BERAKHLAK MULIA DAN BERAKIDAH YANG BENAR

Ustadz Abu Abdirrahman Abdullah Zaen. MA

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

(بعثت لأتمم مكارم الأخلاق).

“Aku diutus untuk menyempurnakan akhlak yang mulia”.[1]

Kekuatan akhlak mulia dalam menarik hati masyarakat untuk menerima dakwah al-haq sangatlah besar. Telah banyak bukti sejarah yang membenarkan hal itu, mulai dari zaman Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam sampai zaman ini.

Di antara contoh nyata kekuatan akhlak dalam menarik orang kafir masuk ke agama Islam adalah: sejarah masuknya Islam ke bumi pertiwi. Terlepas dari polemik panjang kapan Islam masuk ke Indonesia; apakah abad ke VII H atau abad I H?, juga terlepas dari polemik apakah ajaran Islam yang pertama kali masuk ke tanah air ajaran Islam yang masih murni atau ajaran Islam yang telah tercemari pemikiran tasawuf?, terlepas dari itu semua; para ahli sejarah yang berbicara tentang sejarah masuknya Islam ke Indonesia, mereka semua sepakat bahwa Islam masuk ke Indonesia bukan dengan pedang (baca: kekerasan).

Namun Islam bisa diterima oleh masyarakat Indonesia -yang notabene saat itu telah memeluk agama Hindu dan Budha- karena mereka sangat tertarik dengan mulianya budi pekerti para pembawa Islam saat itu, sehingga mereka berbondong-bondong memeluk agama Islam dalam waktu kurang dari satu abad, karena takjub dengan keindahan akhlak yang diajarkan Islam[2].

Di antara contoh nyata kekuatan akhlak dalam menarik ahlul bid’ah dari kaum muslimin untuk kembali ke sunnah: kisah perjuangan dakwah Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab rahimahullah.

Siapa yang tidak mengakui pengaruh dakwah tauhid yang dicetuskan oleh Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab rahimahullah. Betapa banyak umat di berbagai penjuru dunia yang saat ini turut merasakan buah manis dari dakwah yang penuh berkah itu.

Di antara rahasia keberhasilan dakwah yang diusung beliau dan murid-muridnya adalah: besarnya peran akhlak mulia dalam menarik hati orang-orang yang pada awalnya sangat memusuhi dakwah itu.

Di antara para ulama yang termasuk dalam jajaran a’immah ad-da’wah yang tinggal di kota Mekah adalah Syaikh Ahmad bin ‘Isa rahimahullah beliau adalah salah satu murid pengarang kitab Fathul Majid: Syaikh Abdurrahman bin Hasan cucu Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab rahimahumullah.

Untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari Syaikh Ahmad bin ‘Isa rahimahullah berdagang kain. Setiap tahunnya dia membeli kain dengan jumlah besar di kota Jedah dari seorang pedagang sufi bernama Abdul Qadir at-Tilmisani. Kain itu seharga seribu junaih emas, sebagai uang muka Syaikh Ahmad membayar empat ratus junaih, adapun sisanya maka beliau cicil perbulan. Cicilan terakhir beliau berikan kepada at-Tilmisani ketika dia pergi berhaji ke Mekah.

Bertahun-tahun transaksi bisnis antara mereka berdua berjalan demikian. Dan Syaikh Ahmad selalu tepat waktu dalam membayar cicilan dan sama sekali tidak pernah terlambat dalam menunaikan hak at-Tilmisani.

Maka suatu hari at-Tilmisani berkata, “Saya telah bergaul dan bertransaksi dengan berbagai macam bentuk manusia selama empat puluh tahun, namun aku tidak pernah menemukan orang yang lebih baik dari akhlakmu wahai wahabi!. Nampaknya isu-isu buruk tentang kalian, semata-mata dusta dari musuh-musuh politik kalian! Mereka menuduh kalian tidak mau bershalawat kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam!”.

Serta merta Syaikh Ahmad membalas, “Subhanallah, ini adalah dusta yang amat besar! Madzhab yang kami anut (mazhab Hambali) berpendapat bahwa orang yang tidak bershalawat kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam ketika tasyahud akhir, shalatnya tidak sah! Akidah yang kami anut meyakini bahwa orang yang tidak cinta kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam maka dia kafir!. Sebenarnya yang kami ingkari adalah sikap pengagungan yang berlebihan yang telah dilarang oleh Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam, kami juga mengingkari perbuatan istighatsah serta minta tolong kepada orang-orang yang telah mati. Seluruh ibadah itu hanya kami persembahkan kepada Allah semata!”.

Kemudian terjadilah diskusi antara Syaikh Ahmad dengan at-Tilmisani seputar tauhid uluhiyah selama tiga hari, hingga Allah membuka hati at-Tilmisani untuk menerima akidah salaf. Adapun dalam masalah tauhid asma’ wa shifat, maka diskusi antara mereka berdua berlangsung selama lima belas hari; karena at-Tilmisani pernah belajar di al-Azhar Mesir; sehingga akidah Asy’ariyah sudah sangat mendarah daging dalam dirinya. Namun akhirnya Allah membuka juga hati at-Tilmisani untuk menerima akidah salaf dalam masalah asma’ wa shifat.

Setelah itu, Syaikh at-Tilmisani pun menjadi donatur dakwah salaf untuk membiayai pencetakan dan penyebaran kitab-kitab salaf, serta menjadi salah satu da’i yang menyerukan kepada manhaj salaf. Setelah sebelumnya beliau amat membenci ‘dakwah wahabi’ yang dicetuskan oleh Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab rahimahullah[3].

Ini semua adalah berkat pertolongan dari Allah Ta’ala, lalu berkat akhlak mulia para da’i Ahlus Sunnah saat itu.

Masyarakat apalagi orang awam sangat terkesan dengan akhlak mulia, seringkali mereka lebih mencintai para dai ahlul bid’ah karena akhlak mereka yang mulia, padahal kita Ahlus Sunnah lebih berhak untuk berakhlak mulia.

Seyogyanya para da’i Ahlus Sunnah di samping berkonsentrasi membenahi akidah umat, mereka juga menyisipkan di dalam kajian-kajian mereka pentingnya akhlak yang mulia terutama berbakti kepada orang tua. Ibadah yang mulia ini -yakni berbakti kepada orang tua- telah sering dilupakan oleh banyak orang -bahkan sampai mereka yang sudah ‘ngaji’ pun terkadang lalai darinya-. Padahal jika ibadah yang mulia ini betul-betul diterapkan oleh para ikhwah Ahlus Sunnah dalam keseharian mereka; niscaya banyak ‘jurang-jurang lebar’ antara anak yang sudah ngaji dengan orang tua mereka yang masih awam; yang bisa dipersempit.

Kerenggangan antara orang tua dan anak itu seringkali terjadi akibat ‘benturan-benturan’ yang terjadi sebagai dampak dari orang tua yang masih awam memaksa si anak untuk menjalani beberapa ritual yang berbau syirik, di satu sisi si anak berpegang teguh dengan al-haq yang telah ia yakini. Akhirnya yang terjadi adalah timbulnya kerenggangan antara penghuni rumah tersebut. Hal itu semakin diperparah ketika si anak kurang bisa mencairkan suasana dengan mengimbangi kesenjangan tersebut dengan melakukan hal-hal yang bisa membahagiakan orang tuanya.

Padahal betapa banyak hati orang tua yang luluh untuk menerima al-haq yang dibawa si anak, bukan karena pintarnya anak berargumentasi, namun karena terkesannya sang orang tua dengan akhlak dan budi pekerti anaknya yang semakin mulia setelah dia ngaji! Penjelasan ini sama sekali tidak mengecilkan urgensi argumentasi yang kuat, namun alangkah indahnya jika seorang muslim apalagi seorang salafi bisa memadukan antara argumentasi yang kuat dengan akhlak yang mulia!

Ada tiga catatan penting di akhir bahasan ini:

Pertama: Untuk merealisasikan akhlak mulia ini bukan berarti kita ‘melarutkan’ diri dalam ritual-ritual bid’ah yang ada di masyarakat dengan alasan penerapan akhlak mulia!

Kita bisa bermasyarakat tanpa mengikuti yasinan, tahlilan, maulidan atau acara-acara bid’ah lainnya.

Caranya? Kita berusaha untuk berpartisipasi dalam acara-acara kemasyarakatan yang tidak mengandung unsur penyimpangan terhadap syari’at, contohnya: kita bisa berpartisipasi dalam kerja bakti, pembuatan taman RT, kumpul bulanan RT, menjenguk tetangga yang sakit, mengantar jenazah ke pemakaman, membantu orang yang sedang ditimpa musibah, menebarkan salam, berbagi masakan ketika kita sedang masak makanan yang enak, membantu membawakan barang belanjaan seseorang yang baru pulang dari pasar, membantu mendorong becak yang keberatan bawaan ketika dia menaiki jalan yang menanjak dan lain sebagainya.

Dengan berjalannya waktu, masyarakat akan paham bahwa ketidak ikutsertaan kita dalam ritual-ritual bid’ah bukan berarti karena kita sedang mengucilkan diri dari mereka, namun karena hal itu berkaitan dengan keyakinan yang ‘tidak ada tawar-menawar’ di dalamnya.

Kedua: Sebagian pihak ‘mengolok-olok’ beberapa da’i Ahlus Sunnah yang tidak jemu-jemunya menekankan pentingnya akhak mulia, dengan mengatakan bahwa mereka telah tasyabbuh (menyerupai) salah satu kelompok ahlul bid’ah yang terkenal berkonsentrasi dalam membenahi akhlak umat namun mengabaikan pembenahan akidah.

Jawabannya:

A. Barangkali pihak yang gemar ‘mengolok-olok’ itu lupa bahwa dakwah Salafiyyah Ahlus Sunnah bukanlah dakwah yang hanya mengajak kepada akidah yang benar saja, namun dia juga merupakan dakwah yang mengajak kepada penerapan akhlak mulia dalam kehidupan sehari-hari; karena dakwah Ahlus Sunnah tidak lain adalah agama Islam yang dibawa Rasulullah r, di mana Islam memadukan antara akidah, ibadah dan akhlak.

Imam Bisyr al-Hafi rahimahullah berkata, “Sunnah adalah Islam dan Islam adalah Sunnah”[4].

B. Seandainya ada sebagian ahlul bid’ah menonjol dalam pengamalan beberapa sisi syari’at islam, apakah kita akan mengabaikannya hanya karena mereka lebih terkenal dalam penenerapannya?! Bukankah justru sebaliknya kita harus berusaha membenahi diri dengan menutupi kekurangan yang ada pada diri kita, sehingga kita benar-benar bisa menerapkan ajaran Ahlus Sunnah secara komprehensif dan bukan sepotong-sepotong?!

Ketiga: Mungkin pula ada sebagian pihak lain yang ketika ia merasa jenuh melihat kekurangan sebagian Ahlus Sunnah dalam penerapan akhlak islami, dia cenderung ‘menjauhi’ mereka dan memilih ‘bergabung’ dengan kelompok-kelompok ahlul bid’ah yang terkenal menonjol dalam sisi itu.

Sikap ini juga kurang tepat; karena justru yang benar seharusnya dia berusaha membenahi diri dengan ‘merenovasi’ akhlaknya yang kurang mulia, lalu berusaha terus menerus pantang mundur untuk menasehati saudara-saudaranya sesama Ahlus Sunnah guna memperbaiki akhlak mereka, bukan malah menjauh. Mari kita selesaikan suatu masalah dengan cara yang tidak menimbulkan masalah lain!. Wallahu a’lam

Disalin Kembali dari buku: “14 Contoh Hikmah Dalam Berdakwah” Oleh: Abu Abdirrahman Abdullah Zaen

(Mahasiswa Pasca Sarjana Universitas Islam Madinah)

Artikel: ibnuabbaskendari.wordpress.com

Catatan Kaki:


[1] HR. Al-Hakim di dalam al-Mustadrak (II/670 -CD) dan beliau menyatakan bahwa hadits ini shahih menurut syarat Imam Muslim. Demikian pula Imam adz-Dzahabi mengomentari hadits ini dengan pernyataan yang serupa.

[2] Lihat: Indunisiya, karya Mahmud Syakir: hal. 29. Untuk mengetahui polemik seputar kapan Islam masuk ke Indoneisa, silahkan rujuk: Menemukan Sejarah karya Ahmad Mansur Suryanegara (hal.75-94), Jaringan Ulama Timur Tengah dan Kepulauan Nusantara karya Azyumardi Azra (hal. 2-19), dan Sejarah Umat Islam Indonesia karya Taufiq Abdullah dkk: (hal. 33-47). Untuk mengetahui polemik seputar ajaran yang bagaimana yang masuk Indonesia pertama kali silahkan rujuk: ash-Shufiyyah fi Indonesia Nasy’atuha wa Tathawwuruha karya Farhan Dhaifru (hal. 38-58).

[3] Lihat: ’Ulama Najd karya Syaikh Abdullah al-Bassam (hal. 156-158).

[4] Syarh as-Sunnah karya Imam al-Barbahari (hal. 126).

3 Responses to BERAKHLAK MULIA DAN BERAKIDAH YANG BENAR

  1. Hasan Ar-Rosyid says:

    Subhanallah, Allahu Akbar. Salafy memang dakwah yang diseru dengan kasih sayang. dan direalisasikan dengan akhlak Rasulullah. dakwah dengan kelembutan, kasih sayang dan tidak memaksakan kehendak. wajarlah jika banyak yang dengan sukarela tanpa dipaksa untuk mengikuti manhaj ini, Semoga Allah Taala meridhoi dakwah ini. amin

  2. mojang garut says:

    ya semoga,tpi ingat katakanlah bahwa yang haq itu haq.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: