ALAT PETUNJUK ARAH KIBLAT

Ustadz Abu Ubaidah Yusuf bin Mukhtar as-Sidawi

Pada zaman dahulu, manusia menggunakan bintang, bayangan benda dan sejenisnya untuk menen­tukan arah kiblat. Cara seperti ini terkadang mengal­ami kesulitan ketika langit berawan atau mendung.

Alhamdulillah, dengan perkembangan zaman ditemukanlah alat-alat modern untuk menentukan arah, semisal kompas maupun alat elektronik. Alat­ – alat ini sangat dibutuhkan oleh para pilot, nahkoda, musafir dan lain sebagainya.

Bahkan atas kehendak Alloh sekarang telah ada alat penentu arah yang sangat canggih, orang menyebutnya GPS (Global Positioning System). Alat ini bekerja dengan bantuan 30 satelit GPS yang me­ngelilingi bumi. Alat ini menerima sinyal dari satelit sehingga kita bisa mengetahui arah suatu titik di muka bumi ini, termasuk Ka’bah.

Alat ini dapat memberikan petunjuk arah secara teliti dan akurat bila digunakan secara benar. Seperti kalau kita menginginkan arah Ka’bah maka kita masukkan koordinat Ka’bah yaitu 21° 25′ 21.05″ LU dan 039° 49′ 34.31BT, elevasi 304 meter (ASL). Apa­bila koordinat tersebut dimasukkan maka dengan cepat dia akan memberikan petunjuk arah kiblat, di manapun kita berada. Memang ada kemungkinan salah, tetapi tidak lebih dari 100 meter, sebuah jarak yang sedikit dan tidak berpengaruh, karena maksud dari kiblat bagi orang yang jauh dari Makkah adalah arahnya, bukan ka’bah itu sendiri.[1]

Nah, bagaimana pandangan syari’at tentang alat modern ini ? Bolehkah alat tersebut digunakan un­tuk menentukan arah kiblat sholat ?!. Masalah inilah yang akan kita kupas dalam pembahasan ini. Semo­ga Alloh memberikan ilmu yang bermanfaat bagi kita semua.

MENGHADAP KIBLAT, SYARAT SAHNYA SHOLAT

Sebagaimana dimaklumi bersama bahwa mengh­adap kiblat termasuk syarat sahnya sholat, baik sho­lat wajib maupun sunnah adalah menghadap kiblat. Hal ini berdasarkan dalil al-Qur’an, hadits dan ijma’ para ulama.

  1. 1. Dalil al-Qur’an

Palingkanlah mukamu ke arah Masjidil Haram. dan di­mana saja kamu berada, palingkanlah mukamu ke arah­nya. “ (QS. al-Baqoroh [2]: 144)

  1. 2. Dalil Hadits

Nabi bersabda kepada orang yang jelek sho­latnya :

“Apabila kamu hendak sholat maka sempurnakanlah wudhumu, kemudian menghadaplah ke kiblat lalu bertak­birlah.” (HR. Bukhori 6251)

  1. 3. Dalil Ijma’

Para ulama telah bersepakat bahwa menghadap kiblat termasuk syarat sahnya sholat, sebagaimana dinukil oleh Ibnu Rusyd[2], al-Kasani[3], an-Nawawi[4], Ibnu Qudamah[5], Ibnu Hazm[6] dan lain-lain banyak sekali[7].

Namun, kewajiban menghadap kiblat dalam sho­lat ini dikecualikan dalam beberapa keadaan :

Pertama : Dalam keadaan tidak mampu seperti sakit parah, menjaga pos perbatasan musuh, atau seperti orang yang di pesawat, kereta dan sebagainya yang tidak mendapati tempat kecuali kursinya yang tidak menghadap kiblat, maka boleh sholat menghadap ke arahnya, karena Alloh tidak membebani jiwa kecuali semampunya.

Kedua : Keadaan takut seperti kalau memerangi musuh atau lari dari musuh, lari dari banjir dan se­bagainya maka kiblatnya adalah arah semampunya.

Ketiga : Sholat sunnah di atas kendaraan saat safar.[8]

Hikmah dari kewajiban menghadap kiblat ada­lah agar kaum muslimin menghadap kepada Alloh dengan badan dan hatinya. Hatinya yaitu dengan menghadap kepada Alloh sedangkan badan­nya yaitu dengan menghadap kepada rumah yang dimuliakan Alloh. Hikmah lainnya juga yang sa­ngat nampak adalah agar umat Islam bersatu dan tidak bercerai berai.[9]

CARA MENGETAHUI ARAH KIBLAT

Ketahuilah wahai saudaraku-semoga Alloh se­lalu merahmatimu- bahwa para ulama dari kalangan ahli tafsir, ahli hadits dan ahli fiqih telah membahas secara detail cara – cara untuk mengetahui arah kiblat[10], di antaranya adalah :

  1. Alam bumi seperti gunung dan sungai.
  2. Alam udara seperti angin, tapi ini adalah cara yang paling lemah.
  3. Tanda di langit di malam hari yaitu bintang – bintang.
  4. Tanda di langit di siang hari yaitu matahari.
  5. Alat.
  6. Informasi orang terpercaya.

Pada asalnya, kalau bisa hendaknya seorang yang akan sholat harus yakin tentang arah kiblat, jika ti­dak maka dengan informasi orang terpercaya, dan jika tidak maka dengan tanda-tanda kiblat tersebut.[11]

ALAT PETUNJUK ARAH KIBLAT

Para ulama berselisih tentang hukum mempelajari tanda-tanda kiblat antara sunnah dan wajib. Al- ‘Allamah al-Banuri menjelaskan masalah ini se­cara panjang lebar lalu menyimpulkan : “Dari uraian di atas dapat kita simpulkan beberapa masalah :

Pertama: Tanda – tanda arsitektur dapat dijadikan pe­doman untuk mengetahui arah kiblat, waktu sholat dan sebagainya tetapi tidak bersifat wajib.

Kedua: Barang siapa yang mampu mengggunakan tanda-tanda tersebut maka hendaknya dia berpedo­man dengannya dan lebih mendahulukannya dari tanda-tanda kiblat lainnya, karena dia menunjukkan tanda yang pasti atau prasangka yang kuat.

Ketiga: Barang siapa meninggalkan tanda-tanda tersebut padahal dia mampu, kemudian lebih me­milih cara-cara lainnya untuk mengetahui arah kib­lat dan waktu sholat maka hukumnya boleh dan sah sholatnya karena syari’at tidak membatasinya itu saja sebagai keluasan bagi mereka”.[12]

Tentang alat petunjuk arah kiblat modern se­cara khusus telah dibahas oleh para ulama. Dalam kitab Bughyatul Arib hlm. 93 dikatakan : “Perhatian : Barang siapa yang memiliki jam untuk mengetahui waktu sholat atau alat petunjuk arah kiblat, yang di India di sebut dengan Qutub Nama, atau Kiblat Nama, sedangkan di Arab disebut dengan Bait Ibroh, maka itu sudah mencukupi untuk mengetahui arah kiblat dan waktu sholat. Apabila alat-alat tersebut terbukti benar atau prasangka kuat kebanyakannya benar (karena prasangka kuat bisa digunakan dalam syari’at) sekalipun saya belum mendapati ada yang menegaskan hal itu. Benar, kaidah-kaidah fiqih tidak mendukung hal ini,,akan tetapi hal ini telah berjalan secara adat dan kaum muslimin menggunakannya tanpa ada pengingkaran para ulama.”

Hal ini ditegaskan sebelumnya oleh ar-Romli, salah seorang ulama madzhab Syafi’iyyah, beliau. Mengatakan : “Diperbolehkan berpedoman pada baitul Ibroh (alat petunjuk) tentang masuknya waktu sholat dan arah kiblat, karena keduanya menunjuk­kan prasangka kuat sebagaimana ijtihad.”[13]

Ibnu Badron, salah seorang ulama madzhab Hanabilah, berkata: “Adapun baitul ibroh (alat petun­juk arah kiblat) yang disebut dengan Kiblat Nama maka boleh dijadikan pedoman kalau sering benarnya.”[14]

Beliau juga mengatakan[15] tatkala membahas masalah telegram : “Masalah ini persis dengan masalah – masalah lainnya yang biasa dijadikan oleh manusia dalam ibadah seperti alat penunjuk arah kiblat yang bila engkau letakkan maka dia akan menunjukkar ke arah kiblat. Nah, setelah diuji coba dan ternyata banyak benarnya maka itu termasuk tanda – tanda yang disebutkan ahli fiqih dalam kitab-kitab mereka. Dalilnya adalah penelitian dan percobaan dan ternyata jarang salahnya, sehingga bisa digunakan sebagai pedoman.”[16]

Syaikh Dr. Kholid bin Ali al-Musyaigih berkata “Para ahli fiqih bersepakat tentang bolehnya berpedoman pada alat petunjuk arah kiblat.[17] Hal ini telah ada pada zaman kita sekarang yakni sebuah alat elektronik yang menunjukkan arah utara dan barat secara akurat dan tidak terganggu dengan pengaruh – pengaruh alam seperti halnya alat kuno Adapun alat elektronik modern ini, dia sangat canggih dalam menunjukkan arah barat dan timur secara tepat. Jika memang demikian maka dia menunjukkan prasangka kuat yang dapat dianggap dalam masalah ibadah”.[18]

SYARAT-SYARAT BOLEHNYA

Alat modern dengan program GPS yang seka­rang banyak di pasaran sangat ditentukan oleh penggunanya dengan memasukkan koordinat se­suai aturan. Oleh karena itu, apabila koordinat yang dimasukan keliru maka alat tersebut akan meng­hasilkan hasil yang keliru.

Alat ini merupakan buatan manusia yang memi­liki kekurangan dan kelemahan. Oleh karenanya dia inembutuhkan bantuan listrik dan ilmu tentang tata cara penggunaannya, sehingga apabila semuanya dilakukan maka akan menghasilkan hasil yang di­inginkan, insya Alloh.

Oleh karena itulah, sekalipun alat modern ini bo­leh digunakan dan dijadikan pedoman alat petunjuk arah kiblat, namun harus memenuhi beberapa syarat berikut :

  1. Orang yang menggunakannya adalah orang yang mengerti tentang tata cara penggunaan alat tersebut.
  2. Hasil alat modern tersebut tidak bertentangan de­ngan penelitian lain seperti dengan matahari atau bintang. Apabila memang ada pertentangan maka perlu diteliti ulang dengan lebih akurat lagi untuk kebenarannya.
  3. Sebaiknya ditambahkan lagi dengan indikasi-in­dikasi lainnya tentang arah kiblat agar bertambah kuat hasil tersebut.

Dengan diulang beberapa kali, kami kira akan mem­bawa hasil yang memuaskan.[19]

BAGAIMANA JIKA MASJID TERBUKTI TIDAK MENGHADAP KIBLAT ?

Masalah ini sering menjadi pertanyaan dan po­lemik, gambaran masalahnya adalah sebagai beri­kut : Ada sebuah masjid yang sudah dibangun dan dipakai sholat, namun setelah dicek dengan alat modern sekarang ternyata dia menyimpang dari kiblat. Maka yang menjadi masalah dan pertanyaan : Apakah sholat mereka sah? Dan apakah harus di­rubah masjidnya?!

Jawaban: Sebelumnya, perlu diketahui bahwa cara menghadap kiblat ada dua macam :

Pertama: Harus menghadap ka’bah itu sendiri, hal ini bagi orang yang sholat dekat dengan ka’bah.

Kedua: Harus menghadap arah ka’bah, hal ini bagi orang yang jauh dari ka’bah atau dekat tapi tidak melihat ka’bah.[20]

Adapun masalah tersebut, Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin telah menjawab sebagai beri­kut :

  1. Apabila menyimpangnya dari Kiblat tersebut sedikit yakni tidak mengeluarkan dari arah kiblat maka tidak masalah, sekalipun lurus adalah lebih utama.
  2. Adapun apabila menyimpangnya dari kiblat san­gat jauh sekali sehingga mengeluarkan dari kiblat, seperti kalau arahnya ke selatan atau utara pada­hal kiblatnya di timur, maka tidak ragu lagi bah­wa masjid perlu dirubah atau arahnya saja yang dirubah ke kiblat sedangkan arah masjid tetap.[21]

Demikianlah keterangan para ulama yang da­pat kami kumpulkan. Hanya kepada Alloh kami memohon agar kita dianugerahi ilmu yang berman­faat dan amal Sholih. Walloh A’lam.

DAFTAR REFERENSI

  1. Atsar Taqniyah Al-Haditsah fil Khilaf Fiqhi, Dr. Hisyam bin Ab­dii Malik Alu Syaikh, Maktabah ar-Rusyd, cet kedua 1428 H
  2. Fiqih Nawazil, Syaikh Bakr bin Abdillah Abu Zaid, Muassasah ar-Risalah, Bairut cet pertama 1427 H
  3. Fiqih Nawazil fil-Ibadat, Syaikh Khalid bin Abdillah al-Musyai­qih, tercetak dalam tulisan komputer.
  4. 4. Fatawa Ibni Utsaimin fi Thoharah wa Sholat, kumpulan Fand bin Nashir as-Sulaiman, Dar Tsuroyya, KSA, cet pertama 1429 H
  5. Syarh Mumti’, Syaikh Muhammad bin Sholih al-Utsaimin, Dar Ibnil Jauzi, KSA, cet pertama 1422 H.

[Disalin dari majalah AL FURQON edisi 9 th. Ke 9 1431/2010. Diterbitkan oleh Ma’had al-Furqon al-Islami, SrowoSidayu Gresik JATIM(61153) untuk dipublikasikan di ibnuabbaskendari.wordpress.com]

Catatan Kaki:


[1] Lihat Atsaru Taqniyah Haditsah Fil Khilaf Fiqhi hlm. 167 – 170 Karya Syaikh Dr. Hisyam Alu Syaikh.

[2] Bidayatul Mujtahid 2/381

[3] Bada’I Shona’i 1/340

[4] -Majmu’ Syarh Muhadzab 3/193

[5] Al-Mughni 2/100

[6] Marotibul Ijma’ hlm. 26

[7] Lihat Ijma’at ibni Abdil Barr 1/470-472 oleh Abdulloh bin Mubarok Alu Saif.

[8] Taudhihul Ahkam 2/28-29 oleh Syaikh Abdulloh al-Bassam.

[9] Syarh Mumti’ 2/261 oleh Syaikh Muhammad bin Sholih al-Utsaimin.

[10] Lihat al-Bunayah 2/85-92 oleh al-‘Aini, Buhgyatul Murib hlm. 31-47 oleh al-Bunari.

[11] Kifayah Akhyar 1/184-185. Lihat pula Syarh Mumti 2/2714-280 oleh Syaikh Muhammad bin Sholih al-utsaimin.

[12] Bughyatul Arib hlm. 90-93

[13] Nihayatul Muhtaj 1/443

[14] Ta’lig Akhshor Mukhtashorot hlm. 22

[15] Al-Uqud al-Yaqutiyyah hlm. 268

[16] Diringkas dari Fiqih Nawazil 1/228-237 oleh Syaikh Bakr Abu Zaid

[17] Diantara para ulama tersebut adalah Syaikh Abdul Azis bin Baz dan anggota lajnah Daimah, sebagaimana dalam Fatawa Lajnah

Daimah 6/315 dan Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin sebagaimana dalam Fatawa Ibnu Utsaimin 1/565.

[18] Fiqih Nawazil Fil Ibadat hlm. 47-48

[19] Atsaru Taqinyah Haditsah hlm. 171-172 oleh Syaikh Dr. Hisyam bin Abdul Malik Alu Syaikh.

[20] Syarh Mumti’ 2/271 oleh Syaikh Muhammad bin Sholih al-Utsaimin.

[21] Fatawa IbnuUtsaimin 1/562.

About these ads

2 Responses to ALAT PETUNJUK ARAH KIBLAT

  1. Ping-balik: Antara Utara dan Selatan Adalah Qiblat « Madrasah Ibnu Abbas As-Salafy Kendari

  2. Nur Hidayatullah mengatakan:

    Terima kasih atas infonya,,,
    saya mau tanya tentang mnntukan arah kiblat dengan angin tu bgaimana?
    kitab apa yg mmbahas detail tntang tu?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 1.273 pengikut lainnya.

%d bloggers like this: