Larangan Memahami Agama Dengan Pemahaman Yang Dangkal

Syaikh Salim bin ‘Ied Al-Hilali

Diriwayatkan dari ‘Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu, ia berkata, Saya mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Di akhir zaman nanti, akan muncul sekelompok orang yang masih muda usia dan lemah akal. Mereka menyerukan sebaik-baik perkataan.[1] Mereka membaca Al-Qur’an tapi tidak melewati kerongkongan mereka (tidak memahaminya). Mereka keluar dari agama laksana anak panah yang melesat dari busurnya. Jika kalian menemukan mereka, maka bunuhlah mereka. Karena telah tersedia pahala di sisi Allah pada hari kiamat [2] nanti bagi siapa saja yang membunuh mereka.” (HR. Muslim, 1066)

Diriwayatkan dari Abu Waa-il, ia berkata: Seorang lelaki bernama Nahiik bin Sinan datang menemui ‘Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu dan berkata: ‘Wahai Abu ‘Abdirrahman, bagaimanakah engkau membaca ayat ini? Dengan huruf alif yakni min maa-in ghairi aasin [3], ataukah dengan yaa’ yakni min maa-in ghairi yaasin?’ Maka Ibnu Mas’ud pun menjawab: ‘Apakah seluruh isi Al-Qur’an telah habis engkau pelajari kecuali huruf ini?’ Ia (orang itu) berkata lagi: ‘Sesungguhnya aku membaca surat-surat Mufashshal dalam satu raka’at!’ (Maka) ‘Abdullah bin Mas’ud menimpali: ‘Apakah engkau komat-kamit seperti membaca sya’ir?’ Sesungguhnya sejumlah orang membaca Al-Qur’an tapi tidak melewati kerongkongan mereka [4]. Akan tetapi manakala bacaan itu meresap ke dalam hati dan bersemayam di dalamnya, maka barulah memberi manfaat.” (HR. Muslim, 722).

Diriwayatkan dari ‘Abis al-Ghifari radhiyallahu ‘anhu, ia berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Segeralah beramal sebelum datang enam perkara berikut: Kepemimpinan orang jahil, menjamurnya aparat-aparat keamanan, pemutusan tali silaturahim, hukum diperjual belikan, nyawa tidak ada harganya, munculnya generasi yang menjadikan Al-Qur’an sebagai nyanyian. Orang-orang mempersilahkannya maju padahal ia bukanlah orang yang paling paham dan paling berilmu. Mereka mempersilahkannya maju semata-mata karena ia bisa menyenandungkan Al-Qur’an buat mereka!” (Silsilatul Ahaadiitsish Shahiihah, 979).

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sesungguhnya Allah tidak mencabut ilmu dengan cara mencabutnya langsung dari hamba-hamba-Nya, tetapi Allah mencabut ilmu dengan cara mematikan ulama. Jika tidak ada lagi orang alim, manusia akan menjadikan orang bodoh sebagai pemimpin. Jika ditanya, mereka akan memfatwakan sesuatu tanpa ilmu pengetahuan hingga mereka sesat dan menyesatkan.” (HR. Bukhari).
Jahil tentang maqaashid syari’at dan membicarakannya atas dasar dugaan dan prasangka belaka serta mengomentarinya hanya dengan pandangan sekilas saja tidaklah termasuk ilmu yang berguna. Oleh sebab itu, Rasulullah mensifati kaum Khawarij – yang keluar dari Islam, sebagaimana anak panah melesat dari busurnya – bahwa mereka membaca Al-Qur’an tapi tidak melewati kerongkongan mereka. Yakni bacaan itu tidak meresap ke dalam hati mereka. Sekiranya meresap ke dalam hati, tentu akan bersemayam kokoh dan bermanfaat baginya sebagaimana dikatakan oleh ‘Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu. Mereka berpuas diri dengan pemahaman yang dangkal. Mereka hanya berpatokan kepada makna harfiah atau arti tekstual saja.

Mereka menganggap diri mereka masuk dalam barisan ulama atau fuqaha’, padahal termasuk dalam deretan orang-orang jahil. Mereka berkutat dengan secuil ilmu yang dimilikinya sehingga hanya mampu melihat secara garis besarnya saja dan belum meneliti lebih jauh nash-nash yang ada agar dapat menghubungkan antara kaidah-kaidah juz-‘iyyah (substantif) dengan kaidah-kaidah kuliyyah (inti atau pokok). Mereka (hanya) bersandar kepada kaidah juz-iyyah untuk merubuhkan kaidah kulliyah. Sehingga sekilas terlihat seolah-olah telah menyelami seluruh maknanya padahal tidak mengetahui inti yang dimaksud. Oleh sebab itu mereka sangat mudah tersesat dan kehilangan arah serta tujuan, laksana orang yang berjalan tak tentu arah di malam kelam.

Paham yang dangkal ini merupakan malapetaka yang menimpa kaum muslimin. Hingga kelak orang-orang yang berpemahaman dangkal ini akan keluar bersama Dajjal – semoga Allah melindungi kita dari musibah yang ditimbulkannya dan memelihara kita dari syubhat-syubhatnya – sebagaimana diriwayatkan dari ‘Abdullah bin ‘Umar radhiyallahu ‘anhu , ia berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Akan muncul sekelompok orang [5] yang membaca Al-Qur’an tapi tidak melewati kerongkongan mereka. Setiap kali muncul mereka pasti ditumpas habis [6]. Hingga keluar Dajjal dalam barisan mereka [7].” (Hadits shahih. Diriwayatkan oleh Ibnu Majah, 174, dengan sanad shahih).

Malapetaka paham yang dangkal, yang telah melahirkan sikap ekstrim dan berlebih-lebihan dalam agama telah menjadi terminal bagi tempat berkumpulnya kaum khawarij dahulu dan sekarang, inilah yang telah mengobarkan fitnah-fitnah (pertumpahan darah) dan membangkitkan perselisihan di sepanjang zaman.

Diriwayatkan dari Abu Bakrah radhiyallahu ‘anhu: Bahwasanya ketika hendak berangkat shalat, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bertemu dengan seorang lelaki yang sedang sujud. Setelah menyelesaikan shalat, beliau masih mendapati lelaki itu sujud. Lalu beliau bangkit dan berkata: “Siapakah yang bersedia membunuh lelaki itu?” Lalu bangkitlah seorang lelaki, ia menyingsingkan lengannya dan menghunus pedangnya dan mengayunkannya, kemudian ia berkata: “Wahai Rasulullah, ayah dan ibuku jadi tebusannya, bagaimana mungkin aku membunuh seorang lelaki yang sedang sujud dan bersaksi tiada Ilah yang berhak diibadahi selain Allah dan Muhammad adalah hamba Allah dan utusan-Nya?” Rasulullah kembali berkata: “Siapakah yang bersedia membunuh lelaki itu?” Lalu bangkitlah seorang lelaki, ia menyingsingkan lengannya dan menghunus pedangnya dan mengayunkannya sampai bergetar tangannya, kemudian ia berkata: “Wahai Rasulullah, bagaimana mungkin aku membunuh seorang lelaki yang sedang sujud dan bersaksi tiada Ilah yang berhak diibadahi selain Allah dan Muhammad adalah hamba dan utusan-Nya?” Maka Rasulullah pun berkata: “Demi Allah yang jiwaku berada di tangan-Nya, andaikata kalian membunuhnya, maka itu merupakan awal fitnah (pertumpahan darah) dan sekaligus menjadi akhirnya.” (Hadits shahih. Diriwayatkan oleh Ahmad, V/42, dengan sanad shahih).

Dalam riwayat lain dari hadits Anas radhiyallahu ‘anhu ditambahkan, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata: “Siapakah di antara kalian yang bersedia membunuh lelaki ini?” ‘Ali berkata: “Saya.” Rasulullah berkata: “Engkaulah yang membunuhnya jika engkau masih menemukannya.” Lalu ‘Ali pun segera mendatangi lelaki itu namun ia tidak menemukannya, lalu ia kembali menemui Rasulullah. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata: “Apakah engkau telah membunuhnya?” ‘Ali menjawab: “Aku tidak tahu kemana ia pergi!” Rasulullah berkata: “Lelaki itu adalah kelompok pertama yang keluar dari umatku. Kalaulah engkau membunuhnya, niscaya umatku tidak akan saling berselisih.” (Hadits hasan lighairihi, diriwayatkan dari Anas oleh Abu Ya’la, III/1019-1020.[8] Juga dari Musa bin ‘Ubaidah diriwayatkan oleh Abu Ya’la, III/1025-1026.[9]
Salah satu contoh paham yang dangkal adalah kisah dialog yang terkenal antara ‘Abdullah bin ‘Abbas radhiyallahu ‘anhu dengan kaum Khawarij. Dari potongan sebuah hadits yang sangat panjang, diriwayatkan dari Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhu: Ketika kaum Haruriyah (salah satu sekte Khawarij) mengasingkan diri ke sebuah kampung, saat itu mereka berjumlah 6000 orang, mereka sepakat melakukan pembangkangan terhadap ‘Ali bin Abi Thalib. Orang-orang terus mendatangi ‘Ali dan berkata: “Wahai Amirul Mu’minin, sesungguhnya mereka telah membangkang terhadapmu.” ‘Ali berkata: “Biarkanlah mereka; aku tidak akan memerangi mereka hingga merekalah yang lebih dahulu memerangiku, dan tidak lama lagi mereka akan melakukannya [10].” Pada suatu hari, aku pun (Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhu) datang menemui beliau sebelum shalat Zhuhur. Kukatakan kepadanya: “Wahai Amirul Mu’minin, akhirkanlah pelaksanaan shalat hingga suhu udara dingin, barangkali aku bisa berdialog dengan mereka, kaum Khawarij.” “Aku mengkhawatirkan keselamatanmu.”, kata ‘Ali. Saya katakan: “Jangan khawatir, aku adalah orang baik-baik dan tidak pernah menyakiti orang lain.” Akhirnya, ‘Ali pun merestuiku. Aku pun mengenakan pakaian dari Yaman yang bagus, memperbaiki penampilanku lalu datang menemui mereka di tengah hari. Saat itu mereka tengah makan siang. Belum pernah aku lihat orang yang lebih tekun beribadah daripada mereka. Kulihat dahi mereka menghitam karena terlalu lama sujud. Tangan mereka kapalan seperti tapak kaki unta. Mereka mengenakan pakaian usang dengan lengan baju tersingsing ke atas dan wajah cemberut. Aku mengucapkan salam kepada mereka, (lalu mereka berkata) “Selamat datang hai Ibnu ‘Abbas! Pakaian apa yang engkau pakai itu!?”, tanya mereka ketus. Aku menjawab: “Apakah kalian mencelaku karena mengenakan pakaian ini? Sungguh, penampilan Rasulullah yang terbaik yang pernah kulihat adalah tatkala beliau mengenakan pakaian dari Yaman!” Kemudian aku membacakan firman Allah : “Katakanlah: ‘Siapakah yang mengharamkan perhiasan dari Allah yang telah dikeluarkan-Nya untuk hamba-hamba-Nya dan (siapa pulakah yang mengharamkan) rizki yang baik.’” (Al-A’raaf, QS 7: 32). Setelah terjadi dialog yang sangat panjang, maka 2000 orang dari mereka pun rujuk kepada kebenaran, sementara mayoritas dari mereka tetap bersikeras membangkang terhadap ‘Ali . Mereka pun mati di atas kesesatan setelah diperangi oleh kaum Muhajirin dan Anshar.[11]

Sumber: Abu Muhammad Herman

(Dikutip dari kitab Ensiklopedi Larangan Menurut Al-Qur’an dan As-Sunnah, Syaikh Salim bin ‘Ied Al-Hilali, Pustaka Imam Asy-Syafi’i ).

Foot Note:

[1] Zhahirnya mereka mengajak manusia kepada Al-Qur’an dan berhukum kepadanya, akan tetapi tanpa pemahaman yang benar dan taddabur (hikmah). Mausuu’ah al-Manaahiyyisy Syar’iyyah fii Shahiihis Sunnah an-Nabawiyyah/Ensiklopedi Larangan Menurut Al-Qur’an dan As-Sunnah Jilid 1, Syaikh Salim bin ‘Ied al-Hilali hafizhahullah.
[2] HR. Bukhari (3611) dan Muslim (1066), dan ini adalah lafazh riwayat Muslim. Ibid.
[3] Maa-un ghairi aasin adalah air yang tidak berubah rasa dan warnanya. Ibid.
[4] Tidak sampai ke dalam hati, hanya bacaan di bibir saja. Ibid.
[5] Yang masih muda dan dangkal pemahaman. Ibid.
[6] Setiap kali muncul satu golongan dari mereka maka berhak untuk ditumpas habis sampai ke akar-akarnya. Ibid.
[7] Yaitu, barisan pasukan yang besar. Ini menunjukkan bahwa mereka akan keluar menyerang kaum muslimin dengan membawa pasukan yang besar. Ibid.
[8] Dalam sanadnya terdapat perawi yang bernama Yazid ar-Raqqasyi, ia adalah perawi dha’if. Ibid.
[9] Sanadnya juga dha’if. Secara keseluruhan hadits ini hasan. Ibid.
[10] Sebagai pembenaran dari apa yang telah dikabarkan oleh Rasulullah tentang mereka. Ibid.
[11] Shahih. Dikeluarkan oleh ‘Abdurrazaq, Al-Mushannaf (18678);Ahmad (I/342);Abu Ubaid, Al-Amwaal (444);An-Nasa-i, Khashaaish ‘Ali (190); Al-Fasawi, Al-Ma’rifah wat Taariikh (I/522-524); Al-Hakim (II/150-152); Abu Nu’aim, Hilyatul Auliya’ (I/318-320); Al-Baihaqi, Sunanul Kubra (VIII/179); Ibnu ‘Abdil Barr, Jaami’ Bayaanil ‘Ilm (II/103-104); Ibnul Jauzi, Talbis Iblis (hal.91-93), dll. Al-Hakim berkata: “Shahih sesuai syarat Muslim.” Disetujui oleh adz-Dzahabi. Syaikh Salim berkata: “Benar kata mereka berdua.”

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: