10 Faedah Tentang Haji

Ustadz Abu Ubaidah Yusuf As Sidawi

Haji Mabrur

Dari Abu Hurairah radhiallahu anhu bahwasanya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda;”Umroh ke umroh berikutnya merupakan pelebur dosa antara keduanya,dan tiada balasan bagi haji mabrur melainkan surge.”(HR. Bukhori: 1683, Muslim: 1349).

Haji mabrur memiliki beberapa kriteria:

Pertama: Iklash. Seseorang hanya berharap pahala Alloh, bukan untuk pamer,kebanggaan, atau agar di panggil “pak haji” atau “ibu haji” oleh masyarakatnya. Alloh Ta’ala berfirman: Mereka tidak disuruh kecuali supaya beribadah kepada Allah dengan penuh keikhlasan…(QS. al-Bayyinah[98]5)

Kedua: Ittiba’ kepada Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wasallam, dia berhaji sesuai tata cara haji yang di praktekkan oleh Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam. Dan menjauhi perkara-perkara bid’ah (perkara baru dalam  agama) dalam haji.beliau r sendiri bersabda:“Contohhlah cara manasik hajiku.” (HR. Muslim: 1297)

Ketiga: Harta untuk berangkat Hajinya adalah harta yang halal. Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:“Sesunggunya Alloh itu baik, dia tidak menerima kecuali dari yang baik” (HR. Muslim: 1015)

Keempat: Menjauhi segala kemaksiatan, kebid’ahan, dan penyimpangan. Alloh Azza wajalla  berfirman:…Barangsiapa yang menetapkan niatnya dalam bulan itu akan mengerjakan haji, Maka tidak boleh rofats [berkata-kata tak senonoh], berbuat Fasik dan berbantah-bantahan di dalam masa mengerjakan haji. (QS. al-Baqaroh [2]197)

Kelima: Berakhlak baik antar sesama, tawadhu’ (rendah hati) dalam bergaul, dan suka membantu kebutuhan saudara lainya. Alangkah bagusnya ucapan Ibnu Abdil Barr rahimahullah dalam at-Tamhid (22/39):”Adapun haji mabrur, yaitu haji yang tiada riya’(ingin dilihat),dan sum’ah (ingin di dengar) di dalamnya, tiada kefasikan,dan dari harta yang halal.” (Latho ‘iful Ma’arif Ibnu Rojab hal. 410-419, Masa’il Yaktsuru Su’al ‘Anha Abdulloh bin Sholih al-Fauzan: 12-13)

Haji Akbar

Pendapat yang popular dalam madzhab Syafi’I, hari “haji akbar” adalah hari Arofah (9 Dzul Hijjah). Namun pendapat yang benar bahwa hari haji akbar adalah pada hari Nahr (menyembelih Qurban,yakni 10 Dzul Hijjah) berdasarkan firman Alloh Ta’ala: Dan (inilah) suatu permakluman daripada Allah dan Rasul-Nya kepada umat manusia pada hari haji akbar….(QS. at Taubah [9]:3)

Dalam shohih Bukhori 8/240 dan shohih Muslim 1347 di sebutkan bahwa Abu Bakar radhiallahu anhu dan Ali radhiallahu anhu mengumumkan hal itu pada hari nahr, bukan pada hari Arofah.Dalam Sunan Abu Dawud :1945 dengan sanad yang sangat shohih, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Hari haji akbar adalah hari nahr (menyembelih Qurban).”Demikian pula yang dikatakan oleh Abu Hurairah radhiallahu anhu dan sejumlah sahabat.(lihat Zadul Ma’ad Ibnu Qoyyim 1/55-56)

Ganti Nama Usai Haji

Soal: Apakah hukumnya mengganti nama setelah pulang haji seperti yang banyak di lakukan mayoritas jama’ah haji Indonesia,dimana mereka mengganti nama di makkah atau di madinah,apa ini termaksud sunnah ataukah bukan?

Jawab: Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam biasa mengganti nama-nama yang buruk dengan nama yang bagus. Maka apabilah jama’ah haji indonesia tersebut mengganti nama mereka lantaran sebab tersebut, bukan disebabkan usai melakukan ibadah haji atau karena berziarah ke masjid nabawi,maka hukumnya boleh. Namun apabilah jama’ah haji mengganti nama lantaran alas an pernah di makkah/madinah atau usai melakukan ibadah haji,maka hal itu termaksud perkara bid’ah, bukan sunnah. (fatawa Lajnah Da’imah 2/514-515).

Air Zam-Zam

Al humaidi rahimahullah berkata: Saya pernah berada di sisi Sufyan bin Uyainah rahimahullah ,lalu beliau menyampaikan kepada kami hadits: “Air Zam-zam tergantung keinginan seseorang yang meminimnya”

Tiba-tiba ada seorang lelaki bangkit dari majelis, kemudian kembali lagi seraya mengatakan “Wahai Abu Muhammad, bukankah hadits yang engkau ceritakan kepada kami tentang zam-zam adalah hadits yang shohih?” jawab beliau:”Benar” lelaki itu lalu berkata: “Baru saja aku meminum seember air zam-zam dengan harapan engkau menyampaikan kepadaku seratus hadits.” Akhirnya, Sufyan rahimahullah berkata kepadanya: “Duduklah” lelaki itupun duduk, dan Sufyan rahimahullah menyampaikan seratus hadits kepadanya. (al-Mujalasah Abu Bakar ad-Dinawari 2/343, Juz Ma’a Zam-zam Ibnu Hajar hal.271)

Asal Hajar Aswad

Dari Ibnu Abbas radhiallahu anhu berkata: Rosululloh Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:“Hajar aswad (ketika) turun dari surga lebih putih daripada salju, lalu dosa-dosa anak adam membuatnya hitam.”(Shohih. HR. Tirmidzi:877, Ibnu Thobroni dalam Mu’jam Kabir 3/155, Ahmad: 1/307,329,373. Lihat Silsilah ash-Shohihah al-Albani:2618).

Sulaiman bin Kholil rahimahullah (imam dan khotib masjidil haram dahulu) menceritakan bahwa dirinya melihat tiga bintik berwarna putih jernih pada hajar aswad,lalu katanya:”saya perhatikan bintik-bintik tadi,ternyata setiap harinya berkurang warnanya.”(al-Aqdu Tsamin al-Fasi al-Makki 1/68, Asror wa Fadho’il Hajar Aswad Majdi Futhi Sayyid hal.22)

Sungguh dalam hal itu terdapat pelajaran berharga bagi orang yang berakal, sebab jika demikian jadinya bekas dosa pada batu yang keras, maka bagaimana kiranya pada hati manusia?! (Fathul Bari Ibnu Hajar 3/463).

Jeddah Termaksud Miqot?

Ada sebagian kalangan yang mencuatkan pendapat bahwa kota Jeddah boleh di jadikan sebagai salah satu miqot untuk jama’ah haji yang datang lewat pesawat atau kapal laut. Namun pendapat ini di sanggah secara keras oleh Hai’ah Kibar Ulama dalam keputusan rapat mereka no:5730,Tanggal 21/10/1399H. Sebagai berikut:Pertama: Fatwa tentang bolehnya menjadikan Jeddah sebagai miqot bagi jama’ah haji yang dating dengan pesawat udara dan kapal laut merupakan fatwa yang batil, karena tidak bersandar pada Kitabullah dan Sunnah Rasul-Nya serta ijma’ salafush sholeh. Tidak ada satupun ulama kaum muslimin sebelumnya yang mendahului pendapat ini.Kedua: Tidak boleh bagi jama’ah haji yang melewati miqot,baik lewat udara maupun laut (miqot Indonesia Adalah Yalamlan,pent) untuk melampauinya tampa ihram sebagai mana di tegaskan dalam banyak dalil dan di tandaskan oleh para ulama.(Figh Nawazil al-Jizani 2/317, Taisir Alam al-Bassam 1/572-573).

Nama Miqot Madinah

Miqot penduduk madinah atau jama’ah haji yang lewat madinah adalah Dzul-Hulaifah([1]) sebagaimana di sebutkan dalam banyak hadits. Adapun penamaanya dengan “Bir Ali” sebagaimana yang popular di masyarakat sebaiknya diganti.sebab bagaimanapun lafazh yang tertera dalam hadits itu lebih utama, apalagi kalau kita telusuri ternyata sumber penamaan ‘Bir Ali”(sumur ali) adalah cerita yang laris manis di kalangan Rofidhoh(Syi’ah) bahwa Ali bin Abu Tholib t pernah bertarung dengan Jin di sumur tersebut, sehingga karena itulah di sebut Bir Ali.

Para ulama ahli hadits telah bersepakat menegaskan bathilnya cerita tersebut, seperti Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah dalam Minhajus Sunnah 8/161, Ibnu Katsir dalam al-Bidayah wan Nihayah 2/344, Ibnu Hajar dalam Ishobah 1/498, Mula Ali al-Qori dalam al-Maslak al-Mutaqossith hal:79,dan lainnya.(Qoshoshun La Taasbutu Masyhur Hasan Salman 7/95-119).

Dzikir Ketika Thowaf

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata:”Di sunnahkan ketika thowaf untuk berdzikir dan berdo’a dengan do’a-do’a yang di syari’atkan. Kalau mau membaca al-Qur’an dengan lirih maka hal itu boleh. Dan tidak ada do’a tertentu dari Nabi r, baik dari perintahnya, ucapannya,maupun pengajarannya bahkan boleh berdo’a dengan umumnya do’a-do’a yang disyari’atkan. Adapun yang di sebutkan kebanyakan manusia tentang adanya do’a khusus di bawa mizab (talang ka’bah) dan selainnya([2]), semua itu tidak ada asalnya/dalilnya” (Majmu Fatawa 26/122).

Masalah Orang Botak

Telah dimaklumi, dalam haji ada syar’iat cukur/memendekkan rambut. namun bagaimana dengan seseorang yang botak dan tidak memiliki rambut untuk di cukur? Sebagian fuqaha (ahli fiqih) mengatakan: hendaknya dia tetap melewatkan alat cukur di kepalanya. Namun pendapat yang benar ialah hal ini di benci, syari’at bersih darinya, (perbuatan itu) sia-sia dan tiadah faedah, sebab melewatkan alat cukur hanyalah sekedar sebagai wasilah (perantara) saja bukan tujuan utama. Kalau tujuan utamanya gugur, maka wasilah tidak bermakna lagi. Persis dengan masalah ini adalah seorang yang lahir sedangkan dzakarnya sudah terkhitan, perlukah di khitan lagi? Pendapat yang benar adalah tidak perlu. (Lihat Tuhfatul Maudud bi Ahkamil Maulud Ibnu Qoyyim hal:330).

Titip Salam Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam

Budaya titip atau kirim salam untuk Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam kepada Para jama’ah haji merupakan budaya yang perlu ditinggalakan dan diingatkan, sebab hal itu tidak boleh dan termaksud kategori perkara baru dalam agama. Alhamdulillah termaksud keluasan rahmat Alloh Ta’ala kepada kita, dia menjadikan salam kita untuk Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam sampai kepada beliau r dimanapun kita berada,baik di ujung timur maupun barat. Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: ”Janganlah kalian jadikan kuburku sebagai perayaan, dan (jangan jadikan) rumah-rumah kalian sebagai kuburan, bersholawatlah kepadaku karena sesungguhnya sholawat kalian sampai kepadaku dimanapun kalian berada”

Hadits-hadits yang semakna dengannya banyak sekali (Lihat al-Mustadrok ‘ala Mu’jam Manahi Lafzhiyyah Sulaiman al-Khurosi hal:231/232)

Wallahu A’lam

Disalin Kembali oleh admin dari MAJALAH AL-FURQON. srowo, sidayu, gresik Jatim

Catatan kaki:


[1] Nama sebuah desa besar di jalan Madinah dulu (lihat Mu’jam Buldan 2/111). Disana ada sebuah masjid yang dulu Nabi  ketika berangkat haji, beliau  sholat dan berihrom di sana. Jaraknya dari Madinah kurang lebih 3 mil, di jangkau dengan mobil sekitar seperempat jam (lihat al-Haj al-Mabrur Abu Bakar al-Jaza’iri hal 32)

[2] Seperti do’a tertentu untuk setiap putaran thowaf dan sa’i, maka ini juga tidak ada asalnya. (lihat at-Tahqiq wal Idhoh Abdul Aziz bin Baz hal: 29, Manasik wal Umroh Ibnu Utsaimin hal:119, Syarh Manasik Haji wa Umroh Sholih al-Fauzan hal: 75, Tashih Dua’ Bakar Abu Zaid hal: 520

3 Responses to 10 Faedah Tentang Haji

  1. Ping-balik: Download Audio: Bekal Seorang Muslim Dalam Melaksanakan Manasik Haji « Madrasah Ibnu Abbas As-Salafy Kendari

  2. Ping-balik: Menjaga Kemabruran Haji « Madrasah Ibnu Abbas As-Salafy Kendari

  3. Ping-balik: Download Buku Gratis: Petunjuk Bagi Jamaah Haji dan Umrah « Madrasah Ibnu Abbas As-Salafy Kendari

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: