Keutamaan Berharap dan Takut Serta Bersangka Baik Kepada Allah

Ustadz Abdullah bin Taslim. MA

عَنْ أَنَسٍ أَنَّ النَّبِىَّ r دَخَلَ عَلَى شَابٍّ وَهُوَ فِى الْمَوْتِ فَقَالَ «كَيْفَ تَجِدُكَ؟». قَالَ: وَاللَّهِ يَا رَسُولَ اللَّهِ، إِنِّى أَرْجُو اللَّهَ وَإِنِّى أَخَافُ ذُنُوبِي. فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ r «لاَ يَجْتَمِعَانِ فِى قَلْبِ عَبْدٍ فِى مِثْلِ هَذَا الْمَوْطِنِ إِلاَّ أَعْطَاهُ اللَّهُ مَا يَرْجُو وَآمَنَهُ مِمَّا يَخَافُ» رواه الترمذي وابن ماجه وغيرهما.

Dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah menjenguk seorang pemuda yang sedang menjelang sakaratul maut (saat menjelang kematian), maka beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bertanya kepada pemuda tersebut: “Apa yang kamu rasakan (dalam hatimu) saat ini?”. Dia menjawab: “Demi Allah wahai Rasulullah, sungguh (saat ini) aku (benar-benar) mengharapkan (rahmat) Allah dan aku (benar-benar) takut akan (siksaan-Nya akibat dari) dosa-dosaku”. Kemudian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Tidaklah terkumpul dua sifat ini (berharap dan takut) dalam hati seorang hamba dalam kondisi seperti ini kecuali Allah akan memberikan apa yang diharapkannya dan menyelamatkannya dari apa yang ditakutkannya”[1].

Hadits yang agung ini menunjukkan keutamaan adanya sifat berharap dan takut kepada Allah secara seimbang dalam diri seorang hamba, sekaligus menunjukkan keutamaan bersangka baik kepada Allah Ta’ala, terutama pada waktu sakit dan saat menjelang kematian[2], sebagaimana perintah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam: “Janganlah salah seorang dari kalian meninggal dunia kecuali dalam keadaan dia bersangka baik kepada Allah Ta’ala[3].

Beberapa faidah penting yang terkandung dalam hadits ini:

- Dua sifat inilah yang dimiliki oleh hamba-hamba Allah yang paling mulia di sisi-Nya, para Nabi dan Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam, sehingga Allah Ta’ala memuji mereka dalam firman-Nya:

{إِنَّهُمْ كَانُوا يُسَارِعُونَ فِي الْخَيْرَاتِ وَيَدْعُونَنَا رَغَبًا وَرَهَبًا وَكَانُوا لَنَا خَاشِعِينَ}

“Sesungguhnya mereka adalah orang-orang yang selalu bersegera dalam (mengerjakan) perbuatan-perbuatan yang baik dan mereka (selalu) berdoa kepada Kami dengan (perasaan) harap dan takut. Dan mereka adalah orang-orang yang khusyu’” (QS al-Anbiyaa’:90).

- Imam Ibnu Hajar al-‘Asqalani rahimahullah berkata: “Yang dimaksud dengan ar-raja’ (berharap) adalah bahwa jika seorang hamba melakukan kesalahan (dosa atau kurang dalam melaksanakan perintah Allah) maka hendaknya dia bersangka baik kepada-Nya dan berharap agar Dia menghgapuskan (mengampuni) dosanya, demikian pula ketika dia melakukan ketaatan (kepada-Nya) dia berharap agar Allah menerimanya. Adapun orang yang bergelimang dalam kemaksiatan kemudian dia berharap Allah tidak menyiksanya (pada hari kiamat) tanpa ada rasa penyesalan dan (kesadaran untuk) meninggalkan perbuatan maksiat (tanpa melakukan taubat yang benar kepada Allah), maka ini adalah orang yang tertipu (oleh setan)” [4].

- Imam Hasan al-Bashri rahimahullah berkata: “Orang mukmin bersangka baik kepada Rabb-nya (Allah Ta’ala) maka diapun memperbaiki amal perbuatannya, sedangkan orang orang kafir dan munafik bersangka buruk kepada Allah maka merekapun memperburuk amal perbuatan mereka” [5].

- Sebagian dari para ulama menjelaskan bahwa dalam kondisi sehat lebih utama menguatkan sifat al-khauf (takut) daripada ar-raja’ (berharap), agar seseorang tidak mudah lalai dan lebih semangat dalam beramal shaleh. Adapun ketika sakit, apalagi saat menjelang kematian, lebih utama menguatkan sifat ar-raja’ (berharap) untuk menumbuhkan persangkaan baik kepada Allah Azza wa jalla[6].

Artikel: ibnuabbaskendari.wordpress.com

Catatan Kaki:


[1] HR at-Tirmidzi (no. 983), Ibnu Majah (no. 4261) dan al-Baihaqi dalam “Syu’abul iman” (no. 1001 dan 1002), dinyatakan hasan oleh imam at-Tirmidzi, al-Mundziri dan Syaikh al-Albani dalam “Shahihut targiib wat tarhiib” (no. 3383).

[2] Lihat kitab “Fathul Baari” (11/301), “Shahihut targib wat tarhib” (3/174) dan “Ahkaamul Jana-iz (hal. 11).

[3] HSR Muslim (no. 2877).

[4] Kitab “Fathul Baari”.

[5] Dinukil oleh imam Ibnu Katsir rahimahullah dalam tafsir beliau (4/121).

[6] Lihat kitab “Fathul Baari” (11/301) dan “Faidhul Qadiir” (2/70).

About these ads

5 Responses to Keutamaan Berharap dan Takut Serta Bersangka Baik Kepada Allah

  1. Hasan Ar-Rosyid mengatakan:

    Subhanallah artikel yang indah. dan sebuah motivasi bagi ana. rasa cinta, takut dan harap memang harus ada dalam setiap amal ibadah yang ditujukan hnya untuk Allah Taala. syukron kepada seorang saudara salafy di makassar yang memberikan alamat web ini. semoga tetap Istiqomah mendakwahkan manhaj ini

  2. Ping-balik: Keutamaan Berharap dan Takut Serta Bersangka Baik Kepada Allah | Mυтιαrα Sυηηαн

  3. Ping-balik: Keutamaan Berharap dan Takut Serta Bersangka Baik Kepada Allah | Mυтιαrα Sυηηαн

  4. Ping-balik: Keutamaan Berharap dan Takut Serta Bersangka Baik Kepada Allah | Mυтιαrα Sυηηαн

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 1.396 pengikut lainnya.

%d blogger menyukai ini: