ta’ala menjaga dan menguatkan dakwah tauhid yang penuh barokah ini…
    alhamdulillahi bini’matihi tatimmus sholhaat

  6. Sardina Subagio says:

    Berdakwah melalui Radio atau yang lainnya adalah perkara yg dibolehkan dalam agama kita yg mulia karna hal tersebut hanya sarana/tujuan untuk menyebarkan dakwah yg mana itu adalah salah satu nikmat Allah Ta’ala yg ada pada zaman ini

    yg perlu kita pahami bersama bahwa hal tersebut hanyalah sarana bukan metode yg mana kita hal tersbt tidak ada maka dakwah masih bisa berjalan beda dengan metode yg tidak bisa berjalan jika tidak diterapkan, jadi pertanyaannya bolehkah JT berdakwah tampa metode/manhaj khurujnya (yg mana hal tersbt adalah jelas perkara bid’ah)…? kalau Radio (sarana dakwah), insya Allah tampa Radio dakwah boleh jalan, dan ada radio dakwah juga bisa jalan dan bahkan banyak orang-orang yg bisa mengambil faedah dari siaran kajiannya

    Apa bedanya Radio dgn pengeras suara untuk Adzan, dan bagaimana org yg rabun misalnya membaca dgn kacamata atau tampa kacamata…..?

  7. Ping-balik: Hukum Merayakan Malam Isra’ dan Mi’raj « Blog Abu Umamah™

  8. Ping-balik: Peringatan Isra’ Mi’raj « Madrasah Ibnu Abbas As-Salafy Kendari

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: