Iklash dan I’tiba Syarat di Terimanya Suatu Amalan

Penulis : Ustadz Abu Bakar Ramli bin Haya
(Staf Pengajar Madrasah Ibnu Abbas As-Salafy Kendari)

Segala puji bagi Allah Ta’ala, shalawat dan salam semoga senantiasa tercurah kepada Rasulullah Shallallahu alaihi wasallam, amma ba’du:

Kebanyakan apa yang datang dari pemahaman manusia bahkan dari lisan-lisan mereka, dengan mengatakan : Sesungguhnya niat mereka dari sebagian perkara bid’ah (sesuatu yang baru yang dibuat-buat dalam agama ini yang tidak pernah dicontohkan oleh Rasulullah dan para sahabatnya) adalah mereka melakukannya dengan niat yang baik/ikhlas.

Mereka memahami bahwa apa yang mereka lakukan tidak bertentangan dengan syari’at, dan tidak pernah terbetik dalam pikiran mereka untuk mengadakan perbaikan dalam agama Islam yang telah sempurna ini ( padahal mereka telah membuat syari’at baru, yang mana penetuan syariat itu hanya hakNya Allah semata). Mereka menganggap bahwa dalam melakukan / membuat Perkara baru dalam agama tidak akan membahayakan hati-hati mereka, bahkan kamu akan mendapatkan mereka berdalil dengan sabda Rasulullah . {Sungguh amalan itu tergantung dari niatnya….}. Inilah pemahaman kebanyakan kaum Muslimin sekarang ini yang mereka telah jauh dari memahami agamanya dengan benar.

Maka menjadi kewajiban seorang Muslim yang mempunyai semangat untuk memahami kebenaran dan menerima kebenaran serta mengamalkannya untuk tidak mencukupkan dari nash/dalil sunnah nabawiy atas sebagian dan meninggalkan sebagian yang lain, bahkan wajib atasnya untuk memperhatikan/ meneliti nash-nash dengan keseluruhannya, sehingga hukum-hukumnya menjadi dekat kepada kebenaran, jauh dari kesalahan.

Sesungguhnya penjelasan yang shohih dalam masalah yang penting ini, bahwa sabda Nabi {Sungguh amalan itu tergantung dari niatnya….} hanyalah datang untuk menjelaskan salah satu ushul (syarat) ibadah yang mana ibadah/amalan itu tegak diatas kedua ushul. Hadist ini menunjukan keharusan adanya keikhlasan dalam beramal dan benar dalam bathin yang aman amalan tersebut tidak ditujukan untuk selain Allah تعالى yang akan mengotori amalan tersebut. Inilah ushul atau syarat yang pertama dalam beramal.

Sedang ushul yang kedua adalah amalan itu haruslah sesuai dengan Sunnah Rasulullah , yang mana ushul ini terkandung dalam sabda Rasulullah {Barang siapa yang melakukan suatu amalan yang tidak ada pada kami maka amalan itu tertolak}. Ushul yang kedua ini adalah suatu yang dituntut dari seorang hamba yakni menerapkan hadits tersebut dalam seluruh perkataan-perkataannya dan amalan-amalannya.

Maka dua hadits yang agung ini merupakan timbangan amalan seseorang. Hadits {sungguh amalan itu tergantung dari niatnya} adalah timbangan bagi amalan-amalan bathin, sedang hadits {Barang siapa yang melakukan amalan…} adalah timbangan bagi amalan-amalan Dhohir. Maka pemahaman kedua hadits tersebut mencakup keikhlasan untuk Allah dalam beribadah dan mengikuti sunnah Rasulullah dalam cara beribadah. Kedua ushul ini merupakan syarat bagi tiap-tiap perkataan, perbuatan baik yang Dhohir maupun yang bathin.

Barang siapa yang melakukan amalannya untuk Allah semata dan mengikuti sunnah Rosul-Nya dalam beramal maka amalan tersebut akan diterima. Dan barang siapa yang amalannya hilang dari kedua ushul(syarat) tersebut, atau salah satu dari keduanya maka amalannya tertolak.

Makna ini sebagaimana yang telah dinukil dari Al-Fudhail bin Iyaad رحمالله didalam menafsirkan firman Allah :{Dialah Allah Dzat yang menciptakan kematian dan kehidupan untuk menguji kalian siapa yang paling baik amlannya}(Al-Mulk;2).Beliau رحمالله berkata; ”Yang paling baik amalannya yakni yang paling ikhlas amalnya dan yang paling benar amalnya: Sungguh amalan jika keadaannya ikhlas namun tidak benar (tidak mengikuti sunnah) maka amalan itu tidak diterima, dan jika amalannya benar tapi tidak ikhlas maka juga tidak akan diterima, dan ikhlas jika keadaannya hanya untuk Allah, dan amalan yang benar jika amalan tersebut diatas Sunnah (Ilmu ushul Al-Bida;59-61).

Dan makna ini telah disebutkan dalam firman Allah {Barang siapa yang mengharapkan perjumpaan dengan Allah, maka hendaklah dia melakukan amalan sholeh dan tidak mensyerikatkan suatupun kepada Allah dalam beribadah}.(Al-Kahfi;110). Dan firman Allah {Dan siapakan yang lebih baik agamanya daripada orang yang ikhlas menyerahkan dirinya untuk Allah sedang diapun mengerjakan kebaikan….}(An-Nisaa;125).(Al-Masaailu Al-Arba’ah;48).

Telah berkata Ibnu Katsiir رحمالله dalam tafsirnya (1/572);”…Tidaklah shohih suatu amalan dari orang yang beramal kecuali dengan dua syarat yakni Ikhlas dan Benar. Ikhlas untuk Allah dan Benar dalam mengikuti Syari’at. Maka menjadi benarlah Dhohir amalan itu dengan ittiba’ (mengikuti) sunnah dan menjadi benarlah bathin amalan tersebut dengan Ikhlas”.

Al-‘Alaamah Ibnu Al-Qoyyim رحمالله telah berkata; “Sebagian Para Salaf (Pendahulu kita) telah berkata;Tidaklah dari suatu perbuatan-walaupun kecil kecuali dibentangkan atasnya dua catatan/pertanyaan; Untuk Siapa ? Dan Bagaimana? Maksudnya untuk Siapa kamu melakukannya? Dan Bagaimana kamu melakukannya?

Maka pertanyaan yang pertama (untuk siapa) tentang sebab perbuatan dan motif yang mendorongnya. Apakah motif tersebut untuk mendapatkan bagian didunia dan untuk tujuan-tujuan dunia berupa kecintaan untuk mendapatkan pujian dari manusia, atau takut mendapatkan celaan dari mereka, atau untuk mendatangkan kecintaan-kecintaan dunia atau menolak kebencian-kebencian yang bersifat dunia? Ataukah yang menjadi motif dari amalan tersebut adalah untuk menegakkan Hak ubudiyah dan tuntutan kecintaan dan kedekatan kepada Allah dan menjadikan washilah dari amalan tersebut kepada Allah ? Maka kedudukan soal ini bahwa Apakah kamu dalam melakukan suatu perbuatan untuk penolongmu (Allah) atau kamu melakukannya untuk mendapatkan bagianmu di dunia dan karena mengikuti hawa nafsumu?

Sedang soal yang kedua (bagaimana?) adalah pertanyaan tentang ittiba’(mengikuti) sunnah Rosulullah dalam beribadah, maksudnya apakah amalan tersebut dari perkara yang telah disyariatkannya kepadamu melalui lisan Rosul-Nya, ataukah amalan tersebut tidak disyariatkannya atau diridhoi-Nya ? Maka yang pertama pertanyaan tentang Ikhlas, dan yang kedua pertanyaan tentang ittiba’.Sungguh Allah tidak akan menerima suatu amalan kecuali dengan keduanya (Ikhlas dan Ittiba’).

Maka jalan keselamatan dari pertanyaan pertama adalah: memurnikan keikhlasan dan jalan keselamatan dari pertanyaan kedua adalah mewujudkan ittiba’. Dan selamatnya hati adalah selamat dari tujuan-tujuan yang bertentangan dengan keikhlasan dan keselamatan Hawa nafsu adalah selamat dari perkara –perkara yang bertentangan dengan ittiba’.(ilmu Ushul Al-Bida;61-62)

Karenanya, Wahai saudaraku Kaum Muslimin Semoga Allah merahmati kita semua. Tidak boleh sama sekali menjadikan dalil dengan Hadits {Sungguh amalan itu tergantung dari niatnya….} untuk membolehkan perkara-perkara Bid’ah dengan beralasan bahwa Niat orang yang melakukannya itu baik. Diantara Dalil yang menunjukan hal ini, sebagaimana yang telah Shohih dalam sunnah bahwasanya seorang (sahabat) telah berkata kepada Rosulullah; “ Atas kehendak Allah dan kehendakmu”Maka Rosulullah menegurnya;”Apakah engkau akan menjadikan aku tandingan bagi Allah? Bahkan (katakanlah) atas kehendak Allah semata”. Sungguh sahabat yang mulia ini tidak ada seorangpun yang meragukan kebaikan niatnya dan keikhlasan hatinya. Akan tetapi ketika perkataannya yang keluar itu menyelisihi Manhaj Nabawiy dalam Aqidah dan Lafadz-lafadz (pengucapan), maka Rosulullah mengingkarinya dengan menjelaskan kesalahannya, menunjukan suatu yang benar kepadanya tanpa melihat terhadap niatnya (sahabat itu) yang baik.(lihat rujukan diatas hal.63)

Dari Sa’id bin Al-Musayyib رحمالله (seorang Tabi’in yang mulia), Sungguh beliau melihat seorang yang melakukan sholat setelah terbit fajar lebih dari dua raka’at. Orang tersebut membanyakan ruku’ dan sujud pada kedua roka’at tersebut (padahal yang Sunnah melakukan Sholat Sunnat Fajar tidak lebih dari dua raka’at dengan ringan /bacaan suratnya pendek). Maka beliau melarangnya. Maka orang tersebut berkata: “ Wahai Aba Muhammad (Sa’id bin Al-Musayyib رحمالله) ! Apakah Allah akan mengazabku karena Sholat?, maka beliau berkata:”Tidak ! akan tetapi Allah akan mengazabmu atas penyelisihanmu terhadap sunnah.

Syaikh Al-‘Alaamah Albaniy رحمالله mengomentari atsar ini, beliau berkata:” Ini merupakan jawaban yang mengagumkan dari Sa’id bin Al-Musayyib رحمالله atas orang-orang yang melakukan bid’ah yang mereka manganggap baik kebid’ahan-kebid’ahan dengan nama sungguh itu adalah Dzikir dan Sholat, kemudian mereka (ahli Bid’ah) mengingkari ahli sunnah dengan pengingkaran demikian, dan mereka menyangka bahwasanya Ahli Sunnah mengingkari Dzikir dan Sholat. Padahal pada hakikatnya Ahli Sunnah hanyalah mengingkari penyelisihan mereka terhadap sunnah didalam cara berdzikir dan sholat dan yang lainnya.(lihat rujukan diatas hal.71-72).

Jika kita memperhatikan keadaan kaum Muslimin sekarang ini, maka kita akan mendapatkan kebanyakan mereka baik orang awwamnya dan membuat perkara-perkara bid’ah dalam agama yang mulia dan telah sempurna ini yang tidak pernah dicontohkan oleh Rosulullah dan para sahabatnya (dalam anggapan mereka bahwa itu adalah perkara baik) seperti mereka melakukan peringatan maulid nabi, isro’ mi’roj, menghidupkan malam nisfu sya’ban, berdo’a secara bersamaan yang dipimpin oleh imam dan saling berjabat tangan tiap-tiap sehabis sholat fardlu. Dan lain sebagainya

Maka wahai saudara kaum muslimin! Timbanglah amalan-amalan tersebut diatas dengan dua timbangan (timbangan bathin dan timbangan dhohir) Katakanlah dalam melakukan amalan-amalan tersebut dengan tujuan yang ikhlas dan niat yang baik untuk mendekatkan diri kepada Allah . (timbangan bathin), namun apakah amalan-amalan tersebut sesuai dengan sunnah (pernah di contohkan oleh pembawa risalah Rosulullah dan para sahabatnya). Jika tidak maka yakinlah amalan tersebut tertolak. Untuk apa kita menyibukkan diri dari perkara yang tidak bermanfaat bagi dunia dan agama kita? Padahal Rosulullah telah bersabda: “Diantara kebaikan dien seseorang adalah meninggalkan perkara yang tidak bermanfaat”(Hadits dinukil dari Syarh Al-Arba’ina Haditsan An-Nawawiy hal; 43)

Bahkan amalan-amalan bid’ah tersebut akan membahayakan bagi orang yang melakukannya sebagaimana Rosulullah telah mewasiatkan kepada kita pada suatu hari beliau bersabda “…Siapa yang hidup diantara kalian sesudahku, maka dia akan melihat perselisihan yang banyak, maka wajib atas kalian untuk mengambil Sunnahku dan Sunnah Al-Khulafaurrosyidiin yang mendapat petunjuk, berpegang teguhlah kepadanya, gigitlah dengan graham-graham kalian, hati-hatilah dengan perkara baru (yang dibuat-buat dalam agama ini) karena setiap perkara baru itu adalah Bid’ah, dan setiap bid’ah itu adalah sesat dan setiap kesesatan itu dalam Neraka”(Hadits dinukil dari Ilmu Ushul Al-Bida’ hal; 266)

Semoga Allah senantiasa memberikan Hidayah, pertolongan dan kesabaran kepada kita untuk dapat melakukan keikhlasan beramal dan mengikuti sunnah Rosul-Nya dalam amalan-amalan kita, sehingga dapat dinilai sebagai ibadah disisi Allah Amien
Wallahu ta’ala a’lam bish-shawab.

Maraji’ :
1-Tafsir Al-Qur’an Al-Adzhim Ibnu Katsir رحمالله
2-‘Ilmu Ushul Al-Bida’ Syaikh Ali bin Hasan Al Halabiy Al Atsariy حفظه الله
3-Al-Masaailu Al-Arbaah. Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab رحمالله ,Syarh dan Ta’liq Kholid bin Sulaiman bin Ahmad Ali Mas’ud رحمالله.
4-Syarh Al-Arba’ina Haditsan An-Nawawiy. Ibnu Daqiqi Al-Ied رحمالله

Artikel: Buletin DARUL HUDA

About these ads

One Response to Iklash dan I’tiba Syarat di Terimanya Suatu Amalan

  1. Ping-balik: Iklash dan I’tiba Syarat di Terimanya Suatu Amalan |

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 688 pengikut lainnya.

%d bloggers like this: