SUAMI YANG MURAH HATI DAN ISTRI YANG MENSYUKURI

Ustadz Abu Ammar al-Ghoyami

Nafkah istri atau sering disebut ‘uang belanja’ ternyata memiliki peran yang cukup apik bagi banyak pasutri, Ia juga berperan aktif dalam menopang kokohnya bangunan rumah tangga.

Bagi suami tipe laki-laki yang bertanggung jawab akan mudah baginya memenuhi kebutuhan keluarga dengan cara  halal lagi baik, sehingga akan membahagiakan istri dengan memenuhi hak-haknya. Di sisi lain ada istri yang bertipe tak tau diuntung, tidak lagi peduli dengan apa yang harus dia lakukan dengan nafkah pemberian suaminya, maka petaka pun tak kuasa dihindari dan badai pun mengguncang biduk yang sedang berlayar ditengah samudra.

Cekcok terjadi, maudhu’(tema)nya “belanja keluarga”. Yang dipermasalahkan , pada umumnya bukan perihal suami yang tidak sedikitpun memberi  istri belanja keluarga, namun tentang sedikitnya jumlah belanja yang diberikan atau karena kemampuan suami sangat terbatas dalam member nafkah yang mencukupi, juga karena tuntutan istri kepada suaminya meminta uang belanja yang lebih besar jumlahnya serta tidak merasa cukup dengan nafkah yang wajar dan sesuai dengan keadaan. Hal-hal inilah yang mengakibatkan timbulnya keluhan dan benturan dalam kehidupan pasutri.

Sebagaiman dikisahkan dalam sebuah riwayat:

Dari Asma Radiyallahu ‘anha, dia berkata :”Aku berkata kepada Nabi Shallalahu ‘alaihi wa sallam: ‘Sesungguhnya saya tidak memiliki sesuatu kecuali apa yang Zubair berikan kepada saya (tatkala dia mempersunting saya), maka saya mengambil sebagian hartanya .’Beliau Shallalahu ‘alaihi wa sallam bersabda:’Ambil dan belanjakanlah tetapi jangan curang sehingga kecuranganmu akan mempersulitmu.” [1]

CERMATILAH FAKTOR PENYEBABNYA

Jika kita cermati kehidupan pasutri dari sebelum pernikahan hingga mereka halal hidup bersama, akan kita dapati latar belakang mereka berbeda-beda. Tentu saja kita memaklumi bahwa suami yang latar belakang kehidupannya biasa-biasa dan pas-pasan tidak layak dituntut memberikan belanja kepada istrinya yang melebihi kesanggupannya yang hanya pas-pasan itu. Di sisi lain, kita juga memaklumi apabila istri yang memilki latar belakang kahidupan seraba kecukupan, bahkan melebihi kebutuhannya, berbeda nafkahnya dengan istri yang latar belakannya terbiasa hidup pas-pasan.

Latar belakang sosial yang berbeda-beda ini hanya satu faktor penyebab konflik keluarga seputar belanja. Ada pula beberapa factor lain, seperti sifat istri yang berlebihan dalam membelanjakan nafkah suaminya atau sifat kikir suami terhadap istrinya. Semua harus dicermati lalu diperkecil dan bahkan harus ditiadakan pengaruhnya agar tidak menimulkan konflik yang lebih besar dalan keluarga.

HARUS DIPAHAMI BERSAMA

Untuk menanggulangi masalah perlu ada kepahaman pasutri terhadap beberapa pokok yang mendasari kehidupan berkeluarga.

Pertama, bahwasanya pemberian nafkah kepada istri merupakan kewajiban yang sangat nyata bagi para suami.

Alloh Subhanahu wa ta’ala menyatakan hal ini dalam firman-Nya (yang artinya) :

Kaum laki-laki itu adalah pemimpin bagi kaum wanita,oleh karena Alloh telah melebihkan sebagian mereka(laki-laki) atas sebagian yang lain(wanita), dan karena mereka (laki-laki) telah menafkan sebagian dari harta mereka…(Qs. An-Nisa’[4]:34)

Sebagaimana disebutkan dalam sebuah hadits dari Hakim bin Mu’awiyah al-Qusyairi dari bapaknya berkata: Aku bertanya:”Ya Rosululloh, apa saja hak-hak istri salah seorang diantara kita yang menjadi kewajiban suaminya?”Beliau Shallallahuh ‘alahi wa sallam menjawab:

أَنْ تُطْعِمَهَا إِذَا طَعِمْتَ وَتَكْسُوَهَا إِذَا اكْتَسَيْتَ وَلَا تَضْرِبْ الْوَجْهَ وَلَا تُقَبِّحْ وَلَا تَهْجُرْ إِلَّا فِي الْبَيْتِ.

“Kamu memberinya makan bila kamu makan dan kamu beri pakaian bila kamu berpakaian dan jangan memukul wajahnya dan jangan pula kamu menjelek-jelekkannya dan jangan kamu memisahinya dari tempat tidurnya melainkan (kamu juga tetap tidur)di rumah.” [2]

Oleh karena itu, istri berhak meminta belanja kepada suaminya, diantaranya berupa makan, minum, maupun pakaian, sementara suami tidak boleh menolak hak istrinya tersebut dan dia harus membelanjakan hartanya untuk memenuhi hak-hak istri,sebab demikianlah yang telah ditetapkan oleh Alloh dan Rosul-Nya.

Kedua, bahwasanya kewajiban suami memberikan belanja kepada istri tidak ditetapkan batasannya selain, “dengan cara yang ma’ruf’. Perhatikan firman Alloh Subhanahu wa ta’ala berikut ( yang artinya):

dan kewajiban ayah memberi makan dan pakaian kepada para ibu dengan cara yang ma’ruf. Seseorang tidak dibebani melainkan menurut kadar kesanggupannya.(Qs. Al-Baqoroh [2]:233).

Alloh Subhanahu wa ta’ala menetapkan batasan nafkah sandang dan pangan bagi para istri atas suami dengan batasan ma’ruf. Artinya dengan cara yang paling patutmenurut tradisi yang baik dan sesuai dengan kesanggupan suami.

Terkadang masalah timbul ketika seorang suami memberikan batasan tertentu untuk anggaran belanja kebutuhan tertentu. Timbulnya masalah bukan lantaran dianggarkannya kebutuhan tersebut, melainkan karena besarnya anggaran tidak patut /sesuai dengan situasi dan kondisi yang baik. Hal ini harus dipahami oleh para suami.

Adapun para istri, mereka hendak mengambil pelajaran dari kisah dalam hadits berikut:

Dari Aisyah Rhadiyallahu ‘anhu bahwa hindun bintu ‘Utbah berkata: “Ya Rosulullol,Sesungguhnya Abu Sufyan adalah tipe laki-laki kikir dan tidak memeberi saya nafkah yang memadai untuk diri saya dan anak-anak saya kecuali yang saya ambil dari sebagian hartanya dan dia tidak mengetahuinya.”Nabi Shallahu ‘alahi wa sallam mengatakan : “ Ambillah sebagian hartanya untuk memenuhi kebutuhan mu dan anak-anakmu dengan cara ma’ruf, yang patut.”(Mutta-faqun ‘alaih).

YANG SEHARUSNYA DILAKUKAN

Dari kedua hal pokok diatas, hendaknya para suami tak perlu ragu-ragu bekerja keras untuk memberikan nafkah sandang dan pangan yang cukup buat istri sesuai dengan kesanggupanya. Hendaknya sang suami merasa terhormat manakala mampu menafkahi istri dalam jumlah yang cukup menurut kadar kemampuannya, sebab dengan ini berarti ia telah membelanjakan hartanya yang paling utama. Rosululloh Shallahu ‘alahi wa sallam bersabda:

أَفْضَلُ دِيْنَارٍ دِيْنَارٌ يُنْفِقُهُ الرَّجُلُ عَلَى عِيَالِهِ وَدِيْنَارٌ يُنْفِقُهُ الرَّجُلُ عَلَى دَابَّتِهِ فِي سَبِيْلِ اللهِ وَدِيْنَارٌ يُنْفِقُهُ عَلَى أَصْحَابِهِ فِي سَبِيْلِ اللهِ.

“Dinar yang paling utama adalah yang dinafkahkan seorang suami bagi keluarganya, dan yang ia nafkahkan bagi tunggangan untuk jihad di jalan Alloh, dan yang ia nafkahkan untuk sahabat-sahabatnya di jalan Alloh” [3]

Nah, ini berarti suami seharusnya bersifat penderma, dan bangga sanggup bermurah hati kepada istrinya.

Sedangkan para istri, hendaknya mereka tidak menuntut nafkah belanja keluarga –sandang,pangan,maupun kebutuhan keluarga yang lainnya –secara berlebihan. Hendaknya dia menuntut sebatas kewajaran dan sebatas apa yang umum terjadi di tengah kehidupan manusia. Dan harus diingat apa yang telah Alloh Subhanahu wa ta’ala dan Rosul-Nya tetapkan , bahwa batas kewajiban yang harus suami tunaikan kepada kalian adalah bil ma’ruf saja.

Seandainya istri dibolehkan menuntut dalam jumlah tertentu menurut syari’at, tentunya Rosulullah Shallahu ‘alahi wa sallam akan menyuruh hindun mengambil dengan “ jumlah tertentu” tersebut dari harta suaminya, namun hal itu tidak beliau Shallahu ‘alahi wa sallam lakukan. Berarti kewajiban istri  atas hak-hak yang diterimanya adalah mensyukuri meski seberapa pun yang telah ia terima dengan cara yang ma’ruf.

Akhir kalam, semua ini membuahkan kesimpulan bahwa kebahagian pasutri berkenaan dengan uang belanja ada pada kemurahan hati suami dan banyak bersyukurnya istri. Wallohu A’lam.

Disalin kembali oleh Ummu Ayyub dari Majalah al-Mawaddah Edisi 7 thn ke 1. Muharraom-Shofar 1429.H/Februari 2008.M

Catatan Kaki


[1] Hadits shohih, an-Nasai dalam Sunan Kubro 5/378/9192

[2] Hadits shohih, Abu Dawud:2142 dan Ahmad 4/447

[3] Hadits shohih, an-Nasa’I dalam sunan kubro: 5/376/9182.

4 Responses to SUAMI YANG MURAH HATI DAN ISTRI YANG MENSYUKURI

  1. mubarokatan says:

    semoga kita bisa mengambil hikmah yang terkandung dalam artikel ini

  2. budi says:

    subhanallah, menyentuh sekali bacaaan ini.

  3. mahfud says:

    Apakah ada pembagian uang belanja dan uang nafkah,tiba2 istri berkata uang belanja sama uang nafkah itu beda…?seandainya benar berarti selama ini saya tdk pernah menafkahi istri,pdhl rumah sandang pangan sudah terpenuhi,dan bilang itu semua hanya uang belanja bukan uang nafkah ,dan gk ada dasarnya juga? mohon pencerahanya…?

  4. kebahagian pasutri berkenaan dengan uang belanja ada pada kemurahan hati suami dan banyak bersyukurnya istri. maksudnya ???

    ini ya…

    apabila seorang suami berpenghasilan wahh maka ia harus murah hati membagi uang belanjanya kpd istri dg kecukupan

    dan apabila seorang suami mpy rizki sedikit maka istri harus menerima dg rasa banya bersyukur

    gitu ya…

    salam, abu yazid uwais bjm
    abuyaziduwais02@gmail.com

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: