<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	xmlns:georss="http://www.georss.org/georss" xmlns:geo="http://www.w3.org/2003/01/geo/wgs84_pos#" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
	>

<channel>
	<title>Madrasah Ibnu Abbas As-Salafy Kendari</title>
	<atom:link href="http://ibnuabbaskendari.wordpress.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://ibnuabbaskendari.wordpress.com</link>
	<description>Mengikuti Petunjuknya Shalafush Sholeh</description>
	<lastBuildDate>Fri, 27 Jan 2012 02:23:39 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.com/</generator>
<cloud domain='ibnuabbaskendari.wordpress.com' port='80' path='/?rsscloud=notify' registerProcedure='' protocol='http-post' />
<image>
		<url>http://s2.wp.com/i/buttonw-com.png</url>
		<title>Madrasah Ibnu Abbas As-Salafy Kendari</title>
		<link>http://ibnuabbaskendari.wordpress.com</link>
	</image>
	<atom:link rel="search" type="application/opensearchdescription+xml" href="http://ibnuabbaskendari.wordpress.com/osd.xml" title="Madrasah Ibnu Abbas As-Salafy Kendari" />
	<atom:link rel='hub' href='http://ibnuabbaskendari.wordpress.com/?pushpress=hub'/>
		<item>
		<title>Fatwa Seputar Ziarah Kubur</title>
		<link>http://ibnuabbaskendari.wordpress.com/2012/01/27/fatwa-seputar-ziarah-kubur/</link>
		<comments>http://ibnuabbaskendari.wordpress.com/2012/01/27/fatwa-seputar-ziarah-kubur/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 27 Jan 2012 02:23:36 +0000</pubDate>
		<dc:creator>ibnuabbaskendari</dc:creator>
				<category><![CDATA[Fatwa Ulama]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ibnuabbaskendari.wordpress.com/?p=7391</guid>
		<description><![CDATA[Ustadz Mukhlis Abu Dzar Hukum Membaca al-Fatihah atau Surat Lainnya Ketika Ziarah Kubur Seorang bernama Ahmad Sa’ad dari Yordania, bertanya kepada Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin rahimahullah, “Saya mempunyai beberapa pertanyaan, telah menjadi kebiasaan di masyarakat kami di antaranya membaca al-Qur’an di sisi kubur dan membaca surat al-Fatihah.” &#160; Jawab : Syaikh rahimahullah menjawab, “Ini [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=ibnuabbaskendari.wordpress.com&amp;blog=9233758&amp;post=7391&amp;subd=ibnuabbaskendari&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align:left;" align="center"><strong><a href="http://ibnuabbaskendari.files.wordpress.com/2012/01/fatwa-seputar-ziarah-kubur.jpg"><img class="alignleft size-thumbnail wp-image-7394" title="Fatwa Seputar Ziarah Kubur" src="http://ibnuabbaskendari.files.wordpress.com/2012/01/fatwa-seputar-ziarah-kubur.jpg?w=150&#038;h=112" alt="" width="150" height="112" /></a>Ustadz Mukhlis Abu Dzar</strong></p>
<p><strong>Hukum Membaca al-Fatihah atau Surat Lainnya Ketika Ziarah Kubur</strong></p>
<p>Seorang bernama Ahmad Sa’ad dari Yordania, bertanya kepada Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin <em>rahimahullah</em>, “Saya mempunyai beberapa pertanyaan, telah menjadi kebiasaan di masyarakat kami di antaranya membaca al-Qur’an di sisi kubur dan membaca surat al-Fatihah.”<span id="more-7391"></span></p>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong>Jawab :</strong></p>
<p>Syaikh <em>rahimahullah</em> menjawab, “Ini merupakan perkara bid’ah, yaitu membaca al-Qur’an di sisi kuburan. Dalilnya adalah karena tidak pernah dilakukan pada zaman Rasulullah <em>Shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> juga zaman Khulafa Rasyidin. Sebagaimana diketahui bersama bahwa membaca al-Qur’an adalah ibadah yang sangat agung, bagi siapa saja yang membacanya akan mendapatkan sepuluh kebaikan dari setiap huruf, dan membaca al-Qur’an tidak boleh dikhususkan pada tempat tertentu kecuali ada dalil dari al-Qur’an dan Sunnah yang menunjukkan disunnahkannya untuk mengkhususkan membaca al-Qur’an ditempat itu. Begitu juga tidak disyariatkan membaca surat al-Fatihah, kecuali pada tempat yang memang Allah <em>Ta’ala </em>syariatkan seperti di dalam shalat atau membacakan untuk orang sakit. Adapun membaca al-Fatihah di setiap keadaan atau ketika memulai acara-acara dan yang semisalnya, ini merupakan perbuatan bid’ah. Yang disyariatkan bagi peziarah kubur adalah mengucapkan salam kepada penghuni kubur, sebagaimana dijelaskan dalam sunnah :</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><em>“Semoga keselamatan bagi kalian wahai penduduk negeri (peristirahatan sementara) kaum mukminin, dan kami Insya Allah akan bertemu kalian. Semoga Allah merahmati kalian yang lebih dahulu dari kami dan kami pun akan menyusul kalian. </em><em>Kami memohon kepada Allah keselamatan pada kami dan kalian. Ya Allah, janganlah halangi ganjaran bagi mereka. Janganlah beri siksaan kepada mereka setelah itu. Ampunilah dosa-dosa kami dan mereka.”</em></p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Adapun membaca al-Qur’an di sisi kubur maka tidak memberikan manfaat kepada mereka, bahkan termasuk perbuat bid’ah. (Lihat Nur ’Alad Darb / Fatawa Jana’iz : 5/265)</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong>Soal-Soal :</strong></p>
<ol>
<li>Assalamu’alaikum. Ustadz, ketentuan pemakaman muslim seperti apa? Bolehkan menabur bunga di atasnya atau memberi nama mayit dengan tujuan agar mudah dikenali? <em>Syukran.</em> (<strong>Hamba Allah,</strong> Banten, +62813xxxx)</li>
<li>Apa hukum mengirim doa di kuburan? Apa dalilnya? (<strong>Hamba Allah, </strong>+62317xxxx)</li>
<li>Assalamu’alaikum. Bagaimana posisi ketika berziarah kubur berdiri atau duduk jongkok. Yang ana tanyakan apakah ada dalilnya seorang peziarah membawa bunga lalu apakah ada doa khusus yang diajarkan Rasulullah SAW dan apakah boleh mengangkat tangan ketika sedang berdoa? Ana harap jawabannya, <em>Jazakumullah khairan</em> (<strong>Hamba Allah, </strong>Cirebon, +62852xxxx).</li>
</ol>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong>Tabur Bunga Saat Ziarah</strong></p>
<p><strong>Soal :</strong></p>
<p>Sebuah pertanyaan masuk ke Lajnah Da’imah berbunyi, ”Di banyak Negara yang notabene Islam mereka mengadakan pesta pemakaman yang dikenal dengan meletakkan karangan bunga kepada kubur syuhada’, atau makam para pahlawan tak dikenal. Bagaimana menurut pendangan Islam dalam masalah ini? Apakah ada dalil yang mengharamkan atau membolehkannya? Atau itu hanya meniru kebiasaan orang barat?</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong>Jawab :</strong></p>
<p>Lajnah Da’imah menjawab, ”Meletakkan bunga di atas kubur para syuhada’ atau selain mereka, atau juga para pahlawan yang dikenal maupun tidak, merupakan perkara bid’ah yang diada-adakan oleh sebagian kaum muslimin di negara-negara yang memiliki ikatan kuat dengan negara kafir. Mereka menganggap bahwa perbuatan orang-orang kafir terhadap penghuni kubur itu adalah perbuatan baik. Hal ini dilarang dalam Islam karena <em>tasyabbuh</em> (menyerupai) terhadap kaum kafir, dan mengikuti perbuatan yang mereka ada-adakan untuk mengagungkan orang-orang yang sudah meninggal. Nabi <em>Shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> telah memperingatkan dari hal itu ;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><em>”Aku diutus dengan pedang menjelang hari kiamat hingga hanya Allah semata lah yang disembah, tidak ada sekutu bagi-Nya. Dijadikan rezekiku di bawah bayangan tombakku, dan dijadikan kehinaan dan kerendahan bagi siapa saja yang menyelisihi perkaraku. Barangsiapa menyerupai suatu kaum, maka ia termasuk golongan mereka.” </em>(HR. Ahmad, Abu Ya’la dan Thabrani dalam al-Mu’jam al-Kabir).</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Dan berdasarkan sabda Rasulullah <em>Shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> :</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><em>”Kamu benar-benar akan mengikuti kebiasaan-kebiasaan generasi sebelum kamu sejengkal demi sejengkal dan tapak demi tapak, sehingga apabila mereka memasuki lubang biawak, niscaya kamu pun akan memasukinya pula. </em><em>Sehingga jika di antara mereka menggauli istrinya di jalan, niscaya mereka akan melakukannya.”</em> (HR. Al-Hakim an berkata, ”Menurut syarat Shahih Muslim”, dan Imam adz-Dzahabi telah menyetujuinya, diriwayatkan pula oleh al-Bazzar. Berkata al-haitsami, ”Perawinya terpercaya.”)</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Di antara para sahabat, tabi’in dan ulama salaf juga ada para syuhada dan pahlawan. Mereka memiliki andil, akan tetapi para salaf tidak pernah meletakkan bunga di atas kubur mereka. Maka meletakkan bunga di atas adalah perbuatan bid’ah yang diada-adakan. Kebaikan adalah setiap yang mengikuti orang-orang terdahulu dari umat ini, dan kejelekan adalah segala perkara yang diada-adakan (dalam perkara agama) oleh (orang-orang) yang belakangan. (Fatawa lajnah Da’imah lil Buhuts Ilmiyyah wal Ifta : 9/89, Dinukil dari Fatawa Ulama Baladil Haram : 827).</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong>Mengangkat Tangan Saat Berdoa Untuk Mayit di Sisi Kubur?</strong></p>
<p>Syaikh Abdur-Rahman bin Sa’d bin Ali as-Syasri menjawab, ”Disyariatkan mengangkat tangan ketika berdoa untuk mayit saat berziarah kubur namun tidak terlalu sering. Sebagaimana diriwayatkan dari Aisyah <em>radhiyallahu ’anha </em> ia mengatakan : ”Tatkala Rasulullah mendatangi makam al-Baqi’ beliau berdiri lama, kemudian mengangkat tangannya tiga kali.” (HR. Muslim : 2256).</p>
<p>Imam an-Nawawi<em> rahimahullah </em>mengatakan, ”Hadist ini menunjukkan disunnahkannya memperpanjang doa, mengulang-ulangnya serta mengangkat tangan. Hadits ini juga menunjukkan bahwa berdoa sambil berdiri lebih sempurna daripada berdoa sambil duduk.” (Syarhu Shahih Muslim : 621, dinukil dari aat-Tadzkirah fi Ahkamil Maqbarah : 221).</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong>Sunnahkah Melepas Sandal Ketika Masuk ke Pemakaman?</strong></p>
<p><strong>Soal :</strong></p>
<p>Sebuah pertanyaan untuk Lajnah Da’imah, ”Apakah melepas sandal di pemakaman itu disunnahkan atau bid’ah?”</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong>Jawab :</strong></p>
<p>Lajnah Da’imah wal Ifta’ menjawab, ”Disyariatkan bagi orang yang hendak masuk pemakaman untuk melepas kedua sandalnya, berdasarkan apa yang diriwayatkan oleh Basyir bin al-Khashashiyyah, ia mengatakan, ”Ketika aku berjalan mengiringi Rasulullah, ternyata ada seorang berjalan dikuburan dengan mengenakan kedua sandalnya. Maka Nabi <em>Shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> mengatakan :</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><em>”Hai pemakai dua sandal tanggalkan kedua sandal kamu!”</em></p>
<p><em> </em></p>
<p>Orang itu pun menoleh. Ketika dia tahu bahwa itu ternyata Rasulullah, ia melepaskannya serta melemparkan keduanya. (HR. Abu Dawud).</p>
<p>Al-Imam Ahman <em>rahimahullah</em> berkata : ”Sanad hadits Basyir bin al-Khashashiyyah bagus. Aku berpendapat dengan apa yang terkandung padanya, kecuali bila ada penghalang.”</p>
<p>Penghalang yang dimaksud al-Imam Ahmad adalah semacam duri, kerikil yang panas, atau semisal keduanya. Ketika itu, tidak mengapa berjalan dengan kedua sandal di antara kuburan untuk menghindari gangguan itu. (Fatawa lajnah Da’imah lil Buhuts Ilmiyyah wal Ifta : 9/123, 124, dinukil dari Fatawa Ulama Baladil Haram : 821)</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong>Membuat Tulisan di Atas Kubur</strong></p>
<p><strong>Soal :</strong></p>
<p>Seorang penanya bertanya kepada Syaikh Abdul Aziz bin Baz <em>rahimahullah</em>, ”Apakah boleh meletakkan potongan besi atau spanduk di atas kubur dan ditulisi sebagian ayat al-Qur’an dan nama si mayit, tanggal meninggal dan kalimat lainnya?”</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong>Jawab :</strong></p>
<p>Syaikh menjawab, ”Tidak boleh meletakkan tulisan ayat-ayat al-Qur’an atau selainnya di kubur mayit, baik berupa besi, papan atau selainnya. Sebagaimana telah datang larangan tersebut dalam hadits Jabir <em>radhiyallahu ’anhu </em> bahwa Rasulullah <em>Shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> bersabda :</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><em>”Rasulullah melarang mengapur kubur, duduk-duduk di atasnya dan membuat bangunan di atasnya.”  </em>(HR. Muslim).</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Imam at-Tirmidzi dan an-Nasa’i menambahkan dengan sanad yang shahih, ”.. dan menulis di atasnya.”” (Majmu Fatawa Syaikh Ibni Baz : 4/337 di nukil dari Syarhus Shudur bi Fatawa al-Qubur : 7).</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong>Sunnahkan Memperbanyak Ziarah Kubur Alim Ulama?</strong></p>
<p><strong>Soal :</strong></p>
<p>Seorang penanya bertanya kepada Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin <em>rahimahullah</em>, ”Apakah disyariatkan memperbanyak ziarah ke kubur para Ulama dan orang-orang Shalih?”</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong>Jawab :</strong></p>
<p>Syaikh menjawab, ”Memperbanyak ziarah kubur ke alim ulama dan ahli ibadah bisa menjerumuskan kepada perbuatan ghuluw (berlebih-lebihan) yang sampai ke derajat syirik. Oleh karena itu hendaknya mendoakan mereka tanpa terlalu sering datang ke kuburan mereka. Apabila Allah <em>Ta’ala</em>  menerima doa seorang hamba, maka ini merupakan manfaat bagi mayit, baik ia berada di sisi kuburnya dan mendoakan untuknya, atau berdoa di rumahnya, atau juga berdoa di masjid. Semua itu akan sampi dengan kehendak Allah <em>Ta’ala</em>, dan tidak perlu harus pulang pergi ke kubur.” (Fatawa fi Ahkam al-Jana’iz : 286)</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Sumber: <strong>Majalah Al-Mawaddah</strong> vol. 44 Dzulqo’dah 1432H – Sep-Okt 2011M (Rubrik Ulama Berfatwa. Oleh: Ustadz Mukhlis Abu Dzar)</p>
<br />Filed under: <a href='http://ibnuabbaskendari.wordpress.com/category/fatwa-ulama/'>Fatwa Ulama</a>  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/ibnuabbaskendari.wordpress.com/7391/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/ibnuabbaskendari.wordpress.com/7391/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/ibnuabbaskendari.wordpress.com/7391/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/ibnuabbaskendari.wordpress.com/7391/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/ibnuabbaskendari.wordpress.com/7391/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/ibnuabbaskendari.wordpress.com/7391/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/ibnuabbaskendari.wordpress.com/7391/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/ibnuabbaskendari.wordpress.com/7391/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/ibnuabbaskendari.wordpress.com/7391/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/ibnuabbaskendari.wordpress.com/7391/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/ibnuabbaskendari.wordpress.com/7391/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/ibnuabbaskendari.wordpress.com/7391/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/ibnuabbaskendari.wordpress.com/7391/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/ibnuabbaskendari.wordpress.com/7391/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=ibnuabbaskendari.wordpress.com&amp;blog=9233758&amp;post=7391&amp;subd=ibnuabbaskendari&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ibnuabbaskendari.wordpress.com/2012/01/27/fatwa-seputar-ziarah-kubur/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/ff91e6b351183efcb2f63ddc3b6b8d4f?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">ibnuabbaskendari</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://ibnuabbaskendari.files.wordpress.com/2012/01/fatwa-seputar-ziarah-kubur.jpg?w=150" medium="image">
			<media:title type="html">Fatwa Seputar Ziarah Kubur</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Download Audio: &#8220;Tanya Jawab Seputar Halal dan Haramnya Makanan&#8221; (Ust. Muhammad Abduh Tuasikal, Dammam, 13 Januari 2012)</title>
		<link>http://ibnuabbaskendari.wordpress.com/2012/01/27/download-audio-tanya-jawab-seputar-halal-dan-haramnya-makanan-ust-muhammad-abduh-tuasikal-dammam-13-januari-2012/</link>
		<comments>http://ibnuabbaskendari.wordpress.com/2012/01/27/download-audio-tanya-jawab-seputar-halal-dan-haramnya-makanan-ust-muhammad-abduh-tuasikal-dammam-13-januari-2012/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 27 Jan 2012 02:22:26 +0000</pubDate>
		<dc:creator>ibnuabbaskendari</dc:creator>
				<category><![CDATA[Download Audio]]></category>
		<category><![CDATA[Tanya Jawab]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ibnuabbaskendari.wordpress.com/?p=7398</guid>
		<description><![CDATA[Alhamdulillah berikut kami hadirkan rekaman kajian umum bersama Ustadz Muhammad Abduh Tuasikal STyang diselenggarakan di Islamic Cultural Center (ICC) Dammam Arab Saudi pada hari Jum’at 19 Shafar 1433H / 13 Januari 2012. Materi yang disampaikan ” Seputar Halal dan Haramnya Makanan “. Semoga apa yang beliau sampaikan bermanfaat bagi seluruh kaum muslimin. Silahkan simak kajiannya [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=ibnuabbaskendari.wordpress.com&amp;blog=9233758&amp;post=7398&amp;subd=ibnuabbaskendari&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Alhamdulillah berikut kami hadirkan rekaman kajian umum bersama <strong>Ustadz Muhammad Abduh Tuasikal ST</strong>yang diselenggarakan di Islamic Cultural Center (ICC) Dammam Arab Saudi pada hari Jum’at 19 Shafar 1433H / 13 Januari 2012.</p>
<p>Materi yang disampaikan <strong>” Seputar Halal dan Haramnya Makanan “</strong>.</p>
<p>Semoga apa yang beliau sampaikan bermanfaat bagi seluruh kaum muslimin. Silahkan simak kajiannya dengan mendownloadnya pada link berikut:<span id="more-7398"></span></p>
<p><a href="http://www.archive.org/download/TanyaJawabSeputarHalalDanHaramnyaMakanan/SeputarHalalDanHaramnyaMakanan2.mp3"><img src="http://1.bp.blogspot.com/_8LUAhSXzLDY/TQtkrgyGYZI/AAAAAAAAAUQ/QHmyc08lK8s/s1600/Download+study-islam.png" alt="" border="0" /> </a></p>
<p>Atau download dalam format mp3.zip <a href="http://www.archive.org/download/TanyaJawabSeputarHalalDanHaramnyaMakanan/TanyaJawabSeputarHalalDanHaramnyaMakanan_vbr_mp3.zip">Disini</a></p>
<p>Sumber: <a href="http://moslemsunnah.wordpress.com/" target="_blank">MoslemSunnah</a></p>
<br />Filed under: <a href='http://ibnuabbaskendari.wordpress.com/category/download-audio/'>Download Audio</a>, <a href='http://ibnuabbaskendari.wordpress.com/category/tanya-jawab/'>Tanya Jawab</a>  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/ibnuabbaskendari.wordpress.com/7398/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/ibnuabbaskendari.wordpress.com/7398/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/ibnuabbaskendari.wordpress.com/7398/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/ibnuabbaskendari.wordpress.com/7398/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/ibnuabbaskendari.wordpress.com/7398/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/ibnuabbaskendari.wordpress.com/7398/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/ibnuabbaskendari.wordpress.com/7398/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/ibnuabbaskendari.wordpress.com/7398/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/ibnuabbaskendari.wordpress.com/7398/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/ibnuabbaskendari.wordpress.com/7398/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/ibnuabbaskendari.wordpress.com/7398/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/ibnuabbaskendari.wordpress.com/7398/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/ibnuabbaskendari.wordpress.com/7398/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/ibnuabbaskendari.wordpress.com/7398/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=ibnuabbaskendari.wordpress.com&amp;blog=9233758&amp;post=7398&amp;subd=ibnuabbaskendari&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ibnuabbaskendari.wordpress.com/2012/01/27/download-audio-tanya-jawab-seputar-halal-dan-haramnya-makanan-ust-muhammad-abduh-tuasikal-dammam-13-januari-2012/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
<enclosure url="http://www.archive.org/download/TanyaJawabSeputarHalalDanHaramnyaMakanan/SeputarHalalDanHaramnyaMakanan2.mp3" length="7516108" type="audio/mpeg" />
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/ff91e6b351183efcb2f63ddc3b6b8d4f?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">ibnuabbaskendari</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://1.bp.blogspot.com/_8LUAhSXzLDY/TQtkrgyGYZI/AAAAAAAAAUQ/QHmyc08lK8s/s1600/Download+study-islam.png" medium="image" />
	</item>
		<item>
		<title>Download Audio: &#8220;Renungan Seputar Hujan&#8221; Ust. DR. Arifin Badri, M.A (Surabaya, 08 Desember 2011)</title>
		<link>http://ibnuabbaskendari.wordpress.com/2012/01/27/download-audio-renungan-seputar-hujan-ust-dr-arifin-badri-m-a-surabaya-08-desember-2011/</link>
		<comments>http://ibnuabbaskendari.wordpress.com/2012/01/27/download-audio-renungan-seputar-hujan-ust-dr-arifin-badri-m-a-surabaya-08-desember-2011/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 27 Jan 2012 02:18:35 +0000</pubDate>
		<dc:creator>ibnuabbaskendari</dc:creator>
				<category><![CDATA[Download Audio]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ibnuabbaskendari.wordpress.com/?p=7395</guid>
		<description><![CDATA[Berkaitan dengan telah tibanya musim hujan, maka kajian Islam di Radio Suara Al-Iman Surabaya yang diselenggarakan pada 08 Desember 2011, bertema “Renungan Seputar Hujan” yang diisi oleh Ustadz DR. Muhammad Arifin Badri, M.A. Anda dapat mendownload kajian berikut dengan tujuan agar dapat memenuhi kebutuhan para pendengar setia Radio Suara Al-Iman. Download Kajiannya pada link berikut: [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=ibnuabbaskendari.wordpress.com&amp;blog=9233758&amp;post=7395&amp;subd=ibnuabbaskendari&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Berkaitan dengan telah tibanya musim hujan, maka kajian Islam di Radio Suara Al-Iman Surabaya yang diselenggarakan pada 08 Desember 2011, bertema <strong>“Renungan Seputar Hujan”</strong> yang diisi oleh <strong>Ustadz DR. Muhammad Arifin Badri, M.A</strong>. Anda dapat mendownload kajian berikut dengan tujuan agar dapat memenuhi kebutuhan para pendengar setia Radio Suara Al-Iman.</p>
<p>Download Kajiannya pada link berikut:<span id="more-7395"></span></p>
<p><a href="http://www.archive.org/download/RenunganSeputarHujan/RenunganSeputarHujan.mp3"> <img src="http://moslemsunnah.files.wordpress.com/2011/01/downloadstudy-islam.png?w=100" alt="" border="0" /> </a></p>
<p>Atau download dalam format mp3.zip <a href="http://www.archive.org/download/RenunganSeputarHujan/RenunganSeputarHujan_vbr_mp3.zip">Disini</a></p>
<p>© <a href="http://www.alimanradio.or.id/renungan-seputar-hujan-ust-dr-arifin-badri-m-a/">Radio Suara Al-Iman 774 AM</a></p>
<p>Sumber: <a href="http://moslemsunnah.wordpress.com/" target="_blank">MoslemSunnah</a></p>
<br />Filed under: <a href='http://ibnuabbaskendari.wordpress.com/category/download-audio/'>Download Audio</a>  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/ibnuabbaskendari.wordpress.com/7395/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/ibnuabbaskendari.wordpress.com/7395/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/ibnuabbaskendari.wordpress.com/7395/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/ibnuabbaskendari.wordpress.com/7395/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/ibnuabbaskendari.wordpress.com/7395/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/ibnuabbaskendari.wordpress.com/7395/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/ibnuabbaskendari.wordpress.com/7395/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/ibnuabbaskendari.wordpress.com/7395/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/ibnuabbaskendari.wordpress.com/7395/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/ibnuabbaskendari.wordpress.com/7395/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/ibnuabbaskendari.wordpress.com/7395/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/ibnuabbaskendari.wordpress.com/7395/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/ibnuabbaskendari.wordpress.com/7395/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/ibnuabbaskendari.wordpress.com/7395/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=ibnuabbaskendari.wordpress.com&amp;blog=9233758&amp;post=7395&amp;subd=ibnuabbaskendari&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ibnuabbaskendari.wordpress.com/2012/01/27/download-audio-renungan-seputar-hujan-ust-dr-arifin-badri-m-a-surabaya-08-desember-2011/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
<enclosure url="http://www.archive.org/download/RenunganSeputarHujan/RenunganSeputarHujan.mp3" length="6622144" type="audio/mpeg" />
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/ff91e6b351183efcb2f63ddc3b6b8d4f?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">ibnuabbaskendari</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://moslemsunnah.files.wordpress.com/2011/01/downloadstudy-islam.png?w=100" medium="image" />
	</item>
		<item>
		<title>Hadits Yang Sangat Lemah Tentang Keburukan Utang</title>
		<link>http://ibnuabbaskendari.wordpress.com/2012/01/25/hadits-yang-sangat-lemah-tentang-keburukan-utang/</link>
		<comments>http://ibnuabbaskendari.wordpress.com/2012/01/25/hadits-yang-sangat-lemah-tentang-keburukan-utang/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 25 Jan 2012 04:04:34 +0000</pubDate>
		<dc:creator>ibnuabbaskendari</dc:creator>
				<category><![CDATA[HADITS]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ibnuabbaskendari.wordpress.com/?p=7388</guid>
		<description><![CDATA[Ustadz Abdullah Taslim. MA      عن معاذ بن جبل  قال: قال رسول الله: ((الدَّيْنُ شَيْنُ الدِّيْنِ))      Dari Mu’adz bin Jabal radhiyallahu ‘anhu dia berkata: Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Utang itu adalah celaan (keburukan) bagi agama (seseorang)”. &#160; Hadits ini dikeluarkan oleh imam al-Qudhaa’i[1] dengan sanad beliau dari jalur Abdullah bin Syabib, dari Sa’id [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=ibnuabbaskendari.wordpress.com&amp;blog=9233758&amp;post=7388&amp;subd=ibnuabbaskendari&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align:left;" align="center"><strong><a href="http://ibnuabbaskendari.files.wordpress.com/2012/01/hadits-yang-sangat-lemah-tentang-keburukan-utang.jpg"><img class="alignleft size-thumbnail wp-image-7389" title="Hadits Yang Sangat Lemah Tentang Keburukan Utang" src="http://ibnuabbaskendari.files.wordpress.com/2012/01/hadits-yang-sangat-lemah-tentang-keburukan-utang.jpg?w=150&#038;h=112" alt="" width="150" height="112" /></a>Ustadz Abdullah Taslim. MA</strong></p>
<p dir="rtl">     عن معاذ بن جبل  قال: قال رسول الله: ((الدَّيْنُ شَيْنُ الدِّيْنِ))</p>
<p>     Dari Mu’adz bin Jabal <em>radhiyallahu ‘anhu</em> dia berkata: Rasulullah <em>Shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> bersabda: “Utang itu adalah celaan (keburukan) bagi agama (seseorang)”.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Hadits ini dikeluarkan oleh imam al-Qudhaa’i<a title="" href="#_ftn1">[1]</a> dengan sanad beliau dari jalur Abdullah bin Syabib, dari Sa’id bin Manshur, dari Isma’il bin ‘Ayyasy, dari Shafwan bin ‘Amr, dari ‘Abdur Rahman bin Malik bin Yukhamir, dari bapaknya, dari Muadz bin Jabal, dari Rasulullah <em>Shallallahu ‘alaihi wa sallam</em>.<span id="more-7388"></span></p>
<p>Hadits ini adalah hadits yang sangat lemah bahkan bisa jadi hadits palsu, karena dalam sanadnya ada perawi yang bernama Abdullah bin Syabib Abu Sa’id ar-Rib’iy, imam adz-Dzahabi berkata tentangnya: “Dia adalah ahli sejarah yang sangat tinggi ilmunya, akan tetapi dia sangat lemah (dalm meriwayatkan hadits)”. Bahkan Ibnu Khirasy menuduhnya mengambil dan meriwayatkan hadits-hadits palsu dari para pendusta<a title="" href="#_ftn2">[2]</a>.</p>
<p>Hadits ini termasuk hadits yang diisyaratkan kelemahannya yang sangat oleh imam adz-Dzahabi <em>rahimahullah </em>dalam biografi Abdullah bin Syabib<a title="" href="#_ftn3">[3]</a>.</p>
<p>Hadits ini dihukumi sebagai hadits palsu oleh syaikh al-Albani <em>rahimahullah</em><a title="" href="#_ftn4">[4]</a> dan beliau menegaskan bahwa hadits ini termasuk hadits-hadits diriwayatkan oleh Abdullah bin Syabib dari para pendusta.</p>
<p>Hadits ini juga diriwayatkan dari jalur lain, dinukil oleh imam ad-Dailami dari Abu asy-Syaikh al-Ashbahani dengan sanad beliau<a title="" href="#_ftn5">[5]</a>.</p>
<p>Tapi riwayat ini juga lemah, dalam sanadnya ada perawi Abdullah bin Muhammad al-‘Askari al-Ashbahani, Imam Abu asy-Syaikh al-Ashbahani, Abu Nu’aim al-Ashbahani dan adz-Dzahabi tidak menyebutkan dalam biografi perawi ini celaan maupun pujian<a title="" href="#_ftn6">[6]</a>, Sehingga syaikh al-Albani menjadikannya sebagai sebab kelemahan riwayat ini. Maka riwayat ini tidak bermanfaat untuk mendukung riwayat hadits di atas<a title="" href="#_ftn7">[7]</a>.</p>
<p>Ada jalur lain yang dikeluarkan oleh imam Abu Nu’aim al-Ashbahani dengan sanad beliau<a title="" href="#_ftn8">[8]</a>, akan tetapi riwayat ini juga sangat lemah karena sanadnya tidak bersambung (mursal) dan ada perawi Abu Qatadah Abdullah bin Waqid al-Harraani, Ibnu Hajar berkata tentangnya: “Dia ditinggalnya (karena riwayat hadistnya sangat lemah)”<a title="" href="#_ftn9">[9]</a>.</p>
<p>Ada hadits lain yang semakna dengan hadits di atas, dari Aisyah <em>radhiyallahu ‘anha</em> dari Rasulullah <em>Shallallahu ‘alaihi wa sallam</em>: “Utang itu mengurangi (merusak) agama (seseorang) dan kehormatannya”.</p>
<p>Hadits ini dikeluarkan oleh imam ad-Dailami dalam “Musnadul Firdaus” dengan sanadnya<a title="" href="#_ftn10">[10]</a>. Hadits ini adalah hadits palsu, dalam sanadnya ada perawi al-Hakam bin Abdillah al-Aili, imam Ahmad berkata tentangnya: “Semua haditsnya palsu”. Abu Hatim ar-Razi berkata: “Dia adalah pendusta”. An-Nasa-i dan ad-Daraquthni berkata: “Dia ditinggalkan (riwayat) haditsnya (karena sangat lemah)<a title="" href="#_ftn11">[11]</a>.</p>
<p>Kesimpulannya: hadits ini adalah hadits yang sangat lemah, sehingga sama sekali tidak bisa dijadikan sebagai argumentasi untuk mengharamkan utang-piutang dan mencela orang yang berutang. Karena Rasulullah <em>Shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> dan para shahabat pernah melakukannya dalam kehidupan mereka, bahkan lebih dari sekali, sebagaimana dalam hadits-hadits shahih<a title="" href="#_ftn12">[12]</a>.</p>
<p>Meskipun demikian, bukan berarti kita boleh menggampangkan berutang dan menjadikannya sebagai kebisaan atau kesenangan dalam hidup.</p>
<p>Syariat Islam membolehkan seseorang untuk berutang jika ada hajat/kebutuhan dengan syarat-syarat tertentu yang disebutkan dalam dalil-dalil yang shahih, di antaranya: tidak berlebihan dan melampaui batas kesanggupannya untuk melunasinya, berusaha melunasinya pada waktu yang telah disepakati, tidak boleh menunda pelunasan utang jika telah memiki harta yang cukup, dan lain-lain.</p>
<p align="center">وصلى الله وسلم وبارك على نبينا محمد وآله وصحبه أجمعين، وآخر دعوانا أن الحمد لله رب العالمين</p>
<div>Kota Kendari, 16 Dzulqo’dah 1432 H</div>
<div>Abdullah bin Taslim al-Buthoni</div>
<div></div>
<div>Artikel: <a title="Mengikuti Petunjuknya Shalafush Sholeh" href="http://ibnuabbaskendari.wordpress.com/" target="_blank">www.ibnuabbaskendari.wordpress.com</a></div>
<div>
<hr align="left" size="1" width="33%" />
<div>
<p><a title="" href="#_ftnref1">[1]</a> Dalam kitab &#8220;Musnadusy syihaab&#8221; (1/53, no. 31).</p>
</div>
<div>
<p><a title="" href="#_ftnref2">[2]</a> Lihat kitab “Lisaanul miizaan” (3/299).</p>
</div>
<div>
<p><a title="" href="#_ftnref3">[3]</a> Kitab “Miizaanul i’tidaal” (2/439).</p>
</div>
<div>
<p><a title="" href="#_ftnref4">[4]</a> Dalam kitab “Silsilatul ahaadiitsidh dha’iifati wal maudhuu’ah” (1/684, no. 472).</p>
</div>
<div>
<p><a title="" href="#_ftnref5">[5]</a> Dinukil oleh Ibnu Hajar dalam &#8220;al-Gara-ibul multaqathah min musnadil firdaus&#8221; (no. 110 – Disertasi S2).</p>
</div>
<div>
<p><a title="" href="#_ftnref6">[6]</a> Lihat kitab “Thabaqaatul muhadditsiin bi Ashbahaan” (4/142), “Taariikhu Ashbahaan” (2/34, no. 1000) dan “Taariikhul Islam” (23/496-497).</p>
</div>
<div>
<p><a title="" href="#_ftnref7">[7]</a> Lihat kitab “Silsilatul ahaadiitsidh dha’iifati wal maudhuu’ah” (1/686).</p>
</div>
<div>
<p><a title="" href="#_ftnref8">[8]</a> Dalam kitab “Ma’rifatush shahaabah” (5/2468, no. 6017).</p>
</div>
<div>
<p><a title="" href="#_ftnref9">[9]</a> Kitab “Taqriibut tahdziib” (hal. 280).</p>
</div>
<div>
<p><a title="" href="#_ftnref10">[10]</a> Dinukil oleh Ibnu Hajar dalam &#8220;al-Gara-ibul multaqathah min musnadil firdaus&#8221; (no. 285 – Disertasi S2).</p>
</div>
<div>
<p><a title="" href="#_ftnref11">[11]</a> Semua dinukil oleh imam adz-Dzahabi dalam kitab “Miizaanul i’tidaal” (1/572).</p>
</div>
<div>
<p><a title="" href="#_ftnref12">[12]</a> Lihat kitab “Silsilatul ahaadiitsidh dha’iifati wal maudhuu’ah” (1/684)</p>
</div>
</div>
<br />Filed under: <a href='http://ibnuabbaskendari.wordpress.com/category/hadits/'>HADITS</a>  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/ibnuabbaskendari.wordpress.com/7388/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/ibnuabbaskendari.wordpress.com/7388/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/ibnuabbaskendari.wordpress.com/7388/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/ibnuabbaskendari.wordpress.com/7388/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/ibnuabbaskendari.wordpress.com/7388/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/ibnuabbaskendari.wordpress.com/7388/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/ibnuabbaskendari.wordpress.com/7388/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/ibnuabbaskendari.wordpress.com/7388/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/ibnuabbaskendari.wordpress.com/7388/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/ibnuabbaskendari.wordpress.com/7388/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/ibnuabbaskendari.wordpress.com/7388/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/ibnuabbaskendari.wordpress.com/7388/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/ibnuabbaskendari.wordpress.com/7388/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/ibnuabbaskendari.wordpress.com/7388/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=ibnuabbaskendari.wordpress.com&amp;blog=9233758&amp;post=7388&amp;subd=ibnuabbaskendari&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ibnuabbaskendari.wordpress.com/2012/01/25/hadits-yang-sangat-lemah-tentang-keburukan-utang/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/ff91e6b351183efcb2f63ddc3b6b8d4f?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">ibnuabbaskendari</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://ibnuabbaskendari.files.wordpress.com/2012/01/hadits-yang-sangat-lemah-tentang-keburukan-utang.jpg?w=150" medium="image">
			<media:title type="html">Hadits Yang Sangat Lemah Tentang Keburukan Utang</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Berjabat Tangan Usai Sholat Sunnah Atau Bid’ah?</title>
		<link>http://ibnuabbaskendari.wordpress.com/2012/01/24/berjabat-tangan-usai-sholat-sunnah-atau-bidah/</link>
		<comments>http://ibnuabbaskendari.wordpress.com/2012/01/24/berjabat-tangan-usai-sholat-sunnah-atau-bidah/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 24 Jan 2012 03:15:52 +0000</pubDate>
		<dc:creator>ibnuabbaskendari</dc:creator>
				<category><![CDATA[Amalan]]></category>
		<category><![CDATA[Fiqih]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ibnuabbaskendari.wordpress.com/?p=7383</guid>
		<description><![CDATA[Ustadz Abu Ibrohim Muhammad Ali A.M. MUQODDIMAH Menjadi suatu kelaziman bagi kebanyakan kaum muslimin di tanah air kita, setiap usai sholat berjama’ah satu per satu jama’ah mengulurkan tangannya ke samping kanan, kiri, bahkan ke belakang. Serasa kurang afdhol jika usai sholat tidak dilengkapi saling bersalam-salaman. Dalil yang sangat mendasar dalam perkara ini tidak lain adalah [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=ibnuabbaskendari.wordpress.com&amp;blog=9233758&amp;post=7383&amp;subd=ibnuabbaskendari&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align:left;" align="center"><strong><a href="http://ibnuabbaskendari.files.wordpress.com/2012/01/berjabat-tangan-usai-sholat-sunnah-atau-bid_ah1.jpg"><img class="alignleft size-thumbnail wp-image-7385" title="Berjabat Tangan Usai Sholat Sunnah Atau Bid’ah" src="http://ibnuabbaskendari.files.wordpress.com/2012/01/berjabat-tangan-usai-sholat-sunnah-atau-bid_ah1.jpg?w=150&#038;h=112" alt="" width="150" height="112" /></a>Ustadz Abu Ibrohim Muhammad Ali A.M.</strong></p>
<p><strong>MUQODDIMAH</strong></p>
<p>Menjadi suatu kelaziman bagi kebanyakan kaum muslimin di tanah air kita, setiap usai sholat berjama’ah satu per satu jama’ah mengulurkan tangannya ke samping kanan, kiri, bahkan ke belakang. Serasa kurang afdhol jika usai sholat tidak dilengkapi saling bersalam-salaman.</p>
<p>Dalil yang sangat mendasar dalam perkara ini tidak lain adalah hadits-hadits umum yang menganjurkan kaum muslimin untuk saling berjabat tangan yang bermanfaat menggugurkan dosa.<a title="" href="#_ftn1">[1]</a> Di sisi lain, sebagian saudara kita mengatakan bahwa bersalam-salaman usai sholat adalah amalan yang tiada tuntunannya dari Rasulullah <em>Shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> dan para sahabatnya yang mulia (baca : bid’ah), bahkan ada yang terang-terangan menolak dengan tegas ketika seorang awam mengulurkan tangan hendak menjabat tangannya usai sholat, lalu timbullah keracunan dan fitnah.</p>
<p>Bagaimanakah tinjauan Islam dalam hal ini? Jika memang tiada tuntunannya, apakah dibenarkan sikap menolak uluran tangan orang lain seusai sholat dengan dalih mengingkari kemungkaran? Marilah kita simak kajian kita ini, mudah-mudahan Allah melapangkan dada dan hati kita untuk setiap kebenaran. <em>Amin.<span id="more-7383"></span></em></p>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong>MAKNA SALING BERJABAT TANGAN<a title="" href="#_ftn2"><strong>[2]</strong></a></strong></p>
<p>Bersalam-salaman – dalam bahasa kita – diambil dari bahasa Arab               yang bermakna                   (<em>berjabat tangan).</em> Disebut <em>saling berjabat tangan</em> apabila seseorang meletakkan telapak tangannya pada telapak tangan orang lain.<a title="" href="#_ftn3">[3]</a></p>
<p>Saling berjabat tangan disyari’atkan bagi sesama muslim, sebagaimana hadits yang diriwayatkan Hudzaifah bin Yaman<em> radhiyallahu ‘anhu </em>Nabi <em>Shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> bersabda : <em>“Sesungguhnya seorang mukmin jika bertemu dengan mukmin lainnya, lalu (yang satu) mengucap salam (kepada yang lainnya), dan saling berjabat tangan, niscaya akan berguguran dosa-dosa keduanya, sebagaimana bergugurannya daun pepohonan.” </em>(HR. Thabrani dalam <em>al-Mu’jam al-Ausath</em> : 250 dan dishahihkan oleh al-Albani<a title="" href="#_ftn4">[4]</a>).</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong>KAPAN DIANJUR SALING BERJABAT TANGAN?</strong></p>
<p>Hadits di atas menunjukkan bahwa secara umum disyaria’atkan bagi seorang muslim berjabat tangan dan mengucapkan salam <strong>saat berjumpa</strong> <em>dengan sesama muslim</em> sebagaimana hadits yang telah jelas diatas, demikian kebiasaan para sahabat seperti yang dikatakan oleh asy-Sya’bi :</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><em>“Biasanya para sahabat Nabi jika <strong>saling berjumpa,</strong> mereka saling berjabat tangan, dan jika datang dari bepergian jauh mereka berpelukan.”<a title="" href="#_ftn5"><strong>[5]</strong></a></em></p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Demikian juga disyari’atkan untuk saling berjabat tangan dan mengucapkan salam ketika hendak <strong>saling berpisah</strong>, sebagaimana keumuman hadits al-Baro’ bin Azib, beliau berkata :</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><em>“Termasuk di antara kesempurnaan penghormatan adalah jika engkau menjabat tangan saudaramu.”<a title="" href="#_ftn6"><strong>[6]</strong></a></em></p>
<p><em> </em></p>
<p>Syaikh al-Albani <em>rahimahullah</em> mengatakan, “Siapa yang meneliti hadits-hadits tentang (anjuran) berjabat tangan ketika <strong>saling berjumpa</strong> akan menjumpai hadits-hadits tersebut <strong>lebih kuat</strong> dibandingkan hadits-hadits anjuran berjabat tangan ketika <strong>saling berpisah,</strong> maka siapa yang mengerti dirinya, akan menarik kesimpulan bahwa saling berjabat tangan yang kedua (saat berpisah) anjurannya tidak sama tingkatannya dengan anjuran berjabat tangan yang pertama (saling berjumpa), yang pertama adalah sunnah, sedangkan yang kedua hanya dianjurkan, adapun perkataan bahwa (berjabat tangan saat berpisah) itu adalah bid’ah, maka perkataan ini tidak benar sebagaimana dalil yang kami sampaikan.”<a title="" href="#_ftn7">[7]</a></p>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong>HUKUM MENGKHUSUSKAN JABAT TANGAN USAI SHOLAT</strong></p>
<p>Telah kita ketahui bersama bahwa mengucap salam dan berjabat tangan  dianjurkan kapan saja ketika sesama muslim saling berjumpa dan hendak berpisah. Sementara itu, tidak diketahui pada seorang pun dari kalangan para sahabat Nabi <em>Shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> serta generasi berikutnya, bahwa mereka usai sholat langsung menyalami orang yang dikanan dan kirinya. Seandainya hal itu dilakukan oleh salah satu dari mereka, niscaya akan dijelaskan oleh para ulama dan akan sampai keterangannya kepada kita – walaupun hanya dengan hadits yang lemah, padahal kenyataannya tidak ada satu pun hadits yang menerangkan hal itu, bahkan banyak para ulama yang menegaskan bahwa hal itu merupakan perbuatan bid’ah.<a title="" href="#_ftn8">[8]</a></p>
<p>-        Berkata al-‘Izz bin Abdissalam <em>rahimahullah</em>, “Bersalam-salaman setelah (sholat) Subuh dan Asar termasuk bid’ah, kecuali orang yang baru datang bertemu dengan orang yang dia menyalaminya sebelum sholat, sebab berjabat tangan itu dianjurkan ketika baru datang (berjumpa). Adapun Nabi <em>Shallallahu ‘alaihi wa sallam</em>, maka beliau setelah salam langsung berdzikir dengan dzikir-dzikir yang disyari’atkan. Beliau beristighfar tiga kali, lalu beliau berpaling, beliau mengucapkan do’a :<em>‘Wahai Tuhanku peliharalah aku dari adzab-Mu pada hari Engkau membangkitkan hamba-hambaMu.’</em> (HR. Muslim 62).</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Demikianlah yang dilakukan Nabi <em>Shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> beserta sahabatnya yang mulia, usai sholat langsung berdzikir. Adapun berjabat tangan usai sholat, maka akan memutuskan dzikir orang lain, dan hal itu jelas dilarang, sedang sebaik-baik perkataan agama adalah mengikuti jejak Nabi <em>Shallallahu ‘alaihi wa sallam</em>.”<a title="" href="#_ftn9">[9]</a></p>
<p>Jika bid’ah saling berjabat tangan usai sholat pada zaman al’Izz bin Abdissalam terjadi pada sholat Subuh dan Asar saja, maka pada hari ini bid’ah tersebut menjalar pada semua sholat fardhu, bahkan masuk kepada sholat lainnya.</p>
<p>-        Berkata al-Luknawi <em>rahimahullah</em>, “Sudah menyebar dua perkara (bid’ah) pada zaman kita ini di kebanyakan negara, khususnya negeri ad-Dakn yang mana dari sanalah sumber bid’ah dan fitnah-fitnah. <strong>Pertama</strong>, mereka tidak mengucapkan salam saat memasuki masjid pada waktu (hendak) sholat Subuh, tetapi mereka langsung masuk dan sholat sunnah, lalu sholat wajib (subuh), kemudian setelah sholat Subuh baru saling mengucap salam satu sama lainnya, maka ini adalah perkara yang buruk karena mengucap salam disyari’atkan saat saling berjumpa sebagaimana telah sah keterangannya dalam hadits-hadits, dan bukanlah (mengucapkan salam itu) ketika sudah duduk di tengah di majelis. <strong>Kedua</strong>, mereka saling berjabat tangan usai sholat Subuh, Asar, sholat Id, dan sholat Jum’at, padahal disyari’atkannya berjabat tangan adalah ketika awal berjumpa (bukan ketika duduk di tengah majelis).”</p>
<p>-        Termasuk (para ulama) yang melarang (saling berjabat tangan usai sholat) adalah Ibnu Hajar al-Haitami dari kalangan ulama madzhab asy-syafi’i,<a title="" href="#_ftn10">[10]</a> beliau mengatakan, “Apa yang dilakukan manusia berupa saling berjabat tangan usai sholat lima waktu hukumnya <strong>dibenci</strong>, dan tidak ada asal-usulnya dalam syar’at.”<a title="" href="#_ftn11">[11]</a></p>
<p>-        Demikian juga Quthbuddin bin Alauddin al-Makki al-Hanafi, bahkan beliau menjadikannya termasuk bid’ah yang buruk dalam kitabnya <em>Majalisul Abror</em>, beliau berkata, “Saling berjabat tangan adalah perkara yang baik ketika saling berjumpa. Adapun dalam keadaan bukan saling berjumpa seperti berjabat tangan usai sholat Jum’at dan sholat Id seperti kebiasaan manusia saat ini, maka hadits-haditsnya tidak menyebutkan hal itu, sehingga tetap tidak ada landasannya, padahal sudah menjadi baku dalam tempatnya (kaidah) : ‘Apa saja yang tiada dalilnya maka tertolak, dan tidak boleh taklid (membebek) dalalm hal itu.’”<a title="" href="#_ftn12">[12]</a></p>
<p>-        Para ulama ahli fiqih dari kalangan madzhab Hanafi, Syafi’i dan Maliki terang-terangan mengatakan hal itu termasuk <strong>perkara yang dibenci dan bid’ah</strong>, seperti disebutkan dalam <em>al-Multaqot,</em> “Saling berjabat tangan usai sholat hukumnya <strong>dibenci secara total</strong>, sebab para sahabat Nabi <em>Shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> tidaklah saling berjabat tangan usai sholat, dan itu termasuk (mengikuti) sunnah / petunjuknya kaum Rofidhoh.”<a title="" href="#_ftn13">[13]</a></p>
<p>-        Syaikhul Islam ketika ditanya tentang hukum berjabat tangan usai sholat, beliau menjawab, “Saling berjabat tangann usai sholat bukan termasuk sunnah, melainkan termasuk bid’ah.”<a title="" href="#_ftn14">[14]</a></p>
<p>-        Berkata Syaikh al-Albani<em> rahimahullah</em>“Adapun saling berjabat tangan usai sholat, maka tidak diragukan itu <strong>bid’ah</strong>, kecuali jika dua orang belum saling berjumpa saat itu, maka disunnahkan saling berjabat tangan (usai sholat).”<a title="" href="#_ftn15">[15]</a></p>
<p>-        Lajnah Daimah ditanya hukum berjabat tangan usai sholat apakah termasuk bid’ah atau sunnah?</p>
<p>Jawabnya : Saling berjabat tangan  usai sholat dengna menjadikannya rutinitas, tidak kami ketahui dalilnya. Hal itu termasuk bid’ah sebagaimana sabda Rasulullah <em>Shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> : <em>Barang siapa mengamalkan suatu amalan (agama) yang tidak ada dalil padanya, maka bertolak.” Dalam suatu riwayat, “Barang siapa mengada-adakan dalm urusan (agama) kami yang tidak termasuk didalamnya, maka hal itu tertolak.” </em>(HR. Bukhari : 2499 dan Muslim : 3242) (Fatawa Lajnah Daimah no. 268).</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Walhasil, apa yang dilakukan sebagian kaum muslimin ketika masuk masjid tanpa mengucapkan salam dan langsung diam di masjid sampai selesai sholat baru kemudian saling berjabat tangan dan menjadikan hal itu sebagai kebiasaan, maka termasuk bid’ah. Adapun saling berjabat tangan secara umum ketika pertama kali berjumpa disertai dengan ucapan salam sebelumnya, maka hukumnya sunnah.<a title="" href="#_ftn16">[16]</a></p>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong>MENYIKAPI JABATAN TANGAN USAI SHOLAT</strong></p>
<p>Sebagai saudara kita barangkali karena menganggap jabat tangan usai sholat adalah bid’ah lalu dia menolak ajaran jabat tangan orang yang tidak tahu (orang awam) terhadap bid’ah dengan dalih mengingkari kemungkaran, lalu yang timbul adalah fitnah, kecurigaan, kebencian, dan tidak tersampaikannya sunnah Nabi <em>Shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> dengan baik.</p>
<p>Karena itu, jika kondisinya demikian maka bukanlah termasuk sikap yang bijaksana menolak ajakan jabat tangan orang awam, seharusnya ajakan jabat tangan diterima dengan lembut, lalu jika mampu, dia jelaskan hukum jabat tangan yang sebenarnya, karena permasalahannya memang perlu penjelasan dan hukum asalnya sunnah, betapa banyak manusia mendapat petunjuk kebenaran sebab digunakan cara lemah lembut dan bijaksana, dan betapa sering manusia menjauhi kebenaran sebab disampaikan secara kasar dan kurang sopan.<a title="" href="#_ftn17">[17]</a></p>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong>SYUBHAT-SYUBAT</strong></p>
<p><strong>Syubhat pertama</strong></p>
<p>Saling berjabat tangan usai sholat termasuk masalah khilafiyah sehingga tidak boleh diingkari.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Jawabnya : Tidak semua perbedaan / khilaf itu bisa diterima dan tidak boleh diingkari. Kewajiban setiap orang yang beriman ketika menjumpai perbedaan pendapat, dia harus menggali masalah semampunya dengan cara merujuk kepada al-Qur’an dan Sunnah Rasulullah <em>Shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> (lihat QS. An-Nisa’ [4] : 59). Setelah itu, dia harus memahami dengan benar sehingga mengetahui masalah tersebut termasuk sunnah atau bid’ah menurut al-Qur’an dan sunnah Rosul, kemudian menerapkan kaidah-kaidah <em>ushuliyyah </em>terhadap masalah. Apabila hasilnya bid’ah yang mungkar maka dia wakjib menerangkan masalah tersebut kepada umat dan menasihati umat dengan bijaksana agar tidak melakukannya.<a title="" href="#_ftn18">[18]</a></p>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong>Syubhat kedua</strong></p>
<p>Al-‘Izz bin Abdissalam memasukkan masalah ini ke dalam bid’ah yang mubah bukan haram.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Jawabnya : Adapun pembagian bid’ah menjadi beberapa hukum telah dibantah oleh para ulama<a title="" href="#_ftn19">[19]</a>. Pada sahabat sepakat bid’ah dalam masalah agama itu semuanya sesat, sebagaimana sabda Nabi <em>Shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> : <em>“Semua bid’ah adalah sesat.”</em> (HR. Muslim 2/595)<a title="" href="#_ftn20">[20]</a></p>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong>Syubhat ketiga</strong></p>
<p>Imam Nawawi <em>rahimahullah</em> berkata : <em>“Hukum asal berjabat sunnah, dan mereka menjadikannya sebagai rutinitas dalam sebagian keadaan (usai sholat misalnya), tidaklah keluar dari koridor hukum asal sunnah.” (Fathul Bari</em> : 11/55)</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Jawabnya : Adapun perkataan Imam Nawawi di atas, maka setiap perkataan manusia diterima jika benar dan  ditolak jika salah, sedang perkataan tersebut jelas bertentangan dengan sunnah Rasulullah <em>Shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> sehingga tertolak.<a title="" href="#_ftn21">[21]</a></p>
<p>Imam Nawawi menjelaskan maksud perkataan diatas yang masih global dalam kitabnya <em>al-Adzkar</em>, beliau berkata : “Ketahuilah bahwa berjabat tangan ketika saling berjumpa hukumnya sunnah, adapun kebiasaan manusia berupa saling berjabat tangan usai sholat Subuh dan Asar, maka tidak ada asal-usulnya dalam syari’at jika dengan cara seperti ini, tetapi hal itu boleh sebab hukum asal berjabat tangan adalah sunnah, sedangkan <strong>mereka melakukannya pada sebagian waktu dan meninggalkannya pada banyak waktu atau mereka tinggalkan pada kebanyakan waktu,</strong> maka hal itu tidak keluar dari koridor hukum asal (sunnahnya) berjabat tangan yang telah dianjurkan oleh syari’at.” (<em>Al-Adzkar Pasal “fi al-Mushofahah”</em> : 1/586-587).</p>
<p>Dari penjelasan di atas kita ketahui bahwa jika sesekali melakukan hal tersebut – tetapi kebanyakan (sering) nya ditinggalkan – maka hal itu boleh karena keumuman dalil, tetapi jika melazimi / menjadikannya sebagai rutinitas, maka inilah yang termasuk bid’ah. <em>Wallahu A’lam.</em></p>
<p><em> </em></p>
<p><strong>Syubhat keempat</strong></p>
<p>Ada hadits yang berbunyi : <em>“Berjaba tanganlah setelah sholat Subuh, maka Allah akan menuliskan bagi kalian 10 pahala.” Dan dalam lafazh lain, “Berjabat tanganlah setelah sholat Asar, maka kamu akan dibalas dengan rahmat dan ampunan.”</em></p>
<p><em> </em></p>
<p>Jawabnya : Kedua hadits itu <strong>palsu,</strong> dibuat-buat oleh para pelaku jabat tangan usai sholat. Demikianlah, hadits-hadits yang semisal itu juga palsu, tidak ada yang sah dari Rasulullah <em>Shallallahu ‘alaihi wa sallam</em>.<a title="" href="#_ftn22">[22]</a> <em>Wallahu a’lam</em></p>
<p>Sumber: Majalah Al Furqon no. 116 edisi:1 th ke.-11 Sya’ban-Ramadhan 1432H</p>
<div>Artikel: www.ibnuabbaskendari.wordpress.com</p>
<hr align="left" size="1" width="33%" />
<div>
<p><a title="" href="#_ftnref1">[1]</a>   HR. Thobroni dalam <em>al-Mu’jam al-Ausath : </em>250, dan dishohihkan oleh al-Albani dalam <em>Silsilah al-Ahadits ash-Shohihah</em> : 1/52.</p>
</div>
<div>
<p><a title="" href="#_ftnref2">[2]</a>   Lihat <em>Lisanul Arab </em>: 7/356 karya Ibnu Manzhur dan <em>al-Mu’jamul Wasith </em>hlm. 516</p>
</div>
<div>
<p><a title="" href="#_ftnref3">[3]</a>   Syaikh al-Albani <em>rahimahullah </em>berkata, “Hadits-hadits (dalam masalah berjabat tangan) semuanya menunjukkan bahwa yang disunnahkan dalam berjabat tangan adalah dengan satu tangan saja, adapun yang dilakukan sebagian masyayikh yang berjabat tangan dengan kedua tangan semuanya, maka hal ini tidak sesuai sunnah.” (<em>Silsilah al-Ahadits ash-Shohihah</em> : 1/52).</p>
</div>
<div>
<p><a title="" href="#_ftnref4">[4]</a>   Al-Mudziri menghukumi keabsahan hadits ini karena tidak dijumpai perawi yang cacat di dalamnya, Syaikh al-Albani <em>rahimahullah </em>mengatakan, “bahkan ada hadits yang mengguatkan hadits ini sehingga menjadi kuat, di antaranya hadits Anas dari Dhiya’ al-Maqdisi dalam <em>al-Mukhtaroh,</em> dan al-Mundziri menyandarkan (riwayat ini) kepada Imam Ahmad dan selainnya.” (<em>Silsilah al-Ahadits ash-Shohihah</em> : 1/52).</p>
</div>
<div>
<p><a title="" href="#_ftnref5">[5]</a>   HR. Thobroni dalam <em>al-Ausath</em> : 3/270, Baihaqi : 7/100, dan dishohihkan oleh al-Albani dalam <em>Silsilah Shohihah</em> : 2647.</p>
</div>
<div>
<p><a title="" href="#_ftnref6">[6]</a>   Hadits-hadits yang semakna dengan ini sangat banyak yang disandarkan kepada perkataan Rasulullah <em>Shallallahu ‘alaihi wa sallam</em>. Hanya, semua hadits yang disandarkan kepada Rasulullah <em>Shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> dalam hal ini tidak sah. Akan tetapi, ada sebuah hadits yang hanya sampai pada perkataan sahabat Nabi yaitu al-Baro’ bin Azib, maka riwayat ini sah sampai kepada beliau, semua perawinya <em>tsiqoh </em>tepercaya (lihat <em>Silsilah al-Ahadits adh-Dho’ifah</em> 1288).</p>
</div>
<div>
<p><a title="" href="#_ftnref7">[7]</a>   <em>Silsilah al-Ahadits ash-Shohihah</em> : 1/52</p>
</div>
<div>
<p><a title="" href="#_ftnref8">[8]</a>   Lihat <em>al-Qoulul Mubin fi Akhtho’il Mushollin</em> karya Masyhur Hasan Salman hlm. 293-294.</p>
</div>
<div>
<p><a title="" href="#_ftnref9">[9]</a>   Lihat <em>Fatawa al’Izz bin Abdissalam </em>hlm. 46-47, dan <em>al-Majmu’ Syarhul Muhadzdzab :</em> 3/488 (dinukil dari <em>al-Qoulul Mubin fi Akhto’il Mushollin </em>karya Masyhur Hasan Salman hlm. 294).</p>
</div>
<div>
<p><a title="" href="#_ftnref10">[10]</a>  Lihat <em>as-Si’ayah fil Kasyfi ‘Amma fi Syarhil Wiqoyah</em> hlm. 264, <em>ad-Din al-Kholish </em>: 4/314, <em>al-Madkhol :</em> 2/84, dan <em>as-Sunan wal Mubtada’at</em> hlm. 72-87.</p>
</div>
<div>
<p><a title="" href="#_ftnref11">[11]</a>  <em>Ibid</em></p>
</div>
<div>
<p><a title="" href="#_ftnref12">[12]</a>  Lihat <em>al-Qoulul Mubin fi Akhtho’il Mushollin </em>Karya Masyhur Hasan Salman hlm. 295.</p>
</div>
<div>
<p><a title="" href="#_ftnref13">[13]</a>  <em>Ibid</em></p>
</div>
<div>
<p><a title="" href="#_ftnref14">[14]</a>  <em>Majmu’ Fatawa Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah :</em> 5/335</p>
</div>
<div>
<p><a title="" href="#_ftnref15">[15]</a>  <em>Silsilah al-Ahadits ash-Shohihah</em> : 1/23</p>
</div>
<div>
<p><a title="" href="#_ftnref16">[16]</a>  Dinukil secara bebas dari <em>al-Masjid fil Islam Ahkamuhu wa Adabuhu wa Bida’uhu</em> karya Khoiruddin al-Wanili, cet. Ad-Darul Atsariyah, cetakan 1428 H.</p>
</div>
<div>
<p><a title="" href="#_ftnref17">[17]</a>  Lihat <em>Tamamul Kalam fi Bid’iyyatil Mushofahah Ba’das Salam </em>hlm. 23, dinukil secara bebas dari <em>al-Qoulul Mubin fi Akhtho’il Mushollin </em>hlm. 296-297.</p>
</div>
<div>
<p><a title="" href="#_ftnref18">[18]</a>  Lihat <em>Penjelasan Gamblang Seputar Hukum Yasinan, Tahlilan, dan Selamatan </em>karya penulis hlm. 70-76, cetakan pertama, Pustaka al-Ummat, 1427 H.</p>
</div>
<div>
<p><a title="" href="#_ftnref19">[19]</a>  Lihat keterangan “semua bid’ah adalah sesat” yang sangat memuaskan dalam <em>al-Bid’ah wa Atsaruha as-Sayyi fil Ummah</em> karya Abu Usamah Salim bin Id al-Hilali hlm. 100-106, lihat pula <em>Ilmu Ushul al-Bida’ </em>karya Ali bin Hasan al-Halabi hlm. 91-105, <em>al-I’tishom</em> karya Ali bin Hasan al-Halabi <em>hafidhahullah</em> hlm. 91-105, <em>al-I’tishom</em> karya Imam asy-Shathibi : 1/319, dan <em>al-Ibda’ fi Kamil asy-Syar’i </em>karya Syaikh Ibnu Utsaimin hlm. 13.</p>
</div>
<div>
<p><a title="" href="#_ftnref20">[20]</a>  Lihat penjelasan masalah “semua bid’ah sesat” dalam <em>al-I’tishomi </em>karya Imam asy-Syathibi : 2/49, lihat juga <em>Penjelasan Gamblang Seputar Hukum Yasinan, Tahlilan, dan Selamatan</em> hlm. 34-38.</p>
</div>
<div>
<p><a title="" href="#_ftnref21">[21]</a>  Muhammad Syamsuddin al-Azhim al-Abadi telah membantah perkataan Imam Nawawi di atas dan menegaskan bahwa perkataannya jelas salah (lihat <em>Aunul Ma’bud Syarh Sunan Abi Dawud :</em> 11/247).</p>
</div>
<div>
<p><a title="" href="#_ftnref22">[22]</a>  Lihat <em>as-Si’ayah fil Kasyfi ‘Amma fi Syarhil Wiqoyah </em>hlm. 265 (dinukil secara bebas dari <em>al-Qoulul Mubin fi Akhtho’il Mushollin</em> hlm. 296).</p>
</div>
</div>
<br />Filed under: <a href='http://ibnuabbaskendari.wordpress.com/category/amalan/'>Amalan</a>, <a href='http://ibnuabbaskendari.wordpress.com/category/fiqih/'>Fiqih</a>  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/ibnuabbaskendari.wordpress.com/7383/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/ibnuabbaskendari.wordpress.com/7383/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/ibnuabbaskendari.wordpress.com/7383/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/ibnuabbaskendari.wordpress.com/7383/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/ibnuabbaskendari.wordpress.com/7383/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/ibnuabbaskendari.wordpress.com/7383/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/ibnuabbaskendari.wordpress.com/7383/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/ibnuabbaskendari.wordpress.com/7383/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/ibnuabbaskendari.wordpress.com/7383/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/ibnuabbaskendari.wordpress.com/7383/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/ibnuabbaskendari.wordpress.com/7383/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/ibnuabbaskendari.wordpress.com/7383/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/ibnuabbaskendari.wordpress.com/7383/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/ibnuabbaskendari.wordpress.com/7383/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=ibnuabbaskendari.wordpress.com&amp;blog=9233758&amp;post=7383&amp;subd=ibnuabbaskendari&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ibnuabbaskendari.wordpress.com/2012/01/24/berjabat-tangan-usai-sholat-sunnah-atau-bidah/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/ff91e6b351183efcb2f63ddc3b6b8d4f?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">ibnuabbaskendari</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://ibnuabbaskendari.files.wordpress.com/2012/01/berjabat-tangan-usai-sholat-sunnah-atau-bid_ah1.jpg?w=150" medium="image">
			<media:title type="html">Berjabat Tangan Usai Sholat Sunnah Atau Bid’ah</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Download Audio: Khutbah Jum&#8217;at &#8220;Pengaruh Hadits Palsu Terhadap Keyakinan Umat Islam&#8221; Ust Badrussalam</title>
		<link>http://ibnuabbaskendari.wordpress.com/2012/01/16/download-audio-khutbah-jumat-pengaruh-hadits-palsu-terhadap-keyakinan-umat-islam-ust-badrussalam/</link>
		<comments>http://ibnuabbaskendari.wordpress.com/2012/01/16/download-audio-khutbah-jumat-pengaruh-hadits-palsu-terhadap-keyakinan-umat-islam-ust-badrussalam/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 16 Jan 2012 02:58:24 +0000</pubDate>
		<dc:creator>ibnuabbaskendari</dc:creator>
				<category><![CDATA[Download Audio]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ibnuabbaskendari.wordpress.com/?p=7376</guid>
		<description><![CDATA[Ada sebagian kaum muslimin yang menganggap bahwa bulan safar adalah bulan sial terlebih dihari rabu yang terakhir, ada yang menganggap sial karena batu, rumah, suara burung dan bahkan ada yang menganggap sial terhadap hari-hari tertentu. Apakah hal ini benar-benar berasal dari ajaran Islam yang haq? Apakah ada dalilnya dari Al Qur’an? Atau mungkin dari Al [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=ibnuabbaskendari.wordpress.com&amp;blog=9233758&amp;post=7376&amp;subd=ibnuabbaskendari&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Ada sebagian kaum muslimin yang menganggap bahwa bulan safar adalah bulan sial terlebih dihari rabu yang terakhir, ada yang menganggap sial karena batu, rumah, suara burung dan bahkan ada yang menganggap sial terhadap hari-hari tertentu. Apakah hal ini benar-benar berasal dari ajaran Islam yang haq? Apakah ada dalilnya dari Al Qur’an? Atau mungkin dari Al Hadits?<br />
Tidakkah terpikir bahwa setiap detik, setiap jam, setiap harinya nikmat Allah tidak pernah berhenti turun kepada kita, kemudian dimana letak kesialan yang disandarkan kepada sesuatu itu? Karena kesialan dan Rahmat Allah adalah haq Allah.</p>
<p>Semoga khutbah jum’at yang singkat ini bisa semakin memberikan kita ketakwaan dalam kehidupan sehari kita.</p>
<p>Semoga bermanfaat. Silahkan download pada link berikut:<span id="more-7376"></span></p>
<p><a href="http://kajian.net/kajian-audio/Ceramah/Badrusalam/Pengaruh%20Hadits%20Palsu%20Terhadap%20Keyakinan%20Umat%20Islam/Pengaruh%20Hadits%20Palsu%20Terhadap%20Keyakinan%20Umat%20Islam.mp3?l=12" target="_blank">Pengaruh Hadits Palsu Terhadap Keyakinan Ummat Islam</a></p>
<p>Sumber: radiorodja.com Via Kajian Net</p>
<br />Filed under: <a href='http://ibnuabbaskendari.wordpress.com/category/download-audio/'>Download Audio</a>  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/ibnuabbaskendari.wordpress.com/7376/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/ibnuabbaskendari.wordpress.com/7376/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/ibnuabbaskendari.wordpress.com/7376/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/ibnuabbaskendari.wordpress.com/7376/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/ibnuabbaskendari.wordpress.com/7376/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/ibnuabbaskendari.wordpress.com/7376/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/ibnuabbaskendari.wordpress.com/7376/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/ibnuabbaskendari.wordpress.com/7376/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/ibnuabbaskendari.wordpress.com/7376/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/ibnuabbaskendari.wordpress.com/7376/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/ibnuabbaskendari.wordpress.com/7376/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/ibnuabbaskendari.wordpress.com/7376/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/ibnuabbaskendari.wordpress.com/7376/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/ibnuabbaskendari.wordpress.com/7376/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=ibnuabbaskendari.wordpress.com&amp;blog=9233758&amp;post=7376&amp;subd=ibnuabbaskendari&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ibnuabbaskendari.wordpress.com/2012/01/16/download-audio-khutbah-jumat-pengaruh-hadits-palsu-terhadap-keyakinan-umat-islam-ust-badrussalam/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
<enclosure url="http://kajian.net/kajian-audio/Ceramah/Badrusalam/Pengaruh%20Hadits%20Palsu%20Terhadap%20Keyakinan%20Umat%20Islam/Pengaruh%20Hadits%20Palsu%20Terhadap%20Keyakinan%20Umat%20Islam.mp3?l=12" length="3266819" type="audio/mpeg" />
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/ff91e6b351183efcb2f63ddc3b6b8d4f?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">ibnuabbaskendari</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Download Audio: &#8220;Antara Kyai dan Dokter&#8221; Ust Abdullah Zaen, MA</title>
		<link>http://ibnuabbaskendari.wordpress.com/2012/01/13/download-audio-antara-kyai-dan-dokter-ust-abdullah-zaen-ma/</link>
		<comments>http://ibnuabbaskendari.wordpress.com/2012/01/13/download-audio-antara-kyai-dan-dokter-ust-abdullah-zaen-ma/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 13 Jan 2012 01:11:44 +0000</pubDate>
		<dc:creator>ibnuabbaskendari</dc:creator>
				<category><![CDATA[Download Audio]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ibnuabbaskendari.wordpress.com/?p=7374</guid>
		<description><![CDATA[Berikut kami hadirkan rekaman kajian umum bersama Ustadz Abdullah Zaen, MA yang diselenggarakan di Masjid Agung Purbalingga pada hari Jum’at, 06 Januari 2012 / 12 Shafar 1433H Materi yang disampaikan pada pertemuan ini adalah ” Antara Kyai dan Dokter “ (Persamaan dan Perdedaan Antara Kyai dan Dokter). Semoga apa yang beliau sampaikan bermanfaat bagi seluruh [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=ibnuabbaskendari.wordpress.com&amp;blog=9233758&amp;post=7374&amp;subd=ibnuabbaskendari&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Berikut kami hadirkan rekaman kajian umum bersama <a href="http://tunasilmu.com/" target="_blank"><strong>Ustadz Abdullah Zaen, MA</strong></a></p>
<p>yang diselenggarakan di Masjid Agung Purbalingga pada hari Jum’at, 06 Januari 2012 / 12 Shafar 1433H</p>
<p>Materi yang disampaikan pada pertemuan ini adalah<strong> ” Antara Kyai dan Dokter “</strong> (Persamaan dan Perdedaan Antara Kyai dan Dokter).</p>
<p>Semoga apa yang beliau sampaikan bermanfaat bagi seluruh kaum muslimin. Silahkan simak kajiannya dengan mendownloadnya pada link berikut:<span id="more-7374"></span></p>
<p><a href="http://us.kajian.net/kajian-audio/Ceramah/Abdullah%20Zaen/Antara%20Dokter%20dan%20Kiayi/Antara%20Dokter%20dan%20Kiayi.mp3?l=12"><img src="http://1.bp.blogspot.com/_8LUAhSXzLDY/TQtkrgyGYZI/AAAAAAAAAUQ/QHmyc08lK8s/s1600/Download+study-islam.png" alt="" border="0" /></a></p>
<p>Sumber: <a href="http://moslemsunnah.wordpress.com/" target="_blank">MoslemSunnah</a></p>
<br />Filed under: <a href='http://ibnuabbaskendari.wordpress.com/category/download-audio/'>Download Audio</a>  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/ibnuabbaskendari.wordpress.com/7374/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/ibnuabbaskendari.wordpress.com/7374/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/ibnuabbaskendari.wordpress.com/7374/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/ibnuabbaskendari.wordpress.com/7374/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/ibnuabbaskendari.wordpress.com/7374/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/ibnuabbaskendari.wordpress.com/7374/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/ibnuabbaskendari.wordpress.com/7374/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/ibnuabbaskendari.wordpress.com/7374/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/ibnuabbaskendari.wordpress.com/7374/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/ibnuabbaskendari.wordpress.com/7374/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/ibnuabbaskendari.wordpress.com/7374/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/ibnuabbaskendari.wordpress.com/7374/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/ibnuabbaskendari.wordpress.com/7374/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/ibnuabbaskendari.wordpress.com/7374/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=ibnuabbaskendari.wordpress.com&amp;blog=9233758&amp;post=7374&amp;subd=ibnuabbaskendari&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ibnuabbaskendari.wordpress.com/2012/01/13/download-audio-antara-kyai-dan-dokter-ust-abdullah-zaen-ma/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
<enclosure url="http://us.kajian.net/kajian-audio/Ceramah/Abdullah%20Zaen/Antara%20Dokter%20dan%20Kiayi/Antara%20Dokter%20dan%20Kiayi.mp3?l=12" length="12579613" type="audio/mpeg" />
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/ff91e6b351183efcb2f63ddc3b6b8d4f?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">ibnuabbaskendari</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://1.bp.blogspot.com/_8LUAhSXzLDY/TQtkrgyGYZI/AAAAAAAAAUQ/QHmyc08lK8s/s1600/Download+study-islam.png" medium="image" />
	</item>
		<item>
		<title>Pembawa Surat untuk Nabi Palsu</title>
		<link>http://ibnuabbaskendari.wordpress.com/2012/01/13/pembawa-surat-untuk-nabi-palsu/</link>
		<comments>http://ibnuabbaskendari.wordpress.com/2012/01/13/pembawa-surat-untuk-nabi-palsu/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 13 Jan 2012 00:31:39 +0000</pubDate>
		<dc:creator>ibnuabbaskendari</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kisah]]></category>
		<category><![CDATA[Sirah Nabawi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ibnuabbaskendari.wordpress.com/?p=7368</guid>
		<description><![CDATA[Ustadz Abu Hammam Nurkholis Kurdian Sosok yang dipilih Nabi shallallâhu &#8216;alaihi wa sallam untuk menyerahkan surat ke Musailamah al-Kadzdzâb si nabi palsu adalah Habîb bin Zaid bin ‘Ashim bin ‘Amr bin ‘Auf bin Mabdzûl bin ‘Amr bin Ghânim bin an-Najjâr al-Anshâri al-Mâzini an-Najjâri.[1] Beliau seorang yang mulia yang berasal dari keluarga yang baik. Kedua orang [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=ibnuabbaskendari.wordpress.com&amp;blog=9233758&amp;post=7368&amp;subd=ibnuabbaskendari&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div style="text-align:left;" align="center"><strong><a href="http://ibnuabbaskendari.files.wordpress.com/2012/01/pembawa-surat-untuk-nabi-palsu1.jpg"><img class="alignleft size-thumbnail wp-image-7371" title="Pembawa Surat untuk Nabi Palsu" src="http://ibnuabbaskendari.files.wordpress.com/2012/01/pembawa-surat-untuk-nabi-palsu1.jpg?w=150&#038;h=145" alt="" width="150" height="145" /></a>Ustadz Abu Hammam Nurkholis Kurdian</strong></div>
<p>Sosok yang dipilih Nabi shallallâhu &#8216;alaihi wa sallam untuk menyerahkan surat ke Musailamah al-Kadzdzâb si nabi palsu adalah Habîb bin Zaid bin ‘Ashim bin ‘Amr bin ‘Auf bin Mabdzûl bin ‘Amr bin Ghânim bin an-Najjâr al-Anshâri al-Mâzini an-Najjâri.<a href="http://majalah-assunnah.com/index.php?option=com_content&amp;view=article&amp;id=299:pembawa-surat-untuk-nabi-palsu&amp;catid=67:baituna&amp;Itemid=142#1"><abbr title="Al-Isti’aab fii ma’rifatil ash-haab (Jilid 1/Hal.381). Dar-Alkutub Al-ilmiyah - Beirut. Cet. ke2 - th 1422 H /2002 M.">[1]</abbr></a> Beliau seorang yang mulia yang berasal dari keluarga yang baik. Kedua orang tua dan saudaranya termasuk para Sahabat yang telah berbaiat kepada Nabi shallallâhu &#8216;alaihi wa sallam pada baiat ‘Aqabah. Setelah hijrah ke Madinah, beliau hidup di sisi Nabi shallallâhu &#8216;alaihi wa sallam, berjihad bersamanya.<a href="http://majalah-assunnah.com/index.php?option=com_content&amp;view=article&amp;id=299:pembawa-surat-untuk-nabi-palsu&amp;catid=67:baituna&amp;Itemid=142#2"><abbr title="Dikutip dari Rijal Haular Rasul (Hal.130). Maktabah Syamilah 3.">[2]</abbr></a></p>
<p>Ibnu Sa’ad &#8216;alaihissalam berkata, “Habib radhiyallâhu&#8217;anhu telah ikut serta dalam peperangan Uhud, Khandaq dan peperangan lainnya”<a href="http://majalah-assunnah.com/index.php?option=com_content&amp;view=article&amp;id=299:pembawa-surat-untuk-nabi-palsu&amp;catid=67:baituna&amp;Itemid=142#3"><abbr title="Al Ishabah fi Tamyizish shahabah (Jilid 2/Hal.18). Dar-Alkutub Al-ilmiyah Beirut. Cet. Ke3 - th 1426 H/2005 M.">[3]</abbr></a>.<span id="more-7368"></span></p>
<p><strong><br />
KEMUNCULAN NABI PALSU</strong></p>
<p>Pada suatu hari muncullah fitnah yang besar di selatan Jazirah Arab, yaitu munculnya dua pembohong besar yang mengaku sebagai nabi. Satu di kota Shan’â, bernama al-Aswad al-‘Ansi. Dan satu lagi di kota Yamâmah, Musailamah al-Kadzdzâb. Keduanya mengajak manusia untuk mengimani kenabian mereka.</p>
<p>Waktu itu, Nabi shallallâhu &#8216;alaihi wa sallam dikejutkan dengan datangnya utusan yang membawa surat dari Musailamah. Tertulis di dalamnya, “Dari Musailamah utusan Allâh, kepada Muhammad Rasûlullâh. Semoga keselamatan selalu tercurah padamu. ‘Amma ba’du. Sesungguhnya aku telah ikut serta dalam perkara (kenabian) bersamamu. Bagiku separoh bumi dan bagi Quraisy separoh lainnya. Akan tetapi, suku Quraisy (engkau) telah berbuat melampaui batas”.</p>
<p>Sebelum utusan tersebut kembali kepada Musailamah, Rasûlullâh shallallâhu &#8216;alaihi wa sallam memanggil salah seorang Sahabat yang biasa menulis surat untuk beliau. Setelah itu, beliau mendektekan isi surat balasan yang berisi: “Dengan menyebut nama Allâh Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Dari Muhammad Rasûlullâh kepada Musailamah al-Kadzdzâb (pembohong), semoga keselamatan atas orang yang mengikuti petunjuk. ‘Amma ba’du. Sesungguhnya bumi adalah milik Allâh Ta&#8217;âla. Dia mewariskannya kepada siapa saja yang dikehendaki”</p>
<p>Setelah surat tersebut sampai kepadanya, Musailamah al-Kadzdzâb bertambah congkak dan kian semangat menyebarkan kebohongannya. Ia dan para pengikutnya melancarkan teror dan intimidasi terhadap kaum Muslimin. Bahkan melakukan penyiksaan terhadap kaum Muslimin yang menolak untuk menjadi pengikutnya.</p>
<p>Begitu mengetahui Musailamah semakin meresahkan kaum muslimin, <em>Rasûlullâh shallallâhu &#8216;alaihi wa sallam </em> ingin mengirim surat kepadanya guna melarang perbuatannya itu. Akhirnya, jatuhlah pilihan Nabi shallallâhu &#8216;alaihi wa sallam pada Habîb bin Zaid radhiyallâhu&#8217;anhu untuk mengantar surat tersebut kepada sang pendusta.</p>
<p><strong><br />
KETEGARAN HABIB BIN ZAID RADHIYALLÂHU&#8217;ANHU </strong></p>
<p>Sosok pemberani, tegar serta kokoh keislaman dan keimanannya ini, berangkat dengan membawa surat yang mulia dari Sayyidul Anbiyâ war rusul, Muhammad <em>shallallâhu &#8216;alaihi wa sallam</em> dengan hati penuh dengan harapan Musailamah akan masuk Islam. Setelah sampai di Yamâmah, surat tersebut diserahkan kepada Musailamah. Ia membaca dan lantas merobek-robeknya dengan penuh kesombongan dan kecongkakan.</p>
<p>Tidak lama kemudian, dia mengumpulkan pengikut-pengikutnya untuk menyaksikan apa yang akan terjadi di hadapan mereka. Musailamah bertanya kepada Habîb al-Anshâri radhiyallâhu&#8217;anhu, “Apakah kamu bersaksi bahwa Muhammad adalah utusan Allâh?” Habîb al-Anshâri radhiyallâhu&#8217;anhu menjawab,” Ya, aku bersaksi bahwa Muhammad adalah utusan Allâh”. Dengan wajah tampak pucat, Musailamah kembali bertanya, “Apakah kamu bersaksi bahwa aku adalah utusan Allâh? Habîb al-Anshâri radhiyallâhu&#8217;anhu menjawab, “Aku tidak mendengar”.</p>
<p>Wajah Musailamah berubah seketika itu menjadi kemerahan saking murkanya kepada Habîb al-Anshâri radhiyallâhu&#8217;anhu. Kemudian si nabi palsu memanggil algojonya untuk memotong anggota badan Habîb al-Anshâri radhiyallâhu&#8217;anhu setiap kali menjawab dengan jawaban tersebut. Pertanyaan pun diulang-ulangi, akan tetapi, Sahabat yang mulia ini teguh pada pendiriannya, menjawab pertanyaan-pertanyaan itu dengan jawaban serupa, meskipun satu-persatu anggota tubuh beliau dipotong, sampai akhirnya beliau meninggal dunia.</p>
<p>Sebenarnya, jika beliau menghendaki untuk mengatakan, “Ya, aku bersaksi bahwa dirimu adalah utusan Allâh” dengan hati tetap penuh dengan keimanan kepada Allâh Ta&#8217;âla dan Rasul-Nya , maka hal itu tidak akan mengurangi keimanan beliau sedikit pun. Namun, sosok seperti beliau ini yang pernah ikut baiat aqobah bersama bapak, ibu, dan saudaranya, lebih memilih mati syahid di jalan Allâh Ta&#8217;âla daripada hidup di dunia yang fana ini.</p>
<p>Demikianlah cuplikan kisah ketegaran Sahabat mulia Habîb al-Anshâri radhiyallâhu&#8217;anhu yang tidak takut terhadap kematian dalam mempertahankan akidahnya.</p>
<p><strong><br />
PELAJARAN DARI KISAH</strong></p>
<ol>
<li>
<div>Keutamaan Habîb al-Anshâri radhiyallâhu&#8217;anhu karena beliau adalah orang yang dipilih oleh Nabi <em>shallallâhu &#8216;alaihi wa sallam </em> sebagai pembawa surat ke Musailamah al-Kadzdzâb.</div>
</li>
<li>
<div>Keberanian dan keteguhan hati Habîb al-Anshâri radhiyallâhu&#8217;anhu dalam mempertahankan akidah.</div>
</li>
<li>
<div>Mati syahid lebih utama daripada hidup dalam kekafiran.</div>
</li>
<li>
<div>Kesabaran di jalan dakwah atas musibah yang menimpa termasuk di antara bekal seorang da’i.</div>
</li>
<li>
<div>Besarnya kesetiaan para Sahabat g terhadap Nabi shallallâhu &#8216;alaihi wa sallam .</div>
</li>
<li>
<div>Kemuliaan akhlaq Nabi shallallâhu &#8216;alaihi wa sallam. Beliau tidak mau membunuh utusan orang kafir meskipun utusan tersebut kafir.</div>
</li>
<li>
<div>Nabi Muhammad adalah nabi dan rasul terakhir, penutup para nabi dan rasul. Tidak ada nabi dan rasul setelahnya kecuali nabi dan rasul palsu.</div>
</li>
<li>
<div>Di antara mekanisme dakwah yang disyariatkan adalah dakwah melalui tulisan. Dalam hal ini, dakwah melalui media masa, koran, majalah, bulletin maupun melalui internet termasuk di dalamnya. Wallâhu a’lam</div>
</li>
</ol>
<p style="text-align:left;" align="right">Sumber: <a href="http://majalah-assunnah.com/index.php?option=com_content&amp;view=article&amp;id=299:pembawa-surat-untuk-nabi-palsu&amp;catid=67:baituna&amp;Itemid=142" target="_blank">Majalah As-Sunnah</a> Edisi 01/Tahun XIV<br />
<strong></strong></p>
<table width="580" border="0">
<tbody>
<tr>
<td align="right" valign="top"><a name="1"></a>[1]</td>
<td></td>
<td align="justify">Al-Isti’aab fii ma’rifatil ash-haab (Jilid 1/Hal.381). Dar-Alkutub Al-ilmiyah &#8211; Beirut. Cet. ke2 &#8211; th 1422 H /2002 M.</td>
</tr>
<tr>
<td align="right" valign="top"><a name="2"></a>[2]</td>
<td></td>
<td align="justify">Dikutip dari Rijal Haular Rasul (Hal.130). Maktabah Syamilah 3.</td>
</tr>
<tr>
<td align="right" valign="top"><a name="3"></a>[3]</td>
<td></td>
<td align="justify">Al Ishabah fi Tamyizish shahabah (Jilid 2/Hal.18). Dar-Alkutub Al-ilmiyah Beirut. Cet. Ke3 &#8211; th 1426 H/2005 M</td>
</tr>
</tbody>
</table>
<br />Filed under: <a href='http://ibnuabbaskendari.wordpress.com/category/kisah/'>Kisah</a>, <a href='http://ibnuabbaskendari.wordpress.com/category/sirah-nabawi/'>Sirah Nabawi</a>  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/ibnuabbaskendari.wordpress.com/7368/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/ibnuabbaskendari.wordpress.com/7368/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/ibnuabbaskendari.wordpress.com/7368/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/ibnuabbaskendari.wordpress.com/7368/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/ibnuabbaskendari.wordpress.com/7368/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/ibnuabbaskendari.wordpress.com/7368/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/ibnuabbaskendari.wordpress.com/7368/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/ibnuabbaskendari.wordpress.com/7368/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/ibnuabbaskendari.wordpress.com/7368/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/ibnuabbaskendari.wordpress.com/7368/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/ibnuabbaskendari.wordpress.com/7368/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/ibnuabbaskendari.wordpress.com/7368/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/ibnuabbaskendari.wordpress.com/7368/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/ibnuabbaskendari.wordpress.com/7368/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=ibnuabbaskendari.wordpress.com&amp;blog=9233758&amp;post=7368&amp;subd=ibnuabbaskendari&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ibnuabbaskendari.wordpress.com/2012/01/13/pembawa-surat-untuk-nabi-palsu/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/ff91e6b351183efcb2f63ddc3b6b8d4f?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">ibnuabbaskendari</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://ibnuabbaskendari.files.wordpress.com/2012/01/pembawa-surat-untuk-nabi-palsu1.jpg?w=150" medium="image">
			<media:title type="html">Pembawa Surat untuk Nabi Palsu</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Bagaimana Seharusnya Mengelola Harta Anak Yatim</title>
		<link>http://ibnuabbaskendari.wordpress.com/2012/01/11/bagaimana-seharusnya-mengelola-harta-anak-yatim/</link>
		<comments>http://ibnuabbaskendari.wordpress.com/2012/01/11/bagaimana-seharusnya-mengelola-harta-anak-yatim/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 10 Jan 2012 21:52:09 +0000</pubDate>
		<dc:creator>ibnuabbaskendari</dc:creator>
				<category><![CDATA[Anak]]></category>
		<category><![CDATA[Fiqih]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ibnuabbaskendari.wordpress.com/?p=7363</guid>
		<description><![CDATA[Ustadz Abu Ammar al-Ghoyami Harta adalah amanah dari Allah Ta’ala. Siapa pun tentu kelak akan ditanya tentang harta yang pernah dimilikinya. Dari mana ia mendapatkannya, dan untuk apa ia menghabiskannya.[1] Dan termasuk sebesar-besar amanah harta ialah harta anak yatim. Siapa saja yang tidak menunaikan amanah dalam mengurus harta anak yatim, bahkan menyia-nyiakan hak anak yatim [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=ibnuabbaskendari.wordpress.com&amp;blog=9233758&amp;post=7363&amp;subd=ibnuabbaskendari&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align:left;" align="center"><strong><a href="http://ibnuabbaskendari.files.wordpress.com/2012/01/bagaimana-seharusnya-mengelola-harta-anak-yatim1.jpg"><img class="alignleft size-thumbnail wp-image-7365" title="Bagaimana Seharusnya Mengelola Harta Anak Yatim" src="http://ibnuabbaskendari.files.wordpress.com/2012/01/bagaimana-seharusnya-mengelola-harta-anak-yatim1.jpg?w=150&#038;h=150" alt="" width="150" height="150" /></a>Ustadz Abu Ammar al-Ghoyami<br />
</strong></p>
<p>Harta adalah amanah dari Allah <em>Ta’ala</em>. Siapa pun tentu kelak akan ditanya tentang harta yang pernah dimilikinya. Dari mana ia mendapatkannya, dan untuk apa ia menghabiskannya.<a title="" href="#_ftn1">[1]</a> Dan termasuk sebesar-besar amanah harta ialah harta anak yatim. Siapa saja yang tidak menunaikan amanah dalam mengurus harta anak yatim, bahkan menyia-nyiakan hak anak yatim dengan memakannya secara sembarangan tanpa aturan, kelak Allah <em>Ta’ala</em> akan menuntut pertanggungjawabannya. Bahkan, harta anak yatim yang dimakannya hanya akan menjadi bara api neraka yang akan membakarnya. (QS. An-Nisa [4]:10).<span id="more-7363"></span></p>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong>SIAPAKAH ANAK YATIM?</strong></p>
<p>Kebanyakan kaum muslimin ternyata belum memahami makna anak yatim yang dimaksudkan dalam nash-nash syariat. Akibatnya, mereka salah dalam menyantuni dan memberikan hak anak yatim justru kepada selain mereka. Lebih parah lagi, banyak kalangan mengatasnamakan anak-anak terlantar dan anak-anak kaum fakir miskin yang masih memiliki kedua orang tua atau masih memiliki ayah pun sebagai anak-anak yatim, hanya demi mengumpulkan harta umat dan memakannya. Jelas ini merupakan perbuatan dosa.</p>
<p>Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin <em>rahimahullah</em> (Majmu Fatawa wa Rasa’il 9/503) menyebutkan bahwa yatim ialah anak yang ditinggal mati ayahnya sebelum baliqh, baik laki-laki maupun perempuan. Adapun anak yang tinggal mati ibunya sebelum baliqh maka bukanlah anak yatim, tidak menurut bahasa apalagi menurut syariat. Sebab kata yatim terambil dari kata yatmu yang artinya terpisah dan sendiri. Maksudnya, terpisah dari orang yang mencarikan (penghidupan) buatnya. Sebab ayahnyalah yang mengusahakan (penghidupan) baginya. Hal semisal juga yang dikatakan oleh Syaikh Abdul Aziz bin Baz <em>rahimahullah</em>.<a title="" href="#_ftn2">[2]</a></p>
<p>Di negeri kita ada istilah yatim piatu, yaitu anak yang ditinggal mati kedua orang tuanya sekaligus sebelum ia baligh. Keadaannya tentu lebih membutuhkan santunan, baik penghidupan, kasih sayang, perawatan maupun pendidikan. Adapun istilah piatu saja, yaitu anak yang tinggal mati ibunya maka ia tidak termasuk yatim yang dibahas syariat, lantaran ia masih mempunyai penanggung biaya penghidupannya, yaitu ayahnya.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong>HARTA ANAK YATIM ADALAH AMANAH</strong></p>
<p>Memang tidak semua anak yatim itu miskin harta.<a title="" href="#_ftn3">[3]</a> Ada kalanya anak yatim memiliki banyak harta peninggalan ayahnya. Apabila ini yang terjadi, harta tinggalan ayahnya menjadi amanah yang luar biasa besar bagi siapa pun yang menyantuni mereka. Dan harta anak yatim tidak boleh dijamah kecuali untuk kemaslahatan mereka.</p>
<p>Mengurus harta anak yatim termasuk iman dan kebajikan yang diperintahkan. Allah <em>Ta’ala</em> menyebutkan bahwa memberikan hak harta anak yatim termasuk al-birr (kebaikan) seperti rukun-rukun iman dan rukun-rukun Islam. (QS. Al-Baqarah ayat 177) bahkan menyantuni anak yatim dijanjikan surga bagi pelakunya. Dalam Shahih al-Bukhari disebutkan, Bab keutamaan orang yang menyantuni anak yatim dengan menanggung kebutuhannya, dari Sahl bin Sa’ad <em>radhiyallahu ’anhu</em> dari Rasulullah <em>Shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> W bersabda :</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><em>”Aku dan orang yang menanggung kebutuhan anak yatim demikian ini keadaannya di surga” Perawi mengatakan, ”Beliau mengisyaratkan dengan kedua jarinya, yaitu telunjuk dan tengahnya.” </em>(HR. al-Bukhari : 5659 yang semakna dengannya juga diriwayatkan oleh Muslim : 2983).</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong>BAGAIMANA MENGELOLA HARTA ANAK YATIM?</strong></p>
<p>Pada ulama menyebut orang yang mengurusi harta anak yatim dan menanggung penghidupan mereka dengan washi atau wali. Merekalah yang memikul amanah pemanfaatan harta anak yatim untuk kepentingan si yatim dan hartanya dengan sebaik-baiknya.</p>
<p>Imam al-Bukhari <em>rahimahullah</em> di dalam kitab Shahihnya membuat bab, ”Bab apa yang boleh dilakukan oleh washi atau wali terhadap harta si yatim dan apa yang boleh ia makan darinya sekadar kerepotannya.” Lalu beliau membawakan atsar dari Aisyah <em>radhiyallahu ’anha</em> tentang ayat :</p>
<p><em>(Barangsiapa (di antara pemelihara itu) mampu, Maka hendaklah ia menahan diri (dari memakan harta anak yatim itu). </em><em>Dan barangsiapa yang miskin, maka bolehlah ia makan harta itu menurut yang patut) </em>(QS. An-Nisa [4] : 6).</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Aisyah<em> radhiyallahu ’anha</em> mengatakan : ”Ayat tersebut diturunkan pada haknya wali anak yatim. Boleh baginya mengambil bagian dari harta anak yatim. Boleh baginya mengambil bagian dari harta anak yatim apabila dia memang butuh kepada harta tersebut, sebatas apa yang ia berhak atasnya dengan cara yang baik.” (HR. Al-Bukhari : 2614). Yaitu, apabila walinya seorang yang fakir atau miskin.</p>
<p>Meski ulama berselisih pendapat dalam masalah ini, namun yang lebih kuat ialah apabila wali anak yatim memang benar-benar dalam keadaan fakir atau miskin, boleh memakan sebatas hajatnya tanpa berlebihan, tidak mubazir serta tanpa berbuat dosa. Maksudnya ialah tidak boleh sampai menyimpan sebagai perbekalannya dari harta anak yatim tersebut yang merupakan kelebihan dari ukuran yang dibutuhkan untuk makan.</p>
<p>Termasuk yang dibolehkan bagi wali ialah membaurkan dengan anak yatim dalam hal makanan maupun minuman. Hal ini berdasarkan riwayat Ibnu Abbas <em>radhiyallahu ’anhu</em>, tatkala turun ayat</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><em>(Dan janganlah kamu dekati harta anak yatim, kecuali dengan cara yang lebih bermanfaat.)</em> (QS. Al-An’am [6] : 152).</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Maka para sahabat para wali anak yatim pun menjauhkan diri dari harta anak yatim sehingga makanan mereka pun rusak, dagingnya busuk dan semacamnya, sehingga diadukan kepada Nabi <em>Shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> maka turunlah ayat :</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><em>(Dan mereka bertanya kepadamu tentang anak yatim, katakanlah, mengurus urusan mereka secara patut adalah baik dan jika kalian berbaur bersama mereka, maka mereka adalah saudaramu. Dan Allah Maha tahu orang yang berbuat kerusakan dari yang berbuat kebaikan).</em> (QS. Al-Baqarah [2] : 220).</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Sehingga akhirnya mereka pun berbaur dengan anak-anak yatim dalam makanan. (HR. Ahmad, an-Nasa’i, Abu Dawud, al-Hakim).</p>
<p>Berbaur di sini terjadi dengan bercampurnya makanan anak yatim dengan makanan wali mereka. Sedangkan yang harus diperhatikan ialah bahwa Allah <em>Ta’ala</em> Maha tahu orang yang berniat memakan harta anak yatim dan orang yang berusaha menghindarinya. Bila anak yatim tersebut berbaur dengan anak-anaknya sendiri dan keluarga yang menjadi tanggungannya, rasanya sulit memisahkan makanannya dari makanan mereka. Sehingga apabila sampai mengharuskan ia mengambil harta anak yatim tersebut dibolehkan secukupnya saja, dengan tetap memelihara diri dari sikap aniaya.</p>
<p>Itulah kelapangan yang diberikan Allah <em>Ta’ala</em> kepada hamba-Nya. Semestinya orang yang diberi amanah mengurus harta anak yatim senantiasa berlaku hanya dengan apa yang dibolehkan oleh syariat dalam memakan harta anak yatim dan membaurkannya dengan hartanya. Tidak boleh ia menukar harta anak yatim yang baik dengan hartanya yang buruk, tidak boleh pula membaurkan dalam rangka menganiaya haknya anak yatim. Termasuk juga memakannya, tidak boleh berlebihan lantaran berlebihan adalah kezaliman. (QS. An-Nisa [4] : 2 dan 6).</p>
<p>Adapun tentang bagaimana seorang washi atau wali mempergunakan harta anak yatim, Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin <em>rahimahullah</em> (Majmu’ Fatawa wa Rasa’il, 7/301-302) menjelaskan , ”Mempergunakan harta anak yatim ada tiga tingkatan, buruk, baik, tidak buruk juga tidak baik. Orang yang mempergunakan harta anak yatim dengan cara yang buruk hukumnya haram. Yaitu, seandainya Anda ingin membeli sesuatu dengan harta anak yatim sedangkan anda tahu bahwa sesuatu itu jelas merugikan, maka hal itu haram, sebab tidak diragukan bahwa ini merupakan keburukan bagi si yatim.</p>
<p>Dan apabila Anda mempergunakan harta tersebut untuk sesuatu yang Anda tidak tahu apakah baik atau justru buruk. Maka ini pun hukumnya haram, sebab Allah <em>Ta’ala</em> berfirman (artinya) :</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><em>Dan janganlah kamu dekati harta anak yatim, kecuali dengan cara yang lebih bermanfaat.</em> (QS. Al-An’am [6] : 152)</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Anda ingin mempergunakan harta anak yatim dengan usaha yang baik, tetapi Anda dihadapkan pada dua hal, usaha yang ada kebaikannya dan usaha yang kebaikannya lebih banyak, maka yang mana yang wajib Anda lakukan? Yang wajib ialah yang memiliki kebaikan lebih banyak, lantaran firman Allah <em>Ta’ala</em> tadi (artinya), ”&#8230; kecuali dengan cara yang lebih bermanfaat.” (QS. Al-An’am [6] : 152).</p>
<p>Contohnya, seseorang datang kepada Anda dan mengatakan, ’Pinjami aku harta si yatim itu!” sementara orang tersebut dikenal suka menunda pembayaran utang, bahkan bisa jadi ia sangat <strong>memberikan hak</strong> orang lain. Apakah dalam keadaan ini boleh meminjamkannya? Tentu tidak boleh, sebab bila dipinjami berarti membuat tideak jelasnya status harta anak yatim dan membahayakannya.</p>
<p>Datanglah orang lain kepada Anda, dia mengatakan, ’Pinjami aku harta si yatim itu?’ sementara ia adalah seorang yang terkenal suka menepati janji, namun apabila Anda meminjamkannya, tidak ada kebaikannya bagi si yatim. Apa Anda akan meminjamkannya? Tidak, sebab tidak ada kebaikan bagi si yatim.</p>
<p>Datang orang ketiga, dia berkata, ’Pinjami aku harta si yatim itu?” sementara Anda sendiri khawatir terhadap harta tersebut apabila tetap ditangan Anda akan dicuri orang. Apakah bila dipinjamkan kepadanya ada kebaikannya? Orang ketiga ini memenuhi janji. Seandainya diminta harta tersebut darinya kapan pun, siang maupun malam, niscaya ia akan memberikannya. Sedangkan Anda sendiri khawatir apabila harta itu tetap di sisimu akan ada permusuhan antara saudara, pencurian, atau selainnya. Dalam keadaan seperti ini apabila Anda pinjamkan, hukumnya boleh, sebab ini lebih baik.</p>
<p>Jadi, wajib bagi wali anak yatim yang mengurusi harta mereka agar tidak mempergunakannya selain dengan cara yang lebih baik. Dari sini kita bisa ambil kaidah, yaitu bahwa setiap wali siapa saja dan dalam apa saja, agar tidak mengusahakan sesuatu (pada hal yang diurusi) selain (dengan) yang lebih baik.”<a title="" href="#_ftn4">[4]</a></p>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong>ZAKAT HARTA ANAK YATIM</strong></p>
<p>Washi atau wali anak yatim berkewajiban mengurusi urusan mereka dan urusan harta mereka dengan sebaik-baiknya. Termasuk mengurusi zakat hartanya apabila harta itu mencapai nishab (patokan minimum untuk mengeluarkan zakat). Dan yang demikian ini hukumnya wajib.</p>
<p>Syaikh Abdul Aziz bin Baz  <em>rahimahullah</em> pernah ditanya tentang zakat harta anak yatim, beliau mengatakan,  ”Menzakati harta anak yatim berupa uang, barang-barang dagangan, hewan ternak yang digembalakan, biji-bijian dan buah yang wajib dizakati adalah wajib. Dan kewajiban wali anak yatim tersebut mengeluarkannya di waktunya. Apabila tidak ada walinya atau dari jalur ayah mereka telah meninggal, maka wajib diberitahukan ke pengadilan agama agar ditetapkan oleh hakim seorang wali buat mereka yang akan mengurusi urusan mereka dan urusan harta mereka. Dan harus bertakwa kepada Allah <em>Ta’ala</em> didalam menunaikannya dan berbuat untuk kebaikan mereka dan hartanya. Berdasarkan firman Allah <em>Ta’ala</em> :</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><em>Dan mereka bertanya kepadamu tentang anak yatim, katakanlah : ”Mengurus urusan mereka secara patut adalah baik.</em> (QS. Al-Baqarah [2] : 220).</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Dan juga firman-Nya :</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><em>Dan janganlah kamu dekati harta anak yatim, kecuali dengan cara yang lebih bermanfaat, hingga sampai ia dewasa.</em> (QS. Al-An’am [6] : 152).</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Dan ayat yang semakna dengan ini banyak. Adapun tentang haul (batas kepemilikan) harta mereka dihitung sejak hari kematian ayahnya, sebab harta itu dengan kematian ayahnya masuk kepemilikan mereka. (Majmu Fatawa Ibnu Baz, 14/240).</p>
<p>Demikian uraian sebagian kaidah mengurus harta anak yatim. Semoga bermanfaat.</p>
<p><em>Wabillahi taufiq.</em></p>
<p><em> </em></p>
<p>Sumber: <strong>Majalah Al Mawaddah</strong> vol. 45 Dzulhijjah 1432H / Okt-Nov 2011M</p>
<p>Artikel: <a title="Mengikuti Petunjuknya Shalafush Sholeh" href="http://ibnuabbaskendari.wordpress.com/" target="_blank">www.ibnuabbaskendari.wordpress.com</a></p>
<div></p>
<hr align="left" size="1" width="33%" />
<div>
<p><a title="" href="#_ftnref1">[1]</a>   Berdasarkan hadits Abu Barzah al-Aslami, HR. at-Tirmidzi : 2417, beliau mengatakan, hadits ini hasan shahih.</p>
</div>
<div>
<p><a title="" href="#_ftnref2">[2]</a>   Liqa’ al-Bab al-Maftuh 71/7.</p>
</div>
<div>
<p><a title="" href="#_ftnref3">[3]</a>   Kebanyakan umat ini memasukkan anak yatim ke dalam golongan penerima zakat, padahal anak yatim tidak termasuk golongan penerima zakat, kecuali apabila keadaan mereka fakir atau miskin atau seperti golongan penerima zakat yang disebutkan di dalam surat at-Taubah ayat 60. Syaikh Abdul Aziz bin Baz<em> rahimahullah </em>mengatakan : “Yang demikian itu apabila ia ditinggal mati kedua orang tuanya, sedangkan keduanya tidak meninggalkan harta yang mencukupinya. Apabila keduanya meninggalkan harta untuk mereka yang mencukupi kebutuhan maka tatkala itu mereka tidak lagi berhak menerima zakat. Namun mereka berhak untuk diperhatikan pemeliharaannya atas harta mereka dan berhak diperlakukan dengan baik sehingga berkembanglah harta mereka dan terpelihara. Mereka juga harus diperhatikan pendidikan, pengarahan, pengajaran serta penjagaannya dari segala hal yang tidak baik. Hingga pun, anak yatim itu sangat butuh pendidikan Islam yang baik dan pengarahan serta bimbingan. Dan apabila ia tidak memiliki harta, barulah ia juga butuh kepada harta (zakat dan lainnya)” (Majmu Fatawa bin Baz, 14/329).</p>
</div>
<div>
<p><a title="" href="#_ftnref4">[4]</a>   Hal serupa juga disampaikan oleh Syaikh Abdul Aziz bin Baz  <em>rahimahullah</em> dalam Majmu Fatawa bin Baz, 22/321-322.</p>
</div>
</div>
<br />Filed under: <a href='http://ibnuabbaskendari.wordpress.com/category/anak/'>Anak</a>, <a href='http://ibnuabbaskendari.wordpress.com/category/fiqih/'>Fiqih</a>  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/ibnuabbaskendari.wordpress.com/7363/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/ibnuabbaskendari.wordpress.com/7363/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/ibnuabbaskendari.wordpress.com/7363/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/ibnuabbaskendari.wordpress.com/7363/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/ibnuabbaskendari.wordpress.com/7363/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/ibnuabbaskendari.wordpress.com/7363/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/ibnuabbaskendari.wordpress.com/7363/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/ibnuabbaskendari.wordpress.com/7363/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/ibnuabbaskendari.wordpress.com/7363/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/ibnuabbaskendari.wordpress.com/7363/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/ibnuabbaskendari.wordpress.com/7363/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/ibnuabbaskendari.wordpress.com/7363/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/ibnuabbaskendari.wordpress.com/7363/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/ibnuabbaskendari.wordpress.com/7363/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=ibnuabbaskendari.wordpress.com&amp;blog=9233758&amp;post=7363&amp;subd=ibnuabbaskendari&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ibnuabbaskendari.wordpress.com/2012/01/11/bagaimana-seharusnya-mengelola-harta-anak-yatim/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/ff91e6b351183efcb2f63ddc3b6b8d4f?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">ibnuabbaskendari</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://ibnuabbaskendari.files.wordpress.com/2012/01/bagaimana-seharusnya-mengelola-harta-anak-yatim1.jpg?w=150" medium="image">
			<media:title type="html">Bagaimana Seharusnya Mengelola Harta Anak Yatim</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Makelar Halal Versus Makelar Haram</title>
		<link>http://ibnuabbaskendari.wordpress.com/2012/01/09/makelar-halal-versus-makelar-haram/</link>
		<comments>http://ibnuabbaskendari.wordpress.com/2012/01/09/makelar-halal-versus-makelar-haram/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 09 Jan 2012 13:31:33 +0000</pubDate>
		<dc:creator>ibnuabbaskendari</dc:creator>
				<category><![CDATA[Fiqih]]></category>
		<category><![CDATA[Muamalah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ibnuabbaskendari.wordpress.com/?p=7194</guid>
		<description><![CDATA[Pendahuluan: Alhamdulillah, shalawat dan salam semoga senantiasa dilimpahkan kepada Nabi Muhammad, keluarga dan sahabatnya. Suatu transaksi perniagaan, kadang kala melibatkan berbagai pihak. Diantara pihak yang sering memiliki andil besar bagi tercapainya suatu kesepakatan akad ialah makelar. Karenanya, melalui tulisan sederhana ini, saya mengajak anda untuk mengenali berbagai hukum terkait tentangnya. Dengan demikian, anda dapat menyikapi [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=ibnuabbaskendari.wordpress.com&amp;blog=9233758&amp;post=7194&amp;subd=ibnuabbaskendari&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong><a href="http://ibnuabbaskendari.files.wordpress.com/2012/01/makelar-halal-versus-makelar-haram.jpg"><img class="alignleft size-thumbnail wp-image-7359" title="Makelar Halal Versus Makelar Haram" src="http://ibnuabbaskendari.files.wordpress.com/2012/01/makelar-halal-versus-makelar-haram.jpg?w=150&#038;h=150" alt="" width="150" height="150" /></a>Pendahuluan:</strong></p>
<p>Alhamdulillah, shalawat dan salam semoga senantiasa dilimpahkan kepada Nabi Muhammad, keluarga dan sahabatnya.</p>
<p>Suatu transaksi perniagaan, kadang kala melibatkan berbagai pihak. Diantara pihak yang sering memiliki andil besar bagi tercapainya suatu kesepakatan akad ialah makelar. Karenanya, melalui tulisan sederhana ini, saya mengajak anda untuk mengenali berbagai hukum terkait tentangnya. Dengan demikian, anda dapat menyikapi makelar dengan tepat atau mungkin juga menjadi makelar benar menurut syari’at agama anda.<span id="more-7194"></span></p>
<p><strong>Hukum Percaloan:</strong></p>
<p>Ulama’ ahli fiqih telah sepakat bahwa makelar adalah suatu pekerjaan yang halal, dan telah dikenal sejak dahulu kala.</p>
<p>Sahabat Qais bin Abi Gharzah <em>radhiallahu ‘anhu</em> mengisahkan: Dahulu kami ini dijuluki sebagai “para calo” (As Samasirah). Dan pada suatu hari Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam </em>melintasi kami, maka beliaupun memeberi kami nama yang lebih baik. Beliau bersabda: <em>“Wahai para pedagang, sesungguhnya jual-beli itu biasanya diiringi oleh perbuatan sia-sia dan sumpah, karenanya campurilah dengan seddekah.” </em> Riwayat Abu Dawud, At Tirmizy dan An Nasa’i.</p>
<p>Imam Bukhari dalam kitab shahihnya membuat satu bab spesial tentang hukum upah yang dipungut oleh para makelar. Pada bab ini beliau menukilkan fatwa boleh ini dari sahabat Ibnu Abbas <em>radhiallahu ‘anhu, </em>Ibnu Sirin, Atha’ bin Abi Rabah, Ibrahim An Nakhai dan Al Hasan Al Basri.</p>
<p>Hukum halal ini juga selaras dengan keumumam sabda Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam </em>berikut:</p>
<p dir="rtl">المسلمون على شروطهم إلا شرطا حرم حلالا أو حل حراما</p>
<p><em>“Seluruh umat islam berkewajiban memenuhi persyaratan yang telah mereka sepakati. Kecuali persyaratan yang mengharamkan sesuatu yang nyata-nyata halal atau menghalalkan sesuatu yang nyata-nyata haram.” </em>At Tirmizy.</p>
<p><strong>Bentuk Makelar Yang Halal:</strong></p>
<p>Anda pasti tahu bahwa tujuan para makelar atau calo ialah mendapatkan upah atau fee dari penjual atau pembeli atau keduanya yang mereka layani. Wajar bila masalah upah makelar memiliki pengaruh sangat besar pada hukum pekerjaan mereka. Yang demikian itu, dikarenakan mereka bukanlah pemilik barang atau jasa yang diperjual-belikan, dan bukan pula sebagai pemilik uang.</p>
<p>Agar anda mengenal hukum makelar berdasarkan ketentuan upah yang mereka peroleh, saya mengajak anda untuk menyimak penegasan ulama’-ulama’ terdahulu tentang ketentuan upah makelar.</p>
<p>1.     <strong>Model pertama:  Pengguna jasa makelar tidak membatasi keuntungan</strong></p>
<p>‘Atha’ meriwayatkan dari sahabat Abdullah bin Abbas <em>radhiallahu ‘anhu</em>:</p>
<p><em>“Dahulu beliau membolehkan anda untuk menyerahkan bajumu kepada makelar, lalu engkau berkata:: Juallah baju ini, dengan harga sekian dan sekian, selebihnya adalah milikmu.” </em> Ibnu Abi Syaibah</p>
<p>Imam Ahmad bin Hanbal dan juga Ishaq bin Rahuyah <em>rahimahullah</em> menilai bahwa Ibnu Abbas berpendapat demikian, karena beliau memperlakukan ucapan pemilik baju ini sebagai akad <em>mudharabah</em> (bagi hasil). (Fathul Bari oleh Ibnu Hajar 4/451)</p>
<p>Model ini juga dapat berlaku pada pembelian, misalnya pembeli berkata kepada makelar: belikan saya barang dengan harga sekian, dan bila engkau mendapatkan barang dengan harga yang lebih murah, maka selisih harganya milikmu.</p>
<p><strong>2.       </strong><strong>Model Kedua: Dengan keuntungan yang ditentukan.</strong></p>
<p>Diantara model percaloan yang dihalalkan ialah dengan membuat kesepakatan tentang keuntungan atau upah yang diberikan kepada makelar. Misalnya penjual berkata: bila engkau berhasil menjualkan barang ini, maka engkau aku beri upah sekian.</p>
<p>Penentuan upah makelar ini dapat dituangkan dalam bentuk nominal tertentu, misalnya Rp. 100.000 , dan dapat pula dalam bentuk prosentase. Asalkan besaran keuntungan yang dijanjikan disepakati oleh kadua belah pihak, maka semuanya itu halal. Yang demikian itu karena makelar mendapatkan upah atas jasa yang ia berikan, yaitu berupa menjualkan atau membelikan barang. Dan bisa juga jasa yang diberikan oleh makelar hanya sebatas menghubungkan antara pemilik barang dengan pembeli.</p>
<p><strong>Upah Dari Kedua Belah Pihak:</strong></p>
<p>Tidak jarang seorang makelar mensyaratkan keuntungan dari kedua belah pihak yang terkait, dari penjual dan juga dari pembeli. Perbuatan semacam ini secara prinsip syari’at tidak masalah, asalkan semuanya dilakukan dengan transparan dan jujur, tanpa ada manipulasi atau penipuan. Kepada penjual anda berterus terang bahwa Anda menginginkan keuntungan dalam jumlah yang jelas, demikian pula anda bersikap di hadapan calon pembeli.</p>
<p dir="rtl">مقاطع الحقوق عند الشروط</p>
<p><em>“Ketentuan hak terletak pada persyaratan yang telah disepakati.”</em> Riwayat Ibnu Abi Syaibah dan Said bin Manshur.</p>
<p><strong>Awas Makelar Kejam.</strong></p>
<p>Ambisi mengeruk keuntungan besar sering kali menghanyutkan nalar dan iman makelar. Dihadapan pemilik barang ia mengesankan bahwa barang miliknya bernilai sangat rendah, namun dihadapan calon pembeli ia mengesankan bahwa barang tersebut bernilai selangit. Dengan cara ini ia dapat engeruk keuntungan segunung.</p>
<p>Tidak diragukan sikap ini adalah bentuk pengkhianatan nyata kepada penjual dan pembeli sekaligus. Betapa tidak, sejatinya makelar adalah wakil dari keduanya, dengan demikian, seharusnya ia berupaya agar orang yang mempercayainya mendapatkan keuntungan semaksimal mungkin. Hendaknya ia memperlakukan orang lain bak memperlakukan dirinya sendiri. Andai ia menjual barang miliknya sendiri, niscaya ia berusaha mencari harga yang peling tinggi. Dan sebaliknya, bila ia membeli untuk dirinya sendiri, niscaya ia berupaya mencari harga yang paling murah.</p>
<p dir="rtl">)لا يؤمن أحدكم حتى يحب لأخيه ما يحب لنفسه(</p>
<p><em>“Tidaklah sempurna imanmu, hingga engkau cinta agar saudaramu mendapatkan seperti apa yang engkau dapatkan.” </em>Muttafaqun ‘alaih.</p>
<p><strong>Pantangan Makelar.</strong></p>
<p>Dalam syari’at Islam, ada satu pantangan bagi para makelar. Pantangan tersebut ialah menjadi perantara penjualan barang milik orang kampung yang dijual di pasar kota. Sahabat Ibnu Abbas <em>radhiallahu ‘anhu</em> meriwayatkan bahwa Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> bersabda:</p>
<p dir="rtl">(لاَ يَبِيعُ حَاضِرٌ لِبَادٍ) . قَالَ: فَقُلْتُ لاِبْنِ عَبَّاسٍ: مَا قَوْلُهُ لاَ يَبِيعُ حَاضِرٌ لِبَادٍ؟ قَالَ: لاَ يَكُونُ لَهُ سِمْسَارًا .</p>
<p><em>&#8220;Tidaklah dibenarkan bagi penduduk kota untuk menjualkan barang milik penduduk desa&#8221;. Aku (Thawus, yaitu murid Ibnu Abbas) bertanya kepada Ibnu Abbas: Apa yang dimaksud dengan sabda beliau : &#8220;penduduk kota menjualkan barang milik penduduk desa&#8221;? Beliau menjawab: &#8220;Yaitu tidak menjadi calo/</em><em>makelar </em><em>&#8220;. Muttafaqun &#8216;alaih</em></p>
<p>Pada riwayat lain Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> menjelaskan alasan pantangan ini dengan bersabda:</p>
<p dir="rtl">(لاَ يَبِعْ حَاضِرٌ لِبَادٍ دَعُوا النَّاسَ يَرْزُقِ اللَّهُ بَعْضَهُمْ مِنْ بَعْض)رواه مسلم</p>
<p><em>&#8220;Janganlah penduduk kota menjualkan (menjadi calo penjualan) barang milik penduduk desa, biarkanlah sebagian masyarakat dikaruniai rizqi oleh Allah dari sebagian lainnya.</em>&#8221; Riwayat Muslim.</p>
<p>Mungkin anda berkata : Mengapa praktek ini dilarang, padahal menguntungkan pemilik barang, sehingga mendapatkan harga yang pantas.</p>
<p>Ketahuilah saudaraku! bila anda renungkan lebih mendalam, niscaya anda dapatkan bahwa pada kenyataannya, penduduk kampung diuntungkan sekali dan dirugikan berkali-kali. Belum lagi perbuatan makelar ini merugikan masyarakat luas.</p>
<p>Biasanya barang dagangan penduduk kampung adalah barang-barang mentah. Dengan demikian, bila penduduk kota membeli bahan baku produksi dengan harga mahal, maka hasil produksinya dijual dengan harga yang mahal pula. Padahal kebanyakan penduduk kampung bersifat konsumtif, yaitu menjadi pembeli barang hasil olahan penduduk kota. Bahkan tidak jarang penduduk desa, membeli kembali hasil olahan barang yang telah ia jual kepada penduduk kota. Dengan demikian, tidak sepenuhnya benar bila dinyatakan bahwa percaloan pada kasus ini menguntungkan penduduk desa sebagai pemilik barang.</p>
<p>Disamping itu Islam lebih mendahulukan kepentingan masyarakat luas dibanding kepentingan segelintir orang. Apalagi bila ternyata keuntungan segelintir orang tersebut tidak sepenuhnya dapat ia rasakan, sebagaimana dijelaskan di atas.</p>
<p><strong>Penutup</strong><strong>:</strong></p>
<p>Semoga papara singkat tentang hukum makelar atau percaloan ini dapat bermanfaat bagi anda. Dan besar harapan saya, tulisan sederhana ini semakin mengobarkan semangat anda untuk terus menggali lebih dalam ilmu agama islam yang anda imani ini. <em>Wallahu a’alam bisshawab.</em></p>
<p>Sumber: <a href="http://www.stdiis.ac.id/index.php/muamalah/172-makelar-halal-versus-makelar-haram" target="_blank">www.stdiis.ac.id</a></p>
<br />Filed under: <a href='http://ibnuabbaskendari.wordpress.com/category/fiqih/'>Fiqih</a>, <a href='http://ibnuabbaskendari.wordpress.com/category/muamalah/'>Muamalah</a>  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/ibnuabbaskendari.wordpress.com/7194/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/ibnuabbaskendari.wordpress.com/7194/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/ibnuabbaskendari.wordpress.com/7194/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/ibnuabbaskendari.wordpress.com/7194/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/ibnuabbaskendari.wordpress.com/7194/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/ibnuabbaskendari.wordpress.com/7194/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/ibnuabbaskendari.wordpress.com/7194/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/ibnuabbaskendari.wordpress.com/7194/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/ibnuabbaskendari.wordpress.com/7194/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/ibnuabbaskendari.wordpress.com/7194/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/ibnuabbaskendari.wordpress.com/7194/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/ibnuabbaskendari.wordpress.com/7194/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/ibnuabbaskendari.wordpress.com/7194/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/ibnuabbaskendari.wordpress.com/7194/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=ibnuabbaskendari.wordpress.com&amp;blog=9233758&amp;post=7194&amp;subd=ibnuabbaskendari&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ibnuabbaskendari.wordpress.com/2012/01/09/makelar-halal-versus-makelar-haram/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/ff91e6b351183efcb2f63ddc3b6b8d4f?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">ibnuabbaskendari</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://ibnuabbaskendari.files.wordpress.com/2012/01/makelar-halal-versus-makelar-haram.jpg?w=150" medium="image">
			<media:title type="html">Makelar Halal Versus Makelar Haram</media:title>
		</media:content>
	</item>
	</channel>
</rss>
