Menghidupkan Sunnah Rasulullah Shallallahu “alaihi wa sallam

Al Ustadz Abdullah bin Taslim. MA

Seorang muslim yang mengaku mencintai Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, semestinya dia selalu berusaha untuk meneladani sunnah beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam kehidupannya, terlebih lagi jika dia mengaku sebagai ahlus sunnah. Karena konsekwensi utama seorang yang mengaku mencintai beliau r adalah selalu berusaha mengikuti semua petunjuk dan perbuatan beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Allah Ta’ala berfirman:

{قُلْ إِنْ كُنْتُمْ تُحِبُّوْنَ اللهَ فاتَّبِعُونِي يُحْبِبْكُمُ اللهُ ويَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوْبَكُمْ، وَاللهُ غَفُوْرٌ رَحِيْمٌ}

“Katakanlah: Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, maka ikutilah (sunnah/petunjuk)ku, niscaya Allah mencintaimu dan mengampuni dosa-dosamu, Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang” (QS Ali ‘Imran:31). Baca pos ini lebih lanjut

Iklan

Aqidah Imam Syafi’i

Oleh : Ustadz Abu Abdillah Addariny

Biografi Imam Syafi’i -rohimahulloh-.

Nama beliau adalah: Muhammad bin Idris bin al-Abbas bin Utsman bin Syafi’ bin as-Sa’ib Al-Qurosyi, bin Abdul Muththolib bin Manaf. Kun-yah beliau Abu Abdillah.

Ayahnya tinggal di Makah. Saat dia pergi ke kota Gaza, lahirlah anaknya, yang diberi nama Muhammad. Imam Syafi’i ditinggal mati ayahnya ketika umurnya dua tahun. Lalu Ibunya -yang berkebangsaan Yaman, dari Kabilah Azd- membawanya kembali ke Makah.

Beliau telah hapal Alquran saat masih kecil, lalu keluar menuju pedesaan Kabilah Hudzail. Ketika itu mereka adalah Kabilah yang paling fasih bahasa arabnya. Dari hidup bersama Kabilah itu, beliau banyak hapal syair mereka. Lalu beliau kembali ke Makah dan memberi banyak manfaat dari kefasihan dan syairnya. Baca pos ini lebih lanjut

%d blogger menyukai ini: