Kitab FADHAIL AMAL

Ustadz Abu Nu’aim Al-Atsari

Kitab Fadhail Amal atau dikenal pula dengan nama Tablighi Nishab adalah kitab pegangan suatu jama’ah yang dikenal dengan nama Jama’ah Tabligh. Kitab ini karya Syaikh Muhammad Zakariyah AI Kandahlawi salah satu tokoh Jama’ah Tabligh.

Kitab ini selain telah tersebar di kalangan mereka juga di kalangan masyarakat luas, padahal kitab tersebut memuat hal-hal yang menyimpang dari syariat. Lantaran itu banyak ulama yang menyingkap penyimpangan­nya agar kaum muslimin berhati-­hati. Di antaranya adalah Ustadz Muhammad Aslam Al-Bakistani (Pakistan) dalam risalah Jama’atut Tabligh, ‘Agidatuha wa Afkaru Masyayikhiha, Syaikh Hamud bin Abdullah At-Tuwaijiri rahimahullah dalam kitab Al-Qaulul Baligh fir Raddi’ala Jama’atut Tabligh, Ustadz Sa`d Al-Husain, Atase Arab Saudi di Yordania dalam risalahnya kepada Syaikh Abdul Aziz bin Baz rahimahullah, Syaikh Falih Al-Harbi dalam Ad-Dienun Nashihah.

Tulisan berikut menukil dari dua kitab yaitu Zawabi’ fi Wajhis Sunnah Qadiiman wa Hadiitsan, bab Penjelasan Sebagian Kitab yang Sarat dengan Hadits-Hadits Dha’if dan Palsu, Syaikh Shalahuddin Maqbul Ahmad dan kitab Jama’atut Tabligh fi Syibhil Qaratil Hindiyyah, ‘Aga’iduhata’rifuha karya Syaikh Abu Usamah Sayyid Thalibur Rahman cet. Dar Bayan li Nashr wat Tauzi’ Islamabad Pakistan.

Pembahasan ini ringkas, sehingga untuk mudahnya dibagi dalam beberapa sub bagian.

Banyak memuat hadits-hadits dhaif dan palsu.

Memang penulis kitab ini, Syaikh Muhammad Zakariya Al-­Kandahlawi menyebutkan derajat hadits-hadits dengan menukil perkataan para ulama, seperti keterangan Ustadz Tabasy Mandi. Kata beliau, “Yang sangat mengherankan, kedudukan kitab ini di sisi penulis tidak sepenting anggapan para pembacanya.

Sebab usai membawakan riwayat hadits, penulis menyebutkan hukum dari hadits-­hadits tersebut, shahih, dhaif, palsu, batil, tidak dapat dijadikan sandaran atau pada sanadnya terdapat rawi pendusta. Akan tetapi kami tidak memikulkan kesalahan di pundak pembaca, sebab mayoritas mereka tidak memahami bahasa Arab. Penulis hanya menyebutkan riwayat dalam bahasa Urdu tanpa disertai hukum hadits seperti pada edisi bahasa Arabnya.” (Tablighi Nishab, Dirasat Naqdiyyah ha1.15 Maktabah Al-Iman Deobandi).[1]

Hadits-hadits tersebut diantaranya :

  1. Dari Umar radhiyallahu ‘anhu berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda”:

Ketika Adam berbuat dosa, dia menengadahkan kepalanya ke langit dan berkata, “Aku memohon kepadaMu dengan hak Muhammad agar Engkau mengampuniku. “Alloh lantas mewahyukan kepadanya. Adam berkata, “Maha Tinggi namaMu, tatkala Engkau ciptakan aku, aku angkat kepala ke Arsy ternyata di sana tertulis. Maka mengertilah aku, tidak ada seorang pun yang lebih tinggi kedudukannya di sisiMu dibanding orang yang namanya Engkau sandingkan dengan namaNya.

Alloh lantas mewahyukan kepadanya, “Wahai Adam, dia adalah nabi terakhir dari keturunanmu. Andaikan bukan karena dia niscaya Aku tidak ciptakan kamu.”

Syaikh Muhammad Zakariya berkata, “Dikeluarkan oleh Thabrani dalam Mu’jam Shaghir, Al-Hakim, Abu Nua’im dan Baihaqi pada kitab Dala’il karya keduanya, dan Ibnu ‘Asakir dalam Ad-Dur Dalam Majma’ Zawaid, Al-Haitsami berkata, “Diriwayatkan oleh Thabrani dalam Mu’jam Ausath dan Shaghir, pada sanadnya terdapat rawi yang aku tidak kenal.” (Fadhail Dzikr haI.95­-96). Katanya,” Al-Qari dalam Al-­Maudhu‘ah Al-Kabirah berkata, “Palsu.” (Fadhail Dzikr ha1.96)

Imam Dzahabi rahimahullah dalam Talkhish Mustadrak 2/615 berkata, “Palsu.” Begitu pula Imam Al-­Albani rahimahullah dalam Silsilah Ahadits Dha’ifah 1/38 berkata, “Palsu.”

 

  1. Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu berkata, “Abu Bakr radhiyallahu ‘anhu menemui Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam keadaan berduka. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata kepadanya, “Aku melihat engkau bersedih, ada apa denganmu?” Jawabnya. “Wahai Rasulullah, tadi malam aku berada di rumah fulan, sepupuku. Dia menipu dirinya sendiri.” Kata Nabi “Apakah engkau talqin dia dengan lailahaillalloh?” Jawab Abu Bakr radhiyallahu ‘anhu, “Aku telah lakukan itu wahai Rasulullah.” Tanya beliau. “Apakah dia mengucapkannya?” “Ya,” jawab Abu Bakr radhiyallahu ‘anhu. Kata Nabi “Dia masuk surga.” Tanya Abu Bakr radhiyallahu ‘anhu, “Wahai Rasulullah, apa manfaat kalimat ini bagi yang masih hidup?” Jawab beliau “Dia menghapus dosa-dosa mereka, dia menghapus dosa­-dosa mereka.”

Dikeluarkan oleh Dailami dalam Tarikh Hamdan, Rafi’i, Ibnu Najaar seperti termaktub dalam Muntakhab Kanzul Umal. Hanya saja Suyuthi meriwayatkannya dalam Dzail Lala’i dan membicarakan sanadnya. Katanya, “Semua sanadnya gelap, para rawinya dituduh berdusta.” Kata Syaikh, “Ada riwayat lain yang semakna dan marfu’ tetapi mereka menghukuminya palsu seperti dalam Lala’i.” (Fadhail Dzikr ha1.102-103).[2]

  1. Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhu, berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

Siapa yang menziarahiku maka wajib masuk surga.

Diriwayatkan oleh Al-Bazzar dan Daruquthni. Nawawi berkata, “Dan berkata Ibnu Hajar rahimahullah dalam Manasik, “Hadits ini diriwayatkan oleh Ibnu Khuzaimah rahimahullah dalam Shahihnya. Dishahihkan oleh sekelompok orang seperti Abdul Haq dan Taqiyuddin As-Subki. Al-Qari dalam Asy-Syifa’ berkata, “Dishahihkan oleh sekelompok ahli hadits.”

Hadits ini Palsu, lihat Dha’if Jami’ karya Syaikh Al-Albani rahimahullah 5618[3]

  1. Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhu berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

Siapa yang berhaji ke Baitullah namun tidak menziarahiku sungguh dia telah melecehkanku.

Diriwayatkan lbnu Adi dalam AI-Kamil seperti dikatakan dalam Syifa’ul Asgam.[4] Dalam Syarhu Lubab dikatakan, “Diriwayatkan oleh Ibnu Adi dengan sanad hasan. Pemilik kitab Ithaf membahas panjang lebar takhrijnya dan berkata, “As-­Suyuthi membantah Ibnul Jauzi karena memuat hadits ini dalam Maudhu’at, dan berkata, “Dia salah.” Al-Qari dalam Syarhu Syifa’ berkata, “Hadits ini diriwayatkan Ibnu Adi dengan sanad yang dapat dipakai hujjah.”[5]

Memuat Khurafat dan Hikayat Sufiyah

  1. Yang paling aneh, cerita yang dinukil dari Al-Hawi karya As­-Suyuthi, bahwa Sayyid Ahmad Rifa’i berziarah ke makam Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam usai berhaji tahun 555 H, lantas menyenandungkan bait syair :

Di kala jiwaku menjauh, akau ,kirimkan dia

Diterima oleh kubur (Nabi) dan dia adalah wakilku.

Ini orang yang menjulurkan tangannya telah hadir

Julurkan tangan kananmu agar dikecup kedua bibirku

Maka terjulurlah tangan beliau dari dalam kuburnya yang mulia lalu dicium oleh Ar-Rifa’i.

Syaikh Muhammad Zakariya menambahkan dari kitab Bunyan Musyayyad, bahwa peristiwa tersebut dihadiri oleh sembilan puluh ribu orang. Dihadiri pula oleh wali Quthub Syaikh Abdul Qadir Jailani. (Fadhail Hajj 137­-138, akhir basal sembilan, hikayat no.13)

  1. Syaikh Al-Kandahlawi bermimpi diperintah untuk menggabungkan qasidah (syair) ke dalam kitabnya Fadhailush Shalat ‘ala Nabi. Terlintas pada pikirannya yang dimaksud adalah qasidah Maulana Jaami. Qasidah ini merupakan bentuk istighatsah kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Bait pertama isinya :

Karena berpisah denganmu nafas terakhir seluruh alam berembus

 

Rahmatilah wahai Nabi Alloh, rahmttillah

Usai itu menuturkan, suatu kali Maulana Jaami berhaji. Dia ingin pergi ke Madinah untuk menyenandungkan qasidah ini di sisi kubur Nabi. Nabi memerintahkan penguasa Makkah dalam mimpinya agar melarang Maulana Jaami pergi ke Madinah. Sebabnya, bila dia bersyair di sisi kuburku maka tanganku akan keluar dari kubur untuk menyalaminya, hal itu akan menimbulkan fitnah.”

Kata Kandahlawi, “Aku yakin adanya kisah ini, namun aku tidak mengetahui di mana letaknya. Siapa yang tahu hendaknya memberitahukanku. Bila aku sudah mati hendaknya menuliskan pada catatan pinggir kitab ini. “Katanya lagi, “Tidak ada yang dapat membatalkan kisah ini karena kisah Sayid Ar-Rifa’i sudah dikenal. Telah berlalu pula penyebutan dalam kita ini kisah lain berupa jawaban salam dengan suara yang keras dari makam Nabi yang mulia. Beberapa temanku berpendapat, pembenar dari mimpiku adalah qasidah burdah ini.” Syaikh banyak menyebutkan bait syair berikut ini sampai lima puluh kali dalam Fadhail Shalat.

Wahai Rabb, berilah shalat dan salam yang langgeng kepada kekasihMu, manusia terbaik. (Fadhail Shalat `ala Nabi ha1.109-119 kisah no.50)

  1. Syaikh Abul Khair Al-Aqtha’ bertutur, “Dulu aku pernah kelaparan selama lima hari, tidak makan sesuatu pun. Usai bershalawat kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam aku tidur di Raudhah yang suci sebagai tamu Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Aku bermimpi, Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersama dua syaikh ; Abu Bakar radhiyallahu ‘anhu dan Umar radhiyallahu ‘anhu disertai Ali radhiyallahu ‘anhu mendatangiku. Beliau memberiku roti lantas aku makan separuhnya. Ketika aku terbangun separuh roti itu masih ada di tanganku.” (Fadhail Hajj ha1.133)
  1. Syaikh Syamsuddin Ash­-Shawwab, mantan kepala pelayan Masjid Madinah, bercerita, “Sekelompok orang dari Halb (Syiria) menyogok penguasa Madinah agar diizinkan mem­bongkar kubur Abu Bakr radhiyallahu ‘anhu dan Umar radhiyallahu ‘anhu untuk dibawa jasadnya. Malam hari empat puluh orang datang disertai para pembantu mereka. Tiba-tiba mereka semua ditelan bumi. Penguasa Madinah berkata kepada Ash-Shawwab, “Engkau jangan sekali-sekali membuka rahasia ini, kalau tidak kupenggal kepalamu!” (Fadhail Hajj ha1.141)

Dan masih banyak khurafat, kebatilan, bid’ah seperti ini.

Sikap Syaikh Al-Kandahlawi terhadap hadits palsu (421-427)

Syaikh membawakan hadits pada Fadhilah Shalat :

Siapa yang menjamak dua shalat tanpa alasan berarti dia telah mendatangi salah satu pintu dosa-­dosa besar.

Lantas berkata, “Riwayat Al-Hakim, Hunsyun adalah Ibnu Qais, dia terpercaya. Tetapi Al-­Hafizh berkata, “Dia justru dha’if, tidak ada yang mentsiqahkannya kecuali Hushain bin Numair. Inilah yang termaktub dalam At-Targhib… lantas menyebutkan kalau hadits ini memiliki penguat dalam kitab Al-Lala’i. Katanya, hadits tersebut dikeluarkan oleh Tirmidzi. Khunsyun dha’if, didha’ifkan oleh Ahmad dan selainnya. Hadits seperti ini diamalkan menurut ahlil ilmi.” Lantas mengisyaratkan bahwa hadits dapat terangkat karena adanya ucapan ulama. Banyak orang menegaskan, termasuk petunjuk keshahihan hadits adalah ucapan ahlu ilmi meskipun hadits itu tidak memiliki sanad yang dapat dijadikan sandaran.”

Dengan begitu syaikh yang dianggap ahlu hadits ini telah merobohkan kaidah ilmu hadits!

Syaikh juga membawakan hadits pada bab Fadhail Shalat ;

Diriwayatkan bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

Siapa yang meninggalkan shalat sehingga habis waktunya lalu menqadha’nya maka akan diadzab di neraka selama haqban. Haqbu adalah delapan puluh tahun, setahun adalah tiga ratus enam puluh hari. Satu hari lamanya sama dengan seribu tahun.

Lantas mengalikan angka-­angka tersebut. Katanya, “Satu haqbu adalah dua puluh delapan juta dan delapan ratus ribu tahun. Namun aku tidak mendapati hadits ini dalam kitab-kitab hadits yang aku miliki”. (Tablighi Nishab ha1.355)

Ketika salah seorang yang fanatik kepada Jama’ah Tabligh mengatakan, “Hadits tersebut didha’ifkan oleh sebagian orang, maka tidak layak apabila dimuat dalam kitab dan lebih baik dihilangkan saja. Apa pendapat anda? Syaikh Kandahlawi menjawab, “Andaikan orang yang lemah ini (dirinya) menyebutkan sebelumnya tentu dia akan menghapus hadits itu. Tetapi selama dia menukil dari kitab terpercaya maka tidak mengapa untuk disebutkan sebagai peringatan bagi manusia kendatipun hadits itu dha’if. Selain itu, pahala shalat berjama’ah dilipatkan tiga ratus juta seperti kami sebutkan dalam hadits kedua pada Fadhail Shalat. Maka tidak aneh bila siksa orang yang meninggalkan shalat seberat itu pula. Aku telah meminta pendapat sahabat-sahabatku, namun aku belum mantap untuk menghapus hadits tersebut.” (Al-Isykalat wal Ajwibah ha1.131)

Pikirkanlah wahai para pembaca, semoga Alloh merahmati kalian. Di muka Syaikh berkata, “Aku tidak mendapati hadits ini dalam kitab-kitab hadits yang aku miliki”, kemudian membantah dirinya sendiri dengan mengatakan, dia telah menukil dari kitab terper­caya. Lantas bolehkan hal semisal ini disandarkan kepada Rasulullah yang shadiq mashduq (jujur dan benar sabdanya dan dibenarkan wahyu yang disampaikannya).

Kata Syaikh Kandahlawi, “Para ulama telah menyebutkan hadits yang marfu’, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Siapa yang bershalawat kepadaku dalam suatu kitab, senantiasa malaikat akan memintakan ampunan baginya selama namaku tertera dalam kitab tersebut.” Hadits ini meskipun dha’if tetapi layak untuk disebutkan pada tempat ini. Tidak usah pedulikan Ibnul Jauzi yang memasukkan hadits ini dalam kitab Maudhu’at (kitab yang berisi hadits-hadits palsu–pen), sebab hadits ini memiliki banyak jalan yang menunjukkan bahwa hadits ini memiliki asal-asul.”

Begitulah Syaikh hadits ini, membuat kaidah yang menyelisihi metode Para ahli hadits. Perlu diketahui bahwa Imam Dzahabi rahimahullah menghukumi hadits ini sebagai hadits batil. (Mizanul I’tidal 1/320). (no.3 ini diambil dari kitab Jama’atut Tabligh, Sayyid Thalibur Rahman, ha1.436-427)

Inilah sekelumit pembahasan tentang kitab Fadhail Amal atau Tablighi Nishab dengan harapan menjadi bahan renungan bagi kaum muslimin agar tidak membaca kitab tersebut dan kitab yang semisalnya. Pepatah mengatakan, “Cukuplah isyarat itu bagi orang yang cerdik”. Allohu a’lam.


Oleh: Abu Nu’aim Al-Atsari rahimahullah

 

Sumber : Majalah Al Furqon. Srowo, Sidayu, Gresik, Jatim. Edisi 1 Tahun V / Sya’ban 1426 H

Artikel: ibnuabbaskendari.wordpress.com

Catatan Kaki:


[1]Tetapi yang saya dapati pada cetakan Indonesia (terjemah) edisi revisi terbitan Ash Shaft Yogyakarta tidak semuanya seperti dikatakan Syaikh Tabasy. Ada hadits yang oleh penulis sekedar dikatakan, “Seperti tercantum dalam Dur Mantsur”, Silakan lihat hal. 224, 228, 235, 262, bahkan ternyata ada yang haditsnya sangat dhaif, lihat hal. 262. Ada juga yang belum diberikan hukum pasti, seperti pada hal. 381, “Dikeluarkan oleh Thabrani seperti tercantum dalam Dur Mantsur dan Majma Zawaid. Dikeluarkan Thabrani dalam Ausath dan perawinya ditsiqahkan’. Keterangan seperti ini dapat menipu pembaca karena melihat perawinya ditiqahkan berarti hadits shahih, padahal belum tentu demikian. Terlebih Penerjemah tidak menerjemahkan derajat hadits yang dipaparkan oleh penulis. Ini lebih berbahaya lagi karena para pembacanya kebanyakan tidak mengerti bahasa Arab dan husnuzhan kepada pengarang sehingga menyangka semua haditsnya adalah shahih atau boleh diamalkan.

Yang dipertanyakan adalah dimuatnya banyak hadits dhaif dan palsu. Kalaulah maksudnya sebagai landasan fadhail amal, jelas tidak benar, karena suatu amalan ibadah harus didasarkan pada hadits yang maqbul, diterima baik shahih atau minimal hasan. Andaikan boleh, harus disertai syarat-syarat yang tidak ringan dan kenyataannya tidak mungkin diamalkan para pengamalnya. Lebih-lebih lagi hadits maudhu’ alias palsu! Allohul Musta’an. Dari sinilah bermunculan bidah-bidan itu.

Al Hafizh Ibnu Hajar rahimahullah dalam Tabyiinul Ujab hal 3-4 berkata, “Telah masyhur bahwa ahlu ilmi bermudah-mudah membawakan hadits-hadits untuk fadhilah aural meskipun hadits tersebut dhaif selama tidak palsu. Namun seharusnya disertai syarat ; pengamalnya harus meyakini bahwa hadits itu dhaif, tidak memasyhurkannya agar tidak ada orang yang beramal dengan hadits dha’if tersebut yang berakibat pensyariatan suatu amalan padahal tidak disyariatkan, atau sebagian orang jahil memandang bahwa amalan tersebut adalah sunnah yang benar. Yang menegaskan hal ini adalah ustadz Abu Muhammad bin Abdis Salam dan selainnya. Hendaknya seseorang itu waspada agar tidak termasuk dalam sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Siapa yang membawakan suatu hadits dariku, dipandang hadits itu dusta maka dia termasuk dua pendusta”. Lantas bagaimana dengan orang yang mengamaikannya ?! Tidak ada bedanya apakah hadits itu diamalkan pada masalah hukum-hukum atau fadhilah amal, karena semuanya adalah syariat”. Usai membawakan nukilan tadi, al Muhaddits, “Ironisnya, kami melihat banyak ulama apalagi orang awam, melalaikan syarat-syarat tadi. Mereka mengamalkan hadits tanpa mengerti hadits itu shahih atau dhaif. Jika tahu kedhaifannya, tidak tahu tingkatan dhaifnya, apakah dhaif ringan atau berat yang dilarang mengamalkannya. Selain itu mereka memasyhurkannya dalam amalan. Layaknya hadits shahih ! Oleh karena itu banyak sekali muncul ibadah yang tidak benar ditengah kaum muslimin. Ibadah ini memalingkan mereka dari ibadah yang benar yang didasari sanad yang shahih”. (Tamamul Minnah, hal. 36-37)

[2] Hadits ini juga termuat dalam Dhu’afa’ karya Al-Uqili 2/81 no. biografi 531.

[3] Al-Hafizh Muhammad bin Abdil Hadi dalam Sharimul Munki fir Raddi ‘alas Subki hal.20 menilai hadits ini mungkar. Lantas menginformasikan bahwa Al-‘Uqaili memasukkan hadist ini dalam Dhu’afa 4/170, Ibnu Adi dalam Al-Kamil, begitu juga Imam Baihaqi dalam Syu’abul Iman menilai mungkar.

[4] Nama kitab, Syifa’us Saqam fi Ziyarati khairil Anam, karya As-Subki.

[5] Al-Hafizh Muhammad bin Abdil Hadi dalam Sharimul Munki fir Raddi ‘alas Subki ha1.87 berkata, “Hadits tersebut sangat mungkar, tidak ada asalnya, bahkan termasuk hadits yang dibuat-buat dan palsu. Hadits ini didustakan atas Imam Malik. Syaikh Abul Faraj Ibnul Jauzi telah benar dengan memuatnya dalam Maudhu’at.” Cacat hadits ini karena ada rawi Muhammad bin Muhammad bin An Nu’man, tertuduh berdusta dan memalsukan hadits dari kakeknya, An-Nu’man bin Syibl. Ibnu Hibban memuatnya dalam kitab Majruhin 3/73. Kata Al-Hafizh Ibnu Abdil Hadi pada ha1.89, “Shalih bin Ahmad bin Abi Muqatil, guru Ibnu Adi, dikenal dengan Al-Qiirathi tertuduh berdusta, memalsukan, dan mencuri hadits …. Daruquthni berkata, “Dia matruk, pendusta, dajjal, kami menjumpainya tetapi kami tidak menulis darinya. Dia menceritakan hadits yang tidak dia dengar.” Ibnu Adi berkata, “Dia mencuri hadits-hadits, merafa’kan hadits mauquf, menyambung hadits mursal, keadaanya sangat jelas”. Ibnu Hibban berkata,”Kami mencatat darinya di Baghdad, dia itu mencuri hadits dan membolak-balik hadits. Mungkin dia telah membolak-balik lebih dari sepuluh ribu hadits….” Lantas bagaimana mungkin sanad hadits ini hasan? Dan masih banyak lagi hadits-hadits semacam ini, belum lagi yang dha’if.

About these ads

18 Responses to Kitab FADHAIL AMAL

  1. yudhie mengatakan:

    Mengenai hadis dhaif, jumhur ulama membolehkan untuk fadhail amal, tarhib wa taghrib.
    Sayangnya para salaf tidak mengikuti jumhur ulama hadist…
    mereka hanya mau mengikuti keyakinan taimiyah, bin baz dan al bani saja..

    • ibnuabbaskendari mengatakan:

      Kesalahan bila dikatakan para SALAF tidak mengikuti jumhur ulama, justru para ulama yg harus mengikuti para SALAF karena mereka (Salaf) adalah sahabat Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam

      Masalah Bolehnya Hadits Dhoif diamalkan utk fadhail, berikut ini penjelasan singkatnyanya semoga Allah Ta’ala memudahkan kita dalam menerima kebenaran
      Syarat-syarat diterimanya hadits dha’if untuk fadhaa-ilul a’maal, al-Hafizh Ibnu Hajar al-Asqalany rahimahullah berkata: Sudah masyhur di kalangan ulama bahwa ada di antara mereka orang-orang yang tasaahul (bermudah-mudah/menggampang-gampangkan) dalam membawakan hadits-hadits fadhaa-il kendatipun banyak di antaranya yang dha’if bahkan ada yang maudhu (palsu). Oleh karena itu wajiblah atas ulama untuk mengetahui syarat-syarat dibolehkannya beramal dengan hadits dha’if, yaitu ia (ulama) harus meyakini bahwa itu dha’if dan tidak boleh dimasyhurkan agar orang tidak mengamalkannya yakni tidak menjadikan hadits dha’if itu syari’at atau mungkin akan disangka oleh orang-orang jahil bahwa hadits dha’if itu
      mempunyai Sunnah (untuk diamalkan).[Tamaamul Minnah hal. 36.]

      Al-Hafizh as-Sakhawy, murid al-Hafizh Ibnu Hajar al-Asqalany rahimahullah, beliau berkata: Aku sering mendengar syaikhku (Ibnu Hajar) berkata: Syarat-syarat bolehnya beramal dengan hadits dha’if:

      [1]. Hadits itu tidak sangat lemah. Maksudnya, tidak boleh ada rawi pendusta, atau dituduh berdusta atau hal-hal yang sangat berat kekeliruannya.
      [2]. Tidak boleh hadits dha’if jadi pokok, tetapi dia harus berada di bawah nash yang sudah shahih.
      [3]. Tidak boleh hadits itu dimasyhurkan, yang akan ber-akibat orang menyandarkan kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam apa-apa yang tidak beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam sabdakan.

      untuk penjelasan lebih lengkap dalam masalah ini silahkan saudara baca artikel terkait disini Barakallahu fiik

      • abdulhakim mengatakan:

        Beginilah contoh seorang jama’ah tabligh seperti yudhie yang tidak memahami perbedaan hadits Maudhu’ dan hadits Dha’if.

  2. santoso araby mengatakan:

    Ustad<
    Ana membaca di web artikel seperti dibawah mohon nasehat agar ana tidak ragu :
    Jazakallah

    Santoso Araby
    ———————————————————–

    Albani, Muhaddis Tanpa Sanad Andalan Wahabi/salafy palsu
    Posted on January 21, 2010 by salafytobat
    Albani, Muhaddis Tanpa Sanad Andalan Wahabi/salafi palsu

    albaniDi kalangan salafi (wahabi), lelaki satu ini dianggap muhaddis paling ulung di zamannya. Itu klaim mereka. Bahkan sebagian mereka tak canggung menyetarakannya dengan para imam hadis terdahulu. Fantastis. Mereka gencar mempromosikannya lewat berbagai media. Dan usaha mereka bisa dikata berhasil. Kalangan muslim banyak yang tertipu dengan hadis-hadis edaran mereka yang di akhirnya terdapat kutipan, “disahihkan oleh Albani, ”. Para salafi itu seolah memaksakan kesan bahwa dengan kalimat itu Al-Albani sudah setaraf dengan Imam Turmuzi, Imam Ibnu Majah dan lainnya.

    Sebetulnya, kapasitas ilmu tukang reparasi jam ini sangat meragukan (kalau tak mau dibilang “ngawur”). Bahkan ketika ia diminta oleh seseorang untuk menyebutkan 10 hadis beserta sanadnya, ia dengan entengnya menjawab, “Aku bukan ahli hadis sanad, tapi ahli hadis kitab.” Si peminta pun tersenyum kecut, “Kalau begitu siapa saja juga bisa,” tukasnya.

    Namun demikian dengan over pede-nya Albani merasa layak untuk mengkritisi dan mendhoifkan hadis-hadis dalam Bukhari Muslim yang kesahihannya telah disepakati dan diakui para ulama’ dari generasi ke generasi sejak ratusan tahun lalu. Aneh bukan?.

    Siapakah Nashirudin al- Albani?

    Dia lahir di kota Ashkodera, negara Albania tahun 1914 M dan meninggal dunia pada tanggal 21 Jumadal Akhirah 1420 H atau bertepatan dengan tanggal 1 Oktober 1999 di Yordania. Pada masa hidupnya, sehari-hari dia berprofesi sebagai tukang reparasi jam. Dia memiliki hobi membaca kitab-kitab khususnya kitab-kitab hadits tetapi tidak pernah berguru kepada guru hadits yang ahli dan tidak pernah mempunyai sanad yang diakui dalam Ilmu Hadits.

    Dia sendiri mengakui bahwa sebenarnya dia tidak hafal sepuluh hadits dengan sanad muttashil (bersambung) sampai ke Rasulullah, meskipun begitu dia berani mentashih dan mentadh’iftan hadits sesuai dengan kesimpulannya sendiri dan bertentangan dengan kaidah para ulama hadits yang menegaskan bahwa sesungguhnya mentashih dan mentadh’ifkan hadits adalah tugas para hafidz (ulama ahli hadits yg menghapal sekurang-kurangnya seratus ribu hadits).

    Namun demikian kalangan salafi menganggap semua hadits bila telah dishohihkan atau dilemahkan Albani mereka pastikan lebih mendekati kebenaran.

    Penyelewengan Albani

    Berikut diantara penyimpangan-penyimpangan Albani yang dicatat para ulama’

    1) Menyerupakan Allah dengan makhluk-Nya sebagaimana dia sebutkan dalam kitabnya berjudul Almukhtasar al Uluww hal. 7, 156, 285.

    2) Mengkafirkan orang-orang yang bertawassul dan beristighatsah dengan para nabi dan orang-orang soleh seperti dalam kitabnya “at-Tawassul” .

    3) Menyerukan untuk menghancurkan Kubah hijau di atas makam Nabi SAW (Qubbah al Khadlra’) dan menyuruh memindahkan makam Nabi SAW ke luar masjid sebagaimana ditulis dalam kitabnya “Tahdzir as-Sajid” hal. 68-69,

    4) Mengharamkan penggunaan tasbih dalam berdzikir sebagaimana dia tulis dalam kitabnya “Salsalatul Ahadits Al-Dlo’ifah” hadits no: 83.

    5) Mengharamkan ucapan salam kepada Rasulullah ketika shalat dg kalimat “Melarang Assalamu ‘alayka ayyuhan-Nabiyy”. Dia berkata: Katakan “Assalamu alan Nabiyy” alasannya karena Nabi telah meninggal, sebagaimana ia sebutkan dalam kitabnya yang berjudul “Sifat shalat an-Nabi”.

    6) Memaksa umat Islam di Palestina untuk menyerahkan Palestina kepada orang Yahudi sebagaimana dalam kitabnya “Fatawa al Albani”.

    7) Dalam kitab yang sama dia juga mengharamkan Umat Islam mengunjungi sesamanya dan berziarah kepada orang yang telah meninggal di makamnya.

    8 ) Mengharamkan bagi seorang perempuan untuk memakai kalung emas sebagaimana dia tulis dalam kitabnya “Adaab az-Zafaaf “,

    9) Mengharamkan umat Islam melaksanakan solat tarawih dua puluh raka’at di bulan Ramadan sebagaimana ia katakan dalam kitabnya “Qiyam Ramadhan” hal.22.

    10) Mengharamkan umat Islam melakukan shalat sunnah qabliyah jum’at sebagaimana disebutkan dalam kitabnya yang berjudul “al Ajwibah an-Nafiah”.

    Ini adalah sebagian kecil dari sekian banyak kesesatannya, dan Alhamdulillah para Ulama dan para ahli hadits tidak tinggal diam. Mereka telah menjelaskan dan menjawab tuntas penyimpangan-penyimpangan Albani. Diantara mereka adalah:

    1.Muhaddits besar India, Habibur Rahman al-’Adhzmi yang menulis “Albani Syudzudzuhu wa Akhtha-uhu” (Albani, penyimpangan dan kesalahannya) dalam 4 jilid;

    2.Dahhan Abu Salman yang menulis “al-Wahmu wath-Thakhlith ‘indal-Albani fil Bai’ bit Taqshit” (Keraguan dan kekeliruan Albani dalam jual beli secara angsuran);

    3.Muhaddits besar Maghribi, Syaikh Abdullah bin Muhammad bin as-Siddiq al-Ghumari yang menulis “Irgham al-Mubtadi` ‘al ghabi bi jawazit tawassul bin Nabi fil radd ‘ala al-Albani al-Wabi”; “al-Qawl al-Muqni` fil radd ‘ala al-Albani al-Mubtadi`”; “Itqaan as-Sun`a fi Tahqiq ma’na al-bid`a”;

    4.Muhaddits Maghribi, Syaikh ‘Abdul ‘Aziz bin Muhammad bin as-Siddiq al-Ghumari yang menulis “Bayan Nakth an-Nakith al-Mu’tadi”;

    5.Ulama Yaman, ‘Ali bin Muhammad bin Yahya al-’Alawi yang menulis “Hidayatul-Mutakhabbitin Naqd Muhammad Nasir al-Din”;

    6.Muhaddits besar Syria, Syaikh ‘Abdul Fattah Abu Ghuddah yang menulis “Radd ‘ala Abatil wal iftira’at Nasir al-Albani wa shahibihi sabiqan Zuhayr al-Syawish wa mu’azirihima” (Penolakan terhadap kebatilan dan pemalsuan Nasir al-Albani dan sahabatnya Zuhayr al-Syawish serta pendukung keduanya);

    7.Muhaddits Syria, Syaikh Muhammad ‘Awwama yang menulis “Adab al-Ikhtilaf” dan “Atsar al-hadits asy-syarif fi ikhtilaf al-a-immat al-fuqaha”;

    8.Muhaddits Mesir, Syaikh Mahmud Sa`id Mamduh yang menulis “Tanbih al-Muslim ila Ta`addi al-Albani ‘ala Shahih Muslim” (Peringatan kepada Muslimin terkait serangan al-Albani ke atas Shahih Muslim) dan “at-Ta’rif bil awham man farraqa as-Sunan ila shohih wad-dho`if” (Penjelasan terhadap kekeliruan orang yang memisahkan kitab-kitab sunan kepada shohih dan dho`if);

    9.Muhaddits Arab Saudi, Syaikh Ismail bin Muhammad al-Ansari yang menulis “Ta`aqqubaat ‘ala silsilat al-ahadits adh-dha`ifa wal maudhu`a lil-Albani” (Kritikan atas buku al-Albani “Silsilat al-ahadits adh-dha`ifa wal maudhu`a”); “Tashih Sholat at-Tarawih ‘Isyriina rak`ataan war radd ‘ala al-Albani fi tadh`ifih” (Kesahihan tarawih 20 rakaat dan penolakan terhadap al-Albani yang mendhaifkannya); “Naqd ta’liqat al-Albani ‘ala Syarh at-Tahawi” (Sanggahan terhadap al-Albani atas ta’liqatnya pada Syarah at-Tahawi”;

    10.Ulama Syria, Syaikh Badruddin Hasan Diaab yang menulis “Anwar al-Masabih ‘ala dhzulumatil Albani fi shalatit Tarawih”.

    Saran kami. Hendaknya seluruh umat Islam tidak gegabah menyikapi hadis pada buku-buku yang banyak beredar saat ini, terutama jika di buku itu terdapat pendapat yang merujuk kepada Albani dan kroni-kroninya.

    • ibnuabbaskendari mengatakan:

      Sudah menjadi sunnatullah, akan selalu ada para penentang Tauhid dan Sunnah, serta penyebar kebencian terhadap para Ulama’ Ahlussunnah. Dalam berbagai media, mereka berusaha menjauhkan kaum muslimin dari Ulama’ Ahlussunnah yang sesungguhnya. Mereka berusaha mendiskreditkan para Ulama’, memfitnah mereka, dan tidak segan-segan menukilkan kisah-kisah dusta dan tidak berdasar untuk mencapai tujuan tersebut.
      Blog salafytobat adalah salah satu blog yang menyimpang dan merupakan penentang Sunnah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Bisa mudah ditemui di beberapa tulisan dalam blog itu hadits-hadits yang lemah atau bahkan palsu (maudlu’), dan Alhamdulillah Blog ini telah mendapatkan bantahan dari penyimpangannya yg dapat kita lihat disini

      adapun untuk mendapatkan jawaban dari semua tuduhan dusta diatas adalah apa yang kita lihat dalam karya beliau, kitab-kitabnya, soal jawabnya, dialognya, dan kaset-kasetnya, bukan apa yang kita dengar dari sebagian kalangan bahwa Syaikh al-Albani rahimahullah seperti tuduhan dusta diatas

      silahkan lihat kembali artikel pada blog kami tentang Syaikh Al-Albani Ahli Hadits Yg Terdholimi dan baca juga sebuah tulisan tentang Ijazah Hadits Imam Al-Albany
      semoga Allah ‘azza wa jalla menjadikan kita termasuk orang yg mendengar nasehat dan mengambil nasehat, wallahu a’lam

    • ahlussunnah mengatakan:

      ente belajar islam dimane???semua ahlul ‘ilmi termasuk syaikh bin baz, syaikh utsaimin saja mengagumi ilmunya albani…semua orang yang mau belajar tau…ente siapa???kelihatan sekali koment ahli bid’ah….

  3. Ping-balik: Mengenal Kitab “Fadhail Amal” « Blog Abu Umamah

  4. Ping-balik: Kritik: Ijtima’ Tahunan Jama’ah Tabligh « Madrasah Ibnu Abbas As-Salafy Kendari

  5. Damon mengatakan:

    Penerangan dari Mufti Mahmud Hassan Gangohi (rahimahullah), Mufti Besar Darul Ulum Deoband dalam fatwa beliau pada 24/3/1395 AH:

    “Kemungkinan besar tidak ada hadith yang disepakati oleh semua ulama’ sebagai maudhu’. Bagaimana pun terdapat hadith yang dianggap dha’if atau lemah malah dilabel sebagai palsu oleh sebahagian ulama’. Pengarang kitab Fadha’il Amal yang mulia (Maulana Zakariyya rah.) sendiri telah menyentuh tentang perkara ini. Kitab ‘Tadribur Rawi’ menerangkan bahawa adalah dibolehkan menggunakan hadith dho’if berkaitan dengan fadhilat atau kelebihan-kelebihan amal. Jika sebaliknya, apa yang kamu akan perkatakan tentang Ibn Majah (rah.) apabila Ibn Jauzi (rah.) mengatakan bahawa kebanyakan daripada hadith-hadith yang diriwayatkan oleh beliau sebagai maudhu’? Ibn Majah adalah sebahagian dari silibus madrasah malah salah satu dari 6 kitab sahih. Ibn Majah (rah.) tidak menyebut pun hadith-hadith tersebut sebagai maudhu’. Malah kitab beliau digunakan tanpa sebarang bantahan.

    Pengarang kitab Fadha’il Amal sangat berhati-hati. Beliau telah menerangkan tentang hadith-hadith yang sesetengah ulama’ mengatakan sebagai maudhu’. Jika sekiranya semua ulama bersepakat bahawa hadith-hadith tersebut adalah maudhu’, beliau sekali-kali tidak akan meriwayatkannya.”

    Kita selaku orang yang Allah kurniakan akal sepatutnya berfikir dahulu sebelum bercakap ataupun mengeluarkan sebarang hukum. Hatta untuk mengeluarkan sebarang hukum, kita wajib merujuk Al-quran dan hadis rasulullah sebelum berijtihad meyatakan satu pandangan ataupun hukum sesuatu benda. Sebenarnya, untuk pengetahuan para pembaca sekalian, saya pernah mendengar cerita yang ada sesetengah ustaz yang memberi pendapat yang kitab ini mengandungi hadis-hadis maudhu’. Siapa kita nak menilai sebuah kitab yang dikarang oleh syeikhul hadis yang mempunyai ilmu agama(hadis) yang tinggi ? Siapa kita nak menilai kitab yang dikarang oleh seoarang ulama’ yang jiwa dan masa beliau hanya untuk Allah?
    Fikir-fikirkanlah!!!!!!!

  6. Ping-balik: Mengenal Kitab “Fadhail Amal” « ABU NAMIRA HASNA AL-JAUZIYAH

  7. Nizar mengatakan:

    Berikut ini artikel bagus bagi mereka yg menganggap bahwa menggunakan mushaf (al-Qur’an) adalah perkara bid’ah..!!

    PENULISAN AL-QUR’AN DAN PENGUMPULANYA BUKANLAH BID’AH !!

  8. Ping-balik: Mengenal Kitab “Fadhail Amal” « Mutiara Sunnah

  9. Ping-balik: Mengenal Kitab “Fadhail Amal” « Mutiara Sunnah

  10. Abu Abdirrohman mengatakan:

    sekedar sharing….
    dulu sewaktu saya masih ikut jamaah tabligh, saya sudah tau kalo tulisan arabnya menyebutkan derajat hadistnya, dari yang sahih hingga yang palsu -meskipun tidak diterjemahkan ke dalam bahasa indonesia. Saya juga tidak percaya dengan kisah-kisah “aneh bin ajaib” yang terdapat di kitab fadhail amal. Namun yang paling aneh, kenapa ya…saya dulu tetep ngotot ikut khuruj..??
    Allohu waliyyut taufiq

  11. Marzuki Abbas mengatakan:

    KEDUDUKAN KITAB “FADHA’IL AL-A’MAL”,
    KITAB RUJUKAN UTAMA JAMA’AH TABLIGH

    Lajnah Daimah ditanya: Syaikh Muhammad Zakaria rahimahullah termasuk ulama yang paling masyhur di India dan Pakistan,khususnya dilingkungan jama’ah tabligh.Dia memiliki beberapa tulisan,diantaranya kitab “fadha’il al-a’mal”,dimana kitab ini dibanyakan dihalaqah-halaqah yang membahas agama dikalangan jama’ah tabligh.para anggota jama’ah ini meyakini kitab ini seperti “shahih bukhari”,dan yang semisalnya,dan dahulu akupun bersama mereka.Disaat sedang membaca kitab ini, aku mendapati banyak kisah-kisah yang diriwayatkan, yang terkadang sulit difahami dan meyakininya.Oleh karena itu,aku mengirim kepada lembaga kalian agar dapat memberi jalan keluar dari permasalahanku ini.

    Diantara kisah ini adalah kisah yang diriwayatkan oleh Sayyid Ahmad Rifa’I,dimana dia berkata: tatkala dia selesai menunaikan ibadah haji, diapun mengunjungi kuburan Nabi Shalallahu Alaihi Wasallam sambil melantunkan bait-bait syair berikut dan berdiri di depan kuburan Nabi Shallallahu alaihi wasallam sambil berkata:

    فـي حالـة البعـد روحي كنت أرسلها. . . . . . . . . . تقبــل الأرض عني وهي نائبتي

    وهــذه دولــة الأشباح قد حضرت. . . . . .. . . .. فامدد يمينـك كي تحظى بها شفتي

    Dikejauhan aku melepaskan ruhku

    Bumipun menerimanya dan dia menjadi penggantiku

    Inilah negeri orang-orang yang telah hadir

    julurkanlah tanganmu agar bibirku mendapat bagian darinya

    Setelah membaca bait-bait ini,keluarlah tangan kanan Rasul Shallallahu alaihi wasallam, lalu akupun menciumnya. (Al-Hawi,As-Suyuthi).

    Dan dia menyebutkan bahwa ada Sembilan puluh ribu muslim yang telah melihat kejadian besar ini,dan mereka dimuliakan dengan mengunjungi tangan yang memiliki berkah itu.Diantara mereka adalah Syaikh Abdul Qadir Jaelani rahimahullah.Yang waktu itu berada di masjid nabawi yang mulia adalah bangunan yang inggi.Maka berkenaan dengan kisah ini,aku ingin bertanya kepada kalian:

    1. Apakah kisah ini memiliki asal,atau tidak ada hakekatnya?

    2. Apa menurut kalian tentang kitab “Al-Hawi” karya As-Suyuthi,dimana dia menetapkan adanya kisah ini?

    3. Jika kisah ini tidak benar, apakah boleh shalat dibelakang imam yang meriwayatkan kisah ini dan meyakini kebenarannya? Apakah sah keimamahannya atau tidak?

    4. Apakah boleh membaca kitab-kitab seperti ini dihalaqah-halaqah agama di masjid-masjid? Dimana kitab ini dibacakan dimasjid-masjid di Britania oleh kaum jama’ah tabligh ,dan juga sangat masyhur di kerajaan Arab Saudi,khususnya di Madinah Munawwarah,dimana penulis kitab ini hidup lama di Madinah Munawwarah.Saya berharap kepada para Syaikh yang mulia agar memberi faedah kepada kami dengan jawaban yang cukup dan terperinci,agar saya dapat menerjemahkannya kedalam bahasa negeri setempat lalu menyebarkanya kepada para sahabat dan temanku,dan kaum muslimin lainnya yang saya berbincang dengannya dalam pembahasan ini?

    Lajnah menjawab:

    هذه القصة باطلة لا أساس لها من الصحة ؛ لأن الأصل في الميت نبيا كان أم غيره أنه لا يتحرك في قبره بمد يد أو غيرها ، فما قيل من أن النبي صلى الله عليه وسلم أخرج يده للرفاعي أو غيره غير صحيح ، بل هو وهم وخيال لا أساس له من الصحة ، ولا يجوز تصديقه ، ولم يمد يده صلى الله عليه وسلم لأبي بكر ولا عمر ولا غيرهما من الصحابة فضلا عن غيرهم ، ولا يغتر بذكر السيوطي لهذه القصة في كتابه : (الحاوي) ؛ لأن السيوطي في مؤلفاته كما قال العلماء عنه : حاطب ليل يذكر الغث والسمين ، ولا تجوز الصلاة خلف من يعتقد صحة هذه القصة لأنه مصدق بالخرافات ومختل العقيدة ، ولا تجوز قراءة كتاب (فضائل أعمال) وغيره مما يشتمل على الخرافات والحكايات المكذوبة على الناس في المساجد أو غيرها ؛ لما في ذلك من تضليل الناس ونشر الخرافات بينهم .

    نسأل الله عز وجل أن يوفق المسلمين لمعرفة الحق والعمل به إنه سميع مجيب . وصلى الله على نبينا محمد وآله وصحبه .

    “ini adalah kisah yang batil yang tidak ada landasan kebenarannya sama sekali,sebab asal hukum orang yang telah mati apakah dia seorang nabi atau bukan bahwa dia sudah tidak bergerak dalam kuburannya,apakah dengan menjulurkan tangannya atau yang lainnya.Adapun yang disebutkan bahwa Nabi Shallallahu alaihi wasallam mengeluarkan tangannya kepada Rifa’I atau yang lainnya,tidaklah benar. Bahkan ini merupakan khayalan yang tidak ada landasan kebenarannya, dan tidak boleh membenarkannya.Nabi Shallallahu alaihi wasallam tidak pernah menjulurkan tangannya kepada Abu Bakar,Umar ,tidak pula selain keduanya dari kalangan para sahabat,terlebih lagi selain mereka.Jangan pula tertipu dengan penyebutan Suyuthi terhadap kisah ini dalam kitabnya (Al-Hawi) , sebab Suyuthi dalam tulisan-tulisannya seperti yang disebutkan para ulama: hathibul lail (pencari kayu bakar dimalam hari)1 , dia menyebut yang kurus dan yang gemuk (tidak memperhatikan kebenaran apa yang dinukilnya,pen), dan tidak diperbolehkan shalat dibelakang orang yang meyakini kebenaran kisah ini sebab dia meyakini perkara-perkara khurafat ini dan ada kerusakan dalam akidahnya, dan tidak boleh pula membacakan kepada manusia kitab “fadha’il al-a’mal” dan yang lainnya dari kitab yang mengandung berbagai khurafat dan cerita-cerita palsu di masjid-masjid atau yang lainnya, sebab yang demikian menyebabkan tersesatnya manusia dan tersebarnya perkara khurafat dikalangan diantara mereka.

    Kami memohon kepada Allah Azza wajalla agar memberi taufik kepada kaum muslimin untuk mengenal kebenaran dan mengamalkannya. Sesungguhnya Dia maha mendengan dan maha mengabulkan. Shalawat dan Salam tercurah kepada Nabi kita Muhammad Shallallahu alaihi wasallam ,keluarga dan para sahabatnya.

    Lajnah Daaimah untuk pembahasan ilmiah dan fatwa

    Pimpinan : Abdul Aziz bin Abdillah bin Muhammad Alus Syaikh

    Anggota : Saleh bin Fauzan Al-Fauzan

    Anggota : Bakr bin Abdillah Abu Zaid

    Anggota : Abdullah bin Abdurrahman Al-Ghudayyaan

    Sumber: http://www.ibnuramadan.wordpress.com

  12. Ping-balik: Kitab Fadhail Amal, Kitab Pokok Pegangan Jamaah Tabligh, apakah isinya? « "Bisa Karena Terbiasa"

  13. Ping-balik: Kitab Fadhail Amal, Kitab Pokok Pegangan Jamaah Tabligh, apakah isinya? « "Bisa Karena Terbiasa"

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 688 pengikut lainnya.

%d bloggers like this: